BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 709 kali
Renungan HKBP 2026
Jamita HKBP Minggu, 25 Oktober 2026 - Mangalului Pangondianan di Goar ni Jahowa (Mencari Perlindungan pada Nama TUHAN) - Zefanya 3:9-15

1. Pembukaan: Siapa yang Menjadi Perlindungan Kita?, 2. Latar Belakang Firman Tuhan, 3. Isi Khotbah, 4. Bagaimana Kita Mempraktikkan Firman Ini?, 5. Penutup: Jangan Hanya Mencari Tuhan Ketika Ada Masalah

Zefanya 3:9-15
9Tetapi kemudian Aku akan mengubah hati bangsa-bangsa itu, sehingga mereka berdoa kepada-Ku saja, dan tidak kepada ilah-ilah lain. Bangsa-bangsa itu semua akan mentaati Aku. 10Bahkan dari Sudan yang jauh, umat-Ku yang tercerai-berai itu akan datang dan mempersembahkan kurban kepada-Ku. 11Pada waktu itu, hai umat-Ku, kamu tak perlu merasa malu lagi karena telah memberontak terhadap Aku. Aku akan mengusir setiap orang yang sombong dan angkuh, dan kamu tidak akan memberontak lagi terhadap Aku di bukit-Ku yang suci. 12Di sana akan Kubiarkan menetap suatu bangsa yang rendah hati, yang mengandalkan pertolongan-Ku. Mereka boleh tinggal di sana. 13Orang Israel yang masih tersisa, tidak akan berbuat jahat lagi kepada siapa pun; mereka tak akan berbohong lagi dan tidak pula menipu. Mereka akan makmur dan sejahtera, dan tidak merasa takut kepada siapa pun.”
Lagu sukacita
14Hai Israel, bersoraklah dan bernyanyi!
Hai Yerusalem, bergembiralah dengan segenap hati!
15Sebab Tuhan berhenti menghukum kamu;
Ia telah mengusir segala musuhmu.

Penjelasan:

Zefanya 3:9-15
9Tetapi kemudian Aku akan mengubah hati bangsa-bangsa itu, sehingga mereka berdoa kepada-Ku saja, dan tidak kepada ilah-ilah lain. Bangsa-bangsa itu semua akan mentaati Aku. 10Bahkan dari Sudan yang jauh, umat-Ku yang tercerai-berai itu akan datang dan mempersembahkan kurban kepada-Ku. 11Pada waktu itu, hai umat-Ku, kamu tak perlu merasa malu lagi karena telah memberontak terhadap Aku. Aku akan mengusir setiap orang yang sombong dan angkuh, dan kamu tidak akan memberontak lagi terhadap Aku di bukit-Ku yang suci. 12Di sana akan Kubiarkan menetap suatu bangsa yang rendah hati, yang mengandalkan pertolongan-Ku. Mereka boleh tinggal di sana. 13Orang Israel yang masih tersisa, tidak akan berbuat jahat lagi kepada siapa pun; mereka tak akan berbohong lagi dan tidak pula menipu. Mereka akan makmur dan sejahtera, dan tidak merasa takut kepada siapa pun.”
Lagu sukacita
14Hai Israel, bersoraklah dan bernyanyi!
Hai Yerusalem, bergembiralah dengan segenap hati!
15Sebab Tuhan berhenti menghukum kamu;
Ia telah mengusir segala musuhmu.
Kamu dilindungi oleh raja Israel, Tuhanmu sendiri.
Sekarang kamu tak perlu merasa takut lagi.

Penjelasan:

1. Pembukaan: Siapa yang Menjadi Perlindungan Kita?

Horas, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus!

Selamat hari Minggu bagi seluruh jemaat yang dikasihi Tuhan. Puji Tuhan, kita kembali berkumpul di rumah-Nya untuk beribadah, mendengarkan firman, berdoa, dan menguatkan iman kita.

Saudara-saudari, saya mau bertanya. Kalau hujan turun dengan deras, ke mana kita mencari perlindungan?

Tentu kita mencari rumah, pondok, atau tempat berteduh. Kita tidak mungkin berdiri di tengah hujan sambil berkata, “Saya orang beriman, jadi hujan tidak akan membasahi saya!”

Iman bukan berarti kita tidak perlu berteduh. Iman berarti kita tahu ke mana harus mencari perlindungan.

Begitu juga ketika menghadapi masalah kehidupan. Ketika ekonomi sulit, usaha sepi, anak-anak menghadapi persoalan, tubuh mulai sakit, atau hubungan keluarga mengalami konflik, ke mana kita mencari pertolongan?

Ada orang yang langsung mencari uang. Ada yang menelepon teman yang punya jabatan. Ada yang mencari orang yang dianggap berkuasa. Ada pula yang sibuk memikirkan masalah sampai tidak bisa tidur.

Tidak salah mencari pertolongan melalui sesama manusia. Tuhan juga dapat memakai orang lain untuk menolong kita. Namun, kita harus ingat bahwa manusia memiliki keterbatasan. Uang bisa habis, jabatan bisa berakhir, dan orang yang kita harapkan pun terkadang tidak mampu menolong.

Karena itu, kita membutuhkan perlindungan yang tidak berubah, yaitu perlindungan Tuhan.

Firman Tuhan hari ini, dari Zefanya 3:9-15, mengajak kita melihat bahwa Tuhan bukan hanya menghukum kejahatan, melainkan juga memulihkan umat-Nya, membersihkan hati mereka, dan memberikan alasan untuk bersukacita.

Judul khotbah kita hari ini adalah: “Mencari Perlindungan pada Nama TUHAN.”

Mari kita belajar bersama bagaimana hidup dalam perlindungan Tuhan.

2. Latar Belakang Firman Tuhan

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Kitab Zefanya disampaikan pada masa ketika kehidupan bangsa Yehuda menghadapi persoalan rohani yang serius. Banyak orang tidak lagi hidup setia kepada Tuhan. Penyembahan berhala, kesombongan, ketidakadilan, dan kehidupan yang tidak menaati firman Tuhan menjadi bagian dari persoalan bangsa itu.

Melalui Nabi Zefanya, Tuhan menyampaikan teguran dan peringatan tentang datangnya hari penghakiman.

Namun, berita Tuhan tidak berhenti pada penghukuman. Dalam bagian akhir kitab ini, kita menemukan janji pemulihan. Tuhan berjanji membersihkan umat-Nya, menyingkirkan kesombongan, menyelamatkan mereka, dan memberikan sukacita kembali.

Jadi, Zefanya 3:9-15 bukan sekadar berbicara tentang manusia yang mencari pertolongan. Bagian ini memperlihatkan Tuhan yang bertindak untuk memulihkan umat-Nya agar mereka kembali hidup dalam kesetiaan kepada-Nya.

Inilah kabar baik bagi kita. Ketika kita menyadari kesalahan, kita masih dapat datang kepada Tuhan dengan pertobatan. Ketika kita mengalami kesulitan, kita dapat berharap kepada-Nya. Ketika kita merasa tidak berdaya, kita dapat mengingat bahwa Tuhan tidak meninggalkan rencana keselamatan-Nya.

Mari kita memperhatikan tiga pesan penting dari firman Tuhan ini.

3. Isi Khotbah

Poin pertama: Tuhan Memurnikan Hati dan Mengajar Kita Berseru kepada-Nya

Zefanya 3:9-10

Dalam ayat 9, Tuhan berjanji memberikan bibir yang bersih kepada bangsa-bangsa supaya mereka semua dapat berseru kepada nama TUHAN dan beribadah kepada-Nya dengan sehati.

Perhatikan baik-baik, saudara-saudari. Tuhan tidak hanya berbicara tentang perubahan keadaan di luar diri manusia. Tuhan juga berbicara tentang perubahan hati dan perkataan manusia.

Mengapa hal ini penting?

Sebab masalah manusia sering kali bukan hanya terletak pada keadaan, tetapi juga pada cara manusia berpikir, berbicara, dan memperlakukan sesamanya.

Ada orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh pada hari Minggu, tetapi pada hari Senin kembali menyebarkan fitnah.

Ada orang yang menyanyikan pujian kepada Tuhan, tetapi setelah pulang dari gereja justru bertengkar dengan tetangga.

Ada pula orang yang berkata, “Tuhan adalah kasih,” tetapi ketika melihat orang lain berhasil, hatinya panas seperti sedang memasak air!

Saudara-saudari, bukankah kita kadang-kadang juga demikian?

Kita ingin Tuhan mengubah keadaan kita, tetapi kita lupa meminta Tuhan mengubah hati kita.

Kita berdoa supaya keluarga diberkati, tetapi kita sendiri sulit meminta maaf. Kita meminta Tuhan memberikan kedamaian, tetapi perkataan kita justru membuat orang lain terluka.

Karena itu, janji tentang bibir yang bersih sangat penting. Tuhan menghendaki umat-Nya menjadi manusia yang memuliakan Dia melalui perkataan dan kehidupan sehari-hari.

Mencari perlindungan pada nama Tuhan dimulai dengan hati yang mau dibersihkan dan kehidupan yang mau diperbarui.

Bayangkan sebuah keluarga yang setiap malam berdoa bersama. Ayah berdoa, ibu mengaminkan, anak-anak ikut berdoa. Tetapi setelah doa selesai, ayah dan ibu kembali bertengkar karena masalah uang.

Doanya bagus, tetapi suasana rumahnya belum mencerminkan isi doa itu.

Tentu kita tidak harus menjadi keluarga yang sempurna. Namun, kita harus bersedia belajar berubah. Kalau sudah bersalah, berani meminta maaf. Kalau sudah menyakiti, berusaha memperbaiki. Kalau sudah marah, belajar mengendalikan perkataan.

Jangan sampai mulut kita rajin mengatakan, “Haleluya!” tetapi juga rajin mengatakan, “Kau memang selalu begitu!” kepada pasangan kita.

Sedikit humor, saudara-saudari: ada orang yang kalau berdoa meminta Tuhan memberikan kesabaran. Begitu selesai berdoa, istrinya bertanya, “Pak, tadi sampah sudah dibuang?”

Dia menjawab, “Aduh, baru juga selesai berdoa, sudah ada ujian!”

Saudara-saudari, mungkin memang ujian kesabaran datang dari hal-hal kecil di rumah. Justru di sanalah iman kita perlu terlihat.

Penerapan bagi jemaat HKBP:

  • Di rumah, bangunlah kebiasaan berbicara dengan kasih, bukan dengan hinaan.

  • Di gereja, jangan biarkan perbedaan pendapat merusak persekutuan.

  • Di tempat kerja, jangan ikut menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.

  • Dalam doa, mintalah bukan hanya berkat, melainkan juga hati yang bersih dan perkataan yang benar.

Tuhan ingin kita berseru kepada nama-Nya dengan sungguh-sungguh, sekaligus menunjukkan melalui kehidupan kita bahwa kita adalah umat-Nya.

Poin kedua: Tuhan Merendahkan Kesombongan dan Melindungi Orang yang Rendah Hati

Zefanya 3:11-13

Dalam bagian ini, Tuhan berjanji menyingkirkan orang-orang yang sombong dari tengah umat-Nya. Sebaliknya, Tuhan akan meninggalkan suatu umat yang rendah hati dan lemah, yang mencari perlindungan pada nama TUHAN.

Inilah inti yang sangat penting dari firman hari ini.

Tuhan tidak menghendaki umat-Nya hidup dengan kesombongan. Tuhan menghendaki umat yang menyadari keterbatasan dirinya dan bersedia bergantung kepada-Nya.

Saudara-saudari, apakah yang dimaksud dengan kesombongan?

Kesombongan bukan hanya ketika seseorang berkata, “Saya lebih hebat daripada kamu!”

Kesombongan juga dapat terlihat ketika seseorang merasa tidak pernah salah, tidak mau menerima nasihat, merendahkan orang miskin, atau menganggap dirinya tidak membutuhkan Tuhan.

Ada orang yang merasa aman karena memiliki banyak uang. Ada yang merasa kuat karena memiliki jabatan. Ada yang merasa dirinya paling benar karena sudah lama menjadi anggota gereja.

Namun, ketika uang, jabatan, atau kedudukan itu hilang, barulah ia menyadari bahwa hidup manusia sangat terbatas.

Kita boleh memiliki kekayaan. Kita boleh berpendidikan tinggi. Kita boleh mempunyai jabatan dan pengalaman. Semua itu dapat menjadi berkat Tuhan. Tetapi jangan sampai berkat tersebut membuat kita lupa kepada Sang Pemberi berkat.

Orang yang rendah hati bukanlah orang yang tidak memiliki kemampuan, melainkan orang yang menyadari bahwa segala kemampuannya tetap berada di bawah kuasa Tuhan.

Mari kita lihat contoh sederhana.

Ketika seseorang berhasil membangun usaha, ia dapat berkata, “Saya berhasil karena kerja keras saya sendiri.”

Memang, kerja keras itu penting. Kedisiplinan juga penting. Tetapi siapa yang memberikan kesehatan? Siapa yang memberikan kesempatan? Siapa yang memungkinkan kita bertemu dengan orang-orang yang membantu kita?

Kita bekerja keras, tetapi kita tidak menguasai seluruh keadaan. Karena itu, orang percaya berkata, “Saya bersyukur kepada Tuhan. Saya sudah berusaha, tetapi saya tahu bahwa hidup dan kesempatan saya ada dalam tangan-Nya.”

Lalu, bagaimana dengan orang yang sedang mengalami kesulitan?

Mungkin ada jemaat yang sedang kesulitan membayar cicilan. Ada yang mengkhawatirkan masa depan anak. Ada yang sedang mencari pekerjaan. Ada yang sudah berusaha keras, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.

Firman ini menghibur kita bahwa kelemahan bukan berarti kita tidak berharga di hadapan Tuhan.

Tuhan memperhatikan umat yang rendah hati dan mencari perlindungan pada nama-Nya.

Jangan merasa bahwa Tuhan hanya dekat dengan orang kaya. Jangan merasa bahwa doa orang yang sederhana tidak didengar. Jangan menganggap bahwa orang yang sedang mengalami kegagalan pasti ditinggalkan Tuhan.

Kita tidak dapat menyimpulkan kasih Tuhan berdasarkan keadaan ekonomi atau kedudukan seseorang.

Ada orang kaya yang tetap membutuhkan Tuhan. Ada orang miskin yang hidup dengan iman yang teguh. Ada orang yang sedang berhasil, tetapi tetap rendah hati. Ada pula orang yang sedang menderita, tetapi tetap berpegang kepada janji Tuhan.

Saudara-saudari, perlindungan Tuhan bukanlah hadiah bagi orang yang merasa dirinya sempurna, melainkan pengharapan bagi manusia yang mau datang kepada-Nya dengan rendah hati dan percaya.

Namun, rendah hati bukan berarti kita harus menyerah terhadap keadaan. Jika usaha sedang sepi, kita tetap berusaha memperbaiki usaha. Jika keluarga sedang bermasalah, kita mencari jalan untuk berdamai. Jika sakit, kita berdoa sekaligus mencari pertolongan medis yang diperlukan.

Kita tidak memakai iman untuk menggantikan tanggung jawab. Kita menjalankan tanggung jawab sambil mengandalkan Tuhan.

Sedikit humor, saudara-saudari.

Ada orang berkata, “Saya ini orangnya rendah hati sekali. Tidak ada orang yang lebih rendah hati daripada saya!”

Nah, begitu ia merasa paling rendah hati, sebenarnya ia sudah mulai meninggikan dirinya sendiri!

Kerendahan hati tidak perlu diumumkan dengan pengeras suara. Kerendahan hati terlihat dari cara kita memperlakukan orang lain.

Kalau kita menjadi pimpinan, apakah kita menghargai bawahan? Kalau kita menjadi orang tua, apakah kita mau mendengarkan anak? Kalau kita menjadi pelayan gereja, apakah kita melayani dengan kasih atau justru ingin dihormati?

Penerapan bagi jemaat:

  1. Jangan merendahkan orang yang keadaan ekonominya lebih sulit daripada kita.

  2. Jangan merasa paling benar dalam keluarga maupun dalam persekutuan gereja.

  3. Berani mengakui kesalahan dan menerima nasihat yang baik.

  4. Tetap bekerja, berdoa, dan berharap kepada Tuhan ketika menghadapi kesulitan.

  5. Jadilah orang yang dapat diandalkan dan membawa pertolongan bagi sesama.

Kita tidak dipanggil hanya untuk mencari perlindungan Tuhan bagi diri sendiri. Kita juga dipanggil menjadi saluran kasih dan pertolongan Tuhan bagi orang lain.

Poin ketiga: Tuhan Menyelamatkan Umat-Nya dan Memberikan Sukacita

Zefanya 3:14-15

Pada ayat 14, umat Tuhan diajak bersorak-sorai, bersukacita, dan bersukaria dengan segenap hati.

Mengapa mereka diajak bersukacita?

Karena Tuhan berjanji memulihkan mereka. Ayat 15 menyatakan bahwa Tuhan telah menyingkirkan hukuman dan musuh mereka. Raja Israel, yakni TUHAN, berada di tengah-tengah mereka sehingga mereka tidak perlu lagi takut terhadap malapetaka.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, perhatikan dasar sukacita tersebut.

Umat Tuhan tidak bersukacita karena semua keinginan mereka terpenuhi. Mereka bersukacita karena Tuhan bertindak menyelamatkan dan hadir di tengah-tengah mereka.

Ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita sekarang.

Sering kali kita berpikir bahwa kita baru bisa bersukacita apabila semua masalah selesai.

“Kalau utang sudah lunas, saya akan tenang.”

“Kalau anak sudah mendapatkan pekerjaan, saya akan bersukacita.”

“Kalau usaha sudah ramai, saya akan bersyukur.”

“Kalau tubuh sudah sehat, saya akan memuji Tuhan.”

Tentu kita boleh berdoa untuk semua kebutuhan tersebut. Tidak ada yang salah dengan meminta pertolongan Tuhan. Namun, jangan menunda ucapan syukur sampai seluruh masalah selesai.

Kita masih dapat bersyukur di tengah pergumulan karena Tuhan tetap layak dipercaya.

Bersukacita bukan berarti berpura-pura bahwa kita tidak sedang mengalami kesulitan. Bersukacita berarti kesulitan tidak menjadi satu-satunya hal yang menentukan pengharapan kita.

Kita boleh menangis, tetapi tidak harus kehilangan iman. Kita boleh merasa lelah, tetapi tetap dapat berdoa. Kita boleh menghadapi masa depan yang belum jelas, tetapi tetap melangkah dengan pengharapan.

Bayangkan seorang ibu yang berdoa untuk anaknya. Anaknya sedang menghadapi kesulitan, dan sang ibu belum mengetahui bagaimana jalan keluarnya.

Ia mungkin menangis ketika berdoa. Ia mungkin merasa khawatir. Namun, ia tetap berkata, “Tuhan, saya belum mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi saya menyerahkan anak saya ke dalam tangan-Mu.”

Itulah iman yang bersandar kepada Tuhan.

Iman tidak selalu membuat kita mengetahui seluruh jawaban. Iman membuat kita tetap berjalan bersama Tuhan meskipun belum mengetahui semua jawaban.

Dalam kehidupan keluarga Batak, kita mengenal pentingnya kebersamaan, saling membantu, dan perhatian terhadap keluarga besar. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi kekuatan yang baik apabila dijalankan dengan kasih.

Tetapi jangan sampai kita lebih takut terhadap perkataan orang daripada kehilangan damai sejahtera bersama Tuhan.

Jangan sampai kita sibuk menjaga nama baik keluarga, tetapi lupa memperbaiki hubungan di dalam keluarga itu sendiri.

Jangan sampai kita begitu khawatir tentang apa yang akan dikatakan orang lain sehingga kita tidak lagi berani datang kepada Tuhan dengan jujur.

Nama Tuhan adalah tempat kita mencari pertolongan, bukan sekadar kata-kata yang kita ucapkan ketika menghadapi keadaan darurat.

Saudara-saudari, ayat 15 mengingatkan bahwa Tuhan berada di tengah umat-Nya.

Bagi kita sebagai orang Kristen, kehadiran Tuhan merupakan sumber pengharapan yang besar. Dalam iman kita kepada Yesus Kristus, kita mengenal Allah yang mendekati manusia, memberikan pengampunan, dan memanggil kita untuk hidup dalam kasih-Nya.

Kita tidak boleh memakai janji pemulihan dalam Zefanya untuk menjamin bahwa setiap persoalan kita akan langsung selesai atau bahwa orang percaya tidak akan mengalami penderitaan. Namun, kita dapat berpegang kepada kesetiaan Tuhan dan pengharapan keselamatan yang diberikan-Nya.

Ketika kita menghadapi kesulitan, Tuhan tidak kehilangan kuasa-Nya. Ketika kita merasa lemah, kita masih dapat berdoa. Ketika kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, kita tetap dapat melakukan bagian kita hari ini dengan setia.

Sedikit humor, saudara-saudari.

Ada orang yang setiap malam berdoa, “Tuhan, berikanlah saya damai sejahtera.”

Tetapi sebelum tidur, ia memeriksa pesan di telepon genggam. Kalau ada pesan yang belum dibalas, ia mulai gelisah. Kalau melihat tetangga membeli sepeda motor baru, ia mulai membandingkan. Kalau melihat teman berlibur, ia ikut pusing memikirkan biaya liburan!

Akhirnya, yang tidak bisa tidur bukan hanya tubuhnya, tetapi juga pikirannya.

Tentu telepon genggam bukan musuh kita. Namun, kita perlu belajar membatasi kekhawatiran dan perbandingan yang tidak perlu.

Ada kalanya kita perlu meletakkan telepon, membuka Alkitab, berdoa, dan mengingat kembali berkat Tuhan yang sudah kita terima.

Sukacita sejati bukan berarti kita memiliki semua yang kita inginkan, melainkan kita belajar hidup dalam pengharapan karena Tuhan tetap menjadi sandaran kita.

Karena itu, mari kita membangun kebiasaan bersyukur, memperkuat doa keluarga, saling menghibur, dan tidak membiarkan ketakutan menguasai seluruh kehidupan kita.

4. Bagaimana Kita Mempraktikkan Firman Ini?

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Setelah mendengar firman Tuhan, mari kita membawa tiga pesan ini ke dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, bersihkan hati dan perkataan kita.

Mulailah dari rumah. Kurangi perkataan yang menyakitkan, hentikan kebiasaan menyebarkan kabar yang belum pasti, dan beranilah meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Kedua, hiduplah dengan rendah hati.

Jangan mengukur nilai seseorang dari kekayaan, jabatan, pendidikan, atau keberhasilannya. Hormati sesama dan gunakan berkat yang kita terima untuk membantu orang lain.

Ketiga, tetap bersukacita dan berharap kepada Tuhan.

Teruslah berdoa dan berusaha. Ketika menghadapi masalah, jangan memikulnya sendirian. Carilah pertolongan yang tepat dan izinkan keluarga serta persekutuan gereja mendukung kita.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah selama ini saya lebih mengandalkan Tuhan atau hanya mengandalkan kekuatan sendiri?

  • Apakah perkataan saya membawa damai atau justru menambah luka bagi orang lain?

  • Apakah saya tetap bersyukur ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan saya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita merasa tidak layak datang kepada Tuhan. Justru sebaliknya, pertanyaan ini mengajak kita kembali kepada-Nya dan mengalami pembaruan hidup.

Kita tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berdoa. Kita datang kepada Tuhan karena kita membutuhkan kasih, pengampunan, bimbingan, dan pertolongan-Nya.

5. Penutup: Jangan Hanya Mencari Tuhan Ketika Ada Masalah

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Mari kita kembali mengingat pesan Zefanya 3:9-15.

Tuhan menjanjikan bibir yang bersih agar umat-Nya dapat berseru kepada nama-Nya. Tuhan menyingkirkan kesombongan dan memelihara umat yang rendah hati. Tuhan juga mengajak umat-Nya bersukacita karena Dia bertindak menyelamatkan dan hadir di tengah-tengah mereka.

Dari firman ini kita belajar bahwa mencari perlindungan pada nama TUHAN berarti hidup dalam kepercayaan kepada-Nya, merendahkan hati, memperbarui perkataan, dan tetap berpengharapan di tengah pergumulan.

Saudara-saudari, jangan hanya mencari Tuhan ketika usaha sedang sepi. Carilah Dia juga ketika usaha sedang berhasil.

Jangan hanya berdoa ketika tubuh sakit. Bersyukurlah juga ketika tubuh sehat.

Jangan hanya mengingat Tuhan ketika menghadapi masalah. Ingatlah Dia juga ketika menikmati berkat.

Sebab Tuhan bukan hanya tempat kita meminta sesuatu. Dia adalah Tuhan yang layak kita sembah, kasihi, dan percayai sepanjang hidup.

Jika hari ini ada jemaat yang sedang menghadapi persoalan ekonomi, jangan kehilangan pengharapan. Tetaplah bekerja dengan jujur dan bijaksana.

Jika ada keluarga yang sedang menghadapi konflik, jangan menyerah untuk mencari perdamaian. Belajarlah mendengarkan, meminta maaf, dan memperbaiki hubungan.

Jika ada yang sedang sakit atau mendampingi anggota keluarga yang sakit, tetaplah berdoa, mencari pertolongan yang diperlukan, dan menerima dukungan dari orang-orang yang mengasihi kita.

Jika ada yang merasa gagal, ingatlah bahwa kegagalan bukanlah keseluruhan cerita hidup kita. Kita masih dapat belajar, bangkit, dan melangkah kembali.

Dan jika ada yang sedang menikmati keberhasilan, tetaplah rendah hati. Jangan sampai berkat membuat kita lupa kepada Tuhan dan sesama.

Saudara-saudari, saya tutup dengan sebuah humor kecil.

Kalau listrik padam, kita mencari lilin atau lampu darurat. Kalau internet terputus, kita mulai mencari sinyal. Kalau dompet kosong, kita mulai mencari uang.

Tetapi ketika hati kehilangan damai sejahtera, jangan hanya sibuk mencari kesenangan di mana-mana. Datanglah juga kepada Tuhan dalam doa, dengarkan firman-Nya, dan mintalah hikmat untuk menjalani kehidupan.

Sebab tidak semua persoalan selesai hanya dengan uang, tidak semua ketakutan hilang hanya dengan hiburan, dan tidak semua pergumulan dapat kita tanggung sendirian.

Kita membutuhkan Tuhan dan kita juga membutuhkan kasih serta dukungan sesama.

Kiranya ketika kita meninggalkan gereja pada hari Minggu ini, kita membawa pulang keyakinan yang baru: kita tidak harus menjalani kehidupan dengan mengandalkan diri sendiri saja. Kita dapat bersandar kepada Tuhan, hidup dengan rendah hati, dan menjadi berkat bagi keluarga serta sesama.

Marilah kita mencari perlindungan pada nama TUHAN, bukan hanya dengan bibir, tetapi juga dengan hati, iman, dan perbuatan kita.

Amin.

6. Doa Penutup Khotbah

Bapa kami yang penuh kasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,

Kami bersyukur karena pada hari Minggu ini Engkau kembali mempertemukan kami untuk mendengarkan firman-Mu.

Terima kasih atas firman-Mu melalui Zefanya 3:9-”15 yang mengingatkan kami untuk mencari perlindungan pada nama-Mu.

Ya Tuhan, ampunilah kami apabila selama ini kami terlalu mengandalkan kekuatan sendiri, terlalu membanggakan harta dan kedudukan, serta sering menggunakan perkataan yang melukai hati sesama.

Bersihkanlah hati dan perkataan kami. Ajarlah kami hidup dengan rendah hati, saling mengasihi, dan berani memperbaiki kesalahan.

Kami menyerahkan keluarga-keluarga jemaat ke dalam tangan-Mu. Kuatkanlah mereka yang sedang menghadapi persoalan ekonomi, pekerjaan, kesehatan, pendidikan anak, dan berbagai pergumulan kehidupan.

Hiburkanlah mereka yang sedang berduka. Berikanlah kekuatan kepada mereka yang sedang sakit dan hikmat kepada mereka yang sedang mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.

Ajarlah kami untuk tetap bekerja dengan tekun, bertindak dengan bijaksana, serta tidak kehilangan pengharapan ketika keadaan belum berubah seperti yang kami harapkan.

Berkatilah gereja-Mu, para pelayan, para penatua, para diaken, dan seluruh jemaat HKBP agar kami dapat hidup dalam persatuan, kerendahan hati, dan kasih.

Biarlah perkataan kami membawa damai, perbuatan kami membawa pertolongan, dan kehidupan kami menjadi kesaksian tentang kasih-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami, kami berdoa dan mengucap syukur.

Amin.














NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 25 Oktober 2026 - Mangalului Pangondianan di Goar ni Jahowa (Mencari Perlindungan pada Nama TUHAN) - Zefanya 3:9-15


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 11 Oktober 2026 - Dihalomohon Debata do holong ni roha (Allah menghendaki cinta kasih) - Hosea 6:1-6

All Renungan HKBP 2026
(45)




NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 25 Oktober 2026 - Mangalului Pangondianan di Goar ni Jahowa (Mencari Perlindungan pada Nama TUHAN) - Zefanya 3:9-15


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 11 Oktober 2026 - Dihalomohon Debata do holong ni roha (Allah menghendaki cinta kasih) - Hosea 6:1-6

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de