BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 5936 kali

Tak habis-habisnya rahmat-Nya // Besar kesetiaan-Mu

Minggu, 2 Oktober 2022
MINGGU XVI DUNG TRINITATIS
Ev. Andung 3:19-26
Ep. 2 Timoteus 1:1-14
Tutup Langgatan : Na Ratarata
Topik : NDANG MARPANSOHOTAN ASI NI ROHANI TUHAN I (TAK BERKESUDAHAN KASIH SETIA TUHAN)
Jamita Sikkola Minggu:  2 Kronika 6:13-16
PHD Remaja : 1 Musa 39:20-23
PHD Naposobulung : Jeremeia 33:1-9
PHD Ina : 1 Korint 13:4
PHD Ama :  JOhannes 7:14-24
PHD Lansia : Jesaya 30:18-21

Ev. Andung 3:19-26 / Ratapan 3:19-26
3:19 Sai ingot ma dangolhon dohot pangaleleon na tu ahu ro di raru dohot rasun!
3:20 Sai paingotingot ma tutu, asa tung sabam rohangku di bagasan.
3:21 I ma antong parateatehononku, ala ni do umbahen marpangkirimon ahu.
3:22 Asiasi ni Jahowa sambing do umbahen so haru sun siap hami, ai ndang marpansohotan asi ni rohana i.
3:23 Mulak rata do i tahe ganup sogot, godang ma tutu habonaronmu!
3:24 Jahowa do parjambaranku, ninna tondingku, dibahen i marhaposan tu ibana ma ahu.
3:25 Pardengganbasa do Jahowa mida angka na marhaposan tu ibana, mida tondi ni na mangalului ibana.
3:26 Martua ma manang ise na hohom mangkalungunhon hatuaon ni Jahowa.

3:19 "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu." 3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: 3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 3:24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

Penjelasan:
* Rat 3:19-21 - Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap
Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap (ay. 21). Sementara merenungkan penderitaannya yang menyedihkan, sang nabi menyadari betapa itu semua telah merendahkan jiwanya. Dia tahu bahwa Allah mempedulikan orang-orang yang rendah dan tertindas, sehingga dia menyatakan harapannya. Ayat 22-39 menceritakan keyakinan sang penyair akan kebaikan TUHAN dan kepasrahannya pada jalan-jalan teragung TUHAN.

* Rat 3:22-24 - Tak habis-habisnya rahmat-Nya // Besar kesetiaan-Mu
Tak habis-habisnya rahmat-Nya. Kemurahan (belas kasih) TUHAN tidak ada habisnya. Setiap hari selalu baru (seperti manna pada zaman dahulu); karena itu maka bangsanya tidak binasa, dan sejumlah kaum yang tersisa menjadi benih bagi suatu permulaan yang baru. Besar kesetiaan-Mu (ay. 23). "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, "oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya" (ay. 24).

* Rat 3:25-27 - Berharap ... menanti dengan diam // Kuk pada masa mudanya
Berharap ... menanti dengan diam (ay. 26). Menanti TUHAN dengan sabar menjadikan orang pewaris kebaikan-Nya. Kuk pada masa mudanya (ay. 27). Teguran atau hajaran yang diberikan sejak awal membuat orang dapat diandalkan pada masa dewasa.

* Kesedihan itu kembali lagi setiap kali ia mengingat masalah-masalahnya, dan renungan-renungannya sama-sama menyedihkan seperti pandangan-pandangannya ke depan (ay. 19-20). Adakah ia berusaha seperti Ayub (Ayb. 9:27), untuk melupakan keluh kesahnya? Malang nian! Itu tidak ada gunanya. Ia mengingat, dalam segala kesempatan, sengsara dan pengembaraan, ipuh dan racun. Betapa terenyuh ia berbicara tentang penderitaannya, sebab demikianlah ia menganggapnya, demikianlah beratnya penderitaannya ketika ia merenungkannya! Penderitaannya adalah kesengsaraan itu sendiri. Sengsaraku dan pelanggaranku (demikian sebagian orang membacanya), permasalahanku dan dosaku, yang mendatangkan permasalahanku itu atas diriku. Inilah ipuh dan racun di dalam sengsara dan pengembaraan. Dosalah yang membuat cawan penderitaan menjadi cawan yang pahit. Jiwaku selalu teringat akan hal itu. Para tawanan di Babel terus-menerus mengingat segala kesengsaraan saat Yerusalem dikepung, dan api serta kehancuran Yerusalem masih ada di pelupuk mata mereka, dan mereka menangis apabila mereka mengingat Sion. Bahkan, mereka tidak pernah bisa melupakan Yerusalem (Mzm. 137:1, 5). Jiwaku, karena selalu teringat akan hal itu, tertekan dalam diriku, tidak hanya tertekan akibat masalah itu, tetapi juga tertekan dalam kepahitan karena dosa. Perhatikanlah, sudah sepatutnya hati kita merendah di bawah pemeliharaan-pemeliharaan ilahi yang merendahkan, dan kembali lagi merendah dan bertobat karena dosa, setiap kali kita mengingat segala penderitaan dan kesengsaraan kita. Demikianlah kita bisa memperoleh kebaikan dari hajaran-hajaran yang dulu, dan mencegah hajaran-hajaran yang lebih jauh.

