f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Renungan HKBP 2024 Renungan HKBP Minggu, 18 Februari 2024 - TUHAN MENUNJUKKAN JALAN KEPADAKU - MAZMUR 25:1-10 - MINGGU INVOCAVIT Mulai Maret kita akan menghadapi masa-masa sulit, Namun Percayalah dan Berharaplah kepada Tuhan. MINGGU INVOCAVIT, 18 FEBRUARI 2024 TUHAN MENUNJUKKAN JALAN KEPADAKU BE. 242:1-2 RAHIS JALA MAOL Rahis jala maol tutu Dalan tu banuaginjang Na martua situtu Angka na disi mardalan Mangihuthon Jesus i Sahat tu ujungna i. Upa na sumurung i Dapot na burju marroha Maralohon dosa i Dohot hisap ni dagingna Na tongtong mangkirim di Sanggul hamonangan i EPISTEL (MARKUS 10:46-52) EVANGELIUM (MAZMUR 25:1-10) MAZMUR 25:1-10 Doa mohon ampun dan perlindungan 25:1 Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; 25:2 Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. 25:3 Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya. 25:4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 25:5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. 25:6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. 25:7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. 25:8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. 25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. 25:10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya. Penjelasan: * Permohonan-permohonan yang Sungguh-sungguh (25:1-7) Di sini kita mendapati pengakuan-pengakuan Daud tentang keinginan hatinya terhadap Allah dan kebergantungannya pada-Nya. Ia sering kali memulai mazmurnya dengan pengakuan-pengakuan seperti itu, bukan untuk menggerakkan Allah melainkan untuk menggerakkan dirinya sendiri, dan untuk bersungguh-sungguh menjalani pengakuan-pengakuan itu. I. Ia memberikan pengakuan akan keinginan hatinya terhadap Allah: Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku (ay. 1). Dalam mazmur sebelumnya (ay. 4), digambarkan sifat orang benar, yaitu bahwa ia tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan (kjv: tidak mengangkat jiwanya kepada kesia-siaan -”pen.). Sebaliknya, pintu-pintu yang berabad-abad dipanggil untuk mengangkat kepala mereka supaya masuk Raja Kemuliaan(ay. 7). Sifat inilah, panggilan inilah, yang dijawab Daud di sini, “Tuhan, kuangkat jiwaku, bukan kepada kesia-siaan, melainkan kepada-Mu.” Perhatikanlah, saat menyembah Allah kita harus mengangkat jiwa kita kepada-Nya. Doa adalah mengangkat jiwa kepada Allah. Allah harus dipandang dan jiwa harus digerakkan. Ungkapan sursum corda -” angkatlah hatimu, dulu kala digunakan sebagai panggilan untuk beribadah. Dengan celaan kudus terhadap dunia dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, serta dengan pikiran teguh dan iman yang giat, kita harus mengarahkan pandangan kita kepada Allah. Dengan begitu, kita boleh mengungkapkan segala keinginan hati kita kepada-Nya sebagai sumber kebahagiaan kita. II. Ia memberikan pengakuan akan kebergantungannya pada Allah dan memohon agar ia mendapat keuntungan dan penghiburan dari kebergantungannya itu (ay. 2): Allahku, kepada-Mu aku percaya. Hati nuraninya bersaksi bagi dia bahwa dia tidak menaruh percaya kepada dirinya sendiri atau kepada ciptaan mana pun, dan bahwa kepercayaannya kepada Allah atau kepada kuasa dan janji-Nya tidaklah berkurang. Hatinya senang dengan pengakuan imannya kepada Allah ini. Karena ia mempercayakan dirinya kepada Allah, dia menjadi tenang, sangat puas, dan bebas dari rasa takut terhadap bahaya. Pengakuan percaya itu ia serukan kepada Allah, yang selalu merasa terhormat untuk menolong orang-orang yang menghormati Dia dengan kepercayaan mereka kepada-Nya. Apa yang diandalkan manusia pasti akan membawa entah sukacita atau rasa malu kepada mereka, sesuai