BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 

View : 5636 kali

Download MP3 Music
Minggu, 9 Oktober 2016
Proper 23 (28)
Twenty-First Sunday after Pentecost
Jeremiah 29:1, 4-7
Psalm 66:1-12     2 Kings 5:1-3, 7-15c
Psalm 111    
2 Timotius 2:8-15     
Lukas 17:11-19

2 Timotius 2:8-15
 2:8 Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. 2:9 Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. 2:10 Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. 2:11 Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; 2:12 jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita; 2:13 jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."
Nasihat dalam menghadapi pengajar yang sesat
2:14 Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. 2:15 Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.


Penjelasan:
*  Kebenaran Inti dari Injil (2:8).
Ingatlah menekankan kesinambungan dari tindakan ini: hendaknya kamu terus mengingat. Yesus Kristus. Di dalam kitab-kitab Injil gelar Yesus ini jarang dipakai namun penting dan dipakai di Matius 1:18; Markus 1:1; Yohanes 1:17; 17:3. Ayat terakhir ini sangat bermakna sebab dipakai oleh Yesus sendiri. Inilah dasar pemakaiannya dalam Kisah Para Rasul pada zaman gereja mula-mula. Paulus sedang menekankan pemberitaan para rasul mengenai Yesus Kristus yang telah bangkit (lihat B. B. Warfield. Lord of Glory, hlm. 184-186). Telah bangkit, menggarisbawahi kenyataan bahwa Dia telah bangkit dan saat ini hidup. Kata yang dipakai merupakan kata yang paling sering dipergunakan di dalam pengajaran Tuhan kita sendiri dan di dalam kisah-kisah Injil mengenai kebangkitan-Nya. Pemakaian kata ini oleh Paulus di sini, di I Korintus 15:4, 12, dan di bagian lainnya, membawa kesaksian tersebut kembali ke dalam bentuknya yang paling dini. Mati tidak dipakai secara kiasan, tetapi secara harfiah dan berarti orang mati. Semua orang mati tercakup Yesus bangkit sebagai buah sulung dari antara semua orang mati itu. Paulus memberitakan bahwa Kristus telah mati dan dikuburkan sehingga menutup semua kemungkinan penafsiran tidak harfiah terhadap telah bangkit atau mati. Keturunan Daud. Sang Rasul mengacu kepada Kristus dengan cara ini di sini, di Roma 1:3. dan di Kisah Para Rasul 13:23. Istilah ini memiliki tiga kegunaan yakni menekankan keaslian kemanusiaan Yesus, garis keturunan Mesianis-Nya dan otoritas tertinggi-Nya. Untuk hal terakhir ini perhatikan secara khusus Wahyu 3:7; 5:5; 22:16. Istilah yang biasa dipakai Paulus ialah Tuhan. Petrus mengaitkan pokok-pokok pikiran ini dalam Kisah Para Rasul 2:30, 36. Paulus memakai istilah Injilku di sini seperti ia memakai istilah apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku dalam II Timotius 1:12. Kekuatan dari istilah tersebut ialah bahwa harta yang diberikan kepada Paulus adalah Injil yang atasnya ia bertanggung jawab dan yang untuknya ia merupakan saksi yang layak. Paulus membantah bahwa Injil yang diberitakannya adalah hasil ciptaannya sendiri: fakta-fakta Injil sebagaimana dikenal olehnya juga dikenal oleh orang-orang yang memberikannya kepada dia (bdg. I Kor. 15:3, 11; lihat B. B. Warfield. The Person and Work of Christ, hlm. 535-546).

* Teladan Kesetiaan Paulus (2:9, 10).
Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita. Semua kesulitan, permusuhan dan pemenjaraan yang dialami Paulus bersumber langsung dari kesaksiannya yang tidak goyah tentang Kebangkitan (lihat J. O. Buswell. Behold Him!, hlm. 42-49). Kedua anak kalimat pada ayat 10 serupa dengan dua anak, kalimat yang sesuai pada ayat 9: menderita cocok dengan sabar menanggung semuanya. dengan pemikiran tambahan bagi orang-orang pilihan Allah. Firman Allah tidak terbelenggu cocok dengan supaya mereka juga mendapat keselamatan.