* Kata-kata Penghiburan bagi Israel; Manfaat Penderitaan; Penghiburan bagi Orang yang Menderita  
Di sini awan-awan mulai berserak dan menghilang, dan langit pun mulai cerah. Keluhan dalam bagian awal pasal ini sangat muram, namun di sini nadanya berubah dan orang-orang berkabung di Sion mulai terlihat sedikit senang. Kalau bukan karena harapan, hati bisa saja hancur. Tetapi, supaya hati jangan sampai hancur lebur, di sini ada sesuatu yang dimunculkan lagi untuk diingat, supaya ada pijakan untuk tetap berharap (ay. 21), yang menunjuk pada apa yang akan datang, bukan apa yang sudah terjadi. Aku akan kembali pada hatiku (demikian yang dikatakan dalam tafsiran yang agak luas). Apa yang ada dalam hati kita, dan kita simpan dalam hati kita, adakalanya seolah-olah sudah terhilang dan terlupakan, sampai Allah dengan anugerah-Nya mengembalikannya kepada hati kita, supaya siap untuk kita pakai, apabila kita memerlukannya. “Hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap, dan aku dijaga supaya tidak berputus asa sepenuhnya.” Marilah kita lihat apa hal-hal yang diingatnya ini.

I. Bahwa, seburuk apa pun segala sesuatu, rahmat Allah bisa membuatnya tidak menjadi lebih buruk. Kami menderita sengsara disebabkan cambuk murka-Nya, tetapi tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya (ay. 22, KJV: tetapi karena rahmat Tuhanlah kami tidak dimakan habis). Ketika sedang berada dalam kesusahan, kita harus, untuk membesarkan iman dan harapan kita, mengamati apa yang dapat membantu kita maupun apa yang dapat mencelakakan kita. Segala sesuatunya memang buruk, tetapi bisa saja lebih buruk, dan karena itu ada harapan supaya semuanya menjadi lebih baik.

II. Bahwa bahkan di kedalaman penderitaan, mereka masih mengalami kelembutan belas kasihan ilahi dan kebenaran janji ilahi. Mereka sempat mengeluh beberapa kali bahwa Allah tidak mengasihani (2:17, 21), tetapi di sini mereka memperbaikinya, dan mengakui,
            1. Bahwa tak habis-habisnya rahmat Allah. Belas kasihan-Nya tidak betul-betul berhenti, sekalipun di dalam murka tampak ditutup-Nya rahmat-Nya. Sungai-sungai rahmat ini mengalir penuh dan terus-menerus, tetapi tidak pernah kering. Tidak, rahmat-Nya selalu baru tiap pagi. Setiap pagi kita mendapati ungkapan-ungkapan baru dari rahmat Allah terhadap kita. Ia mengunjungi kita dengan rahmat-Nya setiap pagi (Ayb. 7:18). Pagi demi pagi Ia memberi hukum-Nya (Zef. 3:5). Sekalipun penghiburan-penghiburan kita berhenti, rahmat Allah tidak.
            2. Bahwa besar kesetiaan-Nya. Meskipun perjanjian itu tampak dilanggar, mereka mengakui bahwa perjanjian itu masih tetap berlaku penuh. Dan, meskipun Yerusalem ada dalam reruntuhan, kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Perhatikanlah, hal-hal keras apa pun yang kita derita, kita tidak boleh berpikiran keras tentang Allah, tetapi harus tetap siap mengakui bahwa Dia baik dan juga setia.

III. Bahwa Allah sekarang, dan akan senantiasa, menjadi kebahagiaan yang mahamencukupi bagi umat-Nya, dan mereka telah memilih Dia dan bergantung pada-Nya untuk menjadi Allah yang demikian (ay. 24): TUHAN adalah bagianku, kata jiwaku, yaitu,
            1. “Walaupun aku telah kehilangan semua yang aku miliki di dunia, kebebasan, mata pencaharian, dan nyaris hidup itu sendiri, namun aku tidak kehilangan bagianku di dalam Allah.” Bagian-bagian di bumi adalah bagian yang akan binasa, tetapi Allah adalah bagian untuk selama-lamanya.
            2. “Selama aku mempunyai bagian di dalam Allah, maka di dalamnya aku bekecukupan. Aku memiliki apa yang mencukupi untuk mengimbangi semua masalahku dan menggantikan semua kerugianku.” Apa pun yang dirampas dari kita, bagian kita aman.
            3. “Inilah yang aku andalkan dan yang membuatku puas: Oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. Aku akan bersandar pada-Nya, dan mendorong diriku tetap di dalam Dia, ketika semua penopang dan dorongan lain gagal.” Perhatikanlah, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjadikan Allah sebagai bagian dari jiwa kita, lalu memakai Dia sebagai bagian kita, dan mendapat penghiburan darinya di tengah-tengah ratapan-ratapan kita.

IV. Bahwa orang-orang yang berhubungan dengan Allah akan mendapati bahwa tidak sia-sia percaya kepada-Nya, sebab,
            1. Dia baik bagi orang-orang yang berbuat demikian (ay. 25). Dia baik kepada semua orang. Ia penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Semua makhluk ciptaan-Nya mengecap kebaikan-Nya. Tetapi Dia secara khusus baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Perhatikanlah, selama masalah berkepanjangan, dan pembebasan ditangguhkan, kita harus bersabar menantikan Allah dan kembalinya Dia dengan penuh rahmat kepada kita. Sewaktu kita berharap kepada-Nya dengan iman, kita harus mencari Dia dengan doa: jiwa kita harus mencari Dia, kalau tidak, kita tidak akan menemukan Dia. Pencarian kita akan membantu mempertahankan harapan kita. Dan bagi orang-orang yang menantikan dan mencari seperti itu, Allah akan mencurahkan anugerah-Nya. Ia akan menunjukkan kepada mereka kasih setia-Nya yang ajaib.
            2. Orang-orang yang berbuat demikian akan mendapati hal itu baik bagi mereka (ay. 26): Adalah baik (sudah menjadi tugas kita, dan akan menjadi penghiburan dan kepuasan kita yang tak terucapkan) menanti dengan diam pertolongan TUHAN, berharap bahwa pertolongan itu akan datang, meskipun kesulitan-kesulitan yang menghadang di jalan tampak tak teratasi, menanti sampai pertolongan itu benar-benar datang, meskipun sudah lama tertunda. Dan selama kita menanti, kita harus tenang dan berdiam diri, tidak berbantah dengan Allah atau membuat gelisah diri kita sendiri, tetapi menerima saja tindakan-tindakan ilahi. Ya Bapa-Ku, jadilah kehendak-Mu!. Jika kita mengingat hal ini, kita dapat berharap bahwa semuanya akan berakhir dengan baik pada akhirnya.













NEXT:
Renungan HKBP Senin, 3 Oktober 2022 - Johannes 10:14 - 1 Korint 7:20-24 - Jona 4:1-11


PREV:
Renungan HKBP Sabtu, 1 Oktober 2022 - Tema: DIPARBAGA DEBATA TUMPAL HANGOLUAN (ALLAH MENJANJIKAN MAHKOTA KEHIDUPAN) - Ayat Bulanan: Jakobus 1:12

All Renungan HKBP 2022
(231)




NEXT:
Renungan HKBP Senin, 3 Oktober 2022 - Johannes 10:14 - 1 Korint 7:20-24 - Jona 4:1-11


PREV:
Renungan HKBP Sabtu, 1 Oktober 2022 - Tema: DIPARBAGA DEBATA TUMPAL HANGOLUAN (ALLAH MENJANJIKAN MAHKOTA KEHIDUPAN) - Ayat Bulanan: Jakobus 1:12

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de