BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 1345 kali
Renungan HKBP 2026
Jamita HKBP Minggu, 16 Agustus 2026 - RADOTI UHUM, ULAHON HATIGORAN (TAATI HUKUM DAN TEGAKKAN KEADILAN) - Yesaya 56:1-8

1. TUHAN MEMANGGIL UMAT-NYA UNTUK TAAT HUKUM, 2. HUKUM BUKAN UNTUK DITAKUTI, TETAPI UNTUK MENJAGA KEHIDUPAN, 3. YESAYA 56: KESELAMATAN TUHAN TERKAIT DENGAN KEADILAN,

Yesaya 56:1-8
Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat. Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: ”Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya”; dan janganlah orang kebiri berkata: ”Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering.” Sebab beginilah firman TUHAN: ”Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama -- itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan --, suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka. Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. Demikianlah firman Tuhan ALLAH yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang: Aku akan menghimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tambahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun.”

Baca Juga:


Penjelasan:

Horas, horas, horas!

Salam sejahtera bagi kita semua.

Jemaat Tuhan yang dikasihi Yesus Kristus,

Besok kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus. Hari ini kita beribadah dengan suasana yang sangat dekat dengan semangat kemerdekaan: tentang hukum, keadilan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama.

Kalau bicara kemerdekaan, kita biasanya langsung ingat:
“Indonesia merdeka!”

Tetapi pertanyaannya:
Apakah orang yang merdeka boleh melakukan apa saja?

Tidak!

Kemerdekaan bukan berarti bebas mencuri.
Kemerdekaan bukan berarti bebas menipu.
Kemerdekaan bukan berarti bebas merusak lingkungan.
Kemerdekaan bukan berarti bebas mengambil hak orang lain.
Kemerdekaan justru berarti kita mempunyai tanggung jawab untuk menggunakan kebebasan dengan benar.

Itulah sebabnya firman Tuhan hari ini sangat tepat:
“Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan.”

Bukan hanya “taatilah hukum”.

Tetapi juga:
“Tegakkanlah keadilan.”

Karena hukum tanpa keadilan bisa menjadi alat kekuasaan.

Sebaliknya, keadilan tanpa aturan bisa berubah menjadi kekacauan.

Maka Tuhan menghendaki keduanya berjalan bersama.

1. TUHAN MEMANGGIL UMAT-NYA UNTUK TAAT HUKUM

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Yesaya 56 berbicara kepada umat Tuhan yang sedang mengalami perubahan besar.

Mereka sedang diarahkan untuk memahami bahwa kehidupan sebagai umat Allah bukan hanya soal ibadah di Bait Allah.

Bukan hanya soal menyanyi.
Bukan hanya soal berdoa.
Bukan hanya soal memberi persembahan.

Tetapi kehidupan iman harus terlihat dalam cara manusia memperlakukan manusia lainnya.

Karena itu Tuhan berkata:
“Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan.”

Artinya sederhana:
Iman harus menghasilkan kehidupan yang benar.

Kalau hari Minggu kita menyanyi:
“Jesus love me…”

Tetapi Senin kita menipu orang,

ada yang tidak beres.

Kalau hari Minggu kita berkata:
“Puji Tuhan!”

Tetapi Senin kita korupsi,
ada yang harus diperbaiki.

Kalau di gereja kita berkata:
“Kasihilah sesamamu manusia,”
tetapi di luar gereja kita menginjak orang kecil,

berarti khotbahnya masuk telinga, tetapi belum turun ke hati.

Ada orang yang rajin ke gereja tetapi kalau parkir mobil, dia berkata:
“Yang penting mobil saya masuk dulu. Orang lain belakangan.”

Lae, itu bukan iman. Itu namanya iman parkir sembarangan!

hmmm

Tetapi sebenarnya ini serius.

Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan di dalam gereja.

Tuhan melihat bagaimana kita hidup di tengah masyarakat.

2. HUKUM BUKAN UNTUK DITAKUTI, TETAPI UNTUK MENJAGA KEHIDUPAN


Ada orang kalau mendengar kata “hukum”, langsung takut.

“Hukum? Wah, jangan-jangan saya diperiksa!”

Padahal hukum yang baik seharusnya membuat orang yang benar merasa aman dan membuat orang yang melakukan kejahatan tidak merasa bebas.

Hukum seharusnya menjadi pagar kehidupan.

Misalnya ada lampu merah.

Kenapa kita berhenti?

Karena ada aturan.

Kalau semua orang berkata:
“Saya bebas! Saya merdeka!”

Lalu semua menerobos lampu merah,
apa yang terjadi?

Bukan kemerdekaan.

Tabrakan nasional!

Jadi, aturan bukan musuh kebebasan.

Aturan yang adil justru melindungi kebebasan.

Begitu juga dalam kehidupan bernegara.

Kita membutuhkan hukum.

Tetapi firman Tuhan tidak berhenti pada hukum.

Tuhan berkata:
“Taatilah hukum DAN tegakkanlah keadilan.”

Artinya hukum harus ditegakkan secara adil.

Tidak boleh hukum hanya tajam kepada yang lemah tetapi tumpul kepada yang kuat.

Tidak boleh orang miskin begitu mudah dihukum, sementara orang kaya bisa mencari jalan keluar.

Tidak boleh hukum menjadi alat untuk kepentingan kelompok tertentu.

Karena di hadapan Tuhan:
orang kaya dan orang miskin sama-sama manusia.

Pejabat dan rakyat sama-sama manusia.

Pengusaha dan pekerja sama-sama manusia.

Orang Batak dan bukan Batak sama-sama manusia.

Orang yang punya jabatan dan orang yang tidak punya jabatan sama-sama ciptaan Tuhan.

3. YESAYA 56: KESELAMATAN TUHAN TERKAIT DENGAN KEADILAN

Menarik sekali bahwa setelah mengatakan:
“Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan,”

Tuhan berkata:
“Sebab sebentar lagi keselamatan yang dari pada-Ku akan datang.”

Ini penting.

Tuhan menghubungkan keselamatan dengan keadilan.

Bukan berarti manusia diselamatkan karena melakukan keadilan.

Kita diselamatkan karena kasih karunia Tuhan.

Tetapi orang yang sudah mengalami keselamatan dari Tuhan seharusnya menghasilkan kehidupan yang adil.

Jadi jangan kita berkata:
“Yang penting saya sudah percaya kepada Yesus.”

Lalu setelah itu:
“Urusan orang lain bukan urusan saya.”

Tidak!

Kalau Kristus tinggal dalam hati kita, kehidupan kita harus mulai berubah.

Orang yang menerima kasih Tuhan akan belajar mengasihi.
Orang yang menerima pengampunan akan belajar mengampuni.
Orang yang menerima keadilan Tuhan akan belajar berlaku adil.
Orang yang menerima pemeliharaan Tuhan akan belajar memelihara ciptaan Tuhan.

4. TUHAN MEMBUKA PINTU BAGI SEMUA ORANG

Bagian kedua dari Yesaya 56 sangat luar biasa.

Tuhan berbicara tentang orang asing dan kelompok yang pada masa itu sering dianggap berada di luar.

Namun Tuhan berkata bahwa mereka yang datang kepada-Nya, memegang perjanjian-Nya dan melakukan kehendak-Nya akan diterima.

Kemudian ada kalimat yang sangat terkenal:

“Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”

Perhatikan:
bagi segala bangsa.

Bukan hanya untuk satu kelompok.
Bukan hanya untuk orang yang kita sukai.
Bukan hanya untuk orang yang memiliki latar belakang yang sama.

Tuhan adalah Allah yang membuka pintu.

Ini berarti gereja tidak boleh menjadi tempat yang membuat orang merasa:
“Ah, saya bukan bagian dari mereka.”

Gereja harus menjadi rumah yang berkata:
“Mari datang. Mari bertumbuh. Mari bersama-sama mengenal kasih Kristus.”

HKBP dipanggil bukan hanya untuk melayani warga HKBP.
HKBP dipanggil untuk menjadi berkat bagi masyarakat.

Karena itu gereja harus hadir ketika masyarakat mengalami ketidakadilan.

Gereja harus hadir ketika orang kecil kehilangan suara.
Gereja harus hadir ketika lingkungan rusak.
Gereja harus hadir ketika keluarga menderita.
Gereja harus hadir ketika masyarakat membutuhkan pengharapan.

5. KEADILAN BUKAN HANYA TENTANG MANUSIA, TETAPI JUGA TENTANG ALAM

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Di sinilah firman Yesaya 56 menjadi sangat relevan dengan keadaan kita sekarang.

Kita melihat perhatian HKBP terhadap persoalan ekologi.

Baru-baru ini Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, mengapresiasi langkah Kejaksaan Agung dalam mengusut dugaan tindak pidana korupsi dan dugaan kejahatan korporasi yang berkaitan dengan PT Toba Pulp Lestari (TPL). Beliau mendorong agar proses hukum berjalan profesional, tegas, objektif, transparan, dan berkeadilan serta tidak berhenti di tengah jalan.

Kita harus berhati-hati:
dugaan tetaplah dugaan sampai proses hukum membuktikan dan memutuskan secara sah.

Tetapi justru di sinilah firman Tuhan berbicara:
“Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan.”

Artinya kita tidak boleh menghakimi sebelum proses hukum selesai.

Tetapi kita juga tidak boleh mengatakan:

“Ah, biarkan saja.”

Tidak!

Kalau ada dugaan pelanggaran hukum, harus diperiksa.
Kalau ada kesalahan, harus dipertanggungjawabkan.
Kalau ada korban, mereka harus mendapatkan perhatian.
Kalau alam mengalami kerusakan, harus ada pemulihan.
Kalau masyarakat kehilangan sumber kehidupan, harus ada jalan keluar yang adil.

Inilah makna keadilan yang lebih luas.

6. “JANGAN MASUK ANGIN” DALAM MENEGAKKAN KEADILAN

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Ada ungkapan yang menarik dalam berita tersebut:

jangan sampai kasusnya “masuk angin”.

Kita tahu maksudnya.

Awalnya ramai.

Awalnya diperiksa.

Awalnya banyak berita.

Awalnya banyak pernyataan.

Tetapi kemudian...

diam.

Lalu hilang.

Lalu masyarakat lupa.

Nah, Tuhan tidak menghendaki keadilan seperti itu.

Keadilan tidak boleh masuk angin!

Kalau sedikit angin langsung:

“Sudahlah, nanti saja.”

Kalau ada tekanan:

“Wah, jangan diteruskan.”

Kalau ada kepentingan:
“Coba kita kompromi.”

Kalau yang terlibat orang kuat:
“Jangan terlalu keras.”

Tidak boleh!

Karena keadilan Tuhan tidak mengenal:

“orang kuat” dan “orang lemah”.

Yang benar tetap benar.

Yang salah tetap salah.

Yang harus diperbaiki harus diperbaiki.

7. KEADILAN JUGA BERARTI MEMULIHKAN ALAM

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Ada satu hal penting lagi.

Keadilan bukan hanya:

“Siapa yang salah harus dihukum.”

Keadilan juga bertanya:

“Bagaimana kehidupan yang rusak dapat dipulihkan?”

Kalau sungai tercemar, sungai harus dipulihkan.
Kalau hutan rusak, hutan harus dipulihkan.
Kalau tanah rusak, tanah harus dipulihkan.
Kalau masyarakat kehilangan sumber penghidupan, kehidupan mereka harus dipulihkan.
Kalau anak-anak kita kehilangan lingkungan yang sehat, masa depan mereka harus dipulihkan.

Inilah sebabnya gerakan ekologis HKBP sangat penting.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mendukung gerakan penghijauan HKBP, termasuk penyaluran 20 ribu bibit pohon kepada kelompok tani dan komunitas masyarakat di Tapanuli Raya. Bibit tersebut antara lain mangga, durian, petai, jengkol, kemiri dan mahoni. Puncak kegiatan Minggu Ekologi HKBP tahun ini direncanakan pada 27 September 2026 di Pandan, Tapanuli Tengah.

Coba bayangkan:

20 ribu bibit pohon!

Kalau ditanam dengan sungguh-sungguh, itu bukan sekadar kegiatan seremonial.

Itu adalah kesaksian iman.

Karena ketika kita menanam pohon hari ini, kita sedang berkata kepada anak cucu:

“Kami memikirkan kehidupan kalian.”

Itulah keadilan antargenerasi.

Kita tidak boleh menghabiskan semuanya hari ini lalu meninggalkan kerusakan untuk anak cucu.

Jangan sampai kita berkata:

“Yang penting saya sudah kaya.”

Anak cucu nanti:

“Opung, kenapa hutan habis?”

Opung menjawab:

“Entahlah, waktu Opung muda sudah begitu.”

Jangan begitu!

Iman Kristen mengajarkan:

bumi ini bukan milik kita.

Bumi adalah ciptaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita.

8. MENEGAKKAN KEADILAN DIMULAI DARI RUMAH

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Kadang-kadang kita terlalu jauh berpikir tentang keadilan.

Kita bicara:
“Pemerintah harus adil.”
“Penegak hukum harus adil.”
“Pengusaha harus adil.”
“Negara harus adil.”

Benar.

Tetapi Tuhan juga bertanya:
“Bagaimana dengan kamu?”
Apakah bapak adil kepada istrinya?
Apakah ibu adil kepada anak-anaknya?
Apakah orang tua memperlakukan semua anak dengan adil?
Apakah anak-anak menghormati orang tua?
Apakah kita membayar upah pekerja dengan layak?
Apakah kita jujur dalam berdagang?
Apakah kita jujur dalam pekerjaan?
Apakah kita mengembalikan barang yang bukan milik kita?
Apakah kita membayar utang?
Apakah kita tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita?

Itulah keadilan sehari-hari.

Kadang-kadang kita ingin dunia berubah.

Tetapi Tuhan berkata:
“Mulailah dari dirimu sendiri.”

Jangan menuntut orang lain jujur kalau kita sendiri tidak jujur.
Jangan menuntut pemerintah bersih kalau kita sendiri masih suka mencari jalan belakang.
Jangan menuntut keadilan kalau kita sendiri tidak mau berlaku adil.

9. TAAT HUKUM BUKAN BERARTI TAKUT KEPADA MANUSIA

Sebagai orang Kristen, kita taat kepada hukum negara selama hukum itu tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Tetapi dasar ketaatan kita bukan semata-mata karena takut dihukum.

Dasarnya adalah:

kita menghormati Tuhan.

Kalau tidak ada polisi, apakah kita tetap berhenti di lampu merah?
Kalau tidak ada kamera CCTV, apakah kita tetap jujur?
Kalau tidak ada orang melihat, apakah kita tetap melakukan yang benar?

Nah!

Di situlah kualitas iman diuji.

Ada orang baik karena takut kamera.

Begitu kamera hilang, karakternya ikut hilang.

Ada orang jujur karena takut ketahuan.

Begitu tidak ada yang melihat, kejujurannya pergi makan dulu.

Tetapi orang Kristen dipanggil untuk berkata:

“Walaupun tidak ada manusia yang melihat, Tuhan melihat.”

Itulah integritas.

10. BERITA TENTANG SINTUA DI LAPAS: MELAYANI SEMUA ORANG

Ada juga berita yang menarik dari lingkungan HKBP.

Dua petugas Lapas Labuhan Bilik, Lenardo Deyos Simorangkir dan Adi S. Manuppak Marbun, ditahbiskan menjadi Sintua HKBP dan dipanggil untuk mengayomi jemaat sekaligus warga binaan.

Ini memberikan gambaran yang sangat indah.

Karena pelayanan gereja tidak berhenti di pintu gereja.

Bahkan di balik tembok lembaga pemasyarakatan pun ada manusia yang membutuhkan pengharapan.

Orang yang sedang menjalani hukuman tetap manusia.

Kesalahannya harus dipertanggungjawabkan.

Hukumnya harus dijalani.

Tetapi martabat manusianya tidak boleh dihancurkan.

Ini sejalan dengan semangat Yesaya 56:

Tuhan membuka pintu bagi manusia yang datang kepada-Nya.

Keadilan dan kasih harus berjalan bersama.

Keadilan berkata:

“Kesalahan harus dipertanggungjawabkan.”

Kasih berkata:

“Orang yang bersalah masih bisa dipulihkan.”

Itulah Injil.

11. GEREJA TIDAK BOLEH HANYA PANDAI BERKHOTBAH


Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Ada gereja yang sangat kuat dalam kata-kata.

Spanduknya besar.

Khotbahnya panjang.

Doanya panjang.

Tetapi setelah ibadah selesai:

sampah berserakan!

hmm.

Pendeta berkata:
“Saudara, mari menjaga lingkungan!”

Jemaat:
“Amin!”

Begitu keluar gereja:

“Mana tempat sampah?”

Tidak ada.

Lalu:
“Ya sudah, taruh di bawah pohon.”

hmm

Kita jangan begitu.

Gereja harus menjadi teladan.

Kalau bicara keadilan, gereja harus adil.

Kalau bicara lingkungan, gereja harus menjaga lingkungan.

Kalau bicara kasih, gereja harus mengasihi.

Kalau bicara kejujuran, gereja harus jujur.

Kalau bicara pelayanan, gereja harus melayani.

Karena masyarakat bukan hanya mendengar khotbah kita.

Masyarakat melihat kehidupan kita.

12. INDONESIA MERDEKA, TETAPI PERJUANGAN BELUM SELESAI


Besok, 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan Indonesia.

Kita mengenang perjuangan para pahlawan.

Mereka berjuang agar bangsa ini bebas dari penjajahan.

Tetapi setelah kemerdekaan, perjuangan tidak selesai.

Kita masih harus berjuang melawan:
korupsi,
ketidakjujuran,
kemiskinan,
ketidakadilan,
diskriminasi,
kerusakan lingkungan,
penyalahgunaan kekuasaan,
dan sikap egois.

Kemerdekaan harus menghasilkan masyarakat yang semakin adil.

Karena itu kita sebagai orang Kristen tidak boleh hanya berkata:

“Dirgahayu Republik Indonesia!”

Tetapi kita juga harus bertanya:

“Apa yang saya lakukan untuk membuat Indonesia semakin baik?”

Mulailah dari hal kecil.

Jujur dalam pekerjaan.

Tidak menyuap.

Tidak menerima sesuatu yang bukan hak kita.

Tidak merusak lingkungan.

Tidak membuang sampah sembarangan.

Menghormati hukum.

Menghormati orang lain.

Membela mereka yang lemah.

Mendidik anak-anak dalam kejujuran.

Itulah nasionalisme yang nyata.

13. TIGA PESAN TUHAN UNTUK KITA


Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Dari Yesaya 56:1-8, kita dapat membawa pulang tiga pesan.

Pertama: TAATI HUKUM

Jangan menjadi orang yang hanya taat kalau ada yang melihat.

Jadilah orang yang taat karena takut dan hormat kepada Tuhan.

Taat dalam keluarga.
Taat dalam pekerjaan.
Taat dalam masyarakat.
Taat dalam kehidupan bernegara.

Kedua: TEGAKKAN KEADILAN

Jangan hanya meminta keadilan untuk diri sendiri.

Belajarlah memberikan keadilan kepada orang lain.

Jangan hanya berkata:

“Kenapa saya tidak mendapatkan hak saya?”

Tetapi tanyakan juga:

“Apakah saya sudah memberikan hak orang lain?”

Itu pertanyaan yang lebih sulit.

Ketiga: RAWAT CIPTAAN TUHAN

Alam bukan tempat sampah kita.

Hutan bukan sekadar sumber keuntungan.

Sungai bukan saluran pembuangan.

Tanah bukan sesuatu yang boleh dirusak sesuka hati.

Alam adalah ciptaan Tuhan.

Karena itu memperjuangkan pemulihan ekologi adalah bagian dari tanggung jawab iman.

14. YESUS ADALAH TELADAN KEADILAN DAN KASIH

Jemaat Tuhan,

Pada akhirnya kita melihat kepada Yesus.

Yesus tidak datang untuk menghancurkan manusia.

Yesus datang untuk menyelamatkan manusia.

Yesus tidak membenarkan dosa.

Tetapi Yesus juga tidak membuang orang berdosa.

Yesus mengampuni, tetapi juga berkata:

“Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.”

Di situlah kita menemukan keseimbangan:

kasih dan kebenaran.

pengampunan dan pertobatan.

keadilan dan pemulihan.

Itulah yang harus menjadi karakter gereja.

Kita tidak boleh menjadi gereja yang hanya menghukum.

Tetapi kita juga tidak boleh menjadi gereja yang menganggap semua kesalahan tidak masalah.

Kasih tanpa kebenaran menjadi permisif.

Kebenaran tanpa kasih menjadi kejam.

Tetapi dalam Kristus:

kebenaran dan kasih berjalan bersama.

PENUTUP: JANGAN BIARKAN KEADILAN “MASUK ANGIN”

Jemaat HKBP yang dikasihi Tuhan,

Firman Tuhan hari ini sangat sederhana:

“Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan.”

Kalimat pendek.
Tetapi kalau dilakukan sungguh-sungguh, dampaknya luar biasa.

Bayangkan kalau keluarga-keluarga Kristen hidup jujur.
Bayangkan kalau para pekerja bekerja dengan integritas.
Bayangkan kalau pengusaha menjalankan usaha dengan bertanggung jawab.
Bayangkan kalau pejabat menggunakan jabatan untuk melayani, bukan memperkaya diri.
Bayangkan kalau penegak hukum menegakkan hukum dengan objektif.
Bayangkan kalau gereja berdiri bersama korban ketidakadilan.
Bayangkan kalau hutan dijaga.
Sungai dipulihkan.
Tanah dirawat.
Anak cucu kita diberi lingkungan yang sehat.

Bukankah itu gambaran masyarakat yang lebih dekat dengan kehendak Tuhan?

Karena itu, saudara-saudara:

Jangan biarkan iman kita masuk angin.
Jangan biarkan keadilan masuk angin.
Jangan biarkan hukum masuk angin.
Jangan biarkan kepedulian terhadap alam masuk angin.

Hari ini semangat.
Besok semangat.
Lusa hilang.

Tidak!

Iman harus konsisten.
Keadilan harus konsisten.
Kebenaran harus konsisten.
Kasih harus konsisten.

Dan sebagai warga HKBP serta warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, marilah kita menjadi manusia yang:

taat hukum,
jujur dalam kehidupan,
berani menegakkan keadilan,
membela yang lemah,
menghormati proses hukum,
merawat lingkungan,

dan terutama:

setia kepada Tuhan.

Sebab kemerdekaan yang sejati bukanlah bebas melakukan apa saja.

Kemerdekaan sejati adalah kemampuan menggunakan kebebasan untuk melakukan yang benar.

Mari kita memasuki perayaan 17 Agustus dengan satu tekad:

“Tuhan, jadikan kami umat yang taat hukum, teguh dalam kebenaran, berani menegakkan keadilan, dan setia merawat ciptaan-Mu.”

Dan kalau ada yang bertanya:

“Apa hubungan iman Kristen dengan keadilan?”

Jawabannya:

Sangat erat.

Karena Tuhan sendiri berkata:

“Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan.”

Dan kalau ada yang bertanya:

“Dari mana kita mulai?”

Jawabannya:

Mulai dari diri sendiri.

Mulai dari rumah.

Mulai dari pekerjaan.

Mulai dari gereja.

Mulai dari lingkungan kita.

Jangan menunggu orang lain berubah.

Kita mulai terlebih dahulu.

Horas!

Merdeka!

Dan yang paling penting:

Merdeka untuk melakukan yang benar di hadapan Tuhan!

DOA PENUTUP

Ya Tuhan Allah Bapa kami yang penuh kasih,

Kami bersyukur untuk firman-Mu yang mengingatkan kami agar menaati hukum dan menegakkan keadilan.

Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih mudah menuntut keadilan daripada memberikan keadilan.

Ampunilah kami apabila kami lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada memperbaiki kesalahan kami sendiri.

Ajarlah kami menjadi orang Kristen yang jujur, berintegritas, dan bertanggung jawab.

Tuhan, kami berdoa untuk bangsa dan negara kami Indonesia.

Berkatilah para pemimpin bangsa, para penegak hukum, para hakim, jaksa, polisi, aparatur negara, pengusaha, pekerja, dan seluruh masyarakat.

Berikanlah kepada mereka hikmat dan keberanian untuk menjalankan tugas dengan jujur dan adil.

Jauhkan bangsa kami dari korupsi, keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan dan segala bentuk ketidakadilan.

Tuhan, kami juga berdoa bagi Tapanuli Raya dan seluruh wilayah Indonesia.

Pulihkanlah alam yang telah rusak.
Pulihkanlah hutan.
Pulihkanlah sungai.
Pulihkanlah tanah.
Pulihkanlah kehidupan masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan dan bencana ekologis.
Berkatilah setiap usaha gereja untuk menghijaukan kembali bumi dan menjaga keutuhan ciptaan-Mu.

Kami juga berdoa agar setiap proses hukum yang sedang berjalan dapat berlangsung secara profesional, objektif, transparan, dan berkeadilan. Jauhkanlah semua pihak dari tekanan, kepentingan pribadi, dan tindakan yang menghalangi kebenaran.

Tuhan, jadikan HKBP gereja yang bukan hanya pandai berbicara tentang kasih, tetapi sungguh-sungguh menghadirkan kasih.

Bukan hanya berbicara tentang keadilan, tetapi berani menegakkan keadilan.

Bukan hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi sungguh-sungguh merawat ciptaan-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Raja Gereja dan Juruselamat kami, kami berdoa dan mengucap syukur.

Amin.
















NEXT:
Jamita HKBP Minggu 23 Agustus 2026 - Togu Marsitiopan Tu Hatigoran (Saling Menopang Menuju Kebenaran) - Efesus 4:7-16


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 9 Agustus 2026 - Pos ma Rohamuna, Unang Mabiar (Tenanglah, Jangan Takut) - Matius 14:22-33

All Renungan HKBP 2026
(45)




NEXT:
Jamita HKBP Minggu 23 Agustus 2026 - Togu Marsitiopan Tu Hatigoran (Saling Menopang Menuju Kebenaran) - Efesus 4:7-16


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 9 Agustus 2026 - Pos ma Rohamuna, Unang Mabiar (Tenanglah, Jangan Takut) - Matius 14:22-33

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de