f Renungan HKBP Minggu, 21 Januari 2024 - DEBATA DO HAPOSANTA - MAZMUR 62:6-13 - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
View : 1111 kali
MAZMUR 62:6-13
62:5 (#62-#6) Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. 62:6 (#62-#7) Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. 62:7 (#62-#8) Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. 62:8 (#62-#9) Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela 62:9 (#62-#10) Hanya angin saja orang-orang yang hina, suatu dusta saja orang-orang yang mulia. Pada neraca mereka naik ke atas, mereka sekalian lebih ringan dari pada angin. 62:10 (#62-#11) Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya. 62:11 (#62-#12) Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, 62:12 (#62-#13) dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Penjelasan:
* Ia sendiri terdorong untuk terus menantikan Allah (ay. 6-8): Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang (kjv: Jiwaku, nantikanlah Allah saja -” pen.). Perhatikanlah, kebaikan yang kita lakukan haruslah menggugah kita untuk terus melakukan kebaikan itu, dan untuk semakin banyak lagi melakukannya. Selayaknyalah kita berbuat demikian sebagai orang yang oleh anugerah telah mendapat penghiburan dan keuntungan kebaikan yang telah kita terima. Kita telah mendapati bahwa menantikan Allah itu baik, dan oleh sebab itu kita harus memerintahkan jiwa kita, dan bahkan membujuknya, untuk terus bergantung kepada Allah supaya hati kita bisa selalu tenang. Sebelumnya Daud berkata (ay. 2), “Dari pada-Nyalah keselamatanku,” sekarang ia berkata (ay. 6), “dari pada-Nyalah harapanku.” Keselamatannya merupakan hal utama yang diharapkannya. Biarlah ia mendapatkannya dari Allah, maka ia tidak akan berharap apa-apa lagi. Karena keselamatannya datang dari Allah, maka segala hal lain yang diharapkannya hanyalah dari Allah. “Jika Allah menyelamatkan jiwaku, maka biarlah Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya untukku dalam segala hal lain. Karena itu, aku mau menerima segala pengaturan-Nya, karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku” (Flp. 1:19). Ia mengulangi (ay. 7) apa yang telah dikatakannya mengenai Allah (ay. 3), sebagai orang yang tidak saja yakin akan perkataannya itu tetapi juga yang luar biasa senang dengannya, dan yang banyak merenungkannya: “Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tahu Dia begitu.” Tetapi sebelumnya ia menambahkan, “aku tidak akan banyak goyah” (kjv), sedangkan di sini, “aku tidak akan goyah sama sekali” (kjv). Perhatikanlah, semakin banyak iman diwujudkan dalam tindakan, semakin hidup iman itu jadinya. Crescit eundo -” Semakin bertumbuh dengan dilatih. Semakin sering kita merenungkan sifat-sifat dan janji-janji Allah, dan pengalaman kita sendiri, semakin kuat kita menghadapi ketakutan-ketakutan kita. Dan, seperti Haman, apabila ketakutan-ketakutan itu sudah mulai gugur, maka semua ketakutan itu akan berguguran di hadapan kita, dan kita akan dijagai dengan damai sejahtera (Yes. 26:3). Sama seperti iman Daud kepada Allah bertumbuh sehingga mencapai taraf yang kokoh dan tidak goyah, demikian pula sukacitanya di dalam Allah bertumbuh dengan sendirinya menjadi sorak-sorai yang kudus (ay. 8): Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku. Di mana ada keselamatan kita, di situ pula ada kemuliaan kita. Sebab, apakah keselamatan kita itu selain kemuliaan yang akan diungkapkan kelak, yaitu kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya? Dan dalam hal inilah kita harus bermegah. Di dalam Allah, marilah kita bermegah sepanjang hari. “Gunung batu kekuatanku (maksudnya, gunung batuku yang kuat, yang di atasnya aku berpijak dan membangun segala harapanku), dan tempat perlindunganku, yang kepadanya aku berlari mencari tempat perlindungan apabila aku dikejar-kejar, ialah Allah, dan Dia saja. Tiada yang lain yang aku tuju, tiada yang lain yang aku percayai. Semakin banyak aku merenungkannya, semakin puas aku jadinya dengan pilihan yang sudah kubuat.” Demikianlah ia bersenang-senang karena TUHAN, dan melintasi puncak bukit-bukit di bumi (Yes. 58:14).

* Nasihat untuk Percaya kepada Allah (62:9-13)
Di sini kita mendapati nasihat Daud kepada orang lain untuk percaya kepada Allah dan menantikan Dia, seperti yang telah diperbuatnya. Orang yang telah mendapatkan penghiburan di jalan-jalan Allah bagi dirinya sendiri pasti akan mengundang orang lain untuk berjalan di jalan-jalan itu juga. Di dalam Allah ada banyak hal yang dapat dinikmati oleh semua orang kudus, dan kita tidak akan pernah kekurangan sekalipun orang lain turut berbagi di dalamnya.

I. Ia menasihati semua orang untuk menantikan Allah, seperti yang diperbuatnya (ay. 9).
        Amatilah:
        1. Kepada siapa dia memberikan nasihat yang baik ini: Hai umat(maksudnya, sekalian umat). Siapa saja boleh datang untuk percaya kepada Allah, sebab Dia adalah kepercayaan segala ujung bumi ( 65:6). Hai umat Israel (begitulah dalam bahasa Aramnya). Teristimewa mereka ini diajak untuk ikut percaya kepada Allah, sebab Dia adalah Allah Israel. Terlebih lagi, bukankah umat itu harus mencari Allah mereka sendiri?
        2. Nasihat baik apa yang diberikannya.
            (1) Untuk mengandalkan Allah: “Percayalah kepada-Nya. Berurusanlah dengan Dia, dan relakanlah dirimu untuk berurusan dengan Dia atas dasar kepercayaan. Bergantunglah kepada-Nya untuk melakukan segala sesuatu bagimu, dengan mengandalkan hikmat dan kebaikan-Nya, kuasa dan janji-Nya, serta pemeliharaan dan anugerah-Nya. Lakukanlah ini setiap waktu.” Kita harus membiasakan diri untuk selalu percaya kepada Allah, harus menjalani hidup dengan bergantung kepada-Nya, harus sungguh-sungguh percaya kepada-Nya setiap waktu, sehingga tak ada sedikit pun waktu yang tersisa untuk percaya kepada diri kita sendiri, atau kepada makhluk mana pun, tetapi hanya kepada Dia. Dan kita harus benar-benar yakin kepada Allah di segala kesempatan, percaya kepada-Nya setiap kali menghadapi situasi yang gawat, untuk membimbing kita apabila kita dilanda keraguan, untuk melindungi kita apabila kita terancam bahaya, untuk memberikan persediaan kepada kita apabila kita kekurangan, dan untuk menguatkan kita untuk berkata-kata yang baik dan melakukan yang baik.
            (2) Untuk bercakap-cakap dengan Allah: Curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya. Ungkapan ini tampak merujuk pada air persembahan yang dicurahkan di hadapan Tuhan. Apabila kita mengaku dosa dan bertobat dari dosa kita itu, maka hati kita tercurah di hadapan Tuhan (1 Sam. 7:6). Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah doa, yang jika dijalankan seperti seharusnya, merupakan pencurahan hati di hadapan Allah. Kita harus menumpahkan keluhan-keluhan kita di hadapan-Nya, mempersembahkan keinginan-keinginan kita kepada-Nya dengan segala kebebasan yang penuh dengan kerendahan hati, dan kemudian berserah sepenuhnya pada ketentuan-Nya, dengan sabar menundukkan kehendak-kehendak kita pada kehendak-Nya. Inilah yang dinamakan mencurahkan isi hati kita.
        3. Dorongan apa yang diberikannya kepada kita agar menuruti nasihat yang baik ini: Allah ialah tempat perlindungan kita, bukan hanya tempat perlindunganku (ay. 8), melainkan juga tempat perlindungan kita semua, bahkan siapa saja yang ingin berlari kepada-Nya dan berlindung di dalam Dia.


II. Ia memperingatkan kita untuk waspada agar tidak salah menempatkan keyakinan kita, karena, seperti dalam perkara-perkara lainnya juga, hati itu licik (Yer. 17:5-9).

Orang yang benar-benar percaya kepada Allah (ay. 2) akan percaya kepada-Nya saja (ay. 6).
        1. Janganlah kita percaya kepada manusia dunia ini, sebab mereka hanyalah buluh yang patah (ay. 10): Hanya angin saja orang-orang yang hina, yang sama sekali tidak mampu menolong kita, dan suatu dusta saja orang-orang yang mulia, yang akan memperdaya kita jika kita percaya kepada mereka. Orang akan menyangka bahwa orang-orang hina dapat diandalkan karena jumlah mereka banyak, karena tubuh mereka kuat, dan karena anggapan mereka bisa melayani kita. Orang juga akan menyangka bawah orang yang mulia dapat diandalkan karena hikmat, kuasa, dan pengaruh mereka. Namun, baik orang hina maupun orang mulia janganlah kita andalkan. Dari antara keduanya, orang yang mulia disebutkan sebagai orang yang lebih suka menipu, sebab mereka adalah dusta, yang menunjukkan bukan hanya kesia-siaan melainkan juga pelanggaran. Biasanya kita tidak terlalu ingin bergantung kepada orang yang hina dibandingkan kepada raja dan panglima bala tentara, karena penampilan orang-orang yang terakhir ini lebih membuat kita tergoda untuk percaya kepada mereka. Karena percaya kepada penampilan mereka itu, makanya bila mereka mengecewakan kita, tampak jelaslah kebohongan mereka itu. Sebaliknya, yang sebaiknya kita lakukan adalah, timbanglah mereka dengan neraca, neraca Kitab Suci, atau lebih tepatnya, cobailah mereka dulu, dan lihatlah seperti apa mereka itu, apakah mereka akan memenuhi harapan-harapanmu atau tidak, maka engkau akan menuliskan Tekél pada mereka. Mereka itu sama-sama lebih ringan dari pada angin. Kita tidak boleh bergantung pada hikmat mereka untuk menasihati kita, pada kuasa mereka untuk bertindak bagi kita, pada kehendak baik mereka kepada kita. Demikian juga, janganlah bergantung pada janji-janji mereka, melainkan pada janji Allah saja. Jangan mau tunduk pada apa saja, selain kepada Allah saja.
        2. Janganlah kita percaya kepada kekayaan dunia ini. Janganlah kekayaan itu dijadikan sebagai kota benteng kita (ay. 11): Janganlah percaya kepada pemerasan, maksudnya, kepada kekayaan yang diperoleh melalui penipuan dan kekerasan, karena di mana ada banyak kekayaan, di situ biasanya terdapat kekayaan yang diperoleh dengan mengeruk atau mengumpulkan uang dengan cara menipu (Juruselamat kita menyebutnya Mamon yang tidak jujur, Luk. 16:9), atau percaya kepada kiat-kiat untuk mendapatkan kekayaan. “Janganlah menyangka, bahwa karena sudah beroleh kelimpahan atau sedang mengumpulkannya, engkau sudah aman. Sebab ini berarti menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan(kjv: sebab kelimpahan ini akan menjadi sia-sia jika dirampas -” pen.), maksudnya, ketika engkau menyangka sedang menipu orang lain, sebenarnya engkau menipu dirimu sendiri.” Barangsiapa yang percaya akan kekayaannya yang melimpah, berlindung pada tindakan penghancurannya ( 52:9); dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal (Yer. 17:11). Janganlah ada yang begitu bodoh sehingga berpikir bahwa ia bisa menyokong dirinya dengan perbuatan dosanya, apalagi sampai menyokong diri di dalam dosa kekayaan ini. Bahkan, karena susah untuk mendapatkan kekayaan, kita harus berjaga-jaga agar jangan sampai mencurahkan perhatian kita secara berlebihan kepadanya, supaya jangan kita percaya kepadanya apabila harta makin bertambah, meskipun kita mendapatkannya dengan cara-cara yang sah dan jujur. “Janganlah hatimu melekat padanya. Janganlah hatimu sangat menginginkannya, janganlah memakainya sebagai tempat kepuasan bagi jiwamu, atau percaya kepadanya sebagai bagianmu. Janganlah terlampau mengkhawatirkannya, janganlah menilai dirimu dan orang lain berdasarkan semua itu. Janganlah jadikan harta dunia ini sebagai kebaikan utamamu dan tujuan tertinggimu. Pendeknya, janganlah memberhalakannya.” Inilah bahaya yang paling mengancam kita apabila harta makin bertambah. Ketika tanah orang kaya membuahkan hasil berlimpah, ia berkata kepada jiwanya, Jiwaku beristirahatlah dan tenangkanlah dirimu dengan semua ini (Luk. 12:19). Dunia yang tersenyumlah yang paling besar kemungkinannya akan menjauhkan hati dari Allah. Padahal hanya kepada-Nya hati itu harus diarahkan.


III. Ia memberikan alasan yang sangat baik mengapa kita harus menjadikan Allah sebagai sumber keyakinan kita, yaitu karena Dia adalah Allah yang mahakuasa, mahapengasih, dan mahabenar (ay. 12-13). Hal ini sangatlah diyakininya, dan dia ingin agar kita juga meyakininya: Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar, maksudnya,

        1. “Allah telah berfirman, dan aku telah mendengarnya, satu kali, bahkan dua kali. Ia telah berfirman, dan aku telah mendengarnya dengan terang akal budi. Akal budiku dengan mudah menyimpulkan kebenaran apa yang difirmankan-Nya dari kodratnya sebagai Keberadaan yang mahasempurna, dan dari karya-karya ciptaan-Nya ataupun pemeliharaan-Nya. Ia telah berfirman, dan aku telah mendengarnya satu kali, bahkan dua kali (maksudnya berkali-kali), melalui peristiwa-peristiwa yang secara khusus menyangkut aku. Ia telah berfirman dan aku telah mendengarnya melalui terang pewahyuan, melalui mimpi-mimpi dan khayal malam (Ayb. 4:13), melalui penampakan diri-Nya yang mulia di atas Gunung Sinai” (yang menurut sebagian orang secara khusus dirujuk oleh ayat ini), “dan dengan firman tertulis.” Sudah sering kali Allah memberitahu kita betapa Allah yang agung dan akbarnya Dia itu, jadi kita pun harus sering juga memperhatikan apa yang telah diberitahukan-Nya kepada kita.

Atau,
        2. “Walaupun Allah berfirman satu kali, aku mendengarnya dua kali, mendengarnya dengan tekun, bukan hanya dengan telinga jasmaniku melainkan juga dengan jiwa dan pikiranku.” Kepada sebagian orang, Allah berfirman dua kali, karena mereka tidak akan mendengarnya pada kali pertama. Tetapi kepada sebagian yang lain, Dia cukup berfirman satu kali, dan mereka akan mendengarnya dua kali (bdk. Ayb. 33:14). Nah, apakah gerangan yang difirmankan dan didengarkan itu?
            (1) Bahwa Allah yang dengan-Nya kita harus berurusan adalah Allah yang mahakuasa. Kuasa dari Allah asalnya. Dia mahaperkasa, dan dapat berbuat apa saja. Bagi-Nya tidak ada yang mustahil. Segala kuasa yang ada pada semua makhluk berasal dari-Nya, bergantung pada-Nya, dan digunakan oleh-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Milik-Nyalah kuasa, dan kepada-Nya-lah kita harus mengembalikannya. Ini alasan yang baik mengapa kita harus percaya kepada-Nya setiap waktu, dan hidup dengan terus bergantung pada-Nya. Sebab, Dia mampu melakukan segala sesuatu yang sudah kita percayakan kepada-Nya untuk dilakukan-Nya bagi kita.
            (2) Bahwa Dia adalah Allah yang mahabaik. Di sini sang pemazmur mengarahkan perkataannya kepada Allah sendiri, seperti orang yang ingin memberi-Nya kemuliaan atas kebaikan-Nya, yang merupakan kemuliaan-Nya sendiri: Dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan. Allah bukan saja yang teragung tetapi juga yang terbaik dari segala yang ada. Kasih setia ada pada-Nya ( 130:4, 7). Dia penuh kasih setia tanpa ada bandingannya dan hanya Dia saja yang demikian. Dia adalah Bapa yang penuh belas kasihan (2 Kor. 1:3). Ini merupakan alasan selanjutnya mengapa kita harus percaya kepada-Nya, dan ini menghapus segala keberatan atas keberdosaan dan ketidaklayakan kita. Meskipun tidak layak mendapatkan apa-apa selain murka-Nya, kita dapat berharap akan segala kebaikan dari kasih setia-Nya, yang meliputi seluruh karya-Nya.
            (3) Bahwa Dia tidak pernah, dan tidak akan pernah, berbuat salah terhadap satu pun dari makhluk-makhluk-Nya: Sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya. Walaupun tidak selalu melakukan hal ini secara kasat mata di dunia ini, Dia akan melakukannya pada hari pembalasan. Tidak ada satu pun pelayanan yang diberikan kepada-Nya yang tidak akan diberikan imbalan, dan juga tidak satu pun penghinaan yang ditujukan kepada-Nya yang akan dibiarkan tidak dihukum, kecuali bila pelakunya bertobat. Dengan ini tampak bahwa kuasa dan kasih setia berasal dari-Nya. Seandainya Dia bukan Allah yang berkuasa, maka akan ada orang-orang berdosa yang menjadi terlalu tangguh untuk dihukum. Dan seandainya Dia bukan Allah yang berbelas kasihan, maka akan ada pelayanan-pelayanan yang terlampau tidak berharga untuk diberikan imbalan. Tampaknya ini terutama berbicara tentang keadilan Allah dalam memberikan penghakiman atas seruan-seruan yang diajukan kepada-Nya oleh orang-orang tidak bersalah yang tertindas. Ia pasti akan menghakimi sesuai dengan kebenaran, dalam memberikan imbalan kepada yang ditindas, dan dalam membalaskan orang-orang yang telah melukai mereka (1 Raj. 8:32). Oleh sebab itu, biarlah orang-orang yang tertindas menyerahkan perkara mereka kepada-Nya, dan mempercayai Dia untuk membela perkara mereka itu.













NEXT:
Renungan HKBP RABU 24 JANUARI 2024 - ALLAH MELIHAT DAN MENJAGAMU - BACAAN PAGI (YOHANES 8:35-40) - BACAAN MALAM (1 TESALONIKA 5:19-22)


PREV:
Renungan HKBP SABTU, 20 JANUARI 2024 - BERSORAK MENYANYIKAN KESELAMATAN TUHAN - BACAAN PAGI (LUKAS 6:6-11) BACAAN MALAM (2 KORINTUS 4:7-12)


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de