BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 6589 kali

Download MP3 Music
Fifth Sunday in Lent
Minggu, 13 Maret 2016
Isaiah 43:16-21
Psalm 126
Philippians 3:4b-14
Yohanes 12:1-8
Kebangkitan Yesus
20:1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. 20:2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." 20:3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. 20:4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. 20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. 20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, 20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. 20:8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. 20:9 Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. 20:10 Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah.
Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena
20:11 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, 20:12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. 20:13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." 20:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 20:15 Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." 20:16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. 20:17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." 20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.


Penjelasan:
* Yoh 20:1-10 - Kebangkitan

    Penulis Injil ini, meskipun ia tidak memulai Injilnya seperti penulis-penulis Injil yang lain, namun ia menutupnya sama seperti mereka, dengan kisah kebangkitan Kristus. Yang diceritakan di sini bukan mengenai kebangkitan itu sendiri, karena tidak seorang pun dari mereka menggambarkan bagaimana Dia bangkit, melainkan mengenai bukti-bukti akan kebangkitan itu, yang menunjukkan bahwa Dia memang telah bangkit. Bukti-bukti kebangkitan Kristus, yang kita dapati dalam pasal ini, adalah:

    I. Bukti-bukti yang langsung ditemukan di kubur.
        . Kubur itu didapati kosong, dan kain kapannya sudah tergulung rapi (ay. 1-10).
        . Dua orang malaikat menampakkan diri kepada Maria Magdalena di kubur (ay. 11-13).
        . Kristus sendiri menampakkan diri kepadanya (ay. 14-18).
    II. Bukti-bukti yang didapati setelah itu dalam pertemuan-pertemuan para rasul.
        . Pada satu waktu, pada malam di hari yang sama ketika Kristus bangkit, sewaktu Tomas tidak ada (ay. 19-25).
        . Pada waktu lain, pada malam ketujuh, ketika Tomas ada bersama-sama dengan mereka (ay. 26-31). Yang disampaikan di sini oleh penulis Injil ini sebagian besar merupakan apa yang dilewatkan oleh semua penulis Injil yang lain.

Kebangkitan (20:1-10)

    Tidak ada hal lain yang bukti pentingnya lebih ingin ditunjukkan oleh para rasul selain perihal kebangkitan Guru mereka,

        . Karena kebangkitan adalah apa yang diserukan-Nya sendiri sebagai bukti yang terakhir dan yang paling meyakinkan akan jati diri-Nya sebagai Mesias. Orang-orang yang tidak mau percaya pada tanda-tanda lain diminta untuk memperhatikan tanda nabi Yunus ini. Dan karena itu, musuh-musuh paling gencar berusaha untuk menekan agar tanda ini jangan sampai diketahui orang, karena semuanya bergantung pada hal ini, dan, jika memang Dia bangkit, maka mereka bukan hanya para pembunuh, melainkan juga para pembunuh Mesias.
        . Karena pada kebangkitan inilah bergantung seluruh tugas yang harus dilaksanakan-Nya bagi penebusan dan keselamatan kita. Jika Dia memberikan hidup-Nya sebagai tebusan, dan tidak mengambilnya kembali, maka hidup yang diberikan-Nya itu tidak tampak diterima sebagai korban pemuasan dosa. Jika Dia ditahan karena utang kita, dan tetap tergeletak karenanya, maka kita akan binasa (1Kor. 15:17).
        . Karena Dia tidak pernah menunjukkan diri-Nya hidup setelah kebangkitan-Nya kepada seluruh bangsa (Kis. 10:40-41). Kita pasti akan berkata, "Biarlah kematian-Nya yang memalukan itu dirahasiakan, dan kebangkitan-Nya yang mulia itu ditunjukkan kepada semua orang." Namun, rancangan Allah tidaklah sama dengan rancangan kita, dan Dia sudah mengaturnya sedemikian rupa bahwa kematian Kristus harus diperlihatkan di bawah matahari, dan begitu pula bahwa matahari itu menjadi merah padam dan menyembunyikan wajahnya pada saat kematian-Nya. Tetapi bukti-bukti kebangkitan-Nya harus ditunjukkan sebagai kebaikan hanya kepada teman-teman khusus-Nya, dan oleh mereka harus diberitakan kepada dunia, supaya berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya. Cara pembuktian itu ditunjukkan sedemikian rupa sehingga memberikan kepuasan yang penuh bagi orang-orang saleh yang cenderung mau menerima ajaran dan hukum Kristus, dan pada saat yang sama juga meninggalkan ruang bagi orang-orang yang bersikap masa bodoh dan tetap bersikeras dalam ketidakpercayaan mereka untuk merasa keberatan dengan bukti itu. Dan ini merupakan pengujian yang adil, yang disesuaikan dengan keadaan orang-orang yang sedang diuji.

