f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Renungan HKBP 2023 Renungan HKBP Minggu, 11 Juni 2023 - HAPORSEAONMI DO NAPALUAHON HO (IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU) - Ev. Matius 9:18-26 - I DUUNG TRINITAS Minggu, 11 Juni 2023 I DUUNG TRINITAS Tutup Langgatan : Na Ratarata Ev. Matius 9:18-26 Ep.Hosea 5:15-6:6 Topik : HAPORSEAONMI DO NAPALUAHON HO IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU Ev. Matius 9:18-26 Anak kepala rumah ibadat Perempuan yang sakit pendarahan 9:18 Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." 9:19 Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. 9:20 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. 9:21 Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." 9:22 Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. 9:23 Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, 9:24 berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. 9:25 Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. 9:26 Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. Penjelasan: * Anak Perempuan Kepala Rumah Ibadat Dihidupkan Kembali (9:18-26) Dalam ayat-ayat ini ada dua kisah yang ditempatkan bersama-sama; yang pertama kisah tentang anak perempuan Yairus yang dihidupkan kembali dan yang kedua kisah tentang penyembuhan seorang wanita yang menderita pendarahan, yang terjadi sewaktu Kristus sedang dalam perjalanan menuju rumah Yairus, dan yang diselipkan di tengah-tengah kisah pertama. Penyelipan cerita seperti ini terjadi karena mujizat-mujizat Kristus bertebaran di mana-mana dan saling jalin-menjalin; begitulah, pekerjaan Dia yang mengutus Kristus sudah menjadi pekerjaan Kristus sehari-hari. Ia dipanggil untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik ini sewaktu Ia masih menjawab celaan orang-orang Farisi (ay. 18): Sementara Yesus berbicara demikian. Panggilan yang memotong pembicaraan Kristus ini bisa kita anggap sebagai hal yang menyenangkan ketika Kristus harus melakukan pekerjaan berbantah yang tidak menyenangkan itu. Memang berbantah seperti ini kadang-kadang perlu, tetapi orang yang baik lebih senang meninggalkan tindakan seperti itu dan pergi melakukan ibadah atau perbuatan kasih. Sekarang, marilah kita lihat: I. Permohonan kepala ibadat kepada Kristus (ay.18). Datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia. Adakah di antara para pemimpin yang percaya kepada-Nya? Ya, inilah salah satunya, seorang kepala rumah ibadat, yang dengan imannya mengutuk ketidakpercayaan para pemimpin lainnya. Kepala rumah ibadat ini mempunyai anak perempuan berumur dua belas tahun yang baru saja meninggal, dan kejadian yang menghancurkan rasa damai dalam keluarganya ini menyebabkannya mendatangi Kristus. Perhatikanlah, dalam kesusahan kita harus datang kepada Allah: kematian sanak saudara kita harus mendorong kita untuk datang kepada Kristus, yang adalah hidup kita. Kalau hal-hal apa saja bisa mendorong kita untuk datang kepada-Nya, maka baiklah itu. Ketika keluarga kita mengalami penderitaan, kita tidak boleh duduk terheran-heran saja, melainkan, seperti Ayub, kita harus sujud dan menyembah (Ayb. 1:20). Sekarang perhatikanlah: . Kerendahan hatinya yang tampak dalam permohonannya kepada Kristus. Ia datang sendiri dengan keperluannya kepada Kristus dan tidak mengutus hambanya untuk melakukannya. Perhatikanlah, bukanlah suatu penghinaan bagi para pemimpin besar untuk datang secara pribadi kepada Tuhan Yesus. Ia menyembah-Nya, berlutut di hadapan-Nya, dan memberi-Nya segala penghormatan sebisa yang mungkin dilakukan. Perhatikanlah, orang yang mau menerima belas kasihan dari Kristus harus memberikan penghormatan kepada-Nya. . Imannya yang tampak dalam permohonan ini, "Anakku perempuan baru saja meninggal," dan walaupun bagi tabib-tabib lain ini sudah terlalu terlambat (tiada yang lebih mustahil daripada post mortem medicina--pengobatan setelah si sakit meninggal), namun bagi Kristus ini masih belum terlambat. Ia adalah Tabib bahkan untuk orang yang sudah mati, karena Ia adalah kebangkitan dan hidup. "Oh, tolong datanglah dan letakkanlah tangan-Mu ke atasnya, maka ia akan hidup." Masalah ini sungguh melampaui kuasa alam (a privatione ad habitum non datur regressus -- tidak bisa diperoleh kembali), namun kuasa Kristus, yang mempunyai hidup di dalam diri-Nya sendiri, akan membangkitkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi, sekarang ini Kristus bekerja dengan cara yang biasa, melalui alam dan bukan melawannya. Oleh sebab itu, pada masa kini kita tidak bisa lagi dengan iman membawa permohonan seperti ini kepada-Nya. Selagi ada kehidupan, maka masih ada harapan dan ada kesempatan untuk berdoa. Akan tetapi, apabila teman-teman kita mati, maka hal itu sudah ditetapkan; kita akan pergi kepada mereka, tetapi mereka tidak akan kembali kepada kita. Tetapi sewaktu Kristus masih berada di bumi ini mengadakan mujizat-mujizat, keyakinan iman seperti ini bukan hanya diizinkan melainkan juga sangat dipuji. II. Kesediaan Kristus untuk mengabulkan permohonannya (ay. 19). Lalu Yesus pun bangunlah, meninggalkan orang-orang lain yang bersama-Nya, dan mengikuti orang itu. Ia tidak hanya rela mengaruniakannya apa yang diinginkannya, yaitu untuk menghidupkan kembali anak perempuannya, tetapi juga memuaskan hatinya dengan datang sendiri ke rumahnya untuk melakukannya. Sungguh Ia tidak pernah menyuruh keturunan Yakub untuk mencari-Nya dengan sia-sia (Yes. 45:19). Ia menolak pergi dengan orang terhormat yang berkata, "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." (Yoh. 4:48-50), namun Ia mau pergi bersama kepala rumah ibadat yang berkata, "Tuhan, datanglah maka anakku akan hidup." Adanya bermacam-macam cara yang dipakai Kristus dalam mengadakan mujizat-mujizat mungkin disebabkan oleh keadaan dan kondisi hati orang yang memohon kepada-Nya, yang diketahui-Nya dengan sempurna karena Ia menyelidiki hati, dan Ia menyesuaikan diri dengan keadaan dan kondisi hati mereka. Ia tahu persis apa yang ada dalam hati manusia dan jalan apa yang harus ditempuh dalam berurusan dengan mereka. Perhatikanlah, ketika Yesus mengikuti orang itu, murid-murid-Nya juga mengikuti-Nya, karena mereka telah dipilih-Nya untuk terus menyertai-Nya. Dan Ia membawa serta mereka bukan untuk mencari status atau supaya diperhatikan, melainkan agar mereka bisa menjadi saksi-saksi bagi mujizat-mujizat yang diadakan-Nya, karena setelah ini mereka akan menjadi pengabar-pengabar ajaran-Nya. III. Penyembuhan terhadap wanita malang yang menderita pendarahan. Saya menyebutnya wanita malang bukan hanya karena masalah yang dideritanya sangat menyedihkan, melainkan juga karena dia sudah menghabiskan semua harta miliknya untuk para tabib, untuk menyembuhkan penyakitnya, namun ia tetap tidak menjadi lebih baik. Keadaan ini justru semakin menambah penderitaannya, karena dulu dia mempunyai harta, tetapi sekarang ia tidak punya apa-apa; dan bahwa ia telah membuat dirinya miskin dalam usahanya untuk memulihkan kesehatannya, sementara kesehatannya belum pulih-pulih juga. Wanita ini sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan (ay. 20), suatu penyakit yang bukan hanya membuat badan lemah lunglai dan kurus kering, tetapi juga membuatnya najis menurut hukum Taurat, dan menghalanginya untuk bisa masuk ke dalam pelataran rumah Tuhan. Namun demikian, semuanya ini tidak bisa menghalanginya untuk mendekati Kristus. Ia berserah diri kepada Kristus dan menerima belas kasihan dari-Nya sewaktu Ia dalam perjalanan mengikuti kepala rumah ibadat yang anak perempuannya meninggal, dan yang untuknya peristiwa penyembuhan ini akan menjadi suatu dorongan yang luar biasa dalam membantunya terus mengimani kuasa Kristus. Dengan begitu penuh kasih sayang, Kristus