BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 3057 kali
Minggu, 20 Agustus 2023
XI DUNG TRINITATIS
BANGSA-BANGSA BERSYUKUR ATAS KEMURAHAN ALLAH
Ev. Roma 11:1-2a : 29:32
Ep. Mazmur 67:1-8

Ev. Roma 11:1-2a : 29:32
Sisa Israel
11:1 Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiripun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. 11:2 Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah:

1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Penjelasan:
* Kemurahan Allah atas Bangsa Yahudi dan Bukan Yahudi (Roma 11:1-32)

    Di sini Rasul Paulus mengemukakan suatu keberatan yang bisa saja diajukan melawan perbuatan Allah dalam mencampakkan bangsa Yahudi (ay. 1): “Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Adakah penolakan itu sepenuhnya dan merupakan keputusan akhir? Adakah mereka semua dibiarkan kepada kemurkaan dan kehancuran, dan untuk selama-lamanya? Adakah penghukuman itu terentang seluas-luasnya tanpa batas, atau terus berlanjut sedemikian lama sehingga tidak bisa dicabut kembali? Adakah Dia tidak lagi mempunyai umat kesayangan bagi diri-Nya?” Untuk menyanggah semuanya ini, Paulus menunjukkan bahwa dalam apa yang tampak keras ini, ada juga kebaikan dan belas kasihan yang sangat besar. Secara khusus, ia menekankan tiga hal:
        1. Bahwa, walaupun sebagian orang Yahudi dicampakkan, tidak semuanya demikian.
        2. Bahwa, walaupun orang-orang Yahudi sebagai bangsa dikeluarkan, bangsa-bangsa bukan Yahudi dibawa masuk. Dan,
        3. Bahwa, walaupun orang-orang Yahudi dicampakkan sekarang, nanti pada waktu yang tepat menurut Allah, mereka akan dibawa masuk kembali ke dalam jemaat-Nya.

Memang benar bahwa banyak orang Yahudi dicampakkan, tetapi tidak semuanya. Pandangan ini dikemukakan Paulus dengan didahului kata-kata, sekali-kali tidak! Ia sama sekali tidak tahan dengan pikiran-pikiran seperti itu. Allah telah mengadakan pembedaan di antara sebagian dari mereka dan sebagian yang lain.

Ada sisa orang-orang Yahudi pilihan yang percaya, yang memperoleh kebenaran dan hidup melalui iman kepada Yesus Kristus (ay. 1-7). Mereka ini dikatakan sebagai orang-orang yang dipilih-Nya (ay. 2), maksudnya, orang-orang yang hendak dikasihi-Nya dari semula, sebelum dunia dijadikan. Sebab siapa yang dipilih-Nya, dia juga yang ditentukan-Nya sejak semula. Di sinilah terletak dasar dari pembedaan itu. Mereka disebut pilihan (ay. 7, KJV), maksudnya, orang-orang yang terpilih, orang-orang pilihan Allah, yang disebut-Nya sebagai pilihan, karena apa yang pertama-tama membedakan mereka dari orang lain dan yang meninggikan derajat mereka dibandingkan dengan semua yang lain adalah kasih Allah yang memilih. Orang-orang percaya adalah orang pilihan. Mereka semua, dan hanya mereka saja, adalah orang-orang yang sudah dipilih Allah. Nah,
                (1) Paulus menunjukkan bahwa ia sendiri termasuk salah satu dari mereka: Karena aku sendiri pun orang Israel. Seolah-olah ia berkata, “Seandainya aku berkata bahwa semua orang Yahudi ditolak, maka apa yang aku katakan itu pasti tidak berlaku, dan aku harus memandang diriku sendiri sebagai orang yang ditinggalkan.” Paulus adalah alat pilihan (Kis. 9:15), padahal ia berasal dari keturunan Abraham, khususnya dari suku Benyamin, suku yang terkecil dan termuda dari semua suku Israel.
                (2) Paulus menyatakan bahwa sebagaimana pada masa Elia, demikian pula sekarang, umat sisa yang terpilih ini ternyata lebih banyak dan lebih besar daripada apa yang disangkakan orang. Ini juga menunjukkan bahwa bukan hal baru atau tidak biasa jika anugerah dan perkenanan Allah kepada Israel dibatasi dan terkurung hanya pada sisa dari bangsa itu. Sebab demikianlah yang terjadi pada masa Elia. Kitab Suci berkata tentang Elia, en HÄ”lias — dalam kisah Elia, sang pembaharu besar dari Perjanjian Lama itu.

* Rm 1:32 - MEREKA JUGA SETUJU DENGAN MEREKA YANG MELAKUKANNYA.

Kata akhir rasul Paulus mengenai dosa manusia adalah kecaman Allah atas keadaan yang lebih terkutuk dari tindakan dosa itu sendiri, yaitu mendukungnya dan mendorongnya dengan merasa senang akan perbuatan dursila orang lain. Inilah puncak kemerosotan akhlak -- menikmati seolah mengalami sendiri dosa dan kejahatan yang dilakukan orang lain. Dosa kini menjadi hiburan.

    1) Kata "setuju" (Yun. _suneudokeo_) berarti "setuju dengan", atau "menyetujui" menunjuk kepada penikmatan sembarangan dosa yang dilakukan oleh orang lain di dalam masyarakat.
    2) Dewasa ini kita sudah mengetahui kerusakan besar yang diakibatkan oleh pemeranan perbuatan dursila yang menguasai media hiburan; namun banyak orang menikmati dan bahkan menyetujuinya. Dihibur dengan melihat orang lain berbuat dosa, sekalipun tidak terlibat di dalamnya, membawa orang di bawah kutukan ilahi yang sama dengan mereka yang melakukannya. Dosa makin meningkat dalam suatu masyarakat di mana tidak ada pencegahan dari mereka yang tidak menyetujuinya.
    3) Mereka (dan khususnya mereka yang mengaku percaya kepada Kristus) yang mempergunakan perbuatan dursila orang lain sebagai sarana hiburan dan kenikmatan secara langsung menyumbang kepada pendapat umum yang menyetujui kedursilaan dan dengan demikian kepada kerusakan dan hukuman kekal atas banyak orang lain yang tidak terhitung jumlahnya. Dosa semacam ini layak dihukum mati dan akan tersingkap dan dihukum pada hari hukuman terakhir (2Tes 2:12).


Ep. Mazmur 67:1-8
Nyanyian syukur karena segala berkat Allah
67:1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Mazmur. Nyanyian. (#67-#2) Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, Sela 67:2 (#67-#3) supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. 67:3 (#67-#4) Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. 67:4 (#67-#5) Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. Sela 67:5 (#67-#6) Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. 67:6 (#67-#7) Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita. 67:7 (#67-#8) Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!

Penjelasan:
* Doa bagi Kemakmuran dan Perluasan Jemaat; Pertobatan Bangsa-bangsa Bukan Yahudi (67:1-8)
Mazmur ini disusun dengan sedemikian rupa sehingga menunjukkan perasaan-perasaan penulisnya yang sangat hangat dan hidup, dan dengan roh ibadah ini dia diangkat untuk menerima roh nubuatan tentang perluasan Kerajaan Allah.

I. Ia memulai dengan doa bagi kesejahteraan dan kemakmuran jemaat pada waktu itu, dan ia turut berbagi dalam keadaan itu dan merasa berbahagia (ay. 2). Juruselamat kita, dalam mengajar kita untuk berseru Bapa kami, telah menunjukkan bahwa kita harus berdoa dengan orang lain dan bagi orang lain. Demikian pula sang pemazmur di sini tidak berdoa, Kiranya Allah mengasihaniku dan memberkatiku, tetapi mengasihani kita dan memberkati kita. Sebab, kita harus menaikkan permohonan bagi semua orang kudus, dan harus rela serta gembira untuk berbagi nasib bersama mereka. Di sini kita diajar,
        1. Bahwa semua kebahagiaan kita berasal dari belas kasihan Allah dan semakin bertambah di dalam belas kasihan itu. Oleh sebab itu, hal pertama yang harus didoakan adalah, Ya Allah, kasihanilah kami, kami orang-orang berdosa ini, dan ampunilah dosa-dosa kami (Luk. 18:13), kami orang-orang berdosa yang menyedihkan ini, dan bantulah kami untuk keluar dari kesengsaraan-kesengsaraan kami.
        2. Bahwa semua kebahagiaan kita diberikan melalui berkat Allah, dan tersimpan di dalamnya: Kiranya Allah memberkati kita, yaitu, kiranya Allah mengikutsertakan kita dalam janji-janji-Nya, dan memberikan kepada kita segala kebaikan yang terkandung di dalamnya. Jika Allah berbicara dengan baik kepada kita, maka itu berarti Dia berbuat baik bagi kita. Ya Allah, berkatilah kami merupakan doa yang sangat luas, mencakup segalanya. Karena itu, sangat disayangkan jika kata-kata yang begitu baik ini digunakan begitu saja dan sembarangan, dan sebagai ungkapan sia-sia.
        3. Bahwa semua kebahagiaan itu digenapi di dalam terang wajah-Nya: Kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, yakni, kiranya Allah dengan anugerah-Nya melayakkan kita untuk menerima kebaikan-Nya, dan kemudian memberi kita pertanda-pertanda dari kebaikan-Nya. Kita tidak perlu apa-apa lagi untuk membuat kita berbahagia selain memiliki wajah Allah menyinari kita, memiliki Allah yang mengasihi kita, dan yang memberi tahu kita bahwa Dia mengasihi kita: Bersinar bersama kita (begitulah arti yang bisa ditambahkan). Bersama kita melakukan apa yang kita kerjakan, dan biarlah kesertaan-Nya ini memahkotai usaha kita dengan keberhasilan. Jika kita dengan iman berjalan bersama Allah, maka kita dapat berharap wajah-Nya bersinar bersama kita.

II. Ia beralih dari doa ini ke doa bagi pertobatan bangsa-bangsa bukan Yahudi (ay. 3): Supaya jalan-Mu dikenal di bumi. “Tuhan, aku berdoa bukan hanya agar Engkau mengasihani kami dan memberkati kami, tetapi juga agar Engkau mau mengasihani seluruh umat manusia, supaya jalan-Mu dikenal di bumi.” Dengan roh yang mementingkan kesejahteraan umum seperti itulah kita harus berdoa. Bapa yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu. Kita tidak akan pernah kekurangan belas kasihan, berkat, dan kebaikan Allah bila orang lain turut berbagi bersama kita di dalamnya. Atau, doa itu dapat dipandang seperti ini: “Ya Allah, kasihanilah kami orang-orang Yahudi, dan berkatilah kami, supaya dengan demikian jalan-Mu dikenal di bumi, supaya dengan pertanda-pertanda yang khusus dan istimewa akan kebaikan-Mu kepada kami, orang lain dapat tertarik untuk datang dan bergabung bersama kami, seraya berkata, Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Allah menyertai kamu!” (Za. 8:23).
        1. Ayat-ayat ini, yang menunjuk pada pertobatan bangsa-bangsa bukan Yahudi, dapat dipandang,
            (1) Sebagai doa, dan dengan demikian berbicara tentang kerinduan orang-orang kudus Perjanjian Lama. Begitu jauh mereka dari keinginan untuk menguasai sendiri hak-hak istimewa yang dimiliki mereka sebagai jemaat Allah sehingga mereka tidak menginginkan apa-apa lagi selain dirubuhkannya dinding-dinding pemisah antara mereka dan bangsa lain, dan dibukakannya keuntungan-keuntungan sebagai jemaat kepada bangsa lain juga. Lihatlah betapa berbedanya roh orang-orang Yahudi pada masa Kristus dan para rasul-Nya dari semangat nenek moyang mereka. Orang-orang Israel sejati pada zaman dulu menginginkan agar nama Allah dikenal di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi. Tetapi, orang-orang Yahudi palsu geram terhadap pemberitaan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Tidak ada hal lain dalam Kekristenan yang membuat mereka begitu berang selain perihal pemberitaan Injil ini.
            (2) Sebagai nubuatan bahwa akan terjadi seperti yang didoakannya di sini. Banyak nubuatan dan janji Kitab Suci terbungkus di dalam doa-doa, untuk menunjukkan bahwa doa jemaat itu pasti akan dijawab, sebagaimana janji-janji Allah pasti akan ditepati.
        2. Ada tiga hal yang didoakan di sini, yang berkaitan dengan bangsa-bangsa bukan Yahudi:
            (1) Agar pewahyuan ilahi diutus ke tengah-tengah mereka (ay. 3). Dua hal yang diinginkannya untuk dikenal di bumi, bahkan di antara segala bangsa, dan bukan hanya pada bangsa Yahudi saja:
                [1] Jalan Allah, sebuah norma kewajiban: “Kiranya mereka semua tahu, sebaik yang kita tahu, apa yang baik dan apakah yang dituntut TUHAN dari pada mereka. Kiranya mereka diberkati dan diberi kehormatan dengan ketetapan-ketetapan dan penghakiman-penghakiman yang sama benarnya seperti kepunyaan kami, yang membuat bangsa kami sangat dipuji-puji dan dicemburui oleh semua bangsa sekitar” (Ul. 4:8).
                [2] Kebaikan-Nya yang menyelamatkan, atau keselamatan-Nya. Jalan Allah terbungkus di dalam hukum-Nya, sementara keselamatan-Nya terbungkus di dalam Injil-Nya. Jika Allah menyatakan jalan-Nya kepada kita, dan kita berjalan di dalamnya, maka Dia akan menunjukkan kepada kita keselamatan yang dari pada-Nya ( 50:23). Orang-orang yang sudah benar-benar mengalami betapa menyenangkannya jalan-jalan Allah, dan penghiburan-penghiburan dari keselamatan-Nya, tidak bisa tidak menginginkan dan berdoa agar jalan-jalan itu juga dinyatakan kepada orang lain, bahkan kepada segala bangsa. Semua orang di atas bumi terikat kewajiban untuk berjalan di jalan Allah, semua membutuhkan keselamatan-Nya, dan semua bisa mendapat bagian di dalamnya. Karena itulah, kita harus berdoa agar jalan maupun keselamatan Allah dinyatakan kepada semua orang.
            (2) Agar penyembahan ilahi ditegakkan di tengah-tengah manusia, karena di situlah pewahyuan ilahi akan diterima dan dipeluk (ay. 4): “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah! Kiranya mereka mendapatkan pokok pujian, kiranya mereka mempunyai hati untuk memuji. Ya, kiranya jangan hanya sebagian, tetapi semua bangsa bersyukur kepada-Mu,” segala bangsa sesuai dengan kapasitas kebangsaan mereka, sebagian orang dari semua bangsa. Doa ini diulangi lagi (ay. 6) untuk menunjukkan bahwa sang pemazmur begitu memberikan hatinya pada doanya. Orang-orang yang dengan sendirinya bersuka dalam memuji Allah tidak bisa tidak menginginkan agar orang lain juga dibawa untuk memuji-Nya, agar Allah mendapatkan kehormatan dari puji-pujian mereka dan agar mereka mendapatkan keuntungan darinya. Ini merupakan sebuah doa,
                [1] Agar Injil diberitakan kepada mereka, supaya ada alasan juga bagi mereka untuk memuji Allah, seperti ketika tiba hari cerah di musim semi setelah malam-malam yang panjang dan gelap. Ortus est sol — Sang surya telah terbit(Kis. 8:8).
                [2] Agar mereka bertobat dan dibawa ke dalam jemaat, supaya mereka tergerak untuk memuji Allah, Allah yang hidup dan benar, dan bukan ilah-ilah yang bisu dan menjijikkan yang selama ini mereka sembah (Dan. 5:4). Maka pikiran-pikiran mereka yang keras tentang Allah akan diredam, dan mereka akan melihat Dia, dengan kacamata Injil, sebagai kasih itu sendiri, dan sebagai Dia yang pantas mendapatkan pujian.
                [3] Agar mereka ikut bergabung dalam kumpulan jemaat yang khidmat, dan memuji Allah dalam satu tubuh, agar mereka semua bersama-sama memuji-Nya dengan satu pikiran dan satu mulut. Demikianlah wajah agama akan tampak di dalam negeri apabila Allah diakui di hadapan orang banyak dan ketetapan-ketetapan ibadah dirayakan dengan benar di dalam kumpulan jemaat.
            (3) Agar pemerintahan ilahi diakui dan ditaati dengan senang hati (ay. 5): Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai! Sukacita yang kudus, sukacita di dalam Allah dan nama-Nya, merupakan hati dan jiwa dari pujian yang disertai dengan ucapan syukur. Agar bangsa-bangsadapat bersyukur kepada-Mu, kiranya suku-suku bangsa bersukacita. Orang-orang yang bersukacita senantiasa dalam Tuhan pasti akan mengucap syukur dalam segala hal. Sukacita yang diharapkannya bagi bangsa-bangsa adalah sukacita yang kudus, sebab sukacita ini adalah sukacita akan kekuasaan Allah, sukacita karena Allah telah memangku kuasa-Nya yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja, yang telah membuat marah semua bangsayang tidak bertobat (Why. 11:17-18). Kiranya mereka bersukacita,
                [1] Karena TUHANlah yang empunya kerajaan ( 22:29), karena Ia, sebagai penguasa yang berdaulat, akan memerintah bangsa-bangsa di atas bumi, karena dengan kerajaan pemeliharaan-Nya Ia akan mengatur urusan-urusan semua kerajaan sesuai dengan keputusan kehendak-Nya, meskipun mereka tidak mengenal-Nya ataupun mengakui-Nya. Dan karena pada waktunya Dia akan menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya melalui pemberitaan Injil-Nya (Mat. 28:19) dan mendirikan kerajaan anugerah-Nya di tengah-tengah mereka di atas reruntuhan kerajaan Iblis. Ia akan membuat mereka rela menyerahkan diri pada hari Dia berkuasa, dan terlebih karena pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya.
                [2] Karena dari TUHAN orang menerima keadilan. “Kiranya mereka bersukacita sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, sebab Engkau akan memberikan hukum dan Injil yang akan menjadi kaidah penghakiman yang adil, dan akan menjatuhkan hukuman tanpa keliru, sesuai dengan kaidah itu, kepada semua anak manusia, tanpa kecuali.” Kiranya kita semua bersukacita sebab kita tidak harus menjadi hakim bagi satu sama lain, melainkan Dia saja yang menghakimi kita, yang adalah Tuhan, yang penghakiman-Nya kita yakini sesuai dengan kebenaran.

