Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 

View : 773 kali
Minggu, 19 November 2023

Ev. Ulangan 8:7-18
Ep. Yakobus 1:22-25
XXIV DUNG TRINITATIS

Ev. Ulangan 8:7-18
8:7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; 8:8 suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; 8:9 suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. 8:10 Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu. 8:11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; 8:12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, 8:13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, 8:14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, 8:15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, 8:16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya. 8:17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 8:18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

Penjelasan:
* Musa mengarahkan mereka untuk melihat ke depan ke negeri Kanaan. Ke sanalah Allah sedang membawa mereka sekarang. Ke mana pun kita melihat, baik ke belakang maupun ke depan, ada banyak alasan bagi kita untuk berlaku taat. Amatilah,

Negeri yang sekarang akan mereka duduki di sini digambarkan sebagai negeri yang sangat baik, karena di dalamnya ada segala sesuatu yang diinginkan (ay. 7-9).

(1) Negeri itu banyak airnya, seperti Eden, taman Tuhan. Itu adalah suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang menjadikan tanahnya subur. Mungkin ada lebih banyak air di sana pada waktu itu dibandingkan pada zaman Abraham, sebab orang Kanaan telah menemukan dan menggali sumur-sumur. Dengan begitu, Israel menuai buah dari ketekunan mereka dan juga dari kemurahan Allah.

(2) Tanahnya menghasilkan segala sesuatu yang baik dengan sangat berlimpah, bukan hanya untuk kebutuhan pokok, melainkan juga untuk kenyamanan dan penghiburan hidup manusia. Di negeri nenek moyang mereka, mereka mempunyai roti yang cukup. Itu adalah negeri jagung, negeri gandum dan jelai, di mana, dengan perawatan dan usaha bersama dari para petani, mereka dapat makan roti tanpa harus berhemat. Itu adalah negeri yang subur, yang tidak pernah berubah menjadi tandus kecuali karena kedurjanaan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Mereka tidak hanya mempunyai cukup air untuk memuaskan dahaga mereka, tetapi juga pohon anggur, yang buahnya ditetapkan untuk menyukakan hati. Dan, jika mereka menginginkan makanan-makanan yang lezat, mereka tidak perlu menyuruh orang lain untuk mendapatkannya dari negeri-negeri yang jauh, sebab negeri mereka sendiri mempunyai begitu banyak persediaan pohon ara, pohon delima, pohon-pohon zaitun dari jenis yang terbaik, dan madu, atau pohon kurma, begitulah ayat itu harus dibaca menurut sebagian orang.

(3) Bahkan isi perut buminya pun sangat kaya, meskipun tampaknya emas dan perak tidak ada pada mereka. Tetapi, raja-raja dari Syeba akan membawa persembahan-persembahan emas dan perak kepada mereka (Mzm. 72:10, 15). Namun, mereka mempunyai banyak jenis logam yang lebih bermanfaat, yaitu besi dan tembaga. Batu besi dan tambang tembaga ditemukan di perbukitan mereka. Lihat Ayub 28:2.

Hal-hal ini disebutkan,
(1) Untuk menunjukkan perbedaan besar antara padang gurun yang melaluinya Allah telah memimpin mereka dan negeri yang baik yang ke dalamnya Ia sedang membawa mereka. Perhatikanlah, orang-orang yang menanggung rasa tidak nyaman dalam penderitaan dengan sabar dan pasrah, yang direndahkan hatinya oleh penderitaan itu dan berhasil menanggungnya, merekalah yang paling siap untuk mengalami keadaan-keadaan yang lebih baik.

(2) Untuk menunjukkan kewajiban-kewajiban apa yang mengikat mereka untuk berpegang pada perintah-perintah Allah, baik dalam rasa syukur atas perkenanan-perkenanan-Nya kepada mereka maupun dalam kepedulian terhadap kepentingan mereka sendiri, supaya perkenanan-perkenanan itu berlanjut. Satu-satunya cara untuk tetap menduduki negeri yang baik ini adalah tetap berada di jalan kewajiban mereka.

(3) Untuk menunjukkan betapa negeri itu merupakan perlambang dari hal-hal baik yang akan datang. Apa pun yang dilihat orang lain, ada kemungkinan bahwa Musa melihat di dalamnya sebuah perlambang dari negeri yang lebih baik. Jemaat Injili adalah Kanaan Perjanjian Baru, yang disirami dengan Roh dalam karunia-karunia dan anugerah-anugerah-Nya, dan ditanami dengan pohon-pohon kebenaran, yang menghasilkan buah-buah kebenaran. Sorga adalah negeri yang baik, yang di dalamnya tidak ada kekurangan apa pun, dan di mana ada sukacita yang penuh.


* Peringatan-peringatan Berkenaan dengan Kemakmuran Duniawi (8:10-18)
Setelah menyebutkan banyak kelimpahan yang akan mereka dapati di negeri Kanaan, Musa merasa perlu untuk memperingatkan mereka terhadap penyalahgunaan kelimpahan itu. Ini merupakan dosa yang akan lebih condong mereka lakukan karena saat ini mereka sedang berjalan memasuki kebun anggur Tuhan yang melimpah itu, langsung keluar dari padang gurun yang tandus.

I. Musa mengarahkan mereka pada kewajiban yang harus mereka jalani saat hidup dalam keadaan makmur (ay. 10). Mereka diperbolehkan makan bahkan sampai kenyang, asal jangan terlalu kenyang dan berlebihan. Namun, mereka harus mengingat Sang Pemberi yang menyediakan semua itu bagi mereka. Mereka harus ingat Sang Penyelenggara pesta mereka, dan jangan sekali-kali lalai mengucap syukur setelah makan: Maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu.
1. Mereka harus berjaga-jaga supaya tidak makan atau minum berlebihan sampai merasa enggan untuk melakukan kewajiban memuji Allah ini. Sebaliknya, dalam makan dan minum, mereka harus berusaha beribadah kepada Allah dengan hati yang jauh lebih riang dan lapang.

2. Mereka tidak boleh bersekutu dengan orang-orang yang, ketika sudah makan dan kenyang, memuji allah-allah palsu, seperti yang dahulu dilakukan orang-orang Israel sendiri dengan menyembah anak lembu emas (Kel. 32:6).

3. Apa saja yang menjadi penghiburan mereka, Allah haruslah mendapat kemuliaan darinya. Sama seperti Juruselamat kita sudah mengajar kita untuk mengucap syukur sebelum makan (Mat. 14:19-20), demikian pula kita di sini diajar untuk mengucap syukur sesudah makan. Mengucap syukur sebelum makan adalah Hosana kita -” Allah memberkati, dan mengucap syukur sesudah makan adalah Haleluya kita -” Terpujilah Allah. Mengucap syukurlah dalam segala hal. Dari hukum ini, orang-orang Yahudi yang saleh menciptakan kebiasaan yang terpuji untuk memuji Allah, bukan hanya pada waktu makan, melainkan juga dalam kesempatan-kesempatan lain. Jika mereka minum secawan anggur, mereka mengangkat tangan dan berkata, terpujilah Dia yang menciptakan buah dari pohon anggur untuk menyukakan hati. Saat hanya mencium wangi bunga, mereka berkata, terpujilah Dia yang membuat bunga ini menjadi manis.

4. Ketika mereka mengucap syukur atas hasil-hasil negeri, mereka juga harus mengucap syukur atas negeri itu sendiri, yang diberikan kepada mereka melalui janji. Ketika kita merasakan kesenangan dan penghiburan, kita harus memanfaatkan kesempatan itu untuk bersyukur kepada Allah atas penghidupan yang menyukakan hati. Dan saya tidak tahu hal lain selain bahwa kita dari bangsa ini mempunyai banyak alasan seperti mereka untuk mengucap syukur atas negeri kita yang baik.


II. Musa mempersenjatai mereka melawan godaan-godaan dari keadaan makmur, dan menyuruh mereka untuk berjaga-jaga terhadapnya: “Apabila engkau sudah menetap di rumah-rumah yang bagus yang engkau bangun sendiri,” (ay. 12) sebab meskipun Allah memberi mereka rumah-rumah yang tidak mereka bangun (6:10), namun rumah-rumah ini tidak akan cukup untuk mereka. Mereka perlu rumah yang lebih besar dan lebih bagus. “Dan apabila engkau sudah menjadi sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya (ay. 13), seperti Abraham (Kej. 13:2), apabila segala yang ada padamu bertambah banyak,”

1. “Maka berjaga-jagalah terhadap kesombongan. Waspadalah supaya jangan engkau tinggi hati” (ay. 14). Ketika harta benda bertambah, pikiran cenderung terangkat bersamanya, dalam keangkuhan diri, kepuasan diri, dan kepercayaan diri. Oleh sebab itu, marilah kita berusaha untuk tetap menjaga roh kita tetap rendah dalam keadaan yang tinggi. Kerendahan hati adalah ketenangan dan juga perhiasan dari kemakmuran. Waspadalah supaya engkau tidak mengucapkan, sekalipun itu dalam hatimu, kata-kata yang sombong itu, kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini (ay. 17). Perhatikanlah, kita tidak boleh mengambil pujian atas kemakmuran kita untuk diri kita sendiri, atau mengaitkannya dengan kepintaran atau ketekunan kita. Sebab roti tidak selalu untuk yang berhikmat, dan kekayaan bukan untuk yang cerdas (Pkh. 9:11). Mempersembahkan korban untuk pukat kita sendiri (Hab. 1:16) adalah penyembahan berhala secara rohani.

2. “Maka berjaga-jagalah supaya engkau tidak melupakan Allah.” Hal ini mengikuti tinggi hati. Sebab dengan batang hidungnya yang ke ataslah orang fasik tidak mencari Allah (Mzm. 10:4). Orang-orang yang mengagumi diri mereka sendiri memandang rendah Allah.
(1) “Jangan lupakan kewajibanmu terhadap Allah” (ay. 11). Kita melupakan Allah jika kita tidak berpegang pada perintah-perintah-Nya. Kita melupakan wewenang-Nya atas diri kita, dan kewajiban-kewajiban serta harapan-harapan kita terhadap-Nya, jika kita tidak patuh pada hukum-hukum-Nya. Ketika orang bertambah kaya, mereka tergoda untuk berpikir bahwa agama adalah hal yang tidak perlu. Mereka bahagia tanpa agama, dan menganggap agama sebagai sesuatu yang ada di bawah mereka dan terlalu keras untuk mereka. Martabat mereka melarang mereka untuk membungkuk, dan kebebasan mereka melarang mereka untuk melayani. Tetapi kita sungguh teramat sangat tidak tahu berterima kasih jika semakin baik Allah terhadap kita, semakin buruklah kita terhadap-Nya.

(2) “Jangan lupakan bagaimana perlakuan-perlakuan Allah yang dulu terhadapmu. Pembebasanmu dari Mesir (ay. 14), dan persediaan yang dibuat-Nya untukmu di padang gurun, padang gurun yang besar dan dahsyat itu.” Jangan sekali-kali mereka melupakan segala kengerian padang gurun yang tertanam dalam diri mereka. Di 6 padang gurun itu disebut tanah yang gelap (KJV: bayang-bayang kematian). Di sana Allah melindungi mereka sehingga mereka tidak dibinasakan oleh ular-ular ganas dan kalajengking, meskipun ada kalanya Ia memakai ular dan kalajengking untuk menghajar mereka. Di sana Ia memelihara mereka sehingga mereka tidak binasa karena kekurangan air. Ia melimpahi mereka dengan air yang keluar dari gunung batu (ay. 15), yang (menurut Uskup Patrick) sangka orang akan keluar api darinya. Di sana Ia memberi mereka makan manna, yang sudah diceritakan sebelumnya (ay. 3), dengan memberi perhatian untuk membuat mereka tetap hidup, supaya Ia dapat berbuat baik kepada mereka akhirnya (ay. 16). Perhatikanlah, Allah menyimpan yang terbaik untuk diberikan pada saat terakhir bagi Israel milik-Nya. Betapa pun Ia tampak memperlakukan mereka dengan keras di jalan, Ia tidak akan gagal untuk berbuat baik kepada mereka pada akhirnya.

