BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 2263 kali
Minggu, 14 Juni 2023
II DUNG TRINITATIS
Tutup Langgatan : Na Ratarata

Ev. Keluaran 19:1-8
Ep. Yakobus 2:14-17

Topik:
MARSIHOHOT MANGULAHON HATA NI DEBATA (SETIA MELAKUKAN FIRMAN TUHAN)

Keluaran 19:1-8
TUHAN menampakkan diri di gunung Sinai
19:1 Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga. 19:2 Setelah mereka berangkat dari Rafidim, tibalah mereka di padang gurun Sinai, lalu mereka berkemah di padang gurun; orang Israel berkemah di sana di depan gunung itu. 19:3 Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: "Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel: 19:4 Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. 19:5 Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. 19:6 Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel." 19:7 Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya. 19:8 Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: "Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan." Lalu Musapun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN.

Penjelasan:
* Perjanjian Sinai (19:1-8)

I. Penanggalan dari piagam agung yang melaluinya Israel didirikan.
            1. Waktu penanggalannya (ay. 1), pada bulan ketiga setelah mereka keluar dari Mesir. Menurut perhitungan, hukum Taurat diberikan hanya lima puluh hari setelah mereka keluar dari Mesir. Untuk memperingatinya, hari raya Pentakosta dirayakan pada hari kelima puluh setelah Paskah, dan sesuai dengan hal itu, Roh Kudus dicurahkan ke atas para rasul pada hari raya Pentakosta, lima puluh hari setelah kematian Kristus. Di Mesir mereka sudah berbicara tentang tiga hari perjalanan ke padang gurun ke tempat mereka mempersembahkan korban (5:3), tetapi ternyata perjalanan itu memakan waktu hampir dua bulan. Begitu sering kita meleset dalam menghitung waktu, dan segala sesuatu ternyata lebih lama dalam pelaksanaannya daripada yang kita harapkan.
            2. Tempat diberikannya penanggalan itu. Dari Gunung Sinai, tempat yang oleh alam, dan bukan buatan manusia, menjadi terkemuka dan mencolok, sebab gunung itu adalah gunung tertinggi di seluruh wilayah pegunungan itu. Demikianlah Allah memberikan penghinaan terhadap kota-kota, istana-istana, dan bangunan-bangunan megah, dengan mendirikan pondok-Nya di puncak gunung yang tinggi, di padang gurun yang tandus dan gersang, untuk melaksanakan persepakatan ini di sana. Gunung itu disebut Sinai, berdasarkan banyaknya semak duri yang tersebar luas di sekelilingnya.

II. Piagam itu sendiri. Musa dipanggil untuk naik ke gunung itu (yang di puncaknya Allah telah memasang kemah-Nya, dan di kakinya Israel telah memasang kemah mereka), dan ia dipakai sebagai pengantara, atau lebih tepatnya tidak lebih daripada sebagai utusan perjanjian: Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel (ay. 3). Di sini cedikiawan uskup Patrick mencermati bahwa bangsa itu disebut dengan nama Yakub dan juga Israel, untuk mengingatkan mereka bahwa mereka yang belum lama ini menduduki tempat yang rendah serendah Yakub ketika ia pergi ke Padan-Aram, sekarang telah bertumbuh menjadi besar sebesar Allah membuat Yakub ketika ia datang dari sana (diperkaya secara adil dengan barang-barang rampasan dari orang yang telah menindasnya) dan disebut Israel. Sekarang amatilah,
            1. Bahwa Pembuat dan Pencetus pertama perjanjian itu adalah Allah sendiri. Tak ada satu hal pun yang dikatakan atau dilakukan oleh bangsa yang bodoh dan tidak berpikir ini untuk menetapkan perjanjian ini. Tak ada permintaan yang dibuat, tak ada permohonan yang diajukan, untuk mendapat perkenanan Allah, sebaliknya, piagam yang penuh berkat ini diberikan ex mero motu -- semata-mata atas kehendak baik Allah sendiri. Perhatikanlah, dalam semua urusan kita dengan Allah, anugerah yang cuma-cuma mendahului kita dengan berkat-berkat kebaikan, dan semua penghiburan kita diperoleh, bukan karena kita mengenal Allah, melainkan karena kita dikenal oleh-Nya (Gal. 4:9). Kita mengasihi Dia, datang kepada-Nya, dan mengadakan perjanjian dengan-Nya, karena Dia lebih dahulu mengasihi kita, datang kepada kita, dan mengadakan perjanjian dengan kita. Allah adalah Alfa, dan karena itu pasti Omega.
            2. Bahwa isi perjanjian itu bukan hanya adil dan tidak menimbulkan keberatan, dan tidak menyulitkan mereka, tetapi juga penuh kebaikan hati dan rahmat, sehingga menawarkan kepada mereka hak-hak istimewa dan keuntungan-keuntungan besar yang tidak terbayangkan.
                (1) Ia mengingatkan mereka akan apa yang telah dilakukan-Nya untuk mereka (ay. 4). Ia telah membela mereka, dan mengadakan pembalasan terhadap para penganiaya dan penindas mereka. “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, berapa banyak nyawa yang menjadi korban demi kehormatan dan kepentingan-kepentingan Israel.” Ia sudah memberi mereka bukti-bukti perkenanan-Nya yang tiada tara, dan perhatian-Nya terhadap mereka: Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali, suatu ungkapan yang luhur tentang kelembutan yang menakjubkan yang telah ditunjukkan Allah bagi mereka. Ungkapan ini dijelaskan dalam 11-12. Ungkapan itu menandakan kecepatan yang tinggi. Allah tidak hanya datang dengan sayap-Nya untuk membebaskan mereka (ketika waktu yang ditetapkan telah tiba, Ia mengendarai kerub, lalu terbang), tetapi juga Ia bergegas membawa mereka keluar, seolah-olah, di atas sayap. Ia juga melakukannya dengan sangat mudah, dengan kekuatan dan kecepatan rajawali. Orang-orang yang tidak lelah dan lesu, dikatakan naik terbang dengan kekuatan sayapnya seumpama rajawali (Yes. 40:31). Ungkapan itu, terutama, menandakan perhatian khusus Allah terhadap mereka dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Bahkan Mesir, dapur peleburan besi itu, adalah sarang di mana anak-anak burung ini ditetaskan, di mana mereka pertama-tama dibentuk sebagai janin sebuah bangsa. Ketika, dengan pertambahan jumlah mereka, mereka bertumbuh dewasa, mereka dibawa keluar dari sarang itu. Burung-burung lain membawa anak-anak mereka dalam cakar mereka, tetapi rajawali, katanya, membawa anak-anaknya pada sayapnya, sehingga bahkan para pemanah yang menembakkan anak panah mereka tidak dapat menyakiti anak-anaknya, kecuali mereka menembak menembus induknya. Demikian pula, di Laut Teberau, tiang awan dan tiang api, tanda dari hadirat Allah, menjadi penghalang antara bangsa Israel dan orang-orang yang mengejar mereka (garis-garis pertahanan yang tidak bisa dipatahkan, tembok yang tidak bisa ditembus): namun ini belum semua. Jalan mereka yang begitu dimudahkan, dan begitu dikawal, sungguh mulia, tetapi kesudahan mereka jauh lebih mulia lagi: Aku membawa kamu kepada-Ku. Mereka dibawa tidak hanya ke dalam kemerdekaan dan kehormatan, melainkan juga ke dalam perjanjian dan persekutuan dengan Allah. Inilah kemuliaan dari pembebasan mereka, seperti halnya kemuliaan dari pembebasan kita oleh Kristus, bahwa Ia mati, yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah. Inilah yang menjadi tujuan Allah dalam semua pemeliharaan dan anugerah-Nya yang penuh rahmat, yaitu untuk membawa kita kembali kepada Dia, kita yang sudah memberontak, dan membawa kita pulang kepada-Nya, karena hanya di dalam Dia sajalah kita bisa berbahagia. Allah berseru kepada mereka, minta mereka merenungkan apa yang telah mereka lihat dan alami selama ini, bahwa apa yang Dia katakan ini sungguhlah benar: Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan. Dengan begitu, mereka tidak bisa tidak mempercayai Allah, kecuali mereka terlebih dulu tidak percaya dengan mata mereka sendiri. Mereka melihat bagaimana semua yang dilakukan itu adalah semata-mata oleh perbuatan Tuhan. Bukan mereka yang berusaha menggapai Allah, tetapi Allahlah yang membawa mereka kepada diri-Nya. Sebagian orang mencermati dengan baik bahwa jemaat Perjanjian Lama dikatakan didukung di atas sayap rajawali, yang menandakan kekuatan dari masa penyelenggaraan itu, yang dijalankan dengan tangan yang dinaikkan dan lengan yang teracung. Tetapi jemaat Perjanjian Baru dikatakan dikumpulkan oleh Tuhan Yesus, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya (Mat. 23:37), yang menandakan anugerah dan belas kasihan dari masa penyelenggaraan itu, dan perendahan diri serta kerendahan hati yang mengagumkan dari sang Penebus.
                (2) Allah memberi tahu mereka dengan jelas apa yang diharapkan dan dituntut-Nya dari mereka dalam satu kata, yaitu ketaatan (ay. 5), bahwa mereka harus sungguh-sungguh mendengarkan firman-Nya dan berpegang pada perjanjian-Nya. Karena sudah diselamatkan seperti itu oleh-Nya, maka apa yang bersikukuh dituntut-Nya adalah bahwa mereka harus diatur oleh-Nya. Tuntutan-Nya ini tetap masih diserukan-Nya kepada mereka lama sesudah peristiwa ini, seperti pada masa Yeremia di kemudian hari, bahwa pada waktu Ia membawa mereka keluar dari tanah Mesir, inilah syarat dari perjanjian itu, dengarkanlah suara-Ku (Yer. 7:23). Dan Dikatakan bahwa Ia dengan sungguh-sungguh memperingatkan mereka akan hal ini (Yer. 11:4, 7). Taatlah saja dengan sungguh-sungguh, bukan hanya dengan mengaku dan berjanji, bukan dengan berpura-pura, melainkan dengan tulus hati. Allah telah menunjukkan kepada mereka perkenanan-perkenanan-Nya yang nyata, dan karena itu Ia menuntut ketaatan yang nyata pula.
                (3) Allah meyakinkan mereka akan kehormatan yang hendak diberikan-Nya kepada mereka, dan kebaikan yang hendak ditunjukkan-Nya kepada mereka, jika mereka benar-benar berpegang pada perjanjian-Nya (ay. 5-6): Maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri. Ia tidak menyebutkan secara khusus suatu perkenanan tertentu, seperti memberi mereka tanah Kanaan atau semacamnya, tetapi mengungkapkannya dalam suatu ungkapan yang mencakup kebahagiaan seluruhnya, yaitu bahwa Ia akan menjadi Allah mereka berdasarkan perjanjian, dan mereka akan menjadi umat-Nya.
                    [1] Allah di sini menegaskan kedaulatan dan kepemilikan-Nya atas seluruh ciptaan yang terlihat: Akulah yang empunya seluruh bumi. Oleh sebab itu Ia tidak membutuhkan mereka. Dia yang memiliki wilayah kekuasaan yang begitu luas pasti sangat hebat, dan sangat bahagia, tanpa mengkhawatirkan diri-Nya dengan wilayah yang begitu kecil seperti Israel. Karena semua bangsa di bumi adalah milik-Nya, maka Ia dapat memilih siapa yang dikehendaki-Nya sebagai umat kesayangan-Nya, dan bertindak secara berdaulat.
                    [2] Allah mengambil Israel bagi diri-Nya sendiri, pertama, sebagai umat kesayangan-Nya. Kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri. Tidak berarti bahwa Allah diperkaya oleh mereka, seperti manusia diperkaya oleh hartanya, tetapi Ia berkenan menilai dan menghargai mereka seperti manusia menilai dan menghargai hartanya. Mereka berharga di mata-Nya dan mulia (Yes. 43:4). Hati-Nya terpikat oleh mereka (Ul. 7:7). Ia membawa mereka ke dalam pemeliharaan dan perlindungan-Nya yang istimewa, seperti harta yang disimpan di suatu tempat yang aman dan terkunci. Ia memandang semua yang lain di dunia hanya seperti sampah dan barang-barang yang tidak terpakai dibandingkan dengan mereka. Dengan memberi mereka wahyu ilahi, ketetapan-ketetapan, dan janji-janji hidup yang kekal yang sudah meliputi semuanya, dengan mengutus nabi-nabi-Nya di antara mereka, dan mencurahkan Roh-Nya ke atas mereka, Ia membedakan mereka dari dan menjunjung martabat mereka di atas semua bangsa lain. Dan kehormatan ini dimiliki semua orang kudus. Mereka bagi Allah adalah umat kepunyaan-Nya sendiri (Tit. 2:14), milik kepunyaan-Nya ketika Ia menjadikan perhiasan-Nya. Kedua, sebagai umat yang diabdikan untuk-Nya, bagi kehormatan-Nya dan untuk melayani-Nya (ay. 6), kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Semua orang Israel, jika dibandingkan dengan orang-orang dari bangsa lain, adalah imam-imam bagi Allah, begitu dekatnya mereka pada-Nya (Mzm. 148:14), begitu banyak mereka dipakai untuk melayani-Nya secara langsung, dan begitu akrab bersekutu dengan-Nya. Ketika mereka pertama kali dibuat menjadi bangsa yang merdeka, itu supaya mereka dapat mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah mereka, sebagai imam-imam. Mereka ada di bawah pemerintahan Allah secara langsung, dan tujuan pemberian hukum-hukum kepada mereka adalah untuk membedakan mereka dari bangsa lain, dan mengikat mereka kepada Allah sebagai bangsa yang kudus. Demikianlah, semua orang percaya, melalui Kristus, dijadikan raja-raja dan imam-imam bagi Allah kita (Why. 1:6), bangsa yang terpilih, imamat yang rajani (1Ptr. 2:9).

III. Bangsa Israel menerima piagam ini, dan setuju dengan syarat-syaratnya.
            1. Musa dengan setia menyampaikan pesan Allah kepada mereka (ay. 7): Ia membawa ke depan mereka segala firman itu. Musa tidak hanya menjelaskan kepada mereka apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya, tetapi juga menyerahkan pilihan kepada mereka, apakah mereka mau menerima janji-janji ini dengan syarat-syarat ini atau tidak. Dibawanya segala firman itu ke depan mereka menandakan dimasukkannya firman itu ke dalam hati nurani mereka.
            2. Mereka langsung setuju dengan perjanjian yang diusulkan. Mereka mau mewajibkan diri mereka untuk mematuhi suara Allah, dan memandang sebagai suatu perkenanan yang besar bahwa mereka dijadikan kerajaan imamat bagi-Nya. Mereka menjawab bersama-sama sebagai satu tubuh, nemine contradicente -- tanpa suara yang menentang (ay. 8): Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan. Demikianlah mereka mengambil tawaran itu, menerima Tuhan sebagai Allah bagi mereka, dan menyerahkan diri kepada-Nya sebagai umat-Nya. Oh, semoga saja memang ada hati yang seperti itu pada mereka!
            3. Musa, sebagai pengantara, mengembalikan perkataan umat kepada Allah (ay. 8). Demikian pula Kristus, sang Pengantara antara kita dan Allah, sebagai nabi menyingkapkan kepada kita kehendak Allah, ketetapan-ketetapan, dan janji-janji-Nya. Dan sebagai imam, Ia mempersembahkan kepada Allah korban-korban rohani kita, bukan hanya berupa doa dan pujian, melainkan juga perasaan-perasaan yang penuh pengabdian dan tekad-tekad hati yang saleh, yaitu pekerjaan Roh-Nya sendiri dalam diri kita. Dengan demikian, Dialah wasit yang dapat memegang kita berdua.


* Kitab Keluaran seringkali disebut oleh beberapa orang sebagai ‘Kitab Pengembaraan’, karena isinya menceritakan kisah umat Tuhan sejak keluar dari Tanah Mesir dalam pengembaraan mereka selama 40 tahun. Pengembaraan tersebut bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, tetapi pengembaraan ini merupakan rencana Tuhan untuk memurnikan umatNya serta mengajar mereka semakin dekat dan mengandalkan Allah dalam hidupnya. Pengembaraan umat Tuhan memberikan banyak pengalaman iman bagi bangsa Israel melalui berbagai peristiwa serta sekaligus meneguhkan kembali janji Allah.

Melalui renungan minggu ini Tuhan menyatakan secara terang-terangan berkata: “jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjianKu, maka kamu akan menjadi harta kesayanganKu sendiri di antara bangsa-bangsa”. Alangkah beruntungnya bangsa Israel, mendapatkan pemeliharaan, perlindungan dan berkat dari Tuhan. Janji untuk menjadi harta kesayangan Allah, memanggil hidup mereka agar setia melakukan Firman Tuhan.

Pemilihan Israel menjadi bangsaNya yang kudus bukan karena kelebihan yang mereka miliki dibandingkan dengan bangsa lain, tetapi semuanya itu hanyalah karena kedaulatan dan anugerah Allah semata. Penyataan Allah ini juga berlaku pada kita saat ini, bagaimana kita hidup sebagai umat Allah dan bagaimana Allah berbuat dan berkarya atas umat milik kepunyaanNya. Kita harus menjadi pelaku firman Tuhan, inilah yang merupakan tanggapan iman kita kepada Allah yang telah menyelamatkan kita melalui Tuhan Yesus dan menjadikan kita sebagai anak-anakNya. Untuk itu, kita bukan lagi orang yang hidup menurut dunia, tetapi kita hidup di bawah anugerah Tuhan yang menjadikan kita umat yang diberkati serta sampai pada tujuan akhir hidup, yaitu kehidupan yang kekal. Amin












NEXT:
Renungan HKBP Minggu, 25 Juni 2023 - MANGIHUTHON JESUS JALA MAMORSAN SILANG - Mateus 10:32-39 - III DUNG TRINITATIS


PREV:
Renungan HKBP Minggu, 11 Juni 2023 - HAPORSEAONMI DO NAPALUAHON HO (IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU) - Ev. Matius 9:18-26 - I DUUNG TRINITAS

All Renungan HKBP 2023
(136)




NEXT:
Renungan HKBP Minggu, 25 Juni 2023 - MANGIHUTHON JESUS JALA MAMORSAN SILANG - Mateus 10:32-39 - III DUNG TRINITATIS


PREV:
Renungan HKBP Minggu, 11 Juni 2023 - HAPORSEAONMI DO NAPALUAHON HO (IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU) - Ev. Matius 9:18-26 - I DUUNG TRINITAS

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de