III. Ia menutup dengan pengharapan yang gembira akan semua kebaikan yang akan terjadi ketika Allah melakukan ini, ketika semua bangsa bertobat dan dibawa untuk memuji Allah.

        1. Dunia bawah akan tersenyum kepada mereka, dan mereka akan mendapatkan buah-buah darinya (ay. 7): Tanah telah memberi hasilnya. Bukan berarti bahwa Allah tidak menurunkan hujan dari langit dan memberikan musim-musim subur bagi bangsa-bangsa yang diam dalam kegelapan (Kis. 14:1). Akan tetapi, ketika mereka bertobat, bumi memberikan lebih banyak hasilnya bagi Allah. Maka, makanan dan minuman menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allah kita (Yl. 2:14). Dengan demikian, hasil bumi diberikan untuk suatu tujuan yang mulia. Lalu bumi memberikan hasilnya dengan lebih banyak daripada sebelum-sebelumnya demi penghiburan manusia, yang melalui Kristus telah memperoleh hak kovenan untuk menikmati hasil-hasilnya, dan yang memanfaatkannya dengan cara yang kudus. Perhatikanlah, keberhasilan Injil kadang-kadang turut membawa kemurahan lahiriah bersamanya. Kebenaran meninggikan derajat bangsa (lih. Yes. 4:2; 62:9).