* 2Tim 2:11 - b. Jika kita mati // Hidup dengan Dia // Memerintah // Menyangkal
Jika kita mati. Tepatnya telah mati. Pembenaran dan pengampunan kita ialah mati terhadap dosa dan terhadap kutukan hukum Taurat. Hidup dengan Dia memandang kepada tujuan terakhir - yaitu hidup kekal. meskipun termasuk kehidupan kita saat ini. 12. Bertekun. Idenya sama dengan yang terdapat dalam Roma 8:16, 17. Memerintah menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksudkan dengan hidup dengan Dia. Menyangkal merupakan acuan yang jelas kepada Matius 10:33. Terdapat insentif ganda untuk tetap setia: harapan akan memerintah bersama dengan Dia dan kepastian bahwa apabila kita menyangkal Dia maka Dia juga akan menyangkal kita.

* 2Tim 2:13 - Tidak setia
Tidak setia. Kalimat terakhir ini tampaknya tidak menunjukkan suatu penekanan pada tindakan-Nya menyangkal kita jika kita menyangkal Dia, tetapi bahwa jika orang Kristen berdosa maka kesetiaan Tuhan merupakan satu-satunya andalan: Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. Pengertiannya sama dengan yang dikemukakan dalam I Yohanes 2:1, mencakup pengakuan dosa dan pengampunan dosa (baca seluruh khotbah Communion with Christ oleh Warfield, Faith and Life, hlm. 415-427).

* Kebenaran yang Ditangani dengan Benar (2:14-19).
Diskusi yang tidak ada artinya akan membingungkan para pendengar; karena itu Timotius harus maju sesuai dengan Firman, menghindari omong kosong, mengingat tanda-tanda dari landasan yang sejati, dan berusaha, melalui perilaku yang benar, untuk menjadi berguna bagi Tuhan. 14. Timotius juga harus menugaskan hal yang sama kepada orang lain (4:1). Dipakai kata yang sama - pesankanlah ... kepada mereka. Semua itu harus dilakukan di hadapan Allah yang kemudian akan menjadi saksi dari tanggung jawab besar yang diberikan. Jangan ... bersilat kata merupakan satu kata di dalam bahasa Yunani aslinya; kata benda padanannya dipakai di I Timotius 6:4. Kedua bentuk ini rupanya berarti berdebat kusir mengenai istilah tanpa berusaha mencari kebenarannya. 15. Usahakan supaya engkau layak. Berusahalah dengan rajin agar engkau dapat dianggap layak (saduran dari American Standard Version). Berterus terang memberitakan. Menggunakan dengan benar sebagaimana seorang kepala pekerja menggunakan peralatannya. 16. Omongan yang kosong. Ciri khas berikutnya dari berdebat kusir mengenai istilah. Tidak suci. Mengalihkan perhatian dari kebenaran yang kokoh akan mengakibatkan kesalahan dalam bertindak. 17. Perkataan mereka tampaknya berarti doktrin dari orang-orang yang terlibat dalam diskusi kosong. Penyakit kanker - merupakan penyakit yang menyebar. Himeneus dihubungkan dengan Aleksander di I Timotius 1:20, di mana dikemukakan bahwa tindakannya meninggalkan iman terletak di dalam kegagalannya untuk memelihara nurani yang baik. Filetus tidak disebutkan di bagian lain sehingga tidak diketahui apa-apa tentang Dia. 18. Kebangkitan. Golongan Gnostik memahami kebangkitan secara kiasan, yaitu sebagai suatu persekutuan dengan kebenaran yang terjadi pada saat baptisan.


Lukas 17:11-19
Kesepuluh orang kusta
17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" 17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" 17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."


Penjelasan:
* Sepuluh Orang Kusta (17:11-19)
    Di sini diceritakan mengenai kesembuhan sepuluh orang kusta, yang tidak kita temukan di dalam kitab-kitab Injil lainnya. Kusta merupakan sebuah penyakit yang dianggap orang Yahudi sebagai hukuman atas dosa tertentu, dan terkena penyakit ini, lebih dari penyakit lainnya, diartikan sebagai tanda ketidaksenangan Allah. Dan oleh karena itulah Kristus, yang datang untuk menghapuskan dosa dan melenyapkan murka, sangat peduli untuk mentahirkan orang kusta yang Ia temui dalam perjalanan-Nya. Kristus sedang menuju Yerusalem, di tengah-tengah perjalanan-Nya, di mana Dia tidak begitu banyak memiliki kenalan bila dibandingkan dengan yang dimiliki-Nya di Yerusalem ataupun di Galilea. Dia telah berada di garis batas wilayah, perbatasan yang menghampar di antara Samaria dan Galilea. Dia melewati jalan itu untuk menemukan orang-orang kusta itu dan menyembuhkan mereka, sebab Dia berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari-Nya.
    Perhatikanlah:

    I. Permintaan orang-orang kusta itu kepada Kristus. Mereka bersepuluh, sebab, meskipun mereka dikucilkan dari pergaulan dengan orang lain, mereka tetap leluasa untuk bergaul dengan sesama penderita kusta lainnya, dan hal itu menghiburkan mereka, sebab dengan begitu mereka memiliki kesempatan untuk saling berbagi dan saling menguatkan.

    Kini perhatikanlah:
        1. Mereka menemui Kristus ketika Ia memasuki suatu desa. Mereka tidak membiarkan-Nya beristirahat terlebih dahulu setelah perjalanan jauh, melainkan segera menemui-Nya begitu Ia memasuki desa, dengan tubuh yang pasti masih letih. Namun, Dia tetap tidak mengusir mereka ataupun menunda-nunda melayani perkara mereka.
        2. Mereka tinggal berdiri agak jauh, sebab mereka tahu bahwa berdasarkan hukum Taurat, penyakit mereka itu mengharuskan mereka untuk menjaga jarak. Kesadaran akan penyakit kusta rohani kita haruslah membuat kita rendah hati saat datang menghampiri-Nya. Siapakah kita ini, sehingga berani mendekat kepada Dia yang benar-benar kudus? Kita sendiri jauh dari kudus.
        3. Mereka sepakat meminta satu hal, dan benar-benar gigih memohonkannya (ay. 13): Mereka berteriak, sebab mereka berada agak jauh, dan berseru, "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Orang-orang yang mengharapkan bantuan dari Kristus harus memandang-Nya sebagai Guru dan taat terhadap perintah-Nya. Jika Dia adalah Guru, maka itu berarti bahwa Dia juga adalah Yesus, Sang Juruselamat, dan bukan sebaliknya. Mereka tidak secara khusus meminta supaya disembuhkan dari penyakit kusta, melainkan memohon, "Kasihanilah kami"; dan itu pun cukup untuk menimbulkan belas kasihan Kristus, sebab belas kasihan-Nya tak habis-habisnya. Mereka telah mendengar tentang Yesus (sekalipun Ia sendiri jarang berkhotbah di daerah itu), dan itulah yang meneguhkan mereka untuk meminta pertolongan dari-Nya. Dan memang, jika ada satu orang saja yang memulai permohonan yang sederhana seperti itu, maka semua yang lain pun akan ikut bergabung.
    II. Kristus mengirim mereka kepada imam, supaya diperiksa oleh imam, yang merupakan pengadil dalam hal penyakit kusta. Kristus tidak mengatakan bahwa mereka pasti akan sembuh. Ia hanya menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri kepada imam-imam (ay. 14). Hal itu merupakan ujian bagi ketaatan mereka, dan mereka memang pantas diuji sebagaimana Naaman yang disuruh pergi mandi dalam sungai Yordan. Perhatikanlah, orang-orang yang mengharapkan kebaikan Kristus haruslah bersedia mendapatkannya dengan cara yang telah Ia tentukan. Beberapa dari orang kusta ini mungkin saja ingin membantah suruhan itu: "Kalau Dia mau, seharusnya Dia langsung saja menyembuhkan kita. Tetapi kalau tidak, Dia sebaiknya berterus-terang saja. Tidak usah suruh kita pergi menemui imam-imam seperti ini." Akan tetapi, karena sisanya setuju, maka akhirnya mereka semua pergi menghadap imam. Oleh karena hukum tata cara masih berlaku, Kristus pun berhati-hati menjaga hukum tersebut supaya dijalankan dan supaya nama baik hukum itu tetap dijaga. Ia juga ingin menjaga agar penghormatan yang selayaknya tetap diberikan kepada para imam yang menjalankan tugas mereka sesuai dengan hukum itu. Akan tetapi, mungkin juga Ia memiliki rencana lain, yaitu supaya imam itu bisa menilai dan menyaksikan kesempurnaan kesembuhan tersebut, dan supaya sang imam menjadi tergugah, dan menggugah rekan-rekan imamnya yang lain untuk mencari tahu mengenai pribadi yang memiliki kuasa sebegitu dahsyatnya atas penyakit-penyakit tubuh.
    III. Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir, sehingga mereka layak untuk diperiksa oleh sang imam dan disahkan olehnya bahwa mereka telah menjadi tahir. Perhatikanlah, kita barulah dapat berharap Allah akan menyongsong kita dengan belas kasihan-Nya bila kita didapati sedang menjalankan tugas kita. Jika kita melakukan apa yang kita bisa, Allah tidak akan segan-segan turun tangan untuk melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan. Pergilah, jalankanlah segala perintah dan ketetapan. Pergilah, berdoalah dan bacalah firman Allah: Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam; pergilah dan ungkapkanlah perkaramu di hadapan hamba Allah yang setia. Segala sarana itu tidaklah dengan sendirinya punya kekuatan untuk memulihkanmu, tetapi Allah sendirilah yang akan memulihkan engkau melalui sarana-sarana tersebut.
    IV. Seorang dari mereka, hanya seorang saja, kembali, untuk mengucap syukur (ay. 15). Ketika melihat bahwa ia telah sembuh, dia tidak lantas terus pergi menemui sang imam untuk dinyatakan tahir olehnya dan dibebaskan dari segala pengucilan yang sebelumnya telah mengungkungnya, seperti yang hendak dilakukan oleh sembilan orang lainnya, melainkan kembali kepada Dia yang merupakan sumber dari kesembuhannya itu. Ia ingin memberikan kemuliaan kepada-Nya terlebih dahulu, sebelum ia mengecap kebaikan-Nya. Kelihatannya dia begitu tulus dan bersungguh-sungguh dalam pengucapan syukurnya itu: Ia memuliakan Allah dengan suara nyaring, mengakui bahwa kesembuhannya itu berasal dari Dia. Ia mengangkat suaranya dalam puji-pujian, seperti yang dilakukannya ketika berseru memohon kepada-Nya (ay. 13). Orang-orang yang telah menerima belas kasihan dari Allah haruslah mengumandangkannya kepada orang lain, supaya mereka dapat memuji Allah juga, dan didorong melalui pengalaman mereka itu, memercayai Allah. Akan tetapi, dia juga mengungkapkan rasa syukurnya kepada Kristus dengan cara yang istimewa (ay. 16): Ia lalu tersungkur di depan kaki Yesus, dalam sikap hormat yang menunjukkan kerendahan hati yang paling dalam, dan mengucap syukur kepada-Nya. Perhatikanlah, kita harus mengucap syukur atas kebaikan yang telah Kristus limpahkan kepada kita, terutama atas kesembuhan penyakit kita, dan kita haruslah bergegas dalam melayangkan pujian, tidak menunda-nundanya, sebab bisa saja waktu akan melunturkan kesadaran kita akan belas kasihan tersebut. Kita juga wajib merendahkan diri saat mengucapkan syukur, seperti saat berdoa. Sudah merupakan kewajiban keturunan Yakub, sebagaimana dia sendiri, untuk mengakui diri mereka sebagai yang paling hina dan tidak layak menerima belas kasihan Allah, sesudah mereka menerima belas kasihan itu, seperti halnya ketika mereka sedang meminta belas kasihan tersebut.
    V. Kristus memperhatikan yang seorang itu, yang dengan demikian terlihat menonjol dari yang lainnya. Kelihatannya dia adalah seorang Samaria, sementara yang lainnya adalah orang-orang Yahudi (ay. 16). Orang-orang Samaria terpisah dari jemaat Yahudi dan tidak memiliki pengetahuan dan ibadah penyembahan yang murni terhadap Allah seperti yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Akan tetapi, justru seorang Samaria-lah yang memuliakan Allah ketika orang-orang Yahudi lupa melakukannya, atau bahkan menolak untuk melakukannya.

    Kini perhatikanlah di sini:

        1. Perhatian khusus yang diberikan Kristus kepadanya. Orang Samaria itu kembali untuk berterima kasih. Padahal yang lainnya menunjukkan sikap tidak berterima kasih walaupun mereka juga sama-sama menikmati belas kasihan Kristus. Ternyata justru orang asing di negeri Israellah yang menjadi satu-satunya orang yang kembali untuk memuliakan Allah (ay. 17-18).
        Lihatlah di sini:
            (1) Betapa murah hatinya Kristus dalam berbuat baik: Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di sini terjadi penyembuhan secara besar-besaran, semua si sakit dipulihkan dengan hanya sebuah perkataan saja. Perhatikanlah, ada kelimpahan penyembuhan di dalam darah Kristus, yang cukup bagi semua pasien-Nya, betapapun banyaknya jumlah mereka itu. Kita lihat di sini sepuluh orang ditahirkan sekaligus. Jadi, kita tidak akan kehabisan anugerah dengan membaginya bersama orang lain.
            (2) Betapa pelitnya kita dalam membalas budi: "Di manakah yang sembilan orang itu? Mengapa mereka tidak kembali untuk berterima kasih?" Hal ini menyiratkan bahwa sikap tidak tahu berterima kasih adalah dosa yang kerap ditemukan. Dari antara banyak orang yang menerima belas kasihan Allah, hanya ada sedikit, sangat sedikit, yang kembali untuk berterima kasih dengan cara yang benar (bahkan kurang dari satu berbanding sepuluh), yang bersikap tahu membalas budi atas kebaikan yang telah mereka terima.
            (3) Betapa seringnya terjadi bahwa yang paling berterima kasih justru adalah orang yang paling tidak terduga akan melakukannya. Seorang Samaria mengucap syukur, sementara orang Yahudi tidak. Begitulah, banyak orang yang mengaku-ngaku beragama dikalahkan dan dipermalukan oleh orang-orang yang hanya mengikuti dorongan rohani alamiah saja, bukan hanya dalam hal nilai-nilai moral, tetapi juga di dalam kesalehan dan bakti. Hal ini memperberat kesalahan orang-orang Yahudi yang tidak tahu berterima kasih itu, yang menurut Kristus telah menyepelekan kebaikan-Nya. Hal itu juga menunjukkan bahwa Kristus sungguh layak untuk merasa kesal karena sikap umat manusia yang tidak tahu berterima kasih itu. Dia telah berbuat begitu banyak bagi mereka, tetapi hanya menerima begitu sedikit saja balas budi dari mereka.
        2. Peneguhan besar yang Kristus berikan baginya (ay. 19). Kesembilan orang lainnya memang mendapatkan kesembuhan, dan kesembuhan itu tidak ditarik kembali, walaupun hal sedemikian pantas diterima oleh mereka yang tidak tahu berterima kasih itu, bahkan sekalipun mereka melihat suatu teladan sikap berterima kasih di depan mata mereka. Akan tetapi, orang ini mendapatkan peneguhan atas kesembuhannya itu secara khusus, dengan sebuah pujian istimewa: Imanmu telah menyelamatkan engkau. Kesembilan orang lainnya dipulihkan oleh kuasa Kristus, oleh belas kasihan-Nya atas kesulitan mereka, dan sebagai jawaban atas doa mereka. Akan tetapi orang Samaria itu diselamatkan oleh imannya, yang membuatnya menonjol di mata Kristus. Perhatikanlah, berkat-berkat sementara yang kita peroleh di dunia ini akan dilipatgandakan dan terasa manis bagi kita bila didapatkan melalui doa yang penuh iman dan disyukuri dengan puji-pujian yang juga penuh iman.




Renungan Minggu XX Trinitatis, 9 Oktober 2016
Hidup-Mati Orang Beriman: Manunggal Dengan Yesus!
(2 Timotius 2:8-15)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Mengapa Allah menjadi manusia di dalam diri Yesus yang dengan ikhlas merendahkan diri-Nya, menderita, taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib, dan kemudian bangkit untuk mengalahkan maut? Itulah suatu misteri belas-kasih Allah yang sungguh tidak terselidiki dan terselami secara sempurna demi keselamatan bagi orang-orang beriman kepada-Nya (Yoh 1:1, 14; Flp. 2:5-11; Roma 11:33-36; Yoh. 3:16). Kepada para murid-Nya dan orang-orang beriman kepada--Nya, Yesus berpesan agar menjadi saksi-Nya untuk memberitakan Injil keselamatan sampai ke ujung bumi. Penyertaan Yesus yang bangkit adalah jaminan bagi orang-orang beriman dalam menghadapi tantangan dan penderitaan dan mendapat upah berlipat ganda di sini dan hidup kekal di sorga (Mat. 28:20; Mark. 8:34-35; 10:28-30).
Saudara-saudari, rasul Paulus mengingatkan kita bahwa kehidupan yang berkemenangan di dalam Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus bukanlah suatu jalan mudah. Allah di dalam diri Yesus telah menempuh jalan derita (via dolorosa). Bila dunia menyukai tradisi hedonisme yang menjunjung kenikmatan hidup dan menolak penderitaan, maka Yesus menawarkan untuk ikut menderita bersama-Nya yang - secara iman Kristiani - dianggap sebagai kasih karunia (bnd. 2 Kor. 1:5; Flp. 3:10; Kol. 1:24; 2Tim 2:11-12). Kendati orang-orang beriman menderita aniaya dalam dunia, tetapi Allah telah mengalahkan dunia (Yoh. 16:33b). Dan bila orang-orang beriman menderita bersama Yesus, maka hal itu merupakan akibat dari hubungan kita sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa sorgawi di dalam diri Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan jika kita adalah “anak”, maka kita adalah ahli waris, yang berhak menerima janji-janji Allah, yang kemudian menerimanya bersama Kristus. Yaitu jika kita menderita bersama Dia, maka kita juga dipermuliakan bersama Dia (Roma 8:17). Dan, jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia (2 Tim 2:11). Jadi baik hidup maupun mati, orang-orang beriman manunggal dengan Yesus Kristus karena Dia adalah TUHAN baik atas orang-orang mati maupun atas orang-orang hidup (2 Tim 2:11; Rom 14:7-9; Gal. 4:7; Why. 21:7).
Oleh karena itu, kita dipanggil supaya ‘bersekutu" dengan sengsara dan kemenangan Yesus Kristus (Kis. 9:16; 2 Kor 1:15; 1 Ptr 4:1,13). Marilah kuat oleh belas-kasih-Nya dalam menghadapi aneka derita karena Injil Kristus. Paulus menawarkan tiga gambaran inspiratif terkait menjadi prajurit Kristus (militia Christi), yakni seperti: (a) seorang tentara yang sedang berjuang; (b) seorang olahragawan yang bertanding untuk memperoleh mahkota sebagai juara seturut peraturan; dan (c) seorang petani yang kerja keras dan yang pertama menikmati hasil usahanya (2 Tim. 2:3-6). Niscaya TUHAN akan memberi hikmat dalam proses menekuni penderitaan (ayat 7). Dan dengan meneladani Kristus, marilah kita solider dengan derita sesama. Karena ada kekuatan dan penghiburan di dalam Kristus, sebab kemuliaan sudah berkarya melalui aneka penderitaan yang sebetulnya hanya sesaat saja dan tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kelak secara sempurna karena Kristus (Roma 8:18; 2Kor 1:5-6; 1 Ptr 5:10).
Saudara-saudari, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) secara khusus bersyukur dan merayakan Hari Jadi (Dies Natalis) yang ke-155 pada 7 Oktober 2016. Ini suatu kesempatan untuk menoleh ke belakang sejarahnya, menatap jauh ke depan Jubileum 200 Tahun pada 2061, dan menengadah ke sorga untuk mengucap syukur kepada TUHAN sekaligus memohon kekuatan agar HKBP dimampukan berkarya nyata dalam tugas panggilannya bersekutu, bersaksi, dan melayani. Visi kita agar HKBP semakin menjadi berkat bagi Indonesia, Asia, dan dunia. Salam. AAZS


Label:   2 Timotius 2:8-15 











NEXT:
Khotbah HKBP Senin, 10 Oktober 2016 - Filipi 4:4-9


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 2 Oktober 2016 - Twentieth Sunday after Pentecost - 2 Timotius 1:1-14


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de