f Khotbah HKBP Minggu, 26 Juni 2016 - Lukas 9:51-62 - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
Jamita HKBP Minggu, 21 Juni 2026 - Pemeliharaan Allah Yang Universal - Kejadian 21:8-21
# I. Latar Belakang Teks, II. Allah Memelihara Orang yang Tidak Diperhitungkan Manusia, III. Allah Bekerja Melampaui Batas Suku, Bangsa, dan Status, IV. Allah Menolong Pada Saat yang Tepat, V. Allah Memiliki Masa Depan bagi Setiap Orang,
View : 10776 kali

Download MP3 Music
Minggu, 26 Juni 2016
Proper 8 (13)
2 Kings 2:1-2, 6-14 and Psalm 77:1-2, 11-20
1 Kings 19:15-16, 19-21 and Psalm 16
Galatians 5:1, 13-25
Lukas 9:51-62
Yesus dan orang Samaria
9:51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 9:52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 9:53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. 9:54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" 9:55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. 9:56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.
Hal mengikut Yesus
9:57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." 9:58 Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." 9:59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." 9:60 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." 9:61 Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." 9:62 Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."

Penjelasan:
* Orang Samaria Menolak Kristus; Semangat Yakobus dan Yohanes yang Salah (9:51-56)

    Kisah ini tidak kita dapati dalam ketiga Injil yang lain, dan sepertinya kisah ini dimuat di sini karena pertaliannya dengan kejadian sebelumnya, karena dalam kejadian ini Kristus juga menegur murid-murid-Nya karena iri hati demi kepentingan-Nya. Dalam kejadian sebelumnya, dengan dalih semangat bagi Kristus, mereka lalu berusaha membungkam dan mencegah orang-orang di luar lingkungan mereka. Dalam kejadian ini, dengan dalih yang sama, mereka berusaha membinasakan orang-orang bukan-Yahudi itu. Baik untuk kejadian sebelumnya maupun yang sekarang ini, Kristus menegur mereka, sebab sikap keras dalam mempertahankan pendirian dan penganiayaan sama sekali bertolak belakang dengan sikap Kristus dan Kekristenan.
    Perhatikanlah di sini:

    I. Kesediaan dan ketetapan hati Yesus Tuhan kita dalam melaksanakan tugas berat bagi penebusan dan keselamatan kita. Mengenai hal ini kita dapati sebuah contoh: Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem (ay. 51).

    Perhatikanlah:

        . Sudah ditentukan waktunya bagi penderitaan dan kematian Yesus Tuhan kita, dan Ia tahu betul kapan itu akan terjadi. Ia sudah melihatnya dengan jelas dan pasti, namun Ia sama sekali tidak berusaha menghindar, sebaliknya Ia malah tampil dengan lebih terang-terangan di depan khalayak ramai dan bekerja semakin giat lagi, karena tahu bahwa waktu-Nya sangat singkat.
        . Ketika tahu bahwa kematian dan penderitaan-Nya sudah semakin dekat, Ia mengarahkan pandangan menembus kematian dan penderitaan-Nya itu dan untuk melihat apa yang ada jauh ke depan, yaitu kemuliaan yang akan mengikuti setelah itu. Ia memandangnya sebagai saat ketika Ia akan diangkat dalam kemuliaan (1Tim. 3:16), diangkat ke langit tertinggi untuk duduk di atas takhta. Musa dan Elia berbicara tentang kematian-Nya sebagai saat untuk meninggalkan dunia ini, supaya kematian itu tidak terasa menakutkan. Akan tetapi, Ia melangkah lebih jauh lagi, dan memandang kematian itu sebagai perubahan menuju dunia yang lebih baik, sehingga menjadikan kematian itu sebagai sesuatu yang sangat dirindukan. Semua orang Kristen yang sejati boleh menerapkan pikiran yang sama tentang kematian dan menyebutnya sebagai pengalaman diangkat, untuk berada bersama Kristus di tempat Ia berada, supaya bila saat bagi mereka untuk diangkat sudah tiba, biarlah mereka menengadahkan kepala dan yakin bahwa penyelamatan mereka sudah dekat.
        . Dengan melihat sukacita yang disediakan bagi-Nya inilah, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, tempat di mana Ia akan menderita dan mati. Ia benar-benar bertekad untuk pergi dan tidak mau dibujuk untuk tidak melakukannya. Ia langsung pergi ke Yerusalem, sebab sekarang di situlah tugas-Nya menanti. Ia juga tidak pergi ke kota-kota lain atau mengambil jalan pintas, sebab seandainya Ia melakukan hal itu seperti yang biasa dilakukan-Nya, Ia mungkin saja akan menghindari Samaria. Dengan penuh semangat dan ceria Ia pergi ke sana, meskipun mengetahui hal-hal yang akan menimpa-Nya di situ. Ia tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, tetapi meneguhkan hatinya seperti keteguhan gunung batu karena tahu bahwa Ia bukan saja akan dibenarkan, tetapi juga dimuliakan (Yes. 50:7). Ia bukannya direndahkan, tetapi malah diangkat. Betapa hal ini sudah sepantasnya membuat kita malu dengan keengganan kita bekerja dan menderita bagi Kristus! Kita telah menarik diri dan membuang muka dari pelayanan-Nya, padahal Ia telah dengan tabah mengarahkan pandangan menghadapi semua perlawanan, dan menyelesaikan tugas demi keselamatan kita.
    II. Kekasaran orang Samaria di suatu desa (yang tidak disebut namanya karena memang tidak layak disebut), yang tidak mau menerima Dia, atau membiarkan-Nya singgah untuk makan dan beristirahat di kota mereka, walaupun perjalanan-Nya melewati desa itu.

    Perhatikanlah di sini:

        . Betapa sopannya Dia terhadap mereka: Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia, yakni beberapa dari antara murid-murid-Nya yang pergi untuk mencari penginapan dan mencari tahu apakah Ia diperbolehkan mendapatkan tempat menginap bagi diri-Nya dan para pengikut-Nya di antara penduduk situ, sebab Ia datang bukan untuk menyakiti hati atau menyinggung perasaan mereka karena jumlah para pengikut-Nya itu. Ia mengutus beberapa orang untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya, bukan untuk gagah-gagahan, melainkan demi kemudahan, dan supaya kedatangan-Nya tidak mengejutkan.
        . Betapa tidak sopannya sikap mereka terhadap-Nya (ay. 53). Mereka tidak menerima Dia, dan tidak mau membiarkan-Nya datang ke desa mereka, dan malah memerintahkan penjaga untuk mengusir-Nya. Padahal, sebenarnya Ia bisa saja membayar untuk segala sesuatu yang diminta-Nya, dan menjadi tamu yang murah hati di antara mereka, berbuat baik kepada mereka, serta memberitakan Injil kepada mereka seperti yang dilakukan-Nya beberapa waktu sebelumnya di kota Samaria yang lain (Yoh. 4:41). Seandainya mereka berkenan, Ia akan menjadi berkat terbesar yang pernah datang ke desa mereka, namun mereka melarang Dia masuk. Perlakuan seperti ini sering dihadapi oleh Injil dan para pemberitanya. Nah, alasan penolakan mereka adalah karena perjalanan-Nya menuju ke Yerusalem. Melalui gerak-gerik-Nya, mereka mengamati bahwa Ia sedang berjalan ke arah sana. Pertentangan hebat di antara orang Yahudi dan Samaria berkisar soal tempat ibadah -- apakah tempat itu adalah Yerusalem atau gunung Gerizim di dekat Sikhar (Yoh. 4:20). Pertentangan di antara mereka itu begitu hebatnya sehingga orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria, begitu pula sebaliknya (Yoh. 4:9). Namun, kita dapat menduga bahwa mereka tidak menolak orang-orang Yahudi lain yang hendak menginap di antara mereka, terutama ketika mereka sedang menuju Yerusalem untuk hari perayaan, sebab seandainya sejak dahulu mereka selalu menolak, Kristus tentunya tidak akan mencoba mencari penginapan di situ. Lagi pula, orang Galilea terpaksa harus mengambil jalan putar yang jauh bila hendak menuju ke Yerusalem jika tidak melalui Samaria. Namun, orang Samaria sangat marah kepada Kristus, seorang guru terkenal, karena mengakui dan setia kepada Bait Allah di Yerusalem, padahal para imam di tempat itu begitu bermusuhan dengan-Nya, dan orang Samaria berharap hal ini akan membuat-Nya datang serta beribadah di Bait Allah milik mereka dan mendatangkan nama baik bagi tempat itu. Namun, ketika melihat bahwa Ia hendak menuju Yerusalem, mereka pun tidak mau menunjukkan sopan santun yang mungkin pernah mereka berikan kepada-Nya saat melewati daerah mereka.
    III. Kemarahan Yakobus dan Yohanes terhadap penghinaan ini (ay. 54). Ketika keduanya mendengar berita penolakan ini, hati mereka langsung terbakar dan tidak ada yang dapat memuaskan mereka selain mengirim kebinasaan kota Sodom ke atas desa ini. "Tuhan," kata mereka, "beri kami izin untuk memerintahkan api turun dari langit, bukan sekadar untuk menakut-nakuti mereka, tetapi juga untuk membakar habis mereka."
        . Di sini memang tampak sesuatu yang patut dipuji, karena menunjukkan:
            (1) Keyakinan kuat terhadap kuasa yang telah mereka terima dari Yesus Kristus. Meskipun hal ini belum disebutkan dalam tugas perutusan mereka, dengan satu perkataan saja mereka dapat menyuruh api turun dari langit. Theleis eipōmen -- Maukah Engkau supaya kami ucapkan perkataan itu, maka hal itu akan terjadi.
            (2) Semangat yang meluap-luap demi kehormatan Guru mereka. Mereka menganggap sungguh tidak pantas bila Dia yang berbuat baik di mana pun Ia datang, mendapati bahwa bukannya sambutan hangat yang mereka terima, melainkan larangan untuk melintas oleh sekelompok orang Samaria yang tidak berharga. Mereka tidak tahan dan marah bahwa Guru mereka disepelekan seperti itu.
            (3) Walaupun marah, mereka bersikap tunduk pada niat baik dan perkenan Guru mereka. Mereka tidak akan melakukan hal itu kecuali Kristus mengizinkannya: Maukah Engkau supaya kami melakukannya?
            (4) Rasa hormat terhadap teladan para nabi sebelum mereka. Itu tindakan yang sama seperti yang dilakukan Elia. Mereka tidak akan terpikirkan untuk melakukan hal itu seandainya Elia dahulu tidak melakukannya terhadap para serdadu yang datang untuk menangkapnya (2Raj. 1:10, 12). Peristiwa yang terjadi sebelumnya ini menjadi peringatan bagi mereka. Begitu mudahnya kita salah menerapkan teladan yang diberikan orang-orang bijak, dan menyangka bahwa kita telah berbuat benar, padahal kita melakukannya sekehendak hati kita dan tidak pada tempatnya.
        . Namun, meskipun apa yang mereka katakan itu ada benarnya, masih ada banyak kekeliruan di dalamnya:
            (1) Ini bukan pertama kalinya dalam sekian banyak kejadian, bahwa Yesus Tuhan kita dihina seperti itu. Lihat saja bagaimana orang-orang Nazaret mengusir-Nya keluar dari kota mereka, dan orang Gadara ingin agar Dia keluar dari daerah mereka. Namun, meskipun demikian, Ia tidak pernah menjatuhkan hukuman ke atas mereka, melainkan dengan sabar tetap bertahan dengan keadaan yang menyakitkan itu.
            (2) Ini adalah orang-orang Samaria, yang memang tidak bisa terlampau diharapkan, dan mungkin mereka telah mendengar bahwa Kristus telah melarang murid-murid-Nya masuk ke dalam kota orang Samaria (Mat. 10:5), sehingga perlakuan mereka ini tidak bisa dibilang lebih buruk daripada orang-orang lain yang tahu lebih banyak tentang Kristus dan telah menerima begitu banyak kebaikan dari-Nya.
            (3) Boleh jadi hanya beberapa orang saja dari desa itu yang tahu tentang kejadian itu atau yang mengirim pesan kasar itu kepada-Nya, sementara tanpa mengetahuinya sedikit pun, ada banyak penduduk desa itu yang seandainya mendengar bahwa Kristus berada sedekat itu dengan mereka, pasti akan pergi menjumpai dan menyambut Dia. Haruskah seluruh penduduk desa itu dibinasakan dan hangus karena kejahatan segelintir orang? Apakah murid-murid itu mau supaya orang-orang yang benar juga dibinasakan bersama yang jahat?
            (4) Guru mereka belum pernah menyuruh api turun dari langit dalam kesempatan mana pun. Tidak, Ia bahkan menolak memberikan suatu tanda dari sorga kepada orang-orang Farisi yang menuntut hal itu (Mat. 16:1-2), jadi mengapa kedua murid itu harus berpikir untuk melakukannya?

            Yakobus dan Yohanes adalah kedua murid yang diberi-Nya nama Boanerges -- anak-anak guruh (Mrk. 3:17), dan masih belum cukup sesuaikah nama itu bagi mereka sehingga mereka harus menjadi anak-anak kilat juga?

            (5) Contoh yang diberikan Elia tidak dapat diterapkan dalam hal ini. Elia diutus untuk menunjukkan kengerian hukum Taurat, dan untuk itu ia memberikan buktinya dan bersaksi mengenainya dalam tugasnya sebagai seorang penegur yang gagah berani terhadap penyembahan berhala dan kejahatan raja Ahab. Jadi cukup dapat diterima bila ia membuktikan jabatannya dengan cara itu. Namun, yang sekarang akan diperkenalkan adalah pemberian atau dispensasi anugerah, dan karena itu, pertunjukan keadilan ilahi yang mengerikan seperti itu sungguh merupakan hal yang sama sekali tidak dapat diterima. Menurut Uskup Agung Tillotson, mungkin karena sedang berada di dekat Samaria, tempat Elia pernah menurunkan api dari langit, mereka lalu menjadi teringat akan hal itu. Mungkin itulah tempatnya. Namun, meskipun tempatnya sama, masanya telah berubah.
    IV. Teguran yang diberikan-Nya kepada Yakobus dan Yohanes karena semangat mereka yang berapi-api penuh kemarahan (ay. 55): Ia berpaling dengan rasa tidak senang yang tulus, lalu menegor mereka, sebab barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar, terutama karena apa yang mereka perbuat, yang tidak baik dan tidak pantas bagi mereka, dengan dalih bersemangat demi Dia.
        . Ia terutama menunjukkan kesalahan mereka: Kalian tidak tahu roh mana yang menguasai kalian (KJV), artinya:
            (1) "Kalian tidak menyadari betapa roh jahat dan watak buruk menguasai kalian, betapa besar kesombongan, nafsu, dan dendam pribadi yang tersembunyi di balik semangat palsu yang kalian tunjukkan bagi Guru kalian." Perhatikanlah, mungkin saja terdapat sejumlah besar kebusukan yang mengintai dan bahkan bergolak di hati orang baik-baik, yang tidak mereka sadari.
            (2) "Kalian tidak memikirkan semangat baik yang seharusnya ada pada kalian, yang bertentangan dengan semangat ini. Kalian masih harus belajar banyak, meskipun kalian sudah belajar begitu lama, tentang bagaimana sebenarnya semangat Kristus dan Kekristenan itu. Bukankah kalian telah diajar, kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, dan memohonkan anugerah dari langit, bukannya api ke atas mereka? Kalian tidak tahu betapa bertolak belakangnya sikap kalian ini dengan tujuan Injil yang akan diserahkan untuk menjadi tanggung jawab kalian. Sekarang ini kalian bukan berada di bawah pengaturan belenggu, kekejaman, dan maut, melainkan di bawah pengaturan kasih, kemerdekaan, dan anugerah yang ditawarkan bersama pemberitaan tentang damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Kepada hal-hal inilah kalian harus menyesuaikan diri, dan bukannya menentang diri sendiri dengan berbagai kutukan seperti itu."
        . Ia menunjukkan kepada mereka rencana umum dan kecenderungan ajaran-Nya (ay. 56): Anak Manusia itu tidak datang sendiri dan oleh karena itu tidak mengutus kalian untuk membinasakan nyawa orang, melainkan untuk menyelamatkannya (KJV). Ia berencana menyebarkan ajaran-Nya yang kudus itu melalui kasih dan kelembutan, serta melalui apa saja yang mengundang dan disukai, bukan melalui api, pedang, darah, dan pembantaian; melalui mujizat kesembuhan, dan bukannya melalui wabah penyakit dan mujizat yang menghancurkan seperti yang terjadi ketika Israel dibawa keluar dari Mesir. Kristus datang untuk melenyapkan semua perseteruan, bukan untuk memupuknya.

        Orang-orang yang mengutuk serta menumpas mereka yang tidak sepikir dan sejalan, sehati dan seperbuatan dengan mereka, sudahlah pasti tidak memiliki roh Injil. Kristus datang bukan saja untuk menyelamatkan jiwa manusia, melainkan untuk menyelamatkan nyawa mereka juga, seperti yang bisa kita saksikan dari banyak mujizat yang diadakan-Nya untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang sebenarnya mematikan. Melalui hal ini dan juga ribuan contoh perbuatan baik lainnya, tampaklah bahwa Kristus menghendaki agar murid-murid-Nya berbuat baik kepada semua orang dengan sekuat tenaga dan tidak menyakiti siapa pun. Kristus mau mereka menarik orang menjadi jemaat-Nya dengan tali kesetiaan dan ikatan kasih, dan bukannya dengan tongkat kekerasan atau cemeti lidah.

    V. Pengunduran diri-Nya dari desa ini. Bukan saja tidak mau menghukum mereka atas kekasaran mereka itu, Kristus bahkan tidak mau bersikeras mempertahankan hak-Nya untuk melintasi jalan itu (yang bebas digunakan oleh-Nya seperti oleh orang-orang lain). Ia tidak mau berusaha memaksa, tetapi dengan tenang dan penuh damai pergi ke desa yang lain, di mana penduduknya tidak begitu pelit dan berpendirian keras. Di sanalah Ia beristirahat lalu melanjutkan perjalanan. Perhatikanlah, jika arus pertentangan sangat kuat, lebih bijak untuk menghindar daripada menentangnya. Kalau ada yang bersikap sangat kasar, maka daripada membalas dendam, lebih baik kita coba dengan orang lain yang mungkin bersikap lebih sopan.

* Meninggalkan Semua demi Kristus (9:57-62)

    Di sini diceritakan kepada kita tentang tiga orang berbeda yang menawarkan diri untuk mengikut Kristus, serta jawaban yang diberikan Kristus kepada mereka masing-masing. Mengenai kedua orang yang pertama, sudah diceritakan dalam Matius 19:21.

    I. Di sini terdapat seseorang yang sangat bernafsu untuk segera mengikut Kristus. Namun, sepertinya ia bersikap terlampau terburu-buru, tanpa pertimbangan yang matang, dan tidak duduk terlebih dulu untuk menghitung harganya.
        . Ia mengucapkan janji yang sangat berat kepada Kristus (ay. 57): Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka menuju Yerusalem, di mana Kristus diharapkan pertama kalinya muncul dalam kemuliaan-Nya, seseorang berkata kepada-Nya, "Tuhan, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Ini memang sudah seharusnya menjadi ketetapan hati semua orang yang ingin disebut murid Kristus. Mereka mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi (Why. 14:4), sekalipun melalui api dan air, penjara ataupun kematian.
        . Kristus memberinya suatu peringatan yang penting, dan tidak menjanjikannya hal-hal besar di dalam dunia ini. Sebaliknya, dalam mengikut Dia, orang itu harus bersedia menanggung kemiskinan dan kekurangan, karena Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

        Kita boleh melihat hal ini:

            (1) Sebagai pernyataan tentang keadaan sangat berkekurangan yang dijalani Yesus Tuhan kita dalam dunia ini. Ia bukan saja tidak memiliki kesenangan dan hiasan yang biasanya dimiliki para raja, tetapi bahkan kebutuhan akan tempat tinggal yang dimiliki serigala dan burung-burung pun tidak ada pada-Nya. Lihatlah betapa dalamnya kemiskinan yang dijalani Yesus Tuhan kita demi kita. Ini dijalani-Nya untuk meningkatkan nilai dan harga pekerjaan-Nya, dan untuk membeli bagi kita tebusan anugerah yang lebih besar, supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2Kor. 8:9). Ia yang telah menciptakan segala sesuatu tidak membuat tempat tinggal bagi diri-Nya sendiri dan rumah pribadi untuk meletakkan kepala-Nya, tetapi menggunakan rumah orang lain. Di sini Ia menyebut diri-Nya Anak Manusia, seorang Anak Adam, yang mengambil bagian dalam darah dan daging. Ia merasa bangga dalam sikap merendahkan diri-Nya terhadap kita. Bukan saja terhadap rendahnya sifat kemanusiaan kita, tetapi juga terhadap keadaan rendah yang ada dalam sifat kita itu. Ini diperbuat-Nya untuk membuktikan kasih-Nya kepada kita, dan untuk mengajar kita agar membenci dunia ini beserta segala yang ada di dalamnya dengan maksud yang suci dan terus-menerus mengarahkan pandangan ke dunia yang lain. Kristus menjadi miskin seperti ini untuk menyucikan dan membuat kemiskinan terasa manis bagi umat-Nya. Para rasul pun tidak memiliki tempat tinggal yang tetap (1Kor. 4:11), dan keadaan ini lebih mudah ditanggung mereka saat mereka mengetahui bahwa Guru mereka pun tidak memilikinya (2Sam. 11:11). Sudah sepantasnya kita merasa puas menjalani keadaan seperti Kristus.
            (2) Untuk menawarkan hal ini sebagai pertimbangan bagi orang-orang yang bermaksud menjadi murid-murid-Nya. Jika kita bermaksud mengikut Kristus, kita harus mengesampingkan angan-angan tentang hal-hal besar dalam dunia, dan tidak berpikir untuk menjadikan apa pun lebih penting daripada sorga sebagai agama kita, karena kita harus bertekad untuk tidak menerima apa pun yang kurang penting. Janganlah kita ke sana kemari mencampuradukkan pengakuan Kekristenan dengan keuntungan-keuntungan duniawi. Kristus telah menceraikan kedua hal ini, jadi janganlah kita berpikir untuk mempersatukannya. Sebaliknya, kita harus bersiap memasuki Kerajaan Allah melalui banyak penderitaan. Kita harus menyangkal diri, dan memikul salib kita. Kristus menyampaikan kepada orang ini perihal apa saja yang harus dipertimbangkannya jika ingin mengikut Dia, yakni berbaring kedinginan dan merasa tidak nyaman, menjalani kehidupan yang keras, dan hidup direndahkan orang. Bila ia tidak sanggup menjalaninya, lebih baik ia tidak berpura-pura mengikut Kristus. Perkataan ini membuat orang itu mengundurkan diri karena kehampaan yang bakal dialaminya. Namun, hal ini tidak akan mengecilkan hati siapa pun yang tahu tentang apa saja yang akan disediakan nantinya di dalam Kristus dan sorga sebagai imbangan atas segalanya ini.
    II. Kemudian, ada seorang lain lagi, yang sepertinya bertekad mengikut Kristus, tetapi ia meminta izin sehari (ay. 59). Mula-mula Kristus memanggil orang ini. Kata-Nya, "Ikutlah Aku." Orang yang menawarkan diri untuk mengikut Dia itu akhirnya mengundurkan diri setelah mendengar tentang semua kesukaran yang akan ditemuinya. Namun, orang yang dipanggil oleh Kristus itu, meskipun pada mulanya agak ragu, pada akhirnya menyerah juga. Betapa benarnya perkataan Kristus, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu" (Yoh. 15:16). Hal itu bukan bergantung pada kehendak orang atau usaha orang (seperti yang tercetus dalam ayat-ayat sebelumnya), tetapi pada Allah yang menunjukkan kemurahan hati, yang memberikan panggilan itu, dan membuatnya berhasil, seperti yang terjadi pada diri orang ini.

    Perhatikanlah:

        . Alasan yang diajukannya: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku. Ayahku di rumah sudah lanjut usia dan tidak akan bertahan hidup lama serta membutuhkanku selama ia masih hidup. Biarkan aku mengurusnya sampai ia mati. Setelah melaksanakan tugas kasihku yang terakhir kepadanya, aku bersedia melakukan apa pun." Di sini kita bisa melihat tiga godaan berbahaya yang bisa menarik dan menahan kita untuk mengikut Kristus. Oleh sebab itu kita perlu berjaga-jaga terhadap godaan tersebut:
            (1) Kita tergoda untuk bersantai-santai sebagai murid yang biasa-biasa saja. Pada akhirnya ini akan membuat kita kehilangan tujuan dan bukannya menjadi semakin dekat. Kita dibuat menyerah sehingga tidak bersikap tegas dan tetap.
            (2) Kita tergoda untuk menangguhkan pekerjaan yang kita tahu adalah tugas kita dan menundanya untuk waktu lain. Kita merasa bahwa nantilah, setelah terlepas dari segala kesusahan dan kesukaran, setelah merampungkan suatu pekerjaan, setelah mencapai puncak kehidupan, barulah kita berpikir tentang hal-hal rohani. Dengan demikian kita telah tertipu sehingga kehilangan seluruh waktu kita, karena terbujuk untuk mengabaikan saat sekarang.
            (3) Kita tergoda untuk berpikir bahwa kewajiban kita terhadap sanak keluarga dapat membebaskan kita dari kewajiban kita terhadap Kristus. Ini memang alasan yang masuk akal: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku -- biarkan aku mengurus dahulu keluargaku dan memberi makan anak-anakku, dan setelah itu aku akan berpikir untuk melayani Kristus." Padahal Kerajaan Allah dan kebenarannya haruslah dicari dan diperhatikan terlebih dahulu.
        . Jawaban Kristus atas permintaannya (ay. 60): "Biarlah orang mati menguburkan orang mati. Anggaplah benar (sekalipun sangat tidak mungkin) bahwa hanya ada orang mati yang akan menguburkan sesamanya yang mati, atau hanya ada orang-orang lanjut usia yang sudah mendekati ajal saja, yang kondisinya sama saja dengan orang mati, dan sudah tidak mampu lagi untuk melakukan apa-apa. Sekalipun benar demikian adanya, engkau tetap saja masih mempunyai tugas lain untuk dilakukan. Pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Ini bukan berarti bahwa Kristus ingin agar para pengikut atau pelayan-Nya bersikap tidak wajar. Agama kita mengajar agar kita bersikap manis dan berbuat baik dalam setiap hubungan, untuk menunjukkan kesalehan di rumah, dan membalas budi kepada orangtua kita. Namun, janganlah kita menjadikan tugas-tugas ini sebagai dalih untuk meninggalkan kewajiban kita terhadap Allah. Jika sampai hubungan terdekat dan tererat yang kita miliki di dunia ini menjauhkan kita dari Kristus, maka ini berarti bahwa kita membutuhkan suatu semangat lagi untuk membuat kita melupakan ayah dan ibu kita, seperti yang dilakukan oleh Lewi (Ul. 33:9). Murid ini dipanggil untuk menjadi pelayan, dan oleh sebab itu tidak boleh memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya (2Tim. 2:4). Sudah menjadi peraturan bahwa kapan pun Kristus memanggil, kita tidak boleh meminta pertimbangan kepada manusia (Gal. 1:15-16). Janganlah ada dalih yang mengganggu ketaatan kita saat ini terhadap panggilan Kristus.
    III. Ada juga seorang yang lain lagi yang bersedia mengikut Kristus, tetapi meminta sedikit waktu untuk berpamitan dengan keluarganya terlebih dahulu.

    Perhatikanlah baik-baik:

        . Permintaannya agar diberi pengecualian (ay. 61). Katanya, "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, aku tidak merencanakan yang lain. Aku bertekad untuk melakukannya. Tetapi, sebelum itu izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tampaknya permintaan ini masuk akal. Itulah yang juga diinginkan Elisa saat Elia memanggilnya, Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, dan permintaannya itu dikabulkan. Namun, pelayanan Injil lebih diutamakan, dan pelaksanaannya lebih mendesak dibandingkan dengan pelayanan para nabi, dan itulah sebabnya di sini permintaan itu tidak dikabulkan. Biarkan aku apotaxasthai tois eis ton oikon mou -- Biarkan aku pergi dan membereskan urusan rumah tanggaku, dan memberikan pengarahan seperlunya; demikianlah sebagian orang memahaminya. Nah, yang menjadi masalah dalam permintaan orang itu adalah:
            (1) Ia beranggapan bahwa mengikut Kristus merupakan sesuatu yang menyedihkan, menyusahkan, dan berbahaya. Baginya, ia seakan-akan ia bakal mati, dan oleh sebab itu ia harus berpamitan dengan semua temannya, tidak akan pernah berjumpa dengan mereka lagi, atau tidak akan pernah terhibur lagi. Padahal, dengan mengikut Kristus ia akan lebih menjadi sumber penghiburan dan berkat bagi mereka daripada jika ia tetap berada bersama mereka.
            (2) Sepertinya ia lebih mementingkan hal-hal duniawi daripada seharusnya, lebih daripada menjalankan kewajibannya sebagai pengikut Kristus. Sepertinya ia sangat merindukan hubungan dan perkara-perkara dengan keluarganya, serta tidak mudah berpisah dari mereka. Semua perkara ingin melekat pada dirinya. Boleh jadi ia telah pamitan dengan mereka, tetapi enggan berpisah membuat orang sering kali berpamitan, dan oleh sebab itu ia harus pamitan sekali lagi, karena mereka berada di rumahnya.
            (3) Ia bersedia memasuki godaan yang menghalangi tujuannya mengikut Kristus. Dengan pergi dan pamitan kepada mereka yang berada di rumahnya, ia seperti memperhadapkan diri sendiri dengan permintaan paling kuat untuk mengubah ketetapan hatinya. Mereka semua akan menentang tujuannya itu dan akan memohon dengan sangat agar ia tidak meninggalkan mereka. Sangatlah ceroboh orang itu dengan menceburkan diri dalam godaan seperti itu. Orang-orang yang telah berketetapan hati untuk berjalan bersama Pencipta mereka dan mengikut Penebus mereka harus bertekad untuk tidak pernah berembuk dengan penggoda mereka.
        . Teguran yang diberikan Kristus kepadanya atas permintaan itu (ay. 62): "Tidak ada orang yang siap untuk membajak, dan bermaksud untuk membajak tanah dengan baik, akan melihat ke belakang, atau menoleh-noleh ke belakang, sebab jika demikian halnya, ada banyak bagian tanah yang tidak akan terbajak dan tanahnya menjadi tidak bagus untuk ditaburi benih. Jadi kalau engkau telah berencana untuk mengikut Aku dan mau menuai keuntungan seperti yang diperoleh orang-orang yang telah mengikut Aku, dan engkau masih menoleh ke belakang pada kehidupan dunia lagi serta merindukannya, jika engkau menoleh ke belakang seperti yang dilakukan istri Lot di Sodom, yang tampaknya disiratkan di sini, engkau tidak layak untuk Kerajaan Allah."
            (1) "Engkau bukanlah tanah yang pantas menerima benih yang baik dari Kerajaan Allah, jika kamu dibajak setengah-setengah, tidak sampai selesai."
            (2) "Engkau bukanlah penabur yang layak menabur benih yang baik dari Kerajaan Allah bila engkau tidak dapat membajak dengan baik." Membajak bekerja seiring dengan menabur. Sama seperti orang-orang yang tidak layak ditaburi dengan berkat ilahi karena tanah barunya tidak dibuka terlebih dahulu, demikian pula orang-orang yang tidak tahu cara membuka tanah baru dan telah siap membajak tetapi senantiasa menoleh dan berpikir untuk menghentikan pekerjaan mereka, tidak layak dipekerjakan dalam pekerjaan menabur. Perhatikanlah, orang-orang yang telah memulai dengan pekerjaan Allah harus bertekad untuk melanjutkannya, atau mereka tidak akan menghasilkan apa pun. Menoleh ke belakang cenderung membuat orang mengundurkan diri, dan mengundurkan diri sama dengan kehancuran. Orang-orang yang tadinya mengarahkan pandangan ke atas kemudian menoleh ke tempat lain tidaklah layak bagi sorga. Tetapi dia, dan hanya dia yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.












NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 3 Juli 2016 - Lukas 10:1-11, 16-20


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 19 Juni 2016 - Lukas 8:26-39


All Garis Besar:
All Khotbah HKBP 2016
(12)
1 Timotius 6:6-19 (1)
2 Timotius 1:1-14 (1)
2 Timotius 2:8-15 (1)
Filipi 4:4-9 (1)
Ibrani 11:29--12:2 (1)
Kejadian 15:1-6 (1)
Kejadian 32:22-31 (1)
Lukas 10:1-11 (1)
Lukas 10:25-37 (1)
Lukas 11:1-13 (1)
Lukas 13:10-17 (1)
Lukas 14:1, 7-14 (1)
Lukas 14:25-33 (1)
Lukas 15:1-10 (1)
Lukas 16:1-13 (1)
Lukas 19:28-40 (1)
Lukas 2:22-40 (1)
Lukas 3:15-17 (1)
Lukas 3:15-22 (1)
Lukas 4:14-21 (2)
Lukas 4:21-30 (2)
Lukas 8:26-39 (1)
Lukas 9:28-36 (1)
Matius 27:57-66 (1)
Matius 6:1-21 (1)
Roma 15:4-13 (1)
Roma 1:1-7 (1)
Yesaya 1:10-18 (1)
Yesaya 35:1-10 (1)
Yohanes 12:1-11 (1)
Yohanes 12:1-8 (1)
Yohanes 12:20-36 (1)
Yohanes 13:21-32 (1)
Yohanes 20:1-18 (2)
Yohanes 2:1-11 (2)
Yohanes 3:13-17 (1)




NEXT:
Khotbah HKBP Minggu, 3 Juli 2016 - Lukas 10:1-11, 16-20


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 19 Juni 2016 - Lukas 8:26-39

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de