f Khotbah HKBP Minggu, 28 Agustus 2016 - Lukas 14:1, 7-14 - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
Jamita HKBP Minggu, 21 Juni 2026 - Pemeliharaan Allah Yang Universal - Kejadian 21:8-21
# I. Latar Belakang Teks, II. Allah Memelihara Orang yang Tidak Diperhitungkan Manusia, III. Allah Bekerja Melampaui Batas Suku, Bangsa, dan Status, IV. Allah Menolong Pada Saat yang Tepat, V. Allah Memiliki Masa Depan bagi Setiap Orang,
View : 7580 kali

Download MP3 Music
Minggu, 28 Agustus 2016
Proper 17 (22)
Jeremiah 2:4-13 and
Psalm 81:1, 10-16 or Proverbs 25:6-7
Sirach 10:12-18 and Psalm 112
Hebrews 13:1-8, 15-16

Lukas 14:1, 7-14
Lagi penyembuhan pada hari Sabat
14:1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Tempat yang paling utama dan yang paling rendah
14:7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 14:8 "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, 14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. 14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. 14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Siapa yang harus diundang
14:12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. 14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. 14:14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."


Penjelasan:
* Luk 14:1 - Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ // Semua yang hadir mengamat-amati Dia
Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ (bdg. 11:37). Semua yang hadir mengamat-amati Dia. Orang-orang Farisi mengamat-amati (Yunani: paretērounto) Yesus dengan cermat (bdg. 6:7) dengan tujuan menjebak Dia jika mungkin.

* Kerendahan Hati Dipuji
    Yesus Tuhan kita di sini memberikan contoh bagaimana kita dapat bercakap-cakap tentang hal yang bermanfaat dan membangun pada saat kita sedang makan bersama teman-teman kita. Ketika Ia hanya makan bersama para murid-Nya, yang merupakan keluarga-Nya sendiri, percakapan-Nya dengan mereka terlihat sangat baik dan berguna untuk membangun. Namun bukan hanya itu saja, ketika Ia bersama orang-orang asing, malah bersama musuh-musuh yang sedang mengamat-amati-Nya, Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menegur kesalahan mereka yang dilihat-Nya, dan memberikan pengajaran kepada mereka. Meskipun orang fasik ada di hadapan-Nya, Ia tidak menahan diri untuk berbuat baik (seperti Daud, Mzm. 39:2-3), sebab kendati dipancing-pancing, hati-Nya tidak menjadi panas dan jiwa-Nya tidak terhasut. Kita bukan saja harus melarang percakapan yang tidak baik pada waktu makan, seperti orang fasik yang suka mengolok-olok dalam perjamuan makan, tetapi juga harus berbuat lebih daripada sekadar memperbincangkan hal-hal yang biasa-biasa saja. Kita harus memakai kebaikan Allah dalam menyediakan makanan kepada kita sebagai kesempatan untuk mengatakan hal-hal yang baik tentang-Nya. Kita harus belajar untuk memberi arti rohani pada kejadian-kejadian biasa yang kita alami. Dengan demikian, bibir orang benar memberi makan banyak orang. Sekalipun Yesus Tuhan kita Yesus Tuhan kita sedang berada di antara orang-orang terhormat, tanpa pandang bulu:

