BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 2474 kali
Baca Juga:

Kisah Para Rasul 8:14-25
Bahasa Batak:
-----------------
8:14 Alai dung dibege angka apostel na di Jerusalem, naung dijalo halak Samaria i hata ni Debata, disuru nasida ma si Petrus dohot si Johannes manopot nasida.
8:15 Tuat ma nasida, ditangiangkon ma angka dongan i, asa dijalo Tondi Parbadia.
8:16 Ai ndang dope songgop Tondi i manang tu ise nasida, asal tardidi do nasida tubagasan Goar ni Tuhan Jesus.
8:17 Jadi mangampehon tangan ma apostel i tu nasida, gabe dijalo ma Tondi Parbadia.
8:18 Alai dung diida si Simon angka apostel i mangalehon Tondi Parbadia marhite sian na mangampehon tangan, ro ma ibana mamboan hepeng tu nasida.
8:19 Didok ma: Lehon hamu ma huaso sisongon i nang tu ahu, asa manjalo Tondi Parbadia halak, ia huampehon tanganku tu ibana.
8:20 Alai didok si Petrus ma mandok ibana: Mago ma ho rap dohot perakmi; ai dirimpu ho, tartuhor silehonlehon ni Debata marhitehite hepeng!
8:21 Ndang parjambar manang partohap ho di hata on, ai ndang na bonar roham maradophon Debata.
8:22 Ipe pauba ma roham sian hajahatonmi; dung i pangido ma tu Tuhan i, anggiat tarsesa tahitahi ni roham!
8:23 Ai huida do roham di bagasan pogu na paet, niihotan ni hageduhon.
8:24 Alai ninna si Simon i ma mangalusi: Tangiangkon hamu ma ahu tu Tuhan i, asa unang songgop tu ahu na nidokmuna i.
8:25 Asa dung dihatindangkon jala dihatahon hata ni Tuhan i, mulak ma anggo nasida tu Jerusalem; laos dibaritahon dope barita na uli i di torop huta na di luat Samaria.

Bahasa Indonesia:
-----------------
8:14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. 8:15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. 8:16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 8:17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. 8:18 Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, 8:19 serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus." 8:20 Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. 8:21 Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. 8:22 Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; 8:23 sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan." 8:24 Jawab Simon: "Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu." 8:25 Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria.


Penjelasan:
* Kisah Simon Si Tukang Sihir ( Kis 8:14-25)

Allah secara menakjubkan sudah mengakui Filipus dalam pekerjaannya sebagai seorang penginjil di Samaria, tetapi Filipus tidak bisa melakukan apa yang lebih dari seorang penginjil. Ada kuasa-kuasa istimewa yang hanya diperuntukkan bagi para rasul, untuk menjaga kehormatan jabatan mereka, dan di sini kita mendapati cerita tentang apa yang dikerjakan oleh dua dari antara mereka di sana, yaitu Petrus dan Yohanes. Kedua belas rasul tetap berkumpul bersama-sama di Yerusalem (ay. Kis 8:1), dan ke sanalah kabar baik ini dibawa kepada mereka, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah (ay. Kis 8:14), bahwa panen jiwa yang besar itu sudah terkumpul, dan kemungkinan akan dikumpulkan kepada Kristus di sana. Firman Allah tidak hanya diberitakan kepada mereka, tetapi juga diterima oleh mereka. Mereka menyambutnya, menerima cahayanya, dan tunduk pada kuasanya: Ketika mereka di Yerusalem mendengarnya, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Seandainya Petrus adalah, seperti yang dikatakan sebagian orang, kepala dari para rasul itu, maka dialah yang akan mengutus beberapa dari mereka, atau, seandainya ia melihat ada alasan, ia sendiri akan pergi ke sana atas kemauannya. Tetapi, ia sama sekali bukanlah orang yang demikian, malah dia justru tunduk pada perintah kumpulan rasul itu, dan, seperti layaknya hamba bagi jemaat, ia pergi ke tempat mereka mengutusnya.

