f Jamita HKBP Minggu, 22 September 2024 - KEBESARAN ALLAH DALAM SELURUH CIPTAANYA - Mazmur 104, 1-3 + 13-24 - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
View : 969 kali
Mazmur 104, 1-3 + 13-24
Kebesaran TUHAN dalam segala ciptaan-Nya
104:1 Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, 104:2 yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda, 104:3 yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Mu, yang bergerak di atas sayap angin,
104:13 Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu. 104:14 Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah 104:15 dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia. 104:16 Kenyang pohon-pohon TUHAN, pohon-pohon aras di Libanon yang ditanam-Nya, 104:17 di mana burung-burung bersarang, burung ranggung yang rumahnya di pohon-pohon sanobar; 104:18 gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan, bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk. 104:19 Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu, matahari yang tahu akan saat terbenamnya. 104:20 Apabila Engkau mendatangkan gelap, maka haripun malamlah; ketika itulah bergerak segala binatang hutan. 104:21 Singa-singa muda mengaum-aum akan mangsa, dan menuntut makanannya dari Allah. 104:22 Apabila matahari terbit, berkumpullah semuanya dan berbaring di tempat perteduhannya; 104:23 manusiapun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang. 104:24 Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.

Penjelasan:
* Keagungan Ilahi (104:1-3)
Ketika kita sedang menjalankan ibadah apa saja, kita harus bangkit untuk berpegang kepada Allah di dalamnya (Yes. 64:7). Begitulah yang dilakukan Daud di sini. “Kemarilah hai jiwaku, di manakah engkau? Apakah yang engkau pikirkan? Ada pekerjaan di sini yang harus dilakukan, pekerjaan baik, pekerjaan para malaikat; mulailah dengan sungguh-sungguh, biarlah segenap kekuatan dan kemampuanmu dikerahkan dan dicurahkan untuknya: pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Dalam ayat-ayat ini,

Si pemazmur menengadah kepada kemuliaan ilahi yang bersinar di dunia atas, yang, meskipun merupakan salah satu hal yang tidak terlihat, dibuktikan oleh iman. Dengan begitu hormat dan rasa takjub yang kudus ia memulai permenungannya dengan pengakuan itu: TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Adalah sukacita orang-orang kudus bahwa Dia yang adalah Allah mereka merupakan Allah yang besar. Kemegahan seorang raja merupakan kebanggaan dan kesenangan semua rakyatnya yang baik. Keagungan Allah di sini dikemukakan melalui berbagai macam contoh, yang merujuk pada sebuah sosok yang begitu didambakan oleh raja-raja besar ketika tampil di muka umum. Perlengkapan mereka, dibandingkan dengan perlengkapan-Nya (bahkan dengan raja-raja timur, yang teramat sangat menyukai kemegahan), hanyalah seperti cahaya ulat kelap-kelip dibandingkan dengan cahaya matahari, ketika ia bersinar dengan teriknya. Raja-raja tampak hebat,

1. Dalam jubah mereka. Dan apakah jubah Allah itu? Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak (ay. 1). Allah dilihat dalam segala pekerjaan-Nya, dan pekerjaan-pekerjaan-Nya ini menyatakan bahwa Dia itu mahabijak dan mahabaik, dan maha apa saja yang besar. Engkau berselimutkan terang seperti kain (ay. 2). Allah adalah terang (1 Yoh. 1:5), Bapa segala terang (Yak. 1:17). Ia bersemayam dalam terang (1Tim. 6:16). Ia mengenakan terang pada diri-Nya sendiri. Tempat kediaman kemuliaan-Nya adalah di sorga tertinggi, terang yang diciptakan pada hari pertama itu (Kej. 1:3). Dari semua hal yang kasat mata, terang paling dekat sifatnya dengan roh, dan oleh sebab itu dengan teranglah Allah berkenan menyelimuti diri-Nya, yakni, menyatakan diri-Nya dengan keserupaan itu, seperti manusia dilihat dari pakaian yang menutupi mereka. Dan hanya dengan demikian sajalah, karena wajah-Nya tidak dapat dilihat.

2. Di dalam istana-istana atau tenda-tenda mereka, apabila mereka sedang berada di medan perang. Dan apakah istana dan tenda Allah itu? Ia membentangkan langit seperti tenda (ay. 2). Demikianlah yang diperbuat-Nya pada awal mula, ketika Ia menciptakan langit, yang dinamai dalam bahasa Ibrani sebagai sesuatu yang diperluas, atau dibentangkan (Kej. 1:7). Ia menjadikannya untuk membagi air sebagaimana tenda atau tirai membagi satu ruangan dari ruangan yang lain. Demikianlah yang masih diperbuat-Nya: Ia kini membentangkan langit seperti tenda, menjaganya di atas bentangan, dan langit itu terus ada sampai hari ini sesuai dengan ketetapan-Nya. Wilayah-wilayah di udara terbentang melingkupi bumi, seperti seprei melingkupi tempat tidur, untuk menjaganya tetap hangat, dan dipasang di antara kita dan dunia atas, untuk meredam cahayanya yang menyilaukan. Sebab, meskipun Allah berselimutkan terang, namun, dalam belas kasihan-Nya kepada kita, Ia membuat kegelapan menjadi persembunyian-Nya. Awan meliputi Dia. Luasnya tenda ini dapat mengarahkan kita untuk mempertimbangkan betapa besar, betapa agungnya Dia yang memenuhi langit dan bumi. Ia mempunyai kamar-kamar, kamar-kamar loteng-Nya (begitulah arti kata itu), yang baloknya Ia dirikan di air, air yang berada di atas langit (ay. 3), karena Ia telah mendasarkan bumi di atas laut dan sungai-sungai, yakni air yang berada di bawah langit. Walaupun udara dan air adalah benda-benda yang tidak tetap dan cair, namun, dengan kuasa ilahi, keduanya dijaga tetap ketat dan kokoh di tempat yang ditentukan bagi mereka sebagaimana kamar ditopang oleh balok dan kasau. Betapa Dia adalah Allah yang besar, yang kamar hadirat-Nya ditegakkan seperti itu, yang terpancang sedemikian rupa!

* Ia memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Nya (ay. 13), dari kamar-kamar yang dibicarakan tadi (ay. 3), yang baloknya Ia dirikan di air, kamar-kamar persediaan itu, awan-awan yang menyuling hujan deras. Gunung-gunung yang tidak disirami oleh sungai-sungai, seperti Mesir oleh Sungai Nil, disirami oleh hujan dari langit, yang disebut batang air Allah ( 65:10), seperti Kanaan (Ul. 11:11-12). Demikianlah bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu, entah dengan hujan yang diminumnya (bumi tahu kapan ia merasa cukup. Sayang jika ada orang yang tidak mengetahuinya) atau dengan buah-buah yang dihasilkannya. Adalah kepuasan bagi bumi untuk menopang buah pekerjaan Allah demi keuntungan umat manusia, sebab dengan demikian ia memenuhi maksud dari penciptaannya. Makanan yang oleh Allah dikeluarkan dari dalam tanah (ay. 14) adalah buah pekerjaan-Nya, yang membuat bumi kenyang. Amatilah betapa beraneka ragam dan berharganya hasil-hasil bumi.

    1. Bagi hewan ternak tersedia rumput, dan binatang-binatang liar, yang tidak hidup dari rumput, memangsa binatang-binatang pemakan rumput. Bagi manusia tersedia sayur-mayur, jenis rumput yang lebih baik (dan makan dengan sayur-mayur dan akar-akaran itu janganlah dipandang rendah). Bahkan, ia disediakan anggur, minyak, dan makanan (ay. 15). Dapat kita amati di sini, berkenaan dengan makanan kita, apa yang akan membantu kita baik untuk bersikap rendah hati maupun untuk bersyukur.
        (1) Untuk membuat kita bersikap rendah hati, marilah kita pertimbangkan bahwa kita perlu bergantung kepada Allah untuk segala penopang hidup ini (kita hidup dari amal sedekah. Kita harus ditemukan oleh-Nya, sebab tangan kita sendiri tidak memadai). Semua makanan kita berasal dari bumi, untuk mengingatkan kita dari mana kita berasal dan ke mana kita harus kembali. Oleh karena itu janganlah kita berpikir untuk hidup dari roti saja, sebab roti hanya memberi makan tubuh, tetapi juga harus datang kepada firman Allah untuk mendapatkan makanan yang langgeng sampai pada kehidupan kekal. Marilah juga kita pertimbangkan bahwa dalam hal ini kita merupakan kawan sesama dengan binatang. Bumi yang sama, bidang tanah yang sama, yang mengeluarkan rumput bagi hewan, juga mengeluarkan gandum bagi manusia.
        (2) Untuk membuat kita bersyukur, marilah kita pertimbangkan,
            [1] Bahwa Allah tidak hanya memberikan persediaan bagi kita, tetapi juga bagi hamba-hamba kita. Hewan yang berguna bagi manusia diperhatikan secara khusus. Rumput dibuat tumbuh dengan amat berlimpah bagi mereka, sementara singa-singa muda, yang tidak berguna untuk manusia, sering kali kekurangan dan menderita kelaparan.
            [2] Bahwa makanan kita ada di dekat kita, dan siap sedia untuk kita. Karena bertempat tinggal di bumi, maka di sana pulalah gudang penyimpanan kita, dan tidak bergantung pada kapal-kapal saudagar yang mendatangkan makanannya dari jauh (Ams. 31:14).
            [3] Bahwa dari hasil-hasil bumi kita bahkan mendapatkan bukan hanya apa yang diperlukan tetapi juga apa yang bisa dinikmati. Jadi, begitu baiknya Tuan yang kita layani. Pertama, bukankah alam membutuhkan sesuatu untuk menopangnya, dan untuk memperbaiki apa yang rusak dalam dirinya setiap hari? Inilah makanan, yang menyegarkan hati manusia, dan oleh sebab itu disebut penopang hidup (atau juga makanan pokok [the staff of life] -” pen.). Janganlah orang yang mendapat makanan ini mengeluh kekurangan. Kedua, bukankah alam menginginkan yang lebih, dan mendambakan sesuatu yang menyenangkan? Inilah anggur, yang menyukakan hati manusia, yang menyegarkan roh, dan menggembirakannya, apabila digunakan dengan sesuai dan secukupnya, agar kita bukan hanya bisa menjalankan pekerjaan sehari-hari, tetapi juga menjalankannya dengan riang hati. Sangat disayangkan bahwa anggur sampai digunakan untuk membebani hati, dan membuat manusia tidak layak menjalankan kewajibannya, padahal anggur diberikan untuk menyegarkan hati dan menyemangatinya untuk menjalankan kewajiban mereka. Ketiga, bukankah alam itu lebih riang, dan bukankah ia mendambakan sesuatu sebagai perhiasan juga? Inilah apa yang juga dikeluarkan dari bumi, yaitu minyak untuk membuat muka berseri, agar wajah bukan hanya gembira tetapi juga rupawan. Alhasil, kita pun menjadi lebih menyenangkan bagi satu sama lain.
    2. Bahkan, pemeliharaan ilahi tidak hanya menyediakan binatang-binatang dengan makanan mereka yang sesuai, tetapi juga tumbuh-tumbuhan dengan makanan mereka sendiri (ay. 16): kenyang pohon-pohon TUHAN, bukan hanya pohon-pohon manusia, yang mereka rawat dan perhatikan, di kebun-kebun anggur mereka, di taman-taman mereka, dan di tempat-tempat lain, tetapi juga pohon-pohon Allah, yang tumbuh di padang gurun, dan dirawat hanya dengan pemeliharaan-Nya. Pohon-pohon itu kenyangdan tidak kekurangan makanan. Bahkan pohon-pohon aras di Libanon, sebuah hutan terbuka, meskipun tinggi dan besar sekali, dan membutuhkan sangat banyak sari makanan, mendapat cukup makanan dari bumi. Mereka adalah pohon-pohon yang telah ditanam-Nya, dan yang oleh sebab itu akan dilindungi dan dipelihara-Nya. Kita dapat menerapkan ini pada pohon kebenaran, yang ditanam oleh Tuhan, ditanam di kebun anggur-Nya. Pohon-pohon ini kenyang, sebab apa yang ditanam Allah pasti akan disirami-Nya, dan mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita ( 92:14).

III. Ia memastikan agar mereka benar-benar tinggal di tempat kediaman yang cocok. Kepada manusia Allah telah memberikan kebijaksanaan untuk membangun tempat bagi diri mereka sendiri dan bagi hewan ternak yang berguna untuk mereka. Tetapi ada sejumlah makhluk yang tempat kediamannya disediakan secara lebih langsung oleh Allah.

    1. Burung-burung. Sejumlah burung, dengan naluri, membuat sarang mereka di semak-semak dekat sungai (ay. 12): di dekat mata-mata air yang mengalir di antara gunung-gunung, diamsebagian dari burung-burung di udara, yang bersiul dari antara daun-daunan. Mereka bernyanyi, sesuai dengan kemampuan mereka, untuk menghormati Pencipta mereka yang senantiasa memberi mereka dengan murah hati, dan nyanyian mereka ini dapat mempermalukan keheningan kita. Bapakita di sorga memberi mereka makan (Mat. 6:26), dan oleh sebab itu mereka riang dan gembira, dan tidak khawatir akan hari esok. Karena burung-burung diciptakan untuk beterbangan di atas bumi (seperti yang kita dapati dalam Kejadian 1:20), maka mereka bersarangdi tempat tinggi, di pucuk-pucuk pepohonan (ay. 17). Tampaknya seolah-olah inilah yang dituju alam dalam menanam pohon-pohon aras di Libanon, agar pohon-pohon itu bisa menjadi penadah bagi burung-burung. Mereka yang terbang menuju sorga tidak akan kekurangan tempat istirahat. Burung ranggung disebutkan secara khusus. Pohon-pohon sanobar, yang tinggi menjulang, adalah rumahnya, istananya.
    2. Binatang-binatang yang lebih kecil (ay. 18): kambing-kambing hutan, yang tidak mempunyai kekuatan atau kecepatan untuk melindungi diri sendiri, dituntun oleh naluri ke gunung-gunung tinggi, yang menjadi tempat perlindungan bagi mereka. Dan kelinci-kelinci, juga binatang-binatang yang tidak berdaya, mendapatkan perlindungan di bukit-bukit batu, di mana mereka bisa menantang binatang-binatang buas. Bila Allah memberikan persediaan yang sedemikian bagi makhluk-makhluk yang lebih lemah, bukankah Dia sendiri akan menjadi tempat perlindungan dan tempat kediaman bagi umat-Nya sendiri?


* Keagungan Ilahi (104:19-30)
Di sini kita diajar untuk memuji dan membesarkan Allah,

    I. Atas peredaran dan pergantian siang malam yang terus-menerus, dan pemerintahan matahari serta bulan atasnya. Bangsa kafir begitu tergerak oleh cahaya serta pengaruh matahari dan bulan, dan manfaat keduanya bagi bumi, sehingga mereka menyembahnya sebagai ilah-ilah. Oleh sebab itu Kitab Suci memanfaatkan segala kesempatan untuk menunjukkan bahwa ilah-ilah yang mereka sembah adalah makhluk-makhluk dan hamba-hamba dari Allah yang benar (ay. 19): Ia membuat bulan menjadi penentu waktu, untuk mengukur bulan-bulan, mengatur musim-musim untuk kepentingan bercocok tanam, dan mengatur gelombang-gelombang. Kepenuhan dan perubahan, serta pertambahan dan pengurangan bulan tepat mengikuti ketentuan Sang Pencipta. Begitu pula dengan matahari, sebab ia tetap terbenam pada waktu dan tempat yang tepat seolah-olah ia makhluk berakal dan tahu apa yang diperbuatnya. Dalam hal ini Allah mempertimbangkan kenyamanan manusia.
        1. Bayang-bayang senja menemani istirahat di malam hari (ay. 20): apabila Engkau mendatangkan gelap, maka hari pun malamlah, yang meskipun pekat memberikan keindahan pada alam, dan menjadi seperti penghalau terang di siang hari. Di bawah perlindungan malam segala binatang hutan bergerak untuk mencari makan, yang takut mereka lakukan di siang hari, sebab Allah telah membuat segala binatang di bumi takut dan gentar kepada manusia (Kej. 9:2), yang banyak mendatangkan keamanan bagi manusia sama seperti kehormatan bagi Allah. Lihatlah betapa hampir serupa dengan sifat binatang-binatang buas orang-orang yang menunggu senja (Ayb. 24:15) dan yang bersekutu dengan pekerjaan-pekerjaan kegelapan yang tidak berbuah. Dan bandingkanlah dengan ini bahaya dari ketidakacuhan dan kesedihan, yang keduanya seperti kegelapan bagi jiwa. Ketika, dalam kedua hal tersebut, hari mulai malam, maka bergeraklah segala binatang hutan. Pada waktu itulah godaan-godaan Iblis menyerang kita dan mengambil keuntungan melawan kita. Pada waktu itulah singa-singa muda mengaum-aum akan mangsa. Dan, sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli ilmu alam, auman mereka membuat takut binatang-binatang jinak sehingga mereka tidak mempunyai kekuatan ataupun keberanian untuk menghindar dari binatang-binatang buas itu, padahal mereka bisa. Dengan demikian mereka menjadi mangsa yang empuk bagi binatang-binatang itu. Dikatakan bahwa mereka menuntut makanannya dari Allah, karena makanan itu tidak dipersiapkan bagi mereka oleh pemeliharaan dan perhitungan manusia, tetapi secara lebih langsung oleh pemeliharaan Allah. Auman singa-singa muda, seperti teriakan burung-burung gagak, ditafsirkan sebagai menuntut makanan dari Allah. Bukankah Allah memberikan tafsiran ini pada apa yang sekadar merupakan bahasa alam, bahkan pada makhluk-makhluk yang berbisa? Dan bukankah Dia akan memberikan tafsiran yang jauh lebih baik lagi pada apa yang merupakan bahasa anugerah dari umat-Nya sendiri, meskipun bahasa itu lemah dan berantakan, meskipun berupa keluhan-keluhan yang tidak terucapkan?
        2. Cahaya pagi menemani pekerjaan di siang hari (ay. 22-23): apabila matahari terbit (sebab, sama seperti ia tahu akan saat terbenamnya, demikian pula, syukur kepada Allah, ia tahu akan saat terbitnya kembali), maka pada waktu itulah binatang-binatang buas kembali ke tempat peristirahatan mereka. Bahkan mereka mempunyai perkumpulan mereka sendiri, sebab mereka berkumpul semuanya dan berbaring di tempat perteduhannya. Dan ini sungguh merupakan kasih setia yang besar bagi anak-anak manusia, sebab ketika mereka sedang berada di luar selama waktu antara matahari terbit dan terbenam, sebagaimana yang biasa dilakukan para pelancong, mereka terhindar dari pertemuan dengan binatang-binatang buas, sebab binatang-binatang itu tidak berkeliaran di luar pada saat itu. Karena itu, para pemalas tidak punya dalih untuk tidak bekerja di siang hari dengan alasan bahwa ada singa di jalan. Oleh sebab itu, pada saat itu manusia pun keluarlah ke pekerjaannya. Binatang-binatang pemangsa bergerak dengan takut. Manusia maju dengan berani, sebagai orang yang berkuasa. Binatang-binatang bergerak untuk merusak dan berbuat jahat. Manusia maju untuk bekerja dan berbuat baik. Ada pekerjaan setiap hari, yang harus dikerjakan pada hari itu, yang harus ditekuni manusia setiap pagi (sebab terang disediakan bagi kita untuk bekerja, bukan bermain). Dan pekerjaan itu harus terus ditