BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 386 kali
Renungan HKBP 2026
Jamita HKBP Minggu, 25 Oktober 2026 - Mangalului Pangondianan di Goar ni Jahowa (Mencari Perlindungan pada Nama TUHAN) - Zefanya 3:9-15

1. Pembukaan khotbah, 2. Latar belakang nas Zefanya 3:9-15, 3. Isi khotbah, 4. Ilustrasi: Payung yang tidak pernah dibuka, 5. Penerapan praktis bagi jemaat HKBP, 6. Kesimpulan khotbah

Zefanya 3:9-15
9Tetapi kemudian Aku akan mengubah hati bangsa-bangsa itu, sehingga mereka berdoa kepada-Ku saja, dan tidak kepada ilah-ilah lain. Bangsa-bangsa itu semua akan mentaati Aku. 10Bahkan dari Sudan yang jauh, umat-Ku yang tercerai-berai itu akan datang dan mempersembahkan kurban kepada-Ku. 11Pada waktu itu, hai umat-Ku, kamu tak perlu merasa malu lagi karena telah memberontak terhadap Aku. Aku akan mengusir setiap orang yang sombong dan angkuh, dan kamu tidak akan memberontak lagi terhadap Aku di bukit-Ku yang suci. 12Di sana akan Kubiarkan menetap suatu bangsa yang rendah hati, yang mengandalkan pertolongan-Ku. Mereka boleh tinggal di sana. 13Orang Israel yang masih tersisa, tidak akan berbuat jahat lagi kepada siapa pun; mereka tak akan berbohong lagi dan tidak pula menipu. Mereka akan makmur dan sejahtera, dan tidak merasa takut kepada siapa pun.”
Lagu sukacita
14Hai Israel, bersoraklah dan bernyanyi!
Hai Yerusalem, bergembiralah dengan segenap hati!
15Sebab Tuhan berhenti menghukum kamu;
Ia telah mengusir segala musuhmu.

Penjelasan:

1. Pembukaan khotbah

Shalom! Horas ma di hita saluhutna, ale dongan sahuria di bagasan Kristus!

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan karena pada hari Minggu ini, 25 Oktober 2026, kita masih diberikan kesehatan, kesempatan, dan sukacita untuk beribadah di rumah Tuhan.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus!

Saya mau bertanya dahulu. Kalau hujan deras datang, ke mana kita mencari perlindungan?

Ada yang masuk ke rumah. Ada yang berteduh di warung. Ada juga yang mempercepat sepeda motornya, padahal hujan semakin deras. Akhirnya sampai di rumah bukan hanya basah, tetapi juga harus mengeringkan dompet dan surat-surat di dalamnya!

Kalau ada petir, kita mencari tempat aman. Kalau gempa, kita mencari tempat yang lebih aman. Kalau sakit, kita mencari dokter. Kalau uang belanja menipis, ada yang mencari pinjaman. Kalau pinjaman sudah jatuh tempo, kadang-kadang kita justru mencari tempat persembunyian!

Tetapi, saudara-saudari, ketika hati kita takut, dosa membebani kita, dan masa depan terasa tidak pasti, ke mana kita mencari perlindungan?

Firman Tuhan hari ini mengarahkan kita kepada jawaban yang sangat penting: carilah perlindungan pada nama TUHAN.

Bukan berarti kita tidak membutuhkan pertolongan manusia. Tuhan dapat menolong kita melalui keluarga, gereja, tenaga medis, pemerintah, dan sesama. Namun, dasar pengharapan kita bukanlah manusia, kekayaan, jabatan, atau kekuatan sendiri. Dasar pengharapan kita adalah Tuhan yang hidup dan setia.


2. Latar belakang nas Zefanya 3:9-15

Saudara-saudari yang terkasih!

Untuk memahami firman ini, kita perlu mengetahui sedikit latar belakangnya.

Nabi Zefanya menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Yehuda pada masa ketika kehidupan rohani dan moral bangsa itu mengalami kemerosotan. Ada penyembahan berhala, ketidakadilan, kesombongan, dan orang-orang yang tidak lagi sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan.

Mereka mungkin masih mengenal nama Tuhan. Mereka mungkin masih menjalankan kegiatan keagamaan. Namun, kehidupan sehari-hari mereka tidak selalu mencerminkan kehendak Tuhan.

Bukankah keadaan seperti ini juga bisa terjadi sekarang?

Seseorang bisa rajin datang ke gereja, tetapi di rumah selalu membuat pasangannya menangis. Seseorang bisa hafal banyak ayat Alkitab, tetapi ketika berhadapan dengan tetangganya, mulutnya lebih tajam daripada pisau dapur.

Ada pula orang yang suaranya paling keras ketika bernyanyi di gereja, tetapi ketika diminta membantu orang yang kesusahan, suaranya tiba-tiba hilang!

Tentu saja, kita tidak sedang menunjuk orang lain. Firman Tuhan pertama-tama mengajak kita memeriksa diri sendiri.

Apakah iman kita hanya terlihat ketika berada di gereja? Ataukah iman itu juga terlihat ketika kita bekerja, mengurus keluarga, menggunakan uang, berbicara kepada orang lain, dan mengambil keputusan?

Dalam Zefanya 3:9-15, kita melihat perubahan besar. Setelah teguran dan penghukuman, Tuhan menyatakan janji pemulihan. Ia akan memurnikan umat-Nya, menyingkirkan kesombongan, memelihara orang-orang yang rendah hati, dan memberikan sukacita kepada mereka.

Pesan inilah yang menjadi dasar khotbah kita.


3. Isi khotbah

Poin pertama: Perlindungan Tuhan dimulai dengan hati yang diperbarui

Zefanya 3:9 berbicara tentang Tuhan yang memberikan bibir yang bersih kepada bangsa-bangsa supaya mereka dapat menyerukan nama Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan sehati.

Perhatikan baik-baik: Tuhan tidak hanya ingin mengubah keadaan di luar kita. Tuhan juga ingin memperbarui hati dan perkataan kita.

Mengapa perkataan begitu penting?

Karena banyak persoalan keluarga dimulai dari perkataan. Hubungan persaudaraan dapat rusak karena perkataan. Persahabatan dapat hancur karena perkataan. Bahkan, satu kalimat yang diucapkan dalam kemarahan bisa diingat seseorang selama bertahun-tahun.

Ada pepatah sederhana: mulut kita kecil, tetapi masalah yang keluar dari mulut kadang-kadang besar sekali!

Bayangkan seorang suami pulang kerja. Istrinya bertanya, “Bang, bagaimana pekerjaan hari ini?”

Suaminya menjawab, “Capek, Ma. Banyak masalah.”

Istrinya berkata, “Sabar, Bang. Mari kita berdoa.”

Suaminya menjawab, “Jangan dulu, Ma. Aku belum selesai marah!”

Saudara-saudari, tentu ini hanya humor. Tetapi bukankah kita kadang-kadang seperti itu? Kita ingin didoakan, tetapi tidak mau mengampuni. Kita ingin Tuhan mendengarkan doa kita, tetapi kita sendiri tidak mau mendengarkan orang lain.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa mencari perlindungan pada nama Tuhan harus disertai kesediaan untuk berubah.

Kita tidak dapat terus-menerus memelihara kebencian, menyebarkan fitnah, mempermalukan orang lain, lalu berkata, “Yang penting saya rajin berdoa.”

Doa bukan alasan untuk membenarkan perilaku yang salah. Doa seharusnya menolong kita semakin dekat kepada Tuhan dan semakin baik terhadap sesama.

Penerapan bagi jemaat:

  • Sebelum mengucapkan kata-kata kasar, berhentilah sejenak dan pikirkan akibatnya.

  • Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.

  • Belajarlah meminta maaf ketika kita bersalah.

  • Gunakan perkataan untuk menguatkan, bukan menghancurkan.

Di dalam keluarga Batak, kita mengenal pentingnya hormat kepada orang tua, saudara, dan keluarga besar. Namun, penghormatan tidak cukup hanya melalui tutur kata yang sopan di depan umum. Hormat juga harus terlihat dari cara kita memperlakukan keluarga ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Tuhan ingin memperbarui hati kita agar perkataan dan perbuatan kita menjadi kesaksian tentang kasih-Nya.

Poin kedua: Tuhan berkenan kepada orang yang rendah hati

Zefanya 3:11-12 menyatakan bahwa Tuhan akan menyingkirkan kesombongan dari tengah-tengah umat-Nya. Ia akan meninggalkan suatu umat yang rendah hati dan lemah, yang mencari perlindungan pada nama Tuhan.

Inilah bagian penting dari firman hari ini.

Mengapa Tuhan menekankan kerendahan hati?

Karena kesombongan membuat manusia merasa tidak membutuhkan Tuhan. Orang yang sombong menganggap dirinya selalu benar, paling pintar, paling berpengalaman, dan paling berjasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat kesombongan dalam banyak bentuk.

Ada orang yang merasa dirinya hebat karena mempunyai jabatan. Ada yang merasa lebih tinggi karena memiliki banyak uang. Ada yang merasa paling benar karena sudah lama menjadi anggota gereja. Bahkan, ada yang merasa dirinya paling rohani karena paling sering memegang mikrofon!

Saudara-saudari, mikrofon memang dapat memperkeras suara, tetapi tidak otomatis memperbesar iman!

Menjadi orang yang rendah hati bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan. Bukan berarti kita harus membiarkan diri ditindas. Kerendahan hati berarti kita menyadari bahwa semua kemampuan, kesempatan, dan berkat yang kita miliki pada akhirnya berasal dari Tuhan.

Kita boleh menjadi orang pintar, tetapi jangan merendahkan orang yang kurang berpendidikan.

Kita boleh menjadi orang kaya, tetapi jangan menghina orang miskin.

Kita boleh menjadi pemimpin, tetapi jangan memperlakukan bawahan seolah-olah mereka tidak memiliki harga diri.

Kita boleh memiliki banyak pengalaman dalam pelayanan, tetapi jangan menganggap orang yang baru melayani tidak memiliki sesuatu yang dapat dipelajari.

Perhatikan juga bahwa orang yang rendah hati dalam nas ini bukan orang yang pasrah tanpa harapan. Mereka adalah orang-orang yang mencari perlindungan pada nama Tuhan.

Artinya, mereka tidak menjadikan kekuatan sendiri sebagai sandaran terakhir.

Mari kita bayangkan seorang anak kecil yang berjalan bersama ayahnya di tengah hujan. Anak itu tidak memahami semua keadaan. Ia tidak mengetahui kapan hujan berhenti atau bagaimana perjalanan akan berakhir. Namun, ia merasa lebih aman ketika menggenggam tangan ayahnya.

Demikian juga iman kita kepada Tuhan. Kita tidak selalu mengetahui apa yang akan terjadi besok. Kita tidak selalu memahami mengapa masalah tertentu harus kita hadapi. Namun, kita dapat tetap berjalan dengan iman karena kita mengenal Tuhan yang menyertai kita.

Penerapan bagi jemaat:

Ketika menghadapi masalah, jangan hanya berkata, “Saya pasti bisa karena saya kuat.”

Belajarlah berkata, “Tuhan, saya akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Berikanlah hikmat, kekuatan, dan tuntunan-Mu.”

Itulah kerendahan hati yang aktif: tetap bekerja, tetap bertanggung jawab, tetapi tidak melupakan Tuhan.

Poin ketiga: Mencari Tuhan berarti tetap setia di tengah kesulitan

Dalam Zefanya 3:13, umat yang dipulihkan digambarkan sebagai umat yang tidak melakukan kelaliman, tidak berkata dusta, dan tidak memiliki lidah penipu. Mereka akan hidup dengan aman dan tidak lagi mengalami ketakutan seperti sebelumnya.

Ayat ini menunjukkan bahwa perlindungan Tuhan berkaitan dengan kehidupan yang diperbarui.

Tuhan tidak hanya ingin umat-Nya merasa tenang saat beribadah. Ia juga menghendaki kehidupan yang jujur, adil, dan benar.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan!

Kita semua menghadapi kesulitan yang berbeda-beda.

Ada orang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Ada orang tua yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya. Ada yang sedang menghadapi penyakit. Ada yang merasa kesepian meskipun rumahnya ramai. Ada pula yang tersenyum ketika bertemu orang lain, tetapi menangis ketika sendirian.

Dalam keadaan seperti itu, kita membutuhkan penghiburan firman Tuhan.

Namun, kita perlu memahami satu hal: mencari perlindungan pada nama Tuhan bukan berarti orang percaya tidak akan pernah mengalami penderitaan.

Orang Kristen juga dapat sakit. Orang Kristen juga dapat kehilangan pekerjaan. Orang Kristen juga dapat mengalami kesedihan dan kekecewaan.

Perbedaannya bukan bahwa kita selalu bebas dari masalah, melainkan bahwa kita tidak menghadapi masalah sendirian. Kita memiliki Tuhan yang dapat menjadi sumber kekuatan, hikmat, penghiburan, dan pengharapan.

Ada humor kecil yang mungkin dekat dengan kehidupan kita.

Seorang bapak berkata, “Saya sudah menyerahkan semua masalah saya kepada Tuhan.”

Temannya bertanya, “Bagus sekali! Jadi sekarang Bapak tenang?”

Bapak itu menjawab, “Belum. Masalahnya, setiap lima menit saya ambil kembali masalah itu untuk saya pikirkan lagi!”

Kita tertawa, tetapi sering kali itulah kenyataan kita. Kita berdoa menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan, lalu setelah doa selesai, kita kembali memikirkan masalah yang sama tanpa henti.

Tentu saja, kita tetap perlu membuat perencanaan, mencari jalan keluar, dan meminta nasihat yang tepat. Tetapi kekhawatiran tidak boleh mengambil alih seluruh kehidupan kita.

Ketika sudah melakukan apa yang dapat kita lakukan, belajarlah mempercayakan hal-hal yang berada di luar kendali kita kepada Tuhan.

Jangan berbohong hanya karena takut kehilangan keuntungan. Jangan berbuat curang hanya karena ingin cepat berhasil. Jangan mengorbankan keluarga demi mengejar pengakuan manusia.

Lebih baik berjalan perlahan dengan kejujuran daripada berlari cepat dengan kebohongan.

Tuhan memanggil kita untuk hidup benar sekalipun jalan itu tidak selalu mudah.

Poin keempat: Tuhan mengubah ketakutan menjadi sukacita

Saudara-saudari, kita sampai pada Zefanya 3:14-15.

Nabi Zefanya mengajak umat bersorak-sorai dan bersukacita karena Tuhan telah menyingkirkan hukuman dan musuh mereka. Tuhan sendiri hadir sebagai Raja di tengah-tengah umat-Nya.

Bayangkan perubahan suasananya.

Sebelumnya, umat menghadapi teguran, ancaman, dan ketidakpastian. Namun, sekarang mereka dipanggil untuk bersukacita karena Tuhan bertindak memulihkan mereka.

Ini adalah kabar baik: kegagalan manusia bukan akhir dari cerita ketika Tuhan masih bekerja.

Mungkin seseorang pernah melakukan kesalahan besar. Ia menyesal, bertobat, dan ingin memperbaiki hidupnya. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita tidak perlu terus hidup dalam keputusasaan. Kita dipanggil untuk kembali kepada Tuhan dan berjalan dalam pembaruan hidup.

Mungkin sebuah keluarga sedang menghadapi konflik. Firman Tuhan mendorong setiap anggota keluarga untuk merendahkan hati, membuka ruang pengampunan, dan membangun kembali hubungan yang rusak.

Mungkin seseorang sedang menghadapi masa depan yang tidak pasti. Firman Tuhan mengajak kita tetap berharap dan menjalankan tanggung jawab hari ini dengan setia.

Tetapi sukacita yang dimaksud bukanlah jaminan bahwa semua keinginan kita akan terpenuhi persis seperti yang kita minta.

Sukacita Kristen berakar pada keyakinan bahwa Tuhan tetap memegang kendali dan tidak meninggalkan umat-Nya.

Saudara-saudari, ada orang yang mempunyai rumah besar tetapi hatinya tidak tenang. Ada yang mempunyai banyak uang tetapi selalu takut kehilangan semuanya. Ada yang mempunyai jabatan tinggi tetapi tidak bisa tidur karena terus-menerus memikirkan pendapat orang lain.

Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi mampu bersyukur, mengasihi keluarganya, dan menjalani hari dengan damai.

Kekayaan dan kenyamanan bukanlah sesuatu yang salah. Namun, semuanya tidak dapat menggantikan hubungan yang benar dengan Tuhan.

Karena itu, jangan mengukur penyertaan Tuhan hanya dari banyaknya berkat yang terlihat. Belajarlah juga melihat pertolongan-Nya melalui kekuatan untuk bertahan, keberanian untuk berubah, orang-orang yang menghibur kita, dan hikmat untuk mengambil keputusan yang benar.

Ketika Tuhan menjadi perlindungan kita, ketakutan tidak lagi harus menjadi penguasa hidup kita.


4. Ilustrasi: Payung yang tidak pernah dibuka

Saudara-saudari yang terkasih!

Saya ingin memberikan satu ilustrasi sederhana.

Ada seorang bapak yang selalu membawa payung ketika musim hujan. Setiap hari payung itu dimasukkan ke dalam tasnya.

Suatu hari hujan turun dengan deras. Temannya bertanya, “Pak, mengapa Bapak tetap basah? Bukankah Bapak membawa payung?”

Bapak itu menjawab, “Benar, saya membawa payung. Tetapi saya terlalu sibuk mencari tempat berteduh sampai lupa membukanya!”

Tentu ini hanya cerita humor. Namun, bukankah kita kadang-kadang melakukan hal yang serupa dalam kehidupan rohani?

Kita membawa Alkitab, tetapi tidak membaca firman Tuhan.

Kita datang ke gereja, tetapi tidak mau memperbaiki hubungan dengan sesama.

Kita menyanyikan lagu tentang iman, tetapi langsung menyerah ketika menghadapi persoalan.

Kita berkata bahwa Tuhan adalah perlindungan kita, tetapi mengambil semua keputusan tanpa berdoa, tanpa hikmat, dan tanpa mempertimbangkan kehendak-Nya.

Tentu, Alkitab bukan benda ajaib dan nama Tuhan bukan mantra yang menjamin kita terhindar dari segala kesulitan.

Mencari perlindungan pada nama Tuhan berarti mengenal Dia, mempercayai firman-Nya, hidup dalam pertobatan, berdoa, serta bersedia mengikuti kehendak-Nya.

Jangan hanya membawa payung. Bukalah payung itu ketika hujan datang!

Jangan hanya mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan. Hiduplah dalam kepercayaan itu ketika masalah datang.


5. Penerapan praktis bagi jemaat HKBP

Sebelum kita mengakhiri khotbah ini, mari kita membawa firman Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, dalam keluarga.

Jadikan rumah sebagai tempat bertumbuhnya kasih dan pengampunan. Suami dan istri perlu belajar saling mendengarkan. Orang tua perlu membimbing anak dengan kasih. Anak-anak perlu menghormati orang tua. Jika terjadi kesalahpahaman, jangan membiarkan gengsi mengalahkan kasih.

Kadang-kadang, kalimat sederhana seperti “Maafkan aku” dapat membuka pintu perdamaian yang sudah lama tertutup.

Kedua, dalam pekerjaan.

Bekerjalah dengan jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Jangan mencari keuntungan melalui kebohongan atau merugikan orang lain. Keberhasilan yang sejati bukan hanya soal berapa banyak yang kita peroleh, tetapi juga bagaimana kita memperolehnya.

Ketiga, dalam pelayanan gereja.

Jangan menjadikan pelayanan sebagai tempat mencari pujian. Pelayanan adalah kesempatan untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.

Tidak semua orang harus berdiri di depan mimbar. Ada yang melayani melalui musik, kebersihan gereja, kunjungan kepada orang sakit, perhatian kepada orang lanjut usia, atau bantuan kepada keluarga yang sedang mengalami kesulitan.

Yang penting bukan seberapa besar pelayanan kita terlihat, melainkan apakah kita melakukannya dengan kasih dan ketulusan.

Keempat, ketika menghadapi persoalan.

Berdoalah, carilah nasihat yang bijaksana, lakukan tanggung jawab kita, dan jangan takut meminta bantuan ketika diperlukan. Jika menghadapi persoalan kesehatan, carilah pertolongan medis. Jika menghadapi ancaman keselamatan, carilah tempat aman dan bantuan yang tepat.

Iman kepada Tuhan tidak bertentangan dengan tindakan nyata. Justru melalui tindakan yang bertanggung jawab, kita dapat menunjukkan bahwa kita menghargai kehidupan yang diberikan Tuhan.

Kelima, peliharalah pengharapan.

Jangan biarkan satu kegagalan menentukan seluruh masa depan kita. Jangan biarkan satu masalah membuat kita melupakan semua kebaikan Tuhan. Hari ini mungkin kita belum melihat jalan keluar, tetapi kita tetap dapat melangkah dengan setia, satu hari demi satu hari.


6. Kesimpulan khotbah

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus!

Melalui Zefanya 3:9-15, kita belajar bahwa Tuhan memanggil umat-Nya untuk mengalami pembaruan, meninggalkan kesombongan, hidup dalam kerendahan hati, dan menemukan sukacita di dalam penyertaan-Nya.

Mencari perlindungan pada nama Tuhan bukan sekadar mengucapkan nama-Nya ketika kita takut. Itu berarti mempercayai Dia, datang kepada-Nya dalam doa, menerima teguran firman-Nya, bertobat ketika bersalah, dan menjalani kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Jangan hanya mencari Tuhan ketika masalah datang. Carilah Tuhan juga ketika kita sedang sehat, ketika pekerjaan berjalan baik, ketika keluarga berada dalam keadaan damai, dan ketika berkat melimpah.

Jangan hanya berseru kepada Tuhan ketika kita membutuhkan pertolongan. Belajarlah bersyukur dan memuliakan-Nya dalam segala keadaan.

Jika hari ini ada di antara kita yang sedang merasa lemah, datanglah kepada Tuhan.

Jika ada yang sedang menanggung rasa bersalah, bertobatlah dan mintalah pengampunan-Nya.

Jika ada yang sedang menghadapi ketidakpastian, tetaplah berdoa dan lakukan bagian kita dengan setia.

Jika ada yang merasa dirinya hebat dan tidak membutuhkan siapa pun, belajarlah kembali merendahkan hati di hadapan Tuhan.

Ingatlah: kita tidak selalu dapat mengendalikan cuaca kehidupan, tetapi kita dapat tetap berjalan dalam iman kepada Tuhan yang menyertai kita.

Dan kalau hujan turun, kita boleh menggunakan payung. Kalau sakit, kita boleh pergi ke dokter. Kalau ada masalah, kita boleh meminta pertolongan orang lain. Tetapi dalam semuanya itu, jangan pernah melupakan Tuhan sebagai sumber pengharapan kita.

Carilah perlindungan pada nama TUHAN. Rendahkan hati, perbarui hidup, dan bersukacitalah karena Tuhan tetap setia.


7. Doa penutup

Bapa kami yang di surga, Tuhan Allah yang penuh kasih dan setia.

Kami bersyukur atas firman-Mu yang telah kami dengarkan pada hari ini. Terima kasih karena Engkau mengingatkan kami untuk mencari perlindungan pada nama-Mu.

Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih mengandalkan kekuatan sendiri daripada mempercayai Engkau. Ampunilah perkataan kami yang menyakiti orang lain, kesombongan kami, dan sikap kami yang sering melupakan kebaikan-Mu.

Ya Tuhan, perbaruilah hati dan kehidupan kami. Ajarlah kami menjadi pribadi yang rendah hati, jujur, penuh kasih, dan setia dalam menjalankan tanggung jawab.

Lindungilah keluarga-keluarga kami. Kuatkanlah mereka yang sedang sakit, hiburlah mereka yang berduka, berikanlah pengharapan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan, dan bukakanlah jalan bagi mereka yang sedang mencari pertolongan.

Berkatilah gereja-Mu, para pelayan, para penatua, para diaken, serta seluruh jemaat. Kiranya kehidupan kami menjadi kesaksian tentang kasih dan kebaikan-Mu.

Ajarlah kami untuk tidak hanya mendengar firman-Mu, tetapi juga melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan senang maupun susah, mampukanlah kami tetap percaya kepada-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami, kami berdoa dan mengucap syukur.

Amin.













PREV:
Jamita HKBP Minggu, 18 Oktober 2026 - DEBATA DO MANJOU JALA MAMILLIT HAMU (DIPANGGIL DAN DIPILIH ALLAH) - 2 Petrus 1:3-10

All Renungan HKBP 2026
(45)



PREV:
Jamita HKBP Minggu, 18 Oktober 2026 - DEBATA DO MANJOU JALA MAMILLIT HAMU (DIPANGGIL DAN DIPILIH ALLAH) - 2 Petrus 1:3-10

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de