f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Renungan HKBP 2024 Jamita HKBP Minggu, 26 Mei 2024 - NA BADIA NA BADIA NA BADIA DO DEBATA ZEBAOT (KUDUS, KUDUS, KUDUSLAH TUHAN) - Yesaya 6:1-8 Penglihatan Sorgawi Yesaya Yesaya 6:1-8 Yesaya mendapat panggilan Allah 6:1 Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. 6:2 Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. 6:3 Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!" 6:4 Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap. 6:5 Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam." 6:6 Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. 6:7 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." 6:8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" Penjelasan: * Penglihatan Sorgawi Yesaya (6:1-4) Penglihatan yang dilihat Yesaya ketika dia, seperti yang dikatakan tentang Samuel, dipercayakan jabatan nabi TUHAN (1Sam. 3:20), ini dimaksudkan, 1. Untuk meneguhkan imannya, supaya ia sendiri dipuaskan secara berlimpah tentang kebenaran dari perkara-perkara yang setelah itu akan diberitahukan kepadanya. Allah ini membuka hubungan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri-Nya kepada dia. Tetapi penglihatan-penglihatan seperti itu tidak perlu diulang sesudahnya setiap kali ada pewahyuan. Demikianlah Allah menampakkan diri pertama-tama sebagai Allah yang mulia kepada Abraham (Kis. 7:2), dan kepada Musa (Kel. 3:2). Nubuat-nubuat Yehezkiel dan Rasul Yohanes juga dimulai dengan penglihatan-penglihatan kemuliaan ilahi. 2. Untuk meluruskan perasaan-perasaannya, supaya ia dipenuhi oleh rasa hormat yang sedemikian rupa kepada Allah, yang akan menghidupkan dan meneguhkannya untuk melayani Dia. Mereka yang harus mengajar orang lain tentang pengetahuan akan Allah harus mengenal Dia dengan sendirinya. Penglihatan itu diberi penanggalannya, untuk lebih memastikan kejadiannya. Penglihatan itu terjadi dalam tahun matinya raja Uzia, yang telah memerintah, untuk sebagian besar, dengan berhasil dan baik seperti raja-raja Yehuda lain, dan memerintah sangat lama, lebih dari lima puluh tahun. Kira-kira dalam tahun meninggalnya raja Uzia, Yesaya mendapat penglihatan tentang Allah di atas sebuah takhta. Sebab apabila nyawa para raja melayang, dan mereka kembali ke tanah, inilah penghiburan kita, bahwa TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya (Mzm. 146:3-4, 10). Raja Israel mati, tetapi Allah Israel tetap hidup. Dari kefanaan orang-orang yang besar dan baik, kita harus mengambil pelajaran untuk memandang dengan mata iman kepada Raja yang kekal dan abadi. Raja Uzia mati dengan berselimut awan, sebab ia dikucilkan sebagai penderita kusta sampai pada hari kematiannya. Seperti halnya hidup para raja akan berhenti, demikian pula kemuliaan mereka sering kali memudar. Sebaliknya, seperti halnya Allah selamanya hidup, demikian pula kemuliaan-Nya abadi. Raja Uzia meninggal di sebuah rumah pesakitan, tetapi Raja segala raja tetap duduk di atas takhta-Nya. Apa yang dilihat oleh sang Nabi di sini disingkapkan kepada kita, supaya kita, dengan mengimani pewahyuan itu, di dalamnya dapat memandang kemuliaan Allah seperti di dalam cermin. Oleh sebab itu marilah kita berpaling, dan melihat pemandangan yang agung ini dengan hormat dan rendah hati. I. Lihatlah Allah di atas takhta-Nya, takhta yang tinggi dan menjulang, tidak hanya melebihi takhta-takhta lain, karena takhta-Nya melampaui mereka, tetapi juga mengatasi mereka, karena takhta-Nya mengatur dan memerintah mereka. Yesaya tidak melihat Yehova, yaitu hakikat Allah (tak seorang pun pernah melihat itu, atau dapat melihatnya), melainkan Adonai, kekuasaan-Nya. Ia melihat Tuhan Yesus. Demikianlah penglihatan ini dijelaskan dalam Yohanes 12:41, bahwa Yesaya sedang melihat kemuliaan Kristus dan berbicara tentang Dia, yang merupakan bukti tak terbantahkan akan keilahian Juruselamat kita. Dialah yang, setelah kebangkitan-Nya, duduk di sebelah kanan Allah, duduk di tempat di mana Ia memang berada sebelumnya (Yoh. 17:5). Lihatlah