        Dalam ayat-ayat di atas kita menapaki langkah pertama menuju bukti kebangkitan Kristus, yaitu bahwa kubur itu ditemukan kosong. Ia tidak ada di sini, dan, jika demikian, mereka harus memberi tahu kita di mana Dia atau kita harus menyimpulkan bahwa Dia sudah bangkit.

    I. Maria Magdalena, ketika tiba di kubur, mendapati bahwa batu telah diambil dari kubur. Penulis Injil ini tidak menyebutkan perempuan-perempuan lain yang pergi bersama Maria Magdalena, tetapi hanya menyebutkan dia di sini, karena dialah yang paling giat dan bersemangat untuk mengunjungi kubur ini, dan di dalam dirinya tampak rasa kasih yang paling besar. Dan rasa kasihnya ini dikobarkan oleh alasan yang baik, dengan mengingat perkara-perkara besar yang telah diperbuat Kristus baginya. Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia banyak berbuat kasih. Ia sudah menunjukkan kasih sayangnya kepada-Nya ketika Dia masih hidup, mendengarkan ajaran-Nya, dan melayani Dia dengan kekayaannya (Luk. 8:2-3). Tidak tampak di sini bahwa dia mempunyai suatu urusan pada saat itu di Yerusalem, kecuali untuk melayani-Nya, sebab kaum perempuan tidak diwajibkan untuk pergi ke perayaan itu, dan mungkin dia beserta teman-temannya mengikuti-Nya dari jarak yang lebih dekat, seperti Elisa mengikuti Elia, karena sekarang mereka tahu bahwa Guru mereka akan segera diambil dari pada mereka (2Raj. 2:1-6). Banyaknya contoh penghormatan yang terus diberikan Maria Magdalena kepada-Nya pada saat dan setelah kematian-Nya membuktikan ketulusan kasihnya. Perhatikanlah, jika kasih kepada Kristus itu tulus, maka kasih itu akan tetap. Kasihnya kepada Kristus kuat seperti maut, maut di kayu salib, sebab kasih itu berdiri mendampingi salib. Kasihnya gigih seperti dunia orang mati, sebab kasih itu membuatnya mengunjungi kubur, dan tidak terhalang oleh kengerian-kengeriannya.
        . Ia pergi ke kubur itu untuk membasuh mayat-Nya dengan air matanya, sebab ia pergi ke kubur untuk menangis di sana, dan untuk mengurapi-Nya dengan minyak yang sudah dipersiapkannya. Kubur adalah rumah yang tidak mau dikunjungi orang. Mereka yang bebas di antara orang mati, dipisahkan dari orang hidup, dan pasti karena kasih sayang yang begitu luar biasa kepada seseorang jika kita sampai terdorong untuk merawat kuburnya baik-baik. Kubur adalah sesuatu yang menakutkan, terutama bagi kaum perempuan yang lemah dan mudah takut. Dapatkah dia, yang tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menggulingkan batu itu, menganggap dirinya mampu memasuki kubur itu? Agama Yahudi melarang orang untuk berurusan dengan kubur dan mayat melebihi apa yang seperlunya. Dengan mengunjungi kubur Kristus, Maria membuat dirinya, dan mungkin juga para murid, bisa dicurigai mempunyai rencana untuk mencuri-Nya. Terus, pelayanan seperti apakah yang sesungguhnya dapat diberikannya kepada Kristus dengan berbuat demikian? Namun, kasihnya menjawab keberatan-keberatan ini, dan beribu-ribu keberatan lain yang serupa.

        Perhatikanlah:

            (1) Kita harus berusaha memberikan penghormatan kepada Kristus dalam hal-hal di mana kita masih belum bisa memberikan manfaat bagi-Nya.
            (2) Kasih kepada Kristus akan menyingkirkan kengerian maut dan kubur. Jika kita tidak dapat datang kepada Kristus kecuali melalui lembah kekelaman itu, maka bahkan di dalam lembah itu sekalipun, jika kita mengasihi-Nya, kita tidak akan takut bahaya.
        . Ia pergi sesegera mungkin, karena ia datang,
            (1) Pada hari pertama minggu itu, segera setelah hari Sabat lewat, karena dia begitu rindu, bukan untuk menjual gandum dan menawarkan terigu (seperti dalam Am. 8:5), melainkan untuk berada di kubur. Orang-orang yang mengasihi Kristus akan memanfaatkan kesempatan pertama untuk membuktikan rasa hormat mereka kepada-Nya. Ini merupakan Sabat Kristen yang pertama, dan dia memulainya dengan mencari Kristus seperti yang sudah seharusnya demikian. Dia sudah menghabiskan hari sebelumnya dengan mengenang karya penciptaan, dan karena itu dia beristirahat. Tetapi sekarang dia sedang menyelidiki karya penebusan, dan karena itu dia mengunjungi Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
            (2) Ia datang pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap. Begitu paginya dia berangkat. Perhatikanlah, orang-orang yang ingin mencari Kristus agar bisa mendapatkan-Nya harus mencari-Nya sedari dini, yakni:
                [1] Mencari-Nya dengan segala kerinduan hati, begitu inginnya sampai membuat mereka terjaga dari tidur, bangun pagi-pagi benar karena takut kehilangan Dia.
                [2] Mencari-Nya dengan rajin. Kita harus menyangkal diri dan tidak mau berhenti dalam mengejar Kristus.
                [3] Mencari-Nya sejak dini, saat hari masih pagi sekali, pagi-pagi benar setiap hari. Pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku. Hari yang dimulai seperti itu dengan sendirinya pasti akan diakhiri dengan baik pula. Orang-orang yang dengan rajin mencari-cari Kristus ketika hari masih gelap akan diberi terang tentang Dia, yang akan bersinar semakin cemerlang.
        . Ia mendapati batu itu telah diambil, yang sebelumnya dilihatnya digulingkan ke pintu kubur itu. Nah, ini merupakan,
            (1) Suatu kejutan baginya, karena dia tidak begitu menduga itu akan terjadi. Kristus yang disalibkan adalah sumber kehidupan. Kubur-Nya merupakan salah satu sumur keselamatan. Jika kita datang kepada sumur itu dengan iman, maka meskipun bagi hati yang duniawi sumur itu akan menjadi mata air yang tertutup, kita akan menemukan batunya telah terguling (seperti dalam Kej. 29:10), dan dapat dengan bebas menikmati penghiburan-penghiburan yang ditawarkannya. Penghiburan-penghiburan yang mengejutkan merupakan dorongan-dorongan yang sering diberikan kepada mereka yang mencari-Nya sejak dini.
            (2) Suatu permulaan dari penemuan yang mulia. Tuhan telah bangkit, meskipun pada mulanya dia tidak memahaminya seperti itu.

            Perhatikanlah:

                [1] Orang-orang yang paling setia mengikuti Kristus, dan yang paling rajin dalam mencari-Nya, biasanya yang pertama diberi tahu tentang hal-hal yang paling indah mengenai anugerah ilahi. Maria Magdalena, yang mengikuti Kristus sampai saat terakhir Dia dipermalukan, menjumpai-Nya pertama kali ketika Dia ditinggikan.
                [2] Allah biasanya mengungkapkan diri-Nya dan penghiburan-penghiburan-Nya kepada kita secara bertahap, untuk membangkitkan pengharapan-pengharapan kita dan untuk mendorong kita agar terus mencari lagi.
    II. Setelah mendapati batu itu sudah diambil, dia bergegas kembali kepada Petrus dan Yohanes, yang mungkin tinggal bersama di ujung kota itu, yang tidak jauh dari situ, dan memberitahukan mereka mengenai hal ini: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya," sambil merasa kesal karena menurutnya Dia layak mendapatkan kehormatan untuk dimakamkan di kubur yang pantas, "dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan, atau di mana kami harus menemukan-Nya, agar kami dapat memberi-Nya penghormatan kami yang terakhir."

    Perhatikanlah di sini:

