f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Renungan HKBP 2024 Khotbah Tahun Baru HKBP - Senin, 01 Januari 2024 - DENGGAN DO SALUHUTNA DIBAHEN DEBATA DI TINGKI HALEHETANNA - Ev. Pengkhotbah 3:1-15 Baca Juga: Ev. Pengkhotbah 3:1-15 Untuk segala sesuatu ada waktunya 3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. 3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; 3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; 3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; 3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; 3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; 3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; 3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. 3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? 3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. 3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. 3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. 3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah. 3:14 Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia. 3:15 Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu. Penjelasan: * Berubah-ubahnya Perkara Manusia (3:1-10) Tujuan ayat-ayat ini untuk menunjukkan, 1. Bahwa kita hidup di dunia yang berubah-ubah, bahwa beberapa peristiwa dan keadaan hidup manusia sangat berbeda satu sama lain, tetapi semua terjadi tanpa pandang bulu. Kita terus melewati dan melewatinya lagi, seperti perputaran hari dan tahun. Dalam perputaran roda kehidupan (Yak. 3:6) terkadang suatu jari-jari berada di tempat teratas dan tidak lama kemudian sebaliknya, selalu ada naik dan turun, tinggi dan rendah. Dari satu ujung ke ujung yang lain, dunia seperti yang kita kenal sekarang selalu berubah, dan akan terus berubah. 2. Bahwa setiap perubahan yang terjadi dalam hidup kita, menurut waktu dan saatnya, sudah tetap, tidak dapat diubah, dan telah ditentukan oleh suatu kuasa tertinggi. Kita harus menerima segala sesuatu ketika datang, karena kita tidak memiliki kuasa untuk mengubah apa yang telah ditetapkan bagi kita. Inilah alasan, ketika dalam kelimpahan, kita selayaknya merasa nyaman, tetapi bukan merasa aman-aman. Tidak merasa aman-aman karena kita hidup di dunia yang berubah, dan karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk berkata, besok akan sama seperti hari ini (lembah terdalam kita menjadi satu dengan gunung tertinggi kita). Namun, kita harus tetap merasa nyaman, seperti nasihat Salomo (2:24), bersenang-senang dalam jerih payah kita, dalam ketergantungan yang penuh pada Allah dan penyediaan-Nya, tidak terbuai oleh harapan, ataupun terpuruk karena ketakutan, tetapi dengan hati yang siap menghadapi segala peristiwa. Di sini kita melihat, I. Salomo mengemukakan dasar pengajarannya: Untuk segala sesuatu ada masanya (ay. 1). 1. Perkara-perkara yang tampaknya paling bertolak belakang satu sama lain, dalam perputaran peristiwa, akan mengambil gilirannya dan terjadi. Siang akan menjadi malam dan malam akan berubah lagi menjadi siang. Apakah sekarang musim panas? Musim dingin akan datang. Apakah sekarang musim dingin? Tunggu saja, sebentar lagi musim panas akan datang. Untuk setiap perkara, ada masanya. Langit yang paling cerah pun akan berawan, Post gaudia luctus -” Sukacita menggantikan kepedihan, dan langit yang paling mendung akan menjadi cerah, Post nubila Phoebus -” Matahari akan menerobos dari balik awan. 2. Hal-hal yang menurut kita paling tidak terduga dan kebetulan, dalam pertimbangan dan rencana Allah telah ditetapkan sampai waktu persis terjadinya, serta tidak dapat dipercepat atau ditunda sejenak pun. II. Bukti dan penjelasan ajaran ini, dengan mengemukakan beberapa perkara khusus, ada dua puluh delapan jumlahnya, disesuaikan dengan hari-hari perputaran bulan, yang selalu membesar dan mengecil, antara bulan purnama dan perubahannya. Beberapa perubahan ini sepenuhnya tindakan Allah, beberapa yang lain lebih tergantung pada kehendak manusia, tetapi semua ditetapkan oleh pertimbangan ilahi. Oleh karena itu, segala sesuatu di bawah langit dapat berubah, tetapi di sorga ada keadaan yang tidak dapat berubah, dan ada keputusan tak-terubahkan mengenai perkara-perkara ini. 1. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal. Perkara-Perkara ini ditentukan oleh pertimbangan ilahi. Jika kita lahir, maka kita pasti meninggal, dan terjadinya pada waktu yang ditentukan (Kis. 17:26). Beberapa penafsir mengamati bahwa ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, tetapi tidak ada waktu untuk hidup. Hidup begitu singkat sehingga tidak perlu disebutkan. Baru saja kita lahir, kita langsung mulai mengalami kematian. Namun, seperti ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal, maka akan ada waktu untuk bangkit lagi, waktu yang telah ditetapkan untuk mereka yang terbaring di dunia orang mati untuk diingat (Ayb. 14:13). 