kediaman Sang Hikmat Kekal: Yesaya melihat TUHAN bersemayam (Mzm. 29:10). Lihatlah kedaulatan Sang Penguasa Kekal: Ia duduk di atas takhta, sebuah takhta kemuliaan, yang di hadapannya kita harus menyembah, sebuah takhta pemerintahan, yang di bawahnya kita harus tunduk, dan sebuah takhta anugerah, yang kepadanya kita bisa datang dengan berani. Takhta ini tinggi, dan menjulang mengatasi semua persaingan dan pertentangan. II. Lihatlah bait-Nya, jemaat-Nya di bumi, penuh dengan penyataan-penyataan kemuliaan-Nya. Karena takhta-Nya didirikan di pintu Bait Suci (seperti halnya para raja duduk menghakimi di pintu-pintu gerbang), maka ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci, yaitu seluruh dunia (sebab seluruh dunia adalah bait Allah, dan karena sorga adalah takhta-Nya, maka bumi adalah tumpuan kaki-Nya), atau lebih tepatnya memenuhi jemaat, yang dipenuhi, diperkaya, dan diperindah oleh tanda-tanda hadirat Allah secara istimewa. III. Lihatlah pelayan-pelayan yang terang dan terberkati di atas takhta-Nya, yang di dalam dan oleh mereka kemuliaan-Nya dirayakan dan pemerintahan-Nya dilayani (ay. 2): Di sebelah atas takhta, seolah-olah melayang-layang di atasnya, atau di dekat takhta itu, menunduk di hadapannya, dengan mata yang tertuju padanya, para Serafim berdiri, malaikat-malaikat kudus, yang disebut serafim -” pembakar, sebab Allah membuat api yang menyala sebagai pelayan-pelayan-Nya (Mzm. 104:4). Mereka menyala-nyala dalam kasih terhadap Allah, bersemangat untuk kemuliaan-Nya dan untuk melawan dosa. Allah memakai mereka sebagai alat-alat murka-Nya apabila Ia bertindak sebagai api yang menghanguskan bagi musuh-musuh-Nya. Apakah mereka hanya dua atau empat, atau (seperti saya cenderung berpendapat) beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, yang dilihat Yesaya ini, tidaklah pasti. Lihat 10. Perhatikanlah, merupakan kemuliaan bagi para malaikat bahwa mereka menjadi serafim, memiliki panas yang sepadan dengan terang mereka, memiliki kelimpahan bukan hanya akan pengetahuan ilahi, melainkan juga akan kasih yang kudus. Di sini diberikan perhatian khusus tentang sayap-sayap mereka (dan bukan bagian lain dari penampilan mereka), karena cara mereka menggunakannya, yang dimaksudkan untuk memberi kita suatu pengajaran. Mereka masing-masing mempunyai enam sayap, tidak mengembang ke atas (seperti yang dilihat Yehezkiel [Yeh. 1:11]), tetapi, 1. Empat sayap digunakan untuk menutup, seperti sayap unggas ketika duduk. Dengan dua sayap di atas, di samping kepala, mereka menutupi wajah mereka, dan dengan dua sayap paling bawah, mereka menutupi kaki mereka, atau bagian bawah mereka. Ini berbicara tentang kerendahan hati dan penghormatan mereka yang besar dalam melayani Allah, sebab Ia sangat ditakuti dalam kalangan orang-orang kudus (Mzm. 89:8). Mereka tidak hanya menutupi kaki mereka, anggota-anggota tubuh yang kurang terhormat itu (1Kor. 12:23), tetapi bahkan wajah mereka. Meskipun wajah malaikat, tidak diragukan lagi, jauh lebih indah daripada wajah anak-anak manusia (Kis. 6:15), namun di hadapan Allah, mereka menutupinya, karena mereka tidak tahan dengan terang yang menyilaukan dari kemuliaan ilahi. Dan karena sadar bahwa ada jarak yang tak terhingga dari kesempurnaan ilahi, mereka malu menunjukkan wajah mereka di hadapan Allah yang kudus, yang malaikat-malaikat-Nya pun didapati-Nya tersesat jika mereka sampai memberanikan diri untuk bersaing dengan-Nya (Ayb. 4:18). Jika para malaikat saja sedemikian hormat dalam melayani Allah, betapa harus dengan rasa takut yang saleh kita mendekat pada takhtanya! Kalau tidak, kita tidak melakukan kehendak Allah seperti para malaikat melakukannya. Namun begitu, Musa, ketika naik ke gunung bersama Allah, melepaskan tabir dari wajahnya. Lihat 2 Korintus 3:18. 2. Dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Ketika mereka diutus untuk melakukan tugas-tugas Allah, mereka terbang dengan cepat (Dan. 9:21), lebih cepat dengan sayap mereka sendiri daripada jika mereka terbang dengan sayap angin. Ini mengajar kita untuk melakukan pekerjaan Allah dengan hati yang gembira dan dengan segera. Bukankah para malaikat datang dengan sayap mereka dari sorga ke bumi, untuk melayani demi kebaikan kita, dan tidakkah kita ingin melambung tinggi dengan sayap dari bumi ke sorga, untuk berbagi dengan mereka dalam kemuliaan mereka? (Luk. 20:36). IV. Dengarlah kidung, atau lagu pujian, yang dinyanyikan para malaikat untuk menghormati Dia yang duduk di atas takhta (ay. 3). Cermatilah, 1. Bagaimana lagu ini dinyanyikan. Dengan semangat yang membara, mereka berseru dengan suara nyaring, dan dengan suara bulat. Mereka berseru seorang kepada seorang, atau satu terhadap yang lain. Mereka bernyanyi secara bergantian, tetapi selaras, tanpa sedikit pun suara sumbang yang mengganggu keselarasannya. 2. Tentang apa lagu itu. Lagu itu sama dengan apa yang dinyanyikan oleh keempat makhluk (Why. 4:8). Perhatikanlah, memuji Allah adalah selalu, dan akan selalu sampai pada kekekalan, menjadi pekerjaan sorga, dan pekerjaan yang senantiasa dilakukan oleh roh-roh yang terberkati di atas (Mzm. 84:5). Perhatikanlah lebih jauh, jemaat di atas itu selalu sama dalam pujian-pujiannya. Tidak ada perubahan waktu atau nada di sana. Ada dua hal yang untuknya para serafim di sini memuji Allah: (1) Kesempurnaan-kesempurnaan-Nya yang tak terbatas dalam diri-Nya. Di sini salah satu gelar-Nya yang paling mulia dipuji: Dia adalah TUHAN semesta alam (KJV: TUHAN segenap pasukan), Tuhan atas pasukan mereka, atas semua pasukan. Dan tanpa salah satu sifat-Nya yang paling mulia, yaitu kekudusan-Nya, keberadaan-Nya sebagai TUHAN semesta alam (atau, seperti di ayat lain yang berpadanan [Why. 4:8], Tuhan Allah, Yang Mahakuasa) tidak akan bisa menjadi pokok sukacita dan pujian kita yang begitu besar. Sebab kekuasaan, tanpa kesucian untuk membimbingnya, akan membawa kengerian bagi umat manusia. Tak satu pun dari semua sifat ilahi yang begitu dirayakan dalam Kitab Suci selain sifat kekudusan ini. Kuasa Allah diucapkan dua kali (Mzm. 62:12), tetapi kekudusan-Nya diucapkan tiga kali, kudus, kudus, kudus. Ini berbicara tentang, [1] Semangat yang membara dari para malaikat dalam memuji Allah. Mereka bahkan kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan diri, dan karena itu mengulangi hal yang sama berkali-kali. [2] Kesenangan tersendiri yang mereka rasakan dalam merenungkan kekudusan Allah. Ini adalah perkara yang suka mereka renungkan berlama-lama, yang suka mereka senandungkan, dan tidak mau mereka tinggalkan. [3] Keunggulan tertinggi dari kekudusan Allah, mengatasi kekudusan makhluk-makhluk yang paling suci. Dia kudus, kudus tiga kali, kudus secara tak terbatas, kudus sejak awal mula, kudus secara sempurna, dan kudus secara kekal. [4] Ini bisa merujuk pada tiga Pribadi dalam Ke-Allahan, Bapa yang Kudus, Anak yang Kudus, dan Roh Kudus (sebab selanjutnya dikatakan [ay. 8], siapakah yang mau pergi untuk Kami? [ KJV]). Atau mungkin itu merujuk pada yang sudah ada, dan yang ada, dan yang akan datang. Sebab gelar kehormatan Allah itu ditambahkan ke dalam nyanyian ini (Why. 4:8). Sebagian orang beranggapan bahwa para malaikat di sini bersorak atas adilnya hukuman yang akan segera dijatuhkan Allah atas bangsa Yahudi. Dalam hal ini Dia kudus dahulu, sekarang, dan selamanya. Jalan-jalan-Nya tetap sama. (2) Dinyatakannya hal-hal ini kepada anak-anak manusia: Seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya, kemuliaan dari kuasa dan kesucian-Nya, sebab Ia kudus dalam segala perbuatan-Nya (Mzm. 145:17). Orang Yahudi menganggap bahwa kemuliaan Allah hanya terbatas pada negeri mereka. Tetapi di sini dinyatakan bahwa pada zaman Injil (yang ditunjuk dalam pasal ini) kemuliaan Allah akan memenuhi seluruh bumi, kemuliaan kekudusan-Nya, yang sungguh merupakan kemuliaan dari semua sifat-Nya yang lain. Pada waktu itu kemuliaan ini memenuhi Bait Suci (ay. 1), tetapi pada hari-hari terakhir, seluruh bumi akan penuh dengan kemuliaan itu. V. Amatilah tanda-tanda kengerian yang memenuhi Bait Suci itu, ketika terjadi penglihatan kemuliaan ilahi ini (ay. 4). 1. Rumah itu bergoyang. Bukan hanya pintu, melainkan juga bahkan alas ambang pintu, yang terpasang kokoh, bergoyang disebabkan suara orang yang berseru itu, saat terdengar suara Allah, yang memanggil untuk menghakimi (Mzm. 50:4), saat terdengar suara malaikat, yang memuji Dia. Di sorga ada suara-suara yang cukup kuat untuk meredam semua suara air yang banyak di dunia bawah sini (Mzm. 93:3-4). Goncangan keras pada Bait Suci ini merupakan pertanda dari murka dan ketidakberkenanan Allah terhadap bangsa itu karena dosa-dosa mereka. Itu merupakan pertanda kehancuran Bait Suci dan kota Yerusalem oleh bangsa Babel pertama-tama, dan kemudian oleh bangsa Romawi. Dan hal itu dimaksudkan untuk membuat kita ngeri. Bukankah tembok-tembok dan alas-alas pintu gemetar di hadapan Allah, dan tidakkah kita gemetar? 2. Rumah itu menjadi gelap. Rumah itu pun penuh dengan asap, seperti awan yang melingkupi pemandangan takhta-Nya (Ayb. 26:9). Kita tidak bisa melihatnya secara utuh, tidak pula dapat menata kata-kata tentangnya, karena gelap. Pada Bait Suci di dunia atas tidak akan ada asap, semuanya akan terlihat dengan jelas. Di sana Allah berdiam dalam terang, sementara di sini Ia diam dalam kekelaman (2Taw. 6:1). * Rasa ingin tahu kita akan mendorong kita untuk mencari tahu lebih jauh mengenai para serafim ini, dan nyanyian-nyanyian serta pelayanan-pelayanan mereka. Tetapi di sini kita meninggalkan mereka, dan harus memberi perhatian pada apa yang berlangsung antara Allah dan nabi-Nya. Hal-hal yang tersembunyi bukan bagi kita, hal-hal yang tersembunyi tentang dunia para malaikat, tetapi bagi kita adalah hal-hal yang disingkapkan kepada para nabi dan oleh mereka, yang menyangkut pemerintahan Kerajaan Allah di antara manusia. Sekarang di sini kita mendapati, I. Kekhawatiran yang menghinggapi sang nabi karena mengalami penglihatan yang olehnya ia melihat kemuliaan Allah (ay. 5): Lalu kataku: “Celakalah aku! Kalau saya akan berkata, “Diberkatilah engkau, yang sudah diberi perkenanan sedemikian besar, dihormati dan dijunjung sedemikian tinggi, selama suatu waktu, dengan diberi hak istimewa yang dimiliki oleh makhluk-makhluk mulia itu, yang selalu memandang wajah Bapa kita. Diberkatilah mata yang melihat Tuhan sedang duduk di atas takhta-Nya, dan telinga yang mendengar puji-pujian para malaikat.” Dan, orang akan berpikir, seharusnya ia berkata, “Berbahagialah aku, berbahagia selama-lamanya. Tidak ada lagi yang akan menyusahkanku, tidak ada yang membuat wajahku merah padam atau tubuhku gemetar.” Tetapi sebaliknya, ia berseru, “Celakalah aku! aku binasa! Malang nian aku, matilah aku! Aku pasti mati (Hak. 13:22; 6:22). Aku kelu, aku dibuat bisu, aku tertegun mati.” Demikian pula Daniel, ketika mendengar perkataan sang malaikat, menjadi terkelu, dan tidak ada lagi kekuatan, tidak ada lagi nafas padanya (Dan. 10:15, 17). Cermatilah, 1. Apa yang direnungkan sang nabi tentang dirinya sendiri, yang membuatnya ketakutan: “Aku binasa jika Allah sampai berurusan denganku menurut keadilan yang ketat, karena aku telah membuat diriku menjadi sasaran murka-Nya, sebab aku ini seorang yang najis bibir.” Menurut sebagian orang, ia secara khusus merujuk pada suatu kata kasar yang pernah diucapkannya, atau pada perilaku diamnya yang berdosa, karena tidak mengecam dosa dengan berani dan terus terang sebagaimana mestinya. Ini sebuah dosa yang banyak dapat didakwakan kepada hamba-hamba Allah, dan yang akan membuat mereka malu saat mengingatnya. Tetapi itu dapat dipandang secara lebih umum, aku orang berdosa, dan secara khusus, aku bersalah dalam perkataanku. Dan siapakah yang tidak bersalah dalam hal ini? (Yak. 3:2). Kita semua mempunyai alasan untuk meratap di hadapan Tuhan, (1) Bahwa kita sendiri adalah orang yang najis bibir. Bibir kita tidak dikuduskan bagi Allah. Ia tidak mendapatkan buah pertama dari ucapan bibir kita (Ibr. 13:15), dan karena itu bibir kita dipandang kotor dan najis, tidak bersunat (Kel. 6:29, KJV). Bahkan, bibir kita telah tercemar dosa. Kita sudah berkata-kata dalam bahasa hati yang najis, dalam perkataan buruk yang merusakkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan yang olehnya banyak orang sudah tercemar. Kita tidak layak dan tidak pantas mengucapkan nama Allah dengan bibir kita. Betapa dengan bibir yang murni para malaikat memuji Allah! “Akan tetapi,” kata sang nabi, “aku tidak bisa memuji-Nya seperti itu, sebab aku ini seorang yang najis bibir.” Orang-orang terbaik di dunia memiliki alasan untuk malu pada diri sendiri, dan pada apa yang terbaik dari pelayanan-pelayanan mereka, apabila mereka dibandingkan dengan malaikat-malaikat kudus. Para malaikat sudah merayakan kesucian dan kekudusan Allah, dan karena itu sang nabi, ketika merenungkan dosa, menyebut dosanya itu sebagai kenajisan. Karena keberdosaan dari dosa merupakan pertentangan dengan sifat Allah yang kudus, dan terutama karena alasan itulah dosa harus tampak sebagai hal yang dibenci sekaligus menakutkan bagi kita. Ketidakmurnian bibir kita haruslah membuat jiwa kita sedih, sebab dengan perkataan kita, kita akan dibenarkan atau dihukum. (2) Bahwa kita tinggal di antara orang-orang yang juga najis bibir. Kita mempunyai alasan untuk meratapi bukan hanya bahwa kita sendiri tercemar, melainkan juga bahwa kodrat dan bangsa manusia juga demikian. Penyakit ini menurun dan mewabah, yang begitu jauh dari mengurangi kebersalahan kita, tetapi justru menambah penderitaan kita, terutama mengingat bahwa kita belum melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk membersihkan pencemaran karena bibir orang lain. Bahkan, kita lebih suka mempelajari cara mereka dan berbicara dalam bahasa mereka, seperti Yusuf di Mesir belajar memakai sumpah anggota istana (Kej. 42:16). “Aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang dengan kelancangan dosa mereka menimpakan hukuman-hukuman yang membinasakan atas negeri ini. Dan aku, sebagai orang yang juga berdosa, sewajarnya juga bersiap-siap menerima hukuman itu.” 2. Apa yang menimbulkan renungan-renungan yang menyedihkan ini pada saat ini: Mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam. Ia melihat kedaulatan Allah sebagai hal yang tak dapat disangkal. Ia adalah Raja. Dan kuasa-Nya tak dapat dilawan. Ia adalah Tuhan semesta alam. Ini merupakan kebenaran-kebenaran yang menghiburkan bagi umat Allah, namun juga harus membuat kita tersentak ngeri. Perhatikanlah, saat kita melihat keagungan Allah yang mulia dengan hati yang percaya, hal itu haruslah membuat hati kita terjamah dengan rasa hormat dan gentar. Beralasan bagi kita untuk merasa rendah ketika merasakan adanya jarak yang tak terhingga antara kita dan Allah, dan keberdosaan serta kekejian kita di hadapan-Nya, dan untuk takut akan murka-Nya. Kita binasa jika tidak ada Pengantara antara kita dan Allah yang kudus ini (1Sam. 6:20). Yesaya dibuat merendah seperti itu, untuk mempersiapkannya bagi kehormatan yang akan segera diterimanya dengan dipanggil sebagai nabi. Perhatikanlah, yang paling pantas dipekerjakan untuk Allah adalah mereka yang rendah di mata mereka sendiri dan disadarkan secara mendalam akan kelemahan dan ketidaklayakan mereka sendiri. II. Dibungkamnya ketakutan-ketakutan sang nabi oleh perkataan yang baik, dan perkataan yang menghibur, yang dengannya malaikat menjawab dia (ay. 6-7). Salah satu serafim langsung terbang ke arahnya, untuk menyucikan dia, dan dengan demikian menenangkan dirinya. Perhatikanlah, Allah telah menyiapkan banyak penghiburan yang melegakan bagi orang-orang kudus yang berduka. Siapa yang merendahkan diri dalam rasa malu dan takut disertai hati yang bertobat, akan segera dibesarkan hatinya dan ditinggikan. Orang yang jatuh tersungkur karena penglihatan-penglihatan kemuliaan Allah akan segera dibangkitkan lagi dengan lawatan-lawatan anugerah-Nya. Dia yang mengoyak akan menyembuhkan. Perhatikanlah lebih jauh, para malaikat adalah roh-roh yang melayani demi kebaikan orang-orang kudus, demi kebaikan rohani mereka. Di sini ada salah satu serafim yang, untuk sementara waktu, diizinkan meninggalkan tugas melayani takhta kemuliaan Allah, untuk menjadi pembawa kabar anugerah-Nya bagi seseorang yang baik. Dan begitu senangnya ia dengan tugasnya sehingga ia lekas-lekas terbang ke orang itu. Kepada Yesus Tuhan kita sendiri, dalam penderitaan-Nya, tampaklah seorang malaikat dari langit untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk. 22:43). Inilah, 1. Sebuah tanda menghibur yang diberikan kepada sang nabi bahwa dosa-dosanya telah dibersihkan. Serafim itu membawa bara dari atas mezbah, dan menyentuh bibirnya dengan bara itu, bukan untuk menyakitinya, melainkan untuk menyembuhkannya. Bukan untuk membakarnya, melainkan untuk membersihkannya. Sebab ada pemurnian oleh api, seperti juga oleh air, dan kotoran Yerusalem dibersihkan oleh roh yang membakar (4:4). Roh yang terberkati bekerja seperti api (Mat. 3:11). Serafim, yang dirinya sendiri dinyalakan oleh api ilahi, menaruh hidup pada sang nabi, supaya dia juga ikut terbakar semangatnya. Sebab cara untuk membersihkan bibir dari kenajisan dosa adalah dengan membakar jiwa dengan kasih Allah. Bara ini diambil dari mezbah, entah mezbah pembakaran ukupan atau mezbah korban bakaran, sebab kedua-duanya mempunyai api yang senantiasa menyala. Tidak ada yang begitu punya kuasa untuk membersihkan dan menghibur jiwa selain apa yang diambil dari korban penebusan Kristus dan kepengantaraan yang senantiasa diadakan-Nya berdasarkan korban penebusan itu. Bara dari mezbah-Nyalah yang pasti memberi kita hidup dan membawa damai sejahtera bagi kita. Itu tidak akan terjadi dengan api yang asing. 2. Penjelasan dari tanda ini: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, untuk meyakinkan kamu akan hal ini, bahwa kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni. Kesalahan akibat dosamu dihapus oleh rahmat yang mengampuni, kebersalahan dari dosa-dosa lidahmu. Kecenderunganmu yang bobrok terhadap dosa dihapus oleh anugerah yang memperbarui. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat menghalangi kamu untuk diterima oleh Allah sebagai penyembah, bersama-sama dengan para malaikat kudus, atau untuk dipekerjakan bagi Allah sebagai utusan kepada anak-anak manusia.” Hanya orang yang dengan cara demikian sudah dibersihkan dari hati nurani yang jahat yang siap beribadah kepada Allah yang hidup (Ibr. 9:14). Penghapusan dosa adalah hal yang diperlukan supaya kita dapat berbicara dengan penuh keyakinan dan ketenangan kepada Allah di dalam doa atau berbicara dengan penuh rasa yakin dan tenang yang didapat dari Allah sewaktu kita memberitakan firman. Dan tidak ada yang begitu pantas memperlihatkan kepada orang lain kekayaan-kekayaan dan kuasa anugerah Injil selain mereka yang sudah mengecap sendiri manisnya anugerah itu dan merasakan kuasanya. Dosa orang akan dihapus jika mereka mengeluhkannya sebagai beban dan melihat diri mereka terancam akan binasa olehnya. III. Diperbaruinya amanat sang nabi (ay. 8). Di sini ada pembicaraan antara Allah dan Yesaya mengenai hal ini. Siapa yang ingin membantu orang lain dalam berhubungan dengan Allah, ia sendiri tidak boleh asing terhadap hubungan itu. Sebab bagaimana kita bisa berharap bahwa Allah akan berbicara melalui kita, jika kita sendiri tidak pernah mendengar Dia berbicara kepada kita, atau bahwa kita akan diterima sebagai juru bicara orang lain untuk berhubungan dengan Allah, jika kita sendiri tidak pernah berbicara dengan-Nya dari hati kita sendiri? Amatilah di sini, 1. Pertimbangan Allah mengenai amanat Yesaya. Allah di sini digambarkan, seperti layaknya manusia, sedang menimbang-nimbang dan bertanya kepada diri-Nya sendiri: Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Allah tidak butuh dinasihati oleh orang lain atau bertanya kepada diri sendiri. Ia tahu apa yang akan dilakukan-Nya, tetapi demikianlah Ia ingin menunjukkan kepada kita bahwa ada maksud dalam seluruh kehendak-Nya. Dan Ia ingin mengajar kita supaya mempertimbangkan cara-cara kita, khususnya bahwa mengutus hamba-hamba Tuhan adalah pekerjaan yang hanya boleh dilakukan atas dasar pertimbangan yang matang. Cermatilah, (1) Siapa yang bertanya-tanya. Dia adalah Tuhan Allah dalam kemuliaan-Nya, yang dilihat Yesaya di atas takhta yang tinggi dan menjulang. Sebuah kehormatan bagi pelayanan bahwa, ketika Allah hendak mengutus seorang nabi untuk berbicara dalam nama-Nya, Ia menampakkan diri dalam segala kemuliaan dunia atas. Hamba-hamba Tuhan adalah duta Raja segala raja. Betapapun hinanya mereka, Dia yang mengutus mereka adalah agung. Dia adalah Allah yang memiliki tiga Pribadi (Siapa yang mau pergi untuk Kita? [ KJV], seperti dalam Kejadian 1:26, baiklah Kita menjadikan manusia), Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sama seperti Ketiganya sepakat dalam mencipta, demikian pula Ketiganya sepakat dalam menebus dan memerintah manusia. Hamba-hamba Tuhan ditahbiskan dalam nama yang sama yang di dalamnya semua orang Kristen dibaptis. (2) Apa yang dipertanyakan: Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi? Menurut sebagian orang, ini merujuk pada pesan khusus itu, yaitu tentang murka terhadap Israel (ay. 9-10). “Siapa yang mau pergi untuk melakukan tugas yang memilukan seperti ini, yang dengannya mereka akan pergi dengan perasaan pahit dalam jiwa mereka?” (Yeh. 3:14). Tetapi saya lebih melihat hal ini mencakup sesuatu yang lebih luas, yaitu tentang semua pesan yang dipercayakan kepada sang nabi untuk disampaikan, dalam nama Allah, kepada bangsa itu, yang di dalamnya pekerjaan mengeraskan hati itu sama sekali bukan merupakan niat utama, melainkan dampak sampingan dari pesan-pesan itu (2Kor. 2:16). Pertanyaan Siapakah yang akan Kuutus? mengisyaratkan bahwa pekerjaan itu sedemikian rupa sehingga menuntut seorang utusan yang terpilih dan andal (Yer. 49:19). Allah sekarang menampakkan diri, dilayani oleh para malaikat kudus, namun bertanya, Siapakah yang akan Kuutus? Sebab Ia ingin mengutus kepada mereka seorang nabi dari antara saudara mereka (Ibr. 2:17). Perhatikanlah [1] Suatu perkenanan Allah yang tak terucapkan bagi kita bahwa Ia senang memberitahukan pikiran-Nya kepada kita melalui manusia seperti kita sendiri, yang tidak akan membuat kita ketakutan, dan yang juga sama-sama memiliki kepentingan dalam pesan-pesan yang mereka bawa itu. Mereka yang bekerja bersama-sama dengan Allah itu adalah orang-orang yang juga berdosa dan menderita seperti kita. [2] Sangatlah langka untuk menemukan seorang yang pantas pergi bagi Allah, dan membawa pesan-pesan-Nya kepada anak-anak manusia: Siapakah yang akan Kuutus? Siapa yang memadai? Dibutuhkan suatu keberanian tertentu untuk dapat bekerja dengan setia bagi Allah, selain juga kepedulian besar terhadap jiwa-jiwa manusia untuk tetap setia. Juga, bersamaan dengan itu diperlukan pengertian yang mendalam akan rahasia-rahasia Kerajaan Sorga sedemikian rupa supaya orang tersebut bisa terampil, dan orang semacam ini jarang ditemukan. Seorang yang bisa menafsirkan pikiran Allah seperti itu hanyalah satu di antara seribu (Ayb. 33:23). [3] Tidak ada yang diperbolehkan pergi untuk Allah kecuali mereka yang diutus oleh-Nya. Ia tidak akan mengakui siapa pun selain orang-orang yang ditunjuk-Nya (Rm. 10:15). Urusan Kristuslah untuk menugaskan orang ke dalam pelayanan (1Tim. 1:12). 2. Persetujuan Yesaya terhadap amanat yang diterimanya: Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” Dia akan pergi melakukan tugas yang memilukan. Tugas itu tampaknya diminta dengan cara mengemis-ngemis, dan setiap orang menolaknya, namun Yesaya menawarkan diri untuk melakukannya. Suatu kehormatan jika kita menjadi satu-satunya yang tampil bagi Allah (Hak. 5:7). Kita tidak boleh berkata, “Aku akan pergi kalau aku pikir aku dapat berhasil.” Sebaliknya, “Aku akan pergi, dan menyerahkan keberhasilan kepada Allah. Ini aku, utuslah aku.” Yesaya sendiri sebelumnya sedang bersedih hati (ay. 5), penuh keraguan dan ketakutan. Tetapi sekarang setelah ia mendapat jaminan pengampunan dosa, awan-awan mendung itu ditiup pergi, dan ia dijadikan pantas untuk melakukan pekerjaan itu dan maju untuknya. Apa yang dikatakannya menggambarkan, (1) Kesiapan hatinya: “Ini aku, dengan sukarela, tanpa tertekan untuk melaksanakan tugas pelayanan itu.” Lihatlah aku, demikian kata yang dipakai. Allah berkata kepada kita, Lihat Aku (65:1, KJV) dan ini Aku (58:9), bahkan sebelum kita memanggil. Maka marilah kita berkata demikian kepada-Nya apabila Ia benar-benar memanggil. (2) Tekadnya, “Ini aku, siap menghadapi kesulitan-kesulitan terbesar. Aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu.” Bandingkan ini dengan pasal 50:4-7. (3) Ia menyerahkan dirinya kepada Allah: “Utus aku ke mana saja Engkau mau. Pakai aku seperti yang Engkau kehendaki. Utus aku, maksudnya, Tuhan, beri aku mandat dan perintah penuh. Utus aku, maka tidak ada lagi keraguan bahwa Engkau akan mendampingiku.” Sungguh suatu penghiburan besar bagi orang-orang yang diutus Allah bahwa mereka pergi untuk Allah, dan karena itu dapat berbicara dalam nama-Nya, sebab mereka mendapat wewenang dan yakin bahwa Ia akan menopang mereka. MINGGU TRINITATIS, 26 MEI 2024 KUDUS, KUDUS, KUDUSLAH TUHAN BE. 116:1-2 DITOMPA HO DO AU Di tompa Ho do au, sondangi rohangkon; Tung basa-basaMi sude na di au on. Gomgomi pamatangku, naeng Ho do oloanku, Sai lehon ma gogongku, lomoM naeng ulaonku. Urupi tatap au tutu, Panompa na burju. Tuhan Sihophop au, sai buri tondingkon. Marhite mudarMi torusi ngolungkon. Pinuji ma GoarMu, arga ma pangkophopMu, Dibaen pangalahongku, nang nasa ulaonku. O Jesus Sipalua au, tu Ho ma au patau EPISTEL (1 YOHANES 5:9-13) EVANGELIUM (YESAYA 6:1-8) Sahabat Ikutlah Aku yang dikasihi Tuhan Yesus ! Renungan Minggu ini, dimana Allah mencari orang yang mau diutus pergi menyampaikan pesan tentang penghakiman dari Allah yang akan segera tiba, dipanggil agar segera bertobat. Nabi Yesaya mengajukan diri dengan berani dengan mengatakan: Ini aku, utuslah aku! Tidak banyak memang orang yang mau bersedia menyerahkan hidupnya untuk sebagai alat Tuhan. Hal ini disebabkan perasaan takut, tidak mampu, tidak layak atau banyak hal lain yang menjadi alasan. Pengutusan nabi Yesaya sebagai nabi dimulai dengan perjumpaannya dengan Tuhan, perjumpaan ini menumbuhkan pengakuan akan kenajisan dirinya. Atas kesadaran hidup yang tercela ini, dia meminta agar Tuhan melayakannya melalui hidupnya yang dikuduskan oleh Tuhan sehingga dapat dipakai sebagai alatNya. Setelah hidupnya dikuduskan oleh Tuhan maka dia siap menerima pengutusan yang dinyatakan kepadanya. Sesungguhnya nabi Yesaya sangat menyadari ketidak layakannya, hal ini nyata melalui perkataan “sebab aku ini seorang yang najis bibir. Akan tetapi ketidaklayakan dirinya bukanlah membuat dia menghindar dari panggilan Tuhan, tetapi memohon pengkudusan, pelayakan dan kemampuan dari Tuhan. Sebagai Allah yang adalah kudus tentu segala sifat dan tindakannya juga kudus, serta hamba dan umatNya juga harus kudus. Saat ini meskipun kita tidak dapat mencapai kualitas kekudusan sama seperti Allah, namun Allah memerintahkan kita untuk senantiasa hidup kudus dihadapan Tuhan. Kekudusan merupakan proses yang harus kita miliki dan jalani secara terus menerus selama kita hidup didunia ini. Untuk itu marilah kita mau menyerahkan hidup kita dipakai Tuhan sebagai alatNya, ingatlah untuk menjadi alatNya haruslah kita menjaga kekudusan. Amin DOA: “Biarlah melalui rasa syukur kami menjadikan kekuatan baru dalam menghadapai pergumulan. Amin”
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
NEXT: Renungan HKBP SENIN, 27 MEI 2024 - RAHASIA AGUNG IBADAH - PAGI (MATIUS 3:1-6) - MALAM (2 KORINTUS 13:11-13) PREV: Jamita HKBP Hari Kamis, 23 Mei 2024 - Mulai dengan Doa: Renungan Pagi dan Malam Minggu, 26 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 26 April 2026 - HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAK-SORAI - Kisah Rasul 2:22-28 Minggu, 19 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 19 April 2026 - Marlas Roha di Bagasan Tuhan (Bersukacita dalam Tuhan) - Habakuk 3:10-19
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |