BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
|
Download MP3 Music Khotbah HKBP 2016 Fourth Sunday in LentMinggu, 6 Maret 2016 Khotbah HKBP - Minggu, 6 Maret 2016 - Perumpamaan tentang domba yang hilang - Lukas 15:1-32Minggu, 6 Maret 2016 Joshua 5:9-12 Psalm 32 2 Corinthians 5:16-21 Lukas 15:1-32 Perumpamaan tentang domba yang hilang 15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 15:4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." Perumpamaan tentang dirham yang hilang 15:8 "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? 15:9 Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. 15:10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." Perumpamaan tentang anak yang hilang 15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." Penjelasan: * 15:1-10 - Domba dan Uang Dirham yang Hilang Kata orang, perilaku buruk melahirkan hukum yang baik. Begitu pula dalam pasal ini, sungut-sungut para ahli Taurat dan orang Farisi terhadap anugerah Kristus dan kebaikan-Nya kepada para pemungut cukai dan orang berdosa memberikan kesempatan bagi terjadinya pengungkapan anugerah yang lebih penuh lagi. Kalau tidak demikian, mungkin kita tidak akan pernah mengetahui kepenuhan anugerah itu dalam ketiga perumpamaan yang diketengahkan dalam pasal ini, yang semuanya bertujuan sama, yaitu untuk memperlihatkan bukan hanya apa yang telah dikatakan dan dijanjikan Allah dalam Perjanjian Lama, bahwa Ia tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya, dan bersukacita dengan memberikan penghiburan-Nya kepada mereka pada saat mereka bertobat. Dalam pasal ini, kita melihat: I. Bagaimana kesalnya orang-orang Farisi terhadap Kristus karena Ia bergaul dengan orang-orang kafir dan para pemungut cukai dan memberitakan Injil-Nya kepada mereka (ay. 1-2). II. Bagaimana Kristus membenarkan perbuatan-Nya itu, dengan menunjukkan rancangan dan kuasa yang ingin dicapai-Nya dengan berbuat demikian, yang sudah memengaruhi banyak orang, yaitu membuat mereka bertobat dan memperbaharui hidup mereka. Tidak ada ibadah lain yang lebih berkenan dan lebih menyenangkan hati Allah daripada ini. Hal ini ditunjukkan-Nya dalam perumpamaan-perumpamaan: . Tentang domba yang hilang, yang dibawa pulang dengan sukacita (ay. 4-7). . Tentang uang dirham yang hilang, yang ditemukan kembali dengan sukacita (ay. 8-10). . Tentang anak yang hilang, yang hidup berfoya-foya, tetapi kemudian kembali ke rumah ayahnya, dan di sana ia disambut dengan penuh sukacita, meskipun kakaknya, seperti para ahli Taurat dan orang Farisi, menjadi marah karenanya (ay. 11-32). Domba dan Uang Dirham yang Hilang (15:1-10) Dalam perikop di atas kita melihat: I. Kegigihan para pemungut cukai dan orang berdosa mengikuti Kristus dalam pelayanan-Nya. Dalam pasal sebelumnya, banyak orang Yahudi berduyun-duyun mengikuti Yesus (14:25), dengan penuh keyakinan bahwa mereka akan diterima dalam Kerajaan Allah, sehingga Kristus merasa wajib mengatakan kepada mereka hal-hal yang akan mengguncangkan harapan mereka yang sia-sia. Tetapi di sini, kita melihat banyak pemungut cukai dan orang berdosa berbondong-bondong datang kepada-Nya, dengan perasaan rendah hati dan takut akan ditolak oleh-Nya, sehingga Kristus merasa perlu memberikan dorongan kepada mereka, terutama karena ada orang-orang tertentu yang dengan sombong dan angkuh suka memandang rendah mereka. Para pemungut cukai, yang mengumpulkan upeti yang dibayar masyarakat kepada pemerintah Romawi, mungkin sebagiannya memang orang-orang jahat, namun, akibat prasangka buruk bangsa Yahudi terhadap tugas mereka itu, mereka semua dipandang jahat. Kadang-kadang mereka disamakan dengan perempuan-perempuan sundal (Mat. 21:32), sementara di sini dan dalam bacaan-bacaan lain, mereka disamakan dengan orang-orang berdosa, yang berbuat tidak senonoh secara terang-terangan, berzinah dengan perempuan-perempuan sundal, yang sangat dikenal sebagai orang-orang tidak bermoral. Sebagian orang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang berdosa di sini adalah orang-orang kafir, dan bahwa Kristus pada waktu itu sedang berada di seberang sungai Yordan, atau di Galilea wilayah bangsa-bangsa lain. Orang-orang seperti ini datang kepada-Nya, sementara mungkin banyak orang Yahudi lain yang tadinya berbondong-bondong mengikuti-Nya sekarang mundur (oleh karena perkataan-Nya dalam bagian penutup pasal sebelumnya). Dengan demikian, sekarang giliran bangsa-bangsa bukan-Yahudilah yang mendengarkan para rasul, setelah orang-orang Yahudi menolak mereka. Mereka datang kepada-Nya, tetapi mereka takut melangkah terlalu dekat kepada-Nya, jadi mereka hanya mendekat supaya bisa mendengarkan-Nya. Mereka datang kepada-Nya, bukan untuk meminta kesembuhan, seperti yang dilakukan sebagian orang, melainkan untuk mendengarkan ajaran-Nya yang sangat bagus. Perhatikanlah, ketika kita datang mendekat kepada Kristus kita harus selalu mencamkan hal ini, yaitu bahwa kita ingin mendengarkan-Nya, mendengarkan perintah-perintah yang diberikan-Nya kepada kita dan jawaban-jawaban-Nya atas doa-doa kita. II. Kejengkelan para ahli Taurat dan orang Farisi terhadap-Nya karena hal ini. Mereka bersungut-sungut, dan menegur Yesus Tuhan kita karena perbuatan-Nya itu: Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka (ay. 2). . Mereka marah karena para pemungut cukai dan orang-orang bukan-Yahudi diberi sarana untuk menikmati anugerah, dipanggil untuk bertobat, dan didorong untuk mengharapkan pengampunan pada saat bertobat. Bagi para ahli Taurat dan orang Farisi, orang-orang ini sudah tidak mempunyai harapan lagi. Mereka pikir tidak ada orang lain lagi kecuali mereka sendiri yang memiliki keistimewaan untuk bertobat dan mendapatkan pengampunan, padahal dulu para nabi sudah memberitakan pertobatan kepada bangsa-bangsa lain, khususnya Daniel memberitakannya kepada Nebukadnezar. . Menurut mereka, Kristus hanya merendahkan diri-Nya sendiri dengan berbuat demikian, dan juga sangat tidak sesuai dengan martabat-Nya jika Ia bergaul dekat dengan orang-orang semacam itu, menyambut mereka ke dalam kawanan-Nya, dan makan bersama-sama dengan mereka. Karena malu mereka tidak bisa mencela-Nya atas perbuatan-Nya memberitakan Injil kepada orang-orang itu, meskipun justru itulah yang sebenarnya membuat mereka paling marah. Oleh sebab itu, mereka cuma bisa menegur-Nya karena makan bersama-sama dengan orang-orang berdosa, yang lebih jelas bertentangan dengan adat istiadat leluhur mereka. Perhatikanlah, kecaman akan menimpa, bukan hanya terhadap orang yang paling tidak berdosa dan paling baik, melainkan juga terhadap perbuatan yang paling tidak berdosa dan paling baik, dan janganlah kita heran akan hal itu. III. Kristus membenarkan diri-Nya dalam hal ini, dengan menunjukkan bahwa semakin jahat orang-orang yang di-Injili-Nya, semakin besar pula kemuliaan yang akan diberikan kepada Allah, dan semakin besar pula sukacita yang akan ada di sorga, jika dengan pemberitaan-Nya mereka menjadi bertobat. Di mata sorga, akan lebih menyenangkan melihat bangsa-bangsa bukan-Yahudi berbalik dan beribadah kepada Allah yang benar, daripada melihat orang-orang Yahudi terus menjalankan ibadah mereka. Dan akan lebih menyenangkan melihat para pemungut cukai dan orang-orang berdosa menjalani hidup yang sesuai aturan, daripada melihat ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus menjalani cara hidup mereka. Hal ini digambarkan-Nya di sini dengan dua perumpamaan, yang keduanya mempunyai penjelasan yang sama. . Perumpamaan tentang domba yang hilang. Perumpamaan yang serupa sudah kita lihat dalam Matius 18:12. Dalam Kitab Matius, perumpamaan tersebut dirancang untuk menunjukkan pemeliharaan Allah atas orang-orang kudus, dan oleh karenanya kita tidak boleh berbuat jahat terhadap mereka, sedangkan di sini perumpamaan tersebut dirancang untuk menunjukkan betapa senangnya Allah dengan pertobatan orang-orang berdosa, dan oleh karena itu kita juga harus bersukacita dengan pertobatan mereka itu. Di sini kita melihat: (1) Keadaan orang berdosa yang terus hidup di dalam dosa. Ia seperti domba yang hilang, domba yang tersesat. Ia tersesat dari Allah, yang seharusnya mendapatkan kehormatan dan pengabdian darinya. Ia tersesat dari kawanannya, yang tidak lagi berkumpul bersamanya. Ia juga tersesat dari dirinya sendiri. Ia tidak tahu di mana dirinya berada, ia berjalan ke sana kemari tanpa tujuan, terus-menerus terancam binatang-binatang buas, selalu merasa takut dan ngeri, jauh dari perlindungan gembalanya, dan selalu haus akan padang rumput nan hijau. Ia juga tidak bisa menemukan sendiri jalan yang dapat membawanya kembali ke kawanannya. (2) Pemeliharaan Allah atas orang berdosa yang malang dan tersesat. Domba-domba yang tidak tersesat terus dipelihara-Nya, dan mereka tetap aman di padang gurun. Tetapi domba yang hilang ini harus diberi perhatian khusus, karena walaupun Ia mempunyai seratus ekor domba, kawanan yang sangat besar, Ia tidak mau kehilangan seekor domba pun. Sebaliknya, Ia pergi mencarinya dan menunjukkan perhatian-Nya yang sangat besar: [1] Untuk menemukannya. Ia mengikutinya, bertanya-tanya tentangnya, dan mencari-carinya sampai Ia menemukannya. Allah terus mengikuti orang-orang berdosa yang berbalik dari-Nya dengan panggilan firman-Nya dan dengan kuasa Roh-Nya, hingga pada akhirnya mereka berpikir untuk kembali lagi kepada-Nya. [2] Untuk membawanya pulang. Walaupun Ia mendapati domba itu kelelahan, dan mungkin cemas serta letih setelah berjalan ke sana kemari, dan tidak kuat lagi untuk berjalan pulang, Ia tidak membiarkannya binasa begitu saja lalu berkata, "Ia tidak layak dibawa pulang," melainkan meletakkannya di atas bahu-Nya dan, dengan penuh kelembutan dan perhatian, membawanya kembali ke kawanannya. Gambaran ini juga sangat bisa diterapkan pada penebusan agung yang dikerjakan-Nya bagi kita. Umat manusia dulu tersesat (Yes. 53:6). Harga seluruh umat manusia bagi Allah tidaklah semahal harga seekor domba bagi gembala yang mempunyai seratus ekor domba. Berapa sih kerugian atau kehilangan yang akan dirasakan Allah seandainya seluruh mereka itu dibiarkan binasa? Dia masih memiliki suatu dunia yang penuh dengan malaikat-malaikat kudus, bagaikan kesembilan puluh sembilan ekor domba itu, dan mereka ini suatu kawanan yang mulia. Namun demikian, Allah mengutus Anak-Nya untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (19:10). Kristus dikatakan menghimpun kawanan domba dalam tangan-Nya, dan membawa mereka ke dalam pangkuan-Nya, yang menggambarkan belas kasihan dan kelembutan-Nya terhadap orang-orang berdosa. Di sini dikatakan bahwa Ia meletakkan mereka di atas bahu-Nya, yang menggambarkan kuasa yang dengannya Ia menguatkan dan menopang mereka. Mereka yang dipikul di atas bahu-Nya pasti tidak akan binasa. (3) Perasaan senang Allah ketika melihat orang berdosa berbalik dan bertobat. Ia meletakkannya di atas bahu-Nya dengan gembira karena pencarian-Nya tidaklah sia-sia. Sukacita-Nya itu bertambah besar karena sebelumnya Ia sudah mulai kehilangan harapan untuk menemukannya. Karena itulah, Ia pun memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga-Nya, para gembala di sekitarnya yang menjaga domba-domba mereka, dan berkata kepada mereka, "Bersukacitalah bersama-sama dengan Aku." Mungkin dulu ada sebuah kidung gembala yang biasa dinyanyikan oleh para gembala pada saat-saat seperti ini, yang salah satu liriknya berbunyi demikian, "Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan." Rasanya mereka tidak akan bernyanyi, "Bersukacitalah bersama-sama dengan aku sebab aku tidak kehilangan seekor domba pun." Amatilah, Allah menyebut domba itu sebagai domba-Nya, meskipun domba itu sudah tersesat dan berkeluyuran ke mana-mana. Ia berhak atas domba itu (semua jiwa Aku punya), dan Ia akan menuntut milik kepunyaan-Nya sendiri serta meminta kembali hak-hak-Nya. Oleh karena itu, Ia mencarinya sendiri: Aku telah menemukannya. Ia tidak mengutus hamba-Nya melainkan Anak-Nya sendiri, Sang Gembala yang agung dan baik, yang akan menemukan apa yang dicari-Nya, dan yang akan ditemukan oleh orang-orang yang tidak mencari-Nya. . Perumpamaan tentang dirham yang hilang. (1) Di sini orang yang kehilangan itu digambarkan sebagai seorang perempuan, yang mungkin akan merasa lebih sedih karena kehilangan uang itu dan lebih bersukacita ketika menemukannya kembali dibandingkan dengan seorang laki-laki. Karena itu gambaran seorang perempuan ini dapat memenuhi tujuan perumpamaan tersebut dengan lebih baik. Ia mempunyai sepuluh dirham, dan hanya kehilangan salah satunya. Kiranya hal ini mengingatkan kita terus betapa tingginya kebaikan ilahi itu memandang kita. Kendati dunia umat manusia ini penuh dengan keberdosaan dan kesengsaraan, Ia masih melihat bahwa ada sembilan dibanding satu, bahkan dalam perumpamaan sebelumnya ada sembilan puluh sembilan dibanding satu, dari ciptaan Allah yang tetap hidup dalam kebajikan, yang melalui mereka Allah dipuji dan tidak pernah mendapat cela. Oh, sungguh tidak terhitung makhluk-makhluk, dari semua makhluk yang kita ketahui, yang tidak pernah tersesat ataupun menyimpang dari hukum-hukum dan tujuan-tujuan penciptaan mereka! (2) Yang hilang adalah satu dirham, drachmēn -- seperempat syikal. Jiwa adalah dirham, yang terbuat dari perak, yang sangat bernilai dan berharga, bukan dari logam dasar seperti besi atau timah, melainkan dari perak, yang digali dari tambang kerajaan. Kata perak dalam bahasa Ibrani diambil dari kata yang menggambarkan sifat pesona yang dimiliki oleh perak itu. Dirham di sini adalah uang perak, yang dicap dengan gambar dan tulisan Allah, dan karena itu harus diberikan kepada-Nya. Namun demikian, nilainya bisa dikatakan kecil, hanya sekitar tujuh ratus lima puluh rupiah. Ini menunjukkan bahwa jika orang-orang berdosa binasa, Allah tidak akan rugi sama sekali. Dirham ini hilang di tempat yang kotor. Jiwa yang terjerumus ke dalam dunia dan dikuasai oleh cinta serta kekhawatiran duniawi adalah seperti sekeping uang yang jatuh di tempat yang kotor. Orang-orang akan berkata, "Sungguh sayang uang itu tergeletak di sana." (3) Inilah perhatian dan usaha besar yang dilakukan untuk mencarinya. Perempuan itu menyalakan pelita, untuk mencarinya di balik pintu, di bawah meja, dan di setiap sudut rumah. Ia menyapu rumah, serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya. Ini menggambarkan berbagai sarana dan cara yang dipakai Allah untuk membawa jiwa-jiwa yang terhilang kembali kepada-Nya. Ia telah menyalakan pelita Injil, bukan untuk menunjukkan jalan bagi-Nya agar dapat mendatangi kita, melainkan untuk menunjukkan jalan bagi kita agar dapat mendatangi-Nya, agar kita dapat menemukan diri kita sendiri. Ia telah menyapu rumah dengan kebenaran-kebenaran yang meyakinkan melalui firman-Nya. Ia mencari dengan cermat, hati-Nya selalu menginginkannya, untuk membawa jiwa-jiwa yang terhilang kembali kepada-Nya. (4) Inilah sukacita besar atas ditemukannya uang itu: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan (ay. 9). Orang yang bersukacita pasti ingin agar orang lain juga bersukacita bersamanya, dan orang yang bergembira pasti ingin agar orang lain juga bergembira bersamanya. Ia senang karena ia sudah menemukan sekeping uang itu, meskipun sekarang ia harus menggunakannya untuk menghibur orang-orang yang dipanggilnya untuk bersukacita bersama-sama dengannya. Perasaan senang yang mengejutkan itu kini membuatnya serasa melayang-layang, heureka, heureka -- aku telah menemukannya, aku telah menemukannya; begitulah bahasa sukacita itu. . Maksud kedua perumpamaan ini sama (ay. 7, 10): Akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita bagi banyak orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. Ini terjadi bila para pemungut cukai dan orang berdosa itu bertobat, setidaknya sebagian dari mereka (dan bahkan bila hanya satu dari mereka yang bertobat, Kristus tidak akan menganggapnya sia-sia). Perhatikanlah: (1) Pertobatan dan berbaliknya orang-orang berdosa kepada Allah di bumi merupakan suatu hal yang membawa sukacita dan kegembiraan di sorga. Sangatlah mungkin bahwa para pendosa terbesar sekalipun bisa dituntun untuk bertobat. Selagi masih ada nyawa pasti masih ada harapan, dan orang-orang yang paling jahat tidak boleh dianggap tidak mempunyai harapan lagi untuk bertobat. Para pendosa besar, jika mereka bertobat dan berbalik kepada Allah, pasti akan mendapatkan belas kasihan. Akan tetapi, ini belum semuanya, [1] Allah dengan suka hati akan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka, dan Ia akan memandang pertobatan mereka sebagai hasil atas segala usaha yang telah dilakukan-Nya bagi mereka. Selalu ada sukacita di sorga. Allah bersukacita dalam segala karya-Nya, tetapi terutama dalam pekerjaan-pekerjaan anugerah-Nya. Dengan segenap hati dan jiwa-Nya Ia bersukacita ketika Ia berbuat baik kepada orang-orang berdosa yang bertobat. Ia bersukacita bukan hanya dalam pertobatan gereja-gereja dan bangsa-bangsa, melainkan bahkan dalam satu orang berdosa yang bertobat, meskipun hanya satu. [2] Para malaikat yang baik akan senang melihat orang-orang itu mendapat belas kasihan. Mereka sama sekali tidak bersungut karenanya, meskipun sebagian dari mereka sendiri yang berdosa dibiarkan binasa, dan tidak mendapat belas kasihan sedikit pun, dan meskipun orang-orang berdosa yang bertobat, yang begitu hina dan sudah begitu jahat, pada waktu bertobat malah dibawa ke dalam persekutuan bersama mereka, dan akan segera dibuat menyerupai mereka, bahkan menyamai mereka. Pertobatan orang-orang berdosa adalah sukacita bagi para malaikat, dan malaikat-malaikat ini dengan senang hati akan menjadi roh-roh yang melayani mereka demi kebaikan mereka, pada saat mereka bertobat. Penebusan umat manusia merupakan suatu hal yang membawa sukacita bagi para malaikat, sebab mereka bernyanyi, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi" (2:14). (2) Ada lebih banyak sukacita karena satu orang berdosa bertobat, yang berubah menjadi saleh dari kehidupan dulu yang sangat tercela dan keji, melebihi sukacita bagi sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. [1] Ada sukacita yang besar ketika manusia yang jatuh itu ditebus dan diselamatkan. Sukacita ini lebih besar daripada ketika malaikat-malaikat yang setia, yang memang tidak membutuhkan pertobatan, dipelihara dan diteguhkan oleh Allah. [2] Ada sukacita yang lebih besar atas pertobatan orang-orang bukan-Yahudi yang berdosa, dan atas pertobatan para pemungut cukai yang sekarang sedang mendengarkan Kristus mengajar, daripada atas segala pujian dan ibadah serta segala doa "Aku mengucap syukur kepada-Mu ya Allah" dari orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi lain yang merasa diri benar dan merasa tidak memerlukan pertobatan. Orang-orang Farisi dan Yahudi ini mengira Allah sangat bersukacita dan berbangga hati dengan mereka, dan memandang mereka sebagai orang-orang yang telah memberi-Nya kehormatan yang paling besar. Akan tetapi, Kristus justru berkata sebaliknya kepada mereka, bahwa Allah lebih dipuji di dalam, dan berkenan dengan satu orang berdosa yang bertobat karena remuk hatinya, walaupun dia begitu direndahkan dan dihina. Allah lebih dipuji melalui si petobat ini daripada dengan doa-doa panjang yang biasa diucapkan para ahli Taurat dan orang Farisi, yang tidak bisa melihat suatu kesalahan apa pun dalam diri mereka sendiri. Bahkan, [3] Ada sukacita yang lebih besar karena pertobatan satu orang yang sangat berdosa, seperti Paulus si orang Farisi dulu, daripada sukacita karena pertobatan biasa dari seseorang yang selalu bersikap baik dan terpuji, dan yang boleh dikatakan tidak memerlukan pertobatan, tidak memerlukan perubahan hidup secara menyeluruh seperti yang diperlukan oleh orang-orang yang sangat berdosa. Memang paling baik jika kita tidak pernah tersesat sama sekali. Namun demikian, anugerah Allah, baik dalam kuasa maupun dalam belas kasihannya, lebih dinyatakan dalam berkurangnya orang-orang yang sangat berdosa daripada dalam dituntunnya orang-orang yang tidak pernah tersesat. Dan sering kali orang-orang yang dulunya sangat berdosa sebelum mereka bertobat terbukti kemudian menjadi orang-orang baik yang luar biasa menonjol dan menyala-nyala, yang salah satu contohnya adalah Paulus, dan oleh karena itu di dalam dia Allah sangat dimuliakan (Gal. 1:24). Orang yang banyak diampuni pasti akan banyak mengasihi. Hal ini memang sesuai dengan perilaku manusia. Kita lebih tergerak oleh perasaan sukacita atas ditemukannya apa yang hilang daripada atas terus dinikmatinya apa yang selalu kita nikmati selama ini. Kita lebih bersukacita karena sehat sesudah sakit daripada karena sehat tanpa sakit. Rasanya seperti hidup dari antara orang mati. Terus-menerus hidup sesuai dengan peraturan agama mungkin dengan sendirinya adalah hal yang lebih berharga, tetapi berbalik seketika dari jalan yang jahat dan berdosa biasanya dapat memberikan kenikmatan yang lebih mengejutkan. Nah, jika ada sukacita di sorga yang sedemikian besar karena pertobatan orang-orang berdosa, maka orang-orang Farisi ini sungguh sangat tidak memiliki keinginan sorgawi, karena mereka justru berbuat sebisa mungkin untuk menghalang-halangi pertobatan itu dan merasa berduka karenanya. Mereka sangat marah kepada Kristus ketika Ia justru melakukan suatu perbuatan yang paling berkenan dan menyukakan Sorga. * Anak yang Hilang (15:11-32) Di sini kita melihat perumpamaan tentang anak yang hilang, yang tujuannya sama dengan kedua perumpamaan sebelumnya, yaitu untuk menunjukkan betapa senangnya Allah dengan pertobatan orang-orang yang berdosa, bahkan yang sangat berdosa sekalipun, dan betapa Ia siap menerima dan menjamu mereka pada saat mereka bertobat. Namun keadaan yang melatarbelakangi perumpamaan ini menggambarkan kekayaan-kekayaan anugerah Injil secara lebih luas dan menyeluruh daripada kedua perumpamaan sebelumnya. Perumpamaan ini sudah, dan selama dunia masih berputar, akan terus memberikan manfaat yang tak terkira kepada orang-orang berdosa yang malang, untuk membimbing maupun mendorong mereka untuk bertobat dan berbalik kepada Allah. Nah, I. Perumpamaan ini menggambarkan Allah sebagai Bapa bagi seluruh umat manusia, bagi seluruh keluarga Adam. Kita semua adalah keturunannya, kita semua mempunyai satu Bapa, dan satu Allah menciptakan kita (Mal. 2:10). Dari-Nyalah kita ada, di dalam Dialah kita tetap ada, dan oleh-Nyalah kita terus dipelihara. Dialah Bapa kita, sebab Dia memberikan didikan dan bagian kepada kita, dan akan menyertakan kita dalam perjanjian-Nya, atau mengeluarkan kita darinya, tergantung apakah kita anak-anak-Nya yang patuh kepada-Nya atau tidak. Juruselamat kita dengan demikian menunjukkan kepada orang-orang Farisi yang sombong itu bahwa para pemungut cukai dan orang berdosa, yang begitu mereka rendahkan, adalah saudara-saudara mereka, yang mempunyai sifat kemanusiaan yang sama. Karena itu, sepatutnya mereka senang dengan segala kebaikan yang ditujukan kepada para pemungut cukai dan orang berdosa itu. Allah bukanlah hanya Allah orang Yahudi saja, melainkan juga Allah bangsa-bangsa lain (Rm. 3:29): Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya akan belas kasihan bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. II. Perumpamaan ini menggambarkan anak-anak manusia sebagai orang yang berbeda-beda tabiatnya, walaupun semuanya mempunyai hubungan dengan Allah sebagai Bapa mereka. Ia mempunyai dua anak, yang satu seorang yang tegas dan serius, pendiam dan keras, dan berpembawaan tenang, namun sama sekali tidak ramah terhadap orang-orang di sekelilingnya. Orang seperti ini biasanya memegang teguh segala didikan yang telah diterimanya, dan tidak akan mudah tergoda untuk menjauh darinya. Sedangkan yang lain adalah seorang yang mudah bimbang dan sering berubah-ubah pendirian, yang tidak mau dikekang, suka berpetualang dan mencoba-coba berbagai hal yang baru, dan jika terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk, kemungkinan besar ia akan menjadi orang yang tidak bermoral, kendati dengan pendidikan baik yang sudah diterimanya selama ini. Nah, orang yang kedua ini mewakili para pemungut cukai dan orang berdosa, yang hendak dipertobatkan oleh Kristus, dan orang-orang bukan-Yahudi, yang kepada mereka para rasul diutus untuk memberitakan pertobatan. Orang yang pertama mewakili orang Yahudi pada umumnya, dan terutama orang-orang Farisi, yang hendak didamaikan oleh Kristus dengan anugerah Allah yang sudah ditawarkan dan dianugerahkan kepada orang-orang berdosa. Anak bungsu adalah anak yang hilang, yang tabiat dan perkaranya di sini menggambarkan tabiat dan keadaan orang-orang berdosa, tabiat dan keadaan kita semua secara alami, tetapi terutama keadaan sebagian orang. Sekarang mari kita amati si anak bungsu ini. . Kehidupan foya-foya dan petualangannya ketika dia terhilang, dan segala kemewahan serta kesengsaraan yang dialaminya. Kita diceritakan tentang: (1) Apa permintaannya kepada bapanya (ay. 12): kata yang bungsu kepada ayahnya, dengan angkuh dan kurang ajar, "Bapa, berikanlah kepadaku" -- sebenarnya ia bisa saja menambahkan sedikit lagi perkataan yang baik, dan berkata, "Tolong berikanlah kepadaku," atau, "Bapa, kalau boleh, tolong berikanlah kepadaku," tetapi dengan angkuhnya ia menuntut, "Berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku, bukan yang menurutmu sesuai untuk diberikan kepadaku, melainkan apa yang menjadi hakku." Perhatikanlah, sungguh tidak baik, dan akan menjurus pada kejahatan, jika manusia melihat karunia-karunia Allah sebagai utang. "Berikanlah kepadaku bagianku, semua bagianku sebagai anak, bagian yang menjadi hakku," bukan, "Coba berikan sedikit saja dulu, dan kita lihat nanti bagaimana aku dapat mengaturnya, dan kalau berhasil, percayakanlah kepadaku lebih banyak lagi," tetapi "Berikanlah kepadaku semua milikku sekarang, dan aku tidak akan mengharapkan lagi sisanya, apa pun setelah ini." Perhatikanlah, kebodohan besar orang-orang berdosa, yang menghancurkan mereka sendiri, adalah keinginan untuk mendapatkan semua bagian mereka di tangan mereka. Mereka ingin agar sekarang ini juga di dalam kehidupan ini mereka menerima hal-hal yang baik. Mereka hanya melihat hal-hal yang tampak, yang sementara, dan hanya menginginkan kepuasan sesaat, dan tidak mau peduli dengan kebahagiaan besar di masa nanti, ketika kesenangan duniawi habis dan lenyap. Dan mengapakah ia ingin mendapatkan bagiannya di tangannya sekarang juga? Apakah karena ia ingin mendirikan suatu usaha dan berdagang, sehingga ia akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak? Tidak, ia sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Tetapi karena: [1] Ia muak dengan perintah ayahnya, dengan segala peraturan dan disiplin yang baik dalam keluarganya, dan lebih mendambakan apa yang dengan keliru disebut sebagai kebebasan, yang sebetulnya justru merupakan perbudakan terbesar, sebab demikianlah adanya kebebasan untuk berdosa itu. Lihatlah kebodohan banyak orang muda, yang terdidik dalam agama, tetapi tidak mau dikungkung dalam aturannya. Mereka merasa belum menjadi tuan atas diri sendiri, penguasa atas diri mereka sendiri, sebelum memutuskan semua belenggu Allah, dan membuang tali-tali-Nya dari mereka. Dan sebagai gantinya, mereka membelenggu diri sendiri dengan tali-tali hawa nafsu mereka. Inilah awal mula mengapa orang-orang berdosa menjadi murtad dan berpaling dari Allah. Mereka tidak mau dibelenggu oleh aturan-aturan pemerintahan Allah, mereka ingin menjadi ilah-ilah bagi diri mereka sendiri. Bagi mereka tidak ada yang namanya baik atau buruk, yang ada hanyalah apa yang dapat menyenangkan hati mereka. [2] Ia ingin menjauh dari pandangan mata ayahnya, sebab mata itu sering mengawasinya. Keengganan terhadap Allah dan keinginan untuk tidak memercayai kemahatahuan-Nya merupakan penyebab utama orang-orang jahat berbuat jahat. [3] Ia tidak memercayai pengaturan ayahnya. Ia menginginkan bagian harta miliknya sendiri, sebab ia berpikir bahwa ayahnya ingin mengumpulkan uang untuknya di kemudian hari, dan karena itu ayahnya akan membatasi pengeluarannya pada saat ini, dan ia tidak menyukai hal ini. [4] Ia bangga akan dirinya sendiri, dan dengan angkuh berpikir bahwa dirinya sudah mapan. Ia berpikir bahwa jika ia mendapatkan bagiannya di tangannya sendiri, maka ia dapat mengaturnya dengan lebih baik daripada ayahnya, dan bahkan akan membuat jumlahnya bertambah banyak. Banyak anak muda dihancurkan oleh kesombongan daripada oleh nafsu-nafsu lain. Orangtua kita yang pertama menghancurkan diri mereka sendiri dan semua kepunyaan mereka dengan ambisi bodoh untuk berdiri sendiri, dan tidak ingin bergantung kepada pemeliharaan Allah. Demikianlah yang menjadi penyebab orang-orang berdosa terus hidup dalam dosa mereka -- mereka ingin menentukan segala sesuatu bagi diri mereka sendiri. (2) Betapa baiknya ayahnya kepadanya: ia membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Ia menghitung apa yang harus dibagikannya kepada kedua anaknya, dan memberi anak bungsunya apa yang telah menjadi bagiannya, dan menawarkan bagian lain lagi kepada anak sulungnya, yang jumlahnya mungkin, seperti yang seharusnya, dua kali lipat. Tetapi tampaknya si anak sulung ini ingin agar ayahnya tetap menyimpan bagiannya itu, dan lihatlah apa yang didapatnya kemudian (ay. 31): segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Ia mendapatkan semuanya dengan menunggu bagiannya pada saat yang tepat. Sang ayah memberi anak bungsunya apa yang dimintanya, dan ia sama sekali tidak mempunyai alasan untuk mengeluh bahwa ayahnya membagi-bagikan hartanya dengan tidak adil, sebab ia sudah mendapatkan apa yang diharapkannya, bahkan mungkin lebih. [1] Jadi, sebenarnya ia sudah bisa melihat kebaikan ayahnya sekarang, betapa ayahnya ingin menyenangkannya dan memudahkan hidupnya, dan ia bukanlah ayah yang tidak baik seperti yang dibayangkannya ketika ia mencari-cari alasan untuk pergi. [2] Jadi, sebentar lagi ia akan melihat kebodohannya sendiri, bahwa ia bukanlah pengelola yang bijak bagi dirinya sendiri seperti yang diyakininya. Perhatikanlah, Allah adalah Bapa yang baik bagi semua anak-Nya, dan Ia memberi mereka semua kehidupan, nafas, dan segala sesuatu, bahkan kepada orang-orang yang jahat dan tidak tahu bersyukur, dieilen autois ton bion -- Ia membagi-bagikan kehidupan kepada mereka. Dengan memberi kehidupan kepada kita, Allah memampukan kita untuk melayani dan memuliakan Dia. (3) Bagaimana ia mengatur dirinya sendiri ketika ia sudah mendapatkan semua bagiannya itu. Ia segera menghabiskan bagiannya itu secepat mungkin, dan seperti orang yang suka berfoya-foya pada umumnya, dalam waktu singkat ia pun membuat dirinya menjadi pengemis: beberapa hari kemudian (ay. 13). Perhatikanlah, seandainya Allah sebentar saja membiarkan kita berbuat semaunya, maka kita pasti akan segera meninggalkan-Nya. Apabila kekang anugerah dilepaskan, maka kita akan segera binasa. Yang diinginkan si anak bungsu itu adalah cepat-cepat pergi, dan untuk itu, ia mengumpulkan semua harta kekayaannya. Orang-orang berdosa yang tersesat dari Allah mempertaruhkan segala sesuatu yang mereka miliki. Nah, keadaan si anak hilang dalam petualangannya ini menggambarkan kepada kita suatu keadaan dosa, keadaan yang menyedihkan itu, yang ke dalamnya manusia telah jatuh. [1] Keadaan dosa adalah suatu keadaan di mana kita meninggalkan Allah dan menjauhkan diri dari-Nya. Pertama, hakikat dosa adalah meninggalkan Allah. Ia pergi dan berjalan menjauh dari rumah ayahnya. Orang-orang berdosa melarikan diri dari Allah. Mereka meninggalkan Dia dan pergi melacurkan diri; mereka memberontak menjadi tidak setia terhadap-Nya, seperti seorang hamba yang melarikan diri dari tugasnya, atau istri yang berkhianat meninggalkan suaminya. Mereka berkata kepada Allah, "Enyahlah." Mereka pergi dari-Nya sejauh mungkin. Dunia adalah negeri jauh tempat mereka tinggal, di situ mereka merasa seperti di rumah sendiri, dan untuk melayani serta menikmatinya mereka menghabiskan semua yang mereka miliki. Kedua, yang membuat orang-orang berdosa sengsara adalah bahwa mereka jauh dari Allah, dari Dia yang adalah Sumber segala kebaikan. Mereka menderita karena semakin hari semakin jauh mereka daripada-Nya. Apa sebenarnya neraka itu, selain daripada berada sangat jauh dari Allah? [2] Keadaan dosa adalah keadaan di mana kita menghabiskan segala sesuatu: di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya (ay. 13), menghabiskannya bersama-sama dengan pelacur (ay. 30), dan sebentar saja sudah dihabiskannya semuanya (ay. 14). Ia membeli pakaian yang bagus-bagus, menghabiskan banyak uang untuk membeli makanan dan minuman, bergaya hidup mewah, dan bergaul dengan orang-orang yang membantu menghabiskan apa yang dimilikinya dalam waktu sekejap. Dalam kehidupan di dunia ini, orang yang hidup berfoya-foya menghabiskan apa yang mereka miliki, dan mereka akan dimintai banyak pertanggungjawaban, karena mereka menghabiskannya untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri, padahal seharusnya semua itu disediakan guna memenuhi kebutuhan pokok mereka dan keluarga mereka sendiri. Namun demikian, hal ini haruslah diartikan secara rohani. Orang-orang yang dengan sengaja berdosa memboroskan warisan mereka, sebab mereka menyalahgunakan segala pikiran dan kekuatan jiwa mereka, serta menyia-nyiakan segala waktu dan kesempatan mereka. Mereka tidak saja menguburkan, tetapi juga menyalahgunakan talenta-talenta yang seharusnya mereka gunakan untuk kehormatan Tuan mereka. Dan pemberian-pemberian Allah, yang dimaksudkan untuk memampukan mereka melayani-Nya dan berbuat kebajikan, dijadikan sebagai makanan dan bahan bakar untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Jiwa yang dijadikan budak, entah bagi dunia ataupun bagi nafsu kedagingan, memboroskan harta miliknya dan hidup berfoya-foya. Satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik (Pkh. 9:18). Barang yang dihancurkannya ini sangatlah berharga, dan sama sekali bukan kepunyaannya sendiri. Barang-barang Tuannyalah yang diboroskannya, dan karena itu harus dipertanggungjawabkannya. [3] Keadaan dosa adalah keadaan yang serba kekurangan: setelah dihabiskannya semuanya untuk pelacur-pelacurnya, mereka pun meninggalkan dia, untuk mencari korban lain yang serupa. Lalu timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu, semuanya menjadi serba jarang dan mahal, dan ia pun mulai melarat (ay. 14). Perhatikanlah, kehidupan yang boros mengakibatkan kemelaratan. Hidup yang foya-foya pada akhirnya, mungkin dalam waktu singkat, akan membuat orang kelaparan mencari sesuap nasi, terutama apabila masa-masa kering datang secara mendadak akibat gagal panen. Ini menggambarkan kesengsaraan orang-orang berdosa, yang telah menerima tetapi kemudian membuang segala berkat, karunia Allah, bagian mereka dalam Kristus, kuasa Roh, dan teguran-teguran suara hati. Semuanya ini mereka buang demi kenikmatan badani dan kekayaan duniawi, dan kemudian mereka akan segera binasa karena kehabisan hal-hal tersebut. Orang-orang berdosa kekurangan kebutuhan-kebutuhan pokok bagi jiwa mereka, mereka tidak mempunyai makanan ataupun pakaian untuk jiwa mereka, ataupun perbekalan untuk kehidupan yang akan datang. Keadaan dosa adalah seperti negeri yang dilanda kelaparan, kelaparan besar, karena langit menjadi seperti tembaga (embun-embun kebaikan Allah dan berkat-berkat-Nya tertahan, dan pasti kita tidak akan mendapatkan hal-hal yang baik jika Allah menahannya dari kita). Bumi menjadi seperti besi (hati orang berdosa, yang seharusnya mengeluarkan hal-hal yang baik, menjadi kering dan tandus, dan tidak ada yang baik di dalamnya). Orang-orang berdosa sungguh sangat melarat, dan yang lebih buruk lagi, mereka sendirilah yang mengakibatkan keadaan itu, dan terus tinggal di dalamnya dengan menolak menerima segala bantuan yang ditawarkan. [4] Keadaan dosa adalah keadaan perbudakan dan kecemaran. Ketika kehidupan boros anak muda ini membuatnya kelaparan, kelaparannya membawanya pada perbudakan. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu (ay. 15). Kehidupan jahat yang sama yang sebelumnya digambarkan dengan kehidupan foya-foya, sekarang digambarkan di sini dengan kehidupan perbudakan, sebab orang-orang berdosa adalah budak dalam arti yang sesungguhnya. Iblis adalah majikan di negeri itu, sebab ia berada baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Orang-orang berdosa menggabungkan dirinya sendiri kepadanya, menyewa diri sendiri untuk melayaninya, untuk melakukan pekerjaannya, bersedia disuruh-suruh olehnya, dan bergantung padanya untuk mendapatkan pemeliharaan dan bagian upah. Orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa (Yoh. 8:34). Lihatlah bagaimana si tuan muda ini merendahkan dan menghina dirinya dengan menyewa dirinya sendiri untuk melayani dan diperintah oleh majikan yang demikian! Ia menyuruhnya ke ladang, bukan untuk memberi makan domba (pekerjaan ini masih sedikit bernilai; Yakub, Musa, dan Daud menjaga domba), melainkan untuk menjaga babi. Pekerjaan hamba-hamba Iblis adalah merawat tubuh untuk memuaskan keinginannya, dan ini sama saja buruknya dengan memberi makan babi yang rakus, kotor, dan gaduh. Bagaimana mungkin jiwa yang berakal dan kekal ini begitu merendahkan dirinya seperti ini? [5] Keadaan dosa adalah keadaan yang selalu tidak puas. Ketika anak yang hilang itu mulai kelaparan, ia berpikir untuk menolong dirinya dengan bekerja, dan ia harus puas dengan persediaan yang tersedia, bukan oleh tuan rumah, melainkan oleh ladang tempat kerjanya. Akan tetapi, persediaan ini pun sungguh sangat sedikit: ia ingin mengisi perutnya, memuaskan rasa laparnya, dan memberi makan tubuhnya, dengan ampas yang menjadi makanan babi itu (ay. 16). Sungguh malang jalan yang telah ditempuh oleh tuan muda ini sampai ia menjadi senasib dengan kawanan babi! Perhatikanlah, apa yang diidam-idamkan orang-orang berdosa akan membawa kepuasan, ketika mereka pergi meninggalkan Allah, pasti akan mengecewakan mereka. Mereka berjerih payah untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan (Yes. 55:2). Batu sandungan yang menjatuhkan mereka ke dalam kesalahan itu tidak akan dapat mengenyangkan jiwa mereka atau mengisi perut mereka (Yeh. 7:19). Ampas adalah makanan untuk babi, bukan manusia. Kekayaan duniawi dan kenikmatan jasmani memang akan memuaskan tubuh, tetapi apa gunanya bagi jiwa-jiwa yang berharga? Semua itu tidak sesuai dengan hakikat jiwa, dan tidak akan memuaskan keinginan-keinginannya ataupun memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Orang yang mengejar-ngejar semua itu hanyalah mengejar angin (Hos. 12:2) dan sibuk dengan abu belaka (Yes. 44:20). [6] Keadaan dosa adalah keadaan di mana kita tidak bisa mengharapkan penghiburan dari makhluk mana pun. Anak yang hilang ini, ketika tidak bisa mendapat makanan dengan bekerja, ia meminta-minta. Tetapi tidak seorang pun memberi makanan kepadanya, karena mereka tahu bahwa ia sendirilah yang mengakibatkan kesengsaraan ini pada dirinya, dan karena ia adalah orang yang tidak bermoral, yang selalu membangkitkan amarah semua orang. Orang miskin seperti itu pasti tidak akan dikasihani. Dengan menerapkan perumpamaan tadi, hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang meninggalkan Allah pasti tidak dapat ditolong oleh siapa pun. Sia-sialah kita berseru kepada dunia dan kedagingan (ilah-ilah yang telah kita layani itu), karena mereka hanya bisa meracuni jiwa, tetapi tidak bisa memberinya makan dan membuatnya tumbuh. Jika engkau menolak pertolongan Allah, makhluk mana lagi yang akan menolongmu? [7] Keadaan dosa adalah keadaan mati: anakku ini telah mati (ay. 24, 32). Orang yang berdosa bukan hanya mati secara hukum, karena ia ada di bawah hukuman mati, melainkan juga sedang dalam keadaan mati, mati dalam segala pelanggaran dan dosa, dan miskin akan kehidupan rohani. Ia tidak bersekutu bersama Kristus, tidak ada kepekaan rohani, tidak hidup bagi Allah, dan karena itu ia mati. Anak hilang di negeri yang jauh itu mati bagi ayahnya dan keluarganya, terpisah dari mereka, seperti tangan yang terpisah dari tubuhnya atau cabang dari pohonnya, dan karena itu mati, dan ini adalah perbuatannya sendiri. [8] Keadaan dosa adalah keadaan terhilang: anakku ini telah hilang, hilang dari segala sesuatu yang baik, hilang dari segala kebajikan dan kehormatan, hilang dari rumah ayahnya, dan keluarganya pun tidak bersukacita karenanya. Jiwa-jiwa yang terpisah dari Allah adalah jiwa-jiwa yang terhilang, hilang seperti seorang pelancong yang tersesat, dan seandainya tidak dicegah oleh belas kasihan yang kekal, mereka akan segera lenyap seperti kapal yang tenggelam di dasar laut, hilang lenyap dan tidak dapat ditemukan kembali. [9] Keadaan dosa adalah keadaan yang gila dan kacau-balau. Ini ditunjukkan dalam ungkapan di ayat 17 lalu ia menyadari keadaannya, yang menunjukkan bahwa sebelumnya ia tidak sadar. Pasti begitulah keadaan dirinya ketika ia meninggalkan rumah ayahnya, dan keadaannya bertambah parah ketika ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Kebebalan dikatakan ada dalam hati orang-orang berdosa (Pkh. 9:3). Iblis telah merasuki jiwa, dan kita sudah melihat betapa ganasnya orang yang kerasukan Legion! Orang-orang berdosa, seperti orang gila, menghancurkan diri mereka sendiri dengan hawa nafsu yang bodoh, dan pada saat yang sama pula mereka menipu diri mereka dengan harapan-harapan yang dungu. Dibandingkan dengan semua orang sakit, mereka ini yang paling menjadikan diri mereka sendiri sebagai musuh besar atas kesembuhan mereka sendiri. . Di sini kita melihat kepulangannya dari petualangan ini, kepulangannya dengan rasa menyesal kepada ayahnya. Ketika keadaannya sudah sangat parah, ia merasa sungguh ingin pulang kembali ke rumahnya. Perhatikanlah, kita tidak boleh putus asa menghadapi keadaan yang paling buruk, sebab selagi masih ada hidup, masih ada harapan. Anugerah Allah dapat melembutkan hati yang paling keras, dan membalikkan arus kejahatan yang paling kuat ke arah yang membahagiakan. Sekarang perhatikanlah di sini: (1) Apa yang membuatnya kembali dan bertobat. Yang membuatnya kembali dan bertobat adalah penderitaannya. Ketika ia berkekurangan, ia menyadari dirinya. Perhatikanlah, penderitaan, apabila dikuduskan oleh anugerah ilahi, pasti akan menjadi sarana yang membahagiakan untuk membalikkan orang-orang berdosa dari jalan-jalan mereka yang salah. Dengan penderitaan, telinga menjadi terbuka terhadap kedisiplinan dan hati menjadi condong menerima perintah-perintah. Penderitaan juga merupakan bukti nyata akan kesia-siaan dunia dan kejahatan dosa. Coba kita terapkan hal ini secara rohani. Ketika kita menyadari ketidakmampuan makhluk-makhluk ciptaan untuk membuat kita bahagia, dan sudah mencoba semua cara lain untuk menghibur jiwa kita namun sia-sia, maka itulah saatnya kita harus berpikir untuk kembali kepada Allah. Ketika kita melihat betapa menyedihkannya orang-orang lain yang seharusnya menghibur kita, dan betapa tidak bergunanya dokter-dokter yang seharusnya menyembuhkan kita, betapa sia-sianya mereka semua bagi jiwa yang merintih dalam rasa bersalah dan kuasa dosa, dan tidak seorang pun dapat memberi kita apa yang kita perlukan, kecuali Kristus, maka pada saat itulah kita pasti akan berserah diri kepada Yesus Kristus. (2) Apa yang dipersiapkannya supaya bisa kembali. Yang dipersiapkannya adalah pertimbangan. Ia berkata dalam hati, ia bertanya-tanya sendiri, ketika akal budinya kembali pulih, betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya! Perhatikanlah, pertimbangan adalah langkah awal menuju pertobatan (Yeh. 18:28). Ia insaf dan bertobat. Mempertimbangkan berarti berdiam diri, merenungi diri sendiri, membandingkan hal yang satu dengan yang lain, dan mengambil keputusan yang sesuai. Sekarang amatilah apa yang dipertimbangkannya. [1] Ia mempertimbangkan betapa buruknya keadaannya: aku di sini mati kelaparan. Bukan hanya, "Aku lapar," tetapi, "Aku mati kelaparan, karena aku tidak melihat satu cara pun untuk menolong diriku." Perhatikanlah, orang-orang berdosa biasanya baru akan datang melayani Kristus kalau mereka sudah sadar bahwa mereka akan segera binasa jika terus-menerus melayani keinginan dosa. Kesadaran akan binasa itu seharusnya mendorong kita untuk datang kepada Kristus. Tuhan, tolonglah, kita binasa. Dan meskipun kita dihalau untuk datang kepada Kristus dengan paksaan seperti ini, Ia tidak akan menolak kita ataupun merasa direndahkan, melainkan akan merasa terhormat jika orang berserah kepada-Nya dalam keputusasaan. [2] Ia berpikir betapa akan jauh lebih baik keadaannya jika ia kembali: betapa banyaknya orang upahan bapaku, orang-orang yang paling rendah dalam keluarganya, yang bekerja sebagai buruh harian, berlimpah-limpah makanannya. Betapa baiknya rumah yang dijaga bapaku! Perhatikanlah, pertama, dalam rumah Bapa kita ada banyak makanan untuk seluruh keluarga-Nya. Hal ini diajarkan melalui dua belas ketul roti pajangan, yang selalu ada di atas mezbah di dalam ruang mahakudus, satu ketul untuk setiap suku. Kedua, ada makanan yang berlimpah, yang cukup untuk semua, cukup untuk setiap orang, cukup untuk disisakan bagi orang-orang yang akan bergabung dalam keluarga-Nya, dan cukup ada sisa untuk diberikan sebagai sedekah. Tetapi masih ada lagi, ada remah-remah yang jatuh dari meja-Nya, yang akan diterima dengan senang hati dan ucapan syukur oleh banyak orang. Ketiga, bahkan orang-orang upahan dalam keluarga Allah terpelihara dengan baik. Orang paling hina yang ingin bekerja dalam keluarga-Nya, untuk melakukan pekerjaan-Nya, dan bergantung pada upah-Nya, akan dipelihara dengan baik. Keempat, pemikiran akan hal ini seharusnya membuat orang-orang berdosa, yang sudah tersesat dari Allah, merasa terdorong untuk kembali kepada-Nya. Demikianlah si perempuan pezinah itu berkata-kata dalam hatinya, ketika ia kecewa dengan kekasih-kekasih barunya: aku akan pulang kembali kepada suamiku yang pertama, sebab waktu itu aku lebih berbahagia dari pada sekarang (Hos. 2:6). (3) Apa tujuan dari semua pertimbangannya itu. Karena keadaannya sudah sedemikian buruk, dan mungkin hanya akan menjadi lebih baik jika ia kembali kepada ayahnya, akhirnya pertimbangannya itu membawanya pada suatu keputusan: aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku. Perhatikanlah, tujuan yang baik memang baik, tetapi yang terbaik dari semuanya adalah bertindak. [1] Ia memutuskan apa yang akan dilakukannya: aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku. Ia tidak mau berlambat-lambat, tetapi segera bangkit dan pergi. Meskipun ia berada di negeri yang jauh, sangat jauh dari rumah ayahnya, sejauh apa pun itu, ia tetap akan kembali pulang. Setiap langkah yang menjauh dari Allah harus menjadi setiap langkah untuk kembali kepada-Nya. Meskipun ia bekerja pada seorang majikan di negeri itu, ia tidak merasa kesulitan memutuskan pekerjaannya dengan majikannya. Kita bukanlah orang-orang yang berutang kepada daging, kita sama sekali tidak berkewajiban memberi tahu majikan-majikan kita di Mesir terlebih dulu, kita bisa berhenti bekerja kapan saja kita mau. Amatilah tekadnya ketika ia berkata, "Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku. Aku sudah bertekad untuk pergi, apa pun yang akan terjadi nanti, daripada tinggal di sini dan mati kelaparan." [2] Ia menentukan apa yang akan dikatakannya nanti. Pertobatan yang sejati adalah bangkit dan datang kepada Allah: inilah kami, kami datang kepada-Mu. Akan tetapi, apakah yang akan kita katakan nanti? Di sini ia memikir-mikirkan apa yang akan dikatakannya. Perhatikanlah, dalam semua permohonan kita kepada Allah, alangkah baiknya jika kita memikirkan terlebih dulu apa yang akan kita katakan, sehingga kita bisa memaparkan perkara kita di hadapan-Nya, dan memenuhi mulut kita dengan kata-kata pembelaan. Kita diberi kebebasan berbicara, dan kita harus memikirkan dengan sungguh-sungguh bagaimana kita dapat menggunakan kebebasan itu sepenuhnya, tanpa menyelewengkannya. Marilah kita lihat sekarang apa yang ingin dikatakannya. Pertama, ia akan mengakui kesalahan dan kebodohannya: aku telah berdosa. Perhatikanlah, karena kita semua telah berdosa, penting bagi kita, dan sudah menjadi keharusan bagi kita, untuk mengakui bahwa kita telah berdosa. Pengakuan dosa merupakan hal yang diharuskan dan sangat ditekankan, sebagai syarat penting untuk mendapatkan damai sejahtera dan pengampunan. Jika kita mengaku tidak berdosa, kita akan didakwa dengan kovenan kesucian, yang pasti akan menyatakan kita bersalah. Sedangkan jika kita mengaku berdosa, dengan hati menyesal, bertobat, dan taat, maka kita membuka diri pada kovenan anugerah, yang menawarkan pengampunan bagi orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka. Kedua, ia sungguh akan menyatakan betapa besar dosanya, tidak akan memperingankannya, dan bersedia menanggung bebannya: aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa. Biarlah mereka yang tidak patuh kepada orangtua mereka di dunia ini memikirkan hal ini, bahwa mereka berdosa terhadap sorga dan di hadapan Allah. Pelanggaran terhadap orangtua adalah pelanggaran terhadap Allah. Marilah kita semua memikirkannya, karena inilah yang membuat dosa kita luar biasa besar, dan oleh sebab itu kita harus sangat berduka karenanya. . Dosa diperbuat dengan menghina wewenang Allah atas diri kita: kita telah berdosa terhadap Sorga. Di sini Allah disebut Sorga, untuk menunjukkan betapa jauh ditinggikannya Dia di atas kita, dan betapa besar kekuasaan-Nya atas diri kita, sebab Sorgalah yang mengatur segala-galanya. Kejahatan dosa mengarah tinggi ke atas, menentang Sorga. Orang yang berani berdosa dikatakan membuka mulut mereka melawan langit (Mzm. 73:9). Namun demikian, dosa adalah kejahatan yang tidak berdaya, sebab kita tidak dapat menyakiti sorga. Bahkan, terlebih lagi, dosa adalah kejahatan yang bodoh, sebab apa yang ditembakkan melawan sorga akan kembali menimpa kepala orang yang menembakkannya (Mzm. 7:17). Dosa adalah penghinaan terhadap Allah di sorga, dosa menghilangkan kemuliaan dan sukacita sorgawi, dan bertentangan dengan rancangan-rancangan Kerajaan Sorga. . Dosa diperbuat dengan menghina pengawasan Allah terhadap diri kita: "Aku telah berdosa terhadap sorga, dan di hadapan-Mu, di depan mata-Mu." Tidak ada lagi penghinaan yang lebih besar daripada ini. Ketiga, ia akan menghakimi dan mempersalahkan dirinya sendiri atas semua dosa itu, dan mengaku bahwa ia telah menyia-nyiakan segala hak istimewa yang diterimanya dari keluarganya: aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa (ay. 19). Ia tidak menyangkal hubungannya dengan ayahnya (sebab hanya itu sajalah yang harus diandalkannya), tetapi ia mengakui bahwa ayahnya bisa saja dengan adil menyangkal hubungan itu, dan menutup pintu baginya. Atas permintaannya sendiri, ia telah mendapatkan semua bagian yang menjadi haknya, dan tidak mempunyai alasan untuk meminta lagi. Perhatikanlah, sudah seharusnya orang-orang berdosa mengakui diri mereka tidak layak menerima kebaikan apa pun dari Allah. Mereka harus merendahkan diri dan bersimpuh di hadapan-Nya. Keempat, namun demikian ia akan memohon supaya diterima kembali ke dalam keluarganya, meskipun harus tinggal di tempat yang paling hina di sana: "Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa, itu sudah cukup baik, malah terlalu baik bagiku." Perhatikanlah, para petobat sejati pasti sangat menghargai rumah Allah, beserta segala hak istimewa yang ada di dalamnya, dan akan senang tinggal di tempat mana saja, meskipun hanya sebagai penjaga pintu (Mzm. 84:11). Sekalipun didudukkan bersama orang-orang upahan, ia tidak saja akan menyanggupinya, malah lebih menyukainya, daripada harus hidup dengan keadaannya yang sekarang. Orang-orang yang berbalik kepada Allah, yang terhadap-Nya mereka telah memberontak, pasti ingin dipekerjakan oleh Dia sebagai apa saja. Mereka ingin digunakan untuk melayani dan memuliakan nama-Nya: "Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa, supaya aku bisa menunjukkan cintaku pada rumah ayahku sebesar yang telah aku sia-siakan ketika mengabaikannya dulu." Kelima, dalam melakukan semuanya ini ia memandang ayahnya sebagai seorang ayah: Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya, "Bapa." Perhatikanlah, memandang Allah sebagai Bapa, Bapa kita, sangatlah besar manfaatnya ketika kita bertobat dan kembali kepada-Nya. Hal ini akan membuat kita sungguh-sungguh menyesali dosa kita, menguatkan ketetapan hati kita untuk melawan dosa, dan mendorong kita untuk mengharapkan pengampunan. Allah senang dipanggil Bapa, baik oleh orang-orang yang bertobat maupun yang memohon. Anak kesayangankah gerangan Efraim? (4) Apa yang dilakukannya untuk menindaklanjuti rencana ini: maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketetapan hatinya yang baik itu segera dilaksanakannya tanpa ditunda-tunda. Ia menempa besi selagi panas, ia mengambil kesempatan pada saat itu juga, dan tidak menunda-nunda menunggu waktu yang lebih enak. Perhatikanlah, kita harus secepat mungkin menindaklanjuti apa yang sudah kita tetapkan. Sudahkah kita berkata bahwa kita akan bangkit dan pergi? Kalau begitu marilah kita segera bangkit dan pergi. Ia tidak pergi dengan setengah hati, lalu berpura-pura kelelahan dan tidak bisa berjalan lagi, melainkan, meskipun merasa lemah dan letih, ia melakukannya sampai tuntas. Jika engkau mau kembali, hai Israel, kembalilah engkau kepada-Ku, dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. . Di sini kita melihat dia diterima dan dihibur oleh ayahnya: ia pergi kepada bapanya. Tetapi, apakah ia disambut di sana? Ya benar, ia disambut dengan penuh rasa haru. Dan, omong-omong, ini juga merupakan contoh bagi para orangtua yang anak-anaknya sudah berbuat bodoh dan tidak patuh, bahwa jika mereka berbalik dan berserah diri, janganlah berlaku kasar dan kejam terhadap mereka, melainkan haruslah mengendalikan diri dengan hikmat yang dari atas, dengan lemah-lembut dan tenang. Biarlah orang-orang tua mengikut Allah, penuh belas kasih seperti Dia. Namun kisah ini terutama dirancang untuk menunjukkan anugerah dan belas kasihan Allah terhadap orang-orang berdosa yang malang yang bertobat dan kembali kepada-Nya, dan kesediaan-Nya untuk mengampuni mereka. Sekarang perhatikanlah di sini: (1) Kasih sayang yang besar dari sang ayah ketika ia menerima kembali anaknya: ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya (ay. 20). Ia mengungkapkan kebaikannya sebelum anaknya mengungkapkan penyesalannya, sebab Allah bertindak mendahului kita dengan berkat-berkat kebaikan-Nya. Bahkan sebelum kita berseru-seru Ia sudah menjawab, sebab Ia tahu apa yang ada dalam hati kita. Aku akan mengakui pelanggaran-pelanggaranku, dan Engkau mengampuni kesalahanku. Sungguh hidup gambaran-gambaran yang diperlihatkan di sini! [1] Inilah mata yang penuh belas kasihan, dan cepat melihat: ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, sebelum anggota keluarga yang lain mengetahui kedatangannya, seolah-olah dari puncak menara yang tinggi ia selalu melihat ke arah anaknya pergi, sambil berpikir, "Oh, semoga saja di kejauhan sana aku bisa melihat anakku sedang kembali menuju ke sini!" Ini
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | NEXT: Khotbah HKBP - Minggu, 13 Maret 2016 - Kebangkitan Yesus - Yohanes 12:1-8 PREV: Khotbah HKBP Minggu, 28 Februari 2016 - Dosa dan penderitaan - Lukas 13:1-9 All Garis Besar: Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96 Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96 Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/LISTGarisBesar.htm' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96 1 Timotius 6:6-19 (1) 2 Timotius 1:1-14 (1) 2 Timotius 2:8-15 (1) Filipi 4:4-9 (1) Ibrani 11:29--12:2 (1) Kejadian 15:1-6 (1) Kejadian 32:22-31 (1) Lukas 10:1-11 (1) Lukas 10:25-37 (1) Lukas 11:1-13 (1) Lukas 13:10-17 (1) Lukas 14:1, 7-14 (1) Lukas 14:25-33 (1) Lukas 15:1-10 (1) Lukas 16:1-13 (1) Lukas 19:28-40 (1) Lukas 2:22-40 (1) Lukas 3:15-17 (1) Lukas 3:15-22 (1) Lukas 4:14-21 (2) Lukas 4:21-30 (2) Lukas 8:26-39 (1) Lukas 9:28-36 (1) Matius 27:57-66 (1) Matius 6:1-21 (1) Roma 15:4-13 (1) Roma 1:1-7 (1) Yesaya 1:10-18 (1) Yesaya 35:1-10 (1) Yohanes 12:1-11 (1) Yohanes 12:1-8 (1) Yohanes 12:20-36 (1) Yohanes 13:21-32 (1) Yohanes 20:1-18 (2) Yohanes 2:1-11 (2) Yohanes 3:13-17 (1)
Nyanyian Ibadah Gereja: Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, NR TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Suplemen Buku Ende, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, |
NEXT: Khotbah HKBP - Minggu, 13 Maret 2016 - Kebangkitan Yesus - Yohanes 12:1-8 PREV: Khotbah HKBP Minggu, 28 Februari 2016 - Dosa dan penderitaan - Lukas 13:1-9 Minggu, 25 Oktober 2026 Jamita HKBP Minggu, 25 Oktober 2026 - Mangalului Pangondianan di Goar ni Jahowa (Mencari Perlindungan pada Nama TUHAN) - Zefanya 3:9-15 Minggu, 18 Oktober 2026 Jamita HKBP Minggu, 18 Oktober 2026 - DEBATA DO MANJOU JALA MAMILLIT HAMU (DIPANGGIL DAN DIPILIH ALLAH) - 2 Petrus 1:3-10
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - FB © 2012 . All Rights Reserved. |