        2. Dunia atas akan tersenyum kepada mereka, dan mereka akan mendapatkan kebaikan-kebaikan darinya, yang jauh lebih baik: Allah, Allah kita, memberkati kita (ay. 7). Dan lagi (ay. 8), Allah memberkati kita.
            Perhatikanlah:
            (1) Ada sebuah umat di dunia ini yang berhak, dengan alasan-alasan yang baik, menyebut Allah sebagai Allah mereka.
            (2) Orang-orang percaya mempunyai alasan untuk bermegah atas hubungan mereka dengan Allah dan atas kepentingan yang mereka miliki di dalam Dia. Di sini hal itu dibicarakan dengan nada kemenangan. Allah, Allah kita.
            (3) Orang-orang yang melalui anugerah menyebut Allah sebagai kepunyaan mereka sendiri dengan yakin dan rendah hati dapat mengharapkan berkat dari Dia. Jika Dia Allah kita, maka Dia akan memberkati kita dengan berkat-berkat istimewa.
            (4) Berkat Allah, sebagai Allah kita di dalam kovenan, merupakan suatu hal yang mempermanis segala kenyamanan hidup kita, dan membuatnya benar-benar nyaman. Kita menerima hasil bumi sebagai kemurahan yang sesungguhnya apabila bersamaan dengan itu Allah, yaitu Allah kita, memberikan berkat-Nya kepada kita.

        3. Dengan cara ini seluruh dunia akan tergerak untuk berbuat seperti mereka: Kiranya segala ujung bumi takut akan Dia, maksudnya, menyembah Dia, yang harus dilakukan dengan rasa takut yang saleh. Berkat-berkat yang dikaruniakan Allah kepada kita mewajibkan kita bukan saja untuk mengasihi-Nya, melainkan juga untuk takut akan Dia, untuk terus memiliki segala pikiran yang luhur akan Dia, dan takut untuk membangkitkan amarah-Nya. Ketika Injil mulai menyebar, ia akan mendapatkan tanah berpijak yang semakin kokoh, sampai ia menjangkau ujung-ujung bumi. Ragi yang tersembunyi dalam makanan akan menyebar dengan sendirinya, sampai khamir seluruhnya. Dan banyaknya berkat yang telah diterima oleh orang-orang yang dibawa masuk ke dalam jemaat, seperti yang mereka akui sendiri, akan mengundang orang lain untuk bergabung bersama mereka. Sungguh baik jika kita mempertaruhkan nasib kita bersama orang-orang yang diberkati Tuhan.











NEXT:
Renungan HKBP RABU, 23 AGUSTUS 2023 - BERSORAK-SORAILAH BAGI ALLAH - BACAAN PAGI (MARKUS 9:14-29) - BACAAN MALAM (2 TESALONIKA 3:1-5)


PREV:
Renungan HKBP Minggu, 13 Agustus 2023 - MENJADI BERKAT DI DALAM TUHAN - Ev. Kejadian 39:1-5 (Penjelasan) - Ep. Matius 8:5-13 (Penjelasan) - X DUNG TRINITATIS

All Renungan HKBP 2023
(136)




NEXT:
Renungan HKBP RABU, 23 AGUSTUS 2023 - BERSORAK-SORAILAH BAGI ALLAH - BACAAN PAGI (MARKUS 9:14-29) - BACAAN MALAM (2 TESALONIKA 3:1-5)


PREV:
Renungan HKBP Minggu, 13 Agustus 2023 - MENJADI BERKAT DI DALAM TUHAN - Ev. Kejadian 39:1-5 (Penjelasan) - Ep. Matius 8:5-13 (Penjelasan) - X DUNG TRINITATIS

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de