BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 1984 kali
Minggu, 1 Oktober 2023
Tema: GABE IMBARU MA HAMU DUNG MUBA PINGKIRANMUNA (BERUBAHLAH OLEH PEMBAHARUAN BUDIMU)

Ayat Bulanan: Roma 12:2

BE 437:1 TUNG NA MUBA ROHANGKU
XVIII DUNG TRINITAS
Tutup Langgatan: Na Ratarata
Ev. Yakobus 5:7-11
Ep. Amsal 4:20-27

Topik: BENGET MANGULAHON LOMO NI ROHA NI DEBATA (TEKUN MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH)

Ev. Yakobus 5:7-11
Bersabar dalam penderitaan
5:7 Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. 5:8 Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! 5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. 5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. 5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

Penjelasan:
* Berikut ini kita melihat lanjutan perkataan yang ditujukan kepada orang-orang kudus. Ada sebagian orang memandang rendah atau mencela cara mengajar seperti ini, yakni ketika para hamba Tuhan, menyampaikan perkataan kepada orang berdosa, sekaligus kepada orang kudus. Namun, dari cara yang digunakan Rasul Yakobus di sini, kita dapat menyimpulkan bahwa inilah cara terbaik untuk memilah firman kebenaran dengan tepat. Dari apa yang telah dikatakan perihal orang-orang kaya yang fasik dan suka menindas, juga ada pesan untuk memberikan penghiburan kepada umat Allah yang menderita. “Oleh sebab itu bersabarlah, karena Allah akan mendatangkan kesengsaraan kepada orang fasik, sehingga kamu bisa melihat apa kewajibanmu, dan bagaimana hatimu dapat dikuatkan.”

1. Kerjakan kewajibanmu: 
Bersabarlah (ay. 7), teguhkan hatimu (ay. 8), Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan (ay. 9). Renungkan baik-baik makna ketiga ungkapan ini:

(1) “Bersabarlah, yakni tanggunglah penderitaanmu tanpa bersungut-sungut dan cederamu tanpa membalas dendam. Kalaupun Allah tidak segera datang membelamu melalui tanda apa pun, nantikanlah Dia. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. Biarlah kesabaranmu terus bertambah dalam penderitaan yang lama.” Demikianlah makna istilah makrothymÄ”sate yang digunakan di sini. Setelah melaksanakan tugas, kita membutuhkan kesabaran untuk bisa bertahan menantikan pahala kita. Kesabaran orang Kristen seperti ini bukanlah sekadar sikap bertahan karena terpaksa, seperti kesabaran moral yang diajarkan oleh beberapa filsuf, melainkan dengan rendah hati bersedia tunduk di dalam hikmat serta kehendak Allah, dengan mata tertuju pada imbalan mulia yang kelak akan diberikan: bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan. Karena merupakan pelajaran yang harus diterima orang Kristen, meskipun terasa sangat berat dan sulit bagi mereka, hal ini diulangi dalam ayat 8, Kamu juga harus bersabar.

(2) “Teguhkan hatimu, yakni biarlah imanmu tetap teguh, tanpa bimbang. Teruskan berbuat baik tanpa lelah, dan tetap teguh hati terhadap Allah dan sorga, meskipun ada banyak penderitaan atau pencobaan.” Kemakmuran orang fasik dan penderitaan orang benar sepanjang zaman merupakan ujian berat bagi iman umat Allah. Daud berkata, Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik (Mzm. 73:2-3). Beberapa orang Kristen yang disurati Yakobus ini mungkin saja juga tertatih-tatih seperti itu. Oleh sebab itu mereka diimbau untuk teguh hati. Iman dan kesabaran akan meneguhkan hati.

(3) Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan. Ungkapan mÄ” stenazete berarti, jangan saling berkeluh kesah, atau, “Jangan membuat tidak nyaman satu sama lain dengan bersungut-sungut perihal apa yang menimpamu, atau dengan berkeluh kesah karena tidak percaya tentang apa yang selanjutnya akan terjadi pada dirimu. Jangan juga menggerutu penuh dendam terhadap penyebab penderitaanmu, atau karena iri terhadap mereka yang mungkin tidak mengalami malapetaka seperti dirimu. Jangan membuat dirimu dan orang lain merasa tidak nyaman dengan menggerutu serta saling membuat sedih.” Dr. Manton berkata, “Menurut pendapat saya, di sini Rasul Yakobus sepertinya menyebut-nyebut perihal kerugian dan rasa permusuhan yang bisa saling ditimbulkan di antara orang-orang Kristen pada masa itu, yang disatukan di bawah sebutan bersunat dan tak bersunat, dan ternyata hal tersebut membuat sedih satu sama lain sehingga mereka saling bersungut-sungut. Jadi mereka tidak saja berkeluh kesah di bawah penindasan para penganiaya kaya, tetapi juga karena luka-luka hati yang ditimbulkan oleh banyak saudara, yang bersama mereka mengakui iman suci.” Orang-orang yang tengah menghadapi musuh bersama dan sama-sama ada dalam penderitaan, harus lebih berhati-hati lagi supaya tidak saling menyakiti hati dan saling menggerutu. Jika tidak, penghakiman akan jatuh ke atas mereka, selain ke atas orang lain. Semakin keras mereka menggerutu, semakin dekat juga penghakiman itu.

2. Perhatikanlah dorongan yang diberikan di sini agar orang Kristen bersabar, 
meneguhkan hati, dan tidak saling bersungut-sungut.

(1) “Lihatlah teladan petani: Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Ketika kamu menabur benih di tanah, kamu menunggu datangnya hujan musim gugur dan hujan musim semi selama berbulan-bulan, dan bersedia menanti sampai tiba masa panen untuk menuai hasil kerja kerasmu. Bukankah hal ini mengajarmu untuk menanggung badai dan bersabar menunggu sementara waktu, sementara kamu mencari kerajaan dan kebahagiaan kekal? Perhatikanlah orang yang menantikan hasil tuaian gandum, dan bukankah kamu juga menantikan mahkota kemuliaan? Jika kamu diminta menunggu sedikit lebih lama daripada sang petani, bukankah itu sebanding dengan apa yang sedang engkau nantikan, yang lebih besar dan tak terhingga nilainya? Walaupun begitu,

(2) “Pikirkanlah betapa singkat waktu penantian yang mungkin akan kamu jalani nanti: kedatangan Tuhan sudah dekat! (ay. 8). Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu (ay. 9). Jangan bersikap tidak sabar, jangan saling bertengkar. Sang Hakim Agung, yang akan memperbaiki segala sesuatu, yang akan menghukum orang fasik dan memberi imbalan kepada orang benar, sudah dekat. Sadarilah bahwa Dia telah berdiri dekat dengan engkau seperti orang yang sedang mengetuk pintu.” Kedatangan Tuhan untuk menghukum orang-orang Yahudi yang fasik ketika itu sudah sangat dekat, ketika Yakobus menulis surat ini. Setiap kali kesabarannya dan anugerah kepada umat-Nya sedang diuji dengan cara luar biasa, kepastian tentang kedatangan Kristus sebagai Hakim yang sudah dekat, seharusnya cukup untuk membuat hati mereka teguh. Sekarang ini Sang Hakim yang akan menghakimi dunia sudah jauh lebih dekat dibanding dahulu ketika surat ini ditulis. Lebih dekat melebihi seribu tujuh ratus tahun. Oleh sebab itu hal ini sudah seharusnya menimbulkan dampak lebih besar bagi kita.

(3) Bahaya bahwa kita bisa saja dihukum ketika Sang Hakim muncul, sudah seharusnya mendorong kita untuk memperhatikan kewajiban kita seperti yang disampaikan sebelum ini: Janganlah kamu bersungut-sungut, supaya kamu jangan dihukum. Keluh kesah dan ketidakpuasan membawa kita kepada penghakiman Allah yang adil. Juga, lebih dari yang kita sadari, kita mendatangkan banyak malapetaka ke atas diri sendiri dengan perbuatan menggerutu, tidak percaya, iri hati, dan saling menyalahkan. Jika kita menghindari semua kejahatan ini, dan bersabar di bawah semua pencobaan, maka Allah tidak akan menghukum kita. Marilah kita menguatkan hati dengan hal ini.

(4) Kita didorong untuk bersabar dengan meniru teladan para nabi (ay. 10): Turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Amatilah di sini, para nabi yang sangat dihargai dan diperkenan Allah, telah mengalami penderitaan paling berat. Saat kita merenungkan bahwa orang-orang terbaiklah yang paling mengalami kesukaran di dunia ini, maka sudah sepatutnya kita berdamai dengan penderitaan. Amatilah selanjutnya, bahwa mereka yang menjadi teladan-teladan terbaik dalam hal menanggung penderitaan, juga merupakan teladan terbaik dan terbesar menyangkut kesabaran: kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan. Karena itu Yakobus memandang masuk akal bagi orang-orang percaya bahwa: kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun (ay. 11). Kami memandang mereka yang menderita dengan benar dan sabar sebagai orang-orang yang paling bahagia (lihat 1:2-12).

(5) Ayub juga disebutkan sebagai teladan untuk menguatkan hati orang-orang yang dirundung kemalangan. Kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, dan seterusnya (ay. 11). 

Di dalam pengalaman Ayub, bisa dilihat contoh tentang berbagai kesengsaraan yang teramat menyedihkan. Namun, di bawah semua itu ia masih bisa memuji Allah. Mengenai keadaan batinnya secara umum, ia tetap bersabar dan rendah hati. Dan apa yang akhirnya terjadi pada dirinya? Dengan sesungguhnya Allah memenuhi dan menyebabkan hal-hal yang dengan jelas membuktikan bahwa Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan. Cara terbaik untuk menanggung penderitaan adalah mengetahui apa yang akhirnya tersedia. 

Belas kasihan Allah sedemikian besarnya hingga Ia tidak akan berlambat-lambat menyediakan segalanya, apabila tujuan-Nya sudah tercapai. Rahmat Allah sedemikian lembutnya hingga Ia akan mengganti kerugian dengan berlimpah atas semua penderitaan dan kesengsaraan umat-Nya. Kasih mesra-Nya ditujukan kepada mereka sementara mereka menderita, dan rahmat-Nya dinyatakan sesudah itu. Marilah kita melayani Allah kita, dan menanggung semua pencobaan yang menimpa kita, seperti mereka yang percaya bahwa kesudahannya akan memahkotai semua pencobaan itu.


Ep. Amsal 4:20-27
4:20 Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; 4:21 janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. 4:22 Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. 4:24 Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu. 4:25 Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. 4:26 Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. 4:27 Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.

Penjelasan:
* Didikan Orangtua (4:20-27)
Setelah memperingatkan kita supaya tidak berbuat jahat, di sini Salomo mengajari kita untuk berbuat baik. Tidak cukup bagi kita untuk menutup peluang dosa saja, tetapi kita juga harus belajar cara-cara menjalankan kewajiban kita.

I. Kita harus selalu mengindahkan firman Allah dan berusaha supaya firman itu selalu siap kita amalkan.
1. Ucapan-ucapan hikmat harus menjadi pedoman yang mengatur kita, menjadi pengawas yang memperingatkan kita akan kewajiban dan marabahaya. Karena itu,

(1) Kita harus siap menerimanya: “Arahkanlah telingamu kepada ucapan-ucapan itu (ay. 20). Tundukkanlah dirimu dengan rendah hati di hadapannya, dan dengarkanlah dengan tekun.” Mendengarkan firman Allah dengan baik menandakan bahwa pekerjaan anugerah telah dimulai di dalam hati dan itu merupakan sarana yang bagus untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Orang yang mengarahkan telinga untuk mengenal nasihat-nasihat itu diharapkan untuk menjalankan kewajiban mereka.

(2) Kita harus memeliharanya dengan saksama (ay. 21). Kita harus menempatkannya di hadapan kita sebagai pedoman kita: “Janganlah semuanya itu menjauh dari matamu. Periksalah, tinjau ulang lagi, dan dalam segala hal berusahalah untuk berjalan sesuai dengannya.” Kita harus menanamkannya di dalam diri kita sebagai asas yang utama, yang pengaruhnya memerintah atas seluruh diri kita: “Simpanlah itu di lubuk hatimu, sebagai harta kesayanganmu, yang engkau takut bila itu hilang.” Biarlah firman Allah dituliskan di hati kita, dan apa yang tertulis di sana akan tinggal tetap.
2. Alasan mengapa kita harus mengutamakan perkataan hikmat adalah karena perkataan itu akan menjadi makanan dan kesembuhan bagi kita, seperti pohon kehidupan (Why. 22:2; Yeh. 47:12). Orang-orang yang mencari dan menemukannya, yang menemukan dan memeliharanya, akan mendapati di dalamnya,
(1) Makanan: Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya (ay. 22). Sebagaimana kehidupan rohani dibangun oleh firman yang menjadi alatnya, begitu pula kehidupan itu masih ditumbuh-kembangkan dan dipelihara oleh firman yang sama. Kita tidak dapat hidup tanpanya. Dalam iman, kita dapat hidup oleh karenanya.
(2) Kesembuhan. Perkataan hikmat itu merupakan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka, manusia seutuhnya, baik jiwa maupun raga. Perkataan hikmat itu membantu keduanya di dalam keadaan yang sukar. Perkataan hikmat itu merupakan kesembuhan bagi seluruh tubuh (begitulah menurut Septuaginta). Dengannya ada kesembuhan yang cukup untuk memulihkan dunia yang sakit ini. Perkataan hikmat itu adalah obat bagi seluruh tubuh mereka (begitulah kalimat aslinya), bagi segala kebejatan mereka, sebab mereka disebut daging oleh karena kedukaan mereka yang bagaikan duri di dalam daging. Di dalam firman Allah ada obat yang cocok untuk menyembuhkan semua penyakit rohani kita.


