f Khotbah Minggu, 12 Mei 2024 - Kebahagiaan Orang Benar - Mazmur 1:1-6 - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
View : 830 kali
Khotbah Minggu, 12 Mei 2024 - Kebahagiaan Orang Benar - Mazmur 1:1-6

Baca Juga:
Tata Ibadah HKBP Minggu, 12 Mei 2024 - MINGGU EXAUDI

Mazmur 1:1-6
Bahasa Batak:
1:1 Martua ma halak, na so olo mangihuthon tahi ni angka parjahat, jala na so olo jongjong tu dalan ni angka pardosa, jala na so olo sahundulan dohot angka pangarehei.
1:2 Sai patik ni Jahowa do lomo ni rohana, jala sai i do dipingkiri rohana arian dohot borngin.
1:3 Songon hau do ibana, na sinuan di topi ni batang aek, na marparbuehon parbuena di hajujumpang ni tingkina bulungna pe ndang olo malos, jala sude na niulana manjadi do.
1:4 Alai ndang songon i anggo pangalaho ni angka parjahat, songon orbuk, na hinabangkon ni alogo do nasida.
1:5 Dibahen i ndang manahan angka parjahat i maradophon paruhuman, manang tarbahen angka pardosa jongjong di luhutan ni angka na tigor roha.
1:6 Ai ditanda Jahowa do dalan ni angka na tigor roha i; alai matua laho lonong do anggo dalan ni angka parjahat. 


Bahasa Indonesia:
Jalan orang benar dan jalan orang fasik
1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. 1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. 1:4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. 1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; 1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Penjelasan:
* Orang yang Berbahagia (1:1-3)
Si pemazmur memulai dengan sifat dan keadaan orang saleh, supaya orang-orang saleh inilah yang pertama-tama boleh mendapat penghiburan yang menjadi milik mereka.

Inilah,
I. Suatu gambaran tentang jiwa dan jalan orang saleh, yang dengannya kita harus menguji diri kita sendiri.
Tuhan mengenal orang-orang kepunyaan-Nya melalui nama mereka, tetapi kita harus mengenal mereka melalui sifat mereka. Sifat memang cocok untuk dipakai sebagai syarat dalam masa ujian, supaya kita berusaha untuk memiliki sifat yang disyaratkan itu. Sifat tersebut merupakan perintah hukum yang harus kita taati karena kewajiban dan juga merupakan persyaratan janji yang harus kita penuhi karena tuntutan kepentingan. Sifat orang baik di sini digambarkan sesuai dengan aturan-aturan yang dipilihnya sebagai pedoman hidup dan yang dipakainya untuk mengukur dirinya sendiri. Jalan yang kita ambil pada saat kita berangkat, dan pada setiap belokan, untuk menuntun perilaku kita, entah yang mengikuti dunia ini atau firman Allah, mempunyai akibat yang sangat penting. Kesalahan dalam memilih patokan dan pemimpin merupakan kesalahan yang mendasar dan mematikan. Tetapi, jika dalam hal ini kita memilih yang benar, maka kita sudah ada di jalan yang lurus untuk melakukan yang baik.
        1. Orang yang saleh, agar dapat menghindari kejahatan, meninggalkan sepenuhnya pergaulan dengan para pembuat kejahatan, dan tidak mau dipimpin oleh mereka (ay. 1): Ia tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, dst. Bagian dari sifat orang saleh ini ditampilkan pertama-tama, karena orang yang hendak memegang perintah-perintah Allah mereka haruslah berkata kepada para pembuat kejahatan, “menjauhlah dari pada kami”( 119:115), dan menjauh dari kejahatan merupakan permulaan hikmat.
            (1) Ia melihat para pembuat kejahatan di sekelilingnya. Dunia penuh dengan mereka, mereka berjalan di segala sisi. Di sini mereka digambarkan dengan tiga sifat, orang fasik, orang berdosa, dan pencemooh. Lihatlah langkah-langkah apa yang dilewati manusia untuk sampai pada puncak ketidaksalehan. Nemo repente fit turpissimus -” Tidak ada orang yang dengan begitu saja mencapai puncak kejahatan sekaligus. Pertama-tama mereka fasik, membuang rasa takut akan Allah dan hidup dengan mengabaikan kewajiban mereka terhadap-Nya: tetapi mereka tidak berhenti sampai di situ. Ketika ibadah-ibadah agama dikesampingkan, mereka pun menjadi orang berdosa, maksudnya, dengan terang-terangan mereka memberontak melawan Allah dan melayani kepentingan dosa dan Iblis. Dengan meniadakan sesuatu, maka terbukalah jalan untuk berbuat sesuatu yang lain. Dengan demikian hati mereka menjadi begitu mengeras sehingga pada akhirnya mereka menjadi pencemooh. Maksudnya, dengan terang-terangan mereka menantang apa yang suci, mengolok-olok agama, dan menjadikan dosa sebagai bahan tertawaan. Demikianlah jalan kejahatan itu menurun tajam ke bawah. Yang buruk menjadi semakin buruk, orang-orang berdosa sendiri menjadi penggoda-penggoda bagi orang lain dan pembela-pembela bagi Baal. Kata yang diterjemahkan dengan fasik di sini menandakan orang yang tidak tetap, yang tidak mempunyai tujuan tertentu, dan yang berjalan tanpa adanya aturan yang pasti. Mereka hanya dikuasai oleh setiap hawa nafsu dan menyerah pada setiap godaan. Kata untuk orang berdosa menandakan orang yang bertekad untuk berbuat dosa dan yang menjadikannya sebagai pekerjaan mereka. Pencemooh adalah orang yang membuka mulut melawan langit. Semua ini dilihat oleh orang baik dengan hati sedih. Jiwanya yang benar dibuat menjadi menderita tanpa henti karenanya. Oleh sebab itu,
            (2) Orang benar ini selalu menghindari mereka di mana pun ia melihat mereka. Ia tidak melakukan apa yang mereka perbuat. Supaya jangan sampai ia berbuat demikian, ia tidak bergaul akrab dengan mereka.
                [1] Ia tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. Ia tidak hadir dalam pertemuan-pertemuan mereka, ataupun meminta nasihat dari mereka. Meskipun mereka begitu cerdas, cerdik, dan terpelajar, namun jika fasik, mereka tidak akan dijadikan penasihat-penasihatnya. Ia tidak setuju dengan mereka, dan juga tidak mengatakan apa yang mereka katakan (Luk. 23:51). Ia tidak menggunakan ukuran berdasarkan asas-asas mereka, atau bertindak menuruti nasihat yang mereka berikan dan pegang. Orang fasik sangat bersemangat memberikan nasihat mereka melawan agama, dan semua itu diatur dengan sangat terampil, sehingga bila kita terhindar dari noda dan jeratnya, bolehlah kita merasa lega dan berbahagia.
                [2] Ia tidak berdiri di jalan orang berdosa. Ia menghindar berbuat apa yang mereka perbuat. Jalan mereka tidak akan menjadi jalannya. Ia tidak akan masuk ke dalam jalan itu, apalagi terus berjalan di dalamnya, seperti yang dilakukan orang berdosa, yang menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik (36:5). Ia menghindar (sebisa mungkin) dari tempat mereka berada. Supaya tidak meniru-niru mereka, ia tidak mau berhubungan dengan mereka, atau memilih mereka sebagai teman-temannya. Ia tidak berdiri di jalan mereka, untuk dijemput oleh mereka (Ams. 7:8), tetapi menjaga dirinya sejauh mungkin dari mereka seperti menjauh dari tempat atau orang yang terkena wabah, karena takut tertular (Ams. 4:14-15). Barangsiapa yang ingin terhindar dari bahaya harus menghindar dari jalan bahaya.
                [3] Ia tidak duduk dalam kumpulan pencemooh. Ia tidak duduk santai dengan orang-orang yang duduk aman dalam kefasikan mereka dan yang menyenangkan diri mereka dengan hati nurani mereka sendiri yang sudah menjadi gersang. Ia tidak berkawan dengan orang-orang yang duduk di balik bilik tertutup untuk mencari-cari cara dan sarana untuk mendukung dan memajukan kerajaan Iblis. Ia juga tidak duduk bersama mereka yang secara terang-terangan menghakimi dan mengutuk angkatan orang benar. Kumpulan para peminum adalah kumpulan pencemooh (69:13). Berbahagialah orang yang tidak pernah duduk di antara perkumpulan semacam itu (Hos. 7:5).

        2. Orang saleh, agar bisa melakukan apa yang baik dan tetap melekat padanya, berserah pada bimbingan firman Allah dan mengakrabkan diri dengan firman tersebut (ay. 2). Inilah yang menghindarkannya dari jalan orang fasik dan menguatkannya saat melawan godaan-godaan mereka. Sesuai dengan firman yang Engkau ucapkan, aku telah menjaga diriku terhadap jalan orang-orang yang melakukan kekerasan ( 17:4). Kita tidak perlu mendambakan persekutuan dengan orang-orang berdosa, entah demi kesenangan atau kemajuan hidup, apabila kita sudah bersekutu dengan firman Allah dan dengan Allah sendiri di dalam dan melalui firman-Nya. Jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya (Ams. 6:22). Kita bisa menilai keadaan rohani kita dengan bertanya, “Apa arti hukum Allah bagi kita? Apa yang bisa kita manfaatkan darinya? Adakah tempat baginya di dalam hati kita?”

            Lihatlah di sini:
            (1) Kasih sayang penuh dari orang baik terhadap hukum Allah: Kesukaannya ialah Taurat TUHAN. Ia bersuka di dalamnya, walaupun itu sebuah hukum, sebuah kuk, namun, karena hukum itu adalah hukum Allah, yang kudus, adil, dan baik, dan yang disetujuinya dengan sukarela, maka ia pun bersuka di dalam batinnya (Rm. 7:16, 22). Semua orang yang sungguh senang dengan adanya Allah pasti sangat senang dengan adanya Alkitab, sebuah pewahyuan akan Allah, akan kehendak-Nya, dan akan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan di dalam Dia.
            (2) Pengenalan akrab akan firman Allah yang tetap dijaga oleh orang baik: Ia merenungkan Taurat itu siang dan malam. Dengan ini tampak bahwa ia bersuka di dalamnya, sebab apa yang kita sukai, pasti suka kita memikir-mikirkannya (119:97). Merenungkan firman Allah berarti bercakap-cakap dengan diri kita sendiri mengenai perkara-perkara besar yang terkandung di dalamnya, dengan niat ingin menerapkannya dalam kehidupan kita, dengan pikiran yang teguh, sampai perkara-perkara itu meresap benar dalam diri kita dan hingga kita mencium aroma serta mengalami kuasanya di dalam hati kita. Hal ini harus kita lakukan siang dan malam. Kita harus membiasakan diri untuk terus-menerus memperhatikan firman Allah sebagai pedoman bagi segala perbuatan kita dan sumber dari segala penghiburan kita. Kita harus memilikinya di dalam pikiran kita, apa pun yang terjadi, entah malam atau siang. Tidak ada waktu yang salah untuk merenungkan firman Allah, dan juga tidak ada waktu yang tidak tepat untuk melakukannya. Kita tidak saja harus berketetapan untuk merenungkan firman Allah pagi dan malam, pada permulaan siang dan malam, tetapi juga pemikiran akan firman Allah ini harus terjalin dalam pekerjaan dan pergaulan sehari-hari, dalam istirahat dan tidur di setiap malam. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.

II. Jaminan kebahagiaan yang diberikan kepada orang saleh, dan kepastian ini seharusnya mendorong diri kita untuk berusaha memiliki sifat orang saleh itu.

1. Secara umum, ia berbahagia (ay. 1). Allah memberkatinya, dan berkat itu akan membuatnya berbahagia. Berkat tercurah baginya, segala macam berkat, baik dari sumber yang di atas maupun yang di bawah, yang cukup untuk membuatnya berbahagia sepenuhnya. Tidak satu pun unsur kebahagiaan akan hilang darinya. Ketika si pemazmur berusaha menggambarkan seperti apa seorang yang berbahagia itu, ia menggambarkannya sebagai seorang yang baik. Sebab, bagaimanapun juga, orang-orang yang berbahagia, yang benar-benar berbahagia, hanyalah mereka yang kudus, benar-benar kudus. Namun demikian, lebih penting bagi kita untuk mengetahui jalan menuju kebahagiaan itu sendiri daripada untuk mengetahui apa saja yang terdapat di dalam kebahagiaan itu. Bahkan, kebaikan dan kekudusan bukan saja merupakan jalan menuju kebahagiaan (Why. 22:14), tetapi juga merupakan kebahagiaan itu sendiri. Seandainya tidak ada kehidupan lain setelah ini, tetap saja orang yang berbahagia adalah orang yang setia melakukan kewajibannya.

2. Kebahagiaannya di sini digambarkan melalui sebuah perumpamaan (ay. 3): Ia seperti pohon, berbuah dan tumbuh subur. Ini merupakan hasil,
            (1) Dari perbuatannya yang saleh. Ia merenungkan hukum Allah, menjadikannya in succum et sanguinem -” sebagai air dan darah, dan ini membuatnya seperti pohon. Semakin kita bergaul akrab dengan firman Allah, semakin kita diperlengkapi dengan baik untuk setiap perkataan dan perbuatan baik. Atau,
            (2) Dari berkat yang dijanjikan. Ia diberkati oleh Tuhan, dan oleh sebab itu ia akan menjadi seperti pohon. Berkat ilahi menghasilkan buah-buah yang nyata. berkat Berkat ilahi adalah kebahagiaan orang saleh,
                [1] Bahwa ia ditanam oleh anugerah Allah. Semua pohon yang ada pada dasarnya adalah pohon zaitun liar, dan akan tetap demikian sebelum dicangkokkan menjadi baru, dan ini dilakukan oleh kuasa dari atas. Pohon yang baik tidak pernah tumbuh dengan sendirinya. Tuhanlah yang menanamnya, dan oleh sebab itu Dialah yang harus diagungkan di dalamnya. Kenyang pohon-pohon TUHAN(Yes. 61:3).
                [2] Bahwa ia ditempatkan dengan sarana anugerah, yang di sini disebut aliran air, sungai-sungai yang menyukakan kota Allah kita ( 46:5). Dari sungai-sungai ini orang baik menerima persediaan kekuatan dan tenaga, tetapi dengan cara yang tersembunyi dan tidak tampak.
                [3] Bahwa perbuatan-perbuatannya akan berbuah, yang akan semakin memperbesar keuntungannya (Flp. 4:17). Kepada mereka yang pertama-tama diberkati-Nya, Allah berkata, “Berkembangbiaklah”(Kej. 1:22; kjv: Berbuahlah -” pen.), dan penghiburan serta kehormatan yang didapat karena berbuah merupakan imbalan atas segala jerih payah yang dilakukan untuk berbuah. Orang-orang yang menikmati segala belas kasihan anugerah diharapkan, baik dalam sikap pikiran maupun perilaku hidup mereka, agar mereka sehati sejalan dengan maksud-maksud anugerah itu, dan kemudian menghasilkan buah. Dan, biarlah ini menjadi pujian bagi Sang Pengurus kebun anggur yang agung itu, bahwa mereka menghasilkan buah (yaitu apa yang dituntut dari mereka) pada musimnya, yaitu bahwa mereka menjadikan musim itu paling indah dan paling berguna, dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat baik pada waktunya yang sesuai.
                [4] Bahwa pengakuan imannya akan dijaga supaya tidak rusak dan membusuk: Dan yang tidak layu daunnya. Orang-orang yang hanya menghasilkan daun pengakuan iman, tanpa satu pun buah yang baik, daun mereka akan layu, dan mereka akan menjadi malu akan pengakuan iman mereka itu, seperti sebelumnya mereka bangga akan pengakuan itu. Tetapi, jika firman Allah memerintah di dalam hati, maka firman itu akan menjaga pengakuan iman untuk tetap hijau, untuk mendatangkan penghiburan maupun pujian bagi kita. Pohon salam yang tetap hijau seperti ini pasti tidak akan pernah layu.
                [5] Bahwa kesejahteraan akan menyertainya ke mana saja ia pergi, kesejahteraan rohani. Apa saja yang diperbuatnya, yang sesuai dengan hukum itu, akan mendatangkan kesejahteraan dan berhasil sesuai dengan apa yang dipikirkannya, dan malah melampaui apa yang diharapkannya.
    Dalam menyanyikan ayat-ayat ini, sembari sadar betul akan sifat dosa yang jahat dan berbahaya, akan keunggulan-keunggulan hukum ilahi yang melampaui segalanya, dan akan kuasa serta keberhasilan anugerah Allah, yang darinya buah kita didapat, kita harus mengajar dan memperingatkan diri kita, satu sama lain, untuk berjaga-jaga terhadap dosa dan segala jalan yang mendekatkan kita padanya, untuk banyak bergaul dengan firman Allah, dan melimpah dalam menghasilkan buah kebenaran. Dan, dalam mendoakannya, kita harus memohon Allah untuk memberikan anugerah-Nya, baik untuk membentengi diri kita melawan setiap perkataan dan perbuatan jahat maupun untuk memperlengkapi kita bagi setiap perkataan dan perbuatan baik.

* Gambaran dan Kebinasaan Orang Fasik (1:4-6)
I. Gambaran tentang orang fasik (ay. 4).
        1. Secara umum, mereka adalah kebalikan dari orang benar, baik dalam sifat maupun keadaan: Bukan demikian orang fasik. Alkitab Septuaginta (Perjanjian Lama terjemahan bahasa Yunani -” pen.) mengulanginya dengan tegas: Bukan demikian orang fasik; mereka tidak demikian. Mereka dipimpin oleh nasihat orang fasik, berjalan di jalan orang-orang berdosa, dan duduk di dalam kumpulan pencemooh. Mereka tidak bersuka di dalam hukum Allah, tidak pernah memikirkannya. Mereka tidak menghasilkan buah apa-apa selain anggur-anggur Sodom. Mereka merusakkan tanah.
        2. Secara khusus, jika orang benar adalah seperti pohon yang berharga, berguna, dan berbuah, maka orang fasik seperti sekam yang ditiupkan angin, bagian yang paling ringan dari sekam, debu yang pasti akan disapu bersih oleh pemilik rumah, karena tidak berguna untuk apa-apa. Engkau mau menghargai mereka? Engkau mau menimbang mereka? Mereka itu seperti sekam, tidak berharga sama sekali dalam pandangan Allah, betapa pun tingginya mereka menghargai diri mereka sendiri. Engkau mau tahu sikap pikiran mereka? Mereka ringan dan sia-sia. Mereka tidak berisi, tidak padat. Mereka mudah diombang-ambingkan oleh setiap angin dan godaan. Mereka tidak teguh. Maukah engkau tahu kesudahan mereka? Murka Allah akan menghalau mereka dalam kefasikan mereka, seperti angin meniup sekam, yang tidak pernah mengumpulkan atau memperhatikan mereka. Sekam, untuk sementara waktu, bisa saja berada di antara gandum, tetapi akan datang Dia yang memegang alat penampi ditangan-Nya dan yang akan membersihkan tempat pengirikan-Nya. Orang-orang yang karena dosa dan kebodohan mereka sendiri menjadikan diri mereka seperti sekam akan didapati demikian di hadapan angin dan api murka ilahi ( 35:5), sehingga mereka tidak tahan berdiri di hadapannya atau untuk menghindar darinya (Yes. 17:13).

II. Kebinasaan orang fasik dibacakan (ay. 5).
        1. Mereka akan dicampakkan, pada saat penghakiman mereka, sebagai para pengkhianat yang terbukti bersalah: Mereka tidak akan tahan dalam penghakiman, maksudnya, mereka akan didapati bersalah, menunduk-nunduk dengan rasa malu dan bingung, dan semua pembelaan serta dalih mereka akan ditolak sebagai tidak berdasar. Akan datang penghakiman, ketika sifat dan perbuatan setiap orang pada saat ini, sekalipun disembunyikan dan disamarkan dengan begitu lihai, akan benar-benar diungkapkan dengan sempurna, dan tampak dalam warna aslinya, dan sesuai dengan itu pula nasib setiap orang, dengan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat, akan ditentukan sampai pada kekekalan. Orang fasik harus tampil dalam penghakiman itu, untuk menerima sesuai dengan apa yang mereka perbuat di dalam tubuh. Boleh saja mereka berharap untuk luput, bahkan, luput dengan terhormat, tetapi pengharapan mereka akan mengecewakan mereka: Mereka tidak akan tahan dalam penghakiman, karena bukti-bukti yang akan melawan mereka sangat jelas, dan penghakiman dilakukan dengan adil dan tidak berat sebelah.
        2. Mereka akan dijauhkan selamanya dari perkumpulan orang yang berbahagia. Mereka tidak akan tahan berdiri dalam perkumpulan orang benar, maksudnya, dalam penghakiman(begitu menurut sebagian orang) yang dilakukan dalam pengadilan yang di dalamnya orang-orang kudus, sebagai para hakim bersama Kristus, akan menghakimi dunia, yakni beribu-ribu orang kudus yang akan datang bersama-Nya untuk menjalankan penghakiman atas semua (Yud. 1:14; 1 Kor. 6:2). Atau di sorga. Di sana akan tampak, tidak lama lagi, perhimpunan jemaat yang sulung, perkumpulan orang benar, yang terdiri atas semua orang kudus, dan tidak ada yang lain selain orang-orang kudus, orang-orang kudus yang sudah dijadikan sempurna, perkumpulan para kudus seperti yang tidak pernah ada di dalam dunia ini (2 Tes. 2:1). Orang fasik tidak akan mendapat tempat dalam perkumpulan itu. Ke dalam Yerusalem yang baru, tidak ada yang najis atau yang cemar boleh masuk. Mereka akan melihat orang benar masuk ke dalam kerajaan, sedangkan mereka sendiri masuk ke dalam penderitaan, terbuang, sampai selama-lamanya (Luk. 13:27). Orang fasik dan cemar, mengolok-olok orang benar dan perkumpulan mereka di dunia ini. Mereka merendahkan orang-orang benar itu dan tidak peduli untuk berteman dengan mereka. Oleh sebab itu, sudah sewajarnyalah untuk memisahkan mereka selama-lamanya dari orang benar. Orang-orang munafik di dunia ini, dengan menyamar di balik pengakuan iman yang tampak bisa dipercaya, bisa saja menggabungkan diri dengan perkumpulan orang benar dan tidak pernah terganggu atau terungkap di sana. Tetapi, Kristus tidak bisa ditipu, meskipun hamba-hamba-Nya bisa saja tertipu. Akan datang harinya ketika Ia memisahkan antara domba dan kambing, lalang dan gandum (Mat. 13:41, 49). Hari agung itu (demikian sebutannya dalam bahasa Aram) akan menjadi hari penyingkapan, hari pembedaan, dan hari pemisahan akhir. Maka kita akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, yang kadang-kadang sulit dibedakan di dunia sini (Mal. 3:18).

III. Alasan atas dibuatnya perbedaan di antara keadaan orang benar dan orang fasik ini (ay. 6).
        1. Allah harus mendapat segala kemuliaan atas kesejahteraan dan kebahagiaan orang benar. Mereka berbahagia sebab TUHAN mengenal jalan mereka. Ia memilih mereka untuk berjalan di dalam jalan kebahagiaan itu, mencondongkan hati mereka untuk memilihnya, menuntun dan membimbing mereka di dalamnya, dan mengatur segala langkah mereka.
        2. Orang-orang berdosa harus menanggung segala kesalahan atas kehancuran mereka sendiri. Oleh sebab itulah orang fasik binasa, karena jalan yang telah mereka pilih dan yang di dalamnya mereka bertekad untuk berjalan, langsung mengantar pada kehancuran. Jalan itu secara alami mengarah pada kehancuran, dan oleh sebab itu pasti akan berakhir dalam kehancuran. Atau kita dapat memandangnya seperti ini, Tuhan menyetujui dan sangat berkenan dengan jalan orang benar, dan oleh sebab itu, di bawah kuasa senyum-Nya yang penuh rahmat, jalan itu akan berhasil dan berakhir dengan baik. Tetapi, Dia murka terhadap jalan orang fasik, semua yang mereka perbuat menyakiti hati-Nya, dan oleh sebab itu jalan mereka akan binasa, beserta orang-orang yang ada di dalamnya. Sudah pasti bahwa penghakiman atas setiap orang datangnya dari Tuhan, dan penghakiman itu bisa baik atau buruk bagi kita, dan akan tetap demikian sampai pada kekekalan, bergantung pada apakah kita berkenan kepada Allah atau tidak. Biarlah hal ini menyokong semangat orang benar yang kendor, bahwa Tuhan mengenal jalan mereka, mengenal hati mereka (Yer. 12:3), mengetahui ibadah-ibadah mereka yang tidak tampak (Mat. 6:6), mengenal sifat mereka, betapa pun itu dicoreng dan dinodai oleh hinaan-hinaan orang, dan tidak lama lagi Ia akan menyatakan mereka dan jalan mereka kepada dunia, untuk memberikan sukacita dan kehormatan kekal bagi mereka. Biarlah hal ini menyemburkan kabut pada rasa aman dan keriangan orang-orang berdosa, bahwa jalan mereka, meskipun sekarang terasa menyenangkan, pada akhirnya akan binasa.

Di dalam menyanyikan dan mendoakan ayat itu, mari kita memiliki kegentaran kudus akan akhir dari orang-orang berdosa dan menolak akhir seperti itu dengan memandang penghakiman yang akan datang. Marilah kita mempersiapkan diri kita terhadap hal tersebut dan dengan sungguh-sungguh mendapatkan perkenan Allah atas segala sesuatu dan memohon pertolongan-Nya dengan sepenuh hati.













NEXT:
Renungan HKBP SENIN, 13 MEI 2024 - DIAMPUNI DAN MERDEKA - BACAAN PAGI (IBRANI 13:1-6) - BACAAN MALAM (MAZMUR 42:2-6)


PREV:
Renungan HKBP SABTU, 11 MEI 2024 - SELAMA MASIH ADA AIR PADA TANDAN BUAH ANGGUR - BACAAN PAGI (YOHANES 14:8-15) - BACAAN MALAM (ROMA 12:12-15)


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de