BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 770 kali
Renungan HKBP 2026
Jamita HKBP Minggu, 11 Oktober 2026 - Dihalomohon Debata do holong ni roha (Allah menghendaki cinta kasih) - Hosea 6:1-6

1. Pendahuluan: Tuhan Tidak Hanya Melihat Apa yang Kita Bawa ke Gereja Horas!, 2. Sedikit Latar Belakang Kitab Hosea, 3. Mari Kita Kembali kepada Tuhan, 4. Tuhan Tidak Mencari Ibadah yang Hanya di Bibirm, 5. Cinta Kasih Dimulai dari Rumah,

Hosea 6:1-6
1”Mari, kita akan berbalik kepada Tuhan,
sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita,
yang telah memukul dan yang akan membalut kita.
2Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari,
pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita,
dan kita akan hidup di hadapan-Nya.
3Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan;
Ia pasti muncul seperti fajar,
Ia akan datang kepada kita seperti hujan,
seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.”
4Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim?
Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda?
Kasih setiamu seperti kabut pagi,
dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar.
5Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi,
Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku,
dan hukum-Ku keluar seperti terang.
6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan,
dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.

Baca Juga:

Penjelasan:

1. Pendahuluan: Tuhan Tidak Hanya Melihat Apa yang Kita Bawa ke Gereja
Horas!

Bapak/Ibu, Amang, Inang, dan seluruh jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Hari ini kita mendengar firman Tuhan dari Hosea 6:1-6 dengan tema:
“Allah menghendaki cinta kasih.”

Kalau kita mendengar kata “cinta kasih”, mungkin yang muncul dalam pikiran kita adalah kasih kepada pasangan, kasih kepada anak, kasih kepada orang tua, atau kasih kepada saudara.
Tetapi firman Tuhan hari ini berbicara lebih dalam.
Tuhan mengatakan bahwa ibadah kepada-Nya tidak cukup hanya dengan ritual.
Kita bisa datang ke gereja.
Kita bisa menyanyi.
Kita bisa berdoa.
Kita bisa memberikan persembahan.
Kita bisa mengikuti kegiatan gereja.
Tetapi Tuhan bertanya:
“Bagaimana hatimu terhadap sesamamu?”
Ini yang menjadi persoalan umat Israel pada zaman Hosea.
Mereka tetap menjalankan kehidupan keagamaan. Tetapi hati mereka jauh dari Tuhan.

2. Sedikit Latar Belakang Kitab Hosea
Nabi Hosea hidup pada masa ketika bangsa Israel mengalami masalah besar dalam hubungan mereka dengan Allah.
Mereka masih mengaku sebagai umat Tuhan.
Mereka masih melakukan ibadah.
Tetapi kehidupan sehari-hari mereka tidak menunjukkan kasih dan kesetiaan kepada Allah.
Mereka mudah meninggalkan Tuhan.
Mereka mencari pertolongan kepada bangsa lain.
Mereka melakukan ketidakadilan.
Mereka mengejar kepentingan sendiri.
Dengan kata lain:
Mulut mengatakan “Tuhan”, tetapi kehidupan mengatakan “saya”.
Nah, ini yang berbahaya.
Karena seseorang bisa kelihatan sangat rohani di gereja, tetapi belum tentu membawa kasih Tuhan ke rumah.
Ada orang yang kalau di gereja:
“Puji Tuhan! Haleluya!”
Tetapi sampai di rumah:
“Kenapa kopi belum dibuat?”
Istrinya menjawab:
“Sabar dulu, Amang. Tadi di gereja Amang bilang harus mengasihi sesama.”
Amang menjawab:
“Itu tadi di gereja, Inang. Sekarang sudah sampai rumah!”
Jemaat tertawa.
Tetapi sebenarnya itu bukan hanya lelucon.
Itu pertanyaan serius:
Apakah kasih kita berhenti di pintu gereja?

3. “Mari Kita Kembali kepada Tuhan”
Hosea 6:1 berkata:
“Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN...”

Ini adalah ajakan untuk kembali kepada Tuhan.
Mengapa harus kembali?
Karena manusia sering berjalan terlalu jauh.
Bukan selalu jauh secara tempat.
Tetapi jauh secara hati.
Kita bisa duduk di gereja tetapi hati kita jauh dari Tuhan.
Kita bisa rajin berdoa tetapi masih menyimpan kebencian.
Kita bisa rajin memberikan persembahan tetapi sulit mengampuni.
Kita bisa rajin melayani tetapi masih suka merendahkan orang lain.
Karena itu pertobatan bukan hanya:
“Tuhan, ampuni saya.”
Tetapi juga:
“Tuhan, ubahlah hati saya.”

4. Tuhan Tidak Mencari Ibadah yang Hanya di Bibir
Inilah inti Hosea 6:6.
“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan...”

Tuhan tidak mengatakan bahwa korban atau ibadah itu tidak penting.
Yang Tuhan kritik adalah ibadah tanpa hati.
Artinya:
Jangan hanya memberikan sesuatu kepada Tuhan, tetapi tidak memberikan hati kita kepada Tuhan.
Jangan hanya menyanyi tentang kasih, tetapi tidak mau mengasihi.
Jangan hanya berdoa meminta pengampunan, tetapi tidak mau mengampuni.
Jangan hanya meminta Tuhan memberkati keluarga, tetapi kita sendiri menjadi sumber pertengkaran dalam keluarga.
Ini penting sekali.
Sebab ibadah yang benar harus menghasilkan perubahan hidup.

5. Cinta Kasih Dimulai dari Rumah
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Kadang-kadang kita lebih mudah mengasihi orang yang jauh daripada orang yang paling dekat.
Kita bisa ramah kepada orang lain.
Ketemu teman:
“Horas, apa kabar? Sehat? Senang bertemu denganmu!”
Tetapi sampai di rumah:
“Kenapa rumah berantakan?”
Anak sendiri dipanggil:
“Hei! Cepat!”
Tetapi kepada orang lain:
“Silakan, Bapak. Dengan senang hati.”
Nah, firman Tuhan hari ini mengingatkan:
Kasih tidak boleh hanya dipertontonkan di depan orang lain.
Kasih harus dimulai dari rumah.
Suami mengasihi istri.
Istri mengasihi suami.
Orang tua mengasihi anak.
Anak menghormati orang tua.
Kakak mengasihi adik.
Adik menghormati kakak.
Dan kalau ada masalah:
belajar mengampuni.

6. Cinta Kasih Bukan Berarti Tidak Pernah Marah
Ini juga penting.
Mengasihi bukan berarti kita tidak pernah marah.
Kita manusia.
Kadang suami marah.
Istri marah.
Anak marah.
Bahkan pendeta juga manusia. Jangan dites kesabarannya setiap hari!
Yang penting bukan apakah kita pernah marah.
Yang penting:
Apa yang kita lakukan setelah marah?
Apakah kita mau berdamai?
Apakah kita mau meminta maaf?
Apakah kita mau mengampuni?
Jangan sampai masalah kecil menjadi besar karena masing-masing berkata:
“Saya tidak mau duluan minta maaf.”
Akhirnya dua-duanya diam.
Besok diam.
Lusa diam.
Seminggu diam.
Sebulan diam.
Lalu anak bertanya:
“Amang, kenapa Amang dan Inang tidak bicara?”
Jawabnya:
“Kami sedang menjaga perdamaian.”
Padahal sebenarnya sedang perang dingin!
Jemaat tertawa.
Tetapi Tuhan mau kita belajar mengatakan:
“Maaf.”
Dua kata yang sederhana, tetapi kadang paling sulit diucapkan.

7. Tuhan Menghendaki “Kasih Setia”
Dalam Hosea 6:6, Tuhan menggunakan kata kasih setia.
Artinya kasih yang bukan hanya muncul ketika keadaan menyenangkan.
Kasih yang benar adalah kasih yang setia.
Mudah mengasihi ketika pasangan sedang baik.
Mudah mengasihi anak ketika anak menurut.
Mudah mengasihi teman ketika teman membantu kita.
Tetapi bagaimana ketika orang itu mengecewakan kita?
Bagaimana ketika kita disakiti?
Bagaimana ketika kita tidak dihargai?
Di situlah kasih diuji.
Yesus sendiri mengajarkan:
“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Itulah kasih yang jauh lebih tinggi daripada sekadar perasaan.

8. Kasih Bukan Hanya Perasaan, Tetapi Tindakan
Kadang kita berkata:
“Saya mengasihi keluarga saya.”
Bagus.
Tetapi kasih harus terlihat dalam tindakan.
Kalau suami mengatakan:
“Saya sangat mencintai Inang.”
Tetapi ketika Inang sakit tidak mau membantu...
Kasih itu perlu diperiksa!
Kalau orang tua mengatakan:
“Saya sangat mencintai anak saya.”
Tetapi tidak pernah mau mendengar anak berbicara...
Anak mungkin berkata:
“Amang, saya tidak butuh ceramah. Saya cuma mau didengar.”
Kasih berarti mau hadir.
Mau mendengar.
Mau membantu.
Mau mengampuni.
Mau berkorban.
Mau memahami.