II. Kita harus mengawasi dan mengekang segala sikap diri kita (ay. 23).

Di sini terdapat:
1. Kewajiban besar yang dituntut oleh hukum hikmat supaya kita memperoleh hikmat dan memeliharanya: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan. Allah, yang memberi kita jiwa, juga menyertakan tugas yang ketat mengenainya: Laki-laki ataupun perempuan, waspadalah dan berhati-hatilah (Ul. 4:9). Kita harus mempertahankan semangat yang menyala-nyala untuk menjaga diri kita, dan berjaga-jaga dengan ketat, mengawasi jalan-jalan yang ditempuh jiwa kita. Jagalah hati kita supaya tidak melukai dan dilukai, supaya tidak dicemari dosa atau dikacaukan oleh kesukaran. Jagalah hati kita seperti permata, seperti kebun anggur kita. Peliharalah hati nurani supaya tidak tercemar, jauhi pikiran-pikiran yang buruk, pertahankanlah pikiran-pikiran yang baik, kobarkan kasihmu terhadap hal-hal yang baik dalam batas-batas yang semestinya. Jagalah baik-baik (begitulah kalimat aslinya). Ada banyak cara untuk menjaga sesuatu, yaitu dengan ketekunan, dengan kekuatan, dengan meminta bantuan, dan kita harus memakai semuanya untuk menjaga hati kita. Oleh karena hati itu begitu licik (Yer. 17:9), semuanya itu sebetulnya belumlah cukup. Atau dengan sangat baik-baik. Kita harus menjaga hati kita dengan lebih tekun dan saksama, lebih daripada menjaga hal-hal lainnya. Kita harus menjaga mata kita (Ayb. 31:1), menjaga lidah kita (Mzm. 34:14 ), menjaga kaki kita (Pkh. 5:1), tetapi, lebih dari semua itu, kita harus menjaga hati kita.

2. Alasan baik untuk memelihara hati, yaitu karena dari situlah terpancar kehidupan. Dari hati yang dijaga dengan baik mengalirlah hal-hal yang hidup, buah-buah yang baik bagi kemuliaan Allah dan peneguhan orang lain. Atau, secara umum, segala tindakan kehidupan memancar dari dalam hati, dan karena itulah, memeliharanya berarti mengokohkan pohon dan memulihkan sumber airnya. Hidup kita akan teratur atau kacau, nyaman atau tidak nyaman, sesuai dengan keadaan hati kita, apakah terpelihara atau terlantar.


III. Kita harus mengendalikan mulut kita supaya tidak menyinggung orang lain dengan lidah kita (ay. 24): Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu. Karena sifat asal hati kita itu cemar, maka dari dalamnya dapat muncul banyak sekali perkataan yang cemar, dan karena itulah kita harus merasa sangat gentar dan benci terhadap segala perkataan jahat, kutukan, sumpah serapah, kebohongan, fitnah, gertakan, kenajisan dan percakapan yang sia-sia, yang datang dari mulut serong dan bibir dolak-dalik. Mulut dan bibir yang seperti itu tidak sudi tunduk kepada akal sehat maupun agama, malahan menentang keduanya, dan keduanya merupakan hal yang jelek dan tidak diinginkan di hadapan Allah, sama menjijikkannya seperti mulut cacat dalam pandangan manusia. Kita harus menjauhkan segala macam dosa lidah, sejauh-jauhnya dari kita, melalui kesiagaan dan tekad yang kuat, dengan cara menghindari segala perkataan buruk dan tidak mau mengenal perkataan seperti itu.


IV. Kita harus berjanji mengenai mata kita sendiri: “Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tetap ke mukamu (ay. 25). Biarlah matamu terarah dan tidak mengembara. Biarlah matamu tidak berkelana ke segala hal yang menampakkan diri, sebab jika begitu, matamu akan disesatkan dari hal baik dan dijebak dalam kejahatan. Berhentilah memandang kesia-siaan. Biarlah matamu menjadi utuh dan tidak terbagi-bagi. Biarlah maksudmu tulus dan tidak berubah-ubah, dan janganlah melirik ke jalan yang menyimpang.” Kita harus mengarahkan pandangan kita kepada Guru kita, dan berawas-awas supaya kita tetap mengikuti Dia. Arahkan mata kita kepada pedoman kita dan taatilah. Arahkan pandangan kita kepada tanda kita, upah panggilan agung kita, dan arahkanlah semuanya itu kepada hal tersebut. Oculum in metam - Mata terarah ke tujuan.


V. Kita harus hati-hati dalam segala tindakan kita (ay. 26): Tempuhlah jalan yang rata, dan pertimbangkanlah (begitulah kata aslinya). “Letakkanlah firman Allah di satu sisi timbangan, dan apa yang telah engkau lakukan, atau apa yang akan engkau lakukan, di sisi yang satunya lagi, dan lihatlah bagaimana perbandingan di antara keduanya. Bersikap baik dan cermatlah dalam meninjau apakah jalanmu baik di hadapan Allah dan apakah jalan itu akan berakhir baik.” Kita harus mempertimbangkan jalan yang telah kita lalui dan menyelidiki apa yang telah kita lakukan, juga jalan yang sekarang sedang kita tempuh, apa yang sedang kita kerjakan, ke mana kita melangkah, dan lihatlah apakah kita telah berjalan dengan cermat. Kita harus mempertimbangkan apa saja kewajiban kita dan kesukarannya, apa saja keuntungan dan tantangan dari jalan kita, supaya kita bisa berlaku dengan tepat. “Janganlah terburu-buru bertindak.”


VI. Kita harus berlaku teguh, cermat dan tidak berubah-ubah. “Hendaklah tetap segala jalanmu (ay. 26) dan jangan goyah di dalamnya seperti orang yang bercabang pendirian. Janganlah berhenti di persimpangan jalan, melainkan teruslah melangkah dengan taat. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, sebab ada kesalahan dalam keduanya, dan Iblis mencapai tujuannya jika dia berhasil menyesatkan kita ke kiri ataupun ke kanan. Berhati-hatilah supaya jauh kakimu dari kejahatan. Berjaga-jagalah supaya jangan keluar dari batas, sebab di sana terdapat kejahatan, dan biarlah matamu memandang terus ke depan, supaya engkau memelihara jalan emas itu.” Orang-orang yang hendak bertindak bijaksana haruslah berjaga-jaga.




Bersabar dalam penderitaan, Kerjakan kewajibanmu, Perhatikanlah dorongan yang diberikan di sini agar orang Kristen bersabar











NEXT:
Renungan HKBP KAMIS , 05 OKTOBER 2023 HANYA TUHAN PERLINDUNGAN KITA - BACAAN PAGI (YEREMIA 43:1-13) - BACAAN MALAM (2 TIMOTIUS 2:14-26)


PREV:
Renungan HKBP SABTU, 30 SEPTEMBER 2023 - YESUS: PINTU DAN KESELAMATAN ! - BACAAN PAGI (YEREMIA 39:1-14) - BACAAN MALAM (LUKAS 15:1-7)

All Renungan HKBP 2023
(136)




NEXT:
Renungan HKBP KAMIS , 05 OKTOBER 2023 HANYA TUHAN PERLINDUNGAN KITA - BACAAN PAGI (YEREMIA 43:1-13) - BACAAN MALAM (2 TIMOTIUS 2:14-26)


PREV:
Renungan HKBP SABTU, 30 SEPTEMBER 2023 - YESUS: PINTU DAN KESELAMATAN ! - BACAAN PAGI (YEREMIA 39:1-14) - BACAAN MALAM (LUKAS 15:1-7)

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de