(3) “Jangan lupakan tangan Allah dalam kemakmuran yang engkau rasakan pada saat ini (ay. 18). Ingat bahwa Dialah yang memberimu kekayaan, sebab Dia memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan.” Lihatlah di sini bagaimana pemberian Allah dan berkat yang kita terima diselaraskan, dan coba terapkan itu pada kekayaan rohani. Adalah kewajiban kita untuk memperoleh hikmat, dan jika kita memperoleh pengertian, maka itu mengungguli semua hal yang kita peroleh. Meskipun demikian, anugerah Allah-lah yang memberikan hikmat. Dan ketika kita sudah memperolehnya, kita tidak boleh berkata, kekuatan tangan kitalah yang mengusahakannya. Sebaliknya, kita harus mengakui bahwa Allahlah yang memberi kita kekuatan untuk mendapatkannya. Dan karena itu, kepada-Nyalah kita harus memberikan pujian dan menguduskan penggunaannya. Berkat Tuhan di tangan orang rajin menjadikan kaya, baik untuk dunia ini maupun untuk dunia lain. Ia memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, bukan untuk memuaskanmu, dan membuatmu nyaman, melainkan terlebih supaya Ia dapat meneguhkan kovenan-Nya. Semua karunia Allah diberikan untuk memenuhi janji-janji-Nya.


Ep. Yakobus 1:22-25
1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. 1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. 1:24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. 1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Penjelasan:
* Kita diajarkan tentang apa yang harus dilakukan setelah mendengar (ay. 22): Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Perhatikanlah di sini,
(1) Kita mendengar supaya melakukan. Sering mendengarkan firman Allah atau mendengarkan dengan penuh perhatian tidak akan bermanfaat bagi kita jika tidak disertai dengan melakukannya. Sekalipun kita mendengar khotbah setiap hari dalam seminggu, dan malaikat dari sorga adalah pengkhotbahnya, namun jika kita berhenti hanya pada mendengar, itu tidak akan pernah membawa kita ke sorga. Oleh sebab itu, Rasul Yakobus sangat menegaskan hal ini (dan, tanpa diragukan lagi, adalah hal yang penting tanpa bisa ditawar-tawar lagi) bahwa kita harus melakukan apa yang kita dengar. “Harus ada pengamalan di dalam batin dengan merenung, dan pengamalan dalam bentuk perbuatan yang bisa dilihat bila kita memang sungguh-sungguh mau taat kepada firman” (Baxter). Tidak cukup hanya mengingat apa yang kita dengar dan bisa mengulanginya, memberikan kesaksian untuknya, memujinya, menuliskannya, dan memelihara apa yang kita tulis. Yang membuat semuanya ini lengkap, dan yang akan memahkotainya, adalah bahwa kita juga harus menjadi pelaku firman. 

Amatilah,
(2) Orang yang hanya mendengar berarti menipu diri sendiri. Dalam bahasa aslinya, paralogizomenoi, yang berarti orang yang mencari-cari alasan bagi dirinya sendiri. Jalan pikiran mereka jelas-jelas menipu dan keliru, apabila mereka menyangka bahwa satu bagian dari pekerjaan mereka membuat mereka terlepas dari kewajiban yang harus mereka lakukan untuk bagian yang lain. Atau apabila mereka meyakinkan diri sendiri bahwa mengisi kepala dengan gagasan-gagasan itu sudah cukup, meskipun hati mereka kosong dari perasaan-perasaan dan tekad yang baik, dan hidup mereka tidak membuahkan perbuatan-perbuatan baik. Menipu diri pada akhirnya akan didapati sebagai tipuan terburuk.

Rasul Yakobus menunjukkan bagaimana semestinya memanfaatkan firman Allah, seperti apa itu orang yang tidak memanfaatkannya seperti seharusnya, dan seperti apa itu orang yang memang memanfaatkannya dengan benar (ay. 23-25). 

Mari kita lihat masing-masing secara bergantian.
(1) Bagaimana semestinya memanfaatkan firman Allah dapat dipelajari dengan membandingkannya dengan cermin, di mana orang bisa mengamati-amati mukanya yang sebenarnya. Seperti cermin menunjukkan kepada kita noda-noda dan kotoran yang melekat pada wajah kita, supaya bisa diobati dan dibersihkan, demikian pula firman Allah menunjukkan kepada kita dosa-dosa kita, supaya kita bertobat darinya dan mendapat pengampunan. Firman Allah menunjukkan kepada kita apa yang salah, supaya bisa diperbaiki. Ada cermin yang hanya akan menyanjung orang. Tetapi apa yang betul-betul merupakan firman Allah bukanlah cermin yang menyanjung. Jika engkau menyanjung diri, itu salahmu sendiri. Kebenaran, yang nyata dalam Yesus, tidak menyanjung siapa-siapa. Hendaklah firman kebenaran diperhatikan betul-betul, maka firman itu akan menunjukkan kepadamu kebobrokan sifatmu, kekacauan hati dan hidupmu. Firman itu akan memberi tahu engkau dengan jelas siapa engkau. Rasul Paulus menggambarkan dirinya tidak peka terhadap kebobrokan sifatnya sampai ia melihat dirinya dalam cermin hukum Taurat (Rm. 7:9): “Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Yaitu, aku menganggap diriku benar, dan memandang diriku bukan hanya bersih, melainkan juga indah, dibandingkan dengan dunia pada umumnya. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, ketika cermin hukum dihadapkan padaku, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati. Maka aku melihat noda dan cela, dan menemukan apa yang salah dalam diriku yang tidak aku sadari sebelumnya. Demikianlah kuasa hukum, dan dosa, sehingga aku melihat diriku dalam keadaan mati dan terkutuk.” Dengan demikian, apabila kita memperhatikan firman Allah, sehingga dapat melihat diri kita sendiri, keadaan dan kondisi kita yang sebenarnya, dapat memperbaiki apa yang salah, dan memperbaharui diri kita melalui cermin firman Allah, inilah yang dimaksud dengan memanfaatkan firman Allah dengan benar.

(2) Di sini kita mendapati uraian tentang orang-orang yang tidak memanfaatkan cermin firman ini sebagaimana mestinya: Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya (ay. 24). Ini adalah gambaran sebenarnya tentang orang yang mendengar firman Allah tetapi tidak melaksanakannya. Betapa ada banyak orang yang, ketika duduk mendengarkan firman, terjamah dan menyadari keberdosaan mereka, kesengsaraan mereka, dan bahaya yang mengintai diri mereka, mengakui jahatnya dosa, dan kebutuhan mereka akan Kristus. Namun demikian, setelah mereka mendengar, semuanya terlupakan, semua rasa insaf menghilang, perasaan-perasaan yang baik lenyap, dan berlalu seperti air banjir: ia segera lupa. “Firman Allah (seperti yang dikatakan Dr. Manton) menyingkapkan bagaimana kita dapat menyingkirkan dosa-dosa kita, dan menghiasi serta memakaikan kebenaran Yesus Kristus pada jiwa kita. Maculæ sunt peccata, quæ ostendit lex; aqua est sanguis Christi, quem ostendit evangelium -” Dosa-dosa kita adalah noda-noda yang disingkapkan oleh hukum Taurat. Darah Kristus adalah bejana pembasuh yang ditunjukkan Injil.” Tetapi sia-sialah kita mendengarkan firman Allah, dan melihat di depan cermin Injil, jika kita segera pergi, lalu melupakan noda-noda kita, dan bukannya membasuhnya. Sia-sialah juga jika kita melupakan obat penawar kita, dan bukannya malah menggunakannya. Inilah contoh orang yang tidak mendengarkan firman sebagaimana mestinya.

(3) Digambarkan juga, dan dinyatakan sebagai berbahagia, orang yang mendengar dengan benar, dan yang memanfaatkan cermin firman Allah seperti seharusnya (ay. 25): Barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, dst. Amatilah di sini,
- Injil adalah hukum yang memerdekakan, atau seperti Tuan Baxter mengungkapkannya, hukum yang membebaskan, yang memerdekakan kita dari hukum Yahudi, dan dari dosa dan kebersalahan, dari murka dan maut. Hukum keupacaraan adalah kuk perbudakan, sedangkan Injil Kristus adalah hukum yang memerdekakan.

- Injil adalah hukum yang sempurna. Tidak bisa ditambah-tambahi lagi dengan apa pun.

- Dalam mendengarkan firman, kita meneliti hukum yang sempurna ini. Kita mencari nasihat dan bimbingan darinya. Kita meneliti, supaya dari situ kita dapat menilai diri sendiri.

- Kita baru dikatakan meneliti hukum yang memerdekakan seperti seharusnya apabila kita bertekun di dalamnya, yaitu “apabila kita tinggal terus mempelajarinya, sampai hukum itu mewujud dalam kehidupan rohani, tertanam dan tercerna dalam diri kita” (Baxter). Ini artinya apabila kita tidak melupakannya, tetapi melaksanakannya sebagai pekerjaan dan urusan kita, selalu menempatkannya di hadapan kita, dan menjadikannya pedoman bagi perilaku kita senantiasa, dan membiarkannya membentuk sikap pikiran kita.

- Orang yang berbuat demikian, dan bertekun di dalam hukum dan firman Allah, sudah dan akan berbahagia oleh perbuatannya. Diberkati dalam segala jalannya, menurut Mazmur pertama, yang menurut sebagian orang dirujuk Rasul Yakobus di sini. Orang yang merenungkan Taurat Allah, dan berjalan menurutinya, kata sang pemazmur, apa saja yang dibuatnya berhasil. Dan orang yang bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukan pekerjaan yang ditetapkan untuknya oleh firman Allah, kata Rasul Yakobus, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Ada sebagian orang yang berdalih bahwa di sini jelas ada bagian Kitab Suci yang membuktikan bahwa kita diberkati karena perbuatan-perbuatan baik kita. Akan tetapi Dr. Manton, untuk menanggapi dalih tersebut, meminta pembaca untuk memperhatikan ketepatan ungkapan Kitab Suci. Rasul Yakobus tidak berkata, karena perbuatannyalah orang diberkati, melainkan dalam perbuatannya (KJV). Perbuatan baik adalah jalan di mana kita pasti akan menemukan diri dalam keadaan diberkati, tetapi perbuatan itu bukan penyebab keadaan itu. Keterberkatan ini tidak diperoleh dalam mengetahui, melainkan dalam melaksanakan kehendak Allah. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya (Yoh. 13:17). Bukan berbicara, melainkan berjalan, itulah yang akan membawa kita ke sorga.











Pelatihan Online EasyWorship 2009 mulai 06 April 2015
- Soal Latihan 1 EasyWorship 2009 - Pembuatan Slide Tata Ibadah
- Register | Login




NEXT:
Renungan HKBP Minggu, 26 November 2023 - MANOMUNOMU BANUA GINJANG DOHOT TANO NA IMBARU (MENYONGSONG LANGIT DAN BUMI YANG BARU) - EV. Wahyu 21:1-4 - Ep. Yesaya 65:17-23


PREV:
Renungan HKBP Minggu, 12 November 2023 - Ev. 1 Tesalonika 5:1-11 - Ep. Amos 5:18-27 - XXIII DUNG TRINITATIS


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de