f Renungan HKBP Minggu, 31 Juli 2022 - HABISUHON NA SIAN GINJANG (Hikmat Yang Dari Atas) - Ev. Jakobus 3:13-18 (Penjelasan) - Ep. Parjamita 2:18-23 - MINGGU VII TRINITATIS - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
Jamita HKBP Minggu, 21 Juni 2026 - Pemeliharaan Allah Yang Universal - Kejadian 21:8-21
# I. Latar Belakang Teks, II. Allah Memelihara Orang yang Tidak Diperhitungkan Manusia, III. Allah Bekerja Melampaui Batas Suku, Bangsa, dan Status, IV. Allah Menolong Pada Saat yang Tepat, V. Allah Memiliki Masa Depan bagi Setiap Orang,
View : 4516 kali
Minggu, 31 Juli 2022
MINGGU VII TRINITATIS
Ev. Jakobus 3:13-18
Ep. Parjamita 2:18-23
Tutup Langgatan : Na Ratarata
Topik :  HABISUHON NA SIAN GINJANG (Hikmat Yang Dari Atas)
Jamita Sikkola Minggu : 1 Rajaraja 3:7-12
PHD Remaja : Poda 2:1-6
PHD Naposobulung :Kolosse 3:1-12
PHD Ina : Jeremia 31:33-34
PHD Ama : Lukas 12:13-21
PHD Lansia : Poda 11:28

Ev. Jakobus 3:13-18
----------------------
3:13 Ise hamu na bisuk jala na pantas marroha? Sian denggan ni parangena ma dipataridahon ibana angka ulaonna marhitehite halambohon ni habisuhon!
3:14 Alai molo ditiop hamu pangiburuon na paet dohot hatongkaron di bagasan rohamuna, unang ma puji hamu dirimuna maralohon hasintongan, huhut margabus!
3:15 Ndada i habisuhon na ro sian ginjang; na sian tano do i, sian roha ni jolma, sian sibolis.
3:16 Ai ia disi pangiburuon dohot hatongkaron, disi ma hagaoron dohot sandok ulaon hajahaton.
3:17 Alai anggo habisuhon na sian ginjang i, sandok na bontor do i, olo mardame, lambok, pangoloi, gok asi ni roha dohot parbue hadengganon, dao sian hagangguon nang pangansion.
3:18 Alai di bagasan dame do disaburhon parbue hatigoran di angka na mangulahon dame i.  

Hikmat yang dari atas
3:13 Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. 3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! 3:15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. 3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. 3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. 3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.

Penjelasan:
* Ciri-ciri Hikmat (3:13-18)
Seperti halnya dosa-dosa yang dikecam sebelumnya timbul dari anggapan diri lebih bijak dan lebih berbudi dari orang lain, demikian pula Rasul Yakobus dalam ayat-ayat di atas ini menunjukkan perbedaan antara orang yang berlagak bijak dan orang yang benar-benar bijak, antara hikmat yang datang dari bawah (dari dunia atau neraka) dan hikmat yang datang dari atas.

I. Kita mendapati uraian tentang hikmat yang sejati, beserta ciri-ciri khas dan buah-buahnya: Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan (ay. 13). Orang yang benar-benar bijak adalah orang yang sangat berbudi. Ia tidak ingin membangun nama baik sebagai orang bijak tanpa mengumpulkan harta pengetahuan yang baik. Ia tidak akan menilai tinggi dirinya hanya karena mengetahui berbagai hal, kalau ia tidak memiliki hikmat untuk menerapkan dan memanfaatkan apa yang diketahuinya itu dengan benar. Bijak dan berbudi ini harus dipadukan bersama-sama untuk mendapatkan gambaran tentang hikmat sejati. Siapa yang bijak dan berbudi? Nah, berbahagialah orang yang memiliki keduanya, yaitu bila tampak hal-hal berikut ini di dalam dirinya:

1) Perilaku yang baik.
Jika kita lebih bijak dari orang lain, ini semestinya terbukti dengan perilaku kita yang baik, bukan dengan perilaku yang kasar atau angkuh. Perkataan yang memberitahukan pengetahuan, yang menyembuhkan, dan yang melakukan kebaikan, adalah tanda-tanda hikmat. Bukan perkataan yang tampak hebat, yang merusak, dan yang menimbulkan kejahatan, entah dalam diri kita sendiri atau orang lain.

2) Hikmat sejati dapat diketahui melalui perbuatan-perbuatannya. Perilaku di sini tidak hanya merujuk pada perkataan, tetapi juga tindakan orang secara keseluruhan. Karena itulah dikatakan, baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya. Hikmat sejati tidak terdapat pada gagasan-gagasan atau rekaan-rekaan yang bagus, tetapi lebih pada perbuatan-perbuatan yang baik dan berguna. Bukan orang yang berpikir dengan baik, atau berbicara dengan baik, yang dalam pengertian Kitab Suci dipandang bijak, kalau orang itu tidak hidup dan berbuat baik.

3) Hikmat sejati dapat diketahui dari kelemahlembutan roh dan sikap: Baiklah ia menyatakan kelemahlembutan, dst. Merupakan suatu contoh yang agung dari hikmat jika kita dengan bijak mengendalikan amarah kita sendiri, dan dengan sabar menghadapi amarah orang lain. Seperti halnya hikmat akan terbukti dengan sendirinya dalam kelemahlembutan, demikian pula kelemahlembutan akan menjadi sahabat yang baik bagi hikmat. Sebab tidak ada hal lain selain amarah yang dapat menghalang-halangi pemahaman yang semestinya, penilaian yang teguh, dan pikiran yang tidak memihak, yang niscaya memampukan kita untuk bertindak dengan bijak. Apabila kita bersikap lembut dan tenang, maka kita benar-benar mampu untuk mendengarkan alasan dan mengutarakannya. Hikmat membuahkan kelemahlembutan, dan kelemahlembutan meningkatkan hikmat.

II. Kita mendapati di sini bahwa orang-orang yang mempunyai sifat yang berlawanan dari apa yang baru saja disebutkan tidak boleh bermegah, dan apa yang mereka sangka sebagai hikmat ditelanjangi dalam segala hal yang dimegahkannya dan buah-buah yang dihasilkannya: “Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri, dst. (ay. 14-16). Kamu boleh berlagak seperti yang kamu mau, dan menganggap dirimu begitu bijak, namun kamu mempunyai segudang alasan untuk berhenti bermegah, jika kamu merendahkan kasih dan perdamaian, dan membuka jalan pada iri hati dan perselisihan. Semangatmu akan kebenaran atau ajaran yang benar, dan rasa bangga lebih berbudi daripada orang lain, jika kamu pergunakan hanya untuk membuat orang lain dibenci, dan untuk menunjukkan kedengkianmu sendiri dan kemarahanmu yang membara terhadap mereka, maka itu hanya mendatangkan aib bagi pengakuan iman Kristenmu, dan jelas-jelas bertentangan dengannya. Janganlah berdusta seperti itu terhadap kebenaran.”

III. Kita mendapati gambaran yang indah tentang hikmat yang datang dari atas, yang diuraikan secara lebih penuh, dan dipertentangkan dengan hikmat yang datang dari bawah: Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, dst. (ay. 17-18). Perhatikanlah di sini, hikmat sejati adalah karunia Allah. Hikmat sejati tidak diperoleh dengan cara bergaul dengan manusia, juga bukan melalui pengetahuan tentang dunia (seperti yang dipikirkan dan dikatakan sebagian orang), tetapi datang dari atas. Hikmat sejati terdiri atas hal-hal berikut ini:

            1. Hikmat sejati itu murni, tanpa bercampur dengan berbagai kaidah atau tujuan yang akan merendahkannya. Hikmat sejati itu bebas dari pelanggaran dan kecemaran, tidak memperbolehkan apa saja yang diketahui sebagai dosa, tetapi mengusahakan kekudusan baik di dalam hati maupun hidup.

            2. Hikmat yang dari atas itu pendamai. Kedamaian mengikuti kemurnian, dan bergantung padanya. Orang yang betul-betul bijak melakukan apa yang mereka bisa untuk menjaga perdamaian, supaya tidak dirusakkan. Mereka berusaha mengadakan perdamaian, supaya apa yang hilang dapat dipulihkan. Dalam negara, dalam keluarga, dalam jemaat, dalam semua masyarakat, dan dalam semua perbincangan dan hubungan, hikmat sorgawi membuat orang menjadi pendamai.

            3. Hikmat sejati itu peramah, tidak mati-matian menuntut hak milik. Tidak mengatakan atau melakukan kekerasan apa saja dalam menegur. Tidak geram terhadap pendapat-pendapat orang lain, tidak mendesakkan pendapat-pendapat sendiri melebihi bobotnya, tidak pula mendesakkan pendapat-pendapat orang yang menentang kita melebihi apa yang mereka niatkan. Tidak bersikap kasar dan suka menguasai dalam pergaulan, tidak pula ketus dan kejam dalam bersikap. Dengan demikian, keramahan dapat dipertentangkan dengan semuanya ini.

            4. Hikmat sorgawi itu penurut, sangat mudah diyakinkan terhadap apa yang baik atau dijauhkan dari apa yang buruk. Ada juga sikap penurut yang lemah dan salah. Tetapi sikap penurut yang menyerahkan diri pada ajakan-ajakan firman Allah dan pada semua nasihat atau permintaan yang benar dan masuk akal dari sesama kita, tidaklah dapat dipersalahkan. Bahkan terlebih lagi bila sikap penurut itu dilakukan untuk menyudahi perselisihan, kalau tampak ada alasan yang baik untuk itu, dan apabila ada akhir yang baik akibat sikap itu.