dengan apa yang terbukti nanti. Nah, di sini Daud, dengan penuh iman, berdoa dengan sungguh-sungguh, 1. Agar malu jangan sampai menimpanya: “Janganlah kiranya aku mendapat malu karena kepercayaanku kepada-Mu. Janganlah kiranya kepercayaanku goyah oleh karena ketakutan-ketakutan yang melanda, dan janganlah kiranya aku dikecewakan dengan apa yang kuandalkan daripada-Mu. Sebaliknya, Tuhan, peliharalah apa yang telah kupercayakan kepada-Mu.” Perhatikanlah, jika kita menjadikan kepercayaan kita kepada Allah sebagai penopang kita, maka kita tidak akan mendapat malu. Dan, jika kita beria-ria di dalam Dia, maka musuh-musuh kita tidak akan beria-ria atas kita, seperti yang akan mereka lakukan seandainya kita sekarang tenggelam dalam ketakutan-ketakutan kita, atau segala harapan kita kandas pada akhirnya. 2. Agar malu jangan sampai menimpa siapa saja yang percaya kepada Allah. Semua orang kudus telah memperoleh iman berharga yang sama, dan karena itu, tanpa diragukan lagi, pada akhirnya mereka akan sama-sama berhasil. Dengan demikian, persekutuan orang-orang kudus tetap dijaga, bahkan melalui saling doa satu bagi yang lainnya di antara mereka. Orang-orang kudus yang sejati akan membuat permohonan bagi semua orang kudus. Sudahlah pasti, siapa pun yang berharap kepada Allah, dengan percaya dan setia menanti-nantikan Dia, dengan percaya dan terus berharap menunggu Dia, tidak akan mendapat malu karenanya. 3. Agar malu akan menimpa para pendosa. Yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya, atau dengan sia-sia, sesuai dengan arti kata itu. (1) Tanpa dihasut. Mereka memberontak terhadap Allah dan kewajiban mereka, terhadap Daud dan pemerintahannya (begitu menurut sebagian orang), tanpa penyebab apa pun. Mereka tidak bisa menunjukkan kesalahan apa pun yang mereka temukan pada Allah, atau dalam hal apa saja Dia telah menyusahkan mereka. Semakin lemah godaan yang membuat manusia ditarik ke dalam dosa, semakin kuat kejahatan yang membuat mereka terdorong untuk berbuat dosa. Orang-orang berdosa yang paling buruk adalah mereka yang berdosa hanya demi dosa itu sendiri. (2) Tanpa hasil. Mereka tahu bahwa usaha-usaha mereka melawan Allah tidak akan membawa hasil apa-apa. Mereka membayangkan hal yang sia-sia, dan oleh sebab itu mereka akan segera dipermalukan karenanya. III. Ia memohon bimbingan dari Allah untuk melaksanakan kewajibannya (ay. 4-5). Berulang kali di sini ia berdoa kepada Allah untuk mengajarinya. Ia sendiri adalah orang yang berpengetahuan, namun demikian, orang yang paling cerdas dan paling taat sekalipun, keduanya perlu dan ingin diajar oleh Allah. Dari Dia kita harus selalu belajar. Perhatikanlah: 1. Apa yang ingin dipelajarinya: “Ajarilah aku, bukan kata-kata indah atau gagasan-gagasan yang hebat, melainkan jalan-jalan-Mu, kebenaran-Mu, jalan-jalan yang di dalamnya Engkau berjalan menghampiri manusia, yang melulu merupakan segala belas kasihan dan kebenaran (ay. 10). Ajarilah aku jalan-jalan yang Engkau ingin aku berjalan di dalamnya untuk menuju Engkau.” Orang-orang yang berhasil diajar adalah mereka yang memahami kewajiban mereka, dan mengetahui apa yang baik yang harus mereka lakukan (Pkh. 2:3). Jalan-jalan Allah dan kebenaran-Nya adalah sama. Hukum-hukum ilahi didirikan di atas kebenaran-kebenaran ilahi. Jalan perintah-perintah Allah adalah jalan kebenaran ( 119:30). Kristus adalah jalan dan kebenaran itu, dan karena itu kita harus belajar dari Kristus. 2. Apa yang diinginkannya dari Allah, supaya dia bisa belajar dari-Nya. (1) Agar Allah mencerahkan pengertiannya tentang kewajibannya: “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, dan ajarlah aku.”Ketika kita dilanda keraguan, kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah membuatnya jelas bagi kita apa yang diinginkan-Nya untuk kita lakukan. (2) Agar Allah mengarahkan kehendaknya untuk belajar pada-Nya, dan menguatkan dia selama melakukannya: “Tuntunlah aku, dan ajarilah aku.” Tidak hanya seperti kita menuntun orang yang sudah rabun mata, supaya ia tidak tersesat, melainkan juga seperti kita menuntun orang yang sakit, lemah, dan tidak berdaya, untuk membantu dia agar terus berjalan dan menjaganya agar dia tidak jatuh pingsan. Dalam perjalanan menuju sorga, kita tidak akan berjalan lebih jauh daripada apa yang dikehendaki Allah dalam menuntun dan menopang kita. 3. Apa yang diserukannya, (1) Pengharapannya yang besar dari Allah: Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku. Perhatikanlah, orang-orang yang memilih keselamatan dari Allah sebagai tujuan akhir mereka, dan yang menjadikan-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan mereka, dapat datang dengan berani kepada-Nya untuk meminta bimbingan dari-Nya supaya dituntun di dalam jalan yang menuju tujuan itu. Jika Allah menyelamatkan kita, Dia juga akan mengajar dan menuntun kita. Dia yang memberikan keselamatan pasti akan memberikan petunjuk. (2) Penantiannya akan Allah yang tanpa henti: Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Dari mana seorang hamba mengharapkan petunjuk mengenai apa yang harus dikerjakannya kecuali dari tuannya sendiri, yang dinanti-nantikannya sepanjang hari? Jika kita dengan tulus ingin mengetahui kewajiban kita, dengan tekad untuk melakukannya, maka kita tidak perlu merasa ragu lagi apakah Allah akan membimbing kita atau tidak. IV. Ia berseru kepada rahmat Allah yang tidak terbatas, dan menyerahkan dirinya pada rahmat itu, tanpa mengaku-ngaku mempunyai jasa apa pun dari dirinya sendiri (ay. 6): “Ingatlah segala rahmat-Mu ya TUHAN, dan karena segala rahmat-Mu itulah, tuntunlah dan ajarlah aku, sebab rahmat-Mu itu sudah ada sejak purbakala.” 1. “Sejak dahulu kala Engkaulah Allah yang selalu penuh rahmat. Itulah nama-Mu, itulah hakikat dan sifat-Mu, untuk menunjukkan rahmat.” 2. “Segala rencana dan rancangan rahmat-Mu sudah ada sejak dari kekekalan. Bejana-bejana rahmat-Mu, sebelum dunia dijadikan, telah dipersiapkan untuk kemuliaan.” 3. “Tindakan-tindakan rahmat-Mu kepada jemaat secara umum, dan kepadaku secara khusus, sudah ada sejak semula dari dahulu kala, dan terus ada sampai sekarang. Semuanya itu dimulai dari dulu, dan tidak akan pernah berhenti. Engkau telah mengajarku dari waktu aku muda, dan terus mengajarku sampai sekarang.” V. Ia secara khusus bersungguh-sungguh meminta pengampunan atas segala dosanya (ay. 7): “Dosa-dosaku pada waktu muda janganlah Kauingat. Tuhan, ingatlah segala rahmat-Mu (ay. 6), yang berbicara mendukung aku, dan jangan ingat dosa-dosaku, yang berbicara menentang aku.” Inilah, 1. Sebuah pengakuan dosa yang tersirat. Ia berbicara secara khusus tentang dosa-dosa masa mudanya. Perhatikanlah, segala kesalahan dan kebodohan kita pada waktu muda memang seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk bertobat dan merendahkan diri walaupun waktunya sudah lama berselang, karena waktu sekali-kali tidak akan mengikis kesalahan dosa. Orang-orang yang sudah tua haruslah meratapi kegembiraan mereka yang penuh dosa dan bersedih atas kesenangan dosa yang mereka nikmati pada masa muda mereka. Ia membesar-besarkan dosa-dosanya, dengan menyebutnya pelanggaran-pelanggarannya. Semakin kudus, adil, dan baik hukum yang telah dilanggar oleh dosa, semakin berdosalah seharusnya pelanggaran kita tampak pada kita. 2. Ungkapan permohonan akan belas kasihan, (1) Agar ia dibebaskan dari kebersalahannya: “Dosa-dosaku pada waktu muda janganlah Kauingat. Maksudnya, janganlah mengingatnya untuk melawan aku, janganlah membeberkannya untuk mendakwa aku, dan janganlah menghakimi aku karenanya.” Ketika Allah mengampuni dosa, Dia dikatakan tidak mengingatnya lagi, yang menunjukkan penghapusan secara menyeluruh. Dia mengampuni dan melupakan. (2) Agar ia boleh diterima dalam pandangan Allah: “Ingatlah kepadaku, pikirkanlah yang baik-baik untuk aku, dan datanglah pada waktunya untuk menolong aku.” Tidak ada lagi yang kita perlu inginkan untuk membuat kita bahagia selain supaya Allah mengingat kita dengan kebaikan-Nya. Seruannya adalah, “sesuai dengan kasih setia-Mu, dan oleh karena kebaikan-Mu.” Perhatikanlah, kebaikan Tuhanlah dan bukan kebaikan kita, rahmat-Nyalah dan bukan jasa kita sendiri, yang harus kita serukan untuk mendapatkan pengampunan dosa dan semua hal baik yang kita perlukan. Seruan ini harus selalu menjadi pegangan kita, seperti orang yang sadar akan kemiskinan dan ketidaklayakannya, seperti orang yang dipuaskan oleh kekayaan rahmat dan anugerah Allah. * Kebaikan dan Belas Kasihan Ilahi (25:8-10) Janji-janji Allah di sini dipadukan dengan doa-doa Daud. Ada banyak permohonan yang kita dapatkan dalam bagian awal mazmur ini, dan ada banyak juga yang akan kita dapatkan dalam bagian akhirnya. Dan di sini, di tengah-tengah mazmur ini, Daud merenungkan janji-janji itu, dan dengan iman yang hidup ia menyusu dari buah dada penghiburan ini dan dipuaskan olehnya. Sebab janji-janji Allah bukan hanya merupakan dasar terbaik bagi doa, yang memberi tahu kita apa yang harus kita doakan dan mendorong iman serta pengharapan kita di dalam doa, melainkan juga sudah merupakan jawaban langsung atas doa itu sendiri. Biarlah doa dipanjatkan sesuai dengan janji itu, maka barulah janji itu dapat dipahami sebagai jawaban atas doa tersebut. Dan kita harus percaya bahwa doa kita didengar, karena janji itu akan ditepati. Namun, di tengah-tengah janji-janji itu kita mendapati satu permohonan yang tampak diucapkan agak tiba-tiba, dan yang seharusnya ditindaklanjuti (ay. 7). Permohonan itu adalah, ampunilah kesalahanku (ay. 11). Namun, doa untuk meminta pengampunan dosa sekali-kali tidak pernah menyimpang dari pokok pembicaraan. Semua perbuatan kita sudah bercampur dengan dosa, dan oleh sebab itu doa minta ampun itu seharusnya juga dicampurkan dengan ibadah-ibadah kita. Ia menegaskan permohonan ini dengan berseru dua kali. Seruan yang pertama sangat biasa: “Oleh karena nama-Mu, ampunilah kesalahanku, karena Engkau telah menyatakan nama-Mu sebagai nama yang penuh rahmat dan berbelas kasihan, yang menghapus dosa pemberontakan demi kemuliaan-Mu, demi janji-Mu, dan demi kepunyaan-Mu” (Yes. 43:25). Tetapi seruan yang kedua sangat mengejutkan: “Ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu, dan semakin besar kesalahan itu semakin besarlah belas kasihan ilahi akan dipermuliakan dalam mengampuninya.” Adalah kemuliaan Allah yang Mahabesar untuk mengampuni dosa-dosa yang besar, untuk mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa (Kel. 34:7). “Besar kesalahan itu, dan oleh sebab itu aku akan binasa, binasa sampai selama-lamanya, jika belas kasihan yang tiada terbatas tidak turut campur untuk mengampuninya. Besar kesalahan itu, demikianlah aku melihatnya.” Semakin kita melihat kekejian dalam dosa-dosa kita, semakin pantas kita mencari belas kasihan Allah. Ketika kita mengaku dosa, kita harus menegaskan betapa besarnya dosa kita itu. Marilah sekarang kita melihat janji-janji yang besar dan berharga yang kita miliki dalam ayat-ayat ini. Perhatikanlah, Siapa yang memiliki janji-janji ini, dan siapa yang dapat mengharapkan keuntungan darinya. Kita ini semua orang berdosa, jadi dapatkah kita berharap mendapatkan keuntungan dari janji-janji itu? Ya (ay. 8), Dia akan menunjukkan jalan kepada orang yang sesat, meskipun mereka sesat dan berdosa. Sebab Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, dan, untuk melakukannya, Ia mengajar orang-orang berdosa dan memanggil mereka untuk bertobat. Janji-janji ini berlaku pasti bagi orang-orang yang sekarang menjalankan firman Allah meskipun sebelumnya mereka berdosa dan tersesat. Mereka ini adalah, Orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya (ay. 10), yang mematuhi perintah-perintah-Nya sebagai peraturan bagi mereka, dan yang menggenggam janji-janji-Nya sebagai bagian mereka. Mereka menerima Allah sebagai Allah mereka dan hidup sesuai dengan keputusan itu. Mereka menyerahkan diri kepada-Nya sebagai umat-Nya dan hidup sesuai dengan keputusan itu. Meskipun karena kelemahan daging, mereka kadang-kadang melanggar perintah, namun, dengan pertobatan yang tulus setiap kali berbuat salah dan dengan iman yang tetap kepada Allah sebagai Allah mereka, mereka berpegang pada perjanjian itu dan tidak melanggarnya. * Cara Daud Berdoa Renungan Minggu ini memberitakan bahwa pemazmur mengalami pergumulan dan penderitaan dalam hidupnya yang tidak pernah dia harapkan untuk terjadi. Dalam situasi penderitaan yang dialaminya itu, dia datang berlutut dan berdoa untuk menyampaikan kepada Tuhan melalui doa penyerahan diri sebagai seorang yang sadar akan dosanya dan memohon pertolongan hanya kepada Tuhan saja. Dalam memohon pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan, pemazmur memahami akan dosa yang telah dilakukannya sehingga dia juga memohon pengampunan atas dosanya. Dalam doanya, pemazmur berkata bahwa ia mengangkat jiwanya kepada Tuhan, karena dia percaya hanya Tuhan tempat untuk berseru di dalam situasi ini. Dalam penderitaan dan masalah yang dihadapi, tidak ada keselamatan lain selain datangnya dari Tuhan. Ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa ia tidak mungkin dipermalukan oleh musuhnya, sebab Tuhanlah yang menjadi Pembelanya. Pemazmur rindu supaya Tuhan menuntunnya berjalan dalam kebenaranNya. Ketika pemazmur menyampaikan seruannya meskipun kekalahan musuhnya belum terjadi tapi melalui pengharapan dalam doa yang diucapkan pemazmur, menjadi nyata kekalahan musuhnya dan Tuhan yang memenangkanya. Bagi pemazmur penantian penyelamatan dari Tuhan terjadi atas kehendak Tuhan, dia harus bersabar dan bertekun menanantikan. Saat ini dalam setiap doa dan permohonan kita, kalau Tuhan belum segera bertindak, bukan berarti Tuhan tidak peduli atau kuasaNya tidak dapat diandalkan, tetapi kehendak Tuhan yang akan terjadi. Untuk itu marilah kita selalu mengingat, segala jalan Tuhan adalah kasih setia dan kebenaran yang membuat kita menyadari bahwa tidak ada satu pun yang membuat kita kecewa ketika kita berjalan bersama Tuhan. Dia akan terus menopang dan meneguhkan kita dalam perjalanan kehidupan kita. Amin DOA: “Ya Tuhan Allah ajarlah kami memahami dan percaya pada kasihMu, agar kami senantiasa bersyukur. Amin”
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
NEXT: Renungan HKBP SENIN, 19 FEBRUARI 2024 - JANGAN KHAWATIR! HIDUP DIPELIHARA OLEH TUHAN - BACAAN PAGI (YOHANES 8:37-47) - BACAAN MALAM (MAZMUR 12:7-9) PREV: Renungan HKBP SABTU, 17 FEBRUARI 2024 - KEAJAIBAN YANG MENAKJUBKAN ! - BACAAN PAGI (YOHANES 8:21-29) - BACAAN MALAM (PENGKOTBAH 3:1-8) Minggu, 26 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 26 April 2026 - HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAK-SORAI - Kisah Rasul 2:22-28 Minggu, 19 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 19 April 2026 - Marlas Roha di Bagasan Tuhan (Bersukacita dalam Tuhan) - Habakuk 3:10-19
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |