f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Download MP3 Music Khotbah HKBP 2016 Minggu, 7 Agustus 2016Minggu, 7 Agustus 2016 (Kejadian 15:1-6)Khotbah HKBP Minggu, 7 Agustus 2016 - Kejadian 15:1-6Proper 14 (19) Isaiah 1:1, 10-20 and Psalm 50:1-8, 22-23 Kejadian 15:1-6 and Psalm 33:12-22 Hebrews 11:1-3, 8-16 Lukas 12:32-40 Kejadian 15:1-6 Perjanjian Allah dengan Abram; janji tentang keturunannya 15:1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." 15:2 Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." 15:3 Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." 15:4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." 15:5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." 15:6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. . Penjelasan: * Kej 15:1 - Janganlah takut ... Aku-lah perisaimu; upahmu akan sangat besar Janganlah takut ... Aku-lah perisaimu; upahmu akan sangat besar. Pertama, Abram harus menyingkirkan semua bentuk ketakutan dengan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Gambaran tentang Allah sebagai perisai ini dimaksudkan untuk memberikan harapan, keberanian dan iman. Namun penjagaan saja tidaklah cukup. Abram perlu melihat kepastian tentang upah yang dapat menghasilkan sukacita yang penuh. Ada versi Alkitab yang menerjemahkan nas ini sebagai berikut: Akulah perisaimu, dan pahalamu yang amat besar (TL). Kedua cara menerjemahkan ini akan membingungkan kecuali kalau kita dapat melihat bahwa cara manapun yang dipakai, yang dikemukakan adalah jaminan kemenangan kelak. * Kej 15:2-7 - Eliezer orang Damsyik itu Tuhan meyakinkan Abram bahwa Eliezer orang Damsyik itu bukanlah ahli waris yang dimaksudkan Allah, tetapi betul-betul seorang anak dari Abram sendirilah yang akan menggenapi secara melimpah setiap nubuat. Pada masa-masa sulit atau putus asa Abram harus percaya pada perlindungan Allah, tindakan Allah menggenapi janji-janji-Nya dan jumlah keturunan-Nya yang tidak terhitung banyaknya. Yang dikatakan oleh Tuhan tersebut merupakan sebuah tantangan untuk mempercayai dengan sungguh-sungguh. Dan Abram mampu melakukan hal itu sebab dia sudah mengenal Oknum yang memberikan janji-janji tersebut. Dia tahu bahwa Yehovah dapat diandalkan. Sekalipun tidak ada seorang anakpun di dalam rumahnya, Allah pasti akan memenuhi bumi dengan orang-orang yang akan memandang Abram sebagai bapa. Penyerahan penuh kepercayaan kepada kehendak Allah merupakan unsur pokok dari agama sejati. * Kej 15:6 - TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Keadaan benar di hadapan Allah sangat berharga di mata Tuhan. Abram dibenarkan, maksudnya, diperhitungkan sebagai benar, karena imannya. * Kovenan Allah dengan Abram (Kejadian 15:1) Amatilah di sini, I. Masa ketika Allah membuat perjanjian ini dengan Abram: Kemudian, dari segala perkara yang tersebut itu. 1. Setelah Abram melakukan perbuatan baik yang terkenal dengan menyelamatkan sahabat-sahabat dan sesamanya dari bahaya. Sebuah perbuatan yang dilakukan tanpa bayaran dan suap. Setelah itu, Allah melakukan kunjungan kehormatan ini. Perhatikanlah, barangsiapa yang menunjukkan kebaikan terhadap sesama manusia akan memperoleh kebaikan dari Allah. 2. Setelah kemenangan yang ia peroleh atas keempat raja itu, Allah datang mengunjunginya. Maksudnya supaya Abram tidak terlampau mabuk kemenangan, dan Allah ingin menyatakan bahwa Ia memiliki hal-hal yang lebih baik dalam perbendaharaan-Nya untuk diberikan kepada Abram. Perhatikanlah, percakapan penuh kepercayaan akan berkat-berkat rohani merupakan sarana istimewa untuk menjaga supaya kita tidak terlampau terseret oleh kesenangan-kesenangan dunia yang bersifat sementara. Anugerah-anugerah pemeliharaan ilahi yang diberikan secara umum tidak dapat dibandingkan dengan kovenan kasih itu. II. Cara Allah bercakap-cakap dengan Abram: Datanglah firman TUHAN kepada Abram (artinya, Allah menyatakan diri-Nya kepada Abram) dalam suatu penglihatan. Menurut dugaan, ketika itu Abram sedang dalam keadaan terbangun dan sadar. Kemudian datanglah beberapa penglihatan dari Shekinah (penglihatan dari kemuliaan hadirat Allah sebagaimana digambarkan dalam theologi Yudaisme - pen.), atau beberapa tanda kehadiran kemuliaan ilahi yang dapat dirasakan. Cara-cara pewahyuan ilahi diubah dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh pancaindra yang kita miliki untuk disesuaikan dengan keadaan kita. III. Jaminan yang melimpah diberikan Allah dalam perkenan-Nya kepada Abram. 1. Ia memanggilnya dengan nama - Abram, sebuah panggilan kehormatan baginya. Panggilan itu membuat namanya agung, dan juga menjadi sebuah dorongan dan pertolongan besar bagi imannya. Perhatikanlah, firman Allah yang baik membawa kebaikan bagi kita apabila firman itu disampaikan secara khusus oleh Roh Kudus kepada kita, dan dimasukkan ke dalam hati kita. Firman itu berkata, Ayo, hai semua orang (Yes. 55:1), Roh berkata, Hai saudara. 2. Allah memperingatkan keadaan hati Abram yang tidak tenang dan galau: Janganlah takut, Abram. Abram mungkin takut kalau-kalau keempat raja yang telah ia kalahkan akan kembali bersekutu, dan menghancurkannya. "Tidak," Allah berfirman, "Janganlah takut. Jangan takut akan pembalasan mereka, juga akan iri hati sesamamu. Aku akan menjagamu." Perhatikanlah, (1) Di mana ada iman yang besar, kemungkinan juga ada banyak ketakutan di sana (2Kor. 7:5.) (2) Allah memedulikan ketakutan umat-Nya, walaupun dengan cara yang sangat tersembunyi, dan memperhatikan kesesakan jiwa mereka (Mzm. 31:8). (3) Merupakan kehendak Allah supaya umatnya jangan pernah membuka pintu bagi masuknya godaan ketakutan, apa pun yang terjadi. Biarkan semua orang berdosa di Sion ketakutan, tetapi janganlah engkau takut, Abram. 3. Allah menjamin keselamatan dan kebahagiaan Abram, supaya ia selalu dalam keadaan seperti itu. (1) Aman sebagaimana Allah sendiri yang menjaga dia: Akulah perisaimu, atau dengan cara yang lebih mendalam, Aku menjadi perisai bagimu, selalu hadir bersamamu, benar-benar menjagamu. Bukan saja Allah Israel, melainkan juga Allah bagi Israel (1Taw. 17:24). Perhatikanlah penalaran mengenai hal ini. Seharusnya, semua ketakutan mereka yang membingungkan dan menyiksa dapat dibungkam dengan mengingat bahwa Allah sendiri merupakan dan akan menjadi sebuah perisai bagi umat-Nya, untuk menjaga mereka dari semua kejahatan yang merusak, sebuah perisai yang selalu siap bagi mereka, serta menjadi benteng di sekeliling mereka. (2) Berbahagia seperti Allah sendirilah yang membuat ia berbahagia: Aku akan menjadi upahmu yang sangat besar. Bukan saja sebagai pemberi upah kepadamu, melainkan menjadi upahmu. Abram telah menolak dengan sopan semua upah yang ditawarkan raja Sodom kepadanya, dan di sini Allah berkata kepadanya bahwa ia tidak akan rugi apa pun karena penolakannya itu. Perhatikanlah, [1] Upah ketaatan dan penyangkalan diri yang dilakukan dengan penuh kepercayaan akan sangat besar (1Kor. 2:9). [2] Allah sendiri menjadi kebahagiaan yang dipilih dan dijanjikan bagi jiwa-jiwa yang kudus - yang dipilih dalam dunia ini, dijanjikan untuk keadaan yang lebih baik. Ia menjadi bagian milik pusaka dan piala mereka. * Jaminan Allah akan Banyaknya Keturunan Abram (Kejadian 15:2-6) Di sini kita membaca perihal jaminan yang diberikan kepada Abram tentang keturunan yang tidak terbilang jumlahnya dan yang akan datang dari dirinya. Di dalamnya dapat kita amati hal-hal sebagai berikut, I. Keluhan Abram diulang kembali (ay. 2-3). Keluhan inilah yang membuka kesempatan bagi datangnya janji ini. Kesusahan Abram yang memberatkan hatinya adalah keinginan kuat untuk mempunyai anak. Di sini ia mencurahkan keluhannya ke hadapan-Nya, dan kesesakannya diberitahukan kepada TUHAN (Mzm. 142:3). Perhatikanlah, meskipun kita tidak pernah boleh mengeluh tentang Allah, kita masih diizinkan untuk mengeluh kepada-Nya, dan menyatakan keluhan kita dengan seluas-luasnya dan terperinci. Sungguh memberikan keringanan bagi jiwa yang berbeban berat apabila membuka masalah kepada seorang sahabat yang setia dan berbelas kasihan: Kepada sahabat seperti Allah, yang telinga-Nya selalu terbuka. Keluhan yang disampaikan meliputi empat segi: 1. Bahwa ia tidak mempunyai anak (ay. 3): Lihatlah, Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan. Tidak saja tidak mempunyai anak, tetapi tidak mempunyai keturunan. Kalau saja ia mempunyai seorang anak perempuan, dari anak perempuan ini Sang Mesias masih mungkin dapat datang, yang akan menjadi keturunan perempuan itu. Tetapi sampai saat itu, ia tidak memiliki seorang anak pun, baik laki-laki maupun perempuan. Tampaknya ia menekankan hal ini, kepadaku. Sesamanya memiliki banyak anak, hamba-hambanya memiliki anak-anak yang lahir di rumahnya. "Tetapi kepadaku," ia mengeluh, "Engkau tidak memberikan satu anak pun." Namun Allah telah berfirman kepadanya bahwa ia akan menjadi kesayangan di atas semua orang. Perhatikanlah, orang-orang yang tersurat tidak memiliki anak, harus melihat bahwa Allah memang menyuratkannya seperti itu. Sekali lagi, Allah sering menangguhkan penghiburan yang bersifat sementara itu dari anak-anak-Nya sendiri, sementara Ia memberikan banyak anak kepada orang-orang lain yang merupakan orang asing di mata Allah. 2. Bahwa tampaknya ia tidak akan pernah mempunyai anak, seperti yang ditunjukkan dalam kata, aku akan, atau, aku akan pergi tanpa anak, pergi memasuki tahun-tahun yang akan datang, menuruni bukit dengan cepat, bahkan aku akan pergi dari dunia ini, pergi menempuh jalan semua orang di bumi ini. Aku akan meninggal dunia dengan tidak mempunyai anak, begitulah yang tertulis di dalam Kitab Septuaginta (Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani - pen.). "Aku akan meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan seorang anak pun di belakangku." 