f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Renungan HKBP 2024 Khotbah HKBP Minggu, 1 September 2024 - Ev. Ulangan 4:1-2, 6-9 - Ep. Matius 15:1-9 - MINGGU XIV DUNG TRINITATIS Seorang pemimpin harus siap ketika harus menyerahkan jabatan kepada orang lain, bahkan mempersiapkan penerusnya. Tuhan juga ingin setiap orang siap memasuki situasi dan tempat yang baru. Ev. Ulangan 4:1-2, 6-9 4:1 Nuaeng pe, ale Israel, sai tangihon ma aturan dohot uhum, angka na hupodahon tu hamu, sibahenonmuna, asa mangolu hamu jala masuk hamu tu tano siteanonmuna i, na nilehon ni Jahowa, Debata ni ompumuna i tu hamu. 4:2 Ndang jadi ambaanmuna tu hata naung hutonahon i tu hamu, jala ndang jadi oruanmuna sian i, ingkon radotanmuna do angka tona ni Jahowa Debatamuna i, naung hutonahon i tu hamu. 4:6 Antong radoti jala ulahon hamu ma angka i, ai i do gabe hapistaranmuna dohot hapantasonmuna di adopan ni angka bangso; ia dung dibege nasida saluhut angka aturan on, gabe dohononnasida ma: Bangso na pistar sahali jala na pantas marroha do bangso na bolon on! 4:7 Ai tung tu bangso na bolon dia ma songon i jonok angka Debata, songon Jahowa, Debatanta i, manang piga hali pe hita pajoujou Ibana? 4:8 Ai tung di bangso na bolon dia ma adong aturan dohot uhum na tigor, songon sandok patikon, na hulehon di adopanmuna sadarion? 4:9 Antong ramoti ma dirim jala parhamaol situtu tondim, asa unang lupa roham di jamita, angka naung niida ni matam, asa unang tallus sian roham saleleng ho mangolu, jala ingkon pabotohononmu do angka i tu angka anakmu dohot tu angka pahompum. Musa menasihati bangsa itu memelihara hukum Allah 4:1 "Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. 4:2 Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu. 4:6 Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. 4:7 Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? 4:8 Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini? 4:9 Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu. Baca Juga: Penjelasan: * Khotbah yang teramat hidup dan berbobot ini begitu menyeluruh, dan bagian-bagian tertentu yang terdapat di dalamnya begitu sering diulangi, sehingga kita harus mengambil keseluruhannya sewaktu menguraikannya, dan berupaya untuk mengintisarikannya ke dalam butir-butir yang sesuai, karena kita tidak dapat membaginya ke dalam beberapa alinea. Secara garis besar, khotbah ini merupakan pembelajaran dan penerapan dari sejarah yang telah dilalui bangsa Israel sebelumnya. Khotbah ini dibuka dengan kesimpulan dari sejarah itu: Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah (ay. 1). Pembelajaran seperti ini haruslah kita ambil ketika melihat kembali penyelenggaraan Allah terhadap kita, dan olehnya kita harus tergerak dan terdorong untuk mengerjakan kewajiban dan berlaku taat. Sejarah tentang tahun-tahun pada zaman purbakala haruslah kita manfaatkan dengan cara serupa. Maksud dan tujuan khotbah Musa adalah untuk meyakinkan orang Israel agar tetap dekat dengan Allah dan melayani-Nya, dan tidak meninggalkan Dia demi allah lain, tidak pula dalam hal apa pun menolak melakukan kewajiban mereka kepada-Nya. Sekarang cermatilah apa yang dikatakan Musa kepada mereka, dengan kefasihan berbicara yang banyak menekankan perkara-perkara ilahi, baik dengan cara memberikan nasihat maupun petunjuk, dan juga dorongan maupun alasan untuk menguatkan nasihat-nasihatnya. Lihatlah di sini bagaimana Musa menyuruh dan memerintah mereka, dan menunjukkan kepada mereka apa yang baik, dan apa yang dituntut Tuhan dari pada mereka. (1) Musa menuntut agar mereka dengan tekun memperhatikan firman Allah, dan ketetapan serta peraturan yang diajarkan kepada mereka: Hai orang Israel, dengarlah. Yang dimaksud oleh Musa adalah, bukan hanya bahwa mereka harus mendengarkannya sekarang, melainkan juga bahwa setiap kali kitab Taurat dibacakan kepada mereka, atau dibaca oleh mereka, mereka harus menyimaknya baik-baik. “Dengarkanlah ketetapan-ketetapan ini, karena di dalamnya terkandung perintah-perintah yang agung dari Allah dan hal-hal yang penting menyangkut jiwamu sendiri, dan yang karena itu menuntutmu untuk memberikan perhatian yang sungguh-sungguh.” Di gunung Horeb, Allah memberi mereka mendengar segala perkataan-Nya (ay. 10), mendengarnya dengan seorang saksi. Perhatian mereka pada waktu itu terbatasi oleh keadaan-keadaan yang mengiringi penyampaian perkataan-Nya. Tetapi sesudahnya, perhatian mereka haruslah tercurah oleh keunggulan dari hal-hal yang dikatakan itu sendiri. Satu kali Allah berfirman, dua hal yang harus kita dengar, dan harus sering-sering kita dengar. (2) Musa memerintahkan mereka untuk menjaga kemurnian dan keutuhan hukum ilahi di antara mereka (ay. 2). Jagalah kemurniannya, dan jangan menambahinya, jagalah keutuhannya, dan jangan menguranginya. Jangan menambahi dan menguranginya dalam perbuatan, demikian menurut sebagian penafsir: “Janganlah engkau menambahinya dengan melakukan perbuatan jahat yang dilarang hukum Taurat, atau menguranginya dengan menghilangkan perbuatan baik yang dituntut hukum Taurat.” Jangan menambahi dan menguranginya dalam pemikiran, demikian menurut sebagian yang lain: “Janganlah engkau menambahkan karangan-karanganmu sendiri, seolah-olah ketetapan-ketetapan ilahi itu bercacat cela, ataupun memperkenalkan, apalagi membebankan, tata cara ibadah apa pun selain apa yang sudah ditetapkan Allah. Jangan pula engkau menghilangkan, atau mengesampingkan, apa pun yang telah ditetapkan, sebagai sesuatu yang tidak perlu atau berlebihan.” Karya Allah itu sempurna, tidak ada sesuatu yang dapat ditambahkan kepadanya, ataupun dikurangkan daripadanya, tanpa membuatnya menjadi lebih buruk. Lihat 14. Orang Yahudi memahami perintah ini sebagai larangan untuk mengubah naskah atau huruf dalam hukum Taurat, meskipun hanya satu iota atau satu titik. Dan pada kehati-hatian serta ketelitian merekalah kita sangat berutang budi, di bawah Allah, atas kemurnian dan keutuhan kitab Taurat dalam bahasa Ibrani. Kita mendapati pagar peringatan seperti ini dibuat di sekeliling Perjanjian Baru pada bagian penutupnya (Why. 22:18-19). Musa memerintahkan mereka untuk berpegang pada perintah Allah (ay. 2), untuk melakukannya (ay. 5, 14), untuk melakukannya dengan setia (ay. 6), dan untuk melakukan perjanjian (ay. 13). Pendengaran harus diberikan dengan tujuan untuk berbuat, dan pengetahuan harus diperoleh dengan tujuan untuk bertindak. Perintah-perintah Allah merupakan jalan yang harus terus mereka tempuh, dan pedoman yang harus mereka pegang. Mereka harus mengendalikan diri mereka dengan aturan-aturan moral, menjalankan ibadah menurut tata upacara ilahi, dan menegakkan keadilan menurut hukum peradilan. Musa menutup khotbahnya (ay. 40) dengan mengulangi amanat ini: Berpeganglah pada ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu. Untuk apa hukum diciptakan, kalau bukan untuk dilaksanakan dan dipatuhi? * Sebelum menyerahkan jabatannya kepada Yosua, Musa diingatkan kembali akan loyalitasnya sebagai pemimpin dan umat Israel terhadap Tuhan. Musa kembali mengingatkan peraturan yang harus dipegang oleh bangsa Israel sebelum memasuki tanah Kanaan. (1, 5). Tanpa menaati semua perintah Tuhan, adalah hal yang mustahil bagi Israel dapat menikmati tanah Perjanjian dan mengalahkan penduduk di sana, apalagi mendiaminya. Mereka harus menaati firman Tuhan secara utuh (2) dan mengingat kisah pemusnahan Tuhan terhadap orang-orang yang mengikuti Baal-Peor (3-4). Mereka wajib melakukan semua perintah-Nya dengan setia (6). Hanya Israel yang memiliki hubungan dekat dengan-Nya, dapat memanggil-Nya, bahkan diberi aturan dan hukum yang adil (7, 8). Mengenai hal itu, Israel harus berhati-hati agar tidak melupakan kedahsyatan kuasa Tuhan yang telah mereka saksikan. Mereka tidak boleh membuat bentuk apa pun untuk menggantikan Allah dan menyembah kepadanya. Mereka dilarang keras menyembah alam semesta. Karena TUHAN Allah telah memilih mereka sebagai umat-Nya (9-20). Seorang pemimpin harus siap ketika harus menyerahkan jabatan kepada orang lain, bahkan mempersiapkan penerusnya. Tuhan juga ingin setiap orang siap memasuki situasi dan tempat yang baru. Sebagai orang percaya, kita harus mempertahankan identitas dan pengajaran kristiani sebagaimana yang disampaikan dalam Alkitab. Dalam hal ini ada pertolongan yang jelas karena Tuhan sendiri yang membuat diri-Nya dekat dengan kita. Kita dapat memanggil-Nya dan Dia akan menjawabnya. Penyembahan kita kepada Allah bukan sekadar balas jasa atas kebaikan-Nya, melainkan kesadaran akan kebesaran kasih setia-Nya. Renungkan: Serahkan pelayanan dan tugas kepada orang lain yang meneruskannya dengan sukacita. Jaga identitas sebagai orang percaya. Perhatikan kebaikan tempat atau orang yang kita tinggalkan, khususnya dalam hubungannya dengan Tuhan. Ep. Matius 15:1-9 15:1 Dung i ro ma angka sibotosurat dohot angka Parise sian huta Jerusalem mandapothon Jesus, ninna ma: 15:2 Boasa dilaosi angka siseanmi adat na sian angka natuatua? Ai ndang marburi nasida laho mangan. 15:3 Alai ninna ma mangalusi nasida: Ia hamu, boasa laosanmuna patik ni Debata, paingotingot adatmuna i? 15:4 Ai Debata do mamatikkon: "Pasangap ma amangmu dohot inangmu! Ia na mamburai amana dohot inana, sipusaon do!" 15:5 Alai hamu mamodahon: Ia adong na mandok tu amana tu inana: Pinelehon ma tagonan na patut hian pangurupingku di ho, ndang pola be halak i pasangaphon amana manang inana disi! 15:6 Gabe disegai hamu do patik ni Debata dibahen adatmuna i. 15:7 E hamu pangansi! Na sintong do dapot di hamu hata na sinurirangkon ni si Jesaya, di na nidokna i: 15:8 "Dipasangap pamangan ni bangso on do Ahu; alai anggo rohanasida dao do sian Ahu. 15:9 Jala magopo do pambahennasida pasangaphon Ahu, ai poda ni jolma do dipodahon nasida." 15:1 Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: 15:2 "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." 15:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? 15:4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. 15:5 Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, 15:6 orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. 15:7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: 15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. 15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Penjelasan: * Dalam pasal ini diceritakan tentang Yesus Tuhan kita, yang sebagai Nabi besar mengajar, sebagai Tabib yang ajaib menyembuhkan, dan sebagai Gembala yang agung memberikan makanan bagi domba-domba-Nya. Sebagai Bapa dari segala roh, Ia memberikan perintah kepada roh-roh itu; sebagai Penakluk Iblis, Ia mengusirnya; dan sebagai seorang yang peduli terhadap tubuh jasmani manusia, Ia memberikan makanan bagi mereka. Dalam pasal ini terdapat, I. Percakapan Kristus dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengenai adat istiadat dan peraturan manusia (ay. 1-9). II. Percakapan-Nya dengan orang banyak dan dengan murid-murid-Nya mengenai hal-hal yang menajiskan manusia (ay. 10-20). III. Pengusiran setan oleh-Nya dari tubuh anak perempuan seorang wanita Kanaan (ay. 21-28). IV. Penyembuhan-Nya atas semua orang yang dibawa kepada-Nya (ay. 29-31). V. Penyediaan makanan yang diadakan-Nya untuk empat ribu laki-laki, dari tujuh potong roti dan beberapa ikan kecil (ay. 32-39). Yesus Mengecam Ahli-ahli Taurat dan Orang-orang Farisi (15:1-9) Ada pepatah, tindakan-tindakan jahat melahirkan hukum-hukum yang baik. Keinginan guru-guru Yahudi yang menggebu untuk menyokong kedudukan mereka menimbulkan banyak perkataan yang sangat baik dari Juruselamat kita dalam menetapkan kebenaran, seperti yang disaksikan dalam perikop ini. I. Di sini kita melihat teguran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap murid-murid Kristus karena mereka tidak membasuh tangan sebelum makan. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah para pembesar dalam jemaat Yahudi. Mereka memperoleh berbagai keuntungan dengan memakai alasan kesalehan. Mereka memusuhi Injil Kristus, tetapi mewarnai perlawanan mereka itu dengan berpura-pura sangat mencintai hukum Musa. Padahal sebenarnya tidak ada niat seperti itu dalam hati mereka kecuali hanya untuk menyokong kekuasaan mereka yang sewenang-wenang atas hati nurani orang banyak. Mereka adalah orang-orang berpendidikan dan pandai berbisnis. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi di sini datang dari Yerusalem, kota suci, kota utama, ke mana suku-suku berziarah, dan di mana ditaruh kursi-kursi pengadilan. Mengingat hal ini, mereka seharusnya lebih baik daripada yang lain; namun, mereka malah yang lebih buruk. Perhatikanlah, hak-hak istimewa lahiriah, jika tidak dikembangkan dengan sebagaimana mestinya, biasanya membuat orang menjadi semakin sombong dan jahat. Yerusalem, yang seharusnya merupakan mata air yang murni, kini sudah menjadi kolam penampung kotoran yang beracun. Bagaimana ini, kota yang dahulu setia sekarang sudah menjadi sundal! Nah, jika orang-orang besar seperti ini yang menjadi penuduh, coba tebak, seperti apa tuduhan mereka itu? Aturan-aturan apa yang mereka lancarkan untuk menyerang murid-murid Kristus? Astaga, ternyata yang mereka tuduhkan itu adalah ketidaktaatan murid-murid Kristus terhadap peraturan-peraturan jemaat mereka (ay. 2), "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita?" Tuduhan ini mereka perkuat dengan memberikan satu contoh khusus, "Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." Sungguh suatu tindak pelanggaran yang sebenarnya sangat remeh! Kita bisa melihat di sini bahwa murid-murid Kristus membawa diri dengan baik, sehingga hanya inilah hal terburuk yang bisa dituduhkan kepada mereka. Lalu kita bertanya: . Apa adat istiadat nenek moyang ini, yaitu bahwa orang harus sering membasuh tangan, dan harus melakukannya setiap kali mereka mau makan. Mereka sangat menekankan hal ini sebagai suatu bagian dari perintah agama, dengan menganggap bahwa makanan yang mereka sentuh dengan tangan yang tidak dibasuh akan membuat mereka najis. Orang-orang Farisi mempraktikkan hal ini dalam hidup mereka, dan dengan tegas juga memaksakannya kepada orang lain. Jika orang tidak menjalankannya, mereka tidak menjatuhkan hukuman-hukuman sipil, melainkan menghubungkannya dengan masalah hati nurani, yaitu sebagai dosa terhadap Allah. Rabi Joses menegaskan bahwa "makan dengan tangan yang tidak dibasuh adalah dosa besar seperti berzinah." Dan Rabi Akiba lainnya, ketika ia dipenjara, selalu minta dikirimi air yang ia pakai untuk membasuh tangannya sebelum makan dan sekaligus untuk minum. Suatu kali ketika sebagian besar air itu tumpah dengan tidak sengaja, ia menggunakan sisa yang ada untuk membasuh tangannya, sekalipun karena itu ia tidak mempunyai air untuk minum. Ia berkata bahwa ia lebih memilih mati daripada melanggar adat istiadat nenek moyang. Bahkan lebih dari itu, orang Yahudi juga tidak mau makan dengan orang yang tidak membasuh tangannya terlebih dulu sebelum makan. Semangat yang membara untuk suatu perkara yang sepele ini tampak aneh jika kita tidak melihat bahwa hal ini pun dijalankan oleh para penindas gereja, yang tidak hanya senang menjalankan temuan-temuan mereka sendiri, tetapi juga keras dalam memaksakan tuntutan-tuntutan mereka kepada orang lain. . Apa pelanggaran terhadap adat istiadat atau peraturan yang dilakukan oleh murid-murid ini. Tampaknya mereka tidak membasuh tangan ketika mereka makan, dan ini sangat menyinggung hati orang-orang Farisi, sebab mereka ini sangat ketat dan teliti dalam hal-hal yang demikian. Adat kebiasaan ini sendiri sebenarnya tidak merugikan, dan pantas untuk dijalankan dalam masyarakat. Kita juga membaca tentang air yang digunakan untuk pembasuhan pada acara perkawinan yang dihadiri oleh Kristus sendiri (Yoh. 2:6), walaupun Kristus mengubahnya menjadi anggur, dan dengan demikian menghentikan penggunaan air untuk tujuan tersebut. Tetapi ketika pembasuhan tangan ini dijalankan dan dipaksakan sebagai suatu ritus dan upacara agama, dengan diberi penekanan yang sedemikian rupa, para murid, meskipun lemah dalam hal pengetahuan, sudah dididik dengan begitu baik sehingga mereka tidak mau mengikuti atau melaksanakannya, sekalipun ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sedang mengawasi mereka. Mereka sudah belajar ajaran serupa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, bahwa "Segala sesuatu halal bagiku." Tentu saja membasuh tangan sebelum makan itu diperbolehkan, tetapi aku tidak akan membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun, terutama oleh mereka yang berkata kepada jiwa mereka, "Tunduklah, supaya kami lewat menginjak engkau" (1Kor. 6:12). . Apa kecaman ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap murid-murid Kristus. Mereka berselisih dengan Kristus mengenai hal itu. Mereka menganggap bahwa Kristuslah yang memperbolehkan murid-murid melakukannya, mengikuti contoh perbuatan-Nya sendiri. "Mengapa murid-murid-Mu melanggar peraturan-peraturan ibadat? Dan mengapa Engkau membiarkan mereka melakukannya?" Memang baik mereka menyampaikan keluhan itu kepada Kristus, sebab murid-murid, walaupun mereka sendiri sadar mengenai apa yang telah mereka lakukan itu, mungkin tidak begitu mampu seperti yang diharapkan, untuk memberikan alasan mengapa mereka melakukannya. II. Berikut ini adalah jawaban Kristus terhadap kecaman itu, dan bagaimana Ia membenarkan murid-murid terhadap apa yang dituduhkan kepada mereka sebagai sebuah pelanggaran. Perhatikanlah, apabila kita berdiri teguh dalam kebebasan yang telah diberikan Kristus, maka Ia pun pasti akan menopang kita di dalam kebebasan itu. Dengan dua cara yang dipakai Kristus menanggapi mereka: . Dengan cara balik menuduh (ay. 3-6). Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi melihat selumbar dalam mata murid-murid Kristus, tetapi Kristus menunjukkan balok dalam mata mereka sendiri. Namun apa yang dituduhkan-Nya terhadap mereka bukanlah sekadar tuduhan balasan, sebab kita tidak akan dibenarkan jika mengutuk orang-orang yang mengutuk kita. Sebaliknya, tuduhan-Nya itu merupakan suatu kecaman terhadap adat istiadat mereka sendiri (dan kewenangan yang mereka gunakan sebagai dasar bagi tuduhan mereka); sehingga dengan demikian, ketidaktaatan terhadap adat istiadat itu bukan hanya diperbolehkan, melainkan juga membuat perlawanan terhadapnya menjadi suatu kewajiban untuk dilakukan. Kewenangan manusia tidak boleh dituruti jika itu bertentangan dengan kewenangan ilahi. (1) Tuduhan-Nya kepada mereka secara umum adalah, "Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu." Mereka menyebutnya adat istiadat nenek moyang, dengan menekankan pelaksanaannya yang sudah dari zaman dulu, dan kewenangan mereka yang mengharuskan pelaksanaannya, tetapi Kristus menyebut adat istiadat ini sebagai adat milik mereka. Perhatikanlah tuduhan memaksakan tuntutan-tuntutan yang tidak sah akan dikenakan pada orang-orang yang mendukung dan melaksanakan tuntutan-tuntutan itu, termasuk mereka yang terus menjaganya dan yang pertama kali menemukan serta memerintahkannya (Mi. 6:16). "Kamupun melanggar perintah Allah." Perhatikanlah, orang yang paling bersemangat dengan tuntutan-tuntutan mereka sendiri biasanya adalah yang paling ceroboh dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Inilah alasannya mengapa murid-murid Kristus harus berjaga-jaga terhadap segala tuntutan seperti itu, sebab, meskipun berbagai tuntutan itu pada awalnya hanya tampak melanggar kebebasan orang Kristen, lama-kelamaan semua itu akan berlawanan dengan kewenangan Kristus. Walaupun orang-orang Farisi, dalam perintah membasuh tangan sebelum makan ini, tidak mengaitkannya dengan perintah Allah mana pun, namun karena dalam hal-hal lain mereka mengaitkannya, Kristus membenarkan ketidakpatuhan murid-murid terhadap perintah itu. (2) Bukti dari tuduhan ini dapat dilihat dalam satu contoh, yakni pelanggaran mereka terhadap perintah kelima. - Mari kita lihat apa perintah Allah itu (ay. 4), dan apa peraturan serta sanksi dari hukum itu. Peraturan dari hukum itu adalah, "Hormatilah ayahmu dan ibumu." Ini diperintahkan oleh Bapa seluruh umat manusia, dan dengan menghormati orangtua yang telah dipakai Allah Sang Pemelihara sebagai alat untuk keberadaan kita, kita memberikan penghormatan kepada Dia yang adalah Pemberi kehidupan. Dia juga yang menaruh gambar-Nya pada mereka, seperti juga kepada kita. Semua kewajiban anak-anak kepada orangtua sudah termasuk dalam perintah untuk menghormati orangtua ini, yang merupakan sumber dan dasar bagi semua perintah yang lain. Jika aku ini bapa, di manakah hormat yang kepadaku itu? Juruselamat kita mengartikan perintah ini sebagai kewajiban anak-anak untuk memelihara dan melayani kebutuhan orangtua mereka, jika diperlukan, dan agar mereka selalu siap sedia untuk membantu dan menghibur orangtua mereka. "Hormatilah janda-janda," yang berarti, jagailah mereka (1Tim. 5:3). Sanksi dari hukum dalam perintah kelima ini adalah sebuah janji, yaitu supaya lanjut umurmu. Tetapi Juruselamat kita mengesampingkannya di sini, agar jangan ada orang yang berpikir bahwa itu hanyalah perintah yang terpuji dan menguntungkan. Sebaliknya, Ia menekankan hukuman yang akan ditimpakan untuk pelanggaran terhadap perintah ini yang diambil dari kitab lain, yang menyatakan bahwa kewajiban ini teramat penting, "Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati." Hukuman ini tertulis dalam Keluaran 21:17. Dosa mengutuki orangtua di sini dipertentangkan dengan kewajiban untuk menghormati mereka. Orang yang mencela orangtua mereka, atau yang mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi atas mereka, yang menghina mereka, atau yang melontarkan kata-kata cemooh dan kasar terhadap mereka, melanggar perintah ini. Jika melontarkan kata "kafir" kepada sesama kita bisa dikenai hukuman yang begitu berat, apalagi jika kita sampai berbuat demikian terhadap ayah kita? Melihat maksud Juruselamat kita terhadap hukum ini, tampak bahwa tidak melayani atau tidak menolong orangtua juga bisa disebut sebagai mengutuki mereka. Sekalipun bahasa yang kita pakai cukup menunjukkan rasa hormat dan tidak melecehkan, namun apa gunanya itu jika perbuatan kita tidak sesuai? Ini sama saja dengan orang yang berkata, "Baik, Bapa," tetapi ia tidak pergi (21:29). - Mari kita lihat apa yang menjadi pertentangan antara adat istiadat nenek moyang ini dengan perintah kelima. Pertentangan itu tidak tampak langsung dan jelas, melainkan tersirat. Ahli-ahli tafsir itu sudah memberikan bermacam-macam peraturan yang sedemikian rupa sehingga membuat mereka dapat menghindar dengan mudah dari kewajiban menjalankan perintah kelima ini (ay. 5, 6). Kamu sudah mendengar apa yang dikatakan Allah, tetapi kamu berkata begini, begitu. Perhatikanlah, apa yang dikatakan orang, bahkan orang yang terhormat, yang terpelajar, dan yang berkuasa sekalipun, harus diuji dengan apa yang dikatakan Allah, dan jika didapati bahwa perkataan mereka itu bertentangan atau tidak berpadanan, maka kita boleh dan harus menolaknya (Kis. 4:19). Demikianlah Kristus membenarkan murid-murid-Nya dalam ketidakpatuhan mereka terhadap adat istiadat nenek moyang, dan inilah yang didapat ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dari teguran mereka. Kita tidak melihat tanggapan balik dari mereka. Seandainya pun tidak puas, mereka pasti akan diam saja, sebab tidak dapat menahan kuasa yang dengannya Kristus berbicara.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
NEXT: Jamita HKBP Minggu, 22 September 2024 - KEBESARAN ALLAH DALAM SELURUH CIPTAANYA - Mazmur 104, 1-3 + 13-24 PREV: Jamita HKBP Minggu, 25 Agustus 2024 - Efesus 6:10-20 Minggu, 26 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 26 April 2026 - HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAK-SORAI - Kisah Rasul 2:22-28 Minggu, 19 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 19 April 2026 - Marlas Roha di Bagasan Tuhan (Bersukacita dalam Tuhan) - Habakuk 3:10-19
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |