BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
|
Renungan HKBP 2026 Jamita HKBP Minggu 23 Agustus 2026 - Togu Marsitiopan Tu Hatigoran (Saling Menopang Menuju Kebenaran) - Efesus 4:7-16 I. KRISTUS MEMBERIKAN KARUNIA YANG BERBEDA-BEDA, II. KARUNIA DIBERIKAN BUKAN UNTUK PAMER, TETAPI UNTUK MEMBANGUN, III. SALING MENOPANG BERARTI TIDAK MEMBIARKAN SAUDARA KITA BERJALAN SENDIRIAN, IV. JANGAN MUDAH TEROMBANG-AMBING OLEH BERBAGAI AJARAN, V. BERPEGANG PADA KEBENARAN, TETAPI DALAM KASIH, VI. BELAJAR DARI GERAKAN PILAH SAMPAH HKBP: PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI SENDIRI, VII. HKBP DIPANGGIL MENJADI GEREJA YANG SALING MENOPANG, IX. SALING MENOPANG BUKAN BERARTI SELALU SETUJU Efesus 4:7-16 7Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. 8 Itulah sebabnya kata nas: ”Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.” 9Bukankah ”Ia telah naik” berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? 10Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. 11Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, 12untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, 13sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, 14sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, 15tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -- yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota -- menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. Baca Juga: Penjelasan: Shalom, horas ma hita sude! Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Ada sebuah pepatah yang mengatakan: “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Orang Batak tentu sangat mengenal semangat kebersamaan. Kalau ada pesta, satu orang tidak mungkin mengerjakannya sendirian. Ada yang memasak, ada yang mengangkat kursi, ada yang mengatur parkir, ada yang menyambut tamu. Dan biasanya, ada juga satu orang yang tugasnya paling spesial: berdiri sambil memberikan instruksi! “Angkat itu!” “Geser ke sana!” “Bukan begitu!” Tetapi ketika tiba waktunya mengangkat meja yang berat, tiba-tiba dia berkata: “Aduh, saya bagian pengawasan saja!” Itu sebabnya, saudara-saudari, kebersamaan bukan hanya soal banyak orang berkumpul. Kebersamaan berarti setiap orang mengambil bagian. Itulah yang diajarkan Rasul Paulus dalam Efesus 4:7-16. Gereja adalah tubuh Kristus. Dalam satu tubuh ada banyak anggota. Ada kepala, tangan, kaki, mata, telinga. Semua berbeda, tetapi semuanya penting. Tidak ada anggota tubuh yang boleh berkata: “Aku tidak membutuhkan kamu.” Sebab kalau tangan berkata kepada kaki, “Mulai sekarang aku tidak membutuhkan engkau,” maka tangan itu mungkin bisa tetap memegang sesuatu, tetapi mau pergi ke mana? Dan kalau kaki berkata, “Aku tidak butuh tangan,” mungkin dia bisa berjalan, tetapi bagaimana kalau jatuh? Maka tema kita hari ini sangat indah: “SALING MENOPANG MENUJU KEBENARAN.” I. KRISTUS MEMBERIKAN KARUNIA YANG BERBEDA-BEDA Paulus berkata dalam Efesus 4:7: “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” Perhatikan kata “masing-masing.” Artinya, setiap orang percaya menerima anugerah dan karunia dari Tuhan. Tidak semua orang bisa berkhotbah. Tidak semua orang bisa bernyanyi. Tidak semua orang bisa bermain musik. Tidak semua orang bisa menjadi Sintua. Tidak semua orang bisa menjadi pengurus. Tetapi setiap orang bisa melakukan sesuatu untuk Tuhan dan sesama. Ada orang yang diberi kemampuan mengajar. Ada yang pandai menghibur. Ada yang rajin mengunjungi orang sakit. Ada yang pandai mengatur. Ada yang memiliki hati untuk membantu. Ada yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi setiap kali ada pekerjaan gereja, dia sudah datang lebih dahulu. Kadang-kadang justru orang seperti itulah yang paling besar pelayanannya. Saudara-saudari, jangan pernah berkata: “Saya ini bukan siapa-siapa di gereja.” Di dalam tubuh Kristus, tidak ada anggota yang tidak berguna. Coba bayangkan kalau tubuh kita kehilangan jari kelingking. Mungkin kita berkata, “Ah, cuma jari kecil.” Tetapi coba saja jari kelingking terjepit pintu. Seluruh tubuh langsung rapat darurat! Mulut berteriak. Mata berkaca-kaca. Tangan yang lain sibuk memegangnya. Kaki mondar-mandir. Semua anggota tubuh tiba-tiba peduli kepada si kecil itu. Demikian juga di gereja. Jangan merasa kecil. Jangan merasa tidak berguna. Setiap orang mempunyai tempat dan tugas dalam tubuh Kristus. II. KARUNIA DIBERIKAN BUKAN UNTUK PAMER, TETAPI UNTUK MEMBANGUN Dalam ayat 11-12, Paulus berbicara tentang berbagai pelayanan yang diberikan Tuhan: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, pengajar. Tetapi tujuannya satu: “Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” Jadi, karunia bukan diberikan supaya kita berkata: “Lihatlah, saya paling hebat!” Karunia diberikan supaya kita bertanya: “Apa yang dapat saya lakukan untuk membangun?” Kadang-kadang manusia justru lucu. Kalau diberi jabatan, ingin dilayani. Padahal menurut Firman Tuhan, semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula panggilan untuk melayani. Ada orang yang berkata: “Saya mau aktif di gereja, asal jabatan saya cocok.” Kalau tidak cocok? Langsung pensiun rohani! Ada juga yang berkata: “Saya mau melayani, asal nama saya disebut.” Kalau namanya tidak disebut, langsung sakit hati. Padahal pelayanan yang sejati bukan soal nama kita menjadi besar, tetapi nama Kristus yang dimuliakan. Yesus adalah Kepala gereja. Kita semua hanyalah anggota tubuh-Nya. Karena itu, jangan sampai gereja menjadi tempat persaingan. “Kenapa dia yang dipilih?” “Kenapa bukan saya?” “Kenapa suaranya dipuji?” “Kenapa foto saya tidak masuk?” Saudara-saudari, kalau semua anggota tubuh mau menjadi kepala, tubuh itu bukan menjadi sehat. Itu namanya sakit kepala! Tuhan menciptakan tubuh dengan anggota yang berbeda supaya saling melengkapi. III. SALING MENOPANG BERARTI TIDAK MEMBIARKAN SAUDARA KITA BERJALAN SENDIRIAN Paulus mengatakan dalam ayat 13 bahwa kita harus bertumbuh menuju kesatuan iman dan kedewasaan penuh. Artinya, kehidupan Kristen bukan perjalanan seorang diri. Kita berjalan bersama. Kalau ada yang lemah, kita kuatkan. Kalau ada yang jatuh, kita tolong. Kalau ada yang tersesat, kita arahkan. Kalau ada yang berhasil, kita bersukacita. Jangan sampai kita seperti cerita lucu ini. Ada seorang jemaat jatuh. Orang pertama berkata: “Makanya hati-hati!” Orang kedua berkata: “Saya sudah pernah bilang!” Orang ketiga berkata: “Untung saya tidak jatuh!” Tetapi Tuhan mengajar kita: “Mari kita angkat dia!” Saling menopang berarti tidak hanya pandai mengomentari orang yang jatuh. Saling menopang berarti membantu orang bangkit. Di keluarga, suami dan istri harus saling menopang. Orang tua menopang anak. Anak-anak menghormati dan menopang orang tua. Sesama jemaat saling menopang. Sintua menopang pelayan. Pelayan menopang jemaat. Jemaat menopang pelayanan gereja. Jangan sampai kita hanya datang ke gereja seperti pergi ke restoran. Datang. Duduk. Dilayani. Makan rohani. Lalu pulang. Kalau lagu kurang enak, komentar. Kalau khotbah terlalu panjang, komentar. Kalau terlalu pendek, juga komentar. Kalau hujan, komentar. Kalau panas, komentar. Pokoknya yang tidak pernah habis adalah komentarnya! Tetapi Paulus mengingatkan bahwa kita semua dipanggil untuk membangun tubuh Kristus. Pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang gereja lakukan untuk saya?” Tetapi juga: “Apa yang Tuhan ingin lakukan melalui saya bagi gereja?” IV. JANGAN MUDAH TEROMBANG-AMBING OLEH BERBAGAI AJARAN Dalam ayat 14 Paulus berkata agar kita: “Bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran.” Ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Sekarang informasi datang setiap detik. Baru buka telepon: Ada berita. Ada video. Ada ceramah. Ada ramalan. Ada teori. Ada orang berkata, “Katanya begini.” Lalu orang lain menjawab: “Katanya dari grup sebelah.” Padahal sumbernya belum tentu jelas. Sekarang ini kadang-kadang berita yang paling cepat dipercaya bukan berita yang paling benar, tetapi berita yang paling sering diteruskan. Kalau dulu orang berkata: “Saya percaya karena saya melihat.” Sekarang kadang-kadang: “Saya percaya karena ada yang kirim di WhatsApp.” Padahal WhatsApp bukan kitab tambahan setelah Wahyu! Karena itu, Paulus mengingatkan kita supaya dewasa dalam iman. Orang Kristen harus belajar membedakan: mana yang benar, mana yang hanya pendapat, mana yang membangun, mana yang memecah-belah, mana yang sesuai dengan Firman Tuhan, dan mana yang hanya membuat kita sibuk bertengkar. Menjadi dewasa berarti tidak mudah terpancing. Tidak setiap komentar harus dibalas. Tidak setiap berita harus diteruskan. Tidak setiap masalah harus diumumkan ke seluruh dunia. Kadang-kadang tombol paling rohani di telepon kita adalah: “Delete.” Dan tombol kedua: “Jangan diteruskan.” V. BERPEGANG PADA KEBENARAN, TETAPI DALAM KASIH Inilah pusat dari tema kita. Efesus 4:15 mengatakan: “Dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih…” Perhatikan dua kata ini: KEBENARAN dan KASIH. Kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan. Kasih tanpa kebenaran dapat berubah menjadi pembiaran. Kita membutuhkan keduanya. Ada orang yang berkata: “Saya memang orangnya blak-blakan. Kalau salah, saya katakan salah!” Bagus. Tetapi kadang-kadang masalahnya bukan hanya apa yang dikatakan. Masalahnya adalah bagaimana cara mengatakannya. Ada orang yang ingin menyampaikan kebenaran, tetapi suaranya seperti sedang menagih utang tiga tahun. Akhirnya yang menerima bukan merasa dibangun, tetapi merasa dihancurkan. Sebaliknya, ada juga orang yang terlalu takut menyampaikan kebenaran. Melihat saudaranya berjalan ke arah yang salah, tetapi berkata: “Sudahlah, jangan tersinggung.” Akhirnya dia membiarkan saudaranya terus berjalan menuju jurang. Kasih yang sejati tidak hanya berkata: “Saya sayang kamu.” Kasih juga berani berkata: “Saya mengasihi kamu, karena itu saya ingin menolongmu kembali ke jalan yang benar.” Tetapi semuanya dilakukan dengan rendah hati, kelembutan, dan tujuan membangun. VI. BELAJAR DARI GERAKAN PILAH SAMPAH HKBP: PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI SENDIRI Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pada 20 Agustus 2026, HKBP Distrik VIII DKI Jakarta mendeklarasikan gerakan pilah sampah dari sumber. Gerakan ini dilaporkan melibatkan 82 gereja HKBP di Jakarta dengan potensi menjangkau lebih dari 200 ribu jemaat. Gerakan tersebut didorong agar kebiasaan memilah sampah dilakukan bukan hanya di lingkungan gereja, tetapi juga dimulai dari rumah dan keluarga. Pemerintah melalui KLH juga mendorong komunitas keagamaan untuk mengambil bagian dalam gerakan pemilahan sampah karena perubahan perilaku dan kesadaran moral masyarakat perlu dimulai dari komunitas, keluarga, dan kehidupan sehari-hari. Ini sangat menarik. Karena ternyata menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dengan proyek yang besar. Kadang-kadang dimulai dengan tindakan sederhana: Memilah sampah dari rumah sendiri. Jangan semua dicampur! Organik dicampur plastik. Plastik dicampur botol. Botol dicampur sisa makanan. Akhirnya semua menjadi masalah. Nah, saudara-saudari, kadang-kadang kehidupan kita juga begitu. Kita mencampur: kemarahan, iri hati, dendam, gosip, kesalahpahaman, dan perkataan yang menyakitkan. Lalu semuanya kita simpan dalam hati. Tidak dipilah. Tidak dibersihkan. Tidak dibereskan. Akhirnya hati kita menjadi seperti tempat pembuangan sementara. Sedikit-sedikit: “Ah, saya simpan dulu.” Besok tambah lagi. Minggu depan tambah lagi. Tahun depan? Sudah penuh! Lalu kita berkata: “Saya sebenarnya tidak marah.” Tetapi begitu bertemu orangnya, wajah langsung berubah! Karena itu, hari ini Tuhan mengajak kita melakukan pemilahan rohani. Mari kita pilah kehidupan kita. Buang yang harus dibuang: kebencian, dendam, iri hati, kesombongan, kepahitan. Pertahankan yang harus dipelihara: iman, kasih, pengharapan, kesabaran, pengampunan, kebenaran. Kalau sampah perlu dipilah supaya lingkungan menjadi sehat, maka hati juga perlu dibersihkan supaya kehidupan rohani menjadi sehat. VII. HKBP DIPANGGIL MENJADI GEREJA YANG SALING MENOPANG Saudara-saudari, Gerakan memilah sampah sebenarnya memberi kita sebuah pelajaran penting. Tidak mungkin satu orang membersihkan seluruh Jakarta. Tidak mungkin satu petugas menyelesaikan seluruh masalah sampah. Tetapi kalau setiap keluarga mulai bertanggung jawab dari rumah masing-masing, perubahan besar dapat terjadi. Demikian juga gereja. Tidak mungkin Pendeta seorang diri membangun seluruh jemaat. Tidak mungkin Sintua seorang diri mengurus seluruh pelayanan. Tidak mungkin pengurus seorang diri menyelesaikan semua masalah. Semua harus mengambil bagian. Kalau ada yang berkata: “Itu tugas Pendeta.” Lalu yang lain berkata: “Itu tugas Sintua.” Yang lain lagi berkata: “Itu tugas seksi.” Akhirnya pekerjaan Tuhan menjadi seperti bola panas. Semua melempar. Tidak ada yang menangkap! Padahal Paulus berkata, seluruh tubuh harus bekerja sesuai dengan tugasnya. Ketika setiap anggota melakukan bagiannya, tubuh bertumbuh. Inilah saling menopang. Yang kuat menopang yang lemah. Yang tahu mengajar yang belum tahu. Yang mampu membantu yang membutuhkan. Yang memiliki waktu mengunjungi. Yang memiliki kemampuan menyumbangkan tenaga. Yang memiliki rezeki membantu pelayanan. Yang memiliki suara menyanyi bagi Tuhan. Yang memiliki pengetahuan membagikannya. Tidak semua harus melakukan hal yang sama. Tetapi semua harus mengambil bagian. VIII. SALING MENOPANG DIMULAI DARI KELUARGA Jangan sampai kita aktif menopang orang lain, tetapi lupa menopang keluarga sendiri. Ada orang sangat ramah di gereja. “Shalom, Ito!” “Horas, Amang!” “Mauliate, Inang!” Tetapi sampai di rumah: “Mana kopi?!” Saudara-saudari, jangan sampai kesalehan kita hanya aktif pada hari Minggu. Justru keluarga adalah tempat pertama kita belajar: sabar, mengampuni, mendengar, menolong, dan berkata benar dalam kasih. Suami, jangan hanya mencari istri yang menopang. Jadilah suami yang menopang istri. Istri, jangan hanya berharap suami sempurna. Topanglah dia dalam kelemahannya. Anak-anak, jangan hanya meminta dukungan orang tua. Belajarlah juga menghormati dan memperhatikan orang tua. Orang tua, jangan hanya menuntut anak berhasil. Jadilah tempat anak pulang ketika mereka gagal. Itulah saling menopang. IX. SALING MENOPANG BUKAN BERARTI SELALU SETUJU Ini penting. Saling menopang bukan berarti semua orang harus mempunyai pendapat yang sama. Dalam keluarga saja bisa berbeda. Ayah suka kopi. Ibu suka teh. Anak sukanya pesan makanan online! Tetapi perbedaan tidak harus menjadi permusuhan. Di gereja mungkin ada perbedaan pendapat. Itu biasa. Yang tidak boleh adalah perbedaan berubah menjadi perpecahan. Kita boleh berbeda pendapat. Tetapi jangan kehilangan kasih. Kita boleh berdiskusi. Tetapi jangan saling menghina. Kita boleh mengoreksi. Tetapi jangan mempermalukan. Kita boleh menyampaikan kebenaran. Tetapi lakukanlah dalam kasih. Karena tujuan kita bukan: “Pokoknya saya harus menang!” Tetapi: “Kiranya Kristus dimuliakan dan gereja dibangun.” X. MENUJU KEDEWASAAN IMAN Paulus berkata bahwa tujuan akhirnya adalah supaya kita mencapai kedewasaan penuh dalam Kristus. Dewasa secara rohani berarti: 1. Tidak mudah tersinggung Bukan berarti tidak punya perasaan. Tetapi tidak semua hal dimasukkan ke dalam hati. Kalau setiap kata dimasukkan ke hati, hati kita bukan lagi hati. Itu sudah menjadi gudang arsip! 2. Tidak mudah percaya kepada semua informasi Periksa dahulu. Renungkan. Bandingkan dengan Firman Tuhan. 3. Berani menerima koreksi Orang dewasa tidak selalu berkata: “Saya benar!” Tetapi mampu berkata: “Terima kasih, mungkin saya perlu memperbaiki diri.” 4. Mau membantu orang lain bertumbuh Bukan senang melihat orang lain jatuh. Tetapi senang melihat orang lain berkembang. 5. Memusatkan hidup kepada Kristus Paulus mengatakan Kristus adalah Kepala. Artinya, pusat gereja bukan: Pendeta, Sintua, pengurus, kelompok, organisasi, atau seseorang. Kristus adalah Kepala. Kalau mata kita terus tertuju kepada Kristus, kita akan lebih mudah berjalan bersama. PENUTUP: MARI MENJADI JEMAAT YANG SALING MENOPANG Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Hari ini Firman Tuhan mengajak kita melihat kembali kehidupan kita. Mungkin ada saudara kita yang sedang lemah. Jangan hanya berkata: “Saya doakan.” Kalau bisa membantu, bantulah. Mungkin ada saudara yang mulai menjauh dari gereja. Jangan langsung berkata: “Ya, itu urusannya.” Datangi. Tanyakan kabarnya. Mungkin ada orang yang tersesat. Jangan menghina. Bimbinglah. Mungkin ada perbedaan. Jangan langsung membangun tembok. Bangunlah jembatan. Mungkin ada kesalahan. Jangan hanya menyebarkan. Beranilah berbicara dalam kasih. Dan seperti gerakan pilah sampah yang baru-baru ini dideklarasikan oleh HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, perubahan besar dapat dimulai dari tanggung jawab sederhana yang dilakukan bersama-sama: dimulai dari diri sendiri, dari rumah, lalu meluas ke komunitas. Demikian pula gereja. Gereja yang kuat bukan gereja yang semua anggotanya sama. Gereja yang kuat adalah gereja yang anggota-anggotanya berbeda, tetapi saling menopang. Yang satu kuat dalam doa. Yang lain kuat dalam pelayanan. Yang lain kuat dalam mengajar. Yang lain kuat dalam memberi. Yang lain kuat dalam menghibur. Dan semuanya bekerja bersama. Bukan untuk nama manusia. Tetapi untuk pertumbuhan tubuh Kristus. MARI KITA INGAT TIGA PESAN FIRMAN TUHAN HARI INI 1. TERIMALAH PERBEDAAN KARUNIA Jangan iri kepada karunia orang lain. Gunakan apa yang Tuhan berikan kepadamu. 2. SALING TOPANGLAH DALAM KELEMAHAN Jangan biarkan saudaramu berjalan sendirian. Kalau bisa menguatkan, kuatkan. Kalau bisa menolong, tolong. 3. BERPEGANGLAH PADA KEBENARAN DALAM KASIH Jangan mengorbankan kebenaran demi kenyamanan. Tetapi jangan pula memakai kebenaran untuk melukai. Sampaikan kebenaran dengan kasih. Terimalah koreksi dengan rendah hati. Dan bertumbuhlah bersama menuju kedewasaan dalam Kristus. Ajakan Akhir Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah kehadiranku selama ini meringankan atau justru menambah beban orang lain?” “Apakah perkataanku membangun atau meruntuhkan?” “Apakah aku hanya ingin ditopang, atau aku juga bersedia menopang?” “Apakah aku berani memegang kebenaran, tetapi tetap memiliki kasih?” Kiranya mulai hari ini kita tidak hanya menjadi jemaat yang pandai berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi kita juga berkata: “Tuhan, pakailah aku untuk menolong orang lain.” Karena ketika kita saling menopang, kita tidak hanya menjadi jemaat yang lebih kuat. Kita juga sedang bertumbuh menjadi tubuh Kristus yang dewasa. Horas! Kiranya Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja, menolong kita untuk saling menopang, saling membangun, dan bersama-sama berpegang kepada kebenaran di dalam kasih. Doa Penutup Martangiang ma hita, Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja kami, kami bersyukur untuk Firman-Mu pada hari ini. Terima kasih karena Engkau memberikan kepada kami karunia yang berbeda-beda. Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih sering membandingkan diri, iri hati, mencari pujian, atau hanya ingin ditolong tanpa mau menolong. Ajarlah kami untuk melihat setiap saudara sebagai bagian dari tubuh Kristus. Berikanlah kami hati yang mau menopang yang lemah, menguatkan yang putus asa, membimbing yang tersesat, dan mengoreksi dengan kasih. Tolonglah kami agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran dan informasi, tetapi teguh berpegang kepada kebenaran-Mu. Namun, berikan juga kepada kami hati yang penuh kasih, supaya kebenaran yang kami sampaikan tidak melukai, melainkan membangun. Kami berdoa juga bagi gereja-Mu, bagi HKBP di mana pun berada. Berkati seluruh pelayanan, para pelayan, Sintua, pengurus, dan seluruh jemaat. Mampukan kami untuk mengambil bagian dalam menjaga ciptaan-Mu, membangun keluarga, masyarakat, bangsa, dan lingkungan kami. Jadikanlah kami jemaat yang tidak hanya pandai berkata-kata, tetapi juga mau bekerja bersama. Ajarlah kami untuk saling menopang menuju kebenaran, sampai kami semua bertumbuh menuju kedewasaan penuh di dalam Kristus. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja kami berdoa. Amin.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | NEXT: Jamita HKBP Minggu, 30 Agustus 2026 - FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU - 2 Timotius 4:6-8 PREV: Jamita HKBP Minggu, 16 Agustus 2026 - RADOTI UHUM, ULAHON HATIGORAN (TAATI HUKUM DAN TEGAKKAN KEADILAN) - Yesaya 56:1-8 All Renungan HKBP 2026
Nyanyian Ibadah Gereja: Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, NR TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Suplemen Buku Ende, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, |
NEXT: Jamita HKBP Minggu, 30 Agustus 2026 - FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU - 2 Timotius 4:6-8 PREV: Jamita HKBP Minggu, 16 Agustus 2026 - RADOTI UHUM, ULAHON HATIGORAN (TAATI HUKUM DAN TEGAKKAN KEADILAN) - Yesaya 56:1-8 Minggu, 6 September 2026 Jamita HKBP Minggu, 6 September 2026 - MANGHAHOLONGI DEBATA DOHOT DONGAN JOLMA (Mengasihi Tuhan Allah dan sesama manusia) - Lukas 10:25-37 - MINGGU XIV DUNG TRINITATIS Minggu, 30 Agustus 2026 Jamita HKBP Minggu, 30 Agustus 2026 - FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU - 2 Timotius 4:6-8
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - FB © 2012 . All Rights Reserved. |