        . Gagasan apa yang ada dalam pikiran Maria mengenai kejadian-kejadian yang tampak sekarang. Dia mendapati batu itu sudah tidak ada, melongok ke dalam kubur, dan melihatnya kosong. Nah, orang akan menyangka bahwa pemikiran pertama yang muncul dengan sendirinya adalah, pasti Tuhan sudah bangkit. Karena kapan saja ketika Dia memberi tahu mereka bahwa Dia harus disalibkan, yang baru saja dilihatnya sudah digenapi, Dia selalu menambahkan dengan segera bahwa pada hari ketiga Dia akan bangkit kembali. Bagaimana bisa Maria yang merasakan gempa bumi dahsyat yang terjadi ketika dia mendatangi kubur itu, atau ketika bersiap-siap hendak mendatanginya, dan kemudian melihat kuburnya kosong, sama sekali tidak timbul pemikiran di dalam kepalanya tentang kebangkitan? Wah, bagaimana mungkin tidak ada pikiran, tidak ada kecurigaan mengenai kebangkitan-Nya? Jadi, tampaknya batu yang sudah dipindahkan itu, yang diambil dan diletakkan di tempat yang sangat jauh, diartikannya dengan macam-macam. Perhatikanlah, ketika kita merenungkan perbuatan kita sendiri yang kita lakukan pada hari berkabut dan hari kegelapan, kita akan terheran-heran dengan kebodohan dan kelalaian kita, bahwa kita sampai bisa melewatkan pemikiran-pemikiran yang kemudian tampak jelas, dan bagaimana pemikiran-pemikiran itu berada begitu jauh dari kita ketika kita mempunyai kesempatan untuk memikirkannya. Ia mengartikannya demikian, "Tuhan telah diambil orang." Entah imam-imam kepala yang telah mengambil-Nya, untuk meletakkan-Nya di tempat yang lebih buruk, atau Yusuf dan Nikodemus yang telah melakukannya, setelah mereka berpikir-pikir kembali, untuk menghindari niat jahat orang-orang Yahudi. Apa pun yang disangkakannya, tampaknya dia sangat kesal dan terganggu karena mayat-Nya sudah tidak ada. Padahal, jika saja dia memahaminya dengan benar, tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan daripada ini. Perhatikanlah, orang-orang percaya yang lemah sering kali menjadikan sesuatu sebagai alasan bagi mereka untuk mengeluh, padahal sebenarnya justru hal itu merupakan alasan yang tepat bagi mereka untuk berharap dan bersukacita. Kita berkeluh kesah karena barang ini atau barang itu yang memberikan kenyamanan kepada kita kini diambil, dan kita tidak tahu bagaimana mendapatkannya kembali. Padahal sebenarnya diambilnya barang-barang yang dapat memberi kita kenyamanan hidup yang fana itu, yang kita tangisi, adalah untuk membangkitkan kenyamanan rohani kita, yang di dalamnya kita juga harus bersukacita.
        . Apa yang diceritakannya mengenai hal itu kepada Petrus dan Yohanes. Ia tidak terus menyimpan duka itu di dalam hatinya sendiri, tetapi membagikannya kepada teman-temannya. Perhatikanlah, berbagi dukacita merupakan suatu cara yang baik bagaimana kita memanfaatkan persekutuan kita dengan orang-orang kudus lainnya. Amatilah, Petrus, meskipun dia sudah menyangkal Gurunya, tidak meninggalkan teman-teman Gurunya. Dengan ini tampaklah ketulusan pertobatannya, bahwa dia bersekutu dengan murid yang dikasihi Yesus. Dan murid-murid yang tetap menjaga kedekatan mereka dengannya seperti sebelumnya, kendati dengan kejatuhannya, mengajar kita untuk memulihkan orang-orang yang sudah bersalah dengan roh yang lemah lembut. Jika Allah sudah menerima mereka pada saat mereka bertobat, mengapa kita tidak?
    III. Petrus dan Yohanes bergegas pergi secepat mungkin ke kubur, untuk membuktikan sendiri kebenaran dari apa yang diberitahukan kepada mereka, dan untuk melihat apakah mereka bisa mendapatkan penemuan-penemuan baru (ay. 3-4). Sebagian orang berpikir bahwa murid-murid yang lain berada bersama-sama dengan Petrus dan Yohanes ketika berita itu disampaikan, karena mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid (Luk. 24:9). Sebagian yang lain berpendapat bahwa Maria Magdalena menceritakan kisahnya hanya kepada Petrus dan Yohanes, dan bahwa perempuan-perempuan yang lain menceritakan kisah mereka kepada murid-murid yang lain. Walaupun begitu, tidak seorang pun dari mereka yang pergi ke kubur kecuali Petrus dan Yohanes, yang merupakan dua dari tiga murid Kristus yang pertama, yang sering kali dibedakan dari murid-murid yang lain dengan kebaikan-kebaikan khusus. Perhatikanlah, adalah hal yang baik apabila orang yang diberi kehormatan-kehormatan sebagai murid melebihi orang lain, bertindak lebih giat daripada orang lain dalam melakukan kewajiban-kewajiban sebagai murid, dan lebih bersedia menanggung segala penderitaan serta menghadapi mara bahaya dalam melakukan pekerjaan baik.
        . Lihatlah di sini bagaimana kita harus memanfaatkan pengalaman dan pengamatan-pengamatan orang lain. Ketika Maria memberi tahu mereka apa yang telah dilihatnya, mereka tidak mau percaya pada perkataannya begitu saja, tetapi langsung pergi dan melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. Adakah orang lain memberi tahu kita tentang penghiburan dan keuntungan yang mereka dapatkan dalam mengikuti ketetapan-ketetapan ibadah? Kalau begitu, marilah kita mengikutinya sendiri supaya kita dapat membuktikan kebenarannya. Mari datang dan lihatlah betapa baiknya mendekat kepada Allah.
        . Lihatlah betapa kita harus mau berbagi dengan teman-teman kita dalam segala kekhawatiran dan ketakutan mereka. Petrus dan Yohanes bergegas pergi ke kubur, supaya mereka dapat memberikan jawaban yang memuaskan kepada Maria atas kecemasannya. Kita tidak boleh bersungut-sungut apabila kita harus bersusah payah untuk membantu dan menghibur para pengikut Kristus yang lemah dan mudah takut.
        . Lihatlah betapa kita harus bergegas dalam berbuat baik, dan bersegera melakukan tugas yang mulia. Petrus dan Yohanes tidak mengindahkan kenyamanan ataupun kegentingan keadaan mereka, tetapi langsung berlari ke kubur, supaya mereka dapat menunjukkan kuatnya semangat dan rasa kasih mereka, dan supaya tidak ada sedikit pun waktu yang terbuang sia-sia. Jika kita sedang menjalankan perintah-perintah Allah, kita harus berlari di jalan itu.
        . Lihatlah betapa baiknya jika kita mempunyai teman-teman yang baik dalam melakukan perbuatan yang baik. Mungkin tidak satu pun dari kedua murid itu yang berani pergi ke kubur sendirian, namun, karena mereka pergi berdua, mereka tidak merasakan kesulitan apa-apa dalam melakukannya (Pkh. 4:9).
        . Lihatlah betapa patut dipujinya persaingan yang terjadi di antara murid-murid Kristus, dalam berjuang untuk mengungguli dan melebihi yang lain dalam perbuatan baik. Bukan merupakan suatu pelanggaran atau ketidaksopanan bagi Yohanes, meskipun ia lebih muda, untuk berlari mendahului Petrus, dan sampai di tujuan sebelum dia. Kita harus melakukan yang terbaik, dan tidak boleh iri terhadap orang lain yang dapat melakukannya dengan lebih baik, ataupun merendahkan orang lain yang sudah berbuat semampu mereka namun tertinggal di belakang kita.
            (1) Dia yang sampai terlebih dulu dalam pertandingan ini adalah murid yang dikasihi Yesus secara khusus, dan yang karena itu mengasihi Yesus secara khusus pula. Perhatikanlah, jika kita merasakan kasih Kristus kepada kita, maka itu akan mengobarkan kasih di dalam diri kita kepada-Nya lagi, dan akan membuat kita unggul dalam hal kebaikan. Kasih Kristus akan menahan kita lebih daripada apa pun untuk melaksanakan kewajiban secara penuh.
            (2) Yang sampai belakangan adalah Petrus, yang telah menyangkal Gurunya, dan yang sedang merasa malu serta berdukacita karenanya, dan ini menghambatnya seperti beban yang berat. Perasaan bersalah mengekang kita, dan menghalangi kemajuan kita dalam melayani Allah. Apabila hati nurani terganggu, kita kehilangan tempat berpijak.
    IV. Petrus dan Yohanes, setelah sampai di kubur, terus mencari tahu, namun hanya sedikit yang ditemukannya.
        . Yohanes tidak masuk lebih dalam daripada Maria Magdalena.
            (1) Ia memiliki rasa penasaran untuk melihat kubur itu lebih dalam lagi, dan ia mendapatinya kosong. Ia menjenguk ke dalam. Orang yang ingin mendapatkan pengetahuan akan Kristus harus merunduk dan menjenguk ke dalam, harus dengan rendah hati berserah kepada wewenang pewahyuan ilahi, dan harus melihat dengan rasa ingin tahu.
            (2) Namun, ia tidak mempunyai keberanian untuk pergi ke dalam kubur. Perasaan yang paling berkobar-kobar pun tidak selalu disertai dengan tekad yang bulat. Banyak orang tangkas dalam mengikuti pertandingan agama, namun mereka tidak gigih berjuang dalam pertempuran-pertempurannya.
        . Petrus, meskipun dia tiba terakhir, masuk ke dalam terlebih dulu, dan menemukan apa yang terjadi lebih saksama daripada yang sudah didapatkan Yohanes (ay. 6-7). Meskipun Yohanes berlari mendahuluinya, ia tidak berbalik kembali karena itu, atau langsung berhenti dan berdiam diri, tetapi berusaha menyusulnya secepat mungkin. Dan, sementara Yohanes sedang melihat-lihat ke dalam dengan sangat hati-hati, Petrus datang, dan dengan penuh keberanian masuk ke dalam kubur itu.
            (1) Amatilah di sini keberanian Petrus, dan bagaimana Allah membagikan karunia-karunia-Nya dengan berbagai cara. Yohanes dapat berlari mendahului Petrus, tetapi Petrus dapat bertindak lebih berani daripada Yohanes. Jarang kita bisa mengatakan tentang orang-orang yang sama, seperti apa yang dikatakan Daud secara puitis tentang Saul dan Yonatan, bahwa mereka lebih cepat dari burung rajawali, namun lebih kuat dari singa (2Sam. 1:23). Sebagian murid bertindak cepat, dan mereka berguna untuk mendorong murid-murid lain yang lamban. Sebagian yang lain berani, dan mereka berguna untuk memberanikan murid-murid lain yang takut-takut. Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Keberanian Petrus untuk masuk ke dalam kubur dapat mengajar kita,
                [1] Bahwa orang-orang yang dengan tulus dan sungguh-sungguh mencari Kristus tidak boleh menakut-nakuti diri mereka sendiri dengan berbagai macam kekhawatiran dan khayalan yang bodoh: "Ada singa di jalan, ada hantu di kuburan."
                [2] Bahwa orang-orang Kristen yang baik tidak perlu takut terhadap kuburan, karena Kristus telah terbaring di dalamnya. Sebab bagi mereka, tidak ada satu hal pun di dalamnya yang menakutkan. Kuburan bukanlah lubang kebinasaan, dan cacing-cacing di dalamnya bukanlah cacing-cacing yang tidak akan pernah mati. Oleh karena itu, marilah kita tidak memanjakan, melainkan justru menaklukkan, ketakutan yang cenderung menghantui kita ketika melihat mayat, atau ketika berada sendirian di kuburan. Dan, karena kita pun tidak lama lagi pasti akan mati dan berada di dalam kubur, maka marilah kita mengakrabkan diri dengan kematian dan kuburan, sebagai saudara-saudara kita yang dekat (Ayb. 17:14).
                [3] Kita harus rela pergi melewati kuburan menuju pada Kristus. Melalui jalan itulah Dia pergi kepada kemuliaan-Nya, dan demikian pula kita seharusnya. Jika kita tidak bisa melihat wajah Allah dan tetap hidup, maka baiklah kita mati daripada tidak pernah melihat wajah-Nya itu sama sekali (Ayb. 19:25, dst.)
            (2) Perhatikanlah letak benda-benda yang ditemukannya di dalam kubur.
                [1] Kristus telah meninggalkan kain kapan-Nya di sana. Dengan pakaian apa Dia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya kita tidak diberi tahu, tetapi Dia tidak pernah tampak dalam kain kapan, seperti yang biasa dibayangkan orang-orang tentang hantu. Tidak, Dia menyingkirkannya,
                    Pertama, karena Dia bangkit untuk tidak mati lagi, maut tidak berkuasa lagi atas Dia (Rm. 6:9). Lazarus keluar dari kuburnya dengan tetap berpakaian kain kapan, karena dia harus memakainya lagi nanti. Tetapi Kristus, bangkit kepada kehidupan kekal, keluar dari kubur dengan bebas tanpa harus memakainya lagi.
                    Kedua, karena akan dipakaikan jubah kemuliaan, Dia menyingkirkan pakaian rongsokan ini. Di dalam Firdaus, pakaian tidak akan diperlukan lagi seperti halnya di bumi. Nabi yang akan naik ke sorga menanggalkan jubahnya.
                    Ketiga, ketika kita dibangkitkan dari kematian dosa kepada hidup kebenaran, kita harus meninggalkan kain kapan kita, harus menanggalkan segala kerusakan kita.
                    Keempat, Kristus meninggalkan kain kapan itu di kubur, seolah-olah, untuk kita gunakan jika kubur akan menjadi tempat tidur bagi orang-orang kudus. Dengan demikian, Dia telah memasang seprai di tempat tidur itu, dan mempersiapkannya bagi kita. Dan kain peluh itu dengan sendirinya bermanfaat bagi orang-orang yang berduka yang ditinggalkan, untuk menghapus air mata mereka.
                [2] Kain kapan itu ditemukan dalam keadaan yang sangat rapi, yang merupakan bukti bahwa mayat-Nya tidak dicuri orang ketika para penjaga sedang tidur. Para pencuri kuburan dikenal dengan perbuatan mereka yang mengambil kain kapan dan membiarkan mayatnya. Tetapi tidak ada [sebelum adanya praktik-praktik paham kebangkitan kembali masa kini] yang pernah mengambil mayat dan membiarkan kain kapannya, terutama apabila kain itu adalah kain lenan yang bagus dan baru (Mrk. 15:46). Siapa saja pasti lebih ingin membawa mayat yang berpakaian daripada yang telanjang. Atau, seandainya pun para pencuri itu meninggalkan kain kapan itu, tidaklah mungkin mereka akan bersusah-susah menyediakan waktu untuk melipat kain itu.
            (3) Lihatlah bagaimana keberanian Petrus mendorong Yohanes. Kini dia memberanikan diri dan ikut masuk ke dalam kubur itu (ay. 8), lalu ia melihatnya dan percaya. Bukan sekadar percaya pada apa yang dikatakan Maria, bahwa mayat itu sudah tidak ada (sebab jika ia hanya percaya pada apa yang dilihatnya, apa nilai tambahnya bagi dia?), tetapi juga ia mulai percaya bahwa Yesus bangkit dan hidup kembali, meskipun imannya pada waktu itu, masih lemah dan goyah.
                [1] Yohanes mengikuti Petrus dalam memberanikan diri.

                Tampaknya, dia tidak akan berani masuk ke dalam kubur itu seandainya Petrus tidak masuk terlebih dahulu. Perhatikanlah, adalah baik jika kita dibuat berani melakukan perbuatan baik oleh keberanian orang lain. Ketakutan terhadap kesulitan dan bahaya akan tersingkirkan bila melihat tekad serta keberanian orang lain. Mungkin kecepatan Yohanes telah membuat Petrus berlari dengan lebih kencang, dan sekarang keberanian Petrus membuat Yohanes berani melangkah lebih jauh. Tindakan keduanya saling mendorong apa yang akan diperbuat oleh yang satu atau yang lainnya. Meskipun Petrus baru saja jatuh ke dalam aib sebagai pembelot, dan Yohanes telah diberi kehormatan dengan diangkat menjadi orang kepercayaan-Nya (Kristus telah menyerahkan ibu-Nya kepadanya), namun Yohanes tidak hanya tetap berteman dengan Petrus, tetapi juga tidak merasa hina untuk mengikutinya.

                [2] Namun, tampaknya, Yohanes lebih dahulu percaya daripada Petrus. Petrus melihat dan bertanya-tanya dalam hatinya (Luk. 24:12), namun Yohanes melihat dan percaya. Pikiran yang cenderung merenungkan segala sesuatu mungkin lebih cepat menerima bukti kebenaran ilahi daripada pikiran yang cenderung untuk bertindak. Namun, apakah yang menjadi alasannya sehingga hati mereka begitu lamban untuk percaya? Penulis Injil ini mengatakannya kepada kita (ay. 9), sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci, maksudnya, mereka tidak mempertimbangkan, menerapkan, dan mengembangkan dengan benar, apa yang mereka ketahui tentang Kitab Suci, bahwa Dia harus bangkit dari antara orang mati. Perjanjian Lama berbicara tentang kebangkitan Mesias. Mereka memercayai-Nya sebagai Mesias, dan Dia sendiri sudah sering kali memberi tahu mereka bahwa, menurut kitab-kitab Perjanjian Lama, Dia harus bangkit kembali. Namun, pikiran mereka tidak cukup tanggap untuk menjelaskan kejadian-kejadian yang tampak di hadapan mereka ini. Amatilah di sini,
                    Pertama, betapa lambannya murid-murid itu sendiri, pada awalnya, untuk percaya pada kebangkitan Kristus, dan ini meneguhkan kesaksian yang akan mereka berikan setelah itu dengan begitu yakin. Sebab, dengan kelambanan mereka untuk percaya, tampak bahwa mereka tidak mudah percaya begitu saja dengan hal itu, dan juga mereka bukanlah orang-orang polos yang langsung percaya pada setiap kata yang diucapkan. Seandainya mereka berencana memajukan kepentingan mereka sendiri dengan peristiwa itu, maka mereka pasti dengan semangat yang menggebu-gebu akan lekas percaya pada tanda pertama yang membuktikannya. Mereka akan membangkitkan dan mendukung pengharapan satu sama lain, dan akan mempersiapkan pikiran orang-orang yang mengikuti mereka untuk menerima kabar mengenai kebangkitan itu. Namun, sebaliknya, kita mendapati bahwa segala pengharapan mereka kandas, bagi mereka kejadian itu merupakan hal yang aneh, dan sama sekali jauh dari pikiran mereka. Petrus dan Yohanes pada awalnya begitu berhati-hati untuk memercayainya, sehingga tidak ada hal lain kecuali bukti yang paling meyakinkan yang bisa membuat mereka percaya, dan di kemudian hari, bukti-bukti seperti inilah yang membuat mereka memberikan kesaksian penuh tentang kebangkitan itu. Dengan ini tampak bahwa mereka bukan hanya orang-orang yang jujur, yang tidak akan menipu orang lain, melainkan juga orang-orang yang sangat berhati-hati, yang tidak akan membiarkan diri mereka sendiri diperdayai.
                    Kedua, apa alasan kelambanan mereka untuk percaya itu. Sebab, selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci. Ini tampaknya merupakan pengakuan penulis Injil ini akan kesalahannya sendiri, di antara murid-murid yang lain. Ia tidak berkata, "Sebab selama itu Yesus belum menampakkan diri kepada mereka, belum menunjukkan kepada mereka tangan dan lambung-Nya," melainkan, "Sebab selama itu Dia belum membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci" (Luk. 24:44-45), karena Kitab Suci adalah firman yang paling teguh yang telah disampaikan oleh para nabi.
        . Petrus dan Yohanes tidak meneruskan penyelidikan mereka lebih lanjut, tetapi menghentikannya, sambil merasa terombang-ambing antara iman dan ketidakpercayaan (ay. 10): Lalu pulanglah kedua murid itu, tanpa menjadi lebih bijak, ke rumah, pros heautous -- kepada teman-teman mereka sendiri, dan murid-murid yang lain pulang ke tempat penginapan mereka masing-masing, karena mereka tidak mempunyai rumah di Yerusalem. Mereka pergi,
            (1) Karena takut dicurigai mempunyai rencana untuk mencuri mayat-Nya, atau dituduh melakukannya karena sekarang mayat itu sudah tidak ada. Bukannya berusaha mengembangkan iman, mereka justru hanya peduli melindungi diri sendiri, dan berpindah tempat demi keamanan mereka sendiri. Dalam masa-masa yang sulit dan berbahaya, sungguh susah bahkan bagi orang-orang yang baik sekalipun untuk tetap melanjutkan pekerjaan mereka dengan tekad yang sudah seharusnya mereka miliki.
            (2) Karena mereka kebingungan, dan tidak tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya, atau apa yang harus dilakukan dengan semua yang telah mereka lihat itu. Dan oleh sebab itu, karena mereka tidak berani tinggal di kubur, mereka memutuskan untuk pulang, dan menunggu sampai Allah menyatakan hal itu juga kepada mereka. Ini menggambarkan kelemahan mereka pada saat itu.
            (3) Mungkin saja bahwa murid-murid yang lain sedang berkumpul bersama-sama. Kepada merekalah Petrus dan Yohanes kembali, untuk melaporkan apa yang telah mereka temukan dan untuk membahas dengan mereka apa yang harus dilakukan. Dan, mungkin, sekarang mereka menetapkan akan bertemu pada malam harinya, ketika Kristus mendatangi mereka. Dapat diamati di sini bahwa sebelum Petrus dan Yohanes sampai di kubur itu, ada satu orang malaikat yang menampakkan diri di sana, menggulingkan batunya, membuat takut para penjaga, dan menghibur perempuan-perempuan yang datang. Segera setelah mereka pergi dari kubur, Maria Magdalena di sini melihat dua orang malaikat di kubur itu (ay. 12), namun ketika Petrus dan Yohanes sampai di kubur, dan masuk ke dalamnya, mereka tidak melihat satu orang malaikat pun. Apa yang harus kita katakan tentang ini? Di manakah malaikat-malaikat itu ketika Petrus dan Yohanes berada di kubur, yang sebelum dan sesudahnya menampakkan diri di sana?
                [1] Para malaikat dapat menampakkan diri dan menghilang sesuka hati mereka, sesuai dengan perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada mereka. Mereka mungkin, dan memang sesungguhnya, berada di tempat mereka berada secara tidak terlihat. Bahkan tampaknya pada saat yang sama, mereka mungkin dapat dilihat oleh yang satu dan tidak oleh yang lain (Bil. 22:23; 2Raj. 6:17). Kita sudah berbuat lancang jika kita bertanya-tanya bagaimana mereka bisa membuat diri mereka terlihat, lalu tidak terlihat, dan kemudian terlihat lagi. Tetapi kenyataan bahwa mereka melakukan hal itu sudah jelas dari kisah ini.
                [2] Kebaikan ini ditunjukkan kepada orang-orang yang mencari Kristus sejak dini dan secara terus-menerus, dan merupakan imbalan bagi mereka yang datang pertama kali dan yang tinggal paling akhir. Tetapi kebaikan ini tidak diberikan kepada mereka yang berkunjung hanya sepintas lalu.
                [3] Para rasul tidak akan menerima perintah-perintah untuk mereka dari para malaikat pada saat itu, melainkan dari Roh anugerah (Ibr. 2:5).

