BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 3405 kali
Minggu, 24 September 2023
XVI DUNG TRINITATIS

Ev. Kejadian 8:15-22
Ep. Filipi 1:20-21

DIPASUANG JAHOWA HINADENGGAN NI NGOLU NI JOLMA I (TUHAN MEMULIHKAN KEHIDUPAN UMATNYA)

Ev. Kejadian 8:15-22
8:15 Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: 8:16 "Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; 8:17 segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi." 8:18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. 8:19 Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu. 8:20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. 8:21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. 8:22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."

Penjelasan:
* Nuh Keluar dari Bahtera (Kejadian 8:15-19)
Di sini,
I. Nuh keluar dari bahtera (ay. 15-17). Amatilah,
1. Nuh tetap bergeming sebelum Allah menyuruhnya. Seperti halnya ia diberi perintah untuk masuk ke dalam bahtera (7:1), demikian pula, betapa pun ia merasa bosan dikurung, ia mau menunggu perintah untuk keluar darinya lagi. Perhatikanlah, kita harus mengakui Allah dalam segala jalan kita, dan menempatkan-Nya di hadapan kita dalam segala langkah kita. Yang berada dalam perlindungan Allah hanyalah mereka yang mengikuti petunjuk Allah dan tunduk pada pemerintahan-Nya. Orang-orang yang dengan mantap berpegang pada firman Allah sebagai pedoman mereka, dan dibimbing oleh anugerah-Nya sebagai asas mereka, dan memperhatikan petunjuk-petunjuk dari pemeliharaan-Nya untuk membantu mereka menerapkan petunjuk-petunjuk umum terhadap persoalan-persoalan khusus, maka mereka di dalam iman bisa melihat-Nya membimbing langkah-langkah mereka dalam melalui padang gurun ini.
2. Meskipun Allah menahannya untuk waktu yang lama, pada akhirnya Ia melepaskannya. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya, dan pada kesudahannya ia akan berbicara, berbicara kebenaran (Hab. 2:3), dengan tidak menipu.
3. Allah telah berkata, masuklah ke dalam bahtera, dan Ia tidak berkata pergilah, tetapi masuklah, yang menunjukkan bahwa Allah, yang masuk bersama-sama dengan dia, tinggal bersamanya selama ini, sampai Ia menyuruhnya untuk keluar dengan aman. Sebab Ia sudah berkata, Aku tidak akan meninggalkan engkau.
4. Sebagian orang mengamati bahwa, ketika mereka disuruh masuk ke dalam bahtera, yang laki-laki dan perempuan disebutkan secara terpisah ( Kejadian 6:18): Engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu. Dari sini mereka menyimpulkan bahwa, selama masa berkabung, mereka dan isteri mereka tinggal secara terpisah (Za. 12:12). Tetapi sekarang Allah seolah-olah menikahkan mereka kembali, dengan menyuruh Nuh dan isterinya keluar secara bersama-sama, dan anak-anaknya serta isteri-isteri mereka secara bersama-sama, agar mereka bisa beranak cucu dan bertambah banyak.
5. Nuh diperintah untuk membawa keluar binatang-binatang bersamanya, agar setelah memberi mereka makan sedemikian lama, dan sudah begitu bersusah payah merawat mereka, ia bisa mendapat kehormatan untuk memimpin mereka di dalam pasukan, dan menerima penghormatan dari mereka.
II. Nuh keluar setelah mendapat izin. Seperti halnya ia tidak mau keluar tanpa izin, demikian pula ia tidak mau, karena takut atau karena ingin bermain-main, tetap tinggal di dalam setelah ia diberi izin untuk keluar. Dalam segala hal ia patuh terhadap penglihatan sorgawi itu. Meskipun sekarang ia sudah satu tahun dan sepuluh hari penuh berada di dalam bahtera sebagai tawanan, namun ketika ia mendapati dirinya dipertahankan hidup di sana, bukan hanya untuk kehidupan yang baru, melainkan juga untuk sebuah dunia yang baru, ia tidak melihat alasan untuk mengeluhkan penahanannya yang lama. Sekarang amatilah,
1. Nuh dan keluarganya keluar hidup-hidup, meskipun salah seorang dari mereka adalah Ham yang jahat, yang, meskipun terluput dari air bah, bisa saja dilenyapkan oleh keadilan Allah dengan suatu hantaman lain. Tetapi mereka semua hidup. Perhatikanlah, apabila keluarga-keluarga sudah lama bersama-sama, dan tidak ada perpecahan di antara mereka, maka hal itu harus dipandang sebagai kebaikan yang istimewa, dan itu karena belas kasihan Tuhan.
2. Nuh membawa keluar semua makhluk yang masuk bersama-sama dengan dia, kecuali burung gagak dan burung merpati, yang ada kemungkinan, segera menemui pasangan mereka begitu mereka keluar. Nuh dapat memberikan pertanggungjawaban yang sangat baik atas tugasnya. Sebab dari semua yang diserahkan kepadanya, ia tidak kehilangan satu pun dari antara mereka. Ia tetap setia kepada Dia yang sudah mengangkatnya untuk tugas itu, pro hac vice — untuk kesempatan ini, sebagai bendahara agung untuk keluarganya.

* Korban Nuh (Kejadian 8:20-22)
Inilah,
I. Ungkapan syukur Nuh atas kebaikan Allah kepadanya, yang melengkapi belas kasihan bagi pembebasannya (ay. 20).
1. Ia mendirikan mezbah. Sampai saat ini ia tidak berbuat apa pun tanpa petunjuk-petunjuk dan perintah-perintah khusus dari Allah. Ia diberi panggilan khusus untuk masuk ke dalam bahtera, dan panggilan lain lagi untuk keluar darinya. Tetapi, karena mezbah dan korban bakaran sudah merupakan ketetapan ilahi dan ibadah, ia tidak menunggu perintah khusus seperti itu untuk mengungkapkan rasa syukurnya. Orang-orang yang sudah menerima belas kasihan dari Allah haruslah menjadi yang terdepan dalam mengucap syukur, dan melakukannya bukan dengan paksa, tetapi dengan sukarela. Allah berkenan pada persembahan-persembahan yang dinaikkan dengan kehendak bebas, dan pada puji-pujian yang menanti-nantikan Dia. Nuh sekarang keluar menuju dunia yang dingin dan porak-poranda, di mana, orang akan menyangka, yang pertama-tama akan diperhatikannya adalah membangun rumah bagi dirinya sendiri. Namun, lihatlah, ia memulai dengan mendirikan mezbah bagi Allah. Allah, sebagai yang pertama, haruslah yang pertama dilayani. Dan barangsiapa memulai dengan Allah memulai dengan baik.
2. Ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbahnya, dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram — masing-masing satu, dari pasangan yang ketujuh, seperti yang sudah kita baca (7:2-3). Di sini amatilah,
(1) Ia hanya mempersembahkan binatang-binatang yang halal.Sebab, mempersembahkan korban saja tidak cukup, kita juga harus mengorbankan apa yang ditentukan oleh Allah, sesuai dengan hukum korban, dan bukan apa yang cacat.
(2) Meskipun persediaan ternaknya begitu sedikit, dan itu pun diselamatkan dari kehancuran dengan biaya dan perawatan yang begitu besar, namun ia tidak bersungut-sungut dalam memberikan kepada Allah apa yang pantas didapatkan-Nya dari ternak itu. Ia bisa saja berkata, “Bukankah aku hanya mempunyai tujuh domba untuk memulai dunia, dan haruskah salah satu dari ketujuh domba ini disembelih dan dibakar sebagai korban? Bukankah akan lebih baik jika kita menundanya sampai kita mempunyai jauh lebih banyak domba?” Tidak, untuk membuktikan ketulusan kasih dan rasa syukurnya, ia dengan gembira memberikan domba yang ketujuh kepada Allahnya, sebagai pengakuan bahwa semua adalah milik-Nya, dan ada berkat Dia. Melayani Allah dengan sedikit yang kita punya adalah jalan untuk membuatnya bertambah banyak. Dan kita tidak boleh menganggap sia-sia apa yang membuat Allah dihormati.
(3) Lihatlah di sini keberadaan agama yang sudah sejak dulu kala: hal pertama yang kita dapati diperbuat di dunia baru adalah suatu ibadah (Yer. 6:16). Dewasa ini kita mengungkapkan rasa syukur kita bukan dengan korban bakaran, melainkan dengan korban pujian dan korban kebenaran, dengan ibadah yang saleh dan perilaku hidup yang saleh.

II. Allah dengan penuh rahmat berkenan pada ungkapan syukur Nuh. Ini sudah menjadi aturan tetap di zaman bapa-bapa leluhur: Jika engkau berbuat baik, engkau akan diterima. Demikianlah Nuh diterima. Sebab,
1. Allah amat berkenan pada ibadahnya itu (ay. 21). Ia mencium persembahan yang harum itu, atau, seperti dalam bahasa Ibraninya, bau harum peristirahatan dari persembahan itu. Sama seperti, setelah menjadikan dunia pada mulanya di hari ketujuh, Ia beristirahat dan disegarkan, demikian pula, sekarang setelah memperbaharuinya, Ia beristirahat pada korban ketujuh. Ia amat berkenan pada semangat Nuh yang saleh, dan pada permulaan-permulaan yang menjanjikan dari dunia baru ini, seperti halnya manusia senang dengan bau yang harum dan wangi. Meskipun korbannya sedikit, itu sesuai dengan kemampuannya, dan Allah menerimanya. Setelah membuat murka-Nya berdiam atas dunia orang-orang berdosa, di sini Ia membuat kasih-Nya berdiam atas sedikit orang percaya yang tersisa ini.
2. Dalam kesempatan ini, Ia bertekad untuk tidak pernah menenggelamkan dunia lagi. Dalam hal ini pandangan-Nya tidak tertuju pada korban Nuh melainkan terlebih pada korban Kristus sendiri, yang diperlambangkan dan diwakilkan olehnya, dan yang memang merupakan persembahan dan korban yang harum (Ef. 5:2). 

Keamanan yang pasti di sini diberikan, dan apa yang bisa diandalkan itu adalah,
(1) Bahwa penghakiman ini tidak akan pernah diulangi. Nuh mungkin berpikir, “Untuk apa dunia diperbaiki apabila, dalam segala kemungkinan, oleh karena kefasikannya, dunia akan dengan cepat dihancurkan secara serupa lagi?” “Tidak,” firman Allah, “dunia tidak akan dihancurkan seperti itu lagi.” Dikatakan dalam pasal 6:6, menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, tetapi sekarang di sini Ia berbicara seolah-olah Ia menyesal bahwa Ia telah menghancurkan manusia. Namun, tidak satu pun dari kedua pernyataan ini berarti bahwa ada perubahan pada pikiran-Nya. Sebaliknya, ini berarti bahwa ada perubahan pada jalan-Nya. Menyesallah Dia atas apa yang terjadi pada hamba-hamba-Nya (Ul. 32:36, KJV; TB: Ia merasa sayang kepada hamba-hamba-Nya — pen.). Dua cara untuk mengungkapkan tekad ini:
[1] Aku takkan mengutuk bumi ini lagi. Dalam bahasa Ibrani: Aku takkan menambah kutuk lagi pada bumi. Allah sudah mengutuk bumi pada saat dosa masuk pertama kali (3:17), dan ketika Ia menenggelamkannya, Ia menambahkan kutuk padanya. Tetapi sekarang Ia bertekad untuk tidak menambahkan kutuk lagi padanya.
[2] Dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup. Maksudnya, sudah ditetapkan bahwa sekalipun Allah bisa menimpakan bencana ke atas pribadi-pribadi, keluarga-keluarga, atau bangsa-bangsa tertentu, Ia tidak akan pernah lagi menghancurkan dunia secara keseluruhan hingga tiba hari ketika waktu tidak ada lagi. Tetapi alasan untuk tekad ini sangat mengejutkan, sebab hasilnya tampak sama saja dengan alasan yang diberikan untuk menghancurkan dunia: Karena segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata (6:5). Tetapi terdapat perbedaan ini — di sana dikatakan, segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, yaitu, “pelanggaran-pelanggarannya yang nyata terus-menerus berteriak melawannya.” Sedangkan di sini dikatakan, yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya. Kecenderungan itu sudah mendarah daging. Ia membawanya bersama-sama dengan dia ke dalam dunia. Ia dibentuk dan dikandung di dalamnya. Nah, orang akan berpikir bahwa seharusnya pernyataan itu diikuti dengan, “Oleh sebab itu, bangsa yang bersalah itu akan dimusnahkan seluruhnya, dan Aku akan menghabiskan.” Tetapi, tidak, sebaliknya itu diikuti dengan, “Oleh sebab itu, Aku tidak akan lagi memakai cara yang keras ini. Sebab,” pertama, “ia harus terlebih dikasihani, sebab itu semua merupakan dampak dari dosa yang berdiam di dalam dia. Dan cuma itulah yang bisa diharapkan dari bangsa yang sudah merosot seperti itu: ia disebut pemberontak sejak dari kandungan, dan oleh sebab itu tidaklah aneh jika ia berbuat khianat sekeji-kejinya” (Yes. 48:8). Demikianlah Allah ingat bahwa mereka itu daging, rusak dan berdosa (Mzm. 78:39). Kedua, “Ia akan hancur sepenuhnya. Sebab, jika ia diperlakukan sebagaimana mestinya, maka satu air bah harus disusul dengan air bah lain sampai semuanya dihancurkan.” 

Lihatlah di sini,
1. Bahwa penghakiman-penghakiman lahiriah, meskipun dapat membuat manusia ngeri dan tertahan, ia tidak dapat menguduskan dan memperbaharui manusia. Anugerah Allah harus bekerja bersama-sama dengan penghakiman-penghakiman itu. Sifat manusia itu berdosa setelah air bah, sama seperti sebelumnya.

2. Bahwa dari keberdosaan manusia, kebaikan Allah mendapat kesempatan untuk semakin mengagungkan dirinya dengan terlebih lagi. Alasan-alasan untuk belas kasihan-Nya bersumber pada diri-Nya sendiri, bukan pada apa pun dalam diri kita.
(2) Bahwa peredaran alam tidak akan pernah diputuskan (ay. 22): “ Selama bumi masih ada, dan manusia hidup di atasnya, akan selalu ada musim dingin dan panas (bukan seluruhnya musim dingin seperti yang terjadi pada tahun terakhir ini), siang dan malam,” bukan seluruhnya malam, seperti yang mungkin terjadi selama hujan turun. Di sini,
[1] Dengan jelas ditunjukkan bahwa bumi ini tidak akan selalu ada. Bumi, dan segala isinya, akan segera dibakar habis. Dan kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, ketika semua ini harus dilenyapkan. Tetapi,
[2] Selama bumi masih ada, pemeliharaan Allah akan dengan hati-hati mempertahankan pergantian waktu dan musim secara teratur, dan membuat mereka mengetahui tempat mereka masing-masing. Berkat inilah dunia masih berdiri, dan roda alam tetap pada jalurnya. Lihatlah di sini betapa waktu bisa diubah, tetapi juga betapa ia tidak bisa diubah. Pertama, peredaran alam selalu berubah. Seperti halnya waktu, demikian pula peristiwa-peristiwa di dalam waktu tunduk pada perubahan— siang dan malam, musim dingin dan musim panas, datang silih berganti. Di sorga dan neraka tidak demikian, tetapi di bumi Allah menetapkan yang satu berpadanan dengan yang lain. Kedua, namun peredaran alam itu tidak pernah berubah. Peredaran itu tetap dalam ketidaktetapan ini. Musim-musim ini tidak pernah berhenti, dan juga tidak akan berhenti, selama matahari terus menjadi pengukur waktu yang begitu tetap, dan bulan menjadi suatu saksi yang setia di awan-awan. Inilah kovenan Allah dengan siang dan dengan malam, yang ketetapannya disebutkan untuk meneguhkan iman kita akan kovenan anugerah, yang sama-sama tidak dapat dilanggar (Yer. 33:20-21). Kita melihat bahwa janji-janji Allah kepada makhluk ciptaan ditepati dengan baik, dan dari situ kita dapat menyimpulkan bahwa janji-janji-Nya kepada semua orang percaya juga akan demikian.


Ep. Filipi 1:20-21
1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. 1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.












NEXT:
Renungan HKBP SELASA, 26 SEPTEMBER 2023 - JANGAN MENJADI SESEORANG YANG MENYESATKAN - BACAAN PAGI (YEREMIA 36:1-32) - BACAAN MALAM (1 PETRUS 1:3-12)


PREV:
Renungan HKBP JUMAT, 22 SEPTEMBER 2023 - BERSYUKUR ATAS PERBUATAN AJAIB TUHAN - BACAAN PAGI (YEREMIA 29:1-14) - BACAAN MALAM (IBRANI 10:32-39)

All Renungan HKBP 2023
(136)




NEXT:
Renungan HKBP SELASA, 26 SEPTEMBER 2023 - JANGAN MENJADI SESEORANG YANG MENYESATKAN - BACAAN PAGI (YEREMIA 36:1-32) - BACAAN MALAM (1 PETRUS 1:3-12)


PREV:
Renungan HKBP JUMAT, 22 SEPTEMBER 2023 - BERSYUKUR ATAS PERBUATAN AJAIB TUHAN - BACAAN PAGI (YEREMIA 29:1-14) - BACAAN MALAM (IBRANI 10:32-39)

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de