2. Ada waktu bagi Allah untuk menanam suatu bangsa, seperti Allah menanam Israel di Kanaan, dan, untuk melakukannya, ada waktu untuk mencabut ketujuh bangsa yang ditanam di sana, untuk memberi tempat bagi Israel. Akhirnya, ada waktunya juga Allah berbicara mengenai Israel, untuk mencabut dan membinasakannya, saat takaran kesalahan mereka sudah penuh (Yer. 18:7, 9). Ada waktu bagi manusia untuk menanam, waktu yang menurut musimnya, waktu dalam hidup mereka. Namun, ketika yang ditanam sudah tidak berbuah dan tidak berguna, itulah waktu untuk mencabutnya. 3. Ada waktu untuk membunuh, yaitu ketika penghakiman Allah ditimpakan atas suatu negeri dan membuat semuanya tandus. Namun, ketika Dia kembali dalam jalan kasih setia-Nya, maka itulah waktu untuk menyembuhkan yang diterkam-Nya (Hos. 6:1-2), yaitu menghibur suatu bangsa setelah Dia menindas mereka (Mzm. 90:15). Ada waktu ketika, berdasarkan hikmat, pemerintah menggunakan cara yang keras, tetapi, ada waktu ketika, juga berdasarkan hikmat, pemerintah menggunakan cara yang lebih lembut, untuk menyembuhkan, bukan merusak. 4. Ada waktu untuk merombak suatu keluarga, suatu penghidupan, kerajaan, yang memang telah siap untuk dihancurkan. Akan tetapi, Allah akan mendapatkan waktu, jika mereka berbalik dan bertobat, untuk membangun kembali yang telah dihancurkan. Ada waktu, waktu yang ditetapkan, bagi Tuhan untuk membangun Sion (Mzm. 102:14, 17). Ada waktu bagi manusia untuk berpisah dengan keluarga, untuk menghentikan perdagangan, dengan kata lain untuk merombak, waktu yang harus dimaklumi dan dihadapi dengan persiapan oleh mereka yang sedang membangun. 5. Ada waktu ketika penetapan Allah memanggil kita untuk menangis dan meratap, ketika hikmat dan kasih manusia mau turut pada penetapan itu, mau menangis dan meratap. Contohnya, saat semua orang mengalami kemalangan dan marabahaya, di saat itu sangat aneh jika kita tertawa, dan menari, dan bersukacita (Yes. 22:12-13; Yeh. 21:10). Akan tetapi, di lain pihak, ada waktu ketika Allah memanggil kita untuk bersukacita, waktu untuk tertawa dan menari, dan saat itulah Dia ingin agar kita menjadi hamba-Nya dengan sukacita dan gembira hati. Perhatikanlah, waktu untuk menangis dan meratap diletakkan pertama, sebelum waktu untuk tertawa dan menari, karena kita harus menabur dengan mencucurkan air mata dahulu sebelum menuai dengan bersorak-sorai. 6. Ada waktu untuk membuang batu, dengan meruntuhkan dan menghancurkan benteng-benteng, yaitu ketika Allah memberikan damai di perbatasan, dan benteng-benteng itu tidak diperlukan lagi. Akan tetapi, ada waktu untuk mengumpulkan batu untuk membangun kubu-kubu pertahanan (ay. 5). Ada waktu untuk menara-menara tua runtuh, seperti menara yang ada di Siloam (Luk. 13:4), dan untuk Bait Suci sendiri dihancurkan sampai berkeping-keping sehingga tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Tetapi ada juga waktu untuk menara dan piala ditegakkan, yaitu ketika bangsa berjaya. 7. Ada waktu untuk memeluk sahabat saat kita mendapatinya setia, tetapi ada waktu untuk menahan diri dari memeluk saat kita mendapatinya tidak adil atau tidak setia, dan ada alasan bagi kita untuk mencurigainya. Di waktu seperti ini, bijaklah bagi kita untuk menarik diri dan menjaga jarak. Ayat ini biasanya diterapkan untuk pelukan dalam pernikahan, seperti yang dijelaskan dalam 1 Korintus 7:3-5; Yoel 2:16. 8. Ada waktu untuk mengejar (KJV) mengejar uang, mengejar kedudukan, mengejar kesempatan bagus dan keuntungan besar. Saat kesempatan terbuka, itulah waktu ketika orang bijak akan mencari (demikianlah makna kata ini). Saat ia mulai menjelajahi dunia, memiliki keluarga yang semakin besar, saat ia sedang jaya-jayanya, saat ia berhasil dan memiliki usaha yang berkembang, itulah waktu baginya untuk berjuang dan memanfaatkan kesempatan selagi masih ada. Ada waktu untuk mengejar hikmat, pengetahuan, dan kasih karunia, yaitu ketika manusia mendapat kesempatan di tangannya. Namun, biarlah ia menyadari akan datang waktunya untuk menghabiskan, saat semua yang ia miliki terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan, ada waktu untuk membiarkan rugi, yaitu saat hal-hal yang diperoleh dengan cepat akan cepat hilang lenyap dan tidak dapat digenggam erat. 9. Ada waktu untuk menyimpan, ketika yang kita miliki bermanfaat, dan kita dapat menyimpannya tanpa menimbulkan pertentangan dalam hati nurani. Namun, mungkin akan datang waktu untuk membuang, ketika kasih kita kepada Allah mengharuskan kita membuang semua yang kita miliki, karena kita akan menyangkal Kristus dan melanggar hati nurani kita jika kita menyimpannya (Mat. 10:37-38). Lebih baik kita menghancurkan semua daripada menghancurkan iman. Bahkan, ketika kasih kita kepada diri sendiri menuntut kita untuk membuangnya, jika hal itu diperlukan untuk menyelamatkan hidup kita, seperti yang terjadi ketika para pelaut yang bersama dengan Yunus membuang muatan kapal ke dalam laut. 10. Ada waktu untuk merobek pakaian, seperti ketika berada dalam dukacita besar, dan ada waktu untuk menjahitnya kembali, sebagai tanda bahwa kesedihan itu sudah berlalu. Ada waktu untuk membatalkan yang kita lakukan, dan ada waktu untuk melakukan kembali yang telah kita batalkan. Jerome (Bapa Gereja -” pen.) menerapkan hal ini pada peristiwa dirobeknya jemaat Yahudi dan dijahit serta dibangun kembali jemaat Injil di atasnya. 11. Ada waktu ketika sudah sepatutnya, dan memang bijaksana serta diwajibkan, bagi kita untuk berdiam diri, yaitu ketika waktu itu adalah waktu yang jahat (Am. 5:13), ketika perkataan kita sama saja dengan melemparkan mutiara kepada babi, atau ketika kita kemungkinan akan salah bicara (Mzm. 39:3). Akan tetapi, ada juga waktu untuk berbicara, untuk memuliakan Allah dan untuk meneguhkan orang lain, ketika berdiam diri sama saja dengan mengkhianati kebenaran, dan ketika dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Sungguh suatu hikmat yang besar bagi orang kristen untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri. 12. Ada waktu untuk mengasihi, dan menunjukkan bahwa kita bersahabat, untuk terbuka dan gembira, dan ini merupakan waktu yang menyenangkan. Akan tetapi, mungkin akan datang waktu untuk membenci, ketika kita melihat alasan untuk memutuskan segala kedekatan dengan beberapa orang yang tadinya sangat kita sukai, dan menjadi orang yang memisahkan diri, seperti ketika kecurigaan kita terbukti. Pada saat seperti cinta itu sangat sulit untuk diakui. 13. Ada waktu untuk perang, ketika Allah menghunus pedang untuk penghakiman dan memberinya tugas untuk menghabisi, ketika manusia menghunus pedang untuk keadilan dan mempertahankan hak-haknya, ketika bangsa-bangsa memiliki alasan untuk berperang. Akan tetapi, kita boleh menantikan datangnya waktu untuk damai, yaitu ketika pedang Allah disarungkan dan Dia menghentikan peperangan (Mzm. 46:10), ketika perang berakhir dan di segala penjuru ada damai. Perang tidak akan berlangsung terus, demikian pula tidak akan terjadi yang disebut damai selamanya yang abadi di sisi dunia sebelah sini. Demikianlah, dalam semua perubahan ini, Allah telah menempatkan yang satu berhadap-hadapan dengan yang lain, agar kita dapat bergembira seolah-olah tidak bergembira, dan menangis seolah-olah tidak menangis. III. Kesimpulan yang ditarik dari pengamatan ini. Jika keadaan kita sekarang begitu mudah berubah-ubah, 1. Maka kita tidak boleh mengharapkan bagian kita dari keadaan kita itu, sebab hal-hal yang baik di dalamnya tidak menentu, dan tidak untuk selamanya ada (ay. 9): Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya? Apa yang dapat dijanjikan orang bagi dirinya dari menanam dan membangun, jika yang disangkanya dibangun dengan sempurna bisa saja segera, bahkan pasti akan, dicabut dan dirombak. Semua jerih lelah dan kekhawatiran kita tidak akan mengubah sifat keadaan yang berubah-ubah itu, dan juga tidak dapat mengubah keputusan ilahi tentang keadaan itu. 2. Maka kita harus melihat diri kita seperti sedang dalam masa percobaan menghadapi perkara-perkara itu. Sungguhlah tidak ada keuntungan dalam jerih payah kita. Suatu benda, ketika kita memilikinya, hanya memberi sedikit manfaat bagi kita. Namun, jika kita menggunakan dengan benar hal-hal yang disediakan Sang Penyelenggara, maka akan ada keuntungan di dalamnya (ay. 10): Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia, bukan untuk membuatnya bahagia, tetapi untuk melelahkan dirinya, agar berbagai karunia yang didapatnya dilatih oleh berbagai-bagai peristiwa, agar ketergantungan mereka kepada Allah diuji dalam berbagai perubahan, agar mereka menjadi terlatih karenanya, dan diajar apa itu kekurangan dan apa itu kelimpahan (Flp. 4:12). Perhatikanlah, (1) Ada jerih lelah dan kesusahan yang besar di antara anak manusia. Jerih payah dan kesedihan memenuhi dunia ini. (2) Jerih lelah dan kesusahan ini adalah bagian yang diberikan Allah bagi kita. Dia tidak pernah menetapkan dunia ini menjadi tempat istirahat kita, dan karena itu tidak pernah menyuruh kita untuk bersantai-santai di dalamnya. (3) Bagi banyak orang, jerih lelah itu terbukti hadiah. Allah memberikannya kepada manusia, seperti dokter memberikan obat kepada pasiennya, untuk kebaikannya. Susah payah ini diberikan kepada kita agar kita jemu dengan dunia ini dan merindukan istirahat sesudahnya. Susah payah ini diberikan agar kita terus bekerja dan selalu punya sesuatu untuk dikerjakan. Sebab, tidak ada seorang pun dikirim