BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 5362 kali

Download MP3 Music
Minggu, 31 Juli 2016
Proper 13 (18)
Hosea 11:1-11 and Psalm 107:1-9, 43
Ecclesiastes 1:2, 12-14; 2:18-23 and Psalm 49:1-12
Colossians 3:1-11

Lukas 12:13-21
Konteks
Orang kaya yang bodoh
12:13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." 12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" 12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." 12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. 12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. 12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. 12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! 12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? 12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."


Penjelasan:
* Pikiran Duniawi Dibeberkan (12:13-21)

    Dalam ayat-ayat ini kita melihat:

    I. Permohonan yang diajukan kepada Kristus, pada waktu yang sangat tidak tepat, oleh salah seorang pendengar-Nya, yang ingin agar Kristus menjadi pengantara antara dia dan saudaranya dalam masalah harta keluarga (ay. 13): "Guru, katakanlah kepada saudaraku; bicaralah seperti seorang nabi, bertitahlah seperti seorang raja, katakanlah dengan kuasa; maka saudaraku akan mendengarkan apa yang Engkau katakan; bicaralah kepadanya, supaya ia berbagi warisan dengan aku." Di sini tampak bahwa:
        . Menurut sebagian orang, saudara orang itu berbuat salah kepadanya, dan karena itu dia memohon kepada Kristus agar memberi keadilan kepadanya. Dia tahu hukum itu berharga. Saudara yang berlaku seperti ini biasa disebut orang Yahudi sebagai Ben-hamesen -- anak berandalan, yang bukan hanya mengambil warisan yang menjadi bagiannya sendiri melainkan juga yang menjadi bagian saudaranya. Ia menahan bagian saudaranya itu dengan paksa. Ada saudara-saudara kita di dunia ini yang berlaku seperti itu, yang sama sekali tidak mempunyai rasa keadilan ataupun rasa kasih sayang terhadap sesama saudara mereka, dan yang memangsa orang yang seharusnya mereka tolong dan lindungi. Orang yang menjadi korban seperti ini datang kepada Allah untuk mengadu, dan Allah akan melaksanakan penghakiman dan keadilan bagi mereka yang tertindas.
        . Sebagian orang lain lagi berpendapat bahwa ia berniat untuk berbuat jahat kepada saudaranya dan ingin agar Kristus membantunya. Menurut hukum Taurat saudaranya harus mendapat warisan dua kali lebih banyak, dan karena ayahnya sendiri tidak dapat berbuat apa-apa selain harus mengikuti aturan hukum itu (Ul. 21:16-17), maka ia pun ingin agar Kristus mengubah hukum itu dan menyuruh saudaranya, yang mungkin termasuk pengikut setia Kristus, untuk membagi warisan itu sama rata dengan dia. Saya sendiri cenderung berpendapat bahwa memang demikianlah keadaannya, karena dari peristiwa ini Kristus mengajarkan agar kita waspada terhadap ketamakan, pleonexia -- keinginan untuk memiliki dengan berlebihan, lebih daripada apa yang sudah Allah sediakan bagi kita dalam pemeliharaan-Nya. Keinginannya untuk mendapatkan warisannya itu salah secara hukum, sedangkan keinginannya untuk mendapatkan warisan melebihi bagiannya sendiri merupakan dosa.
    II. Penolakan Kristus untuk ikut campur dalam masalah ini (ay. 14). "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Dalam masalah-masalah seperti ini, Kristus tidak akan menggunakan kuasa untuk mengubah hukum yang sudah tetap mengenai warisan itu atau kuasa untuk memutuskan mana yang benar dalam permasalahan warisan ini. Ia bisa saja menjalankan tugas hakim dan ahli hukum, sebaik Ia menjalankan tugas tabib, dan dapat menyelesaikan tuntutan-tuntutan pengadilan sebaik menyembuhkan macam-macam penyakit. Akan tetapi, Dia tidak ingin melakukannya, sebab itu bukanlah tugas perutusan-Nya. Siapakah yang telah mengangkat Aku sebagai hakim? Mungkin Dia merujuk pada kemarahan yang dilontarkan saudara-saudara Musa kepadanya di Mesir, yang juga dipakai Stefanus untuk mencela orang Yahudi (Kis. 7:27, 35). "Jika Aku bersedia melakukannya, maka kamu akan mencemooh Aku seperti kamu mencemooh Musa, Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami?" Kristus meluruskan kesalahan orang itu, dan tidak menghiraukan permohonannya (perbuatannya itu coram non judice -- tidak di hadapan hakim yang tepat), dan karena itu Dia menolak permohannya itu. Seandainya orang itu datang kepada Kristus untuk memohon agar Dia membantunya memperoleh warisan sorgawi, maka pasti Dia akan memberikan bantuan terbaik-Nya. Namun, masalahnya yang satu ini tidak ada sangkut pautnya dengan Dia: Siapakah yang mengangkat aku menjadi hakim? Perhatikanlah, Yesus Kristus bukanlah seorang yang suka mengambil alih tugas jabatan orang. Dia tidak mengambil kehormatan atau kekuasaan untuk diri-Nya sendiri, selain apa yang sudah diberikan kepada-Nya (Ibr. 5:5). Apa pun yang diperbuat-Nya, Dia dapat memberi tahu dengan kuasa apa Dia berbuat seperti itu, dan siapa yang memberi-Nya kuasa itu. Nah, hal ini menunjukkan kepada kita apa itu yang menjadi hakikat dan prinsip dasar dalam Kerajaan Kristus. Kerajaan-Nya adalah kerajaan rohani dan bukan dari dunia ini.
        . Kerajaan ini tidak mencampuri urusan kekuasaan sipil, dan juga tidak mengambil kekuasan dari tangan raja-raja. Agama Kristen menyerahkan apa yang menjadi hak kekuasaan sipil ke dalam tangan penguasa sipil itu sendiri.
        . Kerajaan ini tidak menengahi masalah hak-hak sipil. Kerajaan ini mewajibkan semua orang untuk berbuat adil menurut hukum keadilan yang sudah ditetapkan, namun kekuasaan tidaklah dibangun di atas anugerah.
        . Kerajaan ini tidak mendorong kita untuk mengharapkan keuntungan-keuntungan duniawi dari agama kita. Jika orang itu ingin menjadi murid Kristus, dan berharap bahwa dengan menjadi murid, Kristus harus memberinya warisan yang menjadi bagian saudaranya, maka kelirulah dia. Imbalan bagi murid-murid Kristus lain sifatnya.
        . Kerajaan ini tidak mendorong kita untuk bersaing dengan saudara-saudara kita. Ia mengajak kita untuk tidak bersikeras dalam menuntut-nuntut, melainkan sebaliknya, supaya kita melepaskan hak-hak kita demi kedamaian.
        . Kerajaan ini tidak mengizinkan para hambanya untuk melibatkan diri dalam masalah-masalah kehidupan ini (2Tim. 2:4) dan melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Ada orang yang sudah ditugaskan untuk mengurusi hal-hal seperti itu, dan biarlah mereka melakukannya, Tractent fabrilia fabri -- Setiap pekerja sesuai dengan keterampilannya masing-masing.
    III. Kewaspadaan yang diingatkan Kristus kepada para pendengar-Nya berdasarkan peristiwa ini. Meskipun tidak datang untuk menjadi pembagi harta warisan orang, Dia datang untuk mengarahkan hati nurani orang dalam masalah warisan itu. Ia menyuruh mereka semua untuk waspada agar tidak mengikuti sikap keliru tersebut, yang mereka lihat dalam diri orang lain sudah menjadi akar dari begitu banyak kejahatan.

    Berikut ini lihat:

        . Apa yang harus diwaspadai itu (ay. 15): Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan; horate -- "Awasilah dirimu, jagailah hatimu baik-baik, jangan sampai sikap tamak merasuki hatimu itu, dan phylassesthe -- peliharalah dirimu, balutlah hatimu rapat-rapat, agar jangan sampai ketamakan menguasai dan memerintah di sana." Ketamakan adalah dosa yang harus terus kita waspadai, dan oleh sebab itu kita harus sering diperingatkan.
        . Alasan mengapa kita harus bersikap waspada terhadap ketamakan: Karena hidup manusia tidak tergantung pada kekayaan yang dimilikinya. Artinya, "kebahagiaan dan kesenangan kita tidak bergantung pada kepemilikan atas kekayaan yang melimpah di dunia ini."
            (1) Tidak diragukan lagi, kehidupan jiwa tidak tergantung pada kekayaan itu, dan jiwa adalah manusia itu sendiri. Harta benda duniawi tidak akan cocok dengan sifat jiwa, tidak bisa memenuhi kebutuhannya, tidak memuaskan keinginannya, dan juga tidak berlangsung lama seperti jiwa.
            (2) Bahkan kehidupan tubuh dan kebahagiaannya pun tidak terletak pada kelimpahan harta benda duniawi tersebut, karena banyak orang yang hanya mempunyai sedikit kekayaan duniawi namun hidup dengan sangat tenang dan puas, dan dapat melalui dunia ini dengan nyaman. (Lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian.) Sebaliknya, banyak orang yang mempunyai banyak harta di dunia ini namun hidup mereka menyedihkan. Mereka memiliki harta berlimpah-limpah namun tidak dapat menikmatinya; mata mereka tidak puas dengan kekayaan (Pkh. 4:8). Banyak orang yang memiliki harta berlimpah namun selalu merasa tidak puas dan gusar, seperti Ahab dan Haman. Jadi apa gunanya kelimpahan harta itu bagi mereka?
        . Penggambaran masalah ini dengan sebuah perumpamaan, yang intinya adalah untuk menunjukkan kebodohan orang-orang duniawi pada waktu mereka hidup, dan kesengsaraan mereka pada waktu mereka mati. Ini dimaksudkan bukan hanya untuk memperingatkan orang yang datang kepada Kristus dengan membawa masalah warisannya itu, yang tidak peduli dengan keadaan jiwanya dan dunia akhirat, melainkan juga untuk lebih mendorong kita semua supaya waspada, waspada terhadap ketamakan. Perumpamaan itu memberikan gambaran tentang kehidupan dan kematian seorang kaya, dan kita diminta untuk menilai sendiri apakah dia seorang yang berbahagia atau tidak.
            (1) Beginilah kekayaan duniawi dan kelimpahan yang ada padanya (ay. 16): Tanahnya berlimpah-limpah hasilnya, chōra -- regio -- wilayah. Dia mempunyai wilayahnya sendiri, dia seorang penguasa, dia seorang raja kecil. Amatilah, kekayaannya sangat bergantung pada hasil-hasil tanah, karena raja dihormati di daerah itu (Pkh. 5:8; terjemahan KJV: raja dilayani oleh tanah ladangnya -- pen.). Dia mempunyai banyak tanah, dan tanahnya subur. Orang yang sudah punya banyak biasanya ingin punya lebih lagi, dan orang ini sudah mempunyai lebih. Perhatikanlah, hasil tanah yang berlimpah merupakan suatu berkat yang besar, namun itu adalah berkat yang sering kali diberikan Allah kepada orang jahat, dan bagi mereka berkat itu menjadi suatu jerat; karena itu kita tidak boleh menilai apakah Allah mengasihi atau membenci kita berdasarkan apa yang kita miliki.
            (2) Mari kita lihat apa yang ada dalam hatinya, di tengah-tengah kelimpahannya itu. Di sini kita diberi tahu apa yang ia pikirkan dalam hatinya (ay. 17). Perhatikanlah, Allah di sorga tahu dan mengamati segala sesuatu yang kita pikirkan dalam hati kita sendiri, dan kita harus bertanggung jawab kepada-Nya untuk itu. Allah adalah Sang Penyelidik dan juga Hakim atas segala pikiran dan maksud hati. Kita keliru jika kita menyangka bahwa pikiran kita tersembunyi dan bebas.

            Marilah kita amati di sini:

                [1] Apa yang ia pedulikan dan yang ia khawatirkan. Ketika ia melihat panen yang sangat berlimpah di ladangnya, bukannya bersyukur kepada Allah atau bersukacita karena ini akan memberinya kesempatan untuk berbuat lebih banyak kebaikan lagi, ia malah menyusahkan dirinya sendiri dengan berpikir, "Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat untuk menyimpan hasil tanahku? Dia berbicara seolah-olah dia mendapat kerugian, dan menjadi bingung karenanya. Apa yang harus aku perbuat sekarang?" Bahkan pengemis yang paling miskin di wilayahnya pun, yang tidak tahu ke mana harus mencari makan, tidak akan mengucapkan kata-kata yang penuh kekhawatiran seperti itu. Rasa khawatir yang menggelisahkan merupakan akibat umum dari kelimpahan duniawi, dan merupakan kesalahan umum yang dibuat orang-orang yang berkelimpahan. Semakin banyak harta orang, semakin bingung mereka dengan apa yang mereka miliki, dan semakin khawatir mereka untuk menjaga apa yang mereka miliki dan untuk menambahkan sesuatu yang lebih lagi. Mereka bingung bagaimana menyimpan dan membelanjakannya. Dengan demikian, bahkan kelimpahan orang kaya membuat mereka tidak bisa tidur, karena memikirkan apa yang harus mereka perbuat dengan harta yang mereka miliki dan bagaimana mengurusnya. Orang kaya itu kelihatannya mengeluh sewaktu berucap, "Apa yang harus aku perbuat?" Dan kalau Anda bertanya, "Mengapa, memangnya ada apa?" "Oh, tidak apa-apa, hartanya berlimpah-ruah, dan dia perlu tempat untuk menaruhnya, itu saja."
                [2] Apa yang menjadi rencana dan tujuannya, yang merupakan akibat dari segala kekhawatirannya, yang sama tidak masuk akal dan bodohnya seperti kekhawatirannya itu (ay. 18): "Inilah yang akan aku perbuat, dan ini adalah jalan yang paling bijaksana yang dapat kuambil, aku akan merombak lumbung-lumbungku, karena lumbung-lumbung itu terlalu kecil, lalu aku akan mendirikan yang lebih besar, dan di situlah aku akan menyimpan segala gandum dan barang-barangku, barulah setelah itu aku bisa tenang." Nah dalam hal ini,
                    pertama, bodoh baginya untuk menyebut segala hasil tanah itu sebagai gandum dan barang-barang miliknya. Dia tampak senang menekankan ini, gandumku dan barang-barangku. Padahal, apa yang kita miliki sesungguhnya hanya dititipkan kepada kita untuk kita gunakan, sedangkan hak kepemilikannya tetap di tangan Allah. Kita hanyalah bendahara atas barang-barang milik Tuan kita, sekadar penggarap atas tanah Tuan kita, berdasarkan kehendak-Nya. Itu Gandum-Ku (kata Allah) dan anggur-Ku (Hos. 2:7-8).
                    Kedua, bodoh baginya untuk menimbun harta yang ia miliki, dan lalu berpikir bahwa ia sudah menaruhnya (atau menggunakannya) dengan baik. Di sanalah aku akan menyimpan semuanya, seolah-olah tidak ada harta yang harus diberikan kepada kaum miskin, kepada keluarganya, kepada kaum Lewi, dan kepada orang asing, kaum yatim, dan para janda, selain menimbun saja semuanya di dalam lumbung yang besar itu.
                    Ketiga, bodoh baginya untuk membiarkan pikirannya melayang-layang bersama keadaannya ini. Ketika ladangnya membuahkan hasil yang lebih banyak daripada biasanya, ia lalu bicara mengenai lumbung-lumbung yang lebih besar, seolah-olah tahun depan ladangnya akan menghasilkan panen sebanyak tahun ini, dan malah jauh lebih banyak, padahal lumbung yang ini bisa saja akan menjadi terlalu besar untuk tahun depan, seperti halnya terlalu kecil untuk tahun ini. Tahun-tahun kelimpahan biasanya diikuti dengan tahun-tahun kelaparan, seperti yang terjadi di Mesir, dan oleh sebab itu lebih baik baginya untuk menumpuk sebagian gandumnya sebagai persediaan untuk tahun-tahun kelaparan seperti itu.
                    Keempat, bodoh baginya untuk menghilangkan kekhawatirannya dengan membangun lumbung-lumbung baru, karena dengan membangunnya berarti kekhawatirannya bisa semakin bertambah. Orang-orang yang tahu seluk beluk mendirikan bangunan pasti mengerti akan hal ini. Cara yang diberikan Allah untuk menghilangkan kekhawatiran yang berlebihan pasti akan berhasil, sedangkan cara duniawi justru lebih menambah kekhawatiran itu. Selain itu, setelah dia membangun, akan ada hal-hal lain yang masih harus diperhatikannya; semakin besar lumbung, semakin besar pula hal-hal lain yang akan dikhawatirkannya (Pkh. 5:9).
                    Kelima, bodoh baginya untuk berusaha mengatur dan memecahkan semua masalah ini sampai ke akar-akarnya tanpa kecuali. Inilah yang akan aku lakukan: Aku akan merombak lumbung-lumbungku dan membangun yang lebih besar, ya, itu akan aku lakukan, tanpa "kalau ini" atau "kalau itu," tanpa "Jika Tuhan menghendakinya, aku akan akan hidup" (Yak. 4:13-15). Rencana yang tidak bisa diganggu gugat adalah rencana yang bodoh, sebab waktu yang kita miliki ada di tangan Allah, bukan di tangan kita sendiri, dan kita tidak tahu pasti apa yang akan terjadi esok hari.
                [3] Harapan dan keinginan yang menyenangkan hatinya, ketika rencananya itu telah terlaksana nanti. "Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku, karena aku sudah aman, tidak peduli itu kata Allah atau tidak, Jiwaku, dengarlah apa yang aku katakan, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya di lumbung-lumbung ini. Sekarang beristirahatlah, nikmatilah hidupmu, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" (ay. 19). Tampaklah juga kebodohannya di sini, seperti halnya dalam keinginannya untuk mengejar kekayaannya dan menikmatinya.
                    Pertama, bodoh baginya untuk menunda-nunda kesenangannya dalam kelimpahan itu sampai dia berhasil menjalankan segala rencananya yang berkaitan dengan kelimpahannya itu. Ketika sudah membangun lumbung-lumbung yang lebih besar dan mengisinya penuh (yang akan makan beberapa waktu lamanya), maka dia akan beristirahat; padahal, bukankah dia bisa saja beristirahat sekarang? Seperti inilah Grotius mengutip cerita tentang Pyrrhus, yang membayangkan dirinya sebagai pemenang perang di Sisilia, di Afrika, dan di tempat-tempat lain, dan apa yang akan dia lakukan nanti dengan kemenangan-kemenangannya itu. "Baiklah," kata temannya Cyneas, "Apa yang harus kita lakukan setelah itu nanti?" Postea vivemus -- "Setelah itu kita akan hidup" katanya. At hoc jam licet -- "Kita bisa hidup sekarang kalau kita mau," kata Cyneas lagi.
                    Kedua, bodoh baginya untuk merasa yakin bahwa harta miliknya tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya, seolah-olah lumbung-lumbung yang lebih besar akan lebih aman dibandingkan dengan lumbung-lumbung yang sudah ia miliki, sedangkan bisa saja dalam waktu satu jam lumbung-lumbung beserta semua yang ada di dalamnya itu terbakar rata dengan tanah, mungkin akibat sambaran petir, yang tidak bisa ditangkal. Dalam beberapa tahun lagi bisa akan terjadi perubahan besar; ngengat dan karat mungkin merusakkannya atau pencuri membongkar serta mencurinya.
                    Ketiga, bodoh baginya untuk mengandalkan diri pada suatu rasa ketenangan tertentu saja, yaitu dengan menimbun semua harta yang berlimpah dari dunia ini, sedangkan ada banyak hal yang dapat membuat orang tidak tenang di tengah-tengah kelimpahannya. Nila setitik rusak susu sebelanga. Penderitaan dan penyakit, hubungan-hubungan yang tidak harmonis, dan terutama hati nurani yang bersalah, dapat merampok ketenangan dari diri seseorang yang memiliki seantero kekayaan dunia ini sekalipun.
                    Keempat, bodoh baginya untuk berpikir bahwa kelimpahannya hanya melulu untuk digunakan makan, minum, dan bersenang-senang; untuk mengikuti keinginan daging dan memuaskan hawa nafsunya, tanpa berpikir untuk berbuat baik kepada orang lain, dan untuk dimampukan melayani Allah dan angkatannya dengan lebih baik: seolah-olah kita hidup untuk makan, dan bukan makan untuk hidup; seakan-akan kebahagiaan manusia hanya dapat dicapai dengan memuaskan keinginan-keinginan tubuh sejadi-jadinya.
                    Kelima, amat sangatlah bodoh untuk mengatakan semuanya ini kepada jiwanya. Seandainya dia berkata, "Tubuhku, beristirahatlah, karena ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya," maka itu bisa masuk akal. Tetapi jiwa, yang merupakan roh kekal dan terpisah dari tubuh, tidak akan tertarik dengan lumbung yang penuh gandum atau kantung yang penuh emas. Seandainya berjiwa babi, maka bolehlah dia memberkati jiwanya itu dengan kepuasan makan dan minum, namun apalah artinya ini bagi jiwa manusia, yang keperluan dan keinginannya tidak akan pernah selaras dengan barang-barang semacam itu? Kesalahan paling gila yang dibuat anak-anak dunia ini adalah bahwa mereka memenuhi dan memelihara jiwa mereka dengan kekayaan duniawi dan kenikmatan tubuh.
            (3) Inilah hukuman Allah atas semuanya ini; dan kita yakin bahwa Dia menghakimi berdasarkan kebenaran. Orang itu berkata kepada dirinya sendiri, kepada jiwanya, "Beristirahatlah." Seandainya Allah berkata demikian juga, maka orang itu pasti akan berbahagia, karena Roh-Nya bersaksi dengan semua roh orang percaya untuk membuat mereka semua tenang. Akan tetapi Allah berkata sebaliknya, dan menurut penilaian-Nya terhadap kita, dan bukan menurut penilaian kita sendiri (1Kor. 4:3-4), kita akan berdiri atau jatuh. Para tetangganya memberkatinya (Mzm. 10:3), memujinya karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri (Mzm. 49:19). Tetapi Allah berkata bahwa dia berbuat jahat terhadap dirinya sendiri: "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu" (ay. 20). Allah berfirman kepadanya, artinya menjatuhkan ketetapan-Nya atas orang ini, dan membuatnya mengetahui hal ini, entah melalui hati nuraninya atau dengan mengejutkannya dengan suatu cara tertentu, atau melalui kedua cara tersebut. Ini dikatakan sewaktu dia berada dalam kemewahannya yang berlimpah-limpah (Ayb. 20:22), ketika matanya tidak bisa terpejam di tempat tidur, karena khawatir dan memikirkan rencananya untuk memperbesar lumbungnya, bukan dengan membangun satu atau dua dinding, yang mungkin sudah bisa memenuhi tujuannya, melainkan dengan merobohkannya dan membangun lumbung baru yang lebih besar, yang dirasa penting untuk memuaskan angan-angannya. Ketika ia sedang merencanakan hal ini dan sudah merasa mantap bahwa ia akan melakukannya, lalu tertidur lagi dengan mimpi indah akan menikmati hartanya sampai bertahun-tahun lamanya, kemudian Allah mengatakan ini kepadanya. Dengan cara ini pula Belsyazar dihantam ketakutan ketika melihat jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana saat dia sedang menikmati kesenangannya.

            Amatilah apa yang dikatakan Allah:

                [1] Sifat yang digambarkan-Nya mengenai orang ini: Engkau orang bodoh, engkau Nabal, merujuk pada cerita Nabal, si orang bodoh (Nabal namanya, dan bebal orangnya) yang jantungnya terhenti dalam dada, lalu ia membatu, setelah berpesta bak raja dengan menyantap hewan bantaian yang dibantainya bagi orang-orang penggunting dombanya. Perhatikanlah, orang-orang duniawi adalah orang-orang bodoh, pada suatu saat nanti Allah akan memanggil nama mereka dengan, engkau orang bodoh, dan mereka sendiri akan menyebut diri mereka demikian.
                [2] Hukuman dijatuhkan ke atas orang ini, yaitu hukuman mati: "Pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu." Mereka akan meminta atau menuntut jiwamu (begitulah terjemahan harfiahnya), dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Orang ini berpikir bahwa dia mempunyai harta yang akan menjadi miliknya untuk bertahun-tahun lamanya, namun demikian, dia harus berpisah dari semuanya itu pada malam ini. Dia berpikir bahwa dia akan menikmatinya sendiri, tetapi sekarang dia harus meninggalkannya kepada orang lain, entah siapa. Perhatikanlah, kematian orang duniawi itu sungguh sangat menyedihkan dan mengerikan.
                    Pertama, kematiannya itu seperti sebuah tindakan pemaksaan, penahanan. Kematiannya itu adalah suatu tindakan pengambilan jiwa, jiwa yang sedang engkau permainkan sedemikian rupa. Apa pedulimu dengan jiwa? Toh, engkau tidak dapat menggunakannya dengan baik? Jiwamu akan diambil. Ini menunjukkan bahwa orang itu sebenarnya tidak ingin berpisah dengan jiwanya. Orang yang baik yang menjauhkan hatinya dari dunia ini akan dengan senang hati memberikan jiwanya pada waktu ia mati, dan menyerahkannya, tetapi jiwa orang duniawi akan dicabut dengan paksa. Baginya, meninggalkan dunia ini adalah sesuatu yang menakutkan. Mereka akan mengambil jiwamu. Allah akan mengambilnya, Dia akan meminta pertanggungjawaban terhadap jiwa itu. "Hai laki-laki dan perempuan, apa yang telah kalian perbuat dengan jiwa kalian. Berilah pertanggungjawaban bagaimana kalian telah menjaganya." Ya, mereka sungguh akan mengambil jiwamu; mereka di sini adalah malaikat-malaikat jahat yang bertindak sebagai pembawa pesan keadilan Allah. Seperti halnya malaikat-malaikat Allah akan menerima jiwa-jiwa yang baik, dan akan membawa mereka ke tempat yang penuh sukacita, begitu pula malaikat-malaikat jahat akan menerima jiwa-jiwa yang jahat, dan akan membawa mereka ke tempat penyiksaan. Mereka akan mengambil jiwa itu sebagai jiwa yang bersalah yang akan menerima hukuman. Iblis mengambil jiwamu sebagai miliknya, karena jiwamu memang menyerahkan dirinya kepada Iblis.
                    Kedua, kematiannya itu seperti sebuah pemaksaan yang mengejutkan dan tidak terduga. Terjadinya pada waktu malam, dan ancaman pada malam hari sangatlah menakutkan. Waktu kematian bagi orang baik bagaikan hari yang terang; kematiannya itu ibarat pagi atau suatu permulaan hari yang baru baginya. Sebaliknya, waktu kematian bagi orang duniawi adalah malam, malam yang gelap gulita; dia berbaring di tempat siksaan. Waktunya adalah malam ini, malam sekarang ini juga, tanpa ditunda-tunda. Tidak ada uang jaminan sebesar apa pun yang dapat membebaskannya, dan ia pun tidak bisa memohon agar waktunya diundur sehari lagi. Pada malam yang menyenangkan ini, ketika kamu menyangka bahwa kamu akan hidup bertahun-tahun lamanya, kamu harus mati, dan pergi menghadap pengadilan. Kamu menghibur dirimu dengan khayalan untuk menikmati hari-hari dan malam-malam gembira, dengan pesta pora. Namun di tengah-tengah semuanya itu, sekarang berakhirlah sudah segalanya itu (Yes. 21:4).
                    Ketiga, kematian orang duniawi itu berarti meninggalkan segalanya yang telah mereka sediakan, yang sudah mereka dapatkan dengan susah payah, dan yang mereka persiapkan untuk masa depan dengan penuh kerja keras. Segala sesuatu yang menjadi sandaran kebahagiaan mereka, labuhan harapan mereka, dan sumber pengharapan mereka, harus mereka tinggalkan. Kemuliaan mereka tidak akan turun mengikuti mereka (Mzm. 49:18, KJV), sebaliknya, mereka akan pergi dengan telanjang dari dunia ini seperti ketika mereka memasukinya, dan mereka tidak akan merasakan manfaat apa pun dari apa yang sudah mereka kumpulkan, baik itu dalam kematian, dalam penghakiman, maupun dalam kehidupan kekal.
                    Keempat, kematian orang duniawi itu seperti meninggalkan segala harta kekayaan mereka kepada orang yang tidak mereka ketahui: "Dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Bukan untukmu tentu saja, dan kamu tidak tahu akibat apa yang akan didatangkan harta itu ke atas ahli-ahli warismu, yakni anak-anak dan saudara-saudaramu, apakah mereka akan berhikmat atau bodoh dengan harta itu (Pkh. 2:18-19), apakah harta itu akan memberikan kenangan yang baik atau buruk tentang dirimu, akan menjadi berkat atau kutuk bagi keluargamu, akan membawa kebajikan atau kejahatan bagi mereka yang mewarisinya, akan disimpan atau dihabiskan. Bahkan kamu tidak akan tahu kalau orang yang mewarisinya mungkin tidak bisa menikmatinya, dan warisan itu mungkin akan jatuh ke tangan orang lain yang sama sekali tidak terpikirkan olehmu. Sekalipun kamu tahu kepada siapa kamu meninggalkannya, kamu tidak tahu kepada siapa mereka akan meninggalkannya, atau ke tangan siapa warisan itu akan jatuh pada akhirnya." Seandainya banyak orang yang dapat mengetahui sebelumnya siapa yang akan mewarisi rumah mereka nanti setelah mereka mati, mereka pasti akan lebih suka membakar rumah mereka daripada repot-repot memperindahnya!
                    Kelima, kematian orang duniawi itu menunjukkan kebodohannya. Orang-orang duniawi adalah orang bodoh sewaktu mereka hidup: inilah jalannya orang-orang yang percaya kepada dirinya sendiri (Mzm. 49:14). Namun kebodohan mereka itu akan sangat jelas terlihat pada waktu mereka mati: pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal (Yer. 17:11). Karena pada waktu itu akan terlihat bahwa ia berusaha keras mengumpulkan harta di dunia yang akan segera ia tinggalkan, tetapi tidak ambil peduli untuk mengumpulkan harta di dunia yang akan segera ia tuju.
                    Terakhir, inilah pelajaran yang dapat diambil dari perumpamaan ini (ay. 21): Demikianlah jadinya orang yang bodoh, bodoh dalam pandangan Allah, bodoh menurut kesaksian yang ditinggalkannya, jika ia mengumpulkan harta bagi dirinya, tetapi tidak kaya di hadapan Allah. Inilah jalan dan akhir dari orang seperti itu.

                    Amatilah di sini:

                        . Gambaran tentang orang duniawi: ia mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, bagi tubuhnya, bagi dunia, bagi dirinya dengan melawan Allah, untuk dirinya yang akan segera ditolak.
                            (1) Yang menjadi kesalahannya adalah dia menganggap bahwa tubuh jasmaninya adalah dirinya, seolah-olah tubuh itu adalah manusia itu sendiri. Jika diri dinyatakan dan dimengerti dengan benar, maka hanya orang Kristen sejatilah yang sungguh-sungguh mengumpulkan harta untuk dirinya, dan berlaku bijak bagi dirinya sendiri (Ams. 9:12, KJV).
                            (2) Yang menjadi kesalahannya adalah bahwa ia menjadikan usaha mengumpulkan harta untuk tubuh sebagai pekerjaan utamanya, yang baginya berarti mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri. Segala jerih payahnya adalah untuk mulutnya (Pkh. 6:7), ia membuat persediaan untuk tubuh.
                            (3) Yang menjadi kesalahannya adalah bahwa ia menganggap hal-hal yang dikumpulkan untuk dunia, untuk tubuh, dan untuk kehidupan sekarang adalah hartanya. Harta adalah kekayaan yang diandalkannya, yang dihabiskannya, dan yang kepadanya ia mencurahkan segala perasaannya.
                            (4) Kesalahan yang paling besar dari semuanya itu adalah bahwa ia sama sekali tidak berusaha untuk menjadi kaya akan Allah, kaya menurut pandangan Allah, karena jika Dia menilai kita kaya, maka kita kayalah kita (Why. 2:9), kaya dalam perkara-perkara Allah, kaya dalam iman (Yak. 2:5), kaya dalam kebajikan, dalam buah-buah kebenaran (1Tim. 6:18), kaya dalam anugerah, dalam penghiburan, dan dalam karunia-karunia rohani. Banyak orang yang hidupnya berkelimpahan di dunia ini sama sekali tidak mempunyai sesuatu yang dapat memperkaya jiwa mereka, yang dapat membuat mereka kaya di hadapan Allah, kaya untuk kehidupan kekal.
                        . Kebodohan dan kesengsaraan orang duniawi: Demikianlah jadinya ia. Tuhan kita Yesus Kristus, yang mengetahui akhir dari segala sesuatu, di sini memberi tahu kita bagaimana akhir dari orang itu. Perhatikanlah, sungguh suatu kebodohan yang tidak terperikan bagi sebagian besar orang yang hanya memikirkan dan mengejar kekayaan dunia ini lebih daripada kekayaan dunia nanti; yang memikirkan kekayaan yang hanya berguna untuk tubuh dan sementara saja sifatnya lebih daripada kekayaan untuk jiwa dan untuk kehidupan kekal.











NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 7 Agustus 2016 - Kejadian 15:1-6


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 24 Juli 2016 - Lukas 11:1-13


All Garis Besar:

Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96

Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/LISTGarisBesar.htm' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/hkbp.lagu-gereja.com/baca10.php on line 96
All Khotbah HKBP 2016
(12)
1 Timotius 6:6-19 (1)
2 Timotius 1:1-14 (1)
2 Timotius 2:8-15 (1)
Filipi 4:4-9 (1)
Ibrani 11:29--12:2 (1)
Kejadian 15:1-6 (1)
Kejadian 32:22-31 (1)
Lukas 10:1-11 (1)
Lukas 10:25-37 (1)
Lukas 11:1-13 (1)
Lukas 13:10-17 (1)
Lukas 14:1, 7-14 (1)
Lukas 14:25-33 (1)
Lukas 15:1-10 (1)
Lukas 16:1-13 (1)
Lukas 19:28-40 (1)
Lukas 2:22-40 (1)
Lukas 3:15-17 (1)
Lukas 3:15-22 (1)
Lukas 4:14-21 (2)
Lukas 4:21-30 (2)
Lukas 8:26-39 (1)
Lukas 9:28-36 (1)
Matius 27:57-66 (1)
Matius 6:1-21 (1)
Roma 15:4-13 (1)
Roma 1:1-7 (1)
Yesaya 1:10-18 (1)
Yesaya 35:1-10 (1)
Yohanes 12:1-11 (1)
Yohanes 12:1-8 (1)
Yohanes 12:20-36 (1)
Yohanes 13:21-32 (1)
Yohanes 20:1-18 (2)
Yohanes 2:1-11 (2)
Yohanes 3:13-17 (1)




NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 7 Agustus 2016 - Kejadian 15:1-6


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 24 Juli 2016 - Lukas 11:1-13

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de