3. Bahwa hamba-hambanya pada saat itu tampaknya akan menjadi ahli warisnya, dan bukannya anak-anaknya. Sementara ia masih hidup, maka hambanya Eliezer, orang Damsyik inilah yang menjadi pengurus rumah tangganya. Kepadanyalah ia menyerahkan pemeliharaan keluarga dan harta miliknya. Hamba yang mungkin saja setia, namun hanya sebagai seorang hamba, bukan seorang anak laki-laki. Kalau ia meninggal dunia, hamba yang lahir di rumahnya inilah yang akan menjadi ahli warisnya, dan akan berkuasa atas segala yang telah ia usahakan dengan berlelah-lelah selama ini (Pkh. 2:18-19, 21). Sebelumnya Allah telah memberitahukan kepadanya bahwa Ia akan membuatnya menjadi bangsa yang besar (12:2), dan menjadikan keturunannya seperti debu tanah banyaknya (Kejadian 13:16). Tetapi Ia membiarkan dirinya tinggal dalam keraguan, apakah keturunan itu berasal dari anaknya sendiri atau anak angkat, apakah seorang anak yang berasal dari dirinya atau hanya anak yang dilahirkan di rumahnya. "Nah, TUHAN," kata Abram, "jika anak itu hanyalah seorang anak angkat, tentunya ia akan berasal dari salah seorang hamba-hambaku, yang tentunya akan mencerminkan keaiban bagi keturunan yang dijanjikan itu, yaitu keturunan yang akan berasal dari dirinya." Perhatikanlah, sementara belas kasihan yang dijanjikan itu ditangguhkan, ketidakpercayaan dan ketidaksabaran kita cenderung menyimpulkan bahwa janji itu sudah dibatalkan. 4. Bahwa hal tidak mempunyai anak ini menjadi masalah yang sangat besar baginya, sehingga mampu merampas penghiburan dari semua kesenangan yang telah diterimanya: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku? Semua ini tidak ada artinya bagiku, jika aku tidak mempunyai seorang anak." Nah, perhatikan hal-hal ini, (1) Jika kita menganggap bahwa Abram tidak melihat lebih jauh lagi melampaui semua kesenangan yang bersifat sementara ini, maka keluhan ini patut dipersalahkan. Melalui pemeliharaan dan campur tangan-Nya, Allah telah memberikan sejumlah hal yang baik dan masih banyak lagi berkat yang lain kepadanya. Namun Abram tidak memperhitungkan semua hal ini, hanya karena ia tidak mempunyai anak. Sangatlah jahat kalau seorang yang disebut bapa orang percaya sampai berkata, Apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku tidak mempunyai anak, segera sesudah Allah berfirman, Akulah perisaimu dan upahmuyang sangat besar. Perhatikanlah, orang-orang yang tidak menganggap bahwa relasi kovenan mereka dengan Allah dan kebutuhan mereka akan Allah sudah cukup bagi hidup mereka, sebenarnya tidak menghargai keuntungan yang mereka dapatkan. Sebaliknya, (2) Jika kita menganggap bahwa Abram di sini menaruh perhatian besar kepada keturunan yang dijanjikan, maka hasrat yang mendesak ini sangat patut dipuji. Semua tidak akan ada artinya jika ia tidak memiliki kesungguhan akan berkat yang besar itu, serta sebuah jaminan dari hubungannya dengan Sang Mesias, yang untuk itu Allah telah memerintahkan supaya ia senantiasa menjaga pengharapan akan kedatangan-Nya. Ia memiliki kekayaan, kemenangan, dan kehormatan, namun semua itu tidak ada arti baginya, sementara masalah utama ini masih gelap baginya. Perhatikanlah, apabila kita belum memiliki bukti dari perhatian kita di dalam Kristus dan kovenan yang baru, kita tidak boleh merasa puas dengan hal-hal lain di luar itu. "Ini dan itu semua kumiliki, tetapi apa gunanya semua ini, kalau aku akan meninggal dunia tanpa Kristus?" Namun, sejauh ini keluhan Abram tetap patut dipersalahkan, sebab terdapat sikap kurang percaya akan janji itu yang mendasari keluhannya, serta suatu bentuk kejemuan dalam menanti-nantikan waktu Allah. Perhatikanlah, adakalanya orang-orang percaya yang benar mengalami kesulitan untuk menerima dengan tekun janji-janji Allah dan pemeliharaan-Nya, ketika mereka tampaknya mulai menunjukkan ketidakpercayaan. II. Jawaban Allah yang lembut atas keluhan ini. Pada bagian pertama keluhan Abram (ay. 2), Allah tidak segera menanggapi, karena ada sedikit nada kejengkelan di dalamnya. Tetapi ketika ia mengulangi pernyataan ini dengan lebih tenang (ay. 3), Allah menjawabnya dengan lembut. Perhatikanlah, jika kita tetap bertekun di dalam doa, dan dengan penuh kerendahan hati menyerahkan diri kepada kehendak ilahi, pencarian kita tidak akan sia-sia. 1. Dengan cepat Allah memberikan janji tentang seorang anak kepadanya (ay. 4). Orang yang dilahirkan di rumahmu tidak akan menjadi ahli warismu, seperti yang engkau khawatirkan, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu. Perhatikanlah, (1) Allah menciptakan ahli-ahli waris. Ia berfirman, "Ini tidak akan, dan yang itu akan." Apa pun yang direncanakan dan dirancang manusia untuk mengatur harta benda mereka, rancangan Allah akan tinggal tetap. (2) Sering kali Allah bersikap lebih baik kepada kita dibandingkan kekhawatiran-kekhawatiran kita. Lagi pula Ia menaruh belas kasihan terhadap apa yang menimbulkan keputusasaan kita. 2. Untuk lebih menyentuh perasaan hatinya melalui janji ini, Allah membawa Abram keluar serta berfirman, Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu (ay. 5). (1) Jumlahnya demikian banyak, tampaknya bintang-bintang itu tidak akan dapat dihitung dengan mata biasa. Abram takut ia tidak akan memiliki anak sama sekali, tetapi Allah meyakinkan dia bahwa keturunan yang berasal dari dirinya akan sangat banyak jumlahnya sampai-sampai tidak dapat dihitung lagi. (2) Begitu agung dan mulia, disamakan dengan bintang-bintang dalam kemegahannya yang luar biasa, sebab bagi merekalah kemuliaan itu (Rm. 9:4). Keturunan Abram menurut dagingnya adalah seperti debu tanah banyaknya ( Kejadian 13:16), namun keturunan rohaninya sama seperti bintang-bintang di langit, jumlahnya tidak saja besar, tetapi juga mulia, dan sangat berharga. III. Kepercayaan Abram yang teguh terhadap janji yang sekarang dibuat Allah kepadanya, serta perkenan Allah atas imannya (ay. 6). 1. Percayalah Abram kepada TUHAN, artinya, ia mempercayai kebenaran janji yang sekarang dibuat Allah, bersandar pada kuasa yang yang tidak dapat ditolak serta kesetiaan Dia yang telah berjanji. Masakan Ia berfirman dan tidak menepatinya? Perhatikanlah, orang-orang yang merindukan penghiburan dari janji-janji Allah, harus menggabungkan iman mereka dengan janji-janji itu. Perhatikanlah bagaimana Rasul Paulus mengagungkan iman Abram ini, dan menjadikannya sebagai contoh yang istimewa (Rm. 4:19-21). Imannya tidak menjadilemah, ia tidak bimbang terhadap janji itu, ia diperkuat dalam imannya, dan ia penuh dengan keyakinan. Allah mengerjakan iman seperti itu dalam diri kita masing-masing! Sebagian orang berpendapat bahwa kepercayaan Abram kepada TUHAN dihargai. Allah tidak saja berjanji, tetapi telah menjanjikan Tuhan Yesus, Pengantara kovenan baru, dan Abram percaya kepada-Nya. Artinya, ia menerima dan memegang teguh wahyu ilahi mengenai diri-Nya, dan ia bersukacita telah melihat hari-Nya, walaupun dari jarak waktu yang sangat jauh (Yoh. 8:56). 2. Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Artinya, karena hal ini ia diperkenan Allah, sama seperti bapa-bapa leluhur lainnya, dengan jalan iman ia memperoleh kesaksian bahwa ia benar (Ibr. 11:4). Hal ini sangat ditekankan dalam Perjanjian Baru untuk membuktikan bahwa kita dibenarkan oleh iman tanpa melakukan hukum Taurat (Rm. 4:3; Gal. 3:6), karena Abram telah dibenarkan sementara ia belum disunat. Apabila Abram yang begitu kaya dalam perbuatan baik, tidak dibenarkan oleh perbuatan baik, tetapi hanya oleh iman, apa lagi kita yang sangat miskin dalam perbuatan baik. Iman ini, yang dikaitkan kepada Abram karena kebenaran ini, sebenarnya merupakan penghormatan Allah kepadanya. Sebab sebelumnya ia telah berjuang melawan ketidakpercayaannya (ay. 2), dan kemudian ia tampil sebagai seorang pemenang, dengan demikian ia dimahkotai, dan juga dihormati. Perhatikanlah, tindakan berdasarkan iman untuk menerima dan ketergantungan pada janji anugerah dan kemuliaan Allah di dalam dan melalui Kristus sesuai ketentuan kovenan baru, akan memberikan kita hak semua berkat yang terkandung di dalam janji itu. Semua orang percaya dibenarkan sama seperti Abram dibenarkan, dan imannyalah yang diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. ======================================= Lukas 12:32-40 12:32 Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. 12:33 Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. 12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Kewaspadaan 12:35 "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. 12:36 Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. 12:37 Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. 12:38 Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka. 12:39 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. 12:40 Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Penjelasan: * Teguran atas Kekhawatiran yang Berlebihan Yesus Tuhan kita di sini menegaskan kembali kepada para murid-Nya sebagian pengajaran yang penting dan yang berguna bagi mereka. Sebagian pengajaran itu sudah diajarkan-Nya sebelumnya kepada mereka, tetapi ditekan-Nya kepada mereka lagi di sini ketika ada kesempatan. Mereka memang perlu mendapat pengajaran demi pengajaran dan perkataan demi perkataan. "Karena itu, sebab ada begitu banyak orang yang hancur hidupnya karena ketamakan dan terlalu cemas memikirkan kekayaan dunia ini, Aku berkata kepadamu, murid-murid-Ku, ingatlah kamu akan hal ini." Engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, dan juga engkau, hai manusia dunia (1Tim. 6:11). I. Ia menyuruh mereka agar tidak menyiksa diri dengan segala kekhawatiran mengenai kebutuhan-kebutuhan hidup, yang hanya akan membuat pusing kepala dan yang tidak akan pernah ada habisnya: Janganlah khawatir akan hidupmu (ay. 22). Dalam perumpamaan sebelumnya Dia memperingatkan kita agar waspada terhadap suatu jenis ketamakan yang paling berbahaya bagi orang kaya, yaitu kepuasan jasmani dalam memiliki harta duniawi yang berlimpah. Nah, bisa saja murid-murid-Nya itu berpikir bahwa mereka tidak akan terjerumus ke dalam bahaya ini, sebab mereka tidak mempunyai beraneka ragam harta yang berlimpah untuk dibanggakan. Karena itulah di sini Kristus memperingatkan mereka agar waspada terhadap suatu jenis ketamakan yang lain, yaitu ketamakan yang paling menggoda orang-orang yang hanya mempunyai sedikit barang di dunia ini, dan ini pasti masalah yang dialami murid-murid Kristus, terlebih lagi karena sekarang mereka telah meninggalkan semuanya untuk mengikuti Kristus. Ketamakan ini adalah kekhawatiran mengenai kebutuhan-kebutuhan hidup: "Janganlah khawatir akan hidupmu, entah khawatir memikirkan bagaimana kamu melindungi hidupmu, ketika dalam bahaya, atau khawatir memikirkan bagaimana kamu menyediakan kebutuhan bagi hidupmu itu, entah makanan entah pakaian, apa yang hendak kamu makan atau apa yang hendak kamu pakai." Ini adalah peringatan yang sangat ditekankan-Nya (Mat. 6:25 dst.). Dan alasan yang digunakan di sini sebagian besar sama, yang dibuat untuk mendorong kita agar menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada Allah, dan inilah cara yang benar untuk menenangkan hati kita dalam masalah ini. Nah, cobalah sekarang pikirkan: . Allah yang telah melakukan perkara-perkara yang lebih besar bagi kita pasti dapat diandalkan untuk melakukan perkara-perkara yang lebih kecil. Dia sudah memberi kita hidup dan tubuh, tanpa bantuan dan pemikiran kita, dan karena itu dengan senang hati pula kita dapat berserah kepada Allah untuk menyediakan makanan untuk menyokong kehidupan kita dan pakaian untuk melindungi tubuh kita. . Allah yang memelihara makhluk-makhluk yang lebih rendah pasti dapat diandalkan untuk memelihara orang-orang Kristen yang baik. "Percayalah kepada Allah untuk urusan makanan, karena Dia memberi makan burung-burung gagak (ay. 24); burung-burung itu tidak menabur dan tidak menuai, mereka tidak pernah khawatir atau cemas bagaimana mereka akan memelihara diri mereka sendiri, namun mereka diberi makan dan tidak pernah mati kelaparan. Pikirkan betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu. Percayalah kepada Allah untuk urusan pakaian, karena Dia memberikan pakaian kepada bunga-bunga bakung (ay. 27-28). Mereka tidak menyiapkan pakaian mereka sendiri, mereka tidak memintal dan tidak menenun, akarnya yang ada di tanah itu telanjang, tanpa perhiasan, namun sewaktu bunga tumbuh, akar itu tampak dipercantik dengan begitu indahnya. Jadi, jika Allah sedemikian rupa mendandani bunga-bunga itu, yang bisa pudar dan musnah, bukankah Dia terlebih lagi akan mendandani kamu dengan pakaian yang cocok, yang sesuai dengan harkat dan martabatmu, seperti bunga-bunga itu dengan keadaannya?" Ketika Allah memberi manna kepada umat Israel di padang gurun, Dia juga memperhatikan masalah pakaian mereka, karena walaupun Dia tidak mendandani mereka dengan pakaian baru, Dia memelihara supaya pakaian mereka tidak menjadi buruk di tubuh mereka (Ul. 8:4). Demikianlah Dia akan memberikan pakaian kepada umat Israel-Nya secara rohani, tetapi janganlah umat-Nya ini menjadi kurang percaya. Perhatikanlah, kekhawatiran kita yang berlebihan disebabkan oleh lemahnya iman kita. Kalau kita sungguh percaya dengan segenap kekuatan kita akan Allah yang mahamencukupi, akan hubungan perjanjian-Nya dengan kita sebagai Bapa, dan terutama akan janji-janji-Nya yang berharga, yang berkaitan dengan kehidupan baik sekarang maupun nanti, maka melalui Allah kita akan meruntuhkan kubu-kubu kekhawatiran yang menggelisahkan dan menyusahkan ini. . Segala kekhawatiran kita tidak akan menghasilkan apa-apa, sia-sia dan tidak berguna. Karena itu, bodohlah jika kita terus memikirkannya. Kekhawatiran kita tidak akan membantu kita memperoleh apa yang kita inginkan, dan karena itu tidak boleh sampai mengganggu ketenangan kita (ay. 25): "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta, atau seinci, saja pada jalan hidupnya, setahun atau sejam lebih panjang? Jadi, jika kamu tidak mampu melakukan hal yang paling kecil, yaitu hal dalam jalan hidupmu yang tidak bisa kamu ubah dengan kekuatanmu, mengapa pula kamu memusingkan diri dengan hal-hal lain yang jauh berada di luar kekuatanmu, yang sesungguhnya bergantung pada pemeliharaan Allah?" Perhatikanlah, apa pun rupa jalan hidup kita ataupun keadaan kita, kita harus bersikap bijaksana dengan menerimanya apa adanya dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya; karena kekhawatiran dan kekesalan, keluhan dan kecemasan tidak akan pernah bisa memperbaikinya. . Jika murid-murid Kristus terlalu berlebihan mengejar hal-hal duniawi, sekalipun itu diperlukan, maka ini akan sangat tidak baik bagi mereka (ay. 29-30): "Apa pun yang orang lain lakukan, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum. Janganlah menyiksa dirimu dengan kecemasan yang memusingkan, ataupun melelahkan dirimu dengan pekerjaan yang tiada hentinya. Janganlah bergegas ke sana kemari mencari-cari apa yang akan kamu makan atau minum, seperti musuh-musuh Daud, yang mengembara mencari makan (Mzm. 59:16), atau seperti rajawali yang mengintai mangsa dari jauh (Ayb. 39:32). Janganlah murid-murid Kristus mencari makanan dengan cara seperti itu, tetapi mintalah kepada Allah hari demi hari. Janganlah pikiran mereka menjadi ragu; mē meteōrizesthe -- janganlah seperti meteor di udara, yang tertiup angin ke sana kemari; janganlah seperti meteor itu, yang senantiasa timbul dan tenggelam, melainkan tetaplah selaras dengan dirimu sendiri. Jadilah kukuh tak terambingkan, dan tetapkanlah hatimu. Janganlah hidup dalam kerisauan. Janganlah kepalamu terus dipusingkan dengan harapan dan ketakutan, selalu tertekan." Janganlah anak-anak Allah menggelisahkan diri sendiri, karena, (1) Ini akan membuat mereka seperti orang-orang dunia ini: "Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah (ay. 30). Mereka yang hanya memperhatikan tubuh dan tidak pernah memperhatikan jiwa, yang hanya hidup untuk dunia ini dan tidak untuk dunia nanti, tidak akan mencari hal-hal lain lagi selain makan dan minum. Dan, karena mereka tidak mempunyai Allah yang maha-mencukupi yang kepada-Nya mereka bisa memohon dan mengandalkan diri, mereka membebani diri dengan kekhawatiran-kekhawatiran mengenai semuanya itu. Akan tetapi, tidaklah benar bagi kamu untuk melakukan yang demikian. Kamu yang dipanggil keluar dari dunia ini tidak boleh serupa dengan dunia ini dan tidak boleh mengikuti tingkah laku bangsa ini" (Yes. 8:11-12). Ketika kita sedang dilanda kekhawatiran yang berlebihan, kita harus bertanya pada diri kita sendiri, "Apa aku ini, orang Kristen atau orang kafir? Orang yang sudah dibaptis atau tidak? Jika aku orang Kristen dan sudah dibaptis, apakah aku akan menempatkan diriku sejajar dengan orang kafir, dan mengikuti mereka mengejar hal-hal yang mereka kejar?" (2) Murid-murid Kristus tidaklah perlu menyusahkan diri dengan kekhawatiran mengenai kebutuhan-kebutuhan hidup, sebab mereka mempunyai Bapa di sorga yang memperhatikan dan mengurus semuanya itu untuk mereka: "Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu, dan Dia sudah memikirkannya, dan pasti akan memenuhi kebutuhanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya; karena Dia itu Bapamu, yang membuatmu merasakan kebutuhan-kebutuhan ini, dan yang karena itu akan mencurahkan kasih sayang-Nya agar kamu dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu itu: Bapamu, yang memeliharamu, yang mendidikmu, dan yang berencana memberimu suatu warisan, tentu akan memastikan supaya kamu tidak kekurangan hal-hal yang baik." (3) Ada hal-hal yang lebih baik yang harus dipikirkan dan dikejar oleh murid-murid Kristus (ay. 31): "Tetapi carilah Kerajaan-Nya, dan ingatlah ini, hai kamu murid-murid-Ku, yang harus memberitakan kerajaan Allah. Biarlah hatimu selalu tertuju pada pekerjaanmu, untuk peduli sungguh bagaimana kamu harus melaksanakan pemberitaan itu dengan baik, maka pada akhirnya ini akan mengalihkan pikiran-pikiranmu dari kekhawatiran yang berlebihan mengenai perkara-perkara duniawi. Dan biarlah semua orang yang jiwanya perlu diselamatkan mencari kerajaan Allah, yang hanya di dalamnya mereka bisa merasa aman. Berusahalah memasuki Kerajaan itu, berusahalah maju di dalamnya. Carilah kerajaan anugerah, untuk menjadi penduduk di dalamnya, carilah kerajaan mulia, untuk menjadi penguasa-penguasa di dalamnya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. Pikirkanlah perkara-perkara mengenai jiwamu dengan tekun dan sungguh-sungguh, lalu percayakanlah kepada Allah untuk mengurusi semua masalahmu yang lain." (4) Ada hal-hal yang lebih baik yang dapat mereka nantikan dan harapkan, "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil!" (ay. 32). Untuk menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran yang berlebihan, kita harus menekan berbagai ketakutan yang kita rasakan. Jika kita menakut-nakuti diri kita sendiri dengan kecemasan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, maka kita akan menjadi sibuk memikirkan bagaimana cara kita menghindarinya, padahal mungkin saja itu hanyalah khayalan kita semata. Oleh karena itu, janganlah takut, hai kamu kawanan kecil, tetapi tetaplah berharap sampai akhir, sebab Bapamu berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Perkataan yang menghibur ini tidak kita dapatkan dalam Injil Matius. Perhatikanlah: [1] Di dunia ini Kristus hanya memiliki kawanan kecil, domba-domba-Nya hanya berjumlah sedikit dan mereka sangat lemah. Jemaat Tuhan adalah sebuah kebun anggur, sebuah taman, ladang yang kecil dibandingkan dengan hutan belantara dunia ini. Seperti Israel (1Raj. 20:27), yang tampak bagai dua kawanan kambing, dibandingkan dengan orang Aram ketika datang membanjiri negeri itu. [2] Meskipun hanya kawanan kecil, yang kalah jumlahnya dan karena itu juga terancam akan dikalahkan oleh musuh-musuhnya, Kristus berkehendak agar mereka tidak takut, "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil, yakinlah bahwa kamu akan aman di bawah lindungan dan kuasa Gembala yang baik dan agung, jadi berbaringlah saja dengan tenang." [3] Allah mempersiapkan sebuah Kerajaan bagi semua orang yang termasuk dalam kawanan kecil Kristus, yaitu mahkota kemuliaan (1Ptr. 5:4), takhta kekuasaan (Why. 3:21), dan kekayaan-kekayaan yang tidak terselami, yang jauh melebihi harta kekayaan para raja dan penguasa. Domba-domba yang ada di sebelah kanan dipanggil untuk datang dan mewarisi Kerajaan itu. Kerajaan ini adalah milik mereka untuk selama-lamanya, dan tiap-tiap orang dari mereka memiliki Kerajaan itu. [4] Kerajaan itu diberikan sesuai dengan perkenanan Bapa, Bapamu telah berkenan. Kerajaan itu tidak diberikan karena utang, melainkan karena anugerah, anugerah yang cuma-cuma dan berdaulat, "Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu." Kerajaan itu milik-Nya, jadi Dia bebas melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya dengan milik-Nya sendiri. [5] Berbagai harapan dan pengharapan yang disertai dengan keyakinan akan Kerajaan itu sanggup membungkam dan menekan ketakutan-ketakutan yang dirasakan kawanan kecil Kristus di dunia ini. "Janganlah takut dengan masalah, sebab masalah harus datang, namun itu tidak akan menjadi penghalang antara dirimu dan Kerajaan itu. Kerajaan itu pasti kamu miliki dan kedatangannya sudah dekat." (Kita tidak perlu gentar terhadap masalah, karena masalah itu tidak bisa memisahkan kita dari kasih Allah.) "Janganlah kamu takut tidak bisa mendapatkan apa yang baik bagimu, sebab jika Bapamu berkenan memberikan kamu Kerajaan itu, kamu tidak perlu ragu bahwa Dia juga akan membawamu ke sana." II. Ia memerintahkan mereka untuk berbuat sesuatu bagi jiwa mereka, yaitu dengan mengumpulkan harta mereka di sorga (ay. 33-34). Orang yang melakukan ini akan tetap merasa tenang menjalani segala peristiwa di dunia ini. . "Janganlah melekat pada dunia ini, dan pada segala sesuatu yang kamu miliki di dalamnya. Juallah segala milikmu, dan berikanlah sedekah," maksudnya, "kalau engkau ingin menolong mereka yang benar-benar membutuhkan, juallah harta milikmu yang berlebihan, segala hal yang bisa kamu sisihkan setelah menyokong dirimu dan keluargamu, dan berikanlah itu kepada orang miskin. Juallah segala milikmu, jika itu hanya menghalangi engkau untuk melayani Kristus. Janganlah pikir, habislah sudah hidupmu apabila engkau terpaksa menjual seluruh hartamu akibat diperas, dipenjara atau dibuang oleh karena kesaksian akan Yesus, sekalipun itu warisan nenek moyangmu. Janganlah menjual supaya bisa menimbun uang, atau karena dengan cara itu kamu dapat memperoleh uang lebih banyak melalui riba, tetapi juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Kalau kita memberi sedekah, dengan cara yang benar, maka apa yang diberikan sebagai sedekah itu telah dikeluarkan untuk suatu hal yang paling luhur, dan itu sungguh aman tersimpan." . "Arahkanlah hatimu kepada dunia yang akan datang, dan tetapkan harapan-harapanmu berdasarkan dunia itu. Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, dan yang tidak bisa menjadi kosong, yang isinya bukan dari emas, melainkan dari anugerah di dalam hati dan perbuatan-perbuatan baik di dalam hidup. Inilah pundi-pundi yang akan bertahan lama." Anugerah akan menyertai kita ke dunia yang akan datang, sebab ia dijalin di dalam jiwa, dan perbuatan-perbuatan baik kita akan mengikuti kita, sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaan-pekerjaan baik itu. Inilah yang akan menjadi harta kekayaan kita di sorga, yang akan memperkaya kita sampai selama-lamanya. (1) Inilah harta yang tidak akan habis. Sampai kapan pun kita memakainya, harta itu sama sekali tidak akan berkurang. Tidak ada bahaya bahwa kita akan melihat bagian dasar pundi-pundi itu. (2) Inilah harta yang tidak ada dalam bahaya akan dirampok, sebab tidak ada pencuri yang dapat mendekatinya. Apa yang disimpan di sorga tidak akan dapat dijamah oleh musuh. (3) Inilah harta yang tidak akan rusak karena disimpan, apalagi sampai berkurang karena digunakan. Ngengat tidak akan merusakkannya, seperti ia merusakkan pakaian yang kita pakai sekarang. Nah, dengan demikian tampaklah bahwa kita menimbun harta kita di sorga jika hati kita berada di sana sementara kita ada di sini (ay. 34), jika kita banyak berpikir mengenai sorga dan tetap mengarahkan pandangan kita kepadanya, dan jika kita menggugah diri kita dengan harapan-harapan akan sorga serta menjaga diri kita dengan perasaan takut akan kehilangannya. Akan tetapi, jika hati kita hanya terarah pada dunia dan hal-hal yang ada di dalamnya, jangan-jangan harta dan bagian kita pun hanya sebatas yang ada di dalamnya, dan kita ikut binasa ketika meninggalkannya. III. Ia menyuruh mereka untuk bersiap-siap dan terus berjaga-jaga menyambut kedatangan-Nya, ketika semua orang yang menyimpan harta mereka di sorga akan masuk menikmati harta mereka itu (ay. 35 dst.). . Kristus adalah Tuan kita, dan kita hamba-hamba-Nya. Kita ini bukan hanya sekadar hamba-hamba yang bekerja untuk-Nya, melainkan juga yang harus menunggu kedatangan-Nya, hamba-hamba yang dalam menantikan kedatangan-Nya melakukan perbuatan yang memuliakan-Nya dan menjalankan apa yang diinginkan-Nya. "Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku, mengikuti Anak Domba ke mana saja Ia pergi." Namun ini belum semua: mereka harus berbuat sesuatu untuk memuliakan Dia dalam menantikan kedatangan-Nya, dan mengharapkan kedatangan-Nya itu. Kita harus seperti orang-orang yang menanti-nantikan Tuannya, yang tetap duduk berjaga-jaga sampai larut malam ketika Tuannya itu terus terjaga, siap sedia menyambut Dia. . Kristus Tuan kita, walaupun sekarang pergi dari kita, akan kembali lagi, kembali dari perkawinan, seusai memberkati suatu perayaan di negeri yang jauh, untuk menuntaskannya di rumah-Nya. Hamba-hamba Kristus sekarang sedang berada dalam masa penantian, menanti-nantikan penyataan (atau penampakan) kemuliaan Tuan mereka, dan berbuat segala sesuatu dengan mata yang tertuju pada dan untuk penyataan itu. Ia akan datang untuk melihat bagaimana tanggung jawab hamba-hamba-Nya, dan hari itu adalah hari yang menentukan, karena mereka akan tinggal tetap bersama-Nya atau diusir ke luar, sesuai dengan bagaimana mereka didapati pada hari itu. . Waktu kedatangan kembali Tuan kita tidaklah pasti. Ia akan datang pada waktu malam, pada larut malam, setelah Ia lama menunda-nunda kedatangan-Nya, dan ketika banyak orang sudah mencari Dia ke sana kemari. Ia akan datang pada tengah malam atau pada dini hari (ay. 38). Kedatangan-Nya kepada kita pada waktu kematian juga tidaklah pasti, dan bagi banyak orang kedatangan-Nya ini akan sangat mengejutkan, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan (ay. 40), tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Ini tidak hanya berbicara mengenai ketidakpastian waktu kedatangan-Nya, tetapi juga mengenai kelengahan sebagian besar orang yang merasa aman-aman saja, yang acuh tak acuh dan tidak peduli dengan segala peringatan yang diberikan kepada mereka, sehingga ketika kapan saja Dia datang, waktu itu menjadi saat yang tidak mereka sangkakan. . Yang diharapkan dan diinginkan-Nya dari hamba-hamba-Nya adalah bahwa mereka harus siap sedia membuka pintu bagi-Nya, kapan pun Dia datang (ay. 36), maksudnya, mereka harus berada dalam keadaan yang pantas untuk menyambut-Nya, atau lebih tepatnya untuk disambut oleh-Nya. Mereka harus didapati sebagai hamba-hamba-Nya, dalam sikap yang layak bagi seorang hamba, dengan pinggang yang tetap berikat. Ini merujuk pada hamba-hamba yang siap pergi ke mana pun tuan mereka mengutus mereka dan siap melakukan apa saja yang diperintahkan oleh tuan mereka, dengan jubah yang terikat rapi (karena kalau tidak, jumbainya akan tergerai dan menghalang-halangi langkah mereka). Mereka juga harus menyalakan pelita mereka, untuk menerangi tuan mereka agar bisa masuk ke dalam rumah dan terus ke kamar. . Hamba-hamba-Nya yang didapati dalam keadaan siap dan sikap yang baik akan berbahagia ketika Tuan mereka datang (ay. 37). Berbahagialah hamba-hamba yang setelah lama menunggu, tetap setia menunggu sampai pada saat kedatangan Tuan mereka, dan yang didapati terjaga serta tersadar tepat pada waktu Ia mendekat mengetuk pintu. Dan juga berbahagialah hamba-hamba itu (ay. 38), sebab itulah saat yang mereka inginkan sebab pada saat itu kedudukan mereka akan dinaikkan. Inilah salah satu gambaran tentang bagaimana mereka akan diberi kehormatan yang jarang didapatkan oleh orang banyak: Ia akan mempersilakan mereka duduk makan, dan akan datang melayani mereka. Kalau mempelai pria menjamu mempelai perempuan, itu hal biasa, tetapi kalau tuan yang menjamu hamba-hambanya, ini baru luar biasa. Demikianlah, di antara murid-murid-Nya, Yesus Kristuslah yang melayani, dan ini dilakukan-Nya suatu kali, untuk menunjukkan betapa Ia mau merendahkan diri-Nya, dengan mengikat pinggang-Nya dan melayani mereka, ketika Ia membasuh kaki mereka (Yoh. 13:4-5). Ini menandakan bagaimana mereka akan diterima dengan sukacita dalam dunia yang akan datang oleh Tuhan Yesus, yang pergi mendahului mereka untuk mempersiapkan tempat bagi mereka, dan yang telah memberi tahu mereka bahwa Bapa-Nya akan menghormati mereka (Yoh. 12:26). . Karena itulah kita tetap tidak diberi tahu kapan tepatnya Dia akan datang, supaya kita selalu berjaga-jaga. Sebab jika orang sudah tahu kapan dia akan diserang, maka dia akan bersiap-siap hanya pada saat serangan itu terjadi. Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, maka betapapun cerobohnya ia, ia pasti tetap akan berjaga-jaga dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar (ay. 39). Tetapi masalahnya kita tidak tahu pukul berapa kita harus siaga, dan karena itu kita harus selalu waspada setiap saat dan tidak lengah. Atau ini mungkin menunjukkan betapa menyedihkannya orang yang ceroboh dan yang tidak percaya akan perkara yang besar ini. Seandainya tuan rumah sudah tahu bahwa ia akan dirampok pada suatu malam, maka ia akan duduk dan berjaga-jaga untuk menyelamatkan rumahnya. Tetapi kita sudah melihat bahwa kedatangan Tuhan itu seperti pencuri di tengah malam, yang akan mengacaukan dan menghancurkan semua orang berdosa yang sedang enak-enakan dan tidak berjaga-jaga. Jika untuk rumahnya saja orang mau berjaga-jaga seperti itu, oh semoga saja kita juga dapat bersikap bijak demikian untuk menjaga jiwa kita. Hendaklah kamu juga siap sedia, siap sedia seperti tuan rumah ketika ia tahu pukul berapa pencuri akan datang. Label: Kejadian 15:1-6
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | NEXT: Khotbah HKBP Minggu, 14 Agustus 2016 - Ibrani 11:29--12:2 PREV: Khotbah HKBP Minggu, 31 Juli 2016 - Lukas 12:13-21 All Garis Besar: All Khotbah HKBP 2016 1 Timotius 6:6-19 (1) 2 Timotius 1:1-14 (1) 2 Timotius 2:8-15 (1) Filipi 4:4-9 (1) Ibrani 11:29--12:2 (1) Kejadian 15:1-6 (1) Kejadian 32:22-31 (1) Lukas 10:1-11 (1) Lukas 10:25-37 (1) Lukas 11:1-13 (1) Lukas 13:10-17 (1) Lukas 14:1, 7-14 (1) Lukas 14:25-33 (1) Lukas 15:1-10 (1) Lukas 16:1-13 (1) Lukas 19:28-40 (1) Lukas 2:22-40 (1) Lukas 3:15-17 (1) Lukas 3:15-22 (1) Lukas 4:14-21 (2) Lukas 4:21-30 (2) Lukas 8:26-39 (1) Lukas 9:28-36 (1) Matius 27:57-66 (1) Matius 6:1-21 (1) Roma 15:4-13 (1) Roma 1:1-7 (1) Yesaya 1:10-18 (1) Yesaya 35:1-10 (1) Yohanes 12:1-11 (1) Yohanes 12:1-8 (1) Yohanes 12:20-36 (1) Yohanes 13:21-32 (1) Yohanes 20:1-18 (2) Yohanes 2:1-11 (2) Yohanes 3:13-17 (1)
Nyanyian Ibadah Gereja: Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, NR TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Suplemen Buku Ende, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, |
NEXT: Khotbah HKBP Minggu, 14 Agustus 2016 - Ibrani 11:29--12:2 PREV: Khotbah HKBP Minggu, 31 Juli 2016 - Lukas 12:13-21 Minggu, 28 Juni 2026 Jamita HKBP Minggu, 28 Juni 2026 - Holong Na Manghorhon Las Ni Roha Dohot Gogo (Kasih yang mendatangkan sukacita dan kekuatan) - Filemon 1:4-7 Minggu, 21 Juni 2026 Jamita HKBP Minggu, 21 Juni 2026 - Pemeliharaan Allah Yang Universal - Kejadian 21:8-21
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - FB © 2012 . All Rights Reserved. |