f Khotbah HKBP Minggu, 19 April 2015 MISERICORDIAS DOMINI Third Sunday of Easter Mazmur 41 Yohanes 3:1-7 Lukas 24:36b-48 - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
Jamita HKBP Minggu, 21 Juni 2026 - Pemeliharaan Allah Yang Universal - Kejadian 21:8-21
# I. Latar Belakang Teks, II. Allah Memelihara Orang yang Tidak Diperhitungkan Manusia, III. Allah Bekerja Melampaui Batas Suku, Bangsa, dan Status, IV. Allah Menolong Pada Saat yang Tepat, V. Allah Memiliki Masa Depan bagi Setiap Orang,
View : 18495 kali

Download MP3 Music
Khotbah HKBP
Minggu, 19 April 2015
MISERICORDIAS DOMINI
Third Sunday of Easter
Mazmur 41 Yohanes 3:1-7 Lukas 24:36b-48

Mazmur 41
Doa minta penyembuhan
41:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (41-2) Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. 41:2 (41-3) TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, h sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! 41:3 (41-4) TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya. 41:4 (41-5) Kalau aku, kataku: "TUHAN, kasihanilah m aku, sembuhkanlah n aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa! " 41:5 (41-6) Musuhku mengatakan yang jahat tentang aku: "Bilakah ia mati, dan namanya hilang lenyap? " 41:6 (41-7) Orang yang datang menjenguk, berkata dusta; hatinya penuh kejahatan, lalu ia keluar menceritakannya di jalan. 41:7 (41-8) Semua orang yang benci kepadaku berbisik-bisik bersama-sama tentang aku, mereka merancangkan yang jahat terhadap aku: 41:8 (41-9) "Penyakit jahanam telah menimpa dia, sekali ia berbaring, takkan bangun-bangun lagi. " 41:9 (41-10) Bahkan sahabat karibku v yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku . 41:10 (41-11) Tetapi Engkau, ya TUHAN, kasihanilah aku dan tegakkanlah aku, maka aku hendak mengadakan pembalasan terhadap mereka. 41:11 (41-12) Dengan demikian aku tahu, bahwa Engkau berkenan kepadaku, apabila musuhku tidak bersorak-sorai karena aku. 41:12 (41-13) Tetapi aku, Engkau menopang aku karena ketulusanku, Engkau membuat aku tegak di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. 41:13 (41-14) Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya! Amin, ya amin.

Penjelasan:
* BERBAHAGIALAH ORANG YANG MEMPERHATIKAN ORANG LEMAH. Nas : Mazm 41:2
Allah mempunyai perhatian khusus terhadap orang yang lemah dan tidak berdaya, dan Ia memberkati orang yang menunjukkan kasih setia kepada yang membutuhkan. Ayat Mazm 41:2-4 mengembangkan prinsip, "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan" (Mat 5:7). Jikalau kita telah membagi belas kasihan Allah kepada mereka yang membutuhkan, kita dapat berdoa dengan kepastian bahwa Allah akan melepaskan kita pada waktu kesulitan (ayat Mazm 41:2), melindungi kita dari bahaya (ayat Mazm 41:3), memberkati kehidupan kita (ayat Mazm 41:3), menghancurkan kuasa Iblis dan musuh-musuh kita (ayat Mazm 41:3), dan memberikan kepada kita kehadiran-Nya dan kesembuhan waktu kita sakit (ayat Mazm 41:4; bd. Mazm 72:2,4,12; Ul 15:7-11; Ams 29:14; Yes 11:4; Yer 22:16; lihat cat. --> Mat 6:30).[atau ref. Mat 6:30]

* MENGANGKAT TUMITNYA TERHADAP AKU. Nas : Mazm 41:10
Yesus mengutip ayat ini dan menerapkannya pada peristiwa pengkhianatan-Nya oleh Yudas Iskariot, yang adalah sahabat yang dipercayai-Nya (Mat 26:14-16,20-25; Yoh 13:18;lihat cat. --> Luk 22:3). [atau ref. Luk 22:3]


Yohanes 3:1-7
Percakapan dengan Nikodemus
3:1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." 3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." 3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" 3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.

Penjelasan:

Dalam pasal ini diceritakan tentang:

I. Percakapan Kristus dengan Nikodemus, seorang Farisi, mengenai rahasia-rahasia agung Injil, yang di dalamnya Ia mengajar Nikodemus secara pribadi (ay. 1-21).
II. Percakapan Yohanes Pembaptis dengan murid-muridnya mengenai Kristus, ketika Kristus datang ke tempat ia berada (ay. 22-36). Dalam percakapan ini Yohanes dengan selayaknya dan dengan segala kepatuhan menyerahkan segala kehormatan dan kepentingannya kepada-Nya.

Percakapan Kristus dengan Nikodemus (3:1-21)

Dalam bagian penutup pada pasal sebelumnya, kita sudah melihat bahwa ada sedikit orang yang menjadi percaya kepada Kristus di Yerusalem. Dan di sini ada satu orang dari antara mereka itu, seorang yang sangat penting. Adalah layak untuk mengusahakan keselamatan bagi siapa saja dengan sungguh-sungguh, meskipun hanya untuk satu jiwa.
Perhatikanlah:

I. Siapa Nikodemus ini. Tidak banyak orang yang berkuasa dan terpandang yang dipanggil. Namun demikian, ada juga sebagian dari mereka yang terpanggil, dan inilah salah satunya. Tidak banyak dari antara para pemimpin, atau dari antara orang-orang Farisi, yang dipanggil, namun,
. Inilah seorang Farisi, seorang yang terdidik, seorang cendekiawan. Janganlah sampai orang berkata bahwa semua pengikut Kristus hanyalah orang-orang biasa yang tidak terpelajar. Prinsip-prinsip hidup orang Farisi dan kekhususan sekte mereka berlawanan langsung dengan semangat Kekristenan. Namun demikian, ada sebagian dari antara mereka yang membuang pikiran-pikiran mereka yang tinggi itu dan tunduk kepada Kristus. Anugerah Kristus mampu menundukkan perlawanan yang paling hebat.
. Ia adalah seorang pemimpin agama Yahudi, anggota Mahkamah Agama, anggota majelis, anggota dewan penasihat, seorang berpengaruh di Yerusalem. Meskipun keadaan pada waktu itu sangat buruk, masih ada sebagian pemimpin yang berniat baik. Namun demikian, mereka ini hanya bisa berbuat sedikit kebaikan karena derasnya arus yang menerjang mereka. Mereka dikuasai oleh sebagian besar orang, dan ditindih oleh orang-orang yang jahat, sehingga kebaikan yang ingin mereka perbuat tidak dapat mereka laksanakan. Walaupun begitu, Nikodemus tetap melakukan pekerjaannya, dan melakukan apa yang dapat diperbuatnya, meskipun ia tidak dapat melakukan apa yang ingin dilakukannya.
II. Ia datang kepada Kristus dengan segala kesungguhan (ay. 2).

Perhatikanlah di sini:

. Kapan dia datang: ia datang pada waktu malam kepada Yesus.

Perhatikanlah:

(1) Ia mengadakan percakapan secara pribadi dan khusus dengan Kristus karena ia tidak merasa puas hanya dengan mendengarkan perkataan-perkataan-Nya di tengah orang banyak. Ia memutuskan untuk berbicara kepada-Nya sendiri, di tempat di mana ia merasa bisa bebas berbicara dengan-Nya. Pasti banyak manfaat yang dapat kita peroleh jika kita memperbincangkan masalah-masalah kejiwaan kita secara pribadi dengan hamba-hamba Tuhan yang setia (Mal. 2:7).
(2) Ia mengadakan percakapan ini pada malam hari, yang dapat dipandang,
[1] Sebagai tindakan yang berhikmat dan bijaksana. Kristus sudah bekerja seharian dengan orang banyak, dan ia tidak ingin mengganggu-Nya pada saat itu, atau mengharapkan-Nya untuk memperhatikan dia, tetapi ia mengamati-amati saat Kristus, dan menunggu sampai Dia memiliki waktu senggang. Perhatikanlah, apa yang mendatangkan keuntungan bagi kita dan bagi keluarga kita sendiri haruslah kita kesampingkan terlebih dahulu demi keuntungan orang banyak. Kebaikan yang lebih besar haruslah lebih diutamakan daripada kebaikan yang lebih kecil. Kristus mempunyai banyak musuh, dan oleh karena itu Nikodemus mendatangi-Nya secara sembunyi-sembunyi, supaya jangan sampai ia ketahuan oleh imam-imam kepala, dan membuat mereka bertambah geram lagi terhadap Kristus.
[2] Sebagai tindakan yang bersemangat dan berani. Nikodemus adalah seorang yang sibuk, dan dia tidak bisa meluangkan waktu seharian untuk menemui Kristus, dan oleh sebab itu dia lebih memilih menghabiskan waktu santainya pada sore hari, atau waktu istirahatnya pada malam hari, daripada tidak berbicara dengan Kristus sama sekali. Ketika orang lain tertidur, ia memperoleh pengetahuan, seperti yang diperoleh Daud dengan perenungannya (Mzm. 63:7, dan 119:148). Mungkin Nikodemus datang kepada Kristus pada keesokan malamnya setelah ia melihat mujizat-mujizat-Nya, dan ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan pertama yang tersedia untuk memastikan kebenaran dari apa yang diyakininya. Ia tidak tahu seberapa cepat Kristus akan meninggalkan kota itu, atau apa yang mungkin terjadi di antara perayaan Paskah kali ini dan perayaan Paskah berikutnya, dan oleh karena itu ia tidak mau buang-buang waktu. Pada malam hari, perbincangannya dengan Kristus akan lebih bebas, dan lebih mungkin untuk tidak diganggu. Noctes Christianę -- malam-malam kristiani ini, jauh lebih maknawi daripada Noctes Atticę -- malam-malam dengan cerita dongeng dan puisi. Atau,
[3] Sebagai tindakan pengecut karena takut. Ia merasa takut, atau malu, jika orang melihatnya bersama Kristus, dan oleh karena itu ia datang pada malam hari. Apabila agama dianggap ketinggalan zaman, akan ada banyak orang yang seperti Nikodemus, terutama di antara para pemimpin, yang mengasihi Kristus dan ajaran-Nya tetapi tidak diketahui orang banyak. Akan tetapi, perhatikanlah,
pertama, meskipun ia datang pada malam hari, Kristus menyambutnya dengan baik, menerima kejujurannya, dan memaafkan kelemahannya. Ia memahami tabiatnya, yang mungkin mudah takut, dan godaan yang dihadapinya dari rekan-rekan sekerjanya, dan dengan demikian Ia mengajar hamba-hamba-Nya untuk menjadi segala-galanya bagi semua orang, dan untuk memberikan dorongan kepada tindakan-tindakan awal yang baik, meskipun lemah. Paulus mengajar dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang (Gal. 2:2).
Kedua, meskipun sekarang ia datang pada malam hari, namun setelah itu, ketika datang kesempatan, ia mengakui Kristus di hadapan orang banyak (7:50; 19:39). Anugerah yang pada mulanya hanyalah biji sesawi dapat tumbuh menjadi sebuah pohon yang besar.
. Apa yang dikatakannya. Ia tidak datang kepada Kristus untuk membicarakan masalah politik dan kenegaraan (meskipun ia seorang pemimpin), melainkan mengenai masalah-masalah yang menyangkut jiwanya sendiri dan keselamatannya, dan tanpa berbelit-belit ia langsung membicarakan inti permasalahannya. Ia memanggil Kristus Rabi, yang berarti seorang yang besar (Yes. 19:20, terjemahan KJV -- pen.). Ia akan mengirim seorang juruselamat kepada mereka, seorang yang besar, seorang Juruselamat dan Rabi, demikianlah yang dikatakan di Kitab Yesaya itu. Orang yang menghormati Kristus, yang berpikir dan berbicara dengan hormat tentang Dia, masih mempunyai harapan untuk diselamatkan. Ia memberi tahu Kristus seberapa banyak yang sudah diketahuinya: Kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru.

Perhatikanlah:

(1) Pernyataannya mengenai Kristus: Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah, bukan yang dididik atau ditahbiskan oleh manusia, seperti guru-guru lain, melainkan yang didukung oleh ilham dan kuasa ilahi. Ia yang akan menjadi Penguasa yang berdaulat datang terlebih dulu sebagai guru, sebab Ia akan memerintah dengan akal budi, dan bukan dengan kekerasan, dengan kuasa kebenaran, dan bukan dengan kuasa pedang. Dunia terbaring dalam kebodohan dan kesalahan, guru-guru Yahudi menjadi cemar dan membuat orang lain berbuat salah, maka inilah saatnya bagi Tuhan untuk bekerja. Ia datang sebagai guru yang diutus dari Allah, dari Allah yang adalah Bapa yang penuh belas kasihan, dalam belas kasihan-Nya terhadap dunia yang gelap dan tertipu. Ia datang dari Allah yang adalah Bapa segala terang dan sumber kebenaran, dan kepada terang dan kebenaran ini kita boleh mempertaruhkan jiwa kita.
(2) Keyakinannya akan hal itu: Kami tahu, bukan hanya aku, melainkan juga orang lain. Dengan demikian, dia menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sudah jelas dan sudah terbukti dengan sendirinya. Mungkin ia tahu bahwa ada orang-orang Farisi dan para pemimpin lain yang dikenalnya yang juga berkeyakinan sama dengannya tetapi tidak mau mengakuinya. Atau, kita bisa menganggap bahwa ia menggunakan kata ganti jamak (kami tahu) di sini karena ia membawa serta salah seorang, atau lebih, dari rekan-rekan dan murid-muridnya untuk mendapatkan pengajaran dari Kristus, dengan mengetahui bahwa mereka juga mempunyai kepedulian yang sama. "Tuan," katanya, "kami datang karena ingin diajar, ingin menjadi murid-murid-Mu, sebab kami yakin sepenuhnya bahwa Engkau adalah guru yang datang dari Allah."
(3) Alasan bagi keyakinan ini: Tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.

Di sini:

[1] Kita diyakinkan akan kebenaran mujizat-mujizat Kristus, bahwa semua itu bukanlah tipuan. Inilah Nikodemus, seorang yang bijaksana, berpikiran sehat, dan bersifat ingin tahu, seorang yang mempunyai segudang alasan dan kesempatan untuk mempertanyakan mujizat-mujizat itu. Namun, ia begitu yakin bahwa mujizat-mujizat itu memang benar adanya, sehingga ia begitu terpengaruh olehnya, sampai-sampai ia mau melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kepentingannya dan arus kepentingan rekan-rekannya yang berprasangka buruk terhadap Kristus.
[2] Kita diarahkan untuk mengambil kesimpulan dari mujizat-mujizat Kristus ini: oleh karena itu, kita harus menerima-Nya sebagai guru yang diutus Allah. Mujizat-mujizat Kristus adalah kesaksian atau jaminan yang mengesahkan siapa diri-Nya. Tatanan alam ini tidak bisa diubah kecuali oleh Allah yang berkuasa atas alam, yang kita yakini sebagai Allah kebenaran dan kebaikan, dan Ia tidak akan pernah menyerahkan tanda jabatan-Nya itu kepada seorang pembohong atau penipu.
III. Percakapan antara Kristus dan Nikodemus tentang hal ini, atau lebih tepatnya, khotbah Kristus yang disampaikan kepadanya, dan isi khotbah itu, yang mungkin merupakan ringkasan dari khotbah sebelumnya yang sudah disampaikan-Nya kepada orang banyak (ay. 11-12).

Ada empat hal yang dibicarakan oleh Juruselamat kita di sini:

. Mengenai kodrat dan pentingnya pembaharuan jiwa atau kelahiran kembali (ay. 3-8). Nah, kita harus memandang hal ini,
(1) Sebagai jawaban yang tepat terhadap pernyataan Nikodemus. Yesus menjawab (ay. 3).

Jawaban ini bisa merupakan:

[1] Suatu teguran terhadap apa yang dilihat-Nya kurang dalam pernyataan Nikodemus. Tidaklah cukup baginya untuk sekadar mengagumi mujizat-mujizat Kristus dan membenarkan tugas perutusan-Nya, tetapi juga ia harus dilahirkan kembali. Sangat jelas bahwa Nikodemus menantikan Kerajaan Sorga, Kerajaan Mesias yang segera datang. Kadang-kadang ia sadar akan semakin dekatnya kedatangan hari itu, dan seperti orang-orang Yahudi lain, ia pun mengharapkannya muncul dalam kemegahan dan kekuasaan lahiriah. Ia tidak meragukan bahwa Yesus ini, yang membuat mujizat-mujizat ini, adalah entah Sang Mesias itu sendiri atau nabinya, dan karena itu ia memberikan penghormatannya kepada-Nya, memuji-Nya, dan dengan demikian berharap akan mendapatkan keuntungan-keuntungan dalam kerajaan-Nya. Akan tetapi, Kristus berkata kepadanya bahwa ia tidak akan dapat memperoleh keuntungan apa pun dengan perubahan yang lahiriah seperti itu, jika tidak ada perubahan roh, perubahan prinsip dan kehendak, yang sama halnya dengan kelahiran baru. Nikodemus datang pada malam hari: "Tetapi ini tidak akan ada gunanya," tegas Kristus. Agama-Nya harus diakui di hadapan manusia, begitu menurut Dr. Hammond. Atau,
[2] Suatu tanggapan terhadap apa yang dilihat-Nya sedang direncanakan dalam pernyataan Nikodemus. Ketika Nikodemus mengakui Kristus sebagai guru yang diutus Allah, yang kepada-Nya dipercayakan pewahyuan yang luar biasa dari sorga, ia dengan jelas menunjukkan keinginannya untuk mengetahui pewahyuan yang dibawa-Nya ini dan kesediaannya untuk menerimanya, dan Kristus pun menyatakannya.
(2) Sebagai pernyataan yang disampaikan dengan sungguh-sungguh dan tegas oleh Yesus Tuhan kita: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu. Aku, yang adalah Amin, mengatakannya. Jadi perkataan ini bisa diartikan: "Aku, saksi yang setia dan benar." Keadaannya sudah jelas dan tidak bisa diubah lagi, bahwa jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajan Allah. "Aku berkata kepadamu, sekalipun engkau seorang Farisi, seorang pengajar di Israel."

Perhatikanlah:

[1] Apa yang dipersyaratkan di sini: dilahirkan kembali, yang artinya,
pertama, kita harus menjalani kehidupan baru. Kelahiran merupakan permulaan hidup, lahir kembali berarti memulai hidup baru, seperti bagi mereka yang selama ini hidup di jalan yang salah atau tanpa tujuan yang berarti. Janganlah kita berusaha menambal-nambal bangunan yang sudah tua, tetapi kita harus mulai dari fondasinya.
Kedua, kita harus mempunyai kodrat yang baru, prinsip-prinsip hidup yang baru, perasaan-perasaan yang baru, dan tujuan-tujuan yang baru. Kita harus dilahirkan anōthen, yang berarti baik denuo -- lagi, maupun desuper -- dari atas.
. Kita harus lahir baru, begitulah kata ini diartikan (Gal. 4:9), dan ab initio -- dari asal mulanya (Luk. 1:3). Melalui kelahiran pertama kita menjadi cemar, kita dibentuk dalam dosa dan kejahatan. Oleh karena itu, kita harus mengalami kelahiran kedua, jiwa kita harus dibentuk dan dihidupkan kembali menjadi baru.
. Kita harus dilahirkan dari atas, begitulah kata yang dipakai oleh penulis Injil ini (3:31; 19:11), dan saya melihat arti ini sebagai apa yang terutama dimaksudkan di sini, tanpa mengesampingkan arti yang lain, karena dilahirkan dari atas mengandaikan dilahirkan kembali. Kelahiran baru ini bermula dari sorga (1:13) dan menuju ke sorga. Ini berarti bahwa kita dilahirkan ke dalam kehidupan yang ilahi dan sorgawi, kehidupan dalam persekutuan dengan Allah dan dengan dunia atas, dan untuk melakukannya, kita harus mengambil kodrat ilahi dan memakai rupa dari yang sorgawi.
[2] Keharusan syarat ini tanpa perkecualian: "Jika seorang (siapa saja yang berkodrat manusiawi, dan yang karenanya ikut ambil bagian dalam kejahatan-kejahatannya) tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah, Kerajaan Mesias yang dimulai di dalam anugerah dan yang disempurnakan di dalam kemuliaan." Jika kita tidak dilahirkan dari atas, kita tidak dapat melihatnya. Maksudnya,
pertama, kita tidak dapat mengerti sifat kerajaan itu. Demikianlah sifat perkara-perkara mengenai Kerajaan Allah (yang ingin diketahui oleh Nikodemus), bahwa jiwa harus dibentuk dan disusun kembali, manusia duniawi harus menjadi manusia rohani, sebelum ia mampu menerima dan mengerti perkara-perkara tersebut (1Kor. 2:14).
Kedua, jika kita tidak dilahirkan dari atas, kita tidak dapat menerima penghiburan darinya, tidak dapat mengharapkan keuntungan apa pun dari Kristus dan Injil-Nya, atau mendapatkan apa pun darinya. Perhatikanlah, pembaharuan hidup itu mutlak perlu bagi kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat. Dengan melihat bagaimana kodrat kita sesungguhnya, betapa jahat dan berdosanya kita, siapa Allah itu, yang hanya di dalam-Nya kita bisa berbahagia, dan apa sorga itu, yang di sana kesempurnaan kebahagiaan kita disediakan, maka sudah jelas dengan sendirinya bahwa kita harus dilahirkan kembali, karena tidaklah mungkin kita dapat berbahagia jika kita tidak kudus (1Kor. 6:11-12).

Setelah kebenaran agung mengenai betapa pentingnya pembaharuan ini dipaparkan dengan sungguh-sungguh,

a. Nikodemus mengajukan keberatan terhadapnya (ay. 4): Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua, tua seperti saya, gerōn ōn -- menjadi seorang yang tua? Dapatkah ia masuk sekali lagi ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?

Dalam hal ini tampaklah:

(a) Kelemahannya dalam hal pengetahuan. Apa yang dikatakan Kristus secara rohani tampak dimengertinya secara kedagingan, seolah-olah tidak ada cara lain untuk memperbaharui dan membentuk kembali jiwa yang kekal selain dengan membuat kerangka tubuh yang baru dan membawanya kembali ke dalam bukit batu yang darinya ia digali, seolah-olah ada suatu hubungan antara jiwa dan tubuh yang sedemikian rupa sehingga tidak ada cara lain untuk membentuk hati yang baru selain dengan membentuk tulang yang baru. Nikodemus, seperti orang-orang Yahudi lain, tentu menilai tinggi dirinya berdasarkan kelahiran pertamanya, dengan segala martabat dan hak-hak istimewa yang diperoleh dari kelahiran itu, berdasarkan tempat kelahirannya, yaitu Tanah Suci, atau mungkin juga kota suci, dan berdasarkan siapa nenek moyangnya, seperti yang bisa saja diagung-agungkan oleh Paulus (Flp. 3:5). Oleh karena itu, ia sangat terkejut mendengar masalah dilahirkan kembali ini. Mungkinkah ada kelahiran yang lebih baik selain daripada dilahirkan dan dibesarkan sebagai orang Israel? Apakah ada kelahiran lain lagi yang bisa membuatnya memperoleh tempat di dalam Kerajaan Mesias? Mereka memang memandang orang-orang bukan-Yahudi yang memeluk agama Yahudi sebagai orang yang dilahirkan kembali atau dilahirkan baru, tetapi mereka tidak dapat membayangkan bagaimana seorang Yahudi sendiri, seorang Farisi, dapat menjadi lebih baik dengan dilahirkan kembali. Oleh sebab itu, pikirnya, jika ia harus dilahirkan kembali, maka ia haruslah dilahirkan dari perempuan yang melahirkannya pertama kali. Orang yang sangat bangga dengan kelahiran pertamanya sangat kecil kemungkinannya untuk mengalami kelahiran baru.
(b) Kesediaannya untuk diajar. Ia tidak berbalik dan menolak Kristus karena perkataan-Nya yang keras itu, tetapi dengan jujur mengakui ketidaktahuannya, yang menyiratkan suatu keinginan untuk mengetahui dengan lebih baik lagi. Karena itu, daripada beranggapan bahwa ia mempunyai anggapan-anggapan tertentu yang sangat menjijikkan mengenai kelahiran baru yang dibicarakan Kristus ini, saya lebih memilih untuk menafsirkan pertanyaannya itu sebagai: "Tuhan, buatlah saya mengerti akan hal ini, sebab itu merupakan sebuah teka teki bagiku. Aku begitu bodoh sampai aku tidak tahu bahwa ada cara lain bagi seseorang untuk dilahirkan selain dari rahim ibunya." Apabila kita menjumpai apa yang tidak jelas dan sulit dimengerti dalam perkara-perkara mengenai Allah, kita harus terus menggunakan sarana pengetahuan dengan rajin dan rendah hati, sampai akhirnya Allah menyatakan hal itu kepada kita.
b. Pernyataan ini dimulai dan dijelaskan lebih lanjut oleh Yesus Tuhan kita (ay. 5-8). Dari keberatan itu, Ia mengambil kesempatan,
(a) Untuk mengulangi dan menegaskan apa yang telah dikatakan-Nya (ay. 5): "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, hal yang sama yang telah Kukatakan sebelumnya." Perhatikanlah, firman Allah bukanlah ya dan tidak, melainkan ya dan amin. Apa yang telah dikatakan-Nya akan tetap dipegang-Nya dengan teguh, tidak peduli siapa pun menentangnya. Ia juga tidak akan menarik kembali perkataan-perkataan-Nya hanya karena ketidaktahuan dan kesalahan manusia. Meskipun Nikodemus tidak mengerti rahasia pembaharuan jiwa (regenerasi) ini, Kristus tetap menegaskan perlunya hal itu sama seperti sebelumnya. Perhatikanlah, sungguh bodoh jika kita berpikir bahwa kita dapat menghindari perintah-perintah Injil dengan alasan bahwa kita tidak bisa memahaminya (Rm. 3:3-4).
(b) Untuk menguraikan dan menjelaskan apa yang telah dikatakan-Nya mengenai pembaharuan jiwa (regenerasi). Dan untuk menerangkannya lebih lanjut, Ia menunjukkan:
[a] Pencipta perubahan yang penuh berkat ini, dan siapa yang mengerjakannya. Dilahirkan kembali berarti dilahirkan dari Roh (ay. 5-8). Perubahan itu dikerjakan bukan dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri, melainkan dengan kuasa dan pengaruh Roh kasih karunia yang terpuji itu. Itu adalah pengudusan oleh Roh (1Ptr. 1:2), pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Tit. 3:5). Firman yang dengannya Ia bekerja adalah ilham-Nya, dan hati yang di dalamnya Ia bekerja dapat dimasuki-Nya.
[b] Sifat perubahan ini, dan apa yang diubahkan. Yang diubahkan adalah roh (ay. 6). Orang yang diperbaharui dibuat menjadi rohani, dan dimurnikan dari sampah dan ampas hawa nafsu. Jiwa yang berakal dan kekal kini telah merebut kembali kuasa dan kepentingan-kepentingannya atas daging, yang memang seharusnya dimilikinya. Orang-orang Farisi lebih mengutamakan kesucian dan ibadah-ibadah lahiriah dalam hidup beragama, dan bagi mereka, menjadi rohani tentu merupakan suatu perubahan yang luar biasa besar, sama besarnya dengan kelahiran baru.
[c] Perlunya perubahan ini.
Pertama, Kristus di sini menunjukkan bahwa hal ini jelas penting, sebab kita tidak pantas masuk ke dalam Kerajaan Allah sebelum kita dilahirkan kembali: Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging (ay. 6). Penyakit kita, beserta penyebab-penyebabnya, sudah begitu parah sehingga jelas bahwa tidak ada yang dapat mengobatinya kecuali kita dilahirkan kembali.
. Kita di sini diberi tahu siapa sebenarnya kita: kita adalah daging, kita tidak hanya bersifat badaniah tetapi juga jahat (Kej. 6:3). Hakikat jiwa kita memang tetap bersifat rohani, tetapi jiwa itu begitu melekat dengan daging, begitu ditawan oleh kehendak daging, dan dengan demikian mencintai kenikmatan-kenikmatan daging, dan begitu sering dipakai untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan daging, sehingga pada umumnya jiwa itu sudah dipandang sebagai daging. Jiwa ini sudah bersifat kedagingan. Jadi, seperti apa jadinya persekutuan antara Allah, yang adalah Roh, dengan jiwa yang ada dalam keadaan seperti itu?
. Bagaimana kita sampai menjadi demikian: karena dilahirkan dari daging. Kecemaran itu merupakan bawaan lahiriah kita, dan oleh karena itu kita tidak dapat memiliki kodrat yang baru kecuali kita dilahirkan kembali. Kodrat yang rusak, yaitu daging, timbul dari kelahiran kita yang pertama, dan karena itu kodrat yang baru, yaitu roh, harus timbul dari kelahiran kita yang kedua. Nikodemus berbicara mengenai masuk kembali ke dalam rahim ibunya, lalu dilahirkan. Akan tetapi, kalaupun ia bisa, untuk apakah itu? Andaikata ia dilahirkan dari rahim ibunya seratus kali pun, hal itu tidak akan dapat memperbaiki persoalan yang ada, karena yang dilahirkan dari daging tetap adalah daging, yang tahir tidaklah bisa dikeluarkan dari yang najis. Ia harus mencari asal mula yang lain, ia harus dilahirkan dari Roh, kalau tidak, ia tidak bisa menjadi rohani. Persoalannya secara singkat adalah seperti ini: meskipun manusia diciptakan sebagai makhluk yang terdiri atas tubuh dan jiwa, sisi rohaninya dulu begitu berkuasa atas sisi jasmaninya, sehingga ia disebut makhluk yang hidup (Kej. 2:7, KJV: jiwa yang hidup -- pen.) Akan tetapi, dengan memanjakan nafsu kedagingan, dengan memakan buah terlarang, ia melacurkan kekuasaan jiwa yang benar ini kepada kelaliman hawa nafsu. Dengan begitu, ia tidak lagi menjadi jiwa yang hidup, melainkan daging: engkau debu. Jiwa yang hidup menjadi mati dan tidak bisa berbuat apa-apa. Demikianlah pada hari ia berdosa ia pasti mati, dan dengan demikian ia menjadi makhluk duniawi, yang berasal dari tanah. Dalam keadaan yang sudah merosot ini, ia melahirkan anak dalam gambar dan rupanya. Ia meneruskan kodrat manusiawi yang sudah mengendap utuh dalam dirinya, yang sudah sedemikian rusak dan bejat, dan dengan cara seperti itulah kodrat ini terus-menerus diturunkan. Kecemaran dan dosa sudah terjalin dalam kodrat kita. Dalam kesalahan kita diperanakkan, dan dengan demikian sifat kita harus diubah. Mengenakan pakaian baru atau memasang muka baru saja tidaklah cukup, kita harus mengenakan manusia baru, kita harus menjadi ciptaan-ciptaan baru.
Kedua, Kristus membuat perihal kelahiran baru ini lebih penting lagi, dengan perkataan-Nya sendiri: Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali (ay. 7).
. Kristus telah mengatakannya, dan karena Ia sendiri tidak pernah, dan tidak akan pernah, menarik kembali perkataan-Nya sendiri, maka seluruh dunia tidak dapat menyangkalnya, bahwa kita harus dilahirkan kembali. Dia yang adalah Sang Pemberi hukum yang agung, yang kehendak-Nya adalah hukum, Dia yang adalah Sang Pengantara agung dalam perjanjian baru, dan yang mutlak berkuasa menentukan syarat-syarat perdamaian kita dengan Allah dan kebahagiaan kita di dalam-Nya, Dia yang adalah Tabib agung bagi jiwa-jiwa, yang mengetahui permasalahan mereka, dan apa yang dibutuhkan bagi kesembuhan mereka, Dia telah berkata, "Engkau harus dilahirkan kembali." "Aku berkata kepadamu, mengenai suatu hal yang menyangkut kepentingan semua, bahwa kamu harus, kamu semua, siapa saja, kamu harus dilahirkan kembali, bukan hanya orang-orang biasa, melainkan juga para pemimpin, para pengajar di Israel."
. Janganlah kita heran karenanya, sebab apabila kita menimbang betapa kudusnya Allah yang berurusan dengan kita, betapa besarnya rancangan penebusan bagi kita, betapa bobroknya kodrat kita, dan betapa besarnya kebahagiaan yang disediakan bagi kita, maka kita tidak akan menganggapnya aneh bahwa hal ini begitu ditekankan sebagai suatu hal yang mutlak diperlukan, yaitu bahwa kita harus dilahirkan kembali.
[d] Perubahan ini digambarkan dengan dua perbandingan.
Pertama, pembaharuan (regenerasi) yang dilakukan oleh Roh dibandingkan dengan air (ay. 5). Dilahirkan kembali berarti dilahirkan dari air dan dari Roh, yang artinya, dari Roh yang bekerja seperti air, seperti dalam Matius 3:11, dengan Roh Kudus dan dengan api, yang berarti dengan Roh Kudus seperti dengan api.
. Yang terutama dimaksudkan di sini adalah untuk menunjukkan bahwa Roh, dalam menguduskan jiwa,
(1) Membersihkan dan memurnikannya seperti air, membuang kotorannya yang tidak pantas bagi Kerajaan Allah. Ini adalah permandian kelahiran kembali (Tit. 3:5). Kamu telah memberi dirimu disucikan (1Kor. 6:11, KJV: "Kamu telah dibasuh" -- pen.). Lihat juga Yehezkiel 36:25.
(2) Mendinginkan dan menyegarkannya, seperti air bagi rusa yang sedang diburu atau bagi pelancong yang sedang kelelahan. Roh dibandingkan dengan air (7:38-39; Yes. 44:3). Dalam penciptaan pertama, makhluk-makhluk di angkasa terlahir dari air (Kej. 1:20), dan mungkin dengan merujuk gambaran ini, mereka yang lahir dari atas dikatakan dilahirkan dari air.
. Mungkin juga bahwa Kristus dalam hal ini sedang berpikir mengenai baptisan, yang telah digunakan Yohanes, dan yang sudah mulai digunakan-Nya sendiri, "Kamu harus dilahirkan kembali dari Roh," dan pembaharuan (regenerasi) oleh Roh ini dilambangkan dengan pembasuhan dengan air, sebagai tanda lahiriah dari anugerah rohani. Ini tidak berarti bahwa hanya mereka yang dibaptis saja yang akan diselamatkan. Yang benar adalah, bahwa tanpa kelahiran baru itu, yang dikerjakan oleh Roh, dan yang dilambangkan dengan baptisan, tidak ada seorang pun yang akan dipandang sebagai warga-warga Kerajaan Sorga dengan hak-hak istimewanya. Orang Yahudi tidak akan dapat ambil bagian dalam Kerajaan Mesias, yang sudah lama mereka nanti-nantikan itu, kecuali mereka berhenti berharap bahwa mereka dapat dibenarkan dengan menjalankan hukum Taurat, dan kecuali mereka memberi diri untuk menerima baptisan pertobatan, yaitu kewajiban besar Injil, untuk penghapusan dosa, yaitu keistimewaan besar yang diberikan oleh Injil.
Kedua, pembaharuan yang dilakukan oleh Roh dibandingkan dengan angin: Angin bertiup ke mana ia mau, demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh (ay. 8). Kata yang dipakai di sini (pneuma) bisa berarti angin atau Roh. Roh turun ke atas para rasul dengan tiupan angin keras (Kis. 2:2), pengaruh-pengaruh-Nya yang berkuasa dalam hati para pendosa dibandingkan dengan embusan angin (Yeh. 37:9), dan pengaruh-pengaruh-Nya yang indah dalam jiwa orang-orang kudus dibandingkan dengan angin utara dan angin selatan (Kid. 4:16). Perbandingan ini di sini digunakan untuk menunjukkan,
. Bahwa Roh, dalam membaharui, bekerja dengan sesuka hati, sebagai pekerja yang bebas. Angin bertiup ke mana ia mau, dan tidak mendengarkan permintaan kita, atau patuh terhadap perintah kita. Allah mengaturnya. Ia melakukan firman-Nya (Mzm. 148:8). Roh menebarkan pengaruh-pengaruh-Nya di mana, kapan, kepada siapa, dan seberapa banyak dan hebat, menurut kesukaan-Nya. Ia memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya (1Kor. 12:11).
. Bahwa Ia bekerja dengan penuh kuasa, dan dengan dampak-dampak yang nyata: Engkau mendengar bunyinya. Meskipun apa yang menyebabkannya tersembunyi, dampak-dampaknya terasa. Ketika jiwa mulai berduka atas dosa, merintih di bawah beban kejahatan, menggapai-gapai Kristus, dan berseru Ya Abba -- Ya Bapa, saat itulah kita mendengar bunyi Roh, kita tahu Ia sedang bekerja, seperti dalam Kisah Para Rasul 9:11, ia sekarang berdoa.
. Bahwa Ia bekerja secara rahasia, dan dengan cara-cara yang tersembunyi: Engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Bagaimana ia mengumpulkan dan mengerahkan kekuatannya, itu merupakan sebuah teka teki bagi kita. Demikian pula cara dan jalan pekerjaan Roh merupakan suatu rahasia. Ke manakah perginya Roh Tuhan? (1Raj. 22:24, terjemahan KJV -- pen.). Lihat Pengkhotbah 11:5, dan bandingkanlah dengan Mazmur 139:15.

. Inilah pernyataan tentang kepastian dan keagungan kebenaran-kebenaran Injil. Kesempatan untuk menyatakannya dimanfaatkan Kristus karena melihat kelemahan Nikodemus.

Inilah:

(1) Keberatan yang tetap diajukan Nikodemus (ay. 9): Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi? Tampaknya penjelasan Kristus tentang pentingnya pembaharuan jiwa (regenerasi) itu belum juga jelas baginya. Kebobrokan kodrat manusia yang membuat pembaharuan itu penting, dan cara Roh bekerja yang membuat pembaharuan itu dapat dilakukan, sama misteriusnya dengan kelahiran kembali itu sendiri bagi Nikodemus. Meskipun secara umum ia sudah mengakui Kristus sebagai guru yang diutus Allah, ia tidak mau menerima ajaran-ajaran-Nya begitu saja apabila ajaran-ajaran itu tidak sejalan dengan berbagai gagasan yang selama ini sudah tertanam di dalam dirinya. Demikianlah banyak orang mengaku menerima ajaran Kristus pada umumnya, namun mereka tidak mau percaya terhadap kebenaran-kebenaran Kekristenan atau tunduk pada hukum-hukumnya lebih daripada apa yang mereka senangi. Kristus boleh menjadi guru mereka, asalkan mereka dibiarkan memilih pelajaran mereka sendiri.

Nah, di sini:

[1] Nikodemus mengakui bahwa dia memang tidak mengerti maksud Kristus: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi? Ini merupakan perkara-perkara yang tidak kumengerti, kemampuanku tidak akan bisa mencapainya." Demikianlah apa yang berasal dari Roh Allah adalah suatu kebodohan bagi manusia duniawi. Perkara-perkara itu tidak hanya asing baginya, dan oleh sebab itu tidak dapat dia mengerti, tetapi juga dia berprasangka buruk terhadapnya, dan oleh karenanya perkara-perkara itu merupakan suatu kebodohan baginya.
[2] Karena ajaran ini tidak dapat dimengerti olehnya (dan ia dengan senang hati menganggapnya demikian), ia mempertanyakan kebenarannya, seolah-olah karena ajaran itu baginya merupakan suatu pertentangan, maka dengan sendirinya ajaran itu hanyalah reka-rekaan semata. Banyak orang yang berpendapat demikian menurut kemampuan mereka sendiri, sehingga mereka berpikir bahwa apa yang tidak bisa dibuktikan tidak dapat mereka percayai. Dengan hikmat mereka tidak mengenal Kristus.
(2) Teguran yang diberikan Kristus kepadanya karena kebodohan dan ketidaktahuannya: "Engkau adalah pengajar di Israel, Didaskalos -- seorang guru, pembimbing, orang yang duduk di kursi Musa, namun engkau bukan hanya tidak mengenal ajaran pembaharuan ini, tetapi juga tidak mampu memahaminya?"

Perkataan ini merupakan suatu teguran:

[1] Bagi orang-orang yang bertugas mengajar orang lain namun mereka sendiri tidak tahu dan tidak memahami ajaran tentang kebenaran.
[2] Bagi orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk belajar dan mengajarkan berbagai macam gagasan dan upacara agama, berbagai seluk beluk dan tafsiran Alkitab, namun mengabaikan perbuatan-perbuatan nyata yang berkuasa memperbaharui hati dan hidup orang. Ada dua pernyataan dalam teguran ini yang disampaikan dengan sangat tegas:
pertama, tempat di mana ia dilahirkan, yaitu di Israel, di mana ada begitu banyak sarana pengetahuan, di mana pewahyuan ilahi diberikan. Ia sebenarnya bisa saja mempelajari hal ini dari Perjanjian Lama.
Kedua, hal-hal yang tidak diketahuinya: hal-hal itu, hal-hal yang perlu itu, yang agung, yang ilahi, tidak pernahkah dibacanya dalam Mazmur 1:5; Yehezkiel 18:31; 36:25-26?
(3) Perkataan Kristus mengenai kepastian dan keagungan kebenaran-kebenaran Injil ini (ay. 11-13) adalah untuk menunjukkan betapa bodohnya orang-orang yang menganggapnya aneh, dan untuk mengajak kita agar menyelidikinya lebih lanjut.

Perhatikanlah di sini:

[1] Bahwa kebenaran-kebenaran yang diajarkan Kristus adalah pasti dan dapat kita pertaruhkan (ay. 11): Kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui. Kami, siapakah yang dimaksudkan-Nya di sini selain diri-Nya sendiri? Sebagian orang memahaminya sebagai orang-orang yang memberikan kesaksian tentang-Nya dan bersama-Nya di dunia ini, yaitu para nabi dan Yohanes Pembaptis. Mereka berkata-kata tentang apa yang mereka ketahui dan apa yang telah mereka lihat, dan mereka sudah sangat yakin akan kebenaran dari hal-hal itu: wahyu ilahi membawa serta bukti mengenai dirinya bersama dirinya sendiri. Sebagian orang lagi memahaminya sebagai mereka yang membawa kesaksian dari sorga, yaitu Bapa dan Roh Kudus. Bapa berada bersama-Nya, dan Roh Tuhan ada pada-Nya. Oleh karena itu Ia berbicara dengan menggunakan kata ganti jamak, seperti dalam pasal 14:23: Kami akan datang kepadanya.

Perhatikanlah:

Pertama, bahwa kebenaran-kebenaran Kristus itu sudah pasti dan tidak diragukan lagi. Kita mempunyai semua alasan untuk meyakini bahwa perkataan-perkataan Kristus adalah perkataan-perkataan yang benar, dan bolehlah kita mempertaruhkan jiwa kita untuknya, sebab Ia bukan hanya saksi yang dapat dipercaya, yang tidak akan menipu kita, melainkan juga saksi yang cakap dan dapat diandalkan, yang dengan sendirinya tidak dapat tertipu: Kami bersaksi tentang apa yang kami lihat. Ia berbicara bukan dari kata orang, melainkan dari bukti yang paling jelas, dan karena itu dengan keyakinan yang sedalam-dalamnya. Apa yang dibicarakan-Nya tentang Allah, tentang dunia yang tidak kelihatan, tentang sorga dan neraka, tentang kehendak Allah terhadap kita, dan tentang hikmat-hikmat perdamaian, adalah apa yang diketahui-Nya dan yang telah dilihat-Nya, sebab Ia ada serta-Nya sebagai Anak kesayangan (Ams. 8:30). Apa pun yang dikatakan Kristus, dikatakan-Nya dari pengetahuan-Nya sendiri.
Kedua, bahwa orang-orang yang tidak percaya sungguh telah berbuat dosa besar, dan dosa mereka diperberat oleh kepastian dan ketidakkeliruan dari kebenaran-kebenaran Kristus ini. Yang dinyatakan sudah sedemikian pasti, sedemikian jelas, namun kamu tidak menerima kesaksian kami. Begitu banyak orang yang tidak mempercayai (begitu pentingnya alasan kepercayaan ini) apa yang tidak bisa untuk tidak mereka percayai!
[2] Kebenaran-kebenaran yang diajarkan Kristus, meskipun disampaikan dalam bahasa dan ungkapan yang diambil dari kejadian-kejadian biasa dalam kehidupan sehari-hari, sungguh merupakan kebenaran-kebenaran yang paling agung dan bersifat sorgawi karena sifatnya sudah demikian adanya. Hal ini ditunjukkan dalam ayat 12: "Waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, yang artinya, ketika Aku memberi tahu kamu perkara-perkara besar mengenai Allah dalam berbagai perumpamaan yang diambil dari hal-hal duniawi, untuk membuatnya lebih mudah dimengerti, seperti tentang kelahiran baru dan angin, ketika Aku sudah berusaha menyesuaikan diri sedemikian rupa dengan kemampuanmu, dan berbicara kepadamu dalam bahasamu sendiri, namun ini tidak juga membuatmu mengerti ajaran-Ku, lantas bagaimana kamu akan mengerti kalau Aku membicarakan hal-hal tersebut sebagaimana adanya, dan berbicara kepadamu dalam bahasa malaikat, bahasa yang tidak dapat diucapkan oleh makhluk yang fana itu? Jika ungkapan-ungkapan yang sudah sedemikian biasa saja sudah menjadi batu sandungan, bagaimana jadinya dengan gagasan-gagasan abstrak dan hal-hal rohani yang digambarkan apa adanya?"

Nah, dari sini kita dapat belajar:

Pertama, untuk mengagumi betapa tinggi dan dalamnya ajaran Kristus. Ajaran-Nya merupakan misteri atau rahasia keallahan yang agung. Perkara-perkara Injil adalah perkara-perkara sorgawi, yang berada di luar jalur penyelidikan akal budi manusia, dan terlebih lagi di luar jangkauan penemuan-penemuannya.
Kedua, untuk mensyukuri kerendahan hati Kristus, bahwa Ia mau menyesuaikan cara-Nya dalam mewahyukan Injil-Nya dengan kemampuan-kemampuan kita, berbicara kepada kita seperti kepada anak-anak. Ia memperhatikan tubuh kita, bahwa kita diciptakan dari tanah, dan memperhatikan tempat kita, bahwa kita berada di dunia, dan karena itu Ia berbicara kepada kita tentang hal-hal duniawi, dan menjadikan hal-hal yang kasat mata sebagai sarana untuk membicarakan hal-hal yang rohani, untuk membuatnya lebih mudah dimengerti dan terasa lebih dekat dengan kita. Demikianlah yang sudah dilakukan-Nya baik dalam perumpamaan maupun dalam sakramen.
Ketiga, untuk meratapi kodrat kita yang sudah rusak, dan ketidakberdayaan kita untuk menerima dan menyambut kebenaran-kebenaran Kristus. Hal-hal duniawi direndahkan karena kasar, dan hal-hal sorgawi diabaikan karena rumit. Dengan demikian, apa pun cara yang dipakai, orang pasti akan berusaha mendapatkan sedikit banyak kesalahan di dalamnya (Mat. 11:17). Walaupun begitu, hikmat Allah dibenarkan, dan akan dibenarkan, oleh perbuatannya.
[3] Yesus Tuhan kita, dan hanya Dia sendiri, layak menyatakan kepada kita suatu ajaran yang sedemikian pasti, sedemikian agung: Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia (ay. 13).
Pertama, tidak ada yang lain selain Kristus yang mampu menyatakan kepada kita apa yang dikehendaki Allah bagi keselamatan kita. Nikodemus menyapa Kristus sebagai nabi, tetapi ia harus tahu bahwa Kristus lebih besar daripada semua nabi Perjanjian Lama, sebab tidak ada seorang pun dari antara mereka yang telah naik ke sorga. Mereka menulis Kitab Suci dengan tuntunan ilham ilahi, dan bukan dari pengetahuan mereka sendiri (1:18). Musa naik ke gunung, tetapi tidak ke sorga. Tidak ada seorang pun yang mempunyai pengetahuan tentang Allah dan perkara-perkara sorgawi sedemikian pasti seperti Kristus (Mat. 11:27). Bukanlah tugas kita untuk pergi ke sorga dan menerima ajaran, kitalah yang harus menunggu menerima ajaran-ajaran yang akan dikirimkan Sorga kepada kita (Ams. 30:4; Ul. 30:12).
Kedua, Yesus Kristus mampu, pantas, dan memenuhi syarat dalam segala hal, untuk menyatakan kehendak Allah kepada kita, sebab Dialah yang telah turun dari sorga dan yang berada di sorga. Ia telah berkata (ay. 12), "Bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?"

Nah di sini:

. Ia memberikan kepada mereka sebuah contoh mengenai hal-hal sorgawi yang dapat diberitahukan-Nya kepada mereka, yaitu ketika Ia berbicara tentang Dia yang turun dari sorga, namun pada saat yang sama Dia juga adalah Anak Manusia. Dia adalah Anak Manusia, namun juga berada di sorga. Jika pembaharuan (regenerasi) jiwa manusia itu saja sudah merupakan suatu hal yang begitu rahasia, bagaimana pula dengan inkarnasi Anak Allah? Ini sungguh merupakan perkara-perkara ilahi dan sorgawi. Di sini kita melihat suatu petunjuk tentang dua tabiat Kristus yang berbeda yang terdapat dalam satu pribadi: tabiat ilahi-Nya, yang dengannya Ia turun dari sorga, dan tabiat manusiawi-Nya, yang dengannya Ia disebut Anak Manusia, dan kesatuan di antara keduanya, bahwa meskipun Ia Anak Manusia, Ia berada di sorga.
. Ia memberikan suatu bukti kepada mereka akan kemampuan-Nya untuk berbicara tentang hal-hal sorgawi kepada mereka, dan untuk membimbing mereka ke dalam Kerajaan Sorga yang begitu rahasia, dengan memberi tahu mereka,
(1) Bahwa Ia turun dari sorga. Pengadaan hubungan antara Allah dan manusia dimulai dari atas. Yang pertama bergerak untuk memulainya tidak muncul dari bumi ini, tetapi turun dari sorga. Kita mengasihi-Nya dan pergi mendatangi-Nya karena Ia terlebih dulu mengasihi kita dan diutus untuk mendatangi kita.

Nah, hal ini menunjukkan:

[1] Tabiat ilahi Kristus. Ia yang turun dari sorga pastilah lebih daripada hanya seorang manusia. Ia adalah Tuhan dari sorga (1Kor. 15:47).
[2] Keakraban-Nya dalam hikmat-hikmat ilahi. Datang dari pelataran sorga, Ia sudah mengenal perkara-perkara sorgawi sejak dari kekekalan.
[3] Perwujudan Allah. Dalam masa Perjanjian Lama, kebaikan-kebaikan Allah kepada umat-Nya diungkapkan dengan gambaran bahwa Dia mendengar dari sorga (2Taw. 7:14), memandang dari langit (Mzm. 80:15), berbicara dari langit (Neh. 9:13), dan mengirim utusan dari sorga (Mzm. 57:4). Tetapi Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita Allah turun dari sorga, untuk mengajar dan menyelamatkan kita. Ia yang turun dengan cara demikian sungguh merupakan suatu rahasia yang mengagumkan, sebab Allah tidak bisa mengubah tempat kediaman-Nya, atau membawa tubuh-Nya dari sorga. Yang lebih mengagumkan lagi, Ia mau merendahkan diri-Nya dengan cara demikian bagi penebusan kita. Ini sungguh merupakan suatu belas kasihan yang lebih mengagumkan. Dalam hal ini Ia memperlihatkan kasih-Nya yang begitu besar.
(2) Bahwa Ia adalah Anak Manusia, Anak Manusia yang dibicarakan oleh Daniel itu (Dan 7:13), yang selalu dipahami oleh orang-orang Yahudi sebagai Mesias. Kristus, dengan menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia, menunjukkan bahwa Ia adalah Adam kedua, sebab Adam yang pertama adalah bapak manusia. Dari semua gelar Mesias dalam Perjanjian Lama, Ia memilih menggunakan gelar ini, sebab gelar itulah yang paling baik mengungkapkan kerendahan hati-Nya, dan yang paling sesuai dengan keadaan diri-Nya sekarang yang sedang merendah.
(3) Bahwa Ia berada di sorga. Sekarang, pada waktu ini, ketika Ia sedang berbicara dengan Nikodemus di bumi, sebagai Allah, Ia juga berada di sorga. Anak Manusia, dalam rupa manusia, tidaklah berada di sorga sebelum kenaikan-Nya, tetapi Ia yang adalah Anak Manusia pada saat ini, oleh karena tabiat ilahi-Nya bisa berada di mana saja, khususnya di sorga. Dengan demikian, Tuhan yang mulia, dalam pengertian yang demikian, tidak bisa disalibkan, begitu juga Allah, dalam pengertian yang demikian, tidak bisa mencurahkan darah-Nya. Namun demikian, pribadi yang adalah Tuhan yang mulia disalibkan (1Kor. 2:8), dan Allah menebus jemaat dengan darah-Nya sendiri (Kis. 20:28). Begitu dekatnya kesatuan antara dua tabiat dalam satu pribadi ini sehingga di dalamnya terjalin hubungan yang demikian erat. Ia tidak berkata hos esti. Allah adalah ho ōn tō ouranō -- Dia adalah Dia, dan sorga adalah tempat kediaman kekudusan-Nya.
. Kristus di sini berbicara tentang rancangan agung kedatangan-Nya ke dunia, dan kebahagiaan orang-orang yang percaya kepada-Nya (ay. 14-18). Di sini kita melihat inti sari dari seluruh Injil, perkataan yang benar itu (1Tim. 1:15), bahwa Yesus Kristus datang untuk mencari dan menyelamatkan anak-anak manusia dari kematian, dan memulihkan mereka kembali ke dalam kehidupan. Nah, para pendosa adalah orang-orang mati karena satu alasan berganda: --
(1) Seperti halnya orang yang menderita luka yang mematikan atau mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dikatakan sebagai orang mati, sebab ia sekarat, demikian pula Kristus datang menyelamatkan kita dengan cara menyembuhkan kita, seperti ular tembaga yang menyembuhkan orang-orang Israel (ay. 14-15).
(2) Seperti halnya orang yang dihukum mati dengan adil karena melakukan kejahatan yang tidak dapat diampuni dikatakan sebagai orang mati, demikian pula orang berdosa mati di dalam hukum, dan dengan melihat bahaya yang mengancam kita dalam hal ini, Kristus datang untuk menyelamatkan kita sebagai Penguasa atau Hakim, dengan mengumumkan pengampunan kepada semua orang, dengan syarat-syarat tertentu. Tindakan penyelamatan ini dipertentangkan dengan tindakan penghakiman (ay. 16-18).
[1] Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan kita dengan cara menyembuhkan kita, seperti halnya orang-orang Israel yang dipagut ular tedung disembuhkan dan hidup dengan memandang patung ular tembaga. Kita dapat membaca kisahnya dalam Bilangan 21:6-9. Ini merupakan mujizat terakhir yang terjadi lewat tangan Musa sebelum kematiannya. Nah, dalam peristiwa yang merupakan gambaran Kristus ini kita dapat memperhatikan:
Pertama, kodrat dosa yang mematikan dan merusak, yang tersirat dalam kisah Musa ini. Rasa bersalah karena dosa adalah seperti derita karena dipagut ular tedung, dan kuasa kejahatan adalah seperti bisa yang menyebar ke seluruh tubuh karena pagutan itu. Iblis adalah ular tua, yang pada mulanya cerdik (Kej. 3:1), namun sesudahnya ganas, dan godaan-godaannya seperti panah api, serangan-serangannya mengerikan, dan kemenangan-kemenangannya menghancurkan. Tanyakanlah pada suara hati nurani yang tersadar, tanyakan pula pada para pendosa yang terkutuk, maka mereka akan memberi tahu kita betapa dahsyatnya pesona dan daya pikat dosa pada mulanya, namun pada akhirnya ia memagut seperti ular (Ams. 23:30-32). Murka Allah terhadap kita karena dosa adalah seperti ular-ular tedung yang dikirimkan Allah kepada orang-orang Israel, untuk menghukum mereka karena mereka bersungut-sungut. Kutukan-kutukan hukum Taurat adalah seperti ular-ular tedung, dan dengan demikian semua itu merupakan pertanda murka Allah.
Kedua, obat manjur yang disediakan untuk melawan penyakit yang mematikan ini. Keadaan orang-orang berdosa sungguh menyedihkan, tetapi apakah ini berarti bahwa tidak ada harapan lagi untuk mereka? Syukur kepada Allah bahwa tidak demikian halnya. Ada balsam di Gilead. Anak Manusia ditinggikan, seperti ular tembaga yang ditinggikan Musa, yang menyembuhkan orang-orang Israel yang terpagut.
. Ular tembagalah yang menyembuhkan mereka. Tembaga itu terang, kita membaca tentang kaki Kristus yang mengkilap bagaikan tembaga (Why. 1:15). Tembaga itu tahan lama, Kristus juga sama. Tembaga itu dibentuk menyerupai ular tedung, namun tidak berbisa, tidak memagut, jadi sangat cocok menggambarkan Kristus yang dijadikan dosa bagi kita namun tidak berdosa, dan yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa, namun tidak berdosa. Ia tidak berbahaya sama seperti ular tembaga. Ular adalah makhluk yang terkutuk, Kristus pun dijadikan sebagai kutuk. Apa yang menyembuhkan mereka mengingatkan mereka akan wabah yang mereka derita, demikian pula halnya di dalam Kristus dosa diperlihatkan kepada kita sebagai sesuatu yang paling ganas dan paling menakutkan.
. Ular tembaga itu ditinggikan di atas tiang, begitu pula Anak Manusia harus ditinggikan. Demikianlah Ia harus menderita dan ditinggikan (Luk. 24:26, 46). Tidak ada obat sekarang. Kristus ditinggikan,
(1) Dalam penyaliban-Nya. Ia ditinggikan di atas kayu salib. Dalam kematian-Nya Ia dikatakan ditinggikan (12:32-33). Dia ditinggikan sebagai tontonan, sebagai pertanda, ditinggikan antara sorga dan bumi, seolah-olah Ia tidak layak berada di tempat yang satu ataupun yang lain, dan dicampakkan oleh keduanya.
(2) Dalam kenaikan-Nya. Ia ditinggikan di sisi kanan Bapa, untuk memberikan pertobatan dan pengampunan. Ia ditinggikan di atas kayu salib, untuk lebih ditinggikan lagi di takhta sorgawi.
(3) Dalam penyebaran dan pemberitaan Injil kekal-Nya (Why. 14:6). Ular tembaga itu ditinggikan supaya beribu-ribu orang Israel dapat memandangnya. Kristus di dalam Injil diperlihatkan kepada kita, ditunjukkan dengan jelas, Kristus ditinggikan sebagai panji (Yes. 11:10).
. Ular tembaga itu ditinggikan oleh Musa. Kristus dibuat tunduk kepada hukum Musa, dan Musa bersaksi tentang Dia.
. Dengan ditinggikan secara demikian, ular tembaga itu ditunjukkan sebagai obat yang menyembuhkan orang yang terpagut ular tedung. Ia yang mengirimkan tulah menyediakan obat penawarnya. Tidak ada seorang pun yang dapat menebus dan menyelamatkan kita selain Dia yang keadilan-Nya telah menghukum kita. Allah sendirilah yang menyediakan tebusannya, dan keberhasilan tebusan itu bergantung pada apa yang sudah ditetapkan-Nya. Ular-ular tedung itu dikirim untuk menghukum mereka karena mereka telah mencobai Tuhan (begitu menurut Rasul Paulus, 1Kor. 10:9), namun mereka disembuhkan dengan kuasa yang berasal dari-Nya. Dia yang telah kita sakiti hati-Nya adalah damai sejahtera kita.
Ketiga, cara menggunakan obat ini, yaitu dengan percaya, yang dengan jelas tersirat dalam perbuatan orang-orang Israel yang memandang ular tembaga, agar mereka disembuhkan olehnya. Jika ada orang Israel yang terpagut namun, entah karena ia tidak begitu menghiraukan penderitaan dan bahaya yang mengancamnya atau karena ia tidak begitu percaya pada perkataan Musa, ia tidak mau memandang ular tembaga itu, maka dengan adil ia akan mati karena lukanya. Tetapi setiap orang yang memandang akan tetap hidup (Bil. 21:9). Jika ada orang yang sampai pada saat ini meremehkan entah penyakit yang mereka derita sebagai akibat dosa atau cara penyembuhannya melalui Kristus sehingga mereka tidak mau datang kepada Kristus dan memenuhi segala persyaratan yang diajukan-Nya, maka mereka akan menanggung darah mereka sendiri. Ia telah berkata, "Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan" (Yes. 45:22), berpalinglah dan hidup. Kita harus puas dan menyetujui cara-cara yang telah digunakan oleh Sang Hikmat Kekal dalam menyelamatkan dunia yang berdosa, yaitu melalui pengantaraan Yesus Kristus, sebagai korban dan pengantara yang agung.
Keempat, dorongan kuat yang diberikan kepada kita untuk memandang-Nya dengan iman.
. Untuk tujuan inilah Dia ditinggikan, yaitu supaya para pengikut-Nya dapat diselamatkan. Dan Ia akan terus mengejar apa yang dituju-Nya.
. Tawaran keselamatan yang diberikan-Nya berlaku bagi semua orang, bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya, tanpa kecuali, dapat memperoleh keuntungan dari-Nya.
. Keselamatan yang ditawarkan itu lengkap.
(1) Mereka tidak akan binasa, tidak akan mati karena luka-luka mereka. Meskipun mereka merasa kesakitan dan ketakutan, dosa dan kesalahan tidak akan menghancurkan mereka. Namun ini belum semuanya.
(2) Mereka akan beroleh hidup yang kekal. Mereka bukan hanya tidak akan mati karena luka-luka mereka di padang gurun, tetapi juga akan sampai di tanah Kanaan (yang akan segera mereka masuki). Mereka akan menikmati tempat peristirahatan yang dijanjikan.
[2] Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan kita dengan cara mengampuni kita, supaya kita tidak mati oleh penghakiman hukum Taurat (ay. 16-17). Ini sungguh benar-benar Injil, kabar baik, yang terbaik dari semua yang pernah turun dari sorga ke bumi. Di sini terkandung banyak hal, segala hal dalam sedikit perkataan, berita pendamaian yang disampaikan secara ringkas.
Pertama, inilah kasih Allah dalam mengaruniakan Anak-Nya bagi dunia (ay. 16), yang di dalamnya kita melihat tiga hal:
. Rahasia besar Injil diungkapkan: Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Kasih Allah Bapa merupakan asal mula terjadinya pembaharuan (regenerasi) kita yang dilakukan melalui Roh dan pendamaian kita dengan Dia melalui peristiwa ditinggikannya Sang Anak.

Perhatikanlah,

(1) Yesus Kristus adalah Anak Tunggal Allah. Ini semakin menunjukkan besarnya kasih Allah, sebab Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal itu bagi kita. Sekarang tahulah kita bahwa Ia benar-benar mengasihi kita, setelah Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi kita, yang mengungkapkan bukan hanya kehormatan Kristus sendiri melainkan juga betapa disayangnya Dia oleh Bapa-Nya. Ia selalu ada serta-Nya sebagai Anak kesayangan.
                                            (2) Demi penebusan dan keselamatan umat manusia, Allah berkenan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Ia tidak hanya mengutus Anak-Nya ke dunia dengan kuasa yang penuh dan utuh untuk merundingkan pendamaian antara sorga dan bumi, tetapi Ia juga mengaruniakan-Nya, yang berarti, Ia menyerahkan-Nya untuk menderita dan mati bagi kita, sebagai korban pendamaian dan korban tebusan yang agung. Di sini hal tersebut ditunjukkan sebagai alasan mengapa Ia harus ditinggikan, sebab demikianlah yang telah ditentukan dan dirancang oleh Bapa. Ia menyerahkan-Nya demi tujuan ini, dan Ia menyediakan tubuh bagi-Nya untuk melaksanakannya. Musuh-musuh-Nya tidak akan bisa mengambil nyawa-Nya seandainya Bapa-Nya tidak menyerahkan-Nya. Meskipun Ia belum disalibkan pada saat itu, dalam maksud dan rencana Allah yang sudah ditetapkan Ia telah diserahkan (Kis. 2:23). Bahkan, terlebih lagi, Allah telah mengaruniakan-Nya, yang berarti, Ia telah menawarkan-Nya kepada semua, dan memberikan-Nya kepada semua orang percaya, demi segala maksud dan tujuan dalam kovenan baru. Ia telah memberikan-Nya sebagai Nabi kita, sebagai Saksi bagi bangsa-bangsa, sebagai Imam agung kita, sebagai Damai sejahtera kita, sebagai Kepala jemaat, sebagai Kepala atas segala sesuatu bagi jemaat, dan sebagai segala sesuatu yang kita perlukan.
                                            (3) Dalam hal ini Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada dunia: Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, begitu sungguh-sungguh, begitu berlimpah. Kini makhluk-makhluk ciptaan-Nya tahu bahwa Ia mengasihi mereka dan menginginkan yang terbaik bagi mereka. Ia begitu mengasihi dunia manusia yang sudah jatuh ini, meskipun dunia malaikat yang jatuh tidak dikasihi-Nya (Rm. 5:8; 1Yoh. 4:10). Lihatlah dan takjublah, bahwa Allah yang maha besar mengasihi dunia yang begitu tidak bernilai ini! Bahwa Allah yang kudus mengasihi dunia yang begitu jahat dengan kasih yang penuh dengan kehendak baik, padahal tidak ada satu pun dalam dunia ini yang dapat menyenangkan hati-Nya. Inilah masa cinta itu (Yeh. 16:6, 8). Orang-orang Yahudi dengan angkuh menganggap bahwa Mesias akan diutus hanya di dalam kasihnya terhadap bangsa mereka, dan untuk mengangkat mereka di atas kehancuran bangsa-bangsa lainnya. Akan tetapi, Kristus berkata kepada mereka bahwa Ia datang dengan kasih kepada seluruh dunia, baik kepada orang Yahudi maupun orang bukan-Yahudi (1Yoh. 2:2). Meskipun banyak orang di dunia ini binasa, dikaruniakannya Anak Tunggal Allah merupakan bukti akan kasih Allah kepada seluruh dunia, karena melalui Dialah diberikan tawaran kehidupan dan keselamatan kepada semua orang. Ini merupakan kasih terhadap suatu wilayah yang sudah membelot dan memberontak. Pernyataan ampunan dan jaminan dikeluarkan bagi semua orang yang ingin datang, yang memohon dengan berlutut, dan yang kembali setia kepada Tuan mereka. Begitu besarnya kasih Allah akan dunia yang sudah murtad dan berbalik dari-Nya sehingga Ia mengirimkan Anak-Nya dengan tawaran yang indah ini, bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya, siapa saja, tidak akan binasa. Keselamatan memang datang dari orang Yahudi, tetapi kini Kristus dikenal sebagai keselamatan sampai ke ujung bumi, keselamatan bagi semua.
                                        . Inilah kewajiban besar Injil, yaitu percaya kepada Yesus Kristus (yang memang telah diberikan Allah, diberikan bagi kita, diberikan kepada kita), menerima pemberian itu, dan memenuhi maksud si Pemberi itu. Kita harus dengan tulus percaya pada pesan yang telah diberikan Allah dalam firman-Nya mengenai Anak-Nya. Karena Allah telah memberikan-Nya kepada kita sebagai Nabi, Imam, dan Raja kita, kita harus menyerahkan diri untuk dipimpin, diajar, dan diselamatkan oleh-Nya.
                                        . Inilah keuntungan Injil yang besar: Bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak akan binasa. Hal ini telah dikatakan-Nya sebelumnya, dan di sini Ia mengulanginya. Ini merupakan kebahagiaan yang tidak terutarakan bagi semua orang yang sungguh-sungguh percaya, dan untuk itu mereka pasti akan terus-menerus bersyukur kepada Kristus sampai selama-lamanya.
                                            (1) Bahwa mereka diselamatkan dari kesengsaraan dan penderitaan neraka, dibebaskan supaya jangan turun ke liang kubur, dan bahwa mereka tidak akan binasa. Allah telah membuang dosa mereka, mereka tidak akan mati. Pengampunan telah diperoleh, dan kebebasan pun didapat kembali.
                                            (2) Mereka berhak atas sukacita besar di sorga: mereka akan beroleh hidup yang kekal. Pengkhianat yang terbukti bersalah kini tidak hanya diampuni, tetapi juga disukai, dijadikan kesayangan, dan diperlakukan sebagai orang yang mendapatkan perkenanan dari Raja segala raja, dan yang kepadanya Ia berkenan memberikan kehormatan. Dari penjara ia keluar untuk menjadi raja (Pkh











NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 26 April 2015 JUBILATE Fourth Sunday of Easter Kisah Para Rasul 4:5-12 Mazmur 23 1 Yohanes 3:16-24 Yohanes 10:11-18


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 12 April 2015 Second Sunday of Easter Kisah Para Rasul 4:32-35 Mazmur 133 1 Yohanes 1:1-2:2 Yohanes 20:19-31


All Garis Besar:
All Khotbah HKBP
(32)
1 Korintus 12:6 (1)
1 Korintus 4:5 (1)
1 Petrus 1:3 (1)
1 Petrus 5:10 (1)
1 Raja-raja 8:29 (1)
1 Samuel 14:6 (1)
1 Samuel 16:7b (1)
1 Samuel 2:1-10 (1)
1 Tesalonika 4:17-18 (1)
1 Tesalonika 5:17 (1)
1 Tesalonika 5:18 (1)
1 Timotius 4:12 (1)
1 Timotius 4:16 (1)
1 Yohanes 1:3 (1)
2 Kor 12:2-10 (1)
2 Kor 4:13-5:1 (1)
2 Kor 5:6-10 (1)
2 Raja-Raja 5:17 (1)
2 Samuel 15:26 (1)
2 Tawarikh 18:4 (1)
2 Tes 3:16 (1)
2 Timotius 4:17 (1)
Amsal 16:33 (1)
Amsal 20:9 (1)
Amsal 4:7 (1)
Bilangan 14:19 (1)
Efesus 2:14 (1)
Efesus 4:1-16 (1)
Efesus 5:19 (1)
Efesus 6:13 (1)
Epesus 3:14-21 (1)
Filipi 1:6 (1)
Filipi 2:27 (1)
Filipi 4:19 (1)
Filipi 4:5 (1)
Galatia 4:14 (1)
Galatia 5:13 (1)
Ibrani 12:15 (1)
Ibrani 13:7 (1)
Kejadian 12:4 (1)
Kejadian 16:13 (1)
Kejadian 24:7 (1)
Kis 10:44-48 (1)
Kis 1:1-11 (1)
Kis 2:1-21 (1)
Kisah Para Rasul 10:28 (1)
Kisah Para Rasul 17:27 (1)
Kisah Para Rasul 4:5-12 (1)
Kisah Para Rasul 6:1-15 (1)
Kisah Para Rasul 8:26-40 (1)
Kisah Para Rasul 9:3-4 (1)
Kisah Rasul 11:23 (1)
Kolose 1:12 (1)
Kolose 3:17 (1)
Kor 8:7-15 (1)
Lukas 15:20b (1)
Lukas 18:7 (1)
Lukas 19:2-3 (1)
Lukas 1:30 (1)
Lukas 1:39-45 (1)
Lukas 1:51-52 (1)
Lukas 1:68 (1)
Lukas 21:25-36 (1)
Lukas 3:1-6 (1)
Lukas 3:7-18 (1)
Mark 10:2-16 (1)
Mark 12:28-34 (1)
Mark 6:14-29 (1)
Markus 10:17-31 (1)
Markus 10:35-45 (1)
Markus 10:46-52 (1)
Markus 13:1-8 (1)
Markus 4:38 (1)
Markus 5:36 (1)
Markus 6:30-34, 53-56 (1)
Markus 9:38-50 (1)
Matius 10:30-31 (1)
Matius 14:19-20 (1)
Matius 25:31-32 (1)
Matius 25:35-36 (1)
Matius 5:11 (1)
Matius 5:16 (1)
Matius 5:45 (1)
Matius 5:9 (2)
Matius 6:13 (1)
Mazmur 100:2 (1)
Mazmur 102:25 (1)
Mazmur 118:25 (1)
Mazmur 119:2 (1)
Mazmur 121:5-6 (1)
Mazmur 135:14 (1)
Mazmur 139:5 (1)
Mazmur 147:3 (1)
Mazmur 148:7,12 (1)
Mazmur 14:3 (1)
Mazmur 17:7 (1)
Mazmur 25:12 (1)
Mazmur 25:5 (1)
Mazmur 33:11 (1)
Mazmur 34:8 (1)
Mazmur 89:16-27 (1)
Mazmur 97:10 (1)
Ratapan 3:25 (2)
Roma 10:14 (1)
Roma 11:33 (1)
Roma 12:2 (1)
Roma 5:20 (1)
Roma 5:3-4 (1)
Roma 7:24-25 (1)
Roma 8:8 (1)
Ulangan 11:7 (1)
Ulangan 18:10,12 (1)
Ulangan 28:1a,6 (1)
Ulangan 6:1-2 (1)
Ulangan 6:6-7 (1)
Wahyu 11:15 (1)
Wahyu 16:7 (1)
Wahyu 21:6 (1)
Wahyu 3:8 (1)
Yakobus 1:19 (1)
Yakobus 5:13 (1)
Yakobus 5:8 (1)
Yehezkiel 11:19 (1)
Yehezkiel 34:2 (1)
Yehezkiel 37:14 (1)
Yehezkiel 37:26 (1)
Yeremia 10:6 (1)
Yeremia 29:13-14 (1)
Yeremia 2:27 (1)
Yeremia 31:8 (1)
Yeremia 32:19 (1)
Yeremia 9:23-24 (1)
Yesaya 2:11 (1)
Yesaya 40:29 (1)
Yesaya 45:15 (1)
Yesaya 52:10 (1)
Yesaya 53:11 (1)
Yesaya 53:5 (1)
Yesaya 54:8 (1)
Yesaya 66:2 (1)
Yesaya 9:1-6 (1)
Yoel 2:13 (1)
Yohanes 14:6 (1)
Yohanes 15:14 (1)
Yohanes 18:33-37 (1)
Yohanes 1:1-14 (1)
Yohanes 3:13-17 (1)
Yohanes 3:14 (1)
Yohanes 6:25, 41-51 (1)
Yohanes 6:37 (1)
Yohanes 6:51-58 (1)
Yohanes 6:56-69 (2)
Yohanes 8:12-19 (1)
Yosua 24:24 (1)
Yosus 24:14 (1)
Yunus 2:8 (1)




NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 26 April 2015 JUBILATE Fourth Sunday of Easter Kisah Para Rasul 4:5-12 Mazmur 23 1 Yohanes 3:16-24 Yohanes 10:11-18


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 12 April 2015 Second Sunday of Easter Kisah Para Rasul 4:32-35 Mazmur 133 1 Yohanes 1:1-2:2 Yohanes 20:19-31

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de