BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 654 kali
Renungan HKBP 2026
Jamita HKBP Minggu, 6 September 2026 - MANGHAHOLONGI DEBATA DOHOT DONGAN JOLMA (Mengasihi Tuhan Allah dan sesama manusia) - Lukas 10:25-37 - MINGGU XIV DUNG TRINITATIS

1. ADA ORANG YANG BERTANYA KEPADA YESUS, 2. MENGASIHI TUHAN BUKAN HANYA DENGAN MULUT, 3. AHLI TAURAT ITU BERTANYA LAGI, 4. ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI, 5. SIAPA SESAMAKU?, 6. KASIH TIDAK BERHENTI PADA PERASAAN, 8. KASIH DALAM KELUARGA,

Lukas 10:25-37
Perumpamaan orang Samaria yang baik hati
25Kemudian seorang guru agama tampil untuk menjebak Yesus. Ia bertanya, “Bapak Guru, saya harus melakukan apa supaya dapat menerima hidup sejati dan kekal?”
26Yesus menjawab, “Apa yang tertulis dalam Alkitab? Bagaimana pendapatmu tentang hal itu?”
27Orang itu menjawab, “ ‘Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segala kekuatanmu, dan dengan seluruh akalmu,’ dan ‘Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.’ ”
28“Jawabanmu itu benar,” kata Yesus. “Lakukanlah itu, maka engkau akan hidup.”
29Tetapi guru agama itu mau membenarkan diri. Ia bertanya, “Siapa sesama saya itu?”
30Yesus menjawab, “Ada seorang laki-laki turun dari Yerusalem ke Yerikho. Di tengah jalan ia diserang perampok, dirampas segala yang dimilikinya, dipukul setengah mati, lalu ditinggalkan tergeletak di jalan dengan luka parah. 31Kebetulan seorang imam berjalan juga di jalan itu. Ketika dilihatnya orang itu, ia menyingkir ke seberang jalan, lalu berjalan terus. 32Begitu juga dengan seorang Lewi yang berjalan di situ; ketika dilihatnya orang itu, ia mendekatinya untuk mengamatinya. Tetapi ia pun menyingkir ke seberang jalan, lalu berjalan terus. 33Tetapi kemudian seorang Samaria yang sedang bepergian, lewat juga di situ. Ketika dilihatnya orang itu, sangat terharu hatinya karena kasihan. 34Maka didekatinya orang itu lalu membersihkan luka-lukanya dengan anggur dan mengobatinya dengan minyak, kemudian membalut luka-luka itu. Sesudah itu, ia menaikkan orang itu ke atas keledainya sendiri, lalu membawanya ke sebuah losmen dan merawatnya. 35Keesokan harinya ia mengambil dua keping uang perak dan memberikannya kepada pemilik losmen itu serta berkata, ‘Rawatlah dia, dan kalau ada ongkos-ongkos lain, akan saya bayar nanti apabila saya kembali ke mari.’ ”
36Kemudian Yesus mengakhiri cerita itu dengan pertanyaan ini, “Dari ketiga orang itu yang manakah, menurut pendapatmu, yang bertindak sebagai sesama dari orang yang dirampok itu?”
37Guru agama yang ditanyai itu menjawab, “Orang yang telah menolong orang itu.”
“Nah, pergilah dan perbuatlah seperti itu juga!” kata Yesus.

Penjelasan:


Horas, selamat hari Minggu!

Bapak/Ibu, Amang, Inang, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

Puji Tuhan kita dapat kembali berkumpul di rumah Tuhan pada hari Minggu ini. Kita datang dengan berbagai keadaan. Ada yang datang dengan hati penuh sukacita, ada yang sedang memikirkan pekerjaan, ada yang memikirkan anak, cucu, ekonomi keluarga, kesehatan, bahkan mungkin ada yang datang sambil memikirkan, “Nanti makan siang apa ya?”

Ada juga yang sejak tadi duduk tenang, tetapi pikirannya sudah sampai di rumah.  

Tetapi apa pun keadaan kita hari ini, satu hal yang penting: Tuhan membawa kita datang ke rumah-Nya untuk mendengarkan firman-Nya.

Hari ini firman Tuhan dari Lukas 10:25-37 berbicara tentang sesuatu yang sangat sederhana untuk dikatakan, tetapi tidak selalu mudah dilakukan:

Mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama manusia.

1. ADA ORANG YANG BERTANYA KEPADA YESUS

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Dalam Lukas 10, datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus.

Ia bertanya:
“Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Pertanyaan ini sebenarnya pertanyaan yang sangat serius.

Dia tidak bertanya:
“Bagaimana supaya saya cepat kaya?”
“Bagaimana supaya usaha saya laris?”
“Bagaimana supaya anak saya sukses?”
“Bagaimana supaya tetangga saya pindah rumah?”

Tidak.

Dia bertanya tentang hidup yang kekal.

Artinya, dia sedang bertanya tentang keselamatan dan hubungan manusia dengan Allah.

Yesus kemudian bertanya balik:
“Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?”

Orang itu menjawab:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Jawabannya benar!

Tetapi masalahnya bukan pada pengetahuan.

Dia tahu jawabannya.

Persoalannya adalah:
Apakah dia melakukannya?

Ini yang sering terjadi juga dalam kehidupan kita.

Kita bisa tahu banyak firman Tuhan.
Kita bisa hafal ayat.
Kita bisa menyanyikan lagu rohani.
Kita bisa rajin datang ke gereja.

Tetapi Tuhan tidak hanya bertanya:
“Apakah kamu tahu firman-Ku?”

Tuhan juga bertanya:
“Apakah kamu melakukan firman-Ku?”

2. MENGASIHI TUHAN BUKAN HANYA DENGAN MULUT

Saudara-saudari,

Kita sering mengatakan:
“Saya mengasihi Tuhan.”

Itu bagus.

Tetapi bagaimana kita membuktikannya?

Mengasihi Tuhan bukan hanya mengatakan:
“Tuhan, aku mengasihi-Mu.”

Tetapi kasih kepada Tuhan harus terlihat dalam kehidupan.

Kalau kita mengasihi Tuhan, kita mau mendengarkan firman-Nya.
Kalau kita mengasihi Tuhan, kita mau berdoa.
Kalau kita mengasihi Tuhan, kita mau beribadah.
Kalau kita mengasihi Tuhan, kita mau mengampuni.
Kalau kita mengasihi Tuhan, kita mau menolong.
Kalau kita mengasihi Tuhan, kita tidak tega melihat orang lain menderita.

Karena kasih kepada Tuhan akan menghasilkan kasih kepada manusia.

Tidak mungkin kita mengatakan:
“Tuhan, aku sangat mengasihi Engkau!”

tetapi lima menit kemudian kita berkata kepada saudara kita:
“Saya tidak mau tahu urusanmu!” 

Ada yang begitu?

Jangan tunjuk siapa-siapa.

Nanti sebelah kita tersinggung. he he

3. AHLI TAURAT ITU BERTANYA LAGI

Setelah memberikan jawaban yang benar, ahli Taurat itu masih bertanya:
“Dan siapakah sesamaku manusia?”

Nah, di sinilah menariknya.

Dia bukan bertanya:
“Bagaimana saya mengasihi sesama?”

Tetapi:
“Siapa sesama saya?”

Sepertinya dia sedang mencari batas.

Seolah-olah berkata:
“Tuhan, kasih itu ada batasnya tidak?”
“Yang harus saya kasihi siapa?”
“Yang satu suku dengan saya?”
“Yang satu agama?”
“Yang satu keluarga?”
“Yang baik kepada saya?”
“Yang sependapat dengan saya?”
“Yang tidak pernah menyakiti saya?”

Kalau begitu, mengasihi memang mudah.

Tetapi Yesus memberikan jawaban yang luar biasa melalui sebuah perumpamaan.

4. ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI


Yesus berkata:
Ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho.

Di tengah perjalanan ia dirampok.

Hartanya diambil.

Ia dipukul.
Ia ditinggalkan dalam keadaan setengah mati.

Lalu lewatlah seorang imam.

Imam melihat orang itu.

Tetapi apa yang dilakukan?
Lewat begitu saja.

Kemudian lewat seorang Lewi.

Dia juga melihat.
Tetapi dia juga melewati orang itu.

Bayangkan!

Orang yang seharusnya dekat dengan pelayanan Tuhan justru tidak menolong.

Kemudian datanglah seorang Samaria.

Pada zaman itu, hubungan orang Yahudi dan orang Samaria tidak baik.

Tetapi ketika orang Samaria itu melihat orang yang terluka, dia tergerak oleh belas kasihan.
Dia mendekat.
Dia membalut luka orang itu.
Dia menuangkan minyak dan anggur.
Dia menaikkan orang itu ke atas keledainya.
Dia membawanya ke tempat penginapan.
Dia merawatnya.

Bahkan dia berkata kepada pemilik penginapan:
“Rawatlah dia dan kalau kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya.”

Saudara-saudari,
Ini kasih yang nyata.

Bukan kasih yang hanya ada di mulut.

5. SIAPA SESAMAKU?

Setelah menceritakan perumpamaan itu, Yesus bertanya:

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”

Ahli Taurat menjawab:
“Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”

Kemudian Yesus berkata:
“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Ini inti firman Tuhan hari ini.

Yesus tidak berkata:
“Pergilah dan pikirkanlah demikian.”

Tidak.

Yesus berkata:
“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Artinya:
Kasih harus dilakukan.

6. KASIH TIDAK BERHENTI PADA PERASAAN

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Kadang-kadang kita berkata:
“Saya sebenarnya kasihan melihat dia.”

Tetapi hanya sampai di situ.

Kita melihat orang kesusahan:
“Kasihan ya…”

Lalu kita berjalan terus.

Kita mendengar teman sakit:
“Semoga cepat sembuh.”

Lalu selesai.

Kita tahu tetangga sedang mengalami masalah:
“Wah, berat juga masalahnya.”

Tetapi kita tidak pernah datang bertanya:
“Apa yang bisa saya bantu?”

Saudara,

Orang Samaria itu tidak hanya merasa kasihan.
Dia bertindak.

Inilah perbedaan antara simpati dan kasih.

Simpati berkata:
“Saya ikut prihatin.”

Kasih berkata:
“Saya akan melakukan sesuatu.”

7. SESAMA ITU ADA DI DEKAT KITA

Kadang-kadang kita berpikir bahwa mengasihi sesama harus melakukan sesuatu yang besar.

Tidak selalu.

Sesama kita bisa saja:
Suami kita.
Istri kita.
Anak kita.
Orang tua kita.
Saudara kita.
Tetangga kita.
Teman kerja kita.
Teman gereja kita.

Bahkan orang yang setiap hari kita temui.

Kadang-kadang kita begitu baik kepada orang di luar rumah, tetapi justru orang di dalam rumah yang paling sering kita marahi. 😂

Di gereja:
“Horas, Amang! Tuhan memberkati!”

Sampai di rumah, marah marah:
“Kenapa kau belum masak?!”

he he

Di gereja kita tersenyum.

Di rumah kita menjadi seperti petugas penagihan utang.

Ini perlu kita koreksi.

Kasih kepada sesama dimulai dari orang-orang yang Tuhan tempatkan paling dekat dengan kita.

8. KASIH DALAM KELUARGA

Bapak/Ibu yang dikasihi Tuhan,

Keluarga adalah tempat pertama kita belajar mengasihi.

Suami mengasihi istri.
Istri mengasihi suami.
Orang tua mengasihi anak.
Anak menghormati orang tua.
Kakak mengasihi adik.
Adik menghormati kakak.

Tetapi kita tahu, justru di dalam keluarga sering terjadi konflik.

Kenapa?

Karena kita hidup sangat dekat.

Kalau orang lain melakukan kesalahan, kita mungkin berkata:
“Ya sudahlah.”

Tetapi kalau suami melakukan sedikit kesalahan:
“Nah! Kan sudah saya bilang dari dulu!”  he he

Kesalahan yang sama bisa diingat sampai lima tahun.
Bahkan tanggal dan jamnya masih hafal. he he

Tetapi firman Tuhan mengajarkan:
Kasih tidak menghitung-hitung kesalahan.

Kasih mau mengampuni.
Kasih mau memahami.
Kasih mau memberi kesempatan.

9. KASIH DI TENGAH PERBEDAAN

Saudara-saudari,

Orang Samaria menolong orang Yahudi.

Padahal mereka berbeda.

Ini sangat penting.

Karena kasih Kristen tidak boleh dibatasi oleh:
suku,
status sosial,
pendidikan,
ekonomi,
jabatan,
pilihan politik,
atau perbedaan pendapat.

Kita sering lebih mudah mengasihi orang yang sama dengan kita.

Yang satu suku, kita senang.
Yang satu gereja, kita senang.
Yang satu kelompok, kita senang.
Yang sependapat dengan kita, kita senang.

Tetapi Yesus mengajarkan kasih yang lebih tinggi:
Kasihilah bahkan ketika ada perbedaan.

Bukan berarti kita harus menyetujui semua tindakan orang.

Tetapi kita tetap dipanggil untuk memperlakukan manusia sebagai manusia yang dikasihi Tuhan.

10. JANGAN MENJADI “ORANG LEWAT”

Ada satu hal yang menarik dari cerita ini.

Imam itu melihat.

Orang Lewi itu juga melihat.

Tetapi mereka tidak melakukan apa-apa.

Artinya, masalahnya bukan mereka tidak tahu.

Mereka melihat penderitaan itu, tetapi memilih melewatinya.

Saudara-saudari,

Jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang hanya melihat.

Melihat orang kesusahan, tetapi tidak peduli.

Melihat keluarga membutuhkan perhatian, tetapi sibuk dengan handphone.

Melihat orang tua semakin tua, tetapi jarang menelepon.

Melihat tetangga sakit, tetapi berkata:

“Kan sudah ada keluarganya.”

Melihat saudara kita jatuh, malah berkata:

“Makanya, siapa suruh begitu!”  he he

Firman Tuhan hari ini berkata:
Jangan hanya melihat. Datanglah.
Jangan hanya kasihan. Tolonglah.
Jangan hanya berbicara. Bertindaklah.

11. MENGASIHI SESAMA TIDAK HARUS KAYA

Saudara-saudari,

Kadang kita berkata:

“Saya mau menolong, tetapi saya tidak punya uang.”

Tetapi kasih tidak selalu membutuhkan uang.

Kadang orang membutuhkan:
waktu kita.
perhatian kita.
doa kita.
kata-kata penguatan kita.
kunjungan kita.
telinga yang mau mendengar.

Seorang ibu mungkin tidak membutuhkan uang dari anaknya.

Dia hanya ingin anaknya menelepon dan berkata:
“Mama sehat?”

Seorang ayah mungkin tidak meminta apa-apa dari anaknya.

Dia hanya ingin anaknya datang dan duduk bersamanya.

Seorang teman yang sedang mengalami masalah mungkin tidak membutuhkan uang.

Dia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:

“Saya ada di sini. Kita hadapi bersama.”

Itulah kasih.

12. YESUS SENDIRI ADALAH TELADAN KASIH

Saudara-saudari,

Kalau kita berbicara tentang kasih, kita tidak hanya melihat orang Samaria.

Kita melihat kepada Yesus Kristus sendiri.

Yesus datang ke dunia karena kasih.
Yesus melayani orang sakit.
Yesus mendekati orang berdosa.
Yesus menerima orang yang ditolak masyarakat.
Yesus mengampuni.
Yesus menangis bersama orang yang berduka.

Dan akhirnya Yesus menyerahkan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan manusia.

Inilah kasih yang paling sempurna.

Kita mengasihi karena Kristus terlebih dahulu mengasihi kita.

Jadi kita tidak mengasihi supaya Tuhan mengasihi kita.

Kita mengasihi karena kita sudah terlebih dahulu menerima kasih Tuhan.

13. PERTANYAAN UNTUK KITA HARI INI


Bapak/Ibu, Amang/Inang, Saudara-saudari,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Pertama:
Apakah saya sungguh-sungguh mengasihi Tuhan?

Bukan hanya dengan perkataan, tetapi dengan kehidupan saya?

Kedua:
Apakah saya mengasihi keluarga saya?

Apakah suami/istri saya merasakan kasih Kristus melalui saya?

Apakah anak-anak saya merasakan bahwa orang tua mereka mengasihi mereka?

Ketiga:
Apakah saya peduli kepada sesama?

Ketika melihat orang lain mengalami kesulitan, apakah saya berhenti dan menolong?

Keempat:
Apakah ada seseorang yang selama ini sulit saya kasihi?

Mungkin orang yang pernah menyakiti kita.
Mungkin saudara yang membuat kita kecewa.
Mungkin tetangga.
Mungkin teman kerja.
Mungkin bahkan sesama warga jemaat.

Firman Tuhan hari ini berkata:
“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

14. TIGA LANGKAH PRAKTIS

Supaya firman hari ini tidak berhenti di gereja, mari kita bawa pulang tiga hal.

Pertama: LIHAT

Jangan tutup mata terhadap kebutuhan orang lain.

Perhatikan orang di sekitar kita.

Kedua: DEKATI

Jangan hanya berkata:
“Kasihan.”

Datanglah.

Tanyakan:
“Apa yang bisa saya bantu?”

Ketiga: TOLONGLAH

Lakukan sesuatu sesuai kemampuan kita.

Tidak perlu menunggu menjadi kaya.

Tidak perlu menunggu mempunyai banyak waktu.

Mulailah dari apa yang ada pada kita.


PENUTUP

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Ada satu kalimat yang sangat sederhana dari perikop ini:

“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Itulah panggilan Yesus kepada kita.

Setelah ibadah ini kita tidak hanya pulang membawa liturgi.

Jangan hanya membawa warta jemaat.
Jangan hanya membawa cerita khotbah.

Tetapi bawalah kasih Kristus ke rumah.

Ketika kita sampai di rumah, mari kita mulai dari yang sederhana.

Peluk anak kita.
Perhatikan pasangan kita.
Hubungi orang tua kita.
Maafkan orang yang menyakiti kita.
Tolong orang yang membutuhkan.
Kunjungi yang sakit.
Kuatkan yang sedang lemah.

Karena mungkin saja,
orang yang Tuhan tempatkan di depan kita hari ini adalah “orang Samaria” yang harus kita tolong.

Dan mungkin juga,
suatu hari nanti ketika kita yang sedang berada di pinggir jalan kehidupan, terluka dan tidak berdaya,

Tuhan mengirim seseorang untuk menolong kita.

Saudara-saudari,
Mengasihi Tuhan berarti mengasihi sesama.

Dan mengasihi sesama bukan hanya dengan kata-kata.

Kasih harus terlihat.
Kasih harus dirasakan.
Kasih harus dilakukan.
Karena itu, mari kita pulang dengan satu tekad:

“Tuhan, ajarlah aku bukan hanya mengetahui kasih-Mu, tetapi melakukan kasih-Mu kepada sesamaku.”

Dan ketika kita bertemu orang yang membutuhkan pertolongan, jangan menjadi orang yang hanya lewat.

Berhentilah.
Dekatilah.
Tolonglah.

Sebab Tuhan Yesus berkata:
“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Amin.


Doa Penutup

Tuhan Yesus yang penuh kasih,

Kami bersyukur untuk firman-Mu pada hari ini.

Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih banyak berbicara tentang kasih daripada melakukan kasih.

Ampunilah kami apabila kami sering melihat orang yang membutuhkan pertolongan tetapi memilih berjalan melewatinya.

Ajarlah kami memiliki hati seperti orang Samaria yang murah hati.

Berikan kepada kami hati yang peka melihat penderitaan orang lain, hati yang mau mendekat, dan tangan yang mau menolong.

Ajarlah kami mengasihi keluarga kami, mengasihi saudara-saudara kami, mengasihi warga jemaat, tetangga, teman kerja, bahkan mereka yang berbeda dengan kami.

Biarlah kasih Kristus nyata melalui kehidupan kami.

Supaya ketika orang melihat kami, mereka bukan hanya melihat orang Kristen yang pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi melihat kasih Tuhan yang nyata dalam kehidupan kami.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan mengucap syukur.

Amin.















PREV:
Jamita HKBP Minggu, 30 Agustus 2026 - FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU - 2 Timotius 4:6-8

All Renungan HKBP 2026
(37)



PREV:
Jamita HKBP Minggu, 30 Agustus 2026 - FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU - 2 Timotius 4:6-8

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de