            5. Hikmat sorgawi itu penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, batinnya condong pada apa saja yang baik dan luhur, baik untuk meringankan mereka yang berkekurangan maupun untuk mengampuni mereka yang melanggar, dan benar-benar melakukan hal tersebut setiap kali ada kesempatan.

            6. Hikmat sorgawi itu tidak memihak. Kata aslinya, adiakritos, yang artinya tanpa kecurigaan, atau bebas dari penghakiman, tidak berprasangka secara tidak semestinya, atau tidak membeda-bedakan dalam memperlakukan seseorang lebih daripada yang lain. Tafsiran lebih luasnya, tanpa perselisihan, tidak bertindak seperti pengikut bidah, dan bertikai hanya demi suatu golongan. Tidak pula mencela orang lain hanya karena mereka berbeda dari kita. Orang-orang terbijak paling kecil kemungkinannya untuk menjadi pencela.

            7. Hikmat yang dari atas itu tidak munafik. Hikmat ini tidak menyamarkan apa-apa, tidak pula ada tipu daya di dalamnya. Hikmat ini tidak mungkin jatuh ke dalam cara-cara yang dianggap bijak oleh dunia, yaitu yang bersifat licik dan penuh tipu muslihat. Sebaliknya, hikmat ini tulus dan terbuka, tidak goyah dan tidak berubah-ubah, dan setia dengan dirinya sendiri. Oh semoga saja kita semua selalu dibimbing oleh hikmat seperti ini! Dengan begitu, bersama-sama Rasul Paulus kita dapat berkata, hidup kami di dunia ini dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah. Lalu, yang terakhir, hikmat sejati akan terus menaburkan buah-buah kebenaran dalam damai, dan dengan demikian, sekiranya mungkin, akan menciptakan perdamaian di dunia (ay. 18). Apa yang ditaburkan dalam damai akan menghasilkan panen sukacita. Biar saja orang lain menuai buah-buah dari perselisihan dan semua keuntungan yang dapat mereka peroleh bagi diri mereka sendiri melaluinya. Tetapi marilah kita terus dengan damai menaburkan benih-benih kebenaran, dan kita dapat mengandalkan diri dengan itu bahwa jerih payah kita tidak akan sia-sia. Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.




Ep. Parjamita 2:18-23
----------------------
2:18 Jadi marbiasbias rohangku mida saluhut ulaon angka na huhangaluthon di hasiangan on ala ingkon tadingkononku do i di jolma na ro sian pudingku.
2:19 Jala ise pabotoboto manang halak na pistar ibana manang halak na oto? Hape ibana do gabe tuan di saluhut ulaon angka na huhangaluthon mardongan hapistaran di hasiangan on! Laho salpu do hape nang i.
2:20 Dung i marbalik ma rohangku naeng marpandelean nian mida saluhut ulaon angka na huhangaluthon di hasiangan on.
2:21 Ala huida sada jolma, dibahen do nian nasa hapistaranna, parbinotoanna dohot hamaloonna mangaradoti ulaonna, hape ingkon tinggalhononna do i bahen jambar ni jolma na so dung marhangaluton ala ni! Alogo sambing do hape nang i jala hinamago godang.
2:22 Ai aha na ma parsaulian ni jolma sian sude ulaonna dohot sian domdamdomdam ni rohana taringot tu na hinangaluthonna di hasiangan on?
2:23 Ai ariari ibana marhangaluton saleleng di ngoluna, jala mardongan hajepolon ulaonna, nang bornginna i ndang marhasonangan rohana. Alogo sambing do nang i.

2:18 Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku. 2:19 Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Inipun sia-sia. 2:20 Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari. 2:21 Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Inipun kesia-siaan dan kemalangan yang besar. 2:22 Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? 2:23 Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram.












NEXT:
Renungan HKBP Senin, 1 Agustus 2022 - BE 581 - 2 Timoteus 4:18 - Rom 12:1-2 - Psalmen 18:8-20 - Tema: TONTONG PASANGAP JAHOWA (Selalu Memuliakan Allah)


PREV:
Renungan HKBP Sabtu, 30 Juli 2022 - Psalmen 78:3-4 - Markus 9:43-50 - Psalmen 18:1-7

All Renungan HKBP 2022
(231)




NEXT:
Renungan HKBP Senin, 1 Agustus 2022 - BE 581 - 2 Timoteus 4:18 - Rom 12:1-2 - Psalmen 18:8-20 - Tema: TONTONG PASANGAP JAHOWA (Selalu Memuliakan Allah)


PREV:
Renungan HKBP Sabtu, 30 Juli 2022 - Psalmen 78:3-4 - Markus 9:43-50 - Psalmen 18:1-7

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de