9. Jangan Hanya Rajin ke Gereja, Tetapi Rajin Mengasihi
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Datang ke gereja itu penting.
Beribadah itu penting.
Memberikan persembahan itu penting.
Melayani gereja itu penting.
Tetapi semuanya harus lahir dari hati yang mengasihi Tuhan.
Jangan sampai kita rajin mengikuti kegiatan gereja tetapi hubungan dengan sesama rusak.
Jangan sampai kita aktif dalam pelayanan tetapi di rumah tidak ada damai.
Jangan sampai kita hafal banyak ayat Alkitab tetapi sulit mengampuni satu orang.
Karena Tuhan tidak hanya melihat:
berapa kali kita datang ke gereja.
Tuhan melihat:
berapa besar kasih yang kita bawa setelah keluar dari gereja.

10. Kasih di Tengah Jemaat
Gereja juga membutuhkan kasih.
Di dalam gereja bisa terjadi perbedaan.
Ada perbedaan pendapat.
Ada perbedaan pilihan.
Ada perbedaan cara berpikir.
Ada perbedaan generasi.
Ada yang mengatakan:
“Cara saya yang paling benar!”
Yang lain menjawab:
“Tidak! Cara saya yang paling benar!”
Kalau semuanya merasa paling benar, akhirnya gereja bukan tempat berkumpulnya orang yang saling mengasihi, tetapi tempat berkumpulnya orang yang saling mempertahankan ego.
Karena itu kita harus belajar.
Tidak semua perbedaan harus menjadi pertengkaran.
Tidak semua perbedaan pendapat harus menjadi permusuhan.
Kita boleh berbeda pendapat tetapi tetap bersaudara.
Kita boleh berbeda cara berpikir tetapi tetap saling menghormati.
Sebab yang mempersatukan kita bukan pendapat manusia.
Yang mempersatukan kita adalah Kristus.

11. Kasih Juga Harus Terlihat kepada Orang yang Membutuhkan
Cinta kasih bukan hanya perkataan.
Di sekitar kita ada orang yang kesepian.
Ada orang tua yang membutuhkan perhatian.
Ada orang sakit.
Ada keluarga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Ada anak yang membutuhkan dukungan.
Ada jemaat yang mungkin tersenyum di gereja tetapi sebenarnya sedang menangis di dalam hati.
Kadang yang mereka perlukan bukan uang.
Bukan nasihat panjang.
Tetapi seseorang yang datang dan berkata:
“Bagaimana keadaanmu? Saya ada di sini.”
Itu bisa menjadi berkat besar.

12. Jangan Menjadi Seperti Embun Pagi
Hosea 6:4 menyebutkan sesuatu yang sangat menarik:
“Kasih setiamu seperti kabut pagi, seperti embun yang cepat hilang.”

Ini gambaran manusia yang mudah berjanji tetapi sulit bertahan.
Hari ini:
“Tuhan, saya akan berubah!”
Besok kembali lagi.
Hari Minggu:
“Saya mau mengampuni.”
Senin:
“Saya ingat lagi kesalahannya!”
Hari ini:
“Saya mau rajin berdoa.”
Besok:
“Aduh, ketiduran.”
Lusa:
“Besok saja mulai.”
Akhirnya “besok” menjadi anggota keluarga kita!
Jemaat tertawa.
Tetapi firman Tuhan mengajak kita memiliki kasih yang tidak seperti embun.
Kasih Tuhan adalah kasih yang setia.
Dan orang percaya dipanggil untuk meneladani kasih itu.

13. Apa yang Tuhan Inginkan dari Kita?
Kalau kita sederhanakan Hosea 6:1-6, Tuhan sedang berkata:
“Jangan hanya kelihatan beragama. Milikilah hati yang mengenal Aku dan hidup dalam kasih.”
Ada tiga hal yang bisa kita bawa pulang hari ini.
Pertama: Kembalilah kepada Tuhan.
Kalau selama ini kita jauh dari Tuhan, mari kembali.
Kalau doa kita mulai berkurang, mari kembali berdoa.
Kalau membaca firman mulai ditinggalkan, mari kembali.
Kalau hati kita mulai dingin, mari minta Tuhan menghangatkannya kembali.
Kedua: Berdamailah dengan sesama.
Kalau ada orang yang kita benci, mari belajar mengampuni.
Kalau ada keluarga yang sudah lama tidak kita hubungi, mungkin hari ini adalah waktunya menelepon.
Kadang satu telepon sederhana:
“Horas, bagaimana kabarmu?”
bisa membuka pintu perdamaian.
Jangan tunggu orang lain meninggal baru kita mengatakan:
“Sebenarnya saya sayang dia.”
Katakan kasih itu selagi masih ada kesempatan.
Ketiga: Jadikan kasih sebagai gaya hidup.
Jangan hanya mengasihi ketika kita sedang senang.
Jangan hanya mengasihi orang yang mengasihi kita.
Tetapi belajar mengasihi karena Kristus telah lebih dahulu mengasihi kita.

14. Penutup: Tuhan Melihat Hati
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Manusia sering melihat penampilan.
Tuhan melihat hati.
Manusia melihat apa yang kita lakukan di depan umum.
Tuhan melihat apa yang kita lakukan ketika tidak ada orang yang melihat.
Manusia melihat berapa banyak pelayanan kita.
Tuhan melihat apakah pelayanan itu dilakukan dengan kasih.
Manusia melihat persembahan kita.
Tuhan melihat hati yang memberikan persembahan itu.
Karena itu pertanyaan Tuhan kepada kita hari ini bukan:
“Berapa banyak yang sudah kamu lakukan untuk Aku?”
Tetapi:
“Apakah engkau sungguh-sungguh mengasihi Aku dan sesamamu?”
Hosea 6:6 mengingatkan:
“Aku menyukai kasih setia... dan menyukai pengenalan akan Allah.”

Jadi, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Mari kita pulang dari gereja hari ini bukan hanya membawa berkat.
Mari kita menjadi berkat.
Mari kita pulang dengan hati yang lebih lembut.
Suami pulang dengan kasih.
Istri pulang dengan kasih.
Anak-anak pulang dengan kasih.
Orang tua pulang dengan kasih.
Jemaat pulang dengan kasih.
Dan kalau hari ini ada yang masih bermusuhan, mari mulai berdamai.
Kalau ada yang masih menyimpan sakit hati, mari mulai mengampuni.
Kalau ada yang merasa tidak dikasihi, mari kita menjadi orang yang menghadirkan kasih.
Sebab dunia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang kasih.
Dunia membutuhkan orang yang mau mempraktikkan kasih.
Kiranya melalui hidup kita, orang lain dapat berkata:
“Saya merasakan kasih Tuhan melalui orang ini.”
Itulah ibadah yang berkenan kepada Tuhan.
Bukan hanya mulut yang berkata “Tuhan, Tuhan”, tetapi kehidupan yang menunjukkan kasih Tuhan.

DOA PENUTUP
Ya Tuhan Allah Bapa kami yang penuh kasih.
Kami bersyukur karena hari ini Engkau mengingatkan kami melalui firman-Mu bahwa Engkau menghendaki kasih setia dan pengenalan akan Engkau.
Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih mementingkan penampilan keagamaan daripada perubahan hati.
Ampunilah kami kalau kami rajin beribadah tetapi masih sulit mengasihi.
Ampunilah kami kalau kami mudah menghakimi tetapi sulit mengampuni.
Tuhan, lembutkan hati kami.
Ajarlah kami mengasihi pasangan kami, anak-anak kami, orang tua kami, saudara-saudara kami, teman-teman kami, bahkan mereka yang pernah menyakiti kami.
Berikanlah kasih yang tidak seperti embun pagi yang cepat hilang, tetapi kasih yang setia dan bertahan dalam segala keadaan.
Berikan juga kedamaian bagi setiap keluarga jemaat-Mu.
Yang sedang sakit, Tuhan sembuhkan.
Yang sedang mengalami kesulitan, Tuhan kuatkan.
Yang sedang mengalami masalah keluarga, Tuhan berikan jalan keluar.
Yang sedang kehilangan pengharapan, Tuhan berikan kekuatan baru.
Dan biarlah setelah kami meninggalkan gereja ini, kasih-Mu tidak berhenti di dalam gedung gereja, tetapi kami bawa ke rumah, ke tempat kerja, ke lingkungan masyarakat dan ke mana pun kami pergi.
Jadikanlah kami alat kasih-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa.
Amin.














NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 18 Oktober 2026 - DEBATA DO MANJOU JALA MAMILLIT HAMU (DIPANGGIL DAN DIPILIH ALLAH) - 2 Petrus 1:3-10


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 4 Oktober 2026 - PASANGAP MA DEBATA MARHITE-HITE NGOLUM (Muliakanlah Allah melalui hidupmu) - Titus 2:1-10

All Renungan HKBP 2026
(45)




NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 18 Oktober 2026 - DEBATA DO MANJOU JALA MAMILLIT HAMU (DIPANGGIL DAN DIPILIH ALLAH) - 2 Petrus 1:3-10


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 4 Oktober 2026 - PASANGAP MA DEBATA MARHITE-HITE NGOLUM (Muliakanlah Allah melalui hidupmu) - Titus 2:1-10

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de