BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 

View : 8174 kali

Download MP3 Music
Senin, 28 September 2015
Kisah Para Rasul 9:3-4
Konteks
9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. 9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"


* Kilatan cahaya tampak kepada Saul menjelang tengah hari (22:6; 26:13), tetapi cahaya itu lebih terang daripada matahari. Suara yang muncul dari tengah-tengah cahaya itu berbicara kepada Saulus dalam dialek Ibrani, atau Aram (26:14). Sekalipun sebagian besar orang Yahudi yang hidup pada zaman Diaspora berbicara bahasa Yunani, orang tua Saulus berbicara bahasa Aram dan mengajarkan bahasa tersebut kepadanya (Flp. 3:15). Ini merupakan bahasa untuk mengajar di sekolah-sekolah para rabi di Yerusalem. Suara itu mengatakan kepada Saulus bahwa dengan menganiaya orang Kristen, berarti dia menganiaya Kristus.

* Pembalikan keadaan.
Ini sering terjadi pada olahraga tinju. Sang juara dunia memasuki gelanggang dengan lagak arogan, keyakinan tinggi, iringan musik megah, sabuk di pinggang dan bayaran lebih mahal. Namun pada saat ia kalah, ia keluar dengan muka bengap yang disembunyikan tudung, sembunyi-sembunyi, penuh sesal dan malu.

Keadaan seperti ini juga dialami oleh Saulus. Sebelum penampakan Yesus Kristus kepada dirinya (kristofani), ia pergi ke Damsyik dengan hati yang berkobar-kobar untuk menganiaya orang-orang Kristen, dan dengan kekuasaan dan kekuatan (ayat 1,2). Tetapi kemudian keadaan berbalik, ia memasuki dan tinggal di Damsyik sebagai orang yang tidak makan dan minum selama tiga hari (ayat 9), sebagai orang yang tidak dapat melihat, dan harus dituntun orang lain. Saulus juga berangkat ke Damsyik sebagai orang yang membenci para pengikut Tuhan (ayat 1-2), tetapi kemudian ia memanggil Yesus sebagai Tuhan (ayat 5; dalam tradisi kerabian Yahudi, suara dari langit selalu berkonotasi teofani/penyataan diri Tuhan). Ia berangkat ke Damsyik dengan rencana matang apa yang harus ia lakukan di sana (ayat 2), tetapi kemudian memasuki Damsyik dengan penantian perintah selanjutnya dari Tuhan tanpa mengetahui apa yang akan terjadi (ayat 6).

Pertobatan Saulus diawali oleh suatu pembalikan keadaan. Arogansi dan keyakinannya bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Allah hanya dapat dihancurkan melalui peristiwa ini. Secara dramatis Saulus disadarkan bahwa apa yang dilakukannya justru merupakan penganiayaan terhadap diri Tuhan sendiri, tidak hanya kepada Tuhan. Dari sinilah jalan pertobatan Saulus dimulai.

Renungkan: Allah memakai keterpurukan dan pembalikkan keadaan yang dialami seseorang untuk menuntunnya kepada pertobatan.



Label:   Kisah Para Rasul 9:3-4 











NEXT:
Khotbah HKBP Selasa, 29 September 2015 - Mazmur 121:5-6


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 27 September 2015 MINGGU XVII SESUDAH TRINITATIS Idul Adha - Markus 9:38-50


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de