Label:   Yohanes 12:1-8 











NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 20 Maret 2016 - Kebangkitan Yesus - Yohanes 20:1-18


PREV:
Khotbah HKBP - Minggu, 6 Maret 2016 - Perumpamaan tentang domba yang hilang - Lukas 15:1-32


All Garis Besar:

Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96

Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/LISTGarisBesar.htm' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96
All Khotbah HKBP 2016
(12)
1 Timotius 6:6-19 (1)
2 Timotius 1:1-14 (1)
2 Timotius 2:8-15 (1)
Filipi 4:4-9 (1)
Ibrani 11:29--12:2 (1)
Kejadian 15:1-6 (1)
Kejadian 32:22-31 (1)
Lukas 10:1-11 (1)
Lukas 10:25-37 (1)
Lukas 11:1-13 (1)
Lukas 13:10-17 (1)
Lukas 14:1, 7-14 (1)
Lukas 14:25-33 (1)
Lukas 15:1-10 (1)
Lukas 16:1-13 (1)
Lukas 19:28-40 (1)
Lukas 2:22-40 (1)
Lukas 3:15-17 (1)
Lukas 3:15-22 (1)
Lukas 4:14-21 (2)
Lukas 4:21-30 (2)
Lukas 8:26-39 (1)
Lukas 9:28-36 (1)
Matius 27:57-66 (1)
Matius 6:1-21 (1)
Roma 15:4-13 (1)
Roma 1:1-7 (1)
Yesaya 1:10-18 (1)
Yesaya 35:1-10 (1)
Yohanes 12:1-11 (1)
Yohanes 12:1-8 (1)
Yohanes 12:20-36 (1)
Yohanes 13:21-32 (1)
Yohanes 20:1-18 (2)
Yohanes 2:1-11 (2)
Yohanes 3:13-17 (1)




NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 20 Maret 2016 - Kebangkitan Yesus - Yohanes 20:1-18


PREV:
Khotbah HKBP - Minggu, 6 Maret 2016 - Perumpamaan tentang domba yang hilang - Lukas 15:1-32

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de