BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 

View : 10883 kali

Download MP3 Music
Liturgy of the Palms
Minggu, 20 Maret 2016
Psalm 118:1-2, 19-29
Lukas 19:28-40
Yesus dielu-elukan di Yerusalem
19:28 Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. 19:29 Ketika Ia telah dekat Betfage dan Betania, yang terletak di gunung yang bernama Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya 19:30 dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu: Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan mendapati seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah ke mari. 19:31 Dan jika ada orang bertanya kepadamu: Mengapa kamu melepaskannya? jawablah begini: Tuhan memerlukannya." 19:32 Lalu pergilah mereka yang disuruh itu, dan mereka mendapati segala sesuatu seperti yang telah dikatakan Yesus. 19:33 Ketika mereka melepaskan keledai itu, berkatalah orang yang empunya keledai itu: "Mengapa kamu melepaskan keledai itu?" 19:34 Kata mereka: "Tuhan memerlukannya." 19:35 Mereka membawa keledai itu kepada Yesus, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan menolong Yesus naik ke atasnya. 19:36 Dan sementara Yesus mengendarai keledai itu mereka menghamparkan pakaiannya di jalan. 19:37 Ketika Ia dekat Yerusalem, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat. 19:38 Kata mereka: "Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!" 19:39 Beberapa orang Farisi yang turut dengan orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu." 19:40 Jawab-Nya: "Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak."


Penjelasan:
Kristus Memasuki Yerusalem (19:28-40)

    Di sini kita temukan catatan yang sama dalam Injil Matius dan Markus mengenai Kristus yang menunggangi keledai dalam kemenangan (bagaimana adanya) sambil memasuki Yerusalem.
    Marilah kita mengamati ini:

    I. Yesus Kristus selalu berada di depan dan rela untuk menderita dan mati bagi kita. Ia maju ke depan, sebagai tawanan Roh, ke Yerusalem, dan mengetahui dengan baik apa yang akan terjadi atas diri-Nya di situ. Meskipun demikian, Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem (ay. 28). Ia berada paling depan di antara rombongan para pengikut-Nya, seakan-akan Ia tidak sabar untuk segera berada di tempat tersebut, dan siap mengalami, terjun ke lapangan, dan bertindak. Jika Ia rela berada di depan untuk menderita dan mati bagi kita semua, akankah kita menarik diri dari segala pelayanan yang mampu kita lakukan bagi-Nya?
    II. Bukanlah hal yang bertentangan dengan kerendahan hati Kristus atau dengan keadaan-Nya yang hina pada waktu itu untuk masuk dengan terang-terangan ke dalam Yerusalem tidak lama sebelum Dia mati. Dengan cara demikian, Ia membuat diri-Nya lebih diperhatikan, dan kehinaan kematian-Nya akan tampak semakin hebat.
    III. Kristus berhak berkuasa atas segala makhluk ciptaan dan dapat memanfaatkan mereka kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada manusia yang memiliki hak atas kepunyaannya untuk menentang Kristus, karena gelar-Nya adalah yang terutama dan tertinggi. Kristus mengutus murid-murid-Nya untuk membawa keledai muda dari palungan yang disediakan tuan dan pemiliknya ketika Ia membutuhkan pelayanan mereka, dan Ia dapat melakukannya, karena punya Dialah segala binatang hutan dan binatang peliharaan.
    IV. Kristus mengetahui dan dapat menggerakkan hati semua manusia. Ia dapat menggugah hati mereka yang memiliki keledai muda untuk setuju melepaskan binatang tersebut, segera setelah diberi tahu bahwa Tuhan membutuhkannya.
    V. Mereka yang melakukan perintah Kristus pasti akan selalu berhasil (ay. 32): Pergilah mereka yang disuruh itu dan mereka mendapati segala sesuatu seperti apa yang Ia beritahukan kepada mereka serta kesediaan tuan pemiliknya untuk menyerahkan binatangnya. Merupakan suatu kelegaan bagi utusan-utusan Kristus bahwa mereka akan membawa hasil dari apa yang menjadi alasan pengutusan mereka, jika Tuhan benar-benar membutuhkannya.
    VI. Murid-murid Kristus membawa keledai yang diambil dari orang lain ketika Ia membutuhkannya. Mereka sendiri tidak mempunyai keledai yang diperlukan-Nya itu. Walaupun demikian, kita hendaknya jangan merasa puas. Sebaliknya, apa pun yang kita miliki, yang dengannya Ia dapat dilayani dan dimuliakan, harus siap digunakan untuk melayani Dia. Banyak orang hanya bersedia mengikuti Kristus dengan memanfaatkan orang lain, tetapi tidak mau merugikan diri sendiri. Namun, murid-murid Kristus tersebut tidak hanya membawakan keledai muda bagi-Nya, mereka juga mengalasi keledai itu dengan pakaian mereka dan rela baju mereka diinjak-injak sebagai jalan-Nya.
    VII. Kemenangan Kristus membawa puji-pujian bagi murid-murid-Nya. Ketika Kristus dekat Yerusalem, Allah tiba-tiba menaruh puji-pujian dalam hati semua murid yang mengiringi Dia, bukan hanya kedua belas murid-Nya, namun banyak yang lain, yang seluruhnya adalah murid-murid Kristus, untuk bergembira dan memuji Allah (ay. 37). Mereka menghamparkan pakaian mereka di jalan (ay. 36) yang merupakan ungkapan rasa sukacita yang umum dilakukan, seperti pada perayaan Pondok Daun.

    Perhatikanlah:

        . Apa yang menjadi pokok sukacita dan puji-pujian mereka.

        Mereka memuji Allah oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat, segala mujizat yang diperbuat Kristus, terutama kebangkitan Lazarus, yang secara khusus disebutkan dalam Yohanes 12:17-18. Mujizat itu membangkitkan kembali ingatan orang, karena mujizat-mujizat dan perbuatan belas kasih yang baru terjadi akan menghidupkan ingatan orang mengenai hal-hal yang terjadi sebelumnya.

        . Bagaimana mereka mengungkapkan sukacita dan puji-pujian mereka (ay. 38): Diberkatilah Dia yang datang sebagai raja dalam nama Tuhan. Kristus adalah raja, Dia datang dalam nama Tuhan, dengan mengenakan jubah kekuasaan ilahi, diutus dari sorga untuk memberi hukum dan membawa damai sejahtera. Diberkatilah Dia. Mari kita memuji Dia. Semoga Allah membuat Dia berhasil. Terberkatilah Dia selama-lamanya, dan kami akan terus memuji Dia. Damai di sorga. Biarlah Allah di sorga memberikan kedamaian dan membuat pekerjaan-Nya berhasil sehingga akan ada kemuliaan di tempat yang mahatinggi. Hal ini akan menjadi kesaksian atas kemuliaan Allah yang mahatinggi dan para malaikat dan penghuni dunia atas yang agung akan memberikan kemuliaan kepada-Nya. Bandingkan lagu puji-pujian para orang kudus di bumi ini dengan nyanyian para malaikat (Luk. 2:14). Keduanya sepakat untuk memberi kemuliaan kepada Allah di tempat yang mahatinggi. Di sanalah puji-pujian kedua dunia tersebut berpusat. Para malaikat berseru, "Damai di bumi," bersukacita atas berkat yang diterima manusia di bumi melalui Kristus. Para orang kudus berseru, "Damai di sorga," bersukacita atas keuntungan yang dimiliki para malaikat melalui Kristus. Inilah persekutuan yang kita miliki dengan para malaikat yang kudus, bahwa sementara mereka bersukacita atas damai di bumi, kita juga bersukacita atas damai di sorga, damai di tempat-Nya yang tinggi (Ayb. 25:2). Dan keduanya ada di dalam Kristus, yang telah mendamaikan segala sesuatu di dalam diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga.
    VIII. Kemenangan Kristus dan puji-pujian sukacita dari murid-murid-Nya akan kemenangan-Nya itu membuat marah kaum Farisi yang angkuh, yang merupakan musuh-musuh Kristus dan kerajaan-Nya. Ada beberapa orang Farisi di antara orang banyak yang bukannya turut bergabung dengan mereka, malah menjadi berang atas tindakan mereka. Mereka berpikir bahwa Kristus, yang menjadi teladan kerendahan hati yang terkemuka, tidak akan membenarkan penyambutan seperti ini, dan oleh karenanya berharap bahwa Ia menegor murid-murid-Nya (ay. 39). Akan tetapi, adalah kehormatan bagi Kristus bahwa, jika Ia membenci penghinaan yang dilakukan orang-orang yang angkuh, Ia menerima puji-pujian dari mereka yang rendah hati.
    IX. Terlepas dari apakah orang-orang memuji Kristus atau tidak, Ia akan, dan harus dipuji (ay. 40): Jika mereka ini diam, dan tidak memberikan puji-pujian terhadap kerajaan Mesias, jika Kristus tidak dipuji maka batu-batu ini akan berteriak. Ini kemudian, secara harfiah digenapi ketika orang-orang mengolok-olok Kristus di kayu salib dan bukannya memberikan puji-pujian bagi-Nya, dan murid-murid-Nya sendiri pun tenggelam dalam kesunyian yang mendalam, maka terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah. Kaum Farisi ingin membungkam puji-pujian yang diberikan kepada Kristus, namun mereka tidak berhasil karena sebagaimana Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini, maka Ia juga dapat membangkitkan puji-pujian yang merdu dari mulut anak-anak tersebut.

Label:   Lukas 19:28-40 











NEXT:
Khotbah HKBP Senin, 21 Maret 2016 - Yesus diurapi di Betania - Yohanes 12:1-11


PREV:
Khotbah HKBP - Minggu, 13 Maret 2016 - Kebangkitan Yesus - Yohanes 12:1-8


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de