f Jamita HKBP Minggu, 24 Maret 2024 - IDA MA NA RO MA RAJAMI MANOPOT HO - Matius 21:1-11 - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
View : 1251 kali
Matius 21:1-11
Yesus dielu-elukan di Yerusalem
21:1 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya 21:2 dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. 21:3 Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya." 21:4 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: 21:5 "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." 21:6 Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. 21:7 Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. 21:8 Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. 21:9 Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" 21:10 Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: "Siapakah orang ini?" 21:11 Dan orang banyak itu menyahut: "Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea."

Penjelasan:
* Memuji-Nya dengan cara dan motivasi yang benar
Suatu peristiwa yang luar biasa terjadi di nas ini yaitu sambutan dan sorak-sorai orang banyak ketika Yesus memasuki Yerusalem (ayat 1-11).
Apa yang mendorong mereka menyambut Yesus? Kalau biasanya rakyat menyambut seorang panglima perang yang pulang setelah mengalahkan beribu musuh yang tidak mereka lihat sendiri, dalam bacaan ini mereka menyanjung riang Yesus sebagai seorang yang kebaikan-Nya telah mereka alami.

Bagi mereka kedatangan Yesus yang mengendarai keledai muda mengisyaratkan kerendahhatian dan kelemahlembutan (ayat 5). Hal ini berbeda dari kedatangan pahlawan perang dalam 'kendaraan agung' berupa kuda dengan persenjataan lengkap yang mengisyaratkan keperkasaan. Penerimaan orang banyak terhadap Yesus saat itu bukan suatu upacara formalitas, melainkan peristiwa spontan yang timbul dari hati. Pujian yang mengelu-elukan Yesus langsung merujuk kepada pemuliaan nama-Nya sebagai Mesias (ayat 9).

Spontanitas seperti orang banyak yang menyambut Yesus, apakah masih ada dalam pujian kita saat ini? Banyak anak Tuhan yang menaikkan pujian dengan sembarangan, tidak lagi menghormati kehadiran Tuhan. Memuji Tuhan tidak lagi lahir dari hati yang sungguh bersyukur atas anugerah-Nya. Melainkan pujian dilakukan karena tugas pelayanan, ingin dilihat orang lain sebagai anak Tuhan yang saleh, motivasi ingin menunjukkan kemampuan bernyanyi, ingin terhibur, dlsb. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan memperhatikan. Seharusnya kita mengetahui bahwa Tuhan bertakhta atas pujian umat-Nya. Tuhan ingin kita menyambut-Nya dengan hati yang memuji. Apakah kita sudah memuji Tuhan dengan cara dan motivasi yang benar? Jika belum, bertobatlah dan pujilah Dia dengan sikap dan motivasi benar!

Tekadku: Aku akan menyambut Tuhan sebagai Raja dalam hidupku. Mulai dari sekarang aku akan memuji-Nya dengan cara dan motivasi yang benar dimulai dari tidak bersikap sembarangan di gereja.


* Yesus Dielu-elukan di Yerusalem (21:1-11)

Keempat penulis Injil mencatat dengan cermat perikop yang menggambarkan bagaimana Yesus dielu-elukan saat memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai keledai, lima hari sebelum kematian-Nya. Hari Paskah jatuh pada hari keempat belas di bulan itu, sedangkan waktu itu baru hari kesepuluh, yaitu saat untuk mengambil domba Paskah dan memisahkan domba itu untuk dikorbankan, seperti yang telah ditetapkan dalam hukum Taurat (Kel. 12:3). Oleh karena itu, Kristus, Domba Paskah yang akan dikorbankan bagi kita, dipertunjukkan di hadapan khalayak ramai hari itu juga. Dengan demikian, peristiwa itu menjadi titik awal penderitaan-Nya. Sebetulnya, sejak beberapa waktu sebelumnya, Dia telah menetap di Betania, yaitu sebuah desa yang tak jauh dari Yerusalem, tempat di mana Maria mengurapi kaki-Nya pada waktu mereka sedang makan malam bersama sehari sebelumnya (Yoh. 12:3). Namun, sebagaimana yang biasanya dilakukan oleh para utusan, Ia tidak menampakkan diri-Nya kepada orang banyak segera setelah ia datang, melainkan menundanya selama beberapa waktu. Tuhan kita Yesus banyak berkeliling, dan Dia menunjukkan kerendahan hati dan kerja keras-Nya dengan membiasakan diri berjalan kaki dari Galilea ke Yerusalem, berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Betapa banyak langkah yang harus Ia ambil untuk berkeliling melakukan banyak kebaikan, yang mengakibatkan kaki-Nya menjadi kotor dan lelah. Jadi, betapa tidak layaknya jika orang-orang Kristen menuntut banyak kenyamanan dan kehormatan di dalam hidup ini, sementara Guru mereka sendiri saja tidak banyak menikmati kedua hal itu! Namun kini, untuk sekali ini saja dalam hidup-Nya, Dia dielu-elukan, dan itu terjadi saat Dia memasuki kota Yerusalem, untuk menderita dan mati, seolah-olah kesenangan dan penghormatan seperti itulah yang dikejar-kejar-Nya dan kini membuatnya berbangga diri.

Di sini diceritakan tentang:

I. Perlengkapan yang disediakan bagi upacara penyambutan-Nya sangatlah sederhana dan biasa-biasa saja,
yang menunjukkan bahwa Kerajaan-Nya bukanlah berasal dari dunia ini. Tidak ada warta yang disiarkan atau suara sangkakala yang dikumandangkan untuk mengiringi Dia. Tidak ada kereta kuda ataupun jubah kebesaran, sebab hal itu tidaklah sesuai dengan keadaan diri-Nya yang hina. Akan tetapi, semuanya nanti akan jauh lebih hebat bila Ia datang untuk yang kedua kalinya, dalam segenap keagungan yang saat ini masih disimpan untuk diperlihatkan pada saat itu, yaitu waktu sangkakala terakhir dibunyikan, dan para malaikat yang mulia menjadi pewarta dan pengiring-Nya, dan awan-awan pun menjadi kereta kebesaran-Nya. Akan tetapi, saat ini Dia menampakkan diri di hadapan orang banyak itu dengan:

. Persiapan yang begitu mendadak dan terburu-buru. Persiapan yang baik telah dilakukan bagi kemuliaan-Nya di tempat yang lain, dan juga bagi kemuliaan kita bersama-Nya, bahkan sebelum dunia ini dijadikan, karena itulah kemuliaan yang diidam-idamkan hati-Nya. Kemuliaan di dunia ini tidak berarti apa-apa bagi Dia, dan karena itulah, sekalipun Dia telah mengetahui hal itu, Dia tidak menyiapkannya sedari awal, tetapi membiarkannya mengalir begitu saja. Mereka hampir sampai di Betfage, daerah pinggiran Yerusalem yang jalannya panjang terhampar menuju Bukit Zaitun, yang dalam segala hal dipandang seperti kota Yerusalem sendiri (menurut alim ulama Yahudi). Saat Dia memasuki kota itu, Dia menyuruh dua orang murid-Nya (sebagian orang berpendapat bahwa dua orang murid itu adalah Petrus dan Yohanes) untuk mengambil seekor keledai bagi-Nya, sebab Dia tidak memiliki seekor keledai pun yang siap untuk ditunggangi-Nya saat itu.

. Persiapan yang sangat sederhana. Dia hanya menyuruh murid-Nya mengambil seekor keledai dan anaknya (ay. 2). Di daerah itu, keledai memang lebih umum dipakai untuk bepergian, sedangkan kuda hanya dimiliki oleh para pembesar, atau disimpan untuk berperang. Kristus bisa saja mengendarai kerub (Mzm. 18:11). Namun, sekalipun Dia itu Allah dan melayang di atas langit sebagai Yahweh, saat ini Ia adalah Yesus, Imanuel, Allah beserta kita, yang ada di dalam keadaan-Nya yang hina, dan karena itu, Ia pun mengendarai seekor keledai. Tetapi, sebagian orang beranggapan bahwa Dia melakukan itu untuk menghormati kebiasaan para hakim di Israel yang biasanya menunggang keledai putih (Hak. 5:10), sedangkan anak-anak mereka menaiki anak keledai (Hak. 12:14). Kristus memang akan datang kembali, bukan sebagai seorang penguasa, namun sebagai hakim umat Israel, yang akan datang untuk menghakimi dunia ini.

. Keledai itu bahkan bukan milik-Nya sendiri, melainkan dipinjam dari orang lain. Meski Dia tidak pernah memiliki rumah sendiri, namun orang bisa saja menyangka bahwa setidaknya Ia punya seekor keledai untuk dipakai berkeliling, seperti para pengembara yang hidup dari bantuan kawan-kawannya. Namun, demi kita, Ia rela menjadi miskin dalam segala hal (2Kor. 8:9). Ada pepatah yang mengatakan, "Orang yang hidup dengan meminjam adalah orang yang hidup dalam kesengsaraan." Dalam hal ini, juga dalam segala hal lainnya, Kristus adalah seseorang yang penuh dengan kesengsaraan. Dia tidak memiliki suatu benda apa pun di dunia ini, kecuali yang diberikan atau dipinjamkan pada-Nya.

Murid-murid yang disuruh meminjam keledai itu dipesankan supaya berkata, "Tuhan memerlukannya." Orang yang membutuhkan sesuatu tidak boleh malu mengakui kebutuhannya, dan tidak boleh berkata seperti si bendahara yang tidak jujur, "Mengemis aku malu" (Luk. 16:3). Akan tetapi, di sisi lain, tidak ada seorang pun yang boleh memanfaatkan kebaikan teman-teman mereka dengan pergi meminta atau meminjam sesuatu saat mereka tidak membutuhkannya. Melalui peristiwa meminjam keledai tersebut:

(1) Kita bisa menyaksikan kemahatahuan Kristus.
Meskipun segala sesuatu tidak direncanakan, Kristus tetap dapat memberi tahu murid-murid-Nya tempat yang tepat di mana mereka akan menemukan seekor keledai dan anaknya. Kemahatahuan-Nya itu bahkan mencakup hal-hal mengenai makhluk ciptaan-Nya yang terendah sekalipun, yaitu keledai dan anaknya, dan dalam keadaan apa mereka akan ditemukan, apakah sedang terikat ataupun bebas. Lembukah yang Allah perhatikan? (1Kor. 9:9) Tentu saja begitu, Dia bahkan tidak membiarkan keledai Bileam disakiti. Dia mengenal semua ciptaan-Nya, sehingga Dia pun dapat memakai mereka semua untuk menggenapi tujuan-Nya.

(2) Kita bisa menyaksikan kuasa-Nya atas roh manusia.
Hati orang yang paling hina, bahkan sampai hati para raja, semua ada dalam genggaman tangan Tuhan. Kristus menegaskan hak-Nya untuk memakai keledai itu, saat Ia menyuruh mereka membawa binatang itu pada-Nya. Segenap bumi dan isinya adalah milik Tuhan Yesus Kristus. Akan tetapi, Ia juga sudah memperhitungkan hambatan yang mungkin akan dihadapi para murid saat melakukan tugas mereka. Mereka tidak boleh mengambilnya clam et secreto -- secara diam-diam, apalagi vi et armi -- secara paksa, tetapi harus mengambilnya dengan sepengetahuan dan persetujuan pemiliknya, dan mereka pasti akan memperolehnya, karena Kristus menjamin hal ini. Jikalau ada orang yang menegor kamu, katakanlah, Tuhan memerlukannya. Perhatikan, Kristus akan menolong kita untuk menunaikan apa pun yang telah Ia perintahkan kepada kita, dan Ia memperlengkapi kita dengan jawaban yang tepat bagi keberatan yang mungkin akan diajukan kepada kita, sehingga membuat tugas itu dapat terlaksana. Seperti yang terjadi dalam peristiwa ini, Ia menyediakan jawaban bahwa Ia akan segera mengembalikan keledai yang dipinjam itu. Dengan menyuruh murid-murid-Nya pergi mengambil keledai yang akan dipakai-Nya, Ia menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan dari segala ciptaan, dan dengan melembutkan hati pemilik keledai untuk membiarkan keledainya diambil tanpa jaminan, Ia menunjukkan bahwa Ia juga adalah Allah dari roh segala makhluk, yang mampu menundukkan hati mereka.

(3) Kita bisa melihat keadilan dan kejujuran di sini,
karena keledai itu tidak dipakai tanpa persetujuan dari pemiliknya, walaupun keledai itu hanya akan dipakai sebentar saja, yaitu untuk ditunggangi melintasi satu atau dua jalan saja. Sikap adil ini lebih nyata bila kita memperhatikan pendapat sebagian orang yang mengartikan anak kalimat terakhir sebagai berikut, "Katakanlah, Tuhan memerlukannya, dan Dia (yaitu Tuhan) akan segera mengembalikannya padamu, dan memastikan bahwa keledai itu diantarkan dengan selamat ke tangan pemiliknya, segera setelah Dia tidak lagi membutuhkannya." Perhatikan, apa pun yang kita pinjam harus dikembalikan tepat waktu dan dalam kondisi yang baik, sebab, hanya orang fasik yang meminjam dan tidak membayarnya kembali. Kita harus berhati-hati dengan barang pinjaman supaya barang itu jangan sampai rusak. Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!


II. Nubuat firman yang digenapi melalui kejadian ini (ay. 4-5).
Dalam segala hal yang diperbuat dan diderita-Nya, Tuhan kita Yesus selalu memperhatikan supaya firman yang disampaikan boleh digenapi. Sama seperti para nabi (yang merupakan saksi-saksi-Nya itu) menanti-nantikan dan memperhatikan kedatangan-Nya, demikian pula Ia sungguh memperhatikan apa yang mereka katakan, supaya segala sesuatu yang dituliskan tentang Sang Mesias tergenapi dengan sempurna di dalam diri-Nya. Nubuat dalam Kitab Zakaria 9:9 secara khusus menceritakan Dia, dan di dalamnya terdapat nubuat yang penting mengenai Kerajaan Mesias yang harus digenapi, yaitu, Katakanlah kepada puteri Sion. Lihat, Rajamu datang kepadamu.

    Nah, perhatikanlah di sini:

. Bagaimana kedatangan Kristus telah dinubuatkan sebelumnya, Katakanlah kepada puteri Sion, umat Allah, gunung yang kudus, Lihat, Rajamu datang kepadamu.

        Perhatikan:

            (1) Yesus Kristus adalah Raja atas umat-Nya, seorang yang dipilih dari tengah-tengah saudara-saudara kita sendiri, sesuai dengan peraturan dalam Kerajaan-Nya (Ul. 17:15). Dialah yang dilantik sebagai Raja atas gereja (Mzm. 2:6). Dia diterima sebagai Raja oleh gereja, dan putri Sion pun menyatakan sumpah setianya (Hos. 1:11).

            (2) Kristus, Sang Raja dari jemaat-Nya, mendatangi mereka bahkan sampai turun ke dunia ini. Ia datang kepadamu, untuk memerintah atas kamu, memerintah di dalam kamu dan untuk kamu sekalian. Dia adalah Kepala dari segala yang ada dalam jemaat. Dia datang ke Sion (Rm. 11:26), supaya dari Sion keluar pengajaran, sebab jemaat dan kepentingan mereka adalah segalanya bagi Sang Penebus.

            (3) Pemberitahuan mengenai kedatangan Sang Raja telah disampaikan terlebih dahulu kepada jemaat, Katakanlah kepada putri Sion. Perhatikan, Kristus akan memastikan bahwa kedatangan-Nya sudah ditunggu-tunggu oleh para pengikut-Nya dengan sebuah pengharapan yang besar, Katakanlah kepada putri Sion bahwa mereka boleh keluar untuk menengok Raja Salomo (Kid. 3:11). Pemberitahuan mengenai kedatangan Kristus biasanya diawali dengan kata Lihat, yaitu sebuah kata perintah untuk memperhatikan sekaligus mengagumi. Lihat, Rajamu datang, pandanglah dan kagumilah Dia, tengoklah dan sambutlah Dia. Inilah kunjungan seorang pembesar yang sungguh-sungguh menakjubkan. Pilatus, seperti juga Kayafas, tidak tahu apa yang mereka katakan sewaktu mengucapkan kalimat yang agung itu (Yoh. 19: 14), Inilah Rajamu.

        . Gambaran keadaan sewaktu Dia datang. Ketika seorang raja datang, biasanya orang berharap akan melihat sesuatu yang luar biasa hebat dan menakjubkan, terutama bila dia datang untuk memerintah atas kerajaannya. Sang Raja, Tuhan semesta alam, tampak duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang (Yes. 6:1), tetapi saat itu tidak demikian adanya, melainkan, Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Saat Kristus hendak menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, Dia melakukan-Nya dalam kelemahlembutan-Nya, dan bukan dalam kebesaran-Nya.

            (1) Perangai-Nya begitu lembut. Dia tidak datang dengan murka dendam, tetapi dengan belas kasihan, untuk mengerjakan karya keselamatan. Dia lemah lembut dalam menanggung penderitaan dan hinaan yang begitu besar demi Sion, serta sabar dalam menghadapi kebebalan dan kejahatan keturunan Sion. Dia begitu mudah dijangkau, dan mudah dimintai pertolongan. Ia lemah lembut bukan hanya sebagai seorang Guru, tetapi juga sebagai seorang Penguasa. Ia memerintah dengan kasih. Pemerintahan yang dijalankan-Nya lemah lembut dan penuh kasih, dan hukum-Nya tidak menuntut darah para pengikut-Nya, melainkan darah-Nya sendiri. Kuk yang dipasang-Nya pun ringan.

            (2) Hal itu dibuktikan dengan penampakan-Nya dalam keadaan yang sederhana, yaitu duduk di atas keledai beban, hewan yang tidak diciptakan untuk menunjukkan status, melainkan untuk pekerjaan berat. Binatang itu juga bukan diciptakan untuk peperangan, melainkan untuk sekedar memikul beban. Keledai bergerak dengan perlahan namun pasti, aman dan stabil. Hal tersebut telah lama dinubuatkan, dan usaha untuk menggenapinya telah dilakukan dengan hati-hati sehingga maknanya yang besar dapat ditekankan, supaya orang-orang miskin boleh berbesar hati untuk mendekati Kristus. Raja Sion tidak datang dengan menunggang kuda yang berjingkrak-jingkrak yang membuat rakyat kecil takut mendekat. Bukan juga dengan seekor kuda yang berlari kencang dan tidak dapat diimbangi oleh orang yang tidak bisa bergerak cepat. Sebaliknya, Ia hanya menunggangi seekor keledai lamban, sehingga pengikut-Nya yang termiskin sekalipun tidak akan terhalang untuk mendekati-Nya. Dalam nubuat itu, disebutkan juga mengenai seekor keledai beban yang muda dan oleh karena itulah, Kristus menyuruh murid-murid-Nya untuk membawa anak keledai beserta dengan induknya, sehingga firman Allah boleh digenapi.

III. Arak-arakan yang berlangsung tanpa dihiasi kebesaran duniawi,
sesuai dengan persiapannya yang sederhana. Meski begitu, persiapan dan arak-arakannya diiringi dengan kuasa rohani.

    Perhatikanlah:

. Perlengkapan-Nya, Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka (ay. 6). Mereka pergi untuk mengambil keledai betina dan anaknya, dengan keyakinan bahwa pemiliknya pasti akan meminjamkan kedua binatang itu kepada mereka. Perhatikanlah, perintah Kristus tidak boleh dibantah, melainkan harus ditaati. Mereka yang taat pada perintah-Nya dengan sepenuh hati tidak akan dikecewakan atau tersandung dalam melakukannya. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya. Keadaan hina hewan yang ditunggangi Kristus itu bisa saja ditutupi dengan pakaian kuda yang mewah, namun hal ini pun tidak terjadi, melainkan berlangsung seperti yang diceritakan kemudian. Mereka bahkan tidak punya sehelai pelana pun untuk keledai itu, sehingga para murid mengalasinya dengan pakaian mereka sendiri, dan hal itu dianggap cukup untuk menutupi kekurangan tersebut. Perhatikanlah, kita tidak boleh terlalu mementingkan kenyamanan luar, atau terlalu menuntutnya. Ketidakpedulian atau ketidakacuhan yang kudus menunjukkan bahwa hati kita tidaklah berpusat pada hal tersebut, dan bahwa kita telah meneladani peraturan Rasul Paulus dalam Roma 12:16, untuk berpuas diri dalam hal-hal yang sederhana. Apa pun bisa berguna bagi para pelancong, dan ada sebuah keindahan yang bahkan bisa dihasilkan dari ketidakacuhan atau ketidakpedulian tulus semacam itu. Sekalipun demikian, para murid memperlengkapi-Nya dengan yang terbaik yang mereka miliki. Mereka bahkan tidak keberatan mengorbankan pakaian mereka saat Tuhan memerlukannya. Perhatikanlah, kita tidak boleh menganggap pakaian kita terlalu berharga untuk dikorbankan demi melayani Kristus, untuk diberikan kepada para pengikut-Nya yang miskin dan menderita. Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian (25:36). Kristus sendiri membiarkan diri-Nya dilucuti bagi kita.

. Pengiring-Nya, tidak ada satu pun yang agung ataupun hebat dalam hal ini. Raja Sion datang ke Sion, dan putri Sion sudah lama diberi tahu mengenai kedatangan-Nya itu. Akan tetapi, Dia tidaklah disambut oleh para pembesar negeri, atau dijumpai oleh para penguasa kota secara resmi, seperti yang mungkin dikira orang. Seharusnya mereka memberi Dia kunci kota itu, dan dengan hormat mempersilakan-Nya naik ke kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga Raja Daud. Namun, tak satu pun dari hal itu yang terjadi pada-Nya. Meskipun demikian, ada pula yang menanti-nantikan-Nya, yaitu orang banyak yang sangat besar jumlahnya. Mereka adalah masyarakat awam, rakyat jelata yang lebih pantas kita sebut sebagai gerombolan orang, satu-satunya yang menandai kekhidmatan dalam kemenangan Kristus ini. Di kemudian hari, imam-imam kepala dan tua-tua menggabungkan diri mereka dengan orang banyak yang menyiksa Kristus di kayu salib, namun tak seorang pun dari mereka yang terlihat batang hidungnya saat ini ketika orang banyak itu menyanjung-nyanjung Dia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang yang menantikan Kristus, melainkan yang bodoh dan yang hina bagi dunia (1Kor. 1:26, 28). Perhatikan, Kristus lebih dipermuliakan oleh orang banyak itu daripada oleh kehebatan para pengikut-Nya, sebab Dia menilai manusia berdasarkan jiwa mereka, dan bukan karena pangkat, jabatan, atau nama besar mereka.

Nah, mengenai orang banyak yang jumlahnya besar itu, diceritakan tentang:

(1) Apa yang mereka perbuat. Mereka berusaha menghormati Kristus dengan segenap kemampuan mereka.
- Mereka menghamparkan pakaiannya di jalan,
supaya Kristus dapat menunggang keledai di atasnya. Saat Yehu dinobatkan sebagai raja, para panglima meletakkan jubah mereka di bawahnya sebagai tanda kesetiaan mereka padanya. Perhatikanlah, orang-orang yang menjadikan Kristus Raja mereka harus meletakkan segala yang mereka punyai di bawah kaki-Nya, yaitu pakaian, sebagai lambang penyerahan hati, sebab saat Kristus datang (tetapi tidak boleh dilakukan bila orang lain yang datang), haruslah dikatakan kepada setiap jiwa, tunduklah, supaya Dia bisa lewat. Sebagian orang berpendapat bahwa pakaian itu dihamparkan bukan di atas tanah, melainkan di atas pagar atau tembok untuk menghiasi jalanan, sebagaimana permadani yang digantung di atas balkon untuk menyambut arak-arakan. Penyambutan seperti itu sederhana sekali, namun Kristus menghargai maksud baik mereka, dan di sini kita diajarkan untuk selalu berusaha sedapat mungkin menyambut Kristus, yaitu diri-Nya dan anugerah-Nya, serta Kabar Baik-Nya, di dalam hati dan rumah kita. Apa yang seharusnya kita perbuat untuk menyatakan penghormatan kita pada Kristus? Penghormatan dan pengagungan seperti apa yang layak kita berikan kepada-Nya?

- Ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan,
seperti yang biasanya mereka lakukan di Hari Raya Pondok Daun, yang melambangkan kemerdekaan, kemenangan, dan sukacita, sebab misteri hari raya itu diceritakan secara khusus untuk menggambarkan zaman sewaktu Injil dikabarkan (Za. 14:16).

(2) Apa yang mereka katakan.
Orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang, mereka sehati dan sepikiran. Mereka adalah orang-orang yang mewartakan kedatangan-Nya dan yang mengiringi Dia dengan sorak-sorai, dan berseru, katanya, "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" (ay. 9). Mereka memang biasa menyerukan hosana saat membawa-bawa ranting di Hari Raya Pondok Daun. Karena itulah, mereka kemudian menyebut kumpulan ranting itu sebagai hosana. Hosana berarti, Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! yang mengacu kepada Mazmur 118:25-26, di mana Mesias dinubuatkan sebagai batu penjuru, meskipun tukang-tukang bangunan telah membuang-Nya. Segenap pengikut setia-Nya dibawa serta dalam kemenangan-Nya, dan mereka pun mengiringi Dia dengan penuh pengharapan akan kemakmuran dalam Kerajaan-Nya. Hosana bagi Anak Daud juga berarti, "Kami melakukan ini untuk menghormati Anak Daud."

Sorakan hosana yang menyambut Kristus itu melambangkan dua hal:

- Penyambutan mereka terhadap Kerajaan-Nya. Hosana sama artinya dengan, Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Nubuat telah mengatakan mengenai Anak Daud ini bahwa segala bangsa akan menyebut dia berbahagia (KJV: "diberkati," Mzm. 72:17), dan saat itulah nubuat tersebut mulai digenapi, semua orang yang percaya di segala zaman setuju dan menyebut-Nya terberkati. Inilah bahasa iman yang sejati.

                Perhatikanlah:

Pertama,
Yesus Kristus datang dalam nama Tuhan. Dia telah dikuduskan dan diutus ke dunia ini sebagai Sang Pengantara, sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan memeterai-Nya.

Kedua,
kedatangan Kristus dalam nama Tuhan patut diterima sepenuhnya, dan kita semua harus mengatakan, Diberkatilah Ia yang datang, untuk memuji Dia dan bersuka di dalam Dia. Biarlah kedatangan-Nya dalam nama Tuhan itu diucapkan dengan penuh penghayatan sebagai penghiburan bagi kita, dan juga dengan seruan yang penuh sukacita bagi kemuliaan-Nya. Jadi, kita juga bisa mengatakan, "Diberkatilah Ia, sebab karena Dialah kita diberkati." Jadi, marilah kita mengikuti Dia dengan puji-pujian kita, karena Dia telah mencurahkan segala berkat-Nya kepada kita.

- Harapan baik mereka bagi kesejahteraan Kerajaan-Nya,
seperti yang tersirat dalam seruan hosana itu. Mereka sungguh-sungguh berharap supaya kemakmuran dan kegemilangan mengiringi Kerajaan-Nya, sehingga Kerajaan itu menjadi Kerajaan yang penuh dengan kemenangan. "Kirimkanlah kemakmuran bagi Kerajaan itu." Jikalau mereka menganggap Kerajaan itu sebagai Kerajaan biasa yang bersifat sementara, maka itu adalah kesalahan mereka sendiri, yang sebentar lagi akan diperbaiki. Tetapi, bagaimanapun juga, niat baik mereka tetap diterima oleh Kristus. Perhatikanlah, kita wajib untuk benar-benar menghendaki dan mendoakan kemakmuran dan keberhasilan Kerajaan Kristus di dunia ini. Jadi, kiranya ia didoakan senantiasa, dan diberkati sepanjang hari (Mzm. 72:15), supaya segenap kebahagiaan akan mengiringi kepentingan-Nya di dunia ini, dan supaya Dia akan terus maju dalam semarak-Nya, demi perikemanusiaan (Mzm. 45:5), meskipun kini Dia hanya mengendarai seekor keledai beban. Inilah yang kita maksudkan saat kita berdoa dengan berkata, "Datanglah Kerajaan-Mu." Mereka juga menambahkan Hosana di tempat yang mahatinggi, yang berarti, Biarlah kemakmuran tertinggi mengiringi Dia, biarlah nama-Nya ada di atas segala nama, takhta-Nya di atas segala takhta. Marilah kita puji Dia setinggi-tingginya, biarlah jemaat-Nya naik ke sorga, ke tempat yang mahatinggi, dan mendapatkan kedamaian serta keselamatan dari tempat itu. Lihat Mazmur 20:7, Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus.

. Di sini kita melihat penyambutan yang diterima-Nya di Yerusalem (ay. 10). Ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu. Semua orang memperhatikan-Nya, sebagian merasa takjub dengan hal baru seperti ini, yang lainnya menertawakan kesederhanaannya, dan mungkin sebagian lainnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel, dipenuhi dengan sukacita. Yang lain lagi, dari kelompok Farisi, gempar karena rasa dengki dan amarah. Bermacam-macam pergolakan jiwa manusia yang ditimbulkan karena mendekatnya Kerajaan Kristus!

Mengenai kekisruhan ini, dijelaskan lebih lanjut:

(1) Apa yang dikatakan oleh orang-orang itu, "Siapakah orang ini?"
- Sepertinya mereka tidak tahu-menahu mengenai Kristus. Meskipun Dia adalah Kemuliaan dari umat-Nya Israel, namun Israel tidak mengenal-Nya. Meskipun Dia telah menampilkan diri-Nya melalui banyak mujizat di antara mereka, namun putri-putri Yerusalem tidak mengenali-Nya dari antara kekasih yang lain (Kid. 5:9). Masakan Dia yang mahakudus tidak dikenal di kota kudus-Nya! Memang di tempat-tempat di mana ada cahaya bersinar paling terang dan paling banyak orang mengaku-ngaku beragama, di situ biasanya ada lebih banyak orang yang masa bodoh dibandingkan dengan di tempat lain.

- Meski begitu, mereka sangat penasaran mengenai Dia. Siapakah gerangan orang ini hingga Ia begitu menyedot perhatian dan dielu-elukan seperti itu? Siapakah itu Raja Kemuliaan, yang hendak masuk ke dalam hati kita? (Mzm. 24:8; Yes. 63:1).


(2) Bagaimana orang banyak menjawab pertanyaan itu, "Inilah Yesus" (ay. 11). Dibanding orang-orang besar lainnya, orang banyak itu lebih mengenal Kristus. Vox populi -- suara rakyat memang terkadang mewakili Vox Dei -- suara Tuhan. Nah, dalam jawaban yang mereka katakan mengenai Dia:
- Mereka benar dalam menyebut-Nya sebagai Sang Nabi, Nabi yang besar itu. Hingga saat itu, Dia memang telah dikenal sebagai seorang Nabi, yang mengajar dan melakukan mujizat. Tetapi kini, mereka menyaksikan-Nya sebagai Raja. Tugas Kristus sebagai Imam adalah yang terakhir terkuak di antara ketiga tugas yang diemban-Nya.
- Namun begitu, mereka keliru ketika berkata bahwa Dia berasal dari Nazaret, dan hal itu menegaskan beberapa prasangka yang mereka miliki terhadap Dia. Perhatikanlah, ada sebagian orang yang bersedia menghormati Kristus dan memberikan kesaksian bagi Dia, namun mereka melakukannya dengan anggapan yang keliru mengenai Dia, yang sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya mereka mau berusaha lebih keras untuk mengenal Dia dengan lebih baik.





















NEXT:
Renungan HKBP RABU, 27 MARET 2024 - TUHAN ITU GEMBALA KITA - BACAAN PAGI (MATIUS 26:26-28) - BACAAN MALAM (1 YOHANES 1:5-9)


PREV:
Renungan HKBP JUMAT, 22 MARET 2024 - JANGAN BERSEMBUNYI? PASTI KETAHUAN ! - BACAAN PAGI (MAZMUR 44:23-27) - BACAAN MALAM (ZAKHARIA 7:13-14)


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de