    I. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menegur para tamu yang berusaha duduk di tempat-tempat kehormatan, dan dengan ini Ia pun mengajar kita tentang kerendahan hati.
        . Ia mengamati bagaimana para ahli Taurat dan orang Farisi ini berusaha mendapat tempat-tempat yang paling utama, di bagian kepala meja (ay. 7). Sebelumnya Ia menegur orang-orang seperti ini secara umum (11:43). Namun di sini Ia mengarahkan teguran-Nya kepada orang-orang tertentu, sebab Kristus akan memberi setiap orang sesuai dengan bagiannya. Ia melihat bagaimana mereka berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan. Setiap orang, pada waktu memasuki ruangan, berusaha sedapat mungkin untuk duduk di dekat tempat kehormatan. Perhatikanlah, bahkan dalam perbuatan-perbuatan biasa Kristus mengamati kita, dan Dia menilai apa yang kita lakukan, bukan hanya dalam pertemuan-pertemuan ibadah, melainkan juga pada waktu di meja makan, dan Ia memberikan penilaian-Nya tentang itu semua.
        . Ia mengamati bagaimana orang-orang yang berlaku seperti itu sering kali memamer-mamerkan diri mereka sendiri, namun kemudian mereka justru mendapat malu. Sementara orang-orang yang rendah hati, yang duduk di tempat-tempat paling rendah, sering kali pada akhirnya malah mendapat kehormatan karenanya.
            (1) Orang-orang yang pada waktu datang langsung duduk di tempat yang paling utama mungkin saja nanti direndahkan, dan dipaksa untuk turun dan memberikan tempatnya kepada orang yang lebih terhormat (ay. 8-9). Perhatikanlah, dengan melihat betapa banyaknya orang yang lebih terhormat daripada kita, bukan hanya dalam kedudukan duniawi, melainkan juga dalam kebaikan dan keberhasilan pribadi, maka ini haruslah menjadi teguran bagi kita untuk tidak memandang diri kita terlalu tinggi. Jadi, bukannya merasa sombong melihat betapa banyak orang yang memberikan tempat duduk mereka kepada kita, kita seharusnya merasa rendah hati melihat betapa banyak orang yang harus kita beri tempat duduk. Tuan rumah yang mengadakan perjamuan akan mengatur tamu-tamunya, dan ia tidak akan membiarkan orang-orang yang lebih terhormat tidak duduk di tempat yang layak, dan karena itu ia tidak akan segan-segan menyuruh orang yang merampas tempat itu untuk duduk di tempat yang lebih rendah. Berilah tempat ini kepada orang itu, dan dengan demikian orang yang menganggap dirinya lebih penting daripada yang sebenarnya akan mendapat malu di hadapan semua orang. Perhatikanlah, kesombongan membawa aib, dan pada akhirnya mendatangkan kejatuhan.
            (2) Orang-orang yang pada waktu datang langsung duduk di tempat yang paling rendah, dan merasa puas dengannya, kemungkinan akan diberi tempat yang lebih baik (ay. 10): "Pergilah, dan duduklah di tempat yang paling rendah, anggap saja bahwa temanmu yang mengundangmu mempunyai tamu-tamu yang berkedudukan lebih tinggi daripadamu. Tetapi mungkin saja tidak demikian, maka setelah itu temanmu akan berkata kepadamu, Sahabat, silakan duduk di depan. Tuan rumah akan berbuat adil kepadamu dengan tidak membiarkanmu duduk di tempat yang paling rendah, sebab kamu sudah begitu rendah hati dengan mau duduk di sana." Perhatikanlah, untuk naik ke tempat yang lebih tinggi, kita harus memulai dari tempat yang paling rendah, dan ini membuat kita dipandang baik oleh orang-orang di sekitar kita: "Engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Mereka akan melihatmu sebagai orang terhormat, melebihi apa yang mereka pikirkan pada awalnya, dan kehormatan akan tampak lebih terang bila bersinar dari dalam kegelapan. Mereka juga akan melihatmu sebagai orang yang rendah hati, dan ini merupakan kehormatan terbesar. Juruselamat kita di sini merujuk pada amsal Salomo (Ams. 25:6-7), Jangan berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu: Naiklah ke mari, dari pada engkau direndahkan di hadapan orang mulia." Dr. Lightfoot mengutip salah satu perumpamaan para rabi, yang bunyinya kira-kira seperti ini. "Ada tiga orang," katanya, "diundang ke suatu pesta. Yang pertama duduk di tempat paling terhormat, sebab, katanya, aku adalah penguasa. Yang kedua duduk di tempat terhormat lainnya, sebab, katanya, aku orang bijak. Yang terakhir duduk di tempat paling rendah, sebab, katanya, aku orang yang rendah hati. Kemudian sang raja menempatkan orang yang rendah hati itu di tempat paling utama, sedangkan si penguasa ditempatkannya di tempat yang paling rendah."
        . Ia menerapkan perumpamaan ini secara umum, dan mengajak kita untuk belajar tidak memikirkan hal yang muluk-muluk, tetapi harus puas dengan hal yang biasa-biasa saja, karena untuk alasan apa pun juga, kesombongan dan hasrat yang menggebu adalah hal yang tercela bagi semua orang. Sebab, barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, sedangkan kerendahan hati dan penyangkalan diri adalah suatu hal yang sungguh mulia: Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (ay. 11). Kita juga melihat dalam contoh-contoh lain bahwa keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati menerima pujian, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.
    II. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menegur tuan rumah karena mengundang begitu banyak orang kaya, yang bisa makan enak di rumah sendiri, padahal seharusnya ia mengundang orang miskin, atau, yang sama baiknya, mengirimkan sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, dan yang tidak mampu mendapatkan makanan yang layak (lih. Neh. 8:11). Juruselamat kita di sini mengajar kita bahwa apabila kita menggunakan apa yang kita miliki untuk beramal, maka ini lebih baik, dan lebih dapat dipertanggungjawabkan, daripada menggunakannya untuk berfoya-foya dan royal.
        . "Janganlah berusaha mentraktir orang kaya. Janganlah mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya," (ay. 12). Ini tidak berarti bahwa kita dilarang untuk menjamu mereka. Adakalanya kita harus melakukan itu untuk mempererat tali persaudaraan di antara kaum kerabat dan tetangga-tetangga kita.

        Namun:

            (1) "Janganlah menjadikannya sebagai suatu kebiasaan. Janganlah menghabiskan terlalu banyak uang untuk keperluan itu, supaya engkau masih bisa menggunakannya untuk keperluan yang lebih baik, yaitu untuk amal sedekah. Engkau akan merasa bahwa mengundang orang kaya sangatlah mahal dan merepotkan. Mengadakan sebuah perjamuan bagi orang kaya sama saja biayanya dengan menyediakan makanan yang berlimpah bagi orang miskin." Salomo berkata, "Orang yang memberi hadiah kepada orang kaya, hanya merugikan diri saja" (Ams. 22:16). "Berilah" (kata Plinius, dalam karyanya Surat-surat.) "kepada teman-temanmu, tetapi biarlah kepada teman-temanmu yang miskin, bukan kepada mereka yang tidak memerlukanmu."
            (2) "Janganlah sombong karenanya." Banyak orang mengadakan perjamuan hanya karena mereka ingin pamer, seperti Ahasyweros (Est. 1:3-4). Pikir mereka, mereka tidak akan dipandang hebat bila tidak mengundang orang-orang terhormat untuk makan bersama mereka, dan dengan demikian mereka merampas harta keluarga demi memuaskan angan-angan mereka.
            (3) "Janganlah berharap bahwa engkau akan dibalas dengan harga yang setimpal." Inilah yang dipersalahkan Juruselamat kita dalam perjamuan-perjamuan seperti ini: "Engkau biasanya mengundang mereka karena engkau berharap akan diundang lagi oleh mereka, dan dengan demikian engkau akan mendapatkan ganti rugi. Engkau membayangkan bahwa engkau akan dipuaskan kembali dengan beraneka ragam hidangan dari mereka seperti yang telah kausuguhkan kepada teman-temanmu itu, dan semuanya ini akan memuaskan nafsu keinginanmu untuk berpesta pora. Tetapi, sebenarnya pada akhirnya tidak ada keuntungan apa-apa yang engkau peroleh."
        . "Berusahalah meringankan beban orang-orang miskin (ay. 13-14): Apabila engkau mengadakan perjamuan, daripada repot-repot menyiapkan hidangan yang unik dan enak, hidangkan saja di mejamu makanan yang secukupnya dan menyehatkan, yang tidak terlalu mahal, dan undanglah orang-orang miskin dan orang-orang cacat, yang tidak mempunyai apa-apa, dan tidak mampu bekerja untuk menopang kehidupan mereka. Merekalah yang harus dikasihani dengan amal sedekah, mereka berkekurangan dalam kebutuhan-kebutuhan pokok. Sediakanlah keperluan mereka itu, dan mereka akan membalasmu dengan doa-doa mereka. Mereka akan berterima kasih atas makanan yang telah kausediakan, sementara orang kaya mungkin akan mencelanya. Mereka akan pergi dan bersyukur kepada Allah karenamu, sementara orang kaya mungkin akan pergi dan menghinamu. Janganlah berkata bahwa engkau rugi dan uangmu terkuras habis karena mereka tidak mampu membalasmu. Tidak, apa yang engkau lakukan itu adalah untuk sesuatu yang sangat penting, suatu jaminan yang terbaik, sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar." Ya, akan ada kebangkitan orang-orang benar, suatu masa depan bagi orang-orang benar. Ada kebahagiaan yang disimpan bagi mereka di dunia yang akan datang, dan kita boleh yakin bahwa orang-orang yang murah hati akan diingat pada hari kebangkitan orang-orang benar, sebab beramal merupakan suatu tindak kebenaran. Amal sedekah mungkin tidak dibalas di dunia ini, sebab apa yang ada di dunia ini bukanlah hal-hal terbaik, dan karena itu Allah tidak akan membalas orang-orang terbaik dengan hal-hal duniawi. Tetapi ini sama sekali tidak berarti bahwa mereka kehilangan upah mereka, sebab mereka akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan. Pada saat itu akan tampak bahwa perjalanan-perjalanan yang ditempuh paling jauh akan membawa hasil-hasil yang paling bernilai, dan bahwa orang yang murah hati tidak akan rugi, melainkan akan mendapat untung yang tidak terhingga, dengan menunggu mendapat balasannya sampai pada hari kebangkitan.


Label:   Lukas 14:1, 7-14 











NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 4 September 2016 - Lukas 14:25-33


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 21 Agustus 2016 - Lukas 13:10-17


All Garis Besar:
All Khotbah HKBP 2016
(12)
1 Timotius 6:6-19 (1)
2 Timotius 1:1-14 (1)
2 Timotius 2:8-15 (1)
Filipi 4:4-9 (1)
Ibrani 11:29--12:2 (1)
Kejadian 15:1-6 (1)
Kejadian 32:22-31 (1)
Lukas 10:1-11 (1)
Lukas 10:25-37 (1)
Lukas 11:1-13 (1)
Lukas 13:10-17 (1)
Lukas 14:1, 7-14 (1)
Lukas 14:25-33 (1)
Lukas 15:1-10 (1)
Lukas 16:1-13 (1)
Lukas 19:28-40 (1)
Lukas 2:22-40 (1)
Lukas 3:15-17 (1)
Lukas 3:15-22 (1)
Lukas 4:14-21 (2)
Lukas 4:21-30 (2)
Lukas 8:26-39 (1)
Lukas 9:28-36 (1)
Matius 27:57-66 (1)
Matius 6:1-21 (1)
Roma 15:4-13 (1)
Roma 1:1-7 (1)
Yesaya 1:10-18 (1)
Yesaya 35:1-10 (1)
Yohanes 12:1-11 (1)
Yohanes 12:1-8 (1)
Yohanes 12:20-36 (1)
Yohanes 13:21-32 (1)
Yohanes 20:1-18 (2)
Yohanes 2:1-11 (2)
Yohanes 3:13-17 (1)




NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 4 September 2016 - Lukas 14:25-33


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 21 Agustus 2016 - Lukas 13:10-17

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de