memerhatikan semua latar belakang permasalahan yang dialami orang-orang percaya yang masih lemah. Perhatikanlah: . Iman yang besar dari wanita ini kepada Kristus dan kuasa-Nya. Penyakit yang dideritanya membuat dia tidak bisa berbicara terang-terangan kepada Kristus untuk meminta kesembuhan, seperti yang bisa dilakukan orang lain. Tetapi dengan suatu dorongan khusus dari Roh iman, dia percaya bahwa Kristus mempunyai kuasa penyembuhan yang mengalir dengan begitu penuhnya sehingga hanya dengan menjamah jubah-Nya saja ia akan sembuh. Dalam hal ini mungkin ada angan-angan yang bercampur dengan iman, karena ia tidak mengetahui sebelumnya bahwa cara seperti ini bisa terjadi dengan Kristus, kecuali kalau, seperti menurut sebagian orang, ia mempunyai pikiran tentang bangkitnya seseorang yang mati karena bersentuhan dengan tulang-tulang Elisa (2Raj. 13:21). Tetapi, betapapun lemahnya pengertian wanita ini dalam hal ini, Kristus berkenan mengabaikannya dan menerima ketulusan serta kekuatan imannya; karena Ia memakan sarang madu bersama madunya (Kid. 4:11). Dia percaya dia akan disembuhkan jika hanya menjamah jumbai jubah-Nya, yaitu bagian yang paling ujung dari jubah-Nya. Perhatikanlah, ada kuasa atau nilai dalam segala sesuatu yang menjadi milik Kristus. Minyak kudus yang digunakan untuk mengurapi imam besar meleleh sampai ke leher jubahnya (Mzm. 133:2). Begitulah kepenuhan anugerah di dalam Kristus, bahwa "dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia" (Yoh. 1:16). . Kebaikan Kristus yang sangat besar kepada wanita ini. Ia tidak menunda-nunda waktu (yang bisa saja dilakukan-Nya) untuk memberikan kesembuhan-Nya, melainkan membiarkan si sakit yang malu ini mencuri kesembuhan yang tidak diketahui orang lain, walaupun dia sendiri pasti tidak berpikir bahwa dia bisa melakukannya tanpa sepengetahuan-Nya. Sekarang dia sudah merasa puas dan bisa pergi karena dia sudah mendapat apa yang dicarinya, tetapi Kristus tidak bersedia membiarkannya pergi begitu saja. Bukan saja Ia ingin agar kuasa-Nya dimuliakan dalam kesembuhan wanita itu, tetapi juga agar anugerah-Nya diagungkan dalam penghiburan dan pujian yang diperuntukkan bagi wanita itu. Wanita itu harus dipuji dan dihormati atas kemenangan imannya itu. Yesus berpaling untuk mencarinya (ay. 22), dan segera mendapatinya. Perhatikanlah, orang-orang Kristen yang rendah hati selayaknya merasa sangat terdorong dengan menyadari bahwa walaupun tersembunyi dari manusia, mereka pasti diketahui Kristus, karena Dia melihat apa yang paling tersembunyi dalam permohonan-permohonan yang mereka arahkan kepada sorga. Sekarang, kita lihat di sini: (1) Ia membuat hatinya senang dengan berkata kepadanya, "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku." (KJV; "tenangkanlah hatimu"). Dia takut dimarahi karena datang dengan sembunyi-sembunyi, namun sebaliknya, ia malah diberi dorongan. [1] Kristus memanggilnya anak-Ku, karena Ia berbicara kepadanya dengan kelembutan seorang bapak, seperti yang dilakukan-Nya terhadap orang yang sakit lumpuh (ay. 2), yang disapa-Nya dengan anak-Ku. Perhatikanlah, ada penghiburan yang sudah disiapkan Kristus bagi putri-putri Sion yang batinnya sedang berduka, seperti Hana (1Sam. 1:15). Wanita-wanita yang percaya adalah putri-putri Kristus, dan Ia akan mengakui mereka demikian. [2] Ia memintanya untuk merasa tenang; wanita itu mempunyai alasan untuk merasa tenang jika Kristus mengakuinya sebagai anak. Perhatikanlah, penghiburan orang-orang kudus adalah kenyataan bahwa mereka diangkat sebagai anak-anak Allah. Perintah-Nya kepada wanita itu untuk merasa tenang, membawa ketenangan, seperti perkataan-Nya "Sembuhlah," membawa kesembuhan. Perhatikanlah, Kristus berkehendak agar umat-Nya merasa tenang, dan Ia mempunyai hak istimewa untuk memerintahkan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang sedang gelisah. Ia menciptakan pujian-pujian damai (Yes. 57:19). (2) Ia menghormati imannya. Dari segala jenis anugerah, anugerah iman memberikan penghormatan yang terbesar bagi Kristus, dan karena itu Ia memberikan penghormatan yang terbesar kepada anugerah iman ini; "Imanmu telah menyelamatkan engkau." Jadi, oleh iman ia mendapat pujian yang baik. Oleh karena dari semua anugerah, Kristus memberikan penghormatan yang terbesar pada anugerah iman, maka Ia sangat menghormati mereka yang paling rendah hati. Seperti inilah yang terjadi pada wanita ini. Ia mempunyai iman yang lebih besar daripada yang dipikirkannya. Dia mempunyai alasan untuk merasa tenang, bukan hanya karena dia telah disembuhkan, melainkan juga karena imannya membuatnya sembuh. Ini artinya: [1] Ia telah disembuhkan secara rohani. Kesembuhan yang terjadi pada dirinya ini sungguh merupakan buah dan akibat dari iman, pengampunan dosa, dan karya anugerah. Perhatikanlah, sewaktu menerima belas kasihan jasmani, kita bisa sungguh merasa terhibur dengan berlimpah, bila belas kasihan itu juga disertai dengan berkat-berkat rohani yang mirip dengan berkat-berkat jasmani itu; makanan dan pakaian kita akan menjadi nyaman, jika oleh iman kita juga diberi makan dengan roti kehidupan dan dikenakan dengan pakaian kebenaran Yesus Kristus. Istrirahat dan tidur kita akan menjadi nyaman, jika oleh iman kita beristirahat di dalam Allah dan tinggal dengan tenang di dalam Dia. Kesehatan dan kesejahteraan kita akan menjadi nyaman, jika oleh iman jiwa kita juga sehat dan sejahtera (Yes. 38:16-17). [2] Kesembuhan tubuh wanita itu adalah buah dari iman, imannya, dan ini membuat kesembuhan yang dialaminya itu menyenangkan. Setan-setan diusir keluar dari sebagian orang karena mereka ditolong oleh kuasa kedaulatan Kristus, sementara pada sebagian yang lain lagi karena mereka ditolong oleh iman orang lain (seperti ay. 2); tetapi di sini: imanmulah yang telah menyelamatkan engkau. Jadi, perhatikanlah, belas kasihan jasmani memang sungguh mendatangkan penghiburan bagi kita bila diterima oleh karena iman. Apabila kita sedang mengejar belas kasihan, lalu kita berdoa dengan iman untuk mendapatkannya, dengan mata yang tertuju pada janji-Nya dan terus bergantung padanya, dan apabila kita menginginkannya demi kemuliaan Allah, dan dengan berserah kepada kehendak-Nya, dan membiarkan hati kita dilapangkan oleh keberserahan itu dalam iman, kasih, dan kepatuhan, maka kita dapat berkata bahwa belas kasihan itu memang kita terima oleh karena iman. IV. Keadaan yang Ia dapati di rumah kepala ibadat (ay. 23). Ia melihat peniup-peniup suling, atau pemain-pemain musik, dan orang banyak ribut. Ada banyak kesibukan di rumah itu. Begitulah yang terjadi jika ada seseorang yang meninggal di dalam keluarga; dan mungkin, perhatian dan kesibukan yang perlu dilakukan pada saat jenazah harus dikuburkan dengan baik di tempat yang jauh dari penglihatan kita, itu bermanfaat untuk mengalihkan perhatian kita dari dukacita yang cenderung menguasai dan mengendalikan kita. Tetangga-tetangga datang untuk ikut berkabung, untuk menghibur orangtua, dan untuk mempersiapkan serta menghadiri pemakaman, yang biasanya tidak ditunda lama-lama oleh orang Yahudi. Pemain-pemain musik ada di antara mereka, sesuai dengan adat kebiasaan orang-orang bukan-Yahudi, dan mereka memainkan nada yang sedih dan muram untuk semakin menambah kesedihan dan menggugah ratapan orang yang ada di sana. Dengan demikian, mereka memanjakan suatu perasaan yang dengan sendirinya bisa bertumbuh di luar batas-batas kewajaran dan memengaruhi orang untuk berduka seperti orang yang tidak mempunyai harapan. Lihatlah bagaimana agama memberikan kebaikan, sedangkan hal-hal keduniawian hanyalah menimbulkan kerusakan. Kekafiran memperberat dukacita yang justru ingin diperingan oleh Kekristenan. Atau mungkin pemusik-pemusik ini pada sisi lain berusaha untuk mengalihkan kesedihan dan menghibur keluarga yang sedang berdukacita; tetapi, seperti cuka pada luka, demikianlah orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih. Perhatikanlah, orangtua yang secara langsung merasakan penderitaan itu hanya diam saja, sementara orang banyak dan peniup-peniup suling, yang hanya meratap dengan terpaksa, justru yang membuat gaduh. Perhatikanlah, dukacita yang kedengarannya paling keras tidak selalu merupakan dukacita yang paling dalam; air beriak tanda tak dalam. Ille dolet vere, qui sine teste dolet -- Dukacita yang paling tulus adalah dukacita yang tidak bisa dilihat. Terlepas dari semuanya ini, keadaan ini ditampilkan di sini untuk menunjukkan bahwa anak perempuan itu memang sungguh telah meninggal, seperti yang terlihat dengan jelas pada semua tindakan dan tingkah laku orang-orang yang sedang berdukacita untuknya. V. Teguran Kristus atas segala hiruk-pikuk ini (ay.24). Ia berkata, "Pergilah." (KJV: "Berilah tempat"). Perhatikanlah, kadang-kadang ketika kita sedang dilanda dukacita dunia ini, sulit bagi kita untuk membiarkan Kristus masuk dan memberikan penghiburan-Nya. Orang yang terus tenggelam di dalam duka, dan, seperti Rahel, tidak mau dihibur, haruslah bersedia membuka pikiran mereka yang kalut itu untuk mendengar suara Kristus. Berilah tempat: sediakanlah ruang bagi Dia yang adalah Sang Penghiburan bagi Israel, yang membawa serta dengan Dia penghiburan yang menguatkan, cukup kuat untuk mengatasi segala kekacauan yang diakibatkan oleh dukacita dunia ini, kalau kita mengizinkan-Nya masuk ke dalam jiwa kita. Ia memberikan alasan yang baik mengapa mereka tidak perlu menyusahkan diri sendiri dan orang lain hingga menjadi sedemikian kalut, "Anak ini tidak mati, tetapi tidur." . Perkataan-Nya ini memang menggambarkan keadaan anak itu yang sebenarnya, karena sebentar lagi ia akan dihidupkan kembali. Anak itu benar-benar telah mati, tetapi tidak demikian bagi Kristus, yang tahu dalam diri-Nya sendiri apa yang akan dan yang dapat Dia lakukan, dan yang sudah menentukan sebelumnya bahwa Ia akan membuat kematian anak ini seperti tidur. Hanya ada sedikit perbedaan antara tidur dan mati, yakni pada berapa lama hal itu berlangsung; perbedaan lainnya hanyalah seperti mimpi saja. Kematian anak ini pasti hanya berlangsung sebentar saja, dan karena itu seperti orang yang tidur saja, bagaikan tidur semalam untuk beristirahat. Ia yang membangkitkan orang mati tentu bisa menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (Rm. 4:17). . Dalam pengertian tertentu memang benar bahwa semua orang yang mati itu tidur, terutama yang mati di dalam Tuhan. Perhatikanlah: (1) Mati adalah tidur. Semua bangsa dan bahasa menyebutnya demikian, untuk memperhalus sesuatu yang menakutkan namun tidak dapat dihindari, dan untuk membuat mereka bisa menerima kenyataan ini. Bahkan tentang raja-raja yang jahat dikatakan, "Mereka tidur dengan nenek moyang mereka." Juga dikatakan mengenai orang-orang yang akan bangkit untuk menerima hukuman kekal, bahwa mereka tidur di dalam debu tanah (Dan. 12:2). Tidur ini bukan untuk jiwa, karena kegiatan jiwa tidak berhenti, melainkan untuk tubuh, yang terbaring di dalam kubur, tenang dan diam, terabaikan dan tidak diacuhkan, dan terbungkus dalam gelap gulita. Tidur adalah mati yang sebentar, dan mati adalah tidur yang lama. Namun kematian orang benar secara khusus dipandang sebagai tidur (Yes. 57:2). Mereka tidur di dalam Yesus (1Tes. 4:14). Mereka tidak hanya beristirahat dari kerja keras dan banting tulang sepanjang hari, tetapi juga beristirahat di dalam harapan akan bangun lagi dengan penuh sukacita di pagi hari kebangkitan. Mereka akan bangun dalam keadaan disegarkan, bangun untuk suatu kehidupan baru, bangun untuk dikenakan pakaian dan mahkota kemuliaan, dan bangun untuk tidak tidur lagi. (2) Dengan merenungkan semuanya ini, dukacita yang kita rasakan atas kematian sanak saudara kita yang terkasih kiranya menjadi ringan: "Janganlah berkata mereka hilang lenyap, mereka hanyalah pergi mendahului kita; janganlah berkata mereka mati, mereka hanyalah tertidur." Ketika rasul Paulus berbicara tentang kematian, ia berkata bahwa tidaklah masuk akal untuk membayangkan bahwa orang yang mati di dalam Kristus itu binasa (1Kor. 15:18). Karena itu, berilah tempat, bagi penghiburan-penghiburan yang disediakan dalam perjanjian anugerah, yakni penghiburan yang menggambarkan keadaan "di masa mendatang dan kemuliaan yang akan diungkapkan." Nah, coba bayangkan, bagaimana mungkin perkataan yang begitu menghibur, yang keluar dari mulut Yesus Tuhan kita, dicemooh seperti itu? Mereka menertawakan Dia. Orang-orang ini tinggal di Kapernaum, dan mereka tahu tabiat Kristus bahwa Ia tidak pernah mengeluarkan perkataan yang gegabah atau bodoh. Mereka tahu berapa banyak perbuatan ajaib yang sudah Ia lakukan, sehingga jika mereka tidak mengerti apa yang Ia maksudkan dengan perkataan ini, setidaknya mereka diam dulu dan berharap Dia akan menjelaskannya lebih lanjut. Perhatikanlah, perkataan dan perbuatan Kristus yang tidak bisa dimengerti tidaklah berarti harus dicemooh. Kita harus menghormati misteri yang terkandung dalam perkataan ilahi, bahkan ketika perkataan itu tampak bertentangan dengan apa yang kita pikirkan dan kita yakini. Namun demikian, cemohan mereka itu justru memperkuat kebenaran mujizat itu. Oleh karena anak itu tampak benar-benar mati, maka sungguh konyol kalau ada orang yang mengatakan sebaliknya. VI. Dihidupkannya kembali anak itu dengan kuasa Kristus (ay. 25). Orang banyak itu diusir. Perhatikanlah, para pencemooh yang menertawakan apa yang mereka lihat dan dengar, karena hal itu melebihi kemampuan mereka, bukanlah saksi-saksi yang pantas bagi perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Kristus, karena kemuliaan pekerjaan-Nya tidaklah terletak pada kemegahan, melainkan pada kuasa. Lazarus dan anak laki-laki seorang janda di kota Nain dibangkitkan dari antara orang mati di depan umum, tetapi anak perempuan ini dibangkitkan secara tertutup; karena Kapernaum, yang telah menghina mujizat-mujizat kesembuhan yang lebih kecil, tidaklah layak untuk menyaksikan mujizat yang lebih besar, yakni kembali hidupnya orang mati; mutiara ini janganlah dilemparkan kepada orang yang akan menginjak-injaknya di bawah kaki mereka. Kristus masuk dan memegang tangan anak itu, seolah-olah untuk membangunkannya dan membantunya berdiri. Ia berbuat sesuai dengan kiasan yang Ia ucapkan sendiri bahwa anak itu sedang tidur. Imam besar, yang melambangkan Kristus, tidak boleh berdekatan dengan orang mati (Im. 21:10-11), tetapi Kristus justru menjamah orang mati. Para imam Lewi meninggalkan orang mati dalam kenajisannya, dan karena itu mereka harus menjauhkan diri darinya, sebab mereka tidak bisa mengobatinya; tetapi Kristus, yang berkuasa membangkitkan orang mati, tidak bisa tertular oleh kenajisan itu, dan karena itu Ia tidak segan-segan menjamah orang mati. Ia memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Begitu mudahnya mujizat itu terjadi; tidak dengan doa, seperti yang dilakukan Elia (1Raj. 17:21) dan Elisa (2Raj. 4:33), melainkan dengan jamahan. Elia dan Elisa mengadakan mujizat sebagai hamba, Kristus mengadakannya sebagai Anak, sebagai Allah, yang empunya kematian. Perhatikanlah, Yesus Kristus adalah Tuhan atas jiwa-jiwa, Ia memerintahkan mereka untuk pergi atau kembali kapan saja sesuai kehendak-Nya. Jiwa-jiwa yang mati tidak akan dibangkitkan kepada kehidupan rohani kecuali Kristus memegang tangan mereka. Ini dilakukan pada hari Ia menunjukkan kuasa-Nya. Entah Ia yang membangkitkan kita, jika tidak, kita akan tetap terbaring. VII. Diketahuinya mujizat ini oleh khalayak umum, sekalipun mujizat itu diadakan secara tertutup (ay. 26). Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu: mujizat ini menjadi bahan pembicaraan orang banyak. Perhatikanlah, perbuatan-perbuatan Kristus lebih banyak diperbincangkan daripada diperhatikan dan dijalankan. Orang-orang yang hanya mendengar kabar tentang mujizat-mujizat Kristus mempunyai kewajiban yang sama seperti orang-orang yang menyaksikannya sendiri. Walaupun kita yang hidup pada saat ini tidak melihat mujizat-mujizat Kristus, namun kita memiliki kisah asli yang dapat dipercaya tentang mujizat-mujizat itu, dan berdasarkan keandalan kisah itu, kita harus menerima ajaran-Nya; berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yoh. 20:29). Ep.Hosea 5:15-6:6 Pertobatan yang pura-pura dari pihak orang Israel 5:15 Aku akan pergi pulang ke tempat-Ku, sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajah-Ku. Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku: 6:1 "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 6:2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 6:3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." 6:4 Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. 6:5 Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku, dan hukum-Ku keluar seperti terang. 6:6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. Penjelasan: * Hos 5:15 - akan pergi pulang ke tempat-Ku // dalam kesesakannya Melihat kepada Israel yang menyembah berhala, Allah berfirman, Aku akan pergi pulang ke tempat-Ku (yakni surga), meninggalkan umat-Nya yang memberontak untuk menderita karena dosa-dosa mereka. Apabila dalam kesesakannya mereka mencari Allah, Ia akan bersedia datang menolong mereka. * Hos 6:1 - Mari, kita akan berbalik kepada Tuhan // menerkam // menyembuhkan Israel yang tertindas telah mengetahui pelajaran-pelajaran pahit akibat tidak patuh. Rakyatnya saling membesarkan hati dengan kata-kata: Mari, kita akan berbalik kepada Tuhan. Kata-kata itu menyiratkan pengakuan, karena Israel telah meninggalkan Tuhan untuk melakukan praktik-praktik berhala. Allah yang telah menerkam mereka dalam penghukuman dapat diharapkan untuk menyembuhkan mereka dalam belas kasihan. Luka-luka Israel tidak dapat disembuhkan oleh Mesir dan Asyur (bdg. 7:1; 11:3). Hanya Allah yang dapat membawa kehidupan baru kepada bangsa yang terluka itu. * Hos 6:2 - Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, // pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita Allah tidak hanya dapat diandalkan untuk membebaskan umat-Nya, tetapi pertolongan-Nya akan datang cepat. Sang nabi menyatakan bahwa Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, dengan menambahkan kalimat paralelnya, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita. Yehezkiel memakai bahasa yang sama untuk menggambarkan kehidupan yang akan memasuki tulang-tulang kering, yang melambangkan Israel (Yeh. 37:1-10; bdg. Yes. 26:19). Targum membuat parafrase dari Hosea 6:2; Ia akan menghidupkan kita dalam hari-hari penghiburan yang akan datang. Calvin menafsirkan kata-kata itu sebagai menunjukkan harapan Israel semasa dalam Pembuangan: " ... Meskipun sudah lama mereka diam dalam kegelapan, dan pembuangan yang harus mereka derita berlangsung lama, toh mereka tidak berhenti berharap: 'Yah, biarlah dua hari itu berlalu, dan Tuhan akan membangkitkan kita"' (John Calvin, The Twelve Minor Prophets, I, 218). Pada pihak lain, Pusey menganggap ini terutama adalah acuan kepada kebangkitan Tuhan kita: 'Apa lagi yang diacu kalau bukan pada dua hari di mana tubuh Yesus terbaring di kuburan, dan hari ketiga di mana Ia bangkit pula ... (E. B. Pusey, Minor Prophets, I, 63). Fakta bahwa "sesudah dua hari" dan "hari yang ketiga" berfungsi sebagai idiom untuk waktu singkat ditunjukkan oleh pemakaiannya oleh Yesus dalam Lukas 13:32, 33. Kata-kata ini tidak boleh khusus digunakan untuk Kebangkitan, meskipun bisa dianggap sebagai lambang (bdg. Hos. 11:1). Sebagaimana Allah membawa anak-Nya, Israel, dari Pembuangan 'sesudah tiga hari' (yaitu waktu yang singkat), demikian pula ia membangkitkan putra-Nya, Yesus, dari kuburan di luar tembok-tembok kota Yerusalem pada hari ketiga (secara harfiah). * Hos 6:3 - Marilah kita mengenal, // Ia pasti muncul // Seperti fajar Marilah kita mengenal, merupakan frase yang melanjutkan pemikiran dari ayat 1. Orang-orang yang akan kembali kepada Tuhan dari kemurtadan mereka akan mengenal Tuhan. Mereka akan mengalami kehadiran dan kuasa-Nya dalam kehidupan mereka. Kata kerjanya diterjemahkan seperti bentuk bahasa Ibrani yang menyatakan kehendak, yang menunjukkan bahwa berbagai malapetaka telah menimpa Israel karena ia hidup tanpa mengenal Allah. Ia pasti muncul. Jawaban-Nya atas kebutuhan-kebutuhan umat-Nya. Seperti fajar. Sepasti datangnya pagi. Israel berada "di dalam kegelapan" (Yes. 9:1), tetapi munculnya Allah untuk membawa kelepasan dapat disamakan dengan fajar hari yang baru dan mulia. * Hos 6:4 - Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? // Kasih setiamu seperti kabut pagi // embun yang hilang pagi-pagi benar Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Sarana apakah yang dapat dipakai untuk membawa engkau kembali kepada persekutuan dengan Allah? Kasih setiamu seperti kabut pagi. Engkau berusaha mengadakan reformasi, tetapi tidak ada faedahnya. Kabut pagi itu bersifat menipu. Itu adalah sejumlah uap tebal yang dibawa oleh angin barat musim paras dari Mediterania. Matahari dengan cepat melenyapkannya, dan kabut itu tidak menghasilkan hujan pada musim panas di Palestina yang kering. Begitu juga embun yang hilang pagi-pagi benar. Embun tidak memberikan keringanan yang permanen dari serangan matahari musim panas. * Hos 6:5 - Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi // perkataan mulut Allah, yang mengeluh tentang perilaku umat-Nya, berfirman, Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi. Allah berusaha menebang Israel untuk memperbaiki bentuknya dengan cara mengutus para nabi. Nabi-nabi itu memperingatkan tentang konsekuensi-konsekuensi dosa (Yes. 11:4; 49:2; Yer. 1:10; 5:14; I Raj. 19:17). Mereka mengucapkan perkataan mulut Allah. * Hos 6:6 - Aku menyukai kasih setia, dan bukan kurban sembelihan. Kasih setia Allah menolak eksternalisme agama yang menandai banyak praktik keagamaan Israel, dengan kata-kata: Aku menyukai kasih setia, dan bukan kurban sembelihan. Kasih setia (hesed) adalah kata yang berbicara tentang kasih sayang dan kesetiaan berdasarkan perjanjian. Laetsh (The Minor Propphets, hlm. 60) dan Harper (ICC, hlm. 286) menerjemahkannya dengan kata: kasih. Harper menambahkan, "Kasih ini bukan kasih terhadap Allah yang berlainan dengan kasih terhadap sesama manusia, melainkan kasih terhadap keduanya.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | NEXT: Renungan HKBP Minggu, 18 Juni 2023 - MARSIHOHOT MANGULAHON HATA NI DEBATA - Ev. Keluaran 19:1-8 - II DUNG TRINITATIS PREV: Renungan HKBP Senin, 05 Juni 2023 - DIA PENOLONG YANG SETIA - Mazmur 146:5 All Renungan HKBP 2023
Nyanyian Ibadah Gereja: Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, NR TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Suplemen Buku Ende, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, |
NEXT: Renungan HKBP Minggu, 18 Juni 2023 - MARSIHOHOT MANGULAHON HATA NI DEBATA - Ev. Keluaran 19:1-8 - II DUNG TRINITATIS PREV: Renungan HKBP Senin, 05 Juni 2023 - DIA PENOLONG YANG SETIA - Mazmur 146:5 Minggu, 28 Juni 2026 Jamita HKBP Minggu, 28 Juni 2026 - Holong Na Manghorhon Las Ni Roha Dohot Gogo (Kasih yang mendatangkan sukacita dan kekuatan) - Filemon 1:4-7 Minggu, 21 Juni 2026 Jamita HKBP Minggu, 21 Juni 2026 - Pemeliharaan Allah Yang Universal - Kejadian 21:8-21
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - FB © 2012 . All Rights Reserved. |