f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Renungan HKBP 2024 Renungan HKBP Khotbah Minggu, 5 Mei 2024 - SETIAP ORANG YANG MEMINTA AKAN MENERIMA - Matius 7:1-11 Dua Hal yaitu Tentang Menghakimi sesama dan Tentang Doa Baca Juga: Matius 7:1-11 Bahasa Batak: 7:1 Unang hamu manguhumuhumi, asa unang hona uhum hamu, 7:2 ai panguhumonmuna i do siuhumhononhon tu hamu, parsuhatonmuna i do sisuhathononhon tu hamu. 7:3 Aha ma pola paberengberengonmu silbaksilbak na di mata ni donganmu; ia na satiang na di matami ndang diantoi ho! 7:4 Tung patut ma dohononmu tu donganmi: Ua, huumpat ma jolo silbaksilbak i sian matami! Hape na satiang do di matami! 7:5 E ho pangansi, jumolo ma umpat tiang i sian matami; dung pe i, asa pingkiranmu, manang beha pangumpatmu di silbaksilbak na di mata ni donganmi. 7:6 Unang lehon hamu arta na badia i tu angka jurangga, jala unang ma danggurhon hamu mutihamuna tu jolo ni angka babi, so tung dilotloti i dohot patna, laos humusor manaroso hamu! 7:7 Pangido hamu ma, sai na lehononna do tu hamu; lului hamu ma, sai na jumpangan do hamu; tuktuhi hamu ma, sai na ungkaponna do di hamu! 7:8 Ai sai na manjalo do nasa na mangido, sai na jumpangan do na mangalului; sai na ungkapon do di na manuktuhi! 7:9 Ai ise sian hamu jolma, na mangalehon batu tu anakna, molo indahan dipangido? 7:10 Manang na olo mangalehon ulok, molo dengke dipangido? 7:11 Gari hamu angka parjahat umboto mangalehon basabasa na denggan tu anakkonmuna, lam Amamuna na di banua ginjang i ma so lehononna arta na denggan di na mangido tu Ibana? Bahasa Indonesia: Hal menghakimi 7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." Hal yang kudus dan berharga 7:6 "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu." Hal pengabulan doa 7:7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 7:9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 7:10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Penjelasan: * Tentang Menghakimi dengan Adil dan Bijak (7:1-6) Di sini Juruselamat kita mengajarkan bagaimana kita harus menjaga perilaku kita berkenaan dengan kesalahan-kesalahan orang lain. Ungkapan-ungkapan-Nya ini sepertinya dimaksudkan sebagai teguran bagi para ahli Taurat dan orang Farisi, yang sangat kaku dan keras, sok berkuasa dan angkuh, ketika mengutuk orang-orang lain, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang sombong dan congkak yang suka membenarkan diri. Di sini kita melihat: I. Peringatan agar jangan menghakimi (ay. 1-2). Ada orang-orang yang memang bertugas menghakimi -- misalnya para hakim dan hamba Tuhan. Kristus, meskipun tidak memperlakukan diri-Nya sendiri sebagai Hakim, datang bukan untuk menghapus tugas para hakim dan hamba Tuhan itu untuk menghakimi, sebab oleh Dialah para raja memerintah. Tetapi larangan untuk menghakimi ini ditujukan kepada perorangan secara pribadi, kepada murid-murid-Nya, yang kelak akan duduk di atas takhta dan menghakimi, walaupun belum sekarang. Kita perhatikan lagi: . Larangannya; Jangan menghakimi. Kita harus menghakimi diri kita sendiri, dan menghakimi perbuatan sendiri, tetapi tidak boleh menghakimi saudara kita, tidak boleh bersikap sok berkuasa atas orang lain, karena kita sendiri juga tidak ingin mereka bersikap demikian terhadap kita. Pedoman yang kita pegang adalah tunduklah seorang kepada yang lain. Janganlah banyak orang mau menjadi guru (Yak. 3:1). Janganlah kita duduk di kursi penghakiman dan menjadikan perkataan kita sebagai hukum bagi semua orang. Janganlah kita menghakimi saudara kita, artinya, kita tidak boleh memfitnah dia; begitulah yang dijelaskan dalam Yakobus 4:11. Janganlah kita tidak mengindahkan dia, atau menghina dia (Rm. 14:10). Janganlah kita menghakimi dengan gegabah, atau menjatuhkan penghakiman seperti itu kepada saudara kita tanpa dasar, hanya karena rasa dengki dan watak buruk kita. Janganlah kita menjelek-jelekkan orang lain, atau menduga-duga hal-hal yang menyakitkan hati hanya berdasarkan perkataan dan perbuatan mereka, karena ini berat untuk ditahan. Janganlah kita menghakimi tanpa belas kasihan dan tidak kenal ampun, atau dengan semangat membalas dendam dan dengan keinginan untuk mencelakakan. Janganlah kita menilai keadaan orang hanya berdasarkan satu perbuatannya, atau menilai siapa mereka berdasarkan pendapat pribadi kita sendiri mengenai diri mereka, sebab kita ini cenderung bersikap berat sebelah. Janganlah kita menghakimi hati orang lain ataupun niat-niat mereka, sebab Allah-lah yang mempunyai hak istimewa untuk menguji hati, dan kita tidak boleh menduduki takhta-Nya. Janganlah juga kita menghakimi nasib kekal mereka, atau menyebut mereka munafik, terkutuk, dan buangan, karena hal-hal ini berada di luar batas kita. Apakah hak kita untuk menghakimi hamba orang lain sedemikian rupa? Nasihati dia, dan bantulah dia, tetapi janganlah menghakiminya. . Alasan yang memperkuat larangan ini. Supaya kamu tidak dihakimi. Ini menunjukkan: (1) Bahwa bila kita menyangka kita boleh menghakimi orang lain, maka kita juga harus siap untuk dihakimi. Orang yang merampas kekuasaan akan diperhadapkan pada pengadilan. Dia akan diadili orang, dan biasanya orang yang paling suka mengecam akan dikecam dengan paling keras. Tiap orang akan melemparinya dengan batu. Orang yang, seperti Ismael, tangan dan mulutnya melawan setiap orang, akan mengalami hal yang sama juga seperti Ismael, tangan dan mulut tiap-tiap orang akan melawan dia (Kej. 16:12). Demikian pula, orang yang tidak menunjukkan belas kasihan untuk nama baik orang lain juga tidak akan mendapat belas kasihan untuk nama baiknya sendiri. Namun, ini belumlah seberapa. Mereka akan dihakimi Allah, dan dari-Nya mereka akan mendapat penghakiman menurut ukuran yang lebih berat (Yak. 3:1). Kedua belah pihak harus menghadap Dia (Rm. 14:10), dan seperti halnya Dia akan membebaskan orang rendah hati yang menderita, maka Dia juga akan menolak pencemooh yang angkuh, dan akan menghukumnya dengan setimpal. (2) Bahwa bila kita tidak berlebihan dan berbelas kasihan dalam menegur orang lain, dan menolak menghakimi mereka, dan lebih suka menghakimi diri sendiri, maka kita tidak akan dihakimi oleh Tuhan. Seperti halnya Allah akan mengampuni orang-orang yang mengampuni saudara mereka, demikian juga Dia tidak akan menghakimi orang-orang yang tidak menghakimi saudara mereka. Orang yang murah hatinya akan beroleh kemurahan. Kemurahan hati adalah bukti akan kerendahan hati, kasih, dan rasa hormat kepada Allah, dan akan diakui serta diberi upah yang sepadan oleh-Nya (Rm. 14:10). Penghakiman atas orang-orang yang menghakimi orang lain itu sesuai dengan hukum pembalasan. Dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi (ay. 2). Allah yang adil, dalam penghakiman-penghakiman-Nya, sering kali memperhatikan hukum proporsi, yaitu menjatuhkan keputusan secara adil berdasarkan bobot dari perbuatan orang, seperti dalam kisah Adoni-Bezek (Hak. 1:7; lihat juga Why. 13:10; 18:6). Dengan demikian, Dia akan dibenarkan dan ditinggikan dalam penghakiman-penghakiman-Nya, dan semua makhluk akan terdiam di hadapan-Nya. Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Dengan cara ini, mungkin di dunia ini orang bisa menyadari dosanya menurut hukuman yang mereka terima. Biarlah hal ini mencegah kita bersikap kejam dalam berurusan dengan saudara kita. Apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri? (Ayb. 31:14). Apa jadinya kita bila Allah juga bersikap tegas dan kejam dalam menghakimi kita persis seperti cara kita menghakimi saudara-saudara kita; bila Dia juga menimbang kita dengan ukuran yang sama? Bersiap-siaplah untuk menghadapi hal yang sama, jika kita berbuat keterlaluan dalam menunjukkan kesalahan-kesalahan saudara-saudara kita. Dalam hal ini, seperti juga dalam hal-hal lainnya, perlakuan kasar terhadap orang lain akan berbalik menimpa mereka sendiri. II. Beberapa peringatan mengenai tindakan menegur. Karena kita tidak boleh menghakimi orang lain, yang merupakan dosa besar, ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh menegur orang lain. Menegur adalah sebuah kewajiban besar yang dapat menjadi sarana untuk menyelamatkan jiwa orang itu dari maut, dan juga untuk menyelamatkan jiwa kita dari tindakan ikut ambil bagian dalam dosa orang yang ditegur itu. Sekarang perhatikanlah di sini: . Tidak semua orang pantas memberikan teguran. Mereka yang bersalah atas kesalahan-kesalahan yang sama yang mereka tuduhkan kepada orang lain, atau atas kesalahan-kesalahan yang lebih buruk lagi, akan mempermalukan diri mereka sendiri, dan tidak mungkin mereka akan mendatangkan kebaikan kepada orang yang mereka tegur (ay. 3-5). Berikut ini kita melihat, (1) Teguran telak bagi orang-orang yang suka mengecam, yang bertengkar dengan saudaranya karena kesalahan-kesalahan kecil, sementara mereka sendiri melakukan kesalahan-kesalahan besar. Bagi orang-orang yang cepat melihat selumbar di mata saudaranya, namun tidak menyadari balok di dalam mata mereka sendiri, terlebih lagi, bahkan sangat ingin mengeluarkan selumbar itu dari matanya, padahal mereka tidak pantas melakukannya karena mereka sendiri boleh dikatakan buta. Perhatikanlah: [1] Ada bermacam-macam tingkatan dalam dosa. Sebagian dosa hanya sebesar selumbar, yang lain sebesar balok. Sebagian sebesar nyamuk, dan yang lain sebesar unta. Akan tetapi, ini tidaklah berarti bahwa ada yang dinamakan dosa kecil, sebab Allah menentang dosa sekecil apa pun. Sebab, bila dosa itu dikatakan sebesar selumbar, (atau serpihan, untuk lebih tepatnya), toh ia ada di mata. Sedangkan, bila sebesar nyamuk, ia ada di tenggorokan. Dan keduanya sama-sama menimbulkan rasa pedih dan sangat berbahaya, dan kita tidak akan merasa nyaman atau sehat sebelum keduanya dikeluarkan. [2] Dosa-dosa kita sendiri haruslah tampak lebih besar di mata kita dibandingkan dengan dosa-dosa yang sama yang dilakukan orang lain. Kasih mengajarkan kita untuk menyebutnya selumbar di mata saudara kita, sedangkan pertobatan murni dan dukacita kudus akan mengajar kita untuk menyebutnya balok di mata kita sendiri. Dosa-dosa orang lain harus diperingan, sedangkan dosa-dosa kita sendiri harus diperberat. [3] Banyak orang yang memiliki balok di mata mereka, namun mereka tidak mengacuhkannya. Mereka ditindih kesalahan dan kuasa dosa-dosa yang sangat besar, namun mereka tidak meyadarinya, malah membenarkan diri mereka sendiri, seolah-olah mereka tidak perlu bertobat atau memperbarui diri. Sungguh aneh bahwa orang dapat berada dalam keadaan yang begitu berdosa dan menyedihkan, namun tidak menyadarinya, seperti orang yang memiliki balok di matanya, namun tidak mengindahkannya. Ilah dunia ini begitu piawai membutakan pikiran mereka, sehingga sekalipun demikian, mereka bisa berkata dengan penuh keyakinan, kami melihat. [4] Biasanya memang begitu, orang yang paling berdosa dan yang tidak menyadarinya sama sekali, sangat lancang dan bebas dalam menghakimi dan mengecam orang lain. Orang-orang Farisi, yang luar biasa angkuh dalam membenarkan diri mereka sendiri, paling keras dalam mengutuk orang lain. Mereka sangat kejam dalam mengecam murid-murid Kristus karena makan dengan tangan yang tidak dibasuh, suatu tindakan yang hampir tidak sebesar selumbar, sementara mereka sendiri mendorong orang untuk tidak menghormati orangtua sendiri, suatu dosa yang sebesar balok. Kesombongan dan sikap tidak mengenal belas kasihan adalah balok-balok yang umum dijumpai di dalam mata orang-orang yang sok kritis dan manis dalam mengecam orang lain. Bahkan, ada banyak orang yang mempunyai dosa tersembunyi dan tidak merasa malu untuk menghukum orang lain yang ketahuan melakukan dosa yang sama. Cogita tecum, fortasse vitium de quo quereris, si te diligenter excusseris, in sinu invenies; inique publico irasceris crimini tuo -- Renungkanlah, boleh jadi kesalahan yang kaukeluhkan itu, setelah diteliti dengan sungguh-sungguh, ternyata terdapat juga di dalam dirimu sendiri; dan pastilah tidak pantas untuk memperlihatkan kemarahan di depan umum terhadap kejahatanmu sendiri (Seneca, de Beneficiis). Begitu pula, [5] Bersikap kejam atas kesalahan orang lain dan bersikap lunak atas kesalahan diri sendiri merupakan suatu tanda kemunafikan. Hai orang Munafik (ay. 5). Apa pun yang pura-pura diperbuat oleh orang semacam itu, sudah pasti bahwa dia bukanlah musuh bagi dosa (sebab seandainya demikian, dia juga akan menjadi musuh bagi dosanya sendiri), dan oleh karena itu, orang demikian tidak layak mendapat pujian. Malah sebaliknya, ia sebenarnya merupakan musuh bagi saudaranya, dan oleh sebab itu patut dipersalahkan. Kemurahan hati rohani yang seperti ini harus diawali di rumah. "Bagaimana bisa engkau berkata, bagaimana mungkin tanpa malu engkau bisa berkata, kepada saudaramu, marilah aku bantu memperbarui dirimu, padahal engkau sendiri tidak peduli untuk memperbarui dirimu sendiri? Hatimu sendiri akan mencela engkau atas kemustahilan ini. Engkau hanya akan mendatangkan aib dan bersiaplah untuk menerima perkataan orang, perbuatan jahat membetulkan dosa: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri." I præ, sequar -- Berjalanlah di depan, aku akan mengikuti (bdk. Rm. 2:21). [6] Dengan menimbang-nimbang kesalahan sendiri, kita akan terhindar dari sikap mengecam orang dengan sewenang-wenang, namun janganlah itu menghindarkan kita dari memberi teguran yang ramah kepada orang lain dan dari memberi penghakiman dengan tulus dan murah hati. "Karena itu pimpinlah orang ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga diri sendiri (Gal. 6:1). Apa jadinya engkau dulu, apa jadinya engkau sekarang, dan apa jadinya engkau kelak, seandainya Allah membiarkan dirimu begitu saja?" (2) Berikut ini adalah kaidah yang baik bagi para pengecam (ay. 5). Gunakanlah cara yang benar, keluarkanlah dahulu balok dari matamu. Keburukan kita sendiri sama sekali tidak boleh dijadikan dalih untuk tidak menegur orang lain. Jika kita berpikir bahwa keadaan kita yang seperti itu membuat kita tidak layak untuk memberikan teguran kepada orang lain, maka ini justru akan semakin memperburuk keburukan kita sendiri. Kita tidak boleh berkata, "Aku mempunyai balok di mataku, dan oleh sebab itu aku tidak mau membantu saudaraku mengeluarkan selumbar dari matanya." Pelanggaran seseorang memang tidak akan pernah bisa dipakai sebagai alat pembelaannya, dan karena itulah, aku harus memperbarui diriku terlebih dulu, supaya dengan demikian aku dapat membantu memperbarui saudaraku, dan dapat membuat diriku layak untuk menegurnya. Perhatikanlah, orang-orang yang menyalahkan orang lain dengan sendirinya harus bebas dari kesalahan dan layak secara hukum. Orang-orang yang menegur di pintu gerbang, yakni yang layak menegur karena jabatan mereka, seperti para hakim dan hamba Tuhan, harus memperhatikan betul bagaimana mereka harus hidup dan harus benar dalam perilaku mereka: seorang penatua jemaat haruslah mempunyai nama baik (1Tim. 3:2, 7). Alat pemadam lilin di ruang mahakudus harus terbuat dari emas murni. . Tidak semua orang pantas ditegur. Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing (ay. 6). Hal ini dapat dipandang sebagai: (1) Kaidah bagi para murid dalam memberitakan Injil. Bukan berarti bahwa mereka tidak boleh memberitakannya kepada orang-orang yang jahat dan cemar (Kristus sendiri memberitakan Injil kepada para pemungut cukai dan orang berdosa), melainkan bahwa ini merujuk kepada orang-orang yang tetap keras kepala, meskipun Injil telah diberitakan kepada mereka; kepada orang-orang yang menghujatnya, dan menganiaya para pemberitanya. Murid-murid janganlah berlama-lama di antara orang-orang semacam itu, sebab ini hanya akan membuang tenaga dengan sia-sia, melainkan berpaling saja kepada orang lain (Kis. 13:41); begitulah menurut Dr. Whitby. Atau, (2) Kaidah bagi semua orang dalam memberikan teguran. Semangat kita dalam melawan dosa harus dituntun dengan kebijaksanaan, dan janganlah kita ke sana kemari memberikan berbagai petunjuk, nasihat, dan teguran, apalagi penghiburan, kepada para pengecam yang sudah keras hatinya, karena semuanya ini tidak akan ada gunanya bagi mereka, malah sebaliknya hanya akan membuat mereka marah dan berang terhadap kita. Lemparkanlah sebuah mutiara kepada babi, maka babi itu akan marah karenanya, seolah-olah engkau telah melemparinya dengan batu. Teguran akan disebut cemoohan (Luk. 11:45; Yer. 6:10). Oleh sebab itu, janganlah memberikan barang yang kudus kepada anjing dan babi (binatang-binatang haram). Perhatikanlah: [1] Nasihat dan teguran yang baik adalah barang yang kudus, sebuah mutiara: keduanya adalah perintah-perintah Allah, sangat berharga. Seperti cincin emas dan hiasan kencana, demikian jugalah teguran orang bijak (Ams. 25:12); teguran yang bijak adalah seperti minyak (Mzm. 141:5); laksana pohon kehidupan (Ams. 3:18). [2] Di antara angkatan yang jahat, ada sebagian yang sudah sebegitu jahatnya sehingga mereka dipandang seperti anjing dan babi. Perilaku keji mereka sudah sangat terkenal dan kurang ajar. Mereka telah begitu lama berdiri di jalan orang berdosa, sehingga sekarang sudah duduk dalam kumpulan pencemooh. Mereka terang-terangan membenci dan muak terhadap pengajaran, dan senantiasa menentangnya. Sebegitu jahatnya mereka sampai tidak mungkin untuk disembuhkan dan diperbaiki lagi. Mereka berbalik seperti anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi kembali ke kubangannya (2Ptr. 2:22). [3] Teguran untuk mengajar percuma saja diberikan kepada orang-orang semacam itu, dan hanya mendatangkan cemohan dan kejahatan kepada si penegur seperti yang bisa diperkirakan akan dilakukan oleh anjing dan babi. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain bahwa mereka akan menginjak-injak teguran itu, sambil memaki-maki dan mengamuk, sebab mereka tidak sabar jika dikendalikan dan dilawan. Setelah itu mereka akan berbalik dan mengoyak orang yang menegur mereka; mengoyak nama baik mereka dengan caci maki, membalas perkataan yang menyembuhkan dengan perkataan yang melukai, mengoyak mereka dengan penganiayaan. Herodes mengoyak Yohanes Pembaptis karena kesetiaannya. Lihatlah di sini buktinya bagaimana manusia bersikap seperti anjing dan babi. Orang-orang yang bisa dipandang demikian adalah mereka yang membenci teguran dan para penegur, dan menyerang orang yang dengan maksud baik terhadap jiwa-jiwa mereka menunjukkan kepada mereka dosa dan bahayanya. Orang-orang ini berdosa melawan obat penawarnya. Siapakah yang akan menyembuhkan dan menolong orang-orang yang tidak mau disembuhkan dan ditolong? Sudah jelaslah bahwa Allah berketetapan untuk membinasakan orang-orang semacam itu (2Taw. 25:16). Kaidah ini dapat diterapkan juga pada ketetapan-ketetapan Injil yang sifatnya memeteraikan, yang tidak boleh diberikan secara sembarangan kepada orang yang jelas-jelas jahat dan cemar, supaya barang-barang yang kudus tidak dipandang hina, dan supaya dengan demikian orang-orang yang najis menjadi semakin keras hati. Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. Namun demikian, kita harus sangat berhati-hati dalam mengutuk orang sebagai anjing dan babi, dan tidak boleh melakukannya sebelum menguji segala sesuatunya terlebih dulu, dengan bukti-bukti yang lengkap. Banyak orang yang terhilang karena dianggap demikian, padahal, seandainya sarana-sarana yang benar dipergunakan, ada kemungkinan mereka bisa diselamatkan. Seperti halnya kita harus berhati-hati dalam menyebut orang baik sebagai jahat, dengan menghakimi semua orang percaya sebagai munafik, demikian pula kita harus berhati-hati dalam menyebut orang jahat sebagai tidak tertolong lagi, dengan menilai semua orang jahat sebagai anjing dan babi. [4] Yesus Tuhan kita sangat lembut dalam memperhatikan keselamatan umat-Nya. Ia tidak mau begitu saja memperhadapkan mereka dengan kebengisan orang-orang yang akan berbalik mengoyak mereka. Janganlah mereka menjadi keterlaluan saleh, sehingga membinasakan diri mereka sendiri. Kristus menjadikan hukum perlindungan diri sebagai salah satu hukum-Nya sendiri, dan berhargalah darah umat-Nya di mata-Nya. * Doa sebagai Sarana Menerima Anugerah (7:7-11) Juruselamat kita, dalam pasal sebelumnya, sudah berbicara mengenai doa sebagai suatu kewajiban yang diperintahkan, yang dengannya Allah dihormati, dan yang apabila dilakukan dengan benar, akan mendatangkan upah. Di sini, Ia berbicara mengenai doa sebagai sarana yang ditentukan guna memperoleh apa yang kita butuhkan, terutama anugerah untuk menaati perintah-perintah yang diberikan-Nya, yang beberapa di antaranya sangat tidak nyaman bagi darah dan daging. I. Berikut ini adalah sebuah perintah dalam tiga kata yang mempunyai maksud sama, Mintalah, Carilah, Ketoklah (ay. 7), yang artinya, dalam satu kata, "Berdoalah; seringlah berdoa; berdoalah dengan tulus dan sungguh-sungguh; berdoa dan berdoalah terus; Selalulah berdoa dan bertekunlah di dalamnya; buatlah doa sebagai suatu usaha dan bersungguh-sungguhlah dalam mengerjakannya. Mintalah, seperti seorang pengemis yang meminta sedekah." Mereka yang ingin kaya dalam anugerah harus menetapkan hati untuk menekuni usaha meminta-minta, dan mereka akan mendapati bahwa usaha ini sangat menguntungkan. "Mintalah, kemukakanlah segala kebutuhan dan bebanmu kepada Allah, dan serahkanlah dirimu kepada-Nya untuk mendapatkan kebutuhan dan persediaan hidupmu sesuai janji-Nya. Mintalah, seperti pelancong yang menanyakan arah jalan. Berdoa berarti meminta dari Allah (Yeh. 36:37). Carilah, seperti mencari benda berharga yang hilang, atau seperti pedagang yang mencari mutiara yang indah. Carilah melalui doa (Dan. 9:3). Ketoklah, seperti orang yang ingin masuk ke dalam rumah mengetuk pintu." Kita akan dipersilakan masuk untuk berbincang-bincang dengan Allah, akan dibawa ke dalam kasih-Nya, kebaikan-Nya, dan kerajaan-Nya. Dosa telah menutup pintu dan menjadi penghalang bagi kita. Dengan doa, kita mengetuk, Tuan, Tuan, bukakanlah kami pintu! Kristus mengetuk pintu kita (Why. 3:20; Kid. 5:2), dan memperbolehkan kita mengetuk pintu-Nya, suatu kebaikan yang tidak kita berikan kepada pengemis-pengemis biasa. Mencari dan mengetuk menyiratkan sesuatu yang lebih dari meminta dan berdoa. . Kita jangan hanya meminta, tetapi juga mencari. Kita harus mendukung doa-doa kita dengan usaha. Dengan menggunakan berbagai sarana yang telah ditentukan, kita harus mencari apa yang kita minta, supaya tidak mencobai Allah. Ketika pengurus kebun anggur meminta agar diberikan waktu satu tahun bagi pohon ara yang tidak berbuah, ia menambahkan, "Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya" (Luk. 13:7-8). Allah memberikan pengetahuan dan anugerah kepada orang-orang yang menyelidiki Kitab Suci dan yang menanti di gerbang Hikmat; dan Ia memberikan kuasa melawan dosa kepada orang-orang yang menghindari kesempatan-kesempatan yang bisa membuatnya berdosa. . Kita jangan hanya meminta, tetapi juga mengetuk. Kita harus datang ke hadapan pintu Allah, dan harus meminta dengan sesungguh-sungguhnya. Bukan hanya berdoa, melainkan juga memohon dan bergumul dengan Allah. Kita harus mencari dengan tekun, kita harus terus mengetuk, harus bertekun dalam doa dan dalam menggunakan berbagai sarana, harus bertahan sampai akhir dalam melaksanakan tugas. II. Inilah janji yang diberikan: usaha kita untuk berdoa, jika memang kita benar-benar berusaha di dalamnya, tidak akan sia-sia. Apabila Allah menjumpai hati yang berdoa, maka Ia akan dijumpai sebagai Allah yang mendengarkan doa. Allah akan memberikan jawaban damai sejahtera kepadamu. Perintah ini berlipat tiga, mintalah, carilah, dan ketoklah. Ada perintah demi perintah, tetapi janjinya berlipat enam, pernyataan demi pernyataan, untuk membesarkan hati kita, karena keyakinan yang kuat terhadap suatu janji akan membuat kita gembira dan tetap taat. Sekarang, kita lihat di sini: . Janji itu telah dibuat, dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi perintah itu dengan tepat (ay. 7). Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; bukan akan dipinjamkan kepadamu, atau dijual kepadamu, melainkan diberikan kepadamu. Adakah barang lain yang cuma-cuma selain pemberian? Apa pun yang kaudoakan, sesuai dengan janji itu, dan apa pun yang kau minta, akan diberikan kepadamu, jika Allah menganggapnya baik bagimu. Jadi, apa lagi yang kaukehendaki? Yang diperlukan hanyalah meminta, dan mempunyai. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa, atau karena salah berdoa. Apa yang tidak layak diminta, tidak akan layak dimiliki, dan dengan demikian tidak berharga apa-apa. Carilah, maka kamu akan mendapat, dan usahamu tidak akan sia-sia. Allah sendiri akan ditemukan oleh orang yang tekun mencari Dia, dan jika kita mendapatkan Dia, maka itu sudah sangat cukup bagi kita. "Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Pintu rahmat dan anugerah tidak akan lagi ditutup bagimu sebagai musuh dan penyelundup, melainkan akan dibukakan bagimu sebagai teman dan anak-anak. Kelak akan ditanyakan, siapakah yang berdiri di muka pintu? Jika kamu mampu berkata, seorang teman, dan memiliki karcis janji yang siap ditunjukkan dengan tangan iman, maka janganlah ragu, kamu akan diizinkan masuk. Jika pintu tidak dibukakan pada ketokan pertama, teruslah berdoa. Jika kita mengetok pintu seorang teman dan berbalik pergi, maka itu merupakan penghinaan bagi dia; meskipun ia tampak berlambat-lambat, tetaplah menunggu." . Janji itu diulangi (ay. 8). Maksudnya sama, tetapi dengan beberapa tambahan. (1) Janji ini dibuat untuk diberikan kepada semua orang yang berdoa dengan benar. "Bukan hanya kalian murid-murid-Ku yang akan menerima apa yang kalian doakan, tetapi setiap orang yang meminta, menerima, baik orang Yahudi maupun bukan-Yahudi, tua atau muda, kaya atau miskin, tinggi atau rendah, majikan atau pelayan, terpelajar atau tidak terpelajar, mereka semua sama-sama disambut di dalam takhta kasih karunia, jika mereka datang dengan iman, sebab Allah tidak membedakan orang." (2) Janji itu dibuat sebagai suatu anugerah, dengan memakai kata-kata yang berlaku untuk waktu kini, jadi bukan sekadar janji untuk masa akan datang. Setiap orang yang meminta, bukan saja akan menerima, tetapi telah menerima. Jika dengan iman kita menerapkan dan memegang janji itu sebagai milik kita, maka itu artinya kita memang tertarik pada sesuatu yang berharga yang dijanjikan itu dan kita sedang menabung untuknya. Jadi, betapa pasti dan tidak mungkin batal janji-janji Allah itu, sampai-sampai janji-janji itu langsung berlaku sebagai milik saat kini, artinya orang-orang percaya yang aktif langsung masuk dan menjadikan berkat-berkat yang dijanjikan itu sebagai miliknya. Apa yang kita miliki dalam pengharapan, menurut janji itu, sama pastinya dan manisnya seperti apa yang sudah ada dalam tangan kita sekarang ini. Allah telah berfirman di tempat kudus-Nya, dan kemudian Dia berkata, "Gilead punya-Ku, Manasye punya-Ku" (Mzm. 108:7-9). Apa saja menjadi kepunyaanku, asalkan aku bisa percaya bahwa memang demikianlah adanya. Bantuan-bantuan yang dihibahkan dengan syarat tertentu akan menjadi milik mutlak ketika segala syarat itu dipenuhi. Begitu pula, setiap orang yang meminta, menerima. Di dalam pernyataan ini Kristus sudah menaruh perintah-Nya supaya itu terlaksana, dan karena Dia mahakuasa, ini sudah cukup. . Janji itu digambarkan dengan membandingkannya dengan orangtua di dunia ini yang dengan sendirinya akan memberikan anak-anak mereka apa yang mereka minta. Kristus menarik perhatian para pendengar-Nya dengan bertanya, "Adakah seorang dari padamu, walaupun sesusah-susah dan sejahat-jahatnya ia, yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti?" (ay. 9-10). Dari situ Ia menyimpulkan (ay. 11), "Jadi jika kamu yang jahat, mengabulkan permintaan anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Sekarang kita lihat kegunaan pernyataan ini: (1) Untuk mengarahkan doa-doa dan harapan-harapan kita. [1] Kita harus datang kepada Allah, seperti anak-anak menghadap seorang Bapa di sorga, dengan penuh rasa hormat dan keyakinan. Sungguh wajar bila seorang anak yang menginginkan sesuatu atau mengalami kesulitan berlari menghampiri ayahnya sambil mengeluh, "Aduh kepalaku, kepalaku!" Dengan sikap baru seperti itulah kita seharusnya datang kepada Allah untuk meminta pertolongan atas berbagai kebutuhan kita. [2] Kita harus datang kepada-Nya untuk meminta hal-hal yang baik, sebab Ia memberikan yang baik kepada mereka yang meminta pada-Nya. Hal ini mengajar kita untuk berserah kepada-Nya. Kita tidak tahu apa yang baik bagi diri kita sendiri (Pkh. 6:12), tetapi Dia tahu apa yang baik bagi diri kita. Oleh sebab itu kita harus menyerahkannya kepada-Nya. Ya Bapa-Ku, jadilah kehendak-Mu. Di sini, si anak diharapkan untuk meminta roti, yakni yang diperlukan, dan ikan, yang menyehatkan. Namun, bila anak itu dengan bodohnya meminta batu, atau ular, atau buah yang belum masak, atau pisau tajam untuk bermain, maka sang ayah, meskipun dia baik hati, akan bertindak sangat bijaksana dengan menolak permintaan itu. Kita sering meminta kepada Allah hal-hal yang akan membahayakan kita jika kita memilikinya. Allah mengetahui hal ini, dan oleh sebab itu Ia tidak memberikannya kepada kita. Penolakan yang dibuat berdasarkan kasih lebih baik daripada pengabulan yang diberikan dengan disertai kemarahan. Kita pasti akan segera celaka seandainya kita sudah menerima semua yang kita inginkan. Hal ini diungkapkan dengan luar biasa bagusnya oleh Juvenal, ahli hukum yang hidup di kerajaan Romawi, dalam Sat. 10. Permittes ipsis expendere numinibus, quid Conveniat nobis, rebusque sit utile nostris, Nam pro jucundis aptissima quæque dabunt dii: Carior est illis homo, quam sibi: nos animorum Impulsu, et cæca, magnaque cupidine ducti, Conjugium petimus, partumque uxoris; at illis Notum est, qui pueri, qualisque futura sit uxor. Percayakanlah nasibmu kepada kuasa-kuasa yang di atas. Biarkanlah mereka mengaturnya bagimu, dan memberikan Keperluanmu sesuai hikmat mereka yang tidak pernah keliru: Dalam kebaikan, seperti juga dalam kebesaran, mereka melebihi segalanya; Ah, coba kalau kita mencintai diri kita setengahnya saja dari yang seharusnya! Kita, yang dibutakan oleh berbagai nafsu dan gairah, Mencari pasangan, dan ingin menikah, Lalu mendambakan keturunan: namun hanya ilah-ilah sajalah Yang tahu siapa yang kelak menjadi istri dan anak-anak kita. (2) Untuk mendorong doa-doa dan harapan-harapan kita. Kita boleh berharap bahwa kita tidak akan ditolak dan dikecewakan. Kita tidak akan menerima batu sebagai ganti roti, yang membuat gigi kita patah (walaupun lapisan gigi kita cukup keras), atau ular sebagai ganti ikan, sehingga kita terpagut. Kita memang mempunyai alasan untuk merasa takut kalau-kalau hal ini akan menimpa kita, karena kita memang pantas diganjar demikian, tetapi Allah akan berbaik hati kepada kita dengan tidak mengganjar kita atas dosa-dosa kita. Dunia sering kali memberi kita batu sebagai ganti roti, dan ular sebagai ganti ikan, tetapi Allah tidak pernah berbuat demikian; tidak, kita akan didengar dan dijawab, seperti anak-anak oleh orangtua mereka. [1] Allah telah menempatkan di dalam hati orangtua kecenderungan yang penuh belas kasihan untuk menolong dan memberikan persediaan bagi anak-anak mereka, sesuai dengan kebutuhan mereka. Bahkan orang yang hampir-hampir tidak punya hati nurani terhadap kewajibannya pun masih melakukannya, karena sudah menjadi nalurinya. Tidak pernah ada hukum yang dianggap perlu ditetapkan guna mewajibkan orangtua memelihara anak-anak mereka yang sah, atau, seperti pada zaman Salomo, anak-anak mereka yang tidak sah. [2] Dalam hubungan dengan kita, Allah telah menganggap diri-Nya sebagai seorang Bapa, dan mengakui kita sebagai anak-anak-Nya. Oleh sebab itu, karena dengan sendirinya kita pasti akan menolong anak-anak kita, maka kita juga boleh berani untuk datang kepada-Nya untuk minta tolong. Kasih dan kelembutan yang dimiliki para ayah berasal dari Dia; bukan dari alam, melainkan dari Allah Pencipta alam. Oleh sebab itu, kasih dan kelembutan ini jauh lebih besar terdapat dalam diri-Nya. Ia membandingkan kepedulian-Nya terhadap umat-Nya dengan kepedulian seorang ayah terhadap anak-anaknya (Mzm. 103:13), bahkan dengan kepedulian seorang ibu, yang biasanya lebih lemah lembut (Yes. 66:13; 49:14-15). Namun, kasih, kelembutan, dan kebaikan-Nya itu jauh melebihi yang ada pada para orangtua mana pun di dunia ini. Oleh sebab itu, kenyataan ini ditekankan dengan kata apalagi, dan didasarkan pada kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi bahwa Allah adalah Bapa yang lebih baik, jauh lebih baik daripada orang tua duniawi mana pun; rancangan-Nya jauh melebihi rancangan mereka. Ayah duniawi kita telah menjaga kita, dan kita telah menjaga anak-anak kita; tapi terlebih lagi, Allah akan menjaga anak-anak-Nya. Ayah duniawi kita sudah jahat karena asalnya, karena merupakan keturunan dari Adam yang sudah jatuh. Mereka telah kehilangan banyak sifat baik yang sesungguhnya dimiliki manusia, dan sifat-sifat yang rusak itu antara lain tidak sabar dan tidak berbaik hati. Namun demikian, mereka memberi pemberian yang baik kepada anak-anak mereka, dan mereka tahu bagaimana memberi apa yang sesuai dan kapan waktunya; apalagi Allah, sebab Dia menyambut ketika orang justru mencampakkan (Mzm. 27:10). Dan, Pertama, Allah lebih tahu. Orangtua sering kali mencintai anak mereka dengan cara yang bodoh, tetapi Allah penuh dengan hikmat yang tidak terukur. Dia tahu apa yang kita perlukan, apa yang kita inginkan, dan apa yang sesuai bagi kita. Kedua, Allah jauh lebih baik hati. Seandainya seluruh kasih sayang para ayah yang lemah lembut di dunia ini digabungkan jadi satu, dan dibandingkan dengan kasih setia yang lemah lembut dari Allah kita, maka ini sama dengan lilin dibandingkan dengan matahari, atau setetes air dengan samudra raya. Allah jauh lebih kaya, dan jauh lebih bersedia memberi kepada anak-anak-Nya dibandingkan dengan ayah kita secara kedagingan, sebab Dia adalah Bapa dari roh kita, yang mengasihi selamanya dan hidup selamanya. Kasih sayang dan kelemahlembutan Sang Bapa bahkan tercurah kepada anak-anak yang tidak taat, anak-anak yang hilang, seperti Daud terhadap Absalom. Jadi, bukankah semuanya ini seharusnya cukup untuk membungkam ketidakpercayaan kita?
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
NEXT: Renungan HKBP SENIN, 06 MEI 2024 - DIAM ! TENANGLAH ! - BACAAN PAGI (ZAKHARIA 10:1-2) - BACAAN MALAM (YOHANES 17:24-26) PREV: Renungan HKBP KAMIS, 02 MEI 2024 - DALAM YESUS ADA PENGAMPUNAN - BACAAN PAGI (MAZMUR 147:1-6) BACAAN MALAM (MAZMUR 9:2-13) Minggu, 26 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 26 April 2026 - HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAK-SORAI - Kisah Rasul 2:22-28 Minggu, 19 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 19 April 2026 - Marlas Roha di Bagasan Tuhan (Bersukacita dalam Tuhan) - Habakuk 3:10-19
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |