f Renungan HKBP Senin, 29 Mei 2023 PESTA PADUAHON PARNINGOTANARI HASASAOR NI TONDI PORBADIA - Bilangan 11:24-30 - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
Jamita HKBP Minggu, 21 Juni 2026 - Pemeliharaan Allah Yang Universal - Kejadian 21:8-21
# I. Latar Belakang Teks, II. Allah Memelihara Orang yang Tidak Diperhitungkan Manusia, III. Allah Bekerja Melampaui Batas Suku, Bangsa, dan Status, IV. Allah Menolong Pada Saat yang Tepat, V. Allah Memiliki Masa Depan bagi Setiap Orang,
View : 1176 kali
Senin, 29 Mei 2023
PESTA PADUAHON PARNINGOTANARI HASASAOR NI TONDI PORBADIA
Tutup Langgatan : Na Rara
Ev. 4 Musa 11:24-30
Ep. 2 Petrus 1:16-21

Ev. Bilangan 11:24-30
Ketujuh puluh orang tua-tua
11:24 Setelah Musa datang ke luar, disampaikannya firman TUHAN itu kepada bangsa itu. Ia mengumpulkan tujuh puluh orang dari para tua-tua bangsa itu dan menyuruh mereka berdiri di sekeliling kemah. 11:25 Lalu turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi. 11:26 Masih ada dua orang tinggal di tempat perkemahan; yang seorang bernama Eldad, yang lain bernama Medad. Ketika Roh itu hinggap pada mereka -- mereka itu termasuk orang-orang yang dicatat, tetapi tidak turut pergi ke kemah -- maka kepenuhanlah mereka seperti nabi di tempat perkemahan. 11:27 Lalu berlarilah seorang muda memberitahukan kepada Musa: "Eldad dan Medad kepenuhan seperti nabi di tempat perkemahan." 11:28 Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: "Tuanku Musa, cegahlah mereka!" 11:29 Tetapi Musa berkata kepadanya: "Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!" 11:30 Kemudian kembalilah Musa ke tempat perkemahan, dia dan para tua-tua Israel.

Penjelasan:
* Allah Menjanjikan Daging kepada Bangsa Israel; Masalah Eldad dan Medad (11:24-30)

    Kita mendapati di sini penggenapan dari firman Allah kepada Musa, bahwa ia akan diberi penolong dalam memerintah Israel.
        I. Inilah perkara tentang ketujuh puluh orang penasihat secara umum. Musa, walaupun sedikit terganggu oleh kericuhan orang banyak, namun sepenuhnya ditenangkan oleh persekutuan yang dimilikinya dengan Allah, dan segera menguasai dirinya kembali. Dan sesuai dengan ketetapannya dengan Allah,
            1. Ia melakukan bagiannya. Ia mempersembahkan ketujuh puluh tua-tua di hadapan Tuhan, di sekeliling Kemah Suci (ay. 24), supaya mereka berdiri di sana, siap menerima anugerah Allah, di tempat di mana Ia telah menyatakan diri-Nya, dan supaya umat juga dapat menjadi saksi dari panggilan mereka yang khidmat. Perhatikanlah, orang-orang yang menantikan perkenanan dari Allah haruslah dengan rendah hati mempersembahkan diri mereka dan pelayanan mereka kepada-Nya.
            2. Allah tidak lalai melakukan bagian-Nya. Ia menaruh Roh yang hinggap pada Musa ke atas ketujuh puluh tua-tua itu (ay. 25). Roh ini membuat orang-orang yang kemampuan dan pendidikannya setara dengan sesamanya tiba-tiba mampu mengatakan dan melakukan hal yang luar biasa. Dan ini membuktikan bahwa mereka digerakkan oleh ilham ilahi. Mereka bernubuat, dan tidak berhenti sepanjang hari itu, dan (menurut sebagian penafsir) hanya pada hari itu. Mereka menceritakan perkara-perkara tentang Allah kepada bangsa itu, dan mungkin menerangkan hukum Taurat yang belakangan ini mereka terima dengan kejelasan, keutuhan, kesiapan, dan ketepatan ungkapan yang mengagumkan, sehingga semua orang yang mendengar mereka dapat melihat dan berkata bahwa sungguh, Allah ada di tengah-tengah mereka. Lihat 24-25. Demikian pula, lama sesudahnya, Saul ditandai untuk memerintah oleh karunia bernubuat, yang menghinggapinya selama sehari semalam (1Sam. 10:6, 11). Ketika Musa harus menjemput Israel untuk keluar dari Mesir, Harun ditunjuk menjadi nabinya (Kel. 7:1). Tetapi, karena sekarang Allah telah memanggil Harun untuk suatu pekerjaan lain, maka sebagai gantinya Musa mempunyai tujuh puluh nabi untuk mendampinginya. Perhatikanlah, orang-orang yang paling pantas memerintah Israel milik Allah adalah mereka yang mengenal baik perkara-perkara ilahi dan selalu ingin mengajar untuk membangun orang lain.

        II. Di sini ada perkara khusus tentang dua orang dari antara mereka, Eldad and Medad, kemungkinan dua bersaudara.
            1. Mereka ditunjuk oleh Musa untuk menjadi pendamping dalam pemerintahan, tetapi mereka tidak turut pergi ke kemah seperti yang lain (ay. 26). Calvin menduga bahwa perintah itu dikirimkan kepada mereka, tetapi tidak sampai, karena mereka sedang berada di suatu tempat lain. Jadi, walaupun mereka tercatat, namun mereka tidak terpanggil. Sebagian besar penafsir berpendapat bahwa mereka menolak datang ke Kemah Suci karena terlalu bersahaja dan merendah. Karena sadar akan kelemahan dan ketidaklayakan mereka sendiri, mereka ingin dimaklumi untuk tidak ikut dalam pemerintahan. Pemikiran mereka itu merupakan sesuatu yang terpuji, tetapi perbuatan mereka yang tidak mematuhi perintah adalah kesalahan mereka.
            2. Roh Allah menemukan mereka di dalam perkemahan, di mana mereka tersembunyi di antara segala pekerjaan, dan di sana mereka bernubuat, yaitu, mereka menerapkan karunia berdoa, berkhotbah, dan memuji Allah, di dalam suatu tenda pribadi. Perhatikanlah, Roh Allah tidak terikat pada Kemah Suci, tetapi, seperti angin, bertiup ke mana ia mau (Yoh. 3:8). Ke mana kita dapat pergi menjauhi Roh itu? Ada penyelenggaraan ilahi secara khusus yang ikut campur tangan dalam ketidakhadiran kedua orang ini, sebab dengan demikian semakin jelas tampak bahwa memang Roh Allahlah yang menggerakkan para tua-tua itu, dan bahwa bukan Musa yang memberi mereka Roh itu, melainkan Allah sendiri. Mereka dengan rendah hati menolak pengangkatan itu, tetapi Allah memaksakannya kepada mereka. Bahkan, mereka mendapat kehormatan untuk disebut namanya, yang tidak didapat oleh semua yang lain. Sebab barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan, dan orang-orang yang paling pantas memerintah adalah mereka yang paling tidak berhasrat menginginkannya.
            3. Kabar tentang hal ini diberitahukan kepada Musa (ay. 27): “Eldad dan Medad kepenuhan seperti nabi di tempat perkemahan. Ada sebuah perkumpulan dalam suatu tenda, dan Eldad dan Medad sedang berkhotbah di sana, di bawah pengawasan dan kepemimpinan Musa, dan di luar persekutuan dengan para tua-tua lain.” Siapa pun orang yang membawa kabar itu, ia tampak melihatnya sebagai suatu hal yang tidak biasanya.
            4. Yosua tergerak untuk mendiamkan mereka: Tuanku Musa, cegahlah mereka! (ay. 28). Ada kemungkinan bahwa Yosua sendiri adalah salah satu dari ketujuh puluh tua-tua itu, yang membuatnya semakin cemburu bagi kehormatan kelompoknya. Ia beranggapan kedua orang itu tidak seharusnya berlaku seperti itu, sebab karunia nabi takluk kepada nabi-nabi, dan karena itu ia ingin supaya mereka tidak bernubuat sama sekali atau datang ke Kemah Suci dan bernubuat bersama-sama dengan yang lain. Ia tidak ingin mereka dihukum atas apa yang telah mereka lakukan, tetapi hanya dikekang supaya tidak lagi melakukan hal yang sama di kemudian hari. Ia berlaku begini karena maksud baik, bukan karena tidak suka dengan Eldad dan Medad, melainkan karena semangat yang tulus untuk apa yang dipahaminya sebagai kesatuan jemaat, dan kepedulian terhadap kehormatan Allah dan Musa.
            5. Musa menolak permohonan itu, dan menegur orang yang mengajukannya (ay. 29): “Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Engkau tidak tahu dengan roh apa engkau berbicara.” Meskipun Yosua adalah teman dan orang kepercayaan istimewa Musa, walaupun ia mengatakan ini berdasarkan rasa hormat kepada Musa, yang kehormatannya tidak mau ia lihat berkurang oleh panggilan kedua tua-tua itu, namun Musa menegurnya serta secara tidak langsung juga menegur semua orang lain yang menunjukkan roh seperti itu.
                (1) Kita tidak boleh bersedih secara diam-diam atas karunia, anugerah, dan kebergunaan orang lain. Adalah kesalahan murid-murid Yohanes Pembaptis bahwa mereka iri terhadap kehormatan Kristus, karena kehormatan-Nya memudarkan kehormatan guru mereka (Yoh. 3:26, dst.).
                (2) Kita tidak boleh terbawa amarah terhadap kelemahan dan kekurangan orang lain. Kalaupun Eldad dan Medad bersalah atas suatu penyimpangan, Yosua terlalu cepat dan terlalu keras dalam menghardik mereka. Semangat kita harus selalu diimbangi dengan kelemahlembutan hikmat. Kebenaran Allah tidak memerlukan amarah manusia (Yak. 1:20).
                (3) Kita tidak boleh membuat orang-orang yang paling baik dan paling berguna sekalipun sebagai kepala suatu golongan. Paulus tidak ingin namanya dipakai untuk mengayomi sebuah golongan (1Kor. 1:12-13).
                (4) Kita tidak boleh gegabah dalam mengutuk dan membungkam orang-orang yang berbeda dari kita, seolah-olah mereka tidak mengikuti Kristus karena mereka tidak mengikuti Dia bersama kita (Mrk. 9:38). Akankah kita menolak orang-orang yang telah diakui Kristus, atau menahan siapa saja untuk berbuat baik karena mereka tidak sepikiran dengan kita dalam segala hal? Musa mempunyai roh yang lain. Ia sama sekali tidak mau membungkam kedua orang ini, dan memadamkan Roh dalam diri mereka, tetapi justru berharap seluruh umat TUHAN menjadi nabi, yaitu, supaya TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka. Bukan berarti bahwa ia ingin mengangkat siapa saja sebagai nabi walaupun mereka tidak memenuhi syarat, atau bahwa ia berharap supaya Roh nubuatan dibuat menjadi sedemikian umum. Tetapi begitulah ia mengungkapkan kasih dan penghargaannya terhadap seluruh umat TUHAN, kepuasaan hatinya atas karunia-karunia orang lain, dan betapa ia tidak marah sama sekali terhadap Eldad dan Medad karena bernubuat di bawah pengawasannya. Roh unggul seperti itu jugalah yang dimiliki Paulus yang terberkati itu, yang bersukacita bahwa Kristus diberitakan, meskipun oleh orang-orang yang dengan berbuat demikian bermaksud memperberat bebannya dalam penjara (Flp. 1:17). Kita harus senang bahwa Allah dilayani dan dimuliakan, dan kebaikan dilakukan, meskipun itu mengurangi pujian bagi diri kita dan kesempatan bagi kita untuk dipuji.
            6. Para tua-tua, yang baru ditahbiskan sekarang, segera masuk ke dalam pelayanan mereka (ay. 30). Setelah panggilan mereka sudah cukup terbukti melalui nubuat-nubuat mereka, mereka pergi bersama Musa ke dalam perkemahan, dan membaktikan diri untuk bekerja. Setelah menerima karunia, mereka melayani seorang akan yang lain sebagai pengurus yang baik. Dan sekarang Musa senang bahwa ia mempunyai begitu banyak orang untuk berbagi dengannya dalam pekerjaan dan kehormatannya. Dan,
                (1) Hendaklah kesaksian Musa diyakini oleh orang-orang yang ingin berkuasa, bahwa memerintah adalah sebuah beban. Memerintah adalah beban masalah dan kesusahan bagi orang-orang yang menjalankan kewajiban itu dengan kesadaran hati nurani. Dan bagi orang-orang yang tidak menjalankannya dengan kesadaran hati nurani, memerintah akan terbukti menjadi beban yang lebih berat pada hari penghakiman nanti, ketika mereka dijatuhi hukuman sebagai hamba yang tidak berguna, yang menguburkan talentanya.
                (2) Hendaklah teladan Musa ditiru oleh orang-orang yang sedang berkuasa. Janganlah mereka menganggap remeh nasihat dan bantuan dari orang lain, tetapi hendaklah mereka menginginkannya, dan bersyukur untuk itu, dengan tidak berhasrat untuk memegang sendiri hikmat dan kekuasaan. Jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.


Ep. 2 Petrus 1:16-21
Nubuat tentang kemuliaan Kristus telah digenapi
1:16 Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. 1:17 Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." 1:18 Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. 1:19 Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. 1:20 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, 1:21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Penjelasan:
* Kesaksian dari Injil (1:16-18)

    Di sini kita membaca mengenai alasan Rasul Petrus menyampaikan nasihat sebelumnya, yang disampaikannya dengan begitu tekun dan sungguh-sungguh. Semua hal itu bukanlah kisah-kisah dongeng tiada guna atau hal yang sia-sia, tetapi kebenaran yang tidak diragukan lagi dan sangat penting. Injil bukanlah dongeng-dongeng isapan jempol manusia. Semua ini bukanlah kata-kata orang yang sedang kerasukan roh jahat, juga bukan hasil rekayasa sejumlah orang yang dengan kelicikan mereka berusaha menipu. Jalan keselamatan melalui Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh rancangan Allah, rancangan paling unggul dari TUHAN yang Mahabijaksana. Dialah yang merancang jalan ini untuk menyelamatkan orang-orang berdosa melalui Yesus Kristus, yang kuasa dan kedatangan-Nya dinyatakan di dalam Injil, dan pemberitaan oleh para rasul dimaksudkan untuk membuat kebenaran ini dapat diketahui orang.
        1. Pemberitaan Injil dilakukan untuk menyatakan kuasa Kristus kepada dunia bahwa ia sanggup menyelamatkan sepenuhnya semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Dia adalah Allah yang perkasa, oleh karena itu Ia sanggup menyelamatkan orang dari rasa bersalah dan kecemaran dosa.
        2. Kedatangan Kristus juga diberitahukan melalui pemberitaan Injil.
        Ia yang dijanjikan segera sesudah kejatuhan manusia di dalam dosa, bahwa setelah genap waktunya akan dilahirkan dari seorang perempuan, kini telah datang sebagai manusia. Dan barangsiapa menolak hal ini, maka dia itu seorang antikristus (1Yoh. 4:3), dan ia digerakkan dan dipengaruhi oleh roh antikristus. Tetapi mereka yang adalah rasul-rasul dan pelayan-pelayan Kristus yang sejati, yang diarahkan dan dibimbing oleh Roh Kristus, bersaksi bahwa Kristus telah datang sesuai dengan janji yang di dalamnya semua orang percaya di dalam Perjanjian Lama telah mati di dalam iman itu (Ibr. 11:39). Kristus telah datang sebagai manusia. Karena itu, sebagaimana orang-orang yang Ia selamatkan adalah mereka yang turut mengambil bagian di dalam darah dan daging, maka Dia sendiri juga mengambil bagian dalam hal yang sama, supaya Dia dapat menderita di dalam sifat dan menjadi pengganti mereka, dan dengan demikian dapat melakukan penebusan. Kedatangan Kristus inilah yang dengan jelas dan terperinci dinyatakan oleh Injil. Tetapi masih ada lagi kedatangan kedua kali yang juga disebutkan, yang harus diberitahukan juga oleh para pelayan Injil, ketika Dia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama-sama semua malaikat-Nya yang kudus, sebab Ia telah ditetapkan untuk menjadi Hakim atas orang-orang yang hidup dan yang mati. Ia akan datang untuk menghakimi dunia ini di dalam keadilan dengan Injil yang kekal, dan memanggil kita semua untuk memberikan pertanggungan jawab atas semua hal yang dilakukan di dalam tubuh, entah baik atau jahat.
        3. Dan meskipun Injil telah dihujat sebagai dongeng oleh salah seorang dari orang-orang keji yang menyebut diri mereka sebagai penerus Rasul Petrus, namun rasul kita ini membuktikan bahwa Injil sungguh teramat pasti dan nyata, karena selama Juruselamat yang terberkati ini tinggal di atas muka bumi ini, ketika Ia mengambil rupa seorang hamba dan tampil sebagai seorang manusia, kadang-kadang Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah, khususnya di hadapan rasul kita ini dan dua anak-anak Zebe deus, yang menjadi saksi mata dari kebesaran ilahi-Nya, ketika Ia berubah rupa di depan mata mereka, wajah-Nya bercahaya seperti matahari (Mat. 17:2), dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu (Mrk. 9:3). Akan hal ini, Petrus, Yakobus, dan Yohaneslah yang menjadi saksi matanya, dan karena itu mereka dapat dan harus bersaksi. Dan pasti kesaksian mereka benar adanya, ketika mereka memberi kesaksian tentang apa yang telah mereka lihat dengan mata kepala mereka, ya, dan mendengar dengan telinga mereka: sebab di samping kemuliaan yang dapat dilihat bahwa Kristus telah dilantik di atas muka bumi ini, ada juga suara dari sorga yang dapat didengar. Amatilah di sini,
            (1) Betapa indahnya pernyataan yang dibuat: Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, suara terindah yang pernah datang dari sorga ke dalam dunia ini. Allah sangat berkenan kepada Kristus, dan juga kepada kita di dalam Dia. Inilah Sang Mesias yang dijanjikan, yang melalui-Nya semua orang percaya di dalam Dia akan diterima dan diselamatkan.
            (2) Pernyataan ini dibuat oleh Allah Bapa, yang dengan demikian mengakui Anak-Nya secara terbuka di depan umum (walaupun Sang Anak dalam keadaan-Nya yang hina, ketika Dia sedang ada di dalam kedudukan sebagai seorang hamba), ya, menyatakan Dia sebagai Anak-Nya yang dikasihi-Nya, ketika Dia berada di dalam keadaan yang sangat rendah. Ya, kehinaan dan keadaan-Nya yang rendah itu sama sekali tidak mengurangi kasih Bapa kepada-Nya, sehingga tindakan-Nya untuk menyerahkan nyawa-Nya pun dikatakan menjadi salah satu alasan khusus Bapa menyatakan kasih-Nya kepada Dia (Yoh. 10:17).
            (3) Tujuan dari datangnya suara ini adalah untuk memberi kehormatan khusus bagi Juruselamat kita sementara Dia berada di dunia bawah sini: Dia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa. Inilah orang yang Allah berkenan hormati. Sebagaimana Dia meminta kita memberikan kehormatan dan kemuliaan kepada Anak-Nya dengan mengakui Dia sebagai Juruselamat kita, begitu jugalah Dia memberikan kemuliaan dan kehormatan kepada Juruselamat kita itu dengan menyatakan Dia sebagai Anak-Nya.
            (4) Suara ini berasal dari sorga, dikatakan di sini sebagai kemuliaan yang sangat agung (ay. 17, KJV), yang masih tetap mencerminkan kemuliaan yang sangat besar atas Juruselamat kita yang terberkati. Pernyataan ini datang dari Allah sumber segala kehormatan, dan berasal dari sorga tempat kedudukan kemuliaan, di mana Allah hadir dengan penuh kemuliaan.
            (5) Suara ini didengar, dan dengan demikian dapat dimengerti oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka tidak saja mendengar suatu bunyi (seperti yang terjadi dengan banyak orang lain [Yoh. 12:28-29]), tetapi mereka mengerti artinya. Allah membuka telinga dan pengertian dari umat-Nya untuk menerima apa yang perlu untuk mereka ketahui, ketika orang-orang lain seperti teman-teman seperjalanan Paulus, yang hanya mendengar bunyi kata-kata (Kis. 9:7), tetapi tidak mengerti makna kata-kata itu, dan karena itu dikatakan bahwa mereka tidak mendengar suara Dia yang berbicara (Kis. 22:9). Berbahagialah orang-orang yang tidak saja mendengar, tetapi juga mengerti, yang percaya kepada kebenaran, dan merasakan kuasa dari sorga, seperti yang diperbuat oleh orang yang menyaksikan hal-hal ini. Dan kita memiliki alasan kuat di dunia ini untuk menerima kesaksiannya, sebab siapa yang akan menolak memberikan pujian kepada sesuatu yang telah dicatat dengan begitu cermat oleh Rasul Petrus mengenai suara dari sorga untuk diberitahukan kepada kita.
            (6) Suara itu didengar oleh mereka di atas gunung yang kudus, ketika mereka bersama dengan Yesus. Tempat di mana Allah menyatakan diri-Nya secara khusus dengan demikian menjadi kudus, bukan karena tempat itu mengandung kekudusan di dalamnya, melainkan seperti tanah yang menjadi kudus di mana Allah menampakkan diri kepada Musa (Kel. 3:5), dan gunung kudus yang di atasnya dibangun bait suci (Mzm. 87:1). Tempat-tempat seperti itu tidaklah kudus untuk seterusnya, dan dianggap kudus selama waktu orang-orang itu mengalami sendiri, atau dengan peneguhan firman mengharapkan dengan iman akan kehadiran khusus dan pengaruh yang mulia dari Allah yang kudus dan mulia di tempat itu.


* Pengilhaman Kitab Suci (1:19-21)

    Dengan menggunakan kata-kata di atas Rasul Petrus menjelaskan alasan lain untuk membuktikan kebenaran dan kenyataan Injil, dan menyatakan bahwa bukti kedua ini lebih kuat dan lebih meyakinkan daripada sebelumnya dan lebih tidak dapat disanggah bahwa pengajaran mengenai kuasa dan kedatangan Tuhan Yesus Kristus kita bukanlah dongeng atau rancangan licik manusia, melainkan rancangan yang penuh hikmat dan indah dari Allah yang kudus dan murah hati. Sebab hal ini telah dinubuatkan oleh nabi-nabi dan para penulis Perjanjian Lama, yang berbicara dan menulis di bawah pengaruh dan sesuai pengarahan Roh Allah. Perhatikanlah di sini,
        I. Gambaran yang diberikan mengenai firman di dalam Perjanjian Lama: firman itu disebut sebagai nubuat yang lebih pasti (ay. 19, KJV).
            1. Firman itu merupakan pernyataan nubuatan mengenai kuasa dan kedatangan, keilahian dan penjelmaan, dari Juruselamat kita, yang kita dapati di dalam Perjanjian Lama. Di dalamnya dinubuatkan bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular. Kuasa-Nya untuk menghancurkan Iblis dan pekerjaan-pekerjaannya, dan kelahiran-Nya oleh seorang perempuan dinubuatkan di sana. Dan Nama Allah yang agung dan dahsyat dalam Perjanjian Lama, Yehova (sebagaimana dibaca oleh sejumlah orang), menunjukkan bahwa hanya Dialah yang adalah Dia, dan Nama Allah itu (Kel. 3:14) diterjemahkan oleh banyak orang sebagai Aku Adalah Aku, dan dengan demikian nama-nama tersebut dipahami sebagai menunjuk kepada penjelmaan Allah dengan tujuan untuk mendatangkan penebusan dan keselamatan bagi umat-Nya, yang akan datang. Tetapi Perjanjian Baru merupakan sejarah tentang apa yang telah dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama. Semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes (Mat. 11:13). Dan para pemberita Injil dan rasul-rasul telah menulis sejarah mengenai apa yang sebelumnya disampaikan sebagai nubuat. Sekarang penggenapan Perjanjian Lama oleh Perjanjian Baru serta kesesuaian antara Perjanjian Baru dengan Perjanjian Lama memperlihatkan bukti sepenuhnya dari kebenaran kedua perjanjian itu. Bacalah Perjanjian Lama sebagai sebuah nubuat tentang Kristus, dan dengan ketekunan dan rasa syukur gunakanlah Perjanjian Baru sebagai penjelasan terperinci yang terbaik mengenai yang lama.
            2. Perjanjian Lama merupakan perkataan nubuat yang lebih pasti (ay. 19, KJV). Hal ini benar demikian bagi orang-orang Yahudi yang menerimanya sebagai firman Allah. Para nabi berikutnya menegaskan apa yang telah disampaikan oleh nabi-nabi yang telah mendahului mereka, dan nubuat-nubuat ini telah ditulis melalui perintah yang jelas kepada mereka, dan dipelihara oleh pemeliharaan khusus, dan banyak di antaranya telah digenapi oleh penyelenggaraan yang indah dari Allah, dan oleh karena itulah nubuat-nubuat itu menjadi lebih pasti bagi orang-orang yang selama ini telah menerima dan membaca kitab suci daripada laporan Rasul Petrus mengenai suara yang datang dari sorga. Musa dan para nabi lebih kuat pengaruhnya untuk meyakinkan mereka bahkan daripada mujizat-mujizat sendiri (Luk. 16:31). Betapa teguh dan pastinya iman kita seharusnya, yang telah memiliki firman yang begitu teguh dan pasti sebagai tumpuan! Semua nubuat-nubuat Perjanjian Lama menjadi lebih pasti dan meyakinkan bagi kita yang telah memiliki sejarah tentang penggenapannya dengan semua perincian ketepatan dan waktunya.
        II. Dorongan Rasul Petrus kepada kita supaya menyelidiki kitab suci. Dia memberi tahu kita, alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya. Yakni, berusaha agar akal budi kita memahami maknanya, dan hati kita mempercayai kebenaran, dari firman yang pasti ini. Ya, kita harus mencondongkan diri kita kepada firman, supaya kita dapat dicetak dan dibentuk olehnya. Firman itu merupakan pengajaran yang ke dalamnya kita harus dibentuk (Rm. 6:17), kegenapan segala kepandaian dan kebenaran (Rm. 2:20) yang dengannya kita harus mengatur pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan kita, perkataan-perkataan dan pengakuan-pengakuan kita, seluruh kehidupan dan perilaku kita. Jika kita menuruti firman Allah sedemikian rupa seperti ini, maka keadaan kita pasti sejahtera dalam semua hal, dalam apa yang berkenan kepada Allah dan menguntungkan diri kita sendiri. Dan ini tidak lain selain menaruh perhatian semestinya terhadap semua firman Allah. Namun, supaya dapat memberikan perhatian kepada firman, Rasul Petrus menyarankan beberapa hal khusus bagi mereka yang ingin menuruti kitab suci untuk setiap maksud yang baik. Yaitu,
            1. Mereka harus memegang dan menggunakan kitab suci sebagai terang yang telah dikirim Allah ke dalam dunia ini dan menempatkannya di sana, untuk menghalau kegelapan yang menyelimuti seluruh muka bumi ini. Firman itu adalah pelita bagi kaki orang-orang yang menggunakannya dengan benar. Terang ini menemukan jalan di mana seharusnya orang berjalan. Terang ini adalah sarana yang dengannya kita dapat mengenal jalan kehidupan.
            2. Mereka harus mengakui kegelapan mereka sendiri. Dunia ini merupakan tempat kesalahan dan kebodohan, dan setiap orang di dunia ini pada dasarnya tidak memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk memperoleh kehidupan kekal.
            3. Jika ada orang yang pernah dibuat menjadi bijaksana hingga memperoleh keselamatan, maka itu karena terang dari firman Allah yang menerangi hati mereka. Gagasan alamiah tentang Allah tidaklah cukup bagi manusia yang telah jatuh di dalam dosa, yang sehebat-hebatnya sebenarnya hanya tahu teramat sedikit tentang Allah, dan karena itu mutlak perlu mengetahui jauh lebih banyak tentang Allah, lebih daripada yang diketahui Adam ketika ia masih belum mengenal dosa.
            4. Ketika terang kitab suci disoroti oleh Roh Kudus Allah ke dalam akal budi yang buta dan pengertian yang gelap, maka datanglah fajar hari kerohanian dan terbitlah hari yang cemerlang di dalam jiwa itu. Pencerahan pikiran yang ada di dalam kegelapan itu sama seperti fajar dini hari yang berangsur merekah dan tampak, lalu menyebar dan membaur ke seluruh jiwa, sampai terang itu menjadi rembang tengah hari (Ams. 4:18). Pencerahan itu adalah pengetahuan yang berkembang. Orang-orang yang dicerahkan seperti ini tidak pernah berpikir bahwa mereka sudah cukup mengetahui, sampai mereka menjadi tahu ketika mereka dikenal orang. Memberikan perhatian kepada terang ini perlu menjadi perhatian dan kewajiban semua orang. Dan semua yang menjalankan kebenaran datang kepada terang ini, sementara para pelaku kejahatan menjauhinya.
        III. Rasul Petrus menegaskan satu hal penting yang perlu bagi kita untuk dapat memberikan perhatian kepada firman dan menjadi baik olehnya, yakni kita harus tahu bahwa semua nubuat itu berasal dari Allah. Nah, kebenaran penting ini tidak saja dia tegaskan, tetapi juga membuktikannya,
            1. Amatilah, tidak ada nubuat dari kitab suci yang berasal dari tafsiran menurut kehendak sendiri (atau pendapat seseorang itu sendiri, atau suatu penjelasan dari pikirannya sendiri), melainkan merupakan penyingkapan atau pewahyuan dari pikiran Allah. Inilah perbedaan antara nabi-nabi Tuhan dan nabi-nabi palsu yang telah ada di dalam dunia ini. Nabi-nabi Tuhan tidak berbicara dan juga tidak melakukan sesuatu dari pikiran mereka sendiri, sebagaimana Musa, pemimpin mereka, mengatakannya dengan jelas (Bil. 16:28), aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri (juga dalam menyampaikan ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan). Sebaliknya, nabi-nabi palsu hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut TUHAN (Yer. 23:16). Para nabi dan penulis kitab suci menyatakan dan menulis apa yang ada di dalam pikiran Allah. Dan walaupun, ketika berada di bawah pengaruh dan tuntunan Roh, mereka bisa saja dianggap memang bersedia untuk mengungkapkan dan mencatat pikiran Allah itu, namun hal itu terjadi karena Allah yang menginginkan mereka mengatakan dan menulis pikiran-Nya itu. Tetapi, meskipun kitab suci bukanlah pencurahan pikiran dari pendapat atau keinginan manusia sendiri, tetapi merupakan penyingkapan pikiran dan kehendak Allah, namun setiap orang harus mau menyelidikinya sampai memahami arti dan maksud dari penyingkapan itu.
            2. Kebenaran penting ini bahwa Kitab Suci berasal dari Allah
            (bahwa apa yang terkandung di dalamnya adalah pikiran Allah dan bukan pikiran manusia) harus diketahui dan diakui oleh semua orang yang mau memberikan perhatian kepada firman nubuat yang pasti itu. Bahwa kitab suci itu merupakan firman Allah tidak saja merupakan sebuah pokok iman Kristen yang sejati, melainkan juga merupakan sebuah pokok penyelidikan atau pengkajian. Sebagaimana orang tidak mau percaya begitu saja bahwa seseorang benar-benar merupakan sahabat sejatinya, dan ingin memastikannya dengan mengamati tanda-tanda dan tabiat yang pantas dan khas dari sahabatnya itu, maka begitu jugalah orang Kristen mengenal Kitab Suci itu benar-benar sebagai firman Allah dengan dan saat mengamati semua tanda dan ciri bahwa memang kitab itu terilhami secara ilahi. Ia mengecap rasa manis, merasakan suatu kuasa, dan melihat kemuliaan di dalamnya sebagai sunggguh-sungguh ilahi.
            3. Keilahian kitab suci itu harus sudah diketahui dan diakui terlebih dahulu, sebelum orang dapat menggunakannya dan mengambil manfaatnya, dan sebelum mereka mencurahkan perhatian kepadanya. Supaya pikiran kita tidak terganggu oleh tulisan-tulisan lain, sehingga kita bisa memusatkan pikiran secara khusus pada Kitab Suci ini sebagai satu-satunya peraturan yang pasti dan tidak mengandung kesalahan, maka kita perlu meyakinkan diri sepenuhnya bahwa Kitab Suci diilhamkan secara ilahi dan mengandung apa yang benar-benar merupakan pikiran dan kehendak Allah.
        IV. Melihat betapa mutlak pentingnya orang diyakinkan sepenuhnya mengenai asal usul keilahian Kitab Suci, maka Rasul Petrus (ay. 21) memberitahukan kepada kita bagaimana Perjanjian Lama itu disusun, dan itu
            1. Dengan pernyataan yang memakai kata ingkar: nubuat itu tidak datang karena kehendak manusia. Segala sesuatu yang dicatat itu sendiri dan yang kemudian membentuk beberapa bagian dari Perjanjian Lama, tidaklah berasal dari pendapat-pendapat manusia, juga bukan kehendak salah seorang dari nabi-nabi atau para penulis kitab suci yang menjadi aturan atau alasan mengapa semua itu ditulis yang kemudian menjadi kanon kitab suci.
            2. Dengan pernyataan positif: Orang-orang kudus milik Allah berbicara ketika mereka digerakkan oleh Roh Kudus. Amatilah,
                (1) Mereka adalah orang-orang kudus milik Allah yang dipakai untuk mengerjakan kitab yang kita terima sebagai firman Allah. Seandainya Bileam dan Kayafas, dan orang-orang lainnya yang tiada memiliki kekudusan sama sekali, karena suatu hal tertentu memiliki sesuatu dari Roh nubuat, maka orang-orang seperti itu tidak akan dipakai untuk menulis bagian mana pun dari kitab suci untuk digunakan oleh jemaat Allah. Semua penulis kitab suci adalah orang-orang kudus milik Allah.
                (2) Orang-orang kudus ini digerakkan oleh Roh Kudus di dalam apa yang mereka sampaikan sebagai pikiran dan kehendak Allah. Roh Kudus merupakan Sang Pelaku Agung, sedangkan orang-orang kudus hanyalah alat-alat belaka.
                    [1] Roh Kudus mengilhami dan mendiktekan kepada mereka apa yang harus mereka sampaikan dari pikiran Allah.
                    [2] Dengan penuh kuasa Dia menggairahkan dan menggunakan mereka secara berhasil guna untuk mengatakan (dan juga menulis) apa yang telah Dia taruh di dalam mulut mereka.
                    [3] Dengan sangat bijaksana dan berhati-hati Ia menolong dan mengarahkan mereka untuk menyampaikan apa yang telah mereka terima dari-Nya, supaya firman itu benar-benar dapat terlindungi dari setiap kesalahan yang paling kecil sekalipun ketika mereka menyatakan apa yang mereka ungkapkan. Karena itu semua firman dalam Kitab Suci itu harus kita terima sebagai firman dari Roh Kudus. Segala kejelasan dan kesederhanaan, semua kuasa dan kebajikan, semua keanggunan dan kepantasan, dari setiap firman dan pengungkapannya haruslah kita terima sebagai berasal dari Allah. Oleh karena itu, gabungkanlah iman dengan apa yang Anda temukan di dalam kitab suci. Hargailah dan hormatilah Alkitab Anda sebagai kitab yang ditulis oleh orang-orang kudus, diilhamkan, dipengaruhi, dan dibantu oleh Roh Kudus.












NEXT:
Renungan HKBP Selasa, 30 Mei 2023 - BERSERU KEPADA NAMA TUHAN - Kisah Para Rasul 2:21


PREV:
Renungan HKBP Minggu, 28 Mei 2023 - JANGKON MA TONDI PORBADIA (TERIMALAH ROH KUDUS) - Ev. Johannes 20:10-23 - PENTAKOSTA I

All Renungan HKBP 2023
(136)




NEXT:
Renungan HKBP Selasa, 30 Mei 2023 - BERSERU KEPADA NAMA TUHAN - Kisah Para Rasul 2:21


PREV:
Renungan HKBP Minggu, 28 Mei 2023 - JANGKON MA TONDI PORBADIA (TERIMALAH ROH KUDUS) - Ev. Johannes 20:10-23 - PENTAKOSTA I

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de