ke dalam dunia ini untuk bermasalas-malas saja. Setiap perubahan membawa suatu pekerjaan baru bagi kita, yang seharusnya membuat kita bersemangat, lebih daripada perubahan itu sendiri. * Berubah-ubahnya Perkara Manusia (3:11-15) Kita telah melihat perubahan-perubahan yang ada di dalam dunia, dan seharusnya tidak berharap dunia ini lebih memberi kepastian bagi kita daripada bagi yang lain. Nah, di sini Salomo memperlihatkan keterlibatan Allah dalam semua perubahan ini. Allah-lah yang membuat setiap ciptaan sebagaimana adanya bagi kita. Oleh karena itu, kita harus selalu mengarahkan mata kita kepada-Nya. I. Kita harus melakukan yang terbaik dalam keadaan yang sekarang ada, dan harus percaya bahwa keadaan itu yang terbaik untuk saat ini, serta menyesuaikan diri kita dengan keadaan itu: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (ay. 11). Oleh karena itu, selama waktunya belum berlalu, kita harus berdamai dengan keadaan yang ada. Bahkan, kita harus membuat diri kita bersukacita dengan keindahannya. Perhatikanlah, 1. Segala sesuatu ada sebagaimana Allah menciptakannya. Semua sungguh ada sebagaimana Allah menetapkannya, bukan sebagaimana tampaknya bagi kita. 2. Hal-hal yang tampak paling tidak menyenangkan bagi kita, pada waktunya, akan menjadi sangat menyenangkan. Dingin di musim dingin sama indahnya dengan panas di musim panas. Malam, pada waktunya, adalah keindahan gelap, seperti siang, pada waktunya, keindahan terang. 3. Ada keharmonisan yang luar biasa dalam penyelenggaraan ilahi dan semua pemberiannya, sehingga peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya, jika direnungkan keterkaitannya, alasan terjadinya, dan juga waktu terjadinya, akan tampak sangat indah, bagi kemuliaan Allah dan penghiburan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Sekalipun kita belum melihat sepenuhnya keindahan penyelenggaraan ilahi, namun kita akan melihatnya, dan penglihatan itu akan menjadi penglihatan yang mulia, ketika rahasia Allah disingkapkan. Maka akan tampak bahwa segala sesuatu terjadi di waktu yang paling tepat, dan inilah keajaiban kekekalan (Ul. 32:4; Yeh. 1:18). II. Kita harus sabar menantikan penyataan penuh hal-hal yang bagi kita tampaknya rumit dan membingungkan, dengan menyadari bahwa kita tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Oleh karena itu, kita tidak boleh menghakimi apa pun sebelum waktunya. Kita harus percaya bahwa Allah telah membuat segala sesuatu indah. Segala sesuatu dikerjakan dengan sempurna, baik penciptaan, maupun penyelenggaraan, dan kita akan menyadarinya saat kita ada di kesudahannya. Akan tetapi, sampai saat itu datang, kita tidak dapat menilainya. Saat lukisan sedang digambar, dan rumah sedang dibangun, kita tidak melihat keindahan dalam keduanya. Namun, setelah sang artis menyelesaikan tahap akhir pekerjaannya, dan memberikan sentuhan terakhirnya, maka semua tampak sangat bagus. Sekarang kita hanya melihat bagian tengah pekerjaan Allah, tidak sejak awal (maka kita pasti melihat betapa menakjubkan rencana yang ditetapkan dalam pertimbangan ilahi), dan tidak juga bagian akhirnya, yang menyempurnakan tindakan-Nya (maka kita pasti melihat bahwa hasil akhirnya mulia). Karena itu kita harus menunggu sampai tirai dirobek, dan tidak mengecam penyelenggaraan Allah atau berlagak menghakiminya. Hal-hal yang tersembunyi bukanlah bagi kita. Kata-kata ini, Ia meletakkan dunia dalam hati mereka (TB LAI: Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka -” pen.), ditafsirkan berbeda-beda. 1. Beberapa penafsir mengartikannya sebagai alasan kita dapat memahami pekerjaan Allah lebih daripada yang kita pahami sekarang. Demikian menurut Tn. Pemble: "Allah tidak membiarkan diri-Nya tanpa kesaksian mengenai kebenaran, keadilan, dan keindahan-Nya dalam mengatur segala sesuatu, tetapi Dia menyatakannya, untuk dibaca di buku dunia, dan buku ini diletakkannya dalam hati manusia. Buku ini memberi manusia hasrat yang tinggi, dan kuasa, dalam takaran yang besar, untuk menelusuri dan memahami sejarah alam, dalam kaitannya dengan perkara-perkara manusia. Dengan demikian, jika saja manusia memberi diri sepenuhnya untuk mengamati dengan seksama bagaimana segala sesuatu berlangsung, dalam sebagian besar pengamatan itu, mereka akan mampu melihat penataan dan perencanaan yang mengagumkan." 2. Beberapa penafsir lain mengartikannya sebagai alasan kita tidak memahami pekerjaan Allah sebanyak yang seharusnya. Demikian menurut Uskup Reynolds: "Kita menempatkan dunia begitu besar dalam hati kita, begitu dikuasai oleh pikiran dan kekhawatiran akan perkara-perkara duniawi, dan begitu tersita dalam jerih lelah kita di dalamnya, sampai-sampai kita tidak mempunyai waktu maupun semangat untuk melihat keterlibatan Allah di dalamnya." Dunia bukan saja sudah menguasai hati, tetapi juga membentuk prasangka dalam hati terhadap keindahan karya Allah. III. Kita semestinya puas dengan bagian kita di dunia ini dan menerima dengan gembira kehendak Allah mengenai diri kita, serta menyesuaikan diri kita dengan bagian kita itu. Tak ada hal yang pasti dan selalu baik dalam perkara-perkara ini. Kebaikan yang ada dalam perkara-perkara ini diberitahukan kepada kita di sini (ay. 12-13). Kita harus melakukan yang terbaik dalam perkara-perkara ini, 1. Untuk manfaat orang lain. Satu-satunya yang baik dalam perkara-perkara ini adalah melakukan kebaikan (KJV) pada keluarga kita, pada sesama kita, pada orang miskin, pada orang banyak, untuk kepentingan masyarakat dan agama. Untuk apakah kita memiliki keberadaan kita, kemampuan dan harta kita, jika bukan supaya berguna bagi generasi kita? Salahlah kita jika berpikir kita lahir untuk diri kita sendiri. Tidak. Kepentingan kitalah untuk melakukan kebaikan. Dalam berbuat baiklah kita menemukan kebahagiaan yang sebenarnya, dan kebaikan yang dikerjakan dengan sepenuh hati adalah yang paling bermanfaat di masa depan dan akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang baik. Amatilah, untuk melakukan kebaikanlah hidup yang singkat dan tidak pasti ini. Kita hanya memiliki waktu yang singkat untuk melakukan kebaikan, dan karena itu kita perlu mempergunakan waktu yang ada. Dalam hidup inilah kita harus melakukannya, saat kita berada dalam masa pengujian dan percobaan untuk kehidupan berikutnya. Hidup setiap orang adalah kesempatan baginya untuk melakukan perkara yang menghasilkan upah baginya dalam kekekalan. 2. Untuk kesenangan kita sendiri. Marilah kita menyenangkan diri, bersuka-suka, menikmati kesenangan dalam segala jerih lelah kita, karena itu juga adalah pemberian Allah. Oleh karena itu, nikmatilah Allah di dalamnya, kecaplah cinta-Nya, bersyukurlah kepada-Nya, dan jadikanlah Dia pusat sukacita kita, makan minum untuk kemuliaan-Nya, menjadi hamba-Nya dengan sukacita, dalam kelimpahan akan segala-galanya. Jika segala sesuatu di dalam dunia ini begitu tidak pasti, bodohlah manusia yang dengan egois menyimpan di masa sekarang agar mereka dapat menumpuk semua untuk masa depan. Lebih baik bagi kita untuk hidup dengan gembira ria dan berguna dengan apa yang kita miliki, dan biarlah hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Anugerah dan hikmat untuk melakukan hal ini adalah pemberian Allah, suatu pemberian yang baik, yang menjadi puncak segala pemberian yang berasal dari kelimpahan karunia-Nya. IV. Kita harus benar-benar puas dengan semua pemberian yang berasal dari penyelenggaraan ilahi, baik yang berkaitan dengan diri kita sendiri maupun orang banyak, dan mengingatkan diri kita dengan semua itu. Sebab Allah, dalam segala sesuatu, melakukan perkara yang ditetapkan bagi kita berdasarkan keputusan kehendak-Nya. Kita di sini diberi tahu, 1. Bahwa pertimbangan ilahi tidak dapat diubah. Oleh sebab itu, berhikmatlah kita jika kita mengambil kebajikan darinya dengan menerima pertimbangan itu. Semua harus terjadi sesuai dengan kehendak Allah: Aku tahu (dan setiap orang yang mengetahui tentang Allah juga tahu) bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya (ay. 14). Tetapi Ia tidak pernah berubah, dan siapa dapat menghalangi Dia? Tindakan-tindakan-Nya tidak pernah dibatalkan, juga tidak pernah Dia membuat keputusan baru. Apa yang diputuskan-Nya pasti dikerjakan, seluruh dunia tidak dapat menghapuskan ataupun membatalkannya. Oleh sebab itu, kita harus berkata, "Biarlah terjadi menurut kehendak Allah," karena, betapa bertentangan pun dengan rancangan dan kepentingan kita, kehendak Allah adalah hikmat-Nya. 2. Bahwa pertimbangan ilahi tidak perlu diubah, karena tidak ada yang salah didalamnya, tidak ada yang harus diperbaiki. Jika kita dapat melihatnya sekaligus, kita akan melihat bahwa pertimbangan itu tak dapat ditambah, karena tidak ada yang kurang di dalamnya, dan tak dapat dikurangi, karena tidak ada yang tidak penting di dalamnya, atau dapat disisihkan. Seperti firman Allah, pekerjaan Allah juga sempurna dalam setiap jenisnya, dan lancanglah kita jika kita menambahi atau menguranginya (Ul. 4:2). Oleh sebab itu, tugas dan kepentingan kitalah untuk menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah. V. Kita harus belajar menggenapi tujuan akhir Allah dalam segala penetapan-Nya, yang secara umum untuk membuat kita menjadi saleh. Allah berbuat semuanya supaya manusia takut akan Dia, untuk meyakinkan mereka bahwa ada Allah di atas mereka yang memiliki kuasa dan kedaulatan atas mereka. Mereka dan segala jalan mereka ada dalam pengaturan-Nya. Waktu mereka dan semua peristiwa yang berkaitan dengan mereka ada dalam tangan-Nya. Oleh sebab itu, mereka harus mengarahkan mata mereka kepada-Nya, untuk menyembah dan mengagumi-Nya, mengakui Dia dalam segala jalan mereka, bertindak hati-hati dalam segala hal untuk menyenangkan-Nya, dan takut untuk menyakiti-Nya dalam perkara apa pun. Allah memang mengubah pemberian-pemberian-Nya, tetapi Dia tidak terubahkan dalam keputusan-keputusan-Nya, bukan untuk membingungkan kita, apalagi membuat kita putus asa, tetapi untuk mengajar kita akan kewajiban kita kepada-Nya dan untuk membawa kita melakukannya. Rancangan Allah dalam pemerintahan dunia adalah untuk mendukung dan memajukan agama di antara manusia. VI. Perubahan apa pun yang kita lihat atau rasakan di dalam dunia ini, kita harus mengakui ketetapan pengaturan Allah yang tidak dapat dilanggar. Matahari terbit dan terbenam, bulan membesar dan mengecil, padahal keduanya tetap seperti apa mereka sedari semulanya, dan perputarannya terjadi dengan cara yang sama sejak semula menurut hukum-hukum bagi langit. Demikian pula dengan penyelenggaraan Allah (ay. 15): Yang sekarang ada dulu sudah ada. Allah bukan baru saja menggunakan cara ini. Tidak, segala sesuatu selalu berubah-ubah dan tidak pasti seperti halnya sekarang, dan akan tetap demikian nanti: Yang akan ada sudah lama ada. Oleh sebab itu, kita berbicara tanpa pertimbangan bila kita berkata, "Sesungguhnya dunia ini tidak pernah seburuk sekarang," atau "Tidak ada orang yang pernah begitu dikecewakan seperti kita ini," atau "Waktu tidak akan pernah mengobati." Waktu dapat mengobati kita, setelah suatu waktu untuk berkabung, mungkin akan datang waktu untuk bersuka, tetapi hal itu tetap tergantung pada sifat yang berlaku untuk semua orang, pada nasib yang menimpa semua orang. Dunia ini, seperti yang sudah-sudah, memang dan akan terus berubah-ubah. Allah mencari yang sudah lalu, artinya Dia mengulangi yang pernah dilakukan-Nya dan menghadapi kita tidak ubahnya Dia biasa berurusan dengan orang benar. Demi kepentingan kitakah bumi harus menjadi sunyi, dan gunung batu bergeser dari tempatnya? Tidak ada perubahan yang mengenai kita, ataupun pencobaan yang menimpa kita yang melebih kekuatan manusia. Janganlah kita menjadi sombong dan merasa aman dalam kemakmuran, sebab Allah dapat memanggil kesusahan masa lalu, dan memerintahkannya untuk membekuk kita dan memusnahkan kegirangan kita (Mzm. 30:8). Janganlah juga kita putus asa dalam kesengsaraan, sebab Allah dapat mengembalikan penghiburan masa lalu, seperti yang dilakukan-Nya pada Ayub. Kita dapat menerapkan prinsip ini pada tindakan-tindakan kita di masa lalu, dan pada perilaku kita saat perubahan-perubahan itu terjadi, yaitu perilaku yang memengaruhi kita. Allah akan meminta pertanggungjawaban kita untuk hal-hal yang sudah lalu. Oleh sebab itu, ketika kita memasuki keadaan yang baru, kita harus menghakimi diri kita sendiri akan dosa-dosa kita di keadaan sebelumnya, berhasil atau gagal. Ep. Yakobus 4:13-17 Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan 4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", 4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." 4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. 4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. Penjelasan: * Kita diperingatkan supaya tidak dengan lancang yakin akan kelanjutan hidup kita, dan supaya tidak membuat rencana-rencana atas dasar kelancangan itu dengan keyakinan bahwa kita akan berhasil (ay. 13-14). Rasul Yakobus, setelah menegur orang-orang yang menghakimi dan mencela hukum, sekarang menegur orang-orang yang tidak ambil peduli terhadap Pemeliharaan ilahi: Jadi sekarang, yaitu perkataan dari bahasa Yunani yang dapat diartikan, lihat sekarang, atau “Lihat, dan renungkanlah, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung.’ Renungkanlah sejenak cara berpikir dan berbicara seperti ini, tanyakan pada dirimu sendiri bagaimana mempertanggungjawabkannya.” Merenungkan dengan sungguh-sungguh perkataan dan perbuatan kita akan menunjukkan kepada kita banyak kejahatan yang, karena ketidaksengajaan, cenderung kita lakukan dan terus kita lakukan. Ada sebagian orang yang dulu, dan sekarang pun masih sangat banyak, berkata, kami akan berangkat ke kota anu, dan berbuat ini dan itu, untuk jangka waktu tertentu, tanpa dengan betul-betul peduli terhadap keputusan-keputusan Pemeliharaan ilahi. Perhatikanlah di sini, 1. Betapa mudahnya orang-orang duniawi yang memiliki berbagai macam rencana untuk mengabaikan Allah dalam rancangan mereka. Apabila hati orang terpatri pada pada hal-hal duniawi, maka hal-hal duniawi itu memiliki kuasa yang mengherankan sehingga hati dibuat asyik membayangkan impian-impiannya sendiri. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap niat atau keinginan untuk terus mengejar apa saja di dunia bawah sini. 2. Betapa kebahagiaan duniawi itu sebagian besarnya terdapat pada apa yang dijanjikan orang terlebih dulu pada diri mereka sendiri. Kepala mereka penuh dengan penglihatan-penglihatan yang indah, mengenai apa yang akan mereka lakukan, akan menjadi apa mereka, dan apa yang akan mereka nikmati di masa yang akan datang, padahal mereka tidak bisa pasti tentang waktunya atau tentang keuntungan apa saja yang sudah mereka janjikan pada diri sendiri. Oleh karena itu, perhatikanlah, 3. Betapa sia-sianya mencari kebaikan apa saja di masa depan tanpa persetujuan dari Allah Sang Pemelihara. Kami akan berangkat ke kota anu (kata mereka), mungkin ke Antiokhia, atau ke Damaskus, atau ke Aleksandria, yang pada saat itu merupakan kota-kota besar yang banyak dilalui. Tetapi bagaimana mereka bisa yakin, ketika berangkat, bahwa mereka akan sampai di kota-kota ini? Bisa saja ada suatu hal yang menghentikan jalan mereka, atau memanggil mereka untuk pergi ke tempat lain, atau membuat tali kehidupan terputus. Banyak orang yang memulai suatu perjalanan pada akhirnya pergi ke rumah mereka yang abadi, tanpa pernah mencapai tujuan perjalanan mereka itu. Tetapi, kalaupun misalnya mereka sampai di kota yang ingin mereka kunjungi, bagaimana mereka tahu bahwa mereka akan terus tinggal di sana? Bisa saja terjadi suatu hal yang membuat mereka harus kembali, atau memanggil mereka dari situ, dan mempersingkat masa tinggal mereka. Atau sekiranya mereka dapat tinggal tetap seperti yang mereka rencanakan, mereka tidak bisa yakin bahwa mereka dapat berjual beli di sana. Bisa saja mereka terbaring sakit selama di sana, atau tidak bertemu dengan orang-orang yang mereka harapkan untuk berjual beli dengan mereka. Bahkan, sekiranya mereka sampai di kota itu, dan terus tinggal di sana selama setahun, dan berjual beli, bisa saja mereka tidak mendapat untung. Mendapat untung di dunia ini merupakan suatu hal yang, kalaupun berhasil, tidak pasti, dan bisa saja mereka membuat penawaran yang lebih merugikan daripada menguntungkan. Kemudian, selain semua hal ini, kerapuhan, kesingkatan, dan ketidakpastian hidup haruslah menegur kesombongan dan keangkuhan yang lancang dari para pembuat rencana untuk masa depan itu: Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (ay. 14). Allah dengan bijak membiarkan kita dalam kegelapan mengenai peristiwa-peristiwa masa depan, dan bahkan tentang lamanya kehidupan itu sendiri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, kita mungkin tahu apa yang berniat kita lakukan dan ingin menjadi apa kita, tetapi seribu satu hal bisa saja terjadi untuk menghalang-halangi kita. Kita tidak mempunyai kepastian akan hidup itu sendiri, karena hidup itu seperti uap, sesuatu yang kelihatan, tetapi tidak padat atau pasti, mudah terpencar dan lenyap. Kita bisa menetapkan jam dan menit terbit dan terbenamnya matahari esok hari, tetapi kita tidak bisa menetapkan waktu tertentu kapan uap terpencar. Seperti itulah hidup kita: Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Hidup itu lenyap jika menyangkut dunia ini, tetapi ada kehidupan yang akan terus berlangsung di dunia lain. Dan karena hidup di sini sedemikian tidak pasti, sudah sepatutnya kita semua mempersiapkan diri dan menyimpan bekal untuk hidup yang akan datang. III. Kita diajar untuk senantiasa menjaga perasaan bergantung pada kehendak Allah untuk kehidupan, dan untuk semua hal yang kita lakukan dan nikmati di dalamnya: Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (ay. 15). Rasul Yakobus, setelah menegur mereka atas apa yang salah, sekarang mengarahkan mereka bagaimana men jadi dan berbuat lebih baik: “Kamu harus mengatakannya di dalam hatimu sepanjang waktu, dan dengan lidahmu pada kesempatan-kesempatan yang cocok, terutama dalam doa-doa dan ibadah sehari-hari, bahwa jika Tuhan menghendaki, dan jika Ia mau mengakui dan memberkatimu, kamu mempunyai rencana ini dan itu untuk kamu selesaikan.” Ini harus dikatakan bukan dengan cara yang seenaknya, atau resmi, atau mengikuti kebiasaan, melainkan dengan benar-benar memikirkan apa yang kita katakan, sehingga kita hormat dan sungguh-sungguh dalam apa yang kita katakan. Sungguh baik mengatakan ini ketika berurusan dengan orang lain, tetapi kita mutlak dituntut untuk mengatakan ini kepada diri kita sendiri dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. Syn Theō -” dengan izin dan berkat Allah, diucapkan oleh orang-orang Yunani pada setiap awal usaha. 1. Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup. Kita harus ingat bahwa waktu kita tidak berada di tangan kita sendiri, tetapi bergantung pada Allah. Kita hidup selama Allah menentukannya, dan dalam keadaan-keadaan yang ditetapkan Allah, dan karena itu kita harus tunduk kepada-Nya, bahkan menyangkut hidup itu sendiri. Barulah kemudian, 2. Jika Tuhan menghendakinya, kami akan berbuat ini dan itu. Semua tindakan dan rancangan kita berada di bawah kendali Sorga. Kepala kita bisa saja penuh dengan berbagai pemikiran dan rencana. Kita bisa merencanakan ini dan itu bagi diri kita sendiri, atau keluarga kita, atau sahabat-sahabat kita. Tetapi adakalanya Allah Sang Pemelihara menghancurkan segala ukuran yang kita tetapkan, dan mengacaukan rancangan-rancangan kita. Oleh karena itu, baik keputusan-keputusan untuk bertindak maupun tindakan yang kita lakukan haruslah sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Semua yang kita rancangkan dan kita lakukan haruslah dibuat dengan kebergantungan dan keberserahan kepada Allah. IV. Kita diminta untuk menghindari bualan yang sia-sia, dan untuk memandangnya bukan hanya sebagai suatu hal yang lemah, melainkan juga sangat jahat. Kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah (ay. 16). Mereka menjanjikan bagi diri mereka sendiri kehidupan dan kemakmuran, dan perkara-perkara besar di dunia, tanpa sedikit pun memberikan perhatian yang layak kepada Allah. Lalu mereka bermegah dengan semuanya ini. Begitulah sukacita orang-orang duniawi, memegahkan semua keberhasilan mereka, bahkan sering kali memegahkan rencana-rencana mereka sebelum mereka tahu apakah itu akan berhasil atau tidak. Begitu biasa orang bermegah dengan hal-hal yang atasnya mereka tidak berhak. Yang benar adalah bahwa mereka bermegah karena kesombongan dan kelancangan mereka sendiri! Kemegahan yang demikian (tegas Rasul Yakobus) adalah salah. Kemegahan seperti itu bodoh dan mencelakakan. Jika orang memegahkan hal-hal duniawi, dan rancangan yang mereka cita-citakan, padahal seharusnya mereka memperhatikan kewajiban-kewajiban sederhana yang ada di depan mata (yang diuraikan dalam ay. 8-10), maka itu adalah suatu hal yang sangat jahat. Itu dosa besar dalam pandangan Allah, dan akan membawa kekecewaan besar bagi diri mereka sendiri, serta menghancurkan mereka pada akhirnya. Jika kita bersukacita di dalam Allah bahwa waktu kita berada di tanganNya, bahwa semua peristiwa ada dalam genggaman-Nya, dan bahwa Ia adalah Allah yang mengikat perjanjian dengan kita, maka sukacita ini baik. Dengan begitu, hikmat, kuasa, dan pemeliharaan Allah akan membuat segala sesuatu bekerja bersama-sama demi kebaikan kita. Akan tetapi, jika kita bersukacita dalam keyakinan diri dan kesombongan kita yang sia-sia, maka sukacita ini salah. Ini merupakan suatu kejahatan yang harus berusaha dihindari oleh semua orang bijak dan baik. V. Kita diajar, dalam seluruh perilaku kita, untuk bertindak sesuai dengan apa yang kita yakini, dan entah kita berhadapan dengan Allah atau manusia, kita harus memastikan bahwa kita tidak pernah melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang kita sendiri ketahui (ay 17): Jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. Dosa itu menjadi lebih berat. Itu berarti berdosa di depan saksi. Itu juga berarti memiliki saksi yang paling memberatkan melawan hati nurani sendiri. Cermatilah, 1. Hal ini berhubungan langsung dengan pelajaran sederhana yang mengatakan, jika Tuhan menghendakinya, kami akan berbuat ini dan itu. Mungkin mereka siap berkata, “Ini sungguh jelas sekali. Siapa yang tidak tahu bahwa kita semua ber gantung pada Allah yang Mahakuasa untuk hidup dan nafas dan segala sesuatu?” Maka dari itu ingatlah, jika memang kamu tahu ini, setiap kali kamu melakukan hal yang tidak sesuai dengan itu dan tidak bergantung kepada-Nya, bahwa jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa, maka dosanya itu lebih berat. 2. Kelalaian, seperti halnya pelanggaran, adalah dosa yang akan dihakimi. Orang yang tidak melakukan kebaikan yang dia ketahui harus dilakukannya, seperti juga orang yang melakukan kejahatan yang dia ketahui tidak boleh dilakukannya, akan dihukum. Oleh karena itu, marilah kita betul-betul memastikan bahwa hati nurani kita mendapat pengetahuan yang benar, maka barulah kita bisa mematuhinya senantiasa dengan setia. Sebab, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah. Tetapi jika kita berkata bahwa kita melihat, namun tidak bertindak sesuai dengan apa yang kita lihat, maka tetaplah dosa kita (Yoh. 9:41).
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
NEXT: RABU , 03 JANUARI 2024 ALLAH MENGASIHIMU - BACAAN PAGI (MATIUS 4:18-22) BACAAN MALAM (GALATIA 3:11-14) Minggu, 26 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 26 April 2026 - HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAK-SORAI - Kisah Rasul 2:22-28 Minggu, 19 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 19 April 2026 - Marlas Roha di Bagasan Tuhan (Bersukacita dalam Tuhan) - Habakuk 3:10-19
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |