BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 8442 kali

Download MP3 Music
Minggu, 11 September 2016
Proper 19 (24)
Jeremiah 4:11-12, 22-28 and Psalm 14
Exodus 32:7-14 and Psalm 51:1-10
1 Timothy 1:12-17

Lukas 15:1-10
Perumpamaan tentang domba yang hilang
15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 15:4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Perumpamaan tentang dirham yang hilang
15:8 "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? 15:9 Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. 15:10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."


Penjelasan:
* Luk 15:1-10 - Domba dan Uang Dirham yang Hilang
   Kata orang, perilaku buruk melahirkan hukum yang baik. Begitu pula dalam pasal ini, sungut-sungut para ahli Taurat dan orang Farisi terhadap anugerah Kristus dan kebaikan-Nya kepada para pemungut cukai dan orang berdosa memberikan kesempatan bagi terjadinya pengungkapan anugerah yang lebih penuh lagi. Kalau tidak demikian, mungkin kita tidak akan pernah mengetahui kepenuhan anugerah itu dalam ketiga perumpamaan yang diketengahkan dalam pasal ini, yang semuanya bertujuan sama, yaitu untuk memperlihatkan bukan hanya apa yang telah dikatakan dan dijanjikan Allah dalam Perjanjian Lama, bahwa Ia tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya, dan bersukacita dengan memberikan penghiburan-Nya kepada mereka pada saat mereka bertobat. Dalam pasal ini, kita melihat:

    I. Bagaimana kesalnya orang-orang Farisi terhadap Kristus karena Ia bergaul dengan orang-orang kafir dan para pemungut cukai dan memberitakan Injil-Nya kepada mereka (ay. 1-2).
    II. Bagaimana Kristus membenarkan perbuatan-Nya itu, dengan menunjukkan rancangan dan kuasa yang ingin dicapai-Nya dengan berbuat demikian, yang sudah memengaruhi banyak orang, yaitu membuat mereka bertobat dan memperbaharui hidup mereka. Tidak ada ibadah lain yang lebih berkenan dan lebih menyenangkan hati Allah daripada ini. Hal ini ditunjukkan-Nya dalam perumpamaan-perumpamaan:
        . Tentang domba yang hilang, yang dibawa pulang dengan sukacita (ay. 4-7).
        . Tentang uang dirham yang hilang, yang ditemukan kembali dengan sukacita (ay. 8-10).
        . Tentang anak yang hilang, yang hidup berfoya-foya, tetapi kemudian kembali ke rumah ayahnya, dan di sana ia disambut dengan penuh sukacita, meskipun kakaknya, seperti para ahli Taurat dan orang Farisi, menjadi marah karenanya (ay. 11-32).

Domba dan Uang Dirham yang Hilang (15:1-10)

    Dalam perikop di atas kita melihat:

    I. Kegigihan para pemungut cukai dan orang berdosa mengikuti Kristus dalam pelayanan-Nya. Dalam pasal sebelumnya, banyak orang Yahudi berduyun-duyun mengikuti Yesus (14:25), dengan penuh keyakinan bahwa mereka akan diterima dalam Kerajaan Allah, sehingga Kristus merasa wajib mengatakan kepada mereka hal-hal yang akan mengguncangkan harapan mereka yang sia-sia. Tetapi di sini, kita melihat banyak pemungut cukai dan orang berdosa berbondong-bondong datang kepada-Nya, dengan perasaan rendah hati dan takut akan ditolak oleh-Nya, sehingga Kristus merasa perlu memberikan dorongan kepada mereka, terutama karena ada orang-orang tertentu yang dengan sombong dan angkuh suka memandang rendah mereka. Para pemungut cukai, yang mengumpulkan upeti yang dibayar masyarakat kepada pemerintah Romawi, mungkin sebagiannya memang orang-orang jahat, namun, akibat prasangka buruk bangsa Yahudi terhadap tugas mereka itu, mereka semua dipandang jahat. Kadang-kadang mereka disamakan dengan perempuan-perempuan sundal (Mat. 21:32), sementara di sini dan dalam bacaan-bacaan lain, mereka disamakan dengan orang-orang berdosa, yang berbuat tidak senonoh secara terang-terangan, berzinah dengan perempuan-perempuan sundal, yang sangat dikenal sebagai orang-orang tidak bermoral. Sebagian orang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang berdosa di sini adalah orang-orang kafir, dan bahwa Kristus pada waktu itu sedang berada di seberang sungai Yordan, atau di Galilea wilayah bangsa-bangsa lain. Orang-orang seperti ini datang kepada-Nya, sementara mungkin banyak orang Yahudi lain yang tadinya berbondong-bondong mengikuti-Nya sekarang mundur (oleh karena perkataan-Nya dalam bagian penutup pasal sebelumnya). Dengan demikian, sekarang giliran bangsa-bangsa bukan-Yahudilah yang mendengarkan para rasul, setelah orang-orang Yahudi menolak mereka. Mereka datang kepada-Nya, tetapi mereka takut melangkah terlalu dekat kepada-Nya, jadi mereka hanya mendekat supaya bisa mendengarkan-Nya. Mereka datang kepada-Nya, bukan untuk meminta kesembuhan, seperti yang dilakukan sebagian orang, melainkan untuk mendengarkan ajaran-Nya yang sangat bagus. Perhatikanlah, ketika kita datang mendekat kepada Kristus kita harus selalu mencamkan hal ini, yaitu bahwa kita ingin mendengarkan-Nya, mendengarkan perintah-perintah yang diberikan-Nya kepada kita dan jawaban-jawaban-Nya atas doa-doa kita.
    II. Kejengkelan para ahli Taurat dan orang Farisi terhadap-Nya karena hal ini. Mereka bersungut-sungut, dan menegur Yesus Tuhan kita karena perbuatan-Nya itu: Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka (ay. 2).
        . Mereka marah karena para pemungut cukai dan orang-orang bukan-Yahudi diberi sarana untuk menikmati anugerah, dipanggil untuk bertobat, dan didorong untuk mengharapkan pengampunan pada saat bertobat. Bagi para ahli Taurat dan orang Farisi, orang-orang ini sudah tidak mempunyai harapan lagi. Mereka pikir tidak ada orang lain lagi kecuali mereka sendiri yang memiliki keistimewaan untuk bertobat dan mendapatkan pengampunan, padahal dulu para nabi sudah memberitakan pertobatan kepada bangsa-bangsa lain, khususnya Daniel memberitakannya kepada Nebukadnezar.
        . Menurut mereka, Kristus hanya merendahkan diri-Nya sendiri dengan berbuat demikian, dan juga sangat tidak sesuai dengan martabat-Nya jika Ia bergaul dekat dengan orang-orang semacam itu, menyambut mereka ke dalam kawanan-Nya, dan makan bersama-sama dengan mereka. Karena malu mereka tidak bisa mencela-Nya atas perbuatan-Nya memberitakan Injil kepada orang-orang itu, meskipun justru itulah yang sebenarnya membuat mereka paling marah. Oleh sebab itu, mereka cuma bisa menegur-Nya karena makan bersama-sama dengan orang-orang berdosa, yang lebih jelas bertentangan dengan adat istiadat leluhur mereka. Perhatikanlah, kecaman akan menimpa, bukan hanya terhadap orang yang paling tidak berdosa dan paling baik, melainkan juga terhadap perbuatan yang paling tidak berdosa dan paling baik, dan janganlah kita heran akan hal itu.
    III. Kristus membenarkan diri-Nya dalam hal ini, dengan menunjukkan bahwa semakin jahat orang-orang yang di-Injili-Nya, semakin besar pula kemuliaan yang akan diberikan kepada Allah, dan semakin besar pula sukacita yang akan ada di sorga, jika dengan pemberitaan-Nya mereka menjadi bertobat. Di mata sorga, akan lebih menyenangkan melihat bangsa-bangsa bukan-Yahudi berbalik dan beribadah kepada Allah yang benar, daripada melihat orang-orang Yahudi terus menjalankan ibadah mereka. Dan akan lebih menyenangkan melihat para pemungut cukai dan orang-orang berdosa menjalani hidup yang sesuai aturan, daripada melihat ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus menjalani cara hidup mereka. Hal ini digambarkan-Nya di sini dengan dua perumpamaan, yang keduanya mempunyai penjelasan yang sama.
        . Perumpamaan tentang domba yang hilang. Perumpamaan yang serupa sudah kita lihat dalam Matius 18:12. Dalam Kitab Matius, perumpamaan tersebut dirancang untuk menunjukkan pemeliharaan Allah atas orang-orang kudus, dan oleh karenanya kita tidak boleh berbuat jahat terhadap mereka, sedangkan di sini perumpamaan tersebut dirancang untuk menunjukkan betapa senangnya Allah dengan pertobatan orang-orang berdosa, dan oleh karena itu kita juga harus bersukacita dengan pertobatan mereka itu.

        Di sini kita melihat:

            (1) Keadaan orang berdosa yang terus hidup di dalam dosa. Ia seperti domba yang hilang, domba yang tersesat. Ia tersesat dari Allah, yang seharusnya mendapatkan kehormatan dan pengabdian darinya. Ia tersesat dari kawanannya, yang tidak lagi berkumpul bersamanya. Ia juga tersesat dari dirinya sendiri. Ia tidak tahu di mana dirinya berada, ia berjalan ke sana kemari tanpa tujuan, terus-menerus terancam binatang-binatang buas, selalu merasa takut dan ngeri, jauh dari perlindungan gembalanya, dan selalu haus akan padang rumput nan hijau. Ia juga tidak bisa menemukan sendiri jalan yang dapat membawanya kembali ke kawanannya.
            (2) Pemeliharaan Allah atas orang berdosa yang malang dan tersesat. Domba-domba yang tidak tersesat terus dipelihara-Nya, dan mereka tetap aman di padang gurun. Tetapi domba yang hilang ini harus diberi perhatian khusus, karena walaupun Ia mempunyai seratus ekor domba, kawanan yang sangat besar, Ia tidak mau kehilangan seekor domba pun. Sebaliknya, Ia pergi mencarinya dan menunjukkan perhatian-Nya yang sangat besar:
                [1] Untuk menemukannya. Ia mengikutinya, bertanya-tanya tentangnya, dan mencari-carinya sampai Ia menemukannya. Allah terus mengikuti orang-orang berdosa yang berbalik dari-Nya dengan panggilan firman-Nya dan dengan kuasa Roh-Nya, hingga pada akhirnya mereka berpikir untuk kembali lagi kepada-Nya.
                [2] Untuk membawanya pulang. Walaupun Ia mendapati domba itu kelelahan, dan mungkin cemas serta letih setelah berjalan ke sana kemari, dan tidak kuat lagi untuk berjalan pulang, Ia tidak membiarkannya binasa begitu saja lalu berkata, "Ia tidak layak dibawa pulang," melainkan meletakkannya di atas bahu-Nya dan, dengan penuh kelembutan dan perhatian, membawanya kembali ke kawanannya. Gambaran ini juga sangat bisa diterapkan pada penebusan agung yang dikerjakan-Nya bagi kita. Umat manusia dulu tersesat (Yes. 53:6). Harga seluruh umat manusia bagi Allah tidaklah semahal harga seekor domba bagi gembala yang mempunyai seratus ekor domba. Berapa sih kerugian atau kehilangan yang akan dirasakan Allah seandainya seluruh mereka itu dibiarkan binasa? Dia masih memiliki suatu dunia yang penuh dengan malaikat-malaikat kudus, bagaikan kesembilan puluh sembilan ekor domba itu, dan mereka ini suatu kawanan yang mulia. Namun demikian, Allah mengutus Anak-Nya untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (19:10). Kristus dikatakan menghimpun kawanan domba dalam tangan-Nya, dan membawa mereka ke dalam pangkuan-Nya, yang menggambarkan belas kasihan dan kelembutan-Nya terhadap orang-orang berdosa. Di sini dikatakan bahwa Ia meletakkan mereka di atas bahu-Nya, yang menggambarkan kuasa yang dengannya Ia menguatkan dan menopang mereka. Mereka yang dipikul di atas bahu-Nya pasti tidak akan binasa.
            (3) Perasaan senang Allah ketika melihat orang berdosa berbalik dan bertobat. Ia meletakkannya di atas bahu-Nya dengan gembira karena pencarian-Nya tidaklah sia-sia. Sukacita-Nya itu bertambah besar karena sebelumnya Ia sudah mulai kehilangan harapan untuk menemukannya. Karena itulah, Ia pun memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga-Nya, para gembala di sekitarnya yang menjaga domba-domba mereka, dan berkata kepada mereka, "Bersukacitalah bersama-sama dengan Aku." Mungkin dulu ada sebuah kidung gembala yang biasa dinyanyikan oleh para gembala pada saat-saat seperti ini, yang salah satu liriknya berbunyi demikian, "Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan." Rasanya mereka tidak akan bernyanyi, "Bersukacitalah bersama-sama dengan aku sebab aku tidak kehilangan seekor domba pun." Amatilah, Allah menyebut domba itu sebagai domba-Nya, meskipun domba itu sudah tersesat dan berkeluyuran ke mana-mana. Ia berhak atas domba itu (semua jiwa Aku punya), dan Ia akan menuntut milik kepunyaan-Nya sendiri serta meminta kembali hak-hak-Nya. Oleh karena itu, Ia mencarinya sendiri: Aku telah menemukannya. Ia tidak mengutus hamba-Nya melainkan Anak-Nya sendiri, Sang Gembala yang agung dan baik, yang akan menemukan apa yang dicari-Nya, dan yang akan ditemukan oleh orang-orang yang tidak mencari-Nya.
        . Perumpamaan tentang dirham yang hilang.
            (1) Di sini orang yang kehilangan itu digambarkan sebagai seorang perempuan, yang mungkin akan merasa lebih sedih karena kehilangan uang itu dan lebih bersukacita ketika menemukannya kembali dibandingkan dengan seorang laki-laki. Karena itu gambaran seorang perempuan ini dapat memenuhi tujuan perumpamaan tersebut dengan lebih baik. Ia mempunyai sepuluh dirham, dan hanya kehilangan salah satunya. Kiranya hal ini mengingatkan kita terus betapa tingginya kebaikan ilahi itu memandang kita. Kendati dunia umat manusia ini penuh dengan keberdosaan dan kesengsaraan, Ia masih melihat bahwa ada sembilan dibanding satu, bahkan dalam perumpamaan sebelumnya ada sembilan puluh sembilan dibanding satu, dari ciptaan Allah yang tetap hidup dalam kebajikan, yang melalui mereka Allah dipuji dan tidak pernah mendapat cela. Oh, sungguh tidak terhitung makhluk-makhluk, dari semua makhluk yang kita ketahui, yang tidak pernah tersesat ataupun menyimpang dari hukum-hukum dan tujuan-tujuan penciptaan mereka!
            (2) Yang hilang adalah satu dirham, drachmēn -- seperempat syikal. Jiwa adalah dirham, yang terbuat dari perak, yang sangat bernilai dan berharga, bukan dari logam dasar seperti besi atau timah, melainkan dari perak, yang digali dari tambang kerajaan. Kata perak dalam bahasa Ibrani diambil dari kata yang menggambarkan sifat pesona yang dimiliki oleh perak itu. Dirham di sini adalah uang perak, yang dicap dengan gambar dan tulisan Allah, dan karena itu harus diberikan kepada-Nya. Namun demikian, nilainya bisa dikatakan kecil, hanya sekitar tujuh ratus lima puluh rupiah. Ini menunjukkan bahwa jika orang-orang berdosa binasa, Allah tidak akan rugi sama sekali. Dirham ini hilang di tempat yang kotor. Jiwa yang terjerumus ke dalam dunia dan dikuasai oleh cinta serta kekhawatiran duniawi adalah seperti sekeping uang yang jatuh di tempat yang kotor. Orang-orang akan berkata, "Sungguh sayang uang itu tergeletak di sana."
            (3) Inilah perhatian dan usaha besar yang dilakukan untuk mencarinya. Perempuan itu menyalakan pelita, untuk mencarinya di balik pintu, di bawah meja, dan di setiap sudut rumah. Ia menyapu rumah, serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya. Ini menggambarkan berbagai sarana dan cara yang dipakai Allah untuk membawa jiwa-jiwa yang terhilang kembali kepada-Nya. Ia telah menyalakan pelita Injil, bukan untuk menunjukkan jalan bagi-Nya agar dapat mendatangi kita, melainkan untuk menunjukkan jalan bagi kita agar dapat mendatangi-Nya, agar kita dapat menemukan diri kita sendiri. Ia telah menyapu rumah dengan kebenaran-kebenaran yang meyakinkan melalui firman-Nya. Ia mencari dengan cermat, hati-Nya selalu menginginkannya, untuk membawa jiwa-jiwa yang terhilang kembali kepada-Nya.
            (4) Inilah sukacita besar atas ditemukannya uang itu: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan (ay. 9). Orang yang bersukacita pasti ingin agar orang lain juga bersukacita bersamanya, dan orang yang bergembira pasti ingin agar orang lain juga bergembira bersamanya. Ia senang karena ia sudah menemukan sekeping uang itu, meskipun sekarang ia harus menggunakannya untuk menghibur orang-orang yang dipanggilnya untuk bersukacita bersama-sama dengannya. Perasaan senang yang mengejutkan itu kini membuatnya serasa melayang-layang, heureka, heureka -- aku telah menemukannya, aku telah menemukannya; begitulah bahasa sukacita itu.
        . Maksud kedua perumpamaan ini sama (ay. 7, 10): Akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita bagi banyak orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. Ini terjadi bila para pemungut cukai dan orang berdosa itu bertobat, setidaknya sebagian dari mereka (dan bahkan bila hanya satu dari mereka yang bertobat, Kristus tidak akan menganggapnya sia-sia).

        Perhatikanlah:

            (1) Pertobatan dan berbaliknya orang-orang berdosa kepada Allah di bumi merupakan suatu hal yang membawa sukacita dan kegembiraan di sorga. Sangatlah mungkin bahwa para pendosa terbesar sekalipun bisa dituntun untuk bertobat. Selagi masih ada nyawa pasti masih ada harapan, dan orang-orang yang paling jahat tidak boleh dianggap tidak mempunyai harapan lagi untuk bertobat. Para pendosa besar, jika mereka bertobat dan berbalik kepada Allah, pasti akan mendapatkan belas kasihan. Akan tetapi, ini belum semuanya,
                [1] Allah dengan suka hati akan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka, dan Ia akan memandang pertobatan mereka sebagai hasil atas segala usaha yang telah dilakukan-Nya bagi mereka. Selalu ada sukacita di sorga. Allah bersukacita dalam segala karya-Nya, tetapi terutama dalam pekerjaan-pekerjaan anugerah-Nya. Dengan segenap hati dan jiwa-Nya Ia bersukacita ketika Ia berbuat baik kepada orang-orang berdosa yang bertobat. Ia bersukacita bukan hanya dalam pertobatan gereja-gereja dan bangsa-bangsa, melainkan bahkan dalam satu orang berdosa yang bertobat, meskipun hanya satu.
                [2] Para malaikat yang baik akan senang melihat orang-orang itu mendapat belas kasihan. Mereka sama sekali tidak bersungut karenanya, meskipun sebagian dari mereka sendiri yang berdosa dibiarkan binasa, dan tidak mendapat belas kasihan sedikit pun, dan meskipun orang-orang berdosa yang bertobat, yang begitu hina dan sudah begitu jahat, pada waktu bertobat malah dibawa ke dalam persekutuan bersama mereka, dan akan segera dibuat menyerupai mereka, bahkan menyamai mereka. Pertobatan orang-orang berdosa adalah sukacita bagi para malaikat, dan malaikat-malaikat ini dengan senang hati akan menjadi roh-roh yang melayani mereka demi kebaikan mereka, pada saat mereka bertobat. Penebusan umat manusia merupakan suatu hal yang membawa sukacita bagi para malaikat, sebab mereka bernyanyi, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi" (2:14).
            (2) Ada lebih banyak sukacita karena satu orang berdosa bertobat, yang berubah menjadi saleh dari kehidupan dulu yang sangat tercela dan keji, melebihi sukacita bagi sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.
                [1] Ada sukacita yang besar ketika manusia yang jatuh itu ditebus dan diselamatkan. Sukacita ini lebih besar daripada ketika malaikat-malaikat yang setia, yang memang tidak membutuhkan pertobatan, dipelihara dan diteguhkan oleh Allah.
                [2] Ada sukacita yang lebih besar atas pertobatan orang-orang bukan-Yahudi yang berdosa, dan atas pertobatan para pemungut cukai yang sekarang sedang mendengarkan Kristus mengajar, daripada atas segala pujian dan ibadah serta segala doa "Aku mengucap syukur kepada-Mu ya Allah" dari orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi lain yang merasa diri benar dan merasa tidak memerlukan pertobatan. Orang-orang Farisi dan Yahudi ini mengira Allah sangat bersukacita dan berbangga hati dengan mereka, dan memandang mereka sebagai orang-orang yang telah memberi-Nya kehormatan yang paling besar. Akan tetapi, Kristus justru berkata sebaliknya kepada mereka, bahwa Allah lebih dipuji di dalam, dan berkenan dengan satu orang berdosa yang bertobat karena remuk hatinya, walaupun dia begitu direndahkan dan dihina. Allah lebih dipuji melalui si petobat ini daripada dengan doa-doa panjang yang biasa diucapkan para ahli Taurat dan orang Farisi, yang tidak bisa melihat suatu kesalahan apa pun dalam diri mereka sendiri. Bahkan,
                [3] Ada sukacita yang lebih besar karena pertobatan satu orang yang sangat berdosa, seperti Paulus si orang Farisi dulu, daripada sukacita karena pertobatan biasa dari seseorang yang selalu bersikap baik dan terpuji, dan yang boleh dikatakan tidak memerlukan pertobatan, tidak memerlukan perubahan hidup secara menyeluruh seperti yang diperlukan oleh orang-orang yang sangat berdosa. Memang paling baik jika kita tidak pernah tersesat sama sekali. Namun demikian, anugerah Allah, baik dalam kuasa maupun dalam belas kasihannya, lebih dinyatakan dalam berkurangnya orang-orang yang sangat berdosa daripada dalam dituntunnya orang-orang yang tidak pernah tersesat. Dan sering kali orang-orang yang dulunya sangat berdosa sebelum mereka bertobat terbukti kemudian menjadi orang-orang baik yang luar biasa menonjol dan menyala-nyala, yang salah satu contohnya adalah Paulus, dan oleh karena itu di dalam dia Allah sangat dimuliakan (Gal. 1:24). Orang yang banyak diampuni pasti akan banyak mengasihi. Hal ini memang sesuai dengan perilaku manusia. Kita lebih tergerak oleh perasaan sukacita atas ditemukannya apa yang hilang daripada atas terus dinikmatinya apa yang selalu kita nikmati selama ini. Kita lebih bersukacita karena sehat sesudah sakit daripada karena sehat tanpa sakit. Rasanya seperti hidup dari antara orang mati. Terus-menerus hidup sesuai dengan peraturan agama mungkin dengan sendirinya adalah hal yang lebih berharga, tetapi berbalik seketika dari jalan yang jahat dan berdosa biasanya dapat memberikan kenikmatan yang lebih mengejutkan. Nah, jika ada sukacita di sorga yang sedemikian besar karena pertobatan orang-orang berdosa, maka orang-orang Farisi ini sungguh sangat tidak memiliki keinginan sorgawi, karena mereka justru berbuat sebisa mungkin untuk menghalang-halangi pertobatan itu dan merasa berduka karenanya. Mereka sangat marah kepada Kristus ketika Ia justru melakukan suatu perbuatan yang paling berkenan dan menyukakan Sorga.


Renungan Minggu XVI Dung Trinitatis,
11 September 2016

Mari Menjadi Teladan Bagi Mereka
Yang (Akan) Percaya dan Mendapat Hidup Kekal!
(1 Timotius 1:12-17)


Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Secara umum, tradisi orang Asia menganut paham bahwa semakin tua seseorang, maka akan dianggap semakin berhikmat dan layak menjadi teladan dalam kehidupan. Alkitab mencatat dan mengajarkan bahwa sejak kanak-kanak dan masa muda pun sudah mesti dibekali agar berhikmat dan bermoral; dan kemudian diminta menjadi teladan dalam kehidupan. Kita ingat misalnya, dalam Perjanjian Lama: Musa, Samuel, Yeremia, dll. Dalam Perjanjian Baru: Timotius - seorang muda, kordinator pelayanan jemaat di Efesus. Paulus mengingatkan agar jangan menganggap rendah seseorang karena masih muda; bahkan Paulus mendesak kaum muda agar menjadi teladan bagi orang-orang percaya dalam kata, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat (1 Tim. 4:12).

Paulus - sebelum pertobatannya - tadinya seorang penghujat dan penganiaya; menganiaya atas nama agama (Yahudi), menganiaya umat beragama Kristen (ayat 13; bnd. Kis. 8:3; 9:1-2,4-5; 22:4-5; 26:9-11; Gal. 1:13) dan layak disebut sebagai orang paling berdosa (ayat 14-15; bnd. 1 Kor. 15:9; Ef. 3:8). Namun Allah mengubah cara paham beragamanya dengan menunjukkan kemurahan dan belas kasih serta memberi kesempatan kepada Paulus untuk bertobat dan kemudian menerima Yesus Kristus sebagai TUHAN bahkan kemudian melayani sebagai hamba-Nya dan teladan dalam jemaat Kristen (Kis. 9:1-19; Kis 23:1; 26:9).

Surat 1 dan 2 Timotius dan Titus yang lazim disebut sebagai Surat-surat Penggembalaan ini, banyak berkaitan dengan tugas penggembalaan di lingkungan jemaat. Isi surat Paulus kepada Timotius menekankan ajaran (doktrin) yang benar hanya bersumber dari Injil Kristus yaitu mengenai berita anugerah keselamatan agar kita menanggapinya dengan iman dan hidup saleh dalam kehidupan berjemaat. Dengan iman kepada-Nya, maka kita mempunyai hidup kekal (Yoh. 4:67); dan hidup kekal adalah karunia Allah dalam Kristus Yesus (Roma 6:23b). Rasul Paulus juga menasihati agar jemaat hidup dalam kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni, dan dari iman yang tulus ikhlas (1 Tim. 1:5). Artinya, agar kita menghasilkan gaya hidup kudus dan benar sebagai tanda bahwa kita yang percaya telah memperoleh kasih karunia dan hidup kekal dari Yesus Kristus.

Melalui renungan mengenai kisah kemurahan hati Allah kepada Paulus, kiranya memberi kita semangat untuk menjadi teladan dalam kata dan akta, dalam kesucian dan kesetiaan karena Injil Kristus. Dalam situasi krisis keteladanan di tengah masyarakat dan bangsa kita, orang Kristen hendaknya menjadi teladan dalam kebenaran, iman, dan kesucian (1 Tim. 3:1-13; 4:12). Agar kiranya umat bertobat dan percaya kepada kuasa dan kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus yang sanggup menyelamatkan siapa saja. Mari menjadi teladan bagi mereka yang (akan) percaya dan mendapat hidup kekal. Salam.**** AAZS


Label:   Lukas 15:1-10 











NEXT:
Khotbah HKBP Rabu, 14 September 2016 - Yohanes 3:13-17


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 4 September 2016 - Lukas 14:25-33


All Garis Besar:

Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96

Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/LISTGarisBesar.htm' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96
All Khotbah HKBP 2016
(12)
1 Timotius 6:6-19 (1)
2 Timotius 1:1-14 (1)
2 Timotius 2:8-15 (1)
Filipi 4:4-9 (1)
Ibrani 11:29--12:2 (1)
Kejadian 15:1-6 (1)
Kejadian 32:22-31 (1)
Lukas 10:1-11 (1)
Lukas 10:25-37 (1)
Lukas 11:1-13 (1)
Lukas 13:10-17 (1)
Lukas 14:1, 7-14 (1)
Lukas 14:25-33 (1)
Lukas 15:1-10 (1)
Lukas 16:1-13 (1)
Lukas 19:28-40 (1)
Lukas 2:22-40 (1)
Lukas 3:15-17 (1)
Lukas 3:15-22 (1)
Lukas 4:14-21 (2)
Lukas 4:21-30 (2)
Lukas 8:26-39 (1)
Lukas 9:28-36 (1)
Matius 27:57-66 (1)
Matius 6:1-21 (1)
Roma 15:4-13 (1)
Roma 1:1-7 (1)
Yesaya 1:10-18 (1)
Yesaya 35:1-10 (1)
Yohanes 12:1-11 (1)
Yohanes 12:1-8 (1)
Yohanes 12:20-36 (1)
Yohanes 13:21-32 (1)
Yohanes 20:1-18 (2)
Yohanes 2:1-11 (2)
Yohanes 3:13-17 (1)




NEXT:
Khotbah HKBP Rabu, 14 September 2016 - Yohanes 3:13-17


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 4 September 2016 - Lukas 14:25-33

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de