Dua rasul diutus, dua yang paling terkemuka, ke Samaria,
1. Untuk membesarkan hati Filipus, untuk membantu dia, dan memperkuat tangannya. Hamba-hamba Tuhan yang memangku jabatan lebih tinggi, dan yang unggul dalam berbagai karunia dan anugerah, harus berusaha membantu orang-orang dalam kedudukan yang lebih rendah, dan turut mendukung bagi penghiburan dan kegunaan mereka.

2. Untuk melanjutkan pekerjaan baik yang sudah dimulai di antara orang banyak, dan, dengan anugerah-anugerah sorgawi yang sudah memperkaya mereka itu, memberikan karunia-karunia rohani kepada mereka. Sekarang amatilah,

I. Bagaimana mereka mengangkat dan mengembangkan orang-orang yang tulus dari antara mereka. Dikatakan (ay. Kis 8:16), Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, dengan segala kuasa luar biasa yang disampaikan melalui turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta itu. Tak satu pun dari mereka yang diberi karunia bahasa lidah, yang pada saat itu tampak sebagai dampak paling biasa yang langsung terjadi dari pencurahan Roh. Lihat pasal 10:45-46. Ini sekaligus merupakan tanda yang jelas bagi orang-orang yang tidak percaya dan pelayanan yang mulia bagi orang-orang percaya. Karunia ini, dan karunia-karunia lain semacamnya, tidak mereka miliki, mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Jadi mereka telah menjadi bagian dari Dia dan mempunyai kepentingan di dalam Dia, yang penting bagi keselamatan mereka. Dan dalam hal ini mereka bersukacita dan puas (ay. Kis 8:8), meskipun mereka tidak bisa berbicara dengan bahasa roh. Mereka yang benar-benar diserahkan kepada Kristus, dan telah mengalami kuasa dan pekerjaan yang menguduskan dari Roh anugerah, mempunyai banyak alasan untuk bersyukur, dan tidak mempunyai alasan untuk mengeluh, meskipun mereka tidak mempunyai karunia-karunia hiasan dan bisa membuat mereka bersinar. Namun yang dimaksudkan di sini adalah agar mereka terus menyelesaikan dengan sempurna apa yang sudah menjadi bagian mereka pada waktu itu, demi kehormatan Injil yang lebih besar. Kita mempunyai alasan untuk berpikir bahwa Filipus sudah menerima karunia-karunia Roh Kudus ini sendiri, tetapi tidak mempunyai kuasa untuk memberikannya. Para rasul harus datang untuk melakukannya. Dan mereka tidak melakukan ini pada semua orang yang sudah dibaptis, tetapi pada sebagian saja dari mereka, dan, tampaknya, pada orang-orang yang dirancang untuk memangku suatu jabatan di dalam jemaat, atau setidak-tidaknya untuk menjadi anggota-anggotanya yang giat. Dan pada sebagian dari antara mereka diberikan satu karunia Roh Kudus, dan pada sebagian yang lain diberikan karunia lain. Lihat 1 Korintus 12:4,8; 14:26. Nah, untuk melakukannya,

1. Kedua rasul itu berdoa untuk mereka (ay 15). Roh diberikan, bukan hanya untuk diri kita sendiri (Luk. 11:13), melainkan juga untuk orang lain, sebagai jawaban doa: Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu (Yeh. 36:27), tetapi untuk itu Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku (ay. Kis 8:37). Kita dapat mengambil penghiburan dari contoh ini, bahwa dalam berdoa, kita harus meminta kepada Allah untuk memberikan anugerah-anugerah Roh Kudus yang memperbaharui bagi orang yang kita perhatikan keselamatan rohaninya, yaitu bagi anak-anak kita, bagi sahabat-sahabat kita, bagi hamba-hamba Tuhan yang melayani kita. Kita harus berdoa, dan berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya mereka beroleh Roh Kudus. Sebab karunia Roh Kudus ini mencakup semua berkat.

2. Kedua rasul itu menumpangkan tangan atas mereka, untuk menandakan bahwa doa-doa mereka dijawab, dan bahwa karunia Roh Kudus dianugerahkan kepada mereka. Sebab, pada saat menggunakan tanda ini, mereka menerima Roh Kudus, dan berbicara dengan bahasa roh. Penumpangan tangan digunakan pada zaman dulu untuk memberkati, oleh mereka yang memberi berkat dengan kewenangan. Demikianlah para rasul memberkati orang-orang yang baru bertobat ini, menahbiskan sebagian sebagai hamba-hamba Tuhan, dan meneguhkan sebagian yang lain dalam iman Kristen mereka. Sekarang kita tidak bisa, dan tak seorang pun yang bisa, memberikan Roh Kudus dengan cara menumpangkan tangan seperti itu. Tetapi hal ini dapat menunjukkan kepada kita bahwa apabila kita mendoakan orang, kita harus berusaha untuk membantu mereka.


II. Bagaimana mereka menemukan dan membuang orang munafik dari antara mereka, dan orang ini adalah Simon si tukang sihir. Sebab mereka tahu bagaimana membedakan antara yang berharga dan yang hina. Sekarang amatilah di sini,

1. Usulan jahat yang dibuat Simon, yang dengannya kemunafikannya terbongkar (ay. Kis 8:18-19): Ketika ia melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya (yang seharusnya meneguhkan imannya kepada ajaran Kristus, dan memperbesar rasa hormatnya terhadap para rasul), timbul gagasan dalam dirinya tentang Kekristenan sebagai sesuatu yang tidak lain dari ilmu sihir tingkat tinggi. Dan ia menganggap dirinya juga mampu menjadi seperti para rasul dalam mencapai ilmu sihir itu, dan karena itu ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu.” Dia tidak ingin mereka menumpangkan tangan atasnya, supaya ia sendiri bisa menerima Roh Kudus (sebab ia tidak melihat bahwa cara itu dipakai untuk memperoleh berkat), tetapi menghendaki agar mengalihkan saja suatu kuasa kepadanya supaya ia juga mampu memberikan karunia itu kepada orang lain. Ia sangat ingin mendapat kehormatan sebagai seorang rasul, tetapi sama sekali tidak mempunyai kemauan untuk memiliki Roh dan sikap hati seorang Kristen. Dia lebih ingin mendapat kehormatan bagi dirinya sendiri daripada berbuat baik kepada orang lain. Nah, dalam mengajukan permohonan ini,
                (1) Ia sangat menghina para rasul, seolah-olah mereka mata duitan, mau melakukan apa saja demi uang, dan cinta uang sama seperti dia. Padahal dalam kenyataannya mereka sudah meninggalkan apa yang mereka miliki demi Kristus, dan sama sekali tidak mempunyai niat untuk mendapat keuntungan.
                (2) Ia sangat menghina Kekristenan, seolah-olah semua mujizat yang diadakan untuk membuktikan kebenaran iman Kristen itu dilakukan dengan ilmu sihir, hanya saja sifatnya berbeda dari apa yang sebelumnya ia sendiri lakukan.
                (3) Ia menunjukkan bahwa, seperti Bileam, ia bermaksud mendapatkan upah dan penghargaan lewat ilmu sihir. Sebab ia tidak akan menawarkan uang untuk mendapatkan kekuatan ini seandainya ia tidak berharap untuk memperoleh uang lewat ilmu itu.
                (4) Ia menunjukkan bahwa ia memandang dirinya sendiri dengan sangat tinggi, dan sama sekali tidak memiliki kerendahan hati sedikit pun. Orang malang seperti dia, sebelum dibaptis, seharusnya meminta, seperti si anak hilang, untuk dijadikan sebagai seorang upahan saja. Namun, segera setelah diakui dalam keluarga, ia tidak akan puas mendapat tempat yang lebih rendah dari salah satu pengurus rumah, atau jika tidak diberi kekuasaan yang tidak dimiliki oleh Filipus sendiri, tetapi yang hanya dimiliki para rasul.

2. Sudah sewajarnya usulannya ditolak, dan Petrus menegurnya dengan keras untuk itu (ay. Kis 8:20-23).

(1) Petrus memperlihatkan kejahatan apa yang diperbuat Simon (ay. Kis 8:20): Engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. Dengan kejahatan ini,
                    [1] Simon si tukang sihir itu memandang kekayaan dunia ini terlalu tinggi, seolah-olah kekayaan itu bisa untuk apa saja. Juga, seakan-akan, seperti kata Salomo, uang memungkinkan semuanya (KJV: kekayaan memberi jawaban bagi segala sesuatu -” pen.), yang berkaitan dengan kehidupan sekarang ini, maka uang juga akan memberi jawaban bagi segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan di akhirat, dan bisa membeli pengampunan dosa, karunia Roh Kudus, dan kehidupan kekal.
                    [2] Simon memandang rendah karunia Roh Kudus dan menempatkannya sederajat dengan karunia-karunia biasa dari pemeliharaan alam. Ia menyangka bahwa kekuatan seorang rasul juga bisa diperoleh dengan membayar uang yang cukup, sama seperti membayar jasa seorang dokter atau pengacara. Ini sungguh merupakan penghinaan terbesar terhadap Roh anugerah. Segala kebiasaan membeli dan menjual surat pengampunan dan penghapusan dosa di gereja Roma adalah hasil dari sangkaan jahat yang sama ini, bahwa karunia Allah dapat dibeli dengan uang, sementara tawaran anugerah ilahi dengan begitu jelas terjadi tanpa uang dan tanpa harga.

(2) Petrus menunjukkan kepada Simon seperti apa sikap hatinya, yang bisa tampak dari kejahatannya itu. Hanya dari kesalahan yang dikatakan dan dilakukan orang, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa ia munafik ketika mengaku sebagai orang yang beragama. Tetapi kesalahan Simon ini sedemikian mendasar sehingga tidak mungkin orang yang beroleh anugerah melakukannya. Dengan menawarkan uang (dan itu pun didapat dari ilmu sihir), itu menunjukkan bukti yang tidak dapat disanggah bahwa ia masih berada di bawah kuasa pikiran duniawi dan kedagingan, dan masih menjadi manusia duniawi yang tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, dan juga tidak memahaminya. Dan oleh sebab itu, Petrus memberi tahu dia jelas-jelas,
                    [1] Bahwa hatinya tidak lurus di hadapan Allah (ay. Kis 8:21). “Meskipun engkau mengaku percaya, dan dibaptis, namun engkau tidak tulus hati.” Siapa kita ditentukan oleh hati kita. Jika hati kita tidak benar, maka kita salah. Dan hati kita terbuka di hadapan Allah, yang mengetahuinya, menghakiminya, dan menghakimi kita berdasarkan hati kita itu. Bagaimana hati kita di mata Allah, itulah keadaannya yang sebenarnya, sebab Allah tidak dapat ditipu. Dan jika hati kita tidak benar dalam pandangan-Nya, apa pun kepura-puraan kita, maka sia-sialah agama kita, dan tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi kita. Yang harus menjadi perhatian besar kita adalah bagaimana membuat diri kita berkenan kepada-Nya dengan cara hidup jujur, sebab jika tidak demikian maka kita menipu diri kita sendiri, yang akan membawa pada kebinasaan. Sebagian orang menghubungkan masalah ini secara khusus dengan usulan yang diajukan Simon. Apa yang dimintanya tidak diberikan, karena hatinya tidak lurus di hadapan Allah dalam meminta itu. Ia tidak mengusahakan kemuliaan Allah atau kehormatan Kristus dengan usulannya itu, tetapi memanfaatkannya untuk dirinya sendiri. Ia berdoa, tetapi tidak menerima apa-apa, karena ia salah berdoa, sebab yang dia minta itu hendak dihabiskannya untuk memuaskan hawa nafsunya, dan ia ingin tetap dipandang sebagai seorang yang sangat penting.
                    [2] Bahwa hatimu sudah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan: sebab kulihat bahwa engkau begitu (ay. Kis 8:23). Beginilah cara tegas untuk mengurus masalah, dan ketegasan dalam mengurus masalah adalah hal terbaik apabila kita berurusan dengan perkara jiwa dan kehidupan kekal. Simon sudah mendapat nama besar di kalangan orang banyak, dan belakangan ini mendapat nama baik juga di kalangan umat Allah, tetapi Petrus di sini menggambarkannya dengan sifat yang buruk. Perhatikanlah, mungkin saja seseorang tetap berada di bawah kuasa dosa, tetapi ia menunjukkan sikap saleh. Sebab kulihat begitu, ujar Petrus. Bukan melalui karunia roh yang mencerna sifat orang, yang dimiliki Petrus, sehingga ia bisa melihatnya, melainkan terlebih melalui apa yang diungkapkan Simon sendiri dengan usulannya. Perhatikanlah, kedok orang-orang munafik sering kali cepat terbuka. Sifat serigala menunjukkan dirinya sendiri kendati ia berbulu domba. Nah, sifat yang digambarkan untuk Simon di sini benar-benar merupakan sifat semua orang jahat.
                    Pertama, hati mereka seperti empedu yang pahit -” menjijikkan bagi Allah, seperti halnya kita jijik pada apa yang pahit seperti empedu. Dosa adalah hal yang keji, yang dibenci Tuhan, yang karenanya orang-orang berdosa menjadi kekejian di mata-Nya. Dalam kodratnya dosa itu sudah ada sifat kejinya. Dosa yang berdiam dalam diri orang adalah akar kepahitan, yang menghasilkan racun atau ipuh (Ul. 29:18). Kemampuan-kemampuan jiwa menjadi rusak, dan pikiran menjadi pahit terhadap segala sesuatu yang baik (Ibr. 12:15). Itu juga menunjukkan dampak-dampak yang merusak dari dosa. Ujungnya pahit seperti empedu.
                    Kedua, hati mereka terjerat dalam kejahatan. Terjerat dalam penghakiman Allah karena kesalahan dosa, dan terjerat di bawah kuasa Iblis karena kuasa dosa. Hati mereka ditawan oleh kuasa Iblis untuk menuruti kehendaknya, dan ini perbudakan yang berat, seperti perbudakan di Mesir, yang membuat hidup pahit.

(3) Petrus menyatakan kebinasaan Simon dalam dua hal:

[1] Ia akan tenggelam dengan kekayaan duniawinya, yang sangat dihargainya: Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau.

Pertama,
dengan berkata demikian Petrus menolak tawarannya dengan nada yang amat menghina dan marah: “Sangkamu engkau dapat menyuap kami untuk mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepada kami, dan memberikan kuasa yang dipercayakan kepada kami kepada tangan yang tidak layak seperti kamu ini? Enyahlah engkau dan semua uangmu itu. Kami tidak ada sangkut paut apa pun denganmu atau uangmu. Enyahlah Iblis.” Apabila kita digoda dengan uang untuk melakukan kejahatan, kita harus melihat betapa uang itu adalah barang yang dapat binasa, dan jangan mau dibujuk olehnya. Orang jujur akan mengebaskan tangannya supaya jangan ia menerima dan menyentuh suap (Yes. 33:15).

Kedua,
ia memperingatkan Simon bahwa ia akan binasa jika terus berpikiran seperti ini: “Uangmu akan binasa dan engkau akan kehilangan itu, serta segala sesuatu yang dapat engkau beli dengannya. Sama seperti makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan (1Kor. 6:13), demikian pula barang adalah untuk uang dan uang untuk barang, tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah.Kedua-duanya binasa apabila digunakan. Tetapi ini belum yang terburuk. Engkau akan binasa dengan uangmu itu, dan uangmu akan binasa bersama dengan engkau. Dan kehancuranmu akan semakin berat, jiwamu yang binasa semakin berbeban berat, karena engkau sebenarnya mempunyai uang yang semestinya bisa dimanfaatkan untuk maksud baik (Luk. 16:9). Uang itu bisa saja ditaruh di bawah kaki para rasul, sebagai amal, dan akan diterima, tetapi engkau malah menyodorkannya kepada mereka sebagai suap, dan ditolak. Anakku, ingatlah akan hal ini.”

[2] Ia akan kehilangan berkat-berkat rohani yang engkau pandang rendah itu (ay. Kis 8:21): “Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini. Engkau tidak mempunyai urusan apa-apa dengan karunia-karunia Roh Kudus, engkau tidak memahaminya, engkau dikeluarkan darinya, engkau telah menempatkan penghalang di pintumu sendiri. Engkau sendiri tidak dapat menerima Roh kudus, atau kuasa untuk meneruskan Roh Kudus kepada orang lain, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah, jika engkau berpikir bahwa Kekristenan adalah barang dagangan untuk mencari nafkah di dunia ini. Oleh sebab itu, tidak ada bagian atau hakmu dalam kehidupan kekal di dunia lain yang ditawarkan Injil.” Perhatikanlah,

Pertama,
ada banyak orang yang mengaku beragama Kristen, namun tidak memiliki bagian atau hak di dalamnya, tidak memiliki bagian di dalam Kristus (Yoh. 13:8), tidak memiliki bagian di dalam Kanaan sorgawi.

Kedua,
mereka adalah orang-orang yang hatinya tidak lurus di hadapan Allah, tidak digerakkan oleh roh yang benar, atau dibimbing oleh aturan yang benar, atau dipimpin ke tujuan yang benar.

(4) Dia memberinya nasihat yang baik, kendati demikian (ay. Kis 8:22), meskipun marah terhadap Simon, ia tidak meninggalkannya. Dan, walaupun ia ingin agar Simon melihat bahwa masalahnya ini sangat buruk, ia tidak mau Simon berpikir bahwa sudah tidak ada lagi harapan baginya. Sekarang juga masih ada harapan bagi Israel. Amatilah,

[1] Apa yang dinasihatinya untuk Simon: Simon harus melakukan apa yang harus pertama-tama dilakukannya.
                    Pertama, ia harus bertobat. Ia harus melihat kesalahannya dan mencabutnya kembali. Ia harus mengubah pikiran dan jalannya. Ia harus rendah hati dan malu atas apa yang telah diperbuatnya. Pertobatannya harus dilakukan secara terperinci: “Bertobatlah dari perbuatanmu ini, akuilah bahwa engkau bersalah dengan perbuatan ini, dan menyesallah untuk itu.” Ia harus membebani dirinya sendiri karena perbuatan itu, tidak boleh memperlunaknya, dengan menyebutnya sebagai suatu kekeliruan, atau semangat yang salah saluran, tetapi harus memperberatnya dengan menyebutnya sebagai kejahatan, kejahatannya, buah dari kefasikannya sendiri. Orang-orang yang sudah berkata dan berbuat salah harus, sejauh mereka bisa, mencabut dan menariknya kembali dengan pertobatan.
                    Kedua, ia harus berdoa kepada Allah, harus berdoa agar Allah mau membuatnya bertobat, dan mengampuni dosanya setelah ia bertobat. Orang yang bertobat harus berdoa, yang menunjukkan kerinduannya akan Allah, dan akan keyakinan di dalam Kristus. Simon si tukang sihir, sekalipun menganggap dirinya seorang yang sangat penting, tidak akan diundang bersekutu dengan para rasul (betapapun sebagian orang berpikir bahwa itu akan membawa kehormatan bagi mereka) dengan syarat-syarat lain selain yang juga dituntut atas orang-orang berdosa lain, yaitu bertobat dan berdoa.

[2] Bagaimana ia mendorong Simon untuk melakukannya: berdoalah kepada Allah, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini, niat hatimu yang jahat ini. Perhatikanlah,

Pertama,
bisa saja ada banyak kejahatan di dalam niat hati, gagasan-gagasannya yang keliru, perasaan-perasaannya yang kotor, dan rancangan-rancangannya yang fasik, yang darinya kita harus bertobat, atau kalau tidak kita akan binasa.

Kedua,
pikiran hati, meskipun begitu jahat, akan diampuni, apabila kita bertobat, dan tidak dituntut dari kita. Sewaktu Petrus di sini memasukkan kata mungkin (KJV: mungkin saja niat hatimu ini diampuni), ia terlebih ragu pada ketulusan pertobatan Simon, bukan pada pengampunan kepadanya apabila ia bertobat dengan tulus. Supaya niat hatimu ini bisa diampuni, begitu kita bisa membacanya. Atau itu menunjukkan bahwa karena dosanya besar, maka wajar saja jika pengampunan atas dosa itu diragukan, meskipun janji Injil sudah menghapuskan keraguan akan hal itu, kalau memang ia benar-benar bertobat: seperti dalam Ratapan 3:29, mungkin ada harapan.

[3] Permintaan Simon kepada para rasul untuk berdoa baginya (ay. Kis 8:24). Ia tersentak dan cemas oleh perkataan Petrus, karena mendapati bahwa apa yang disangkanya akan diterima dengan tangan terbuka ternyata dibenci sedemikian rupa. Dan ia berseru, hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu. Inilah,

Pertama,
sesuatu yang baik, yaitu bahwa ia mendengar teguran yang diberikan kepadanya, dan takut dengan apa yang digambarkan tentang sifat dia, yang bisa membuat gemetar hati yang paling berani sekalipun. Dan, karena demikian yang akan terjadi, ia memohon agar para rasul berdoa untuknya, sambil berharap mendapat kepentingan di dalam mereka, yang dipercayainya mempunyai kepentingan yang baik di sorga.

Kedua,
ada sesuatu yang kurang. Ia memohon mereka untuk berdoa bagi dia, tetapi ia sendiri tidak berdoa bagi dirinya sendiri, seperti yang semestinya dia lakukan. Dan, dalam menginginkan mereka untuk berdoa bagi dia, yang lebih diperhatikannya adalah agar penghakiman-penghakiman yang akan menimpanya karena kesalahannya sendiri bisa dicegah, dan bukan agar kerusakan-kerusakan sifatnya bisa dimatikan, dan hatinya, oleh anugerah ilahi, diluruskan di hadapan Allah. Seperti Firaun, yang ingin agar Musa memohon kepada Tuhan untuk dia, supaya Ia menyingkirkan kematian ini saja, dan bukan supaya Ia menyingkirkan dosa ini, kekerasan hati ini (Kel. 8:8; 10:17). Sebagian orang berpendapat bahwa Petrus sudah menyatakan penghakiman-penghakiman tertentu melawan dirinya, seperti melawan Ananias dan Safira. Tetapi kemudian itu dicegah, pada saat Simon berserah diri, melalui perantaraan Rasul Petrus. Atau, dari apa yang disampaikan di sini, ia bisa menyimpulkan bahwa suatu tanda murka dari Allah akan jatuh menimpa dia, yang begitu ditakuti dan ingin dihindarinya. Terakhir, di sini para rasul kembali ke Yerusalem, setelah mereka menyelesaikan urusan mereka, sebab sampai saat ini mereka belum tersebar. Tetapi, walaupun mereka datang ke sini untuk melakukan apa yang menjadi pekerjaan rasul, namun, karena kesempatan itu datang dengan sendirinya, mereka mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan semua pelayan Injil.

1. Di sana, di kota Samaria, mereka berkhotbah: Mereka memberitakan firman Tuhan, dengan penuh kesungguhan menegaskan kebenaran Injil, dan meneguhkan apa yang sudah diberitakan oleh hamba-hamba Tuhan yang lain. Mereka tidak berpura-pura membawa sesuatu yang baru, meskipun mereka adalah para rasul, tetapi memberikan kesaksian tentang firman Tuhan sebagaimana mereka sudah menerimanya.

2. Dalam perjalanan mereka pulang, mereka berkhotbah sambil berkeliling. Ketika melewati banyak desa orang Samaria, mereka memberitakan Injil. Meskipun jemaat-jemaat di sana tidak begitu besar seperti jemaat di kota-kota, entah dalam jumlah atau orang ternama, namun jiwa mereka sama berharganya, dan para rasul tidak menganggap rendah mengabarkan Injil kepada mereka. Allah memperhatikan orang-orang-Nya di kampung-kampung di Israel (Hak. 5:11), dan begitu pula seharusnya kita.















NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 19 Januari 2025 - Angka Bangso Marnida Hasintongan dohot Hamuliaon ni Debata - Yesaya 62:1-5


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 5 Januari 2025 - DEBATA NA PALUAHON BANGSONA - Jeremia 31:10-14

All Renungan HKBP 2025
(57)




NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 19 Januari 2025 - Angka Bangso Marnida Hasintongan dohot Hamuliaon ni Debata - Yesaya 62:1-5


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 5 Januari 2025 - DEBATA NA PALUAHON BANGSONA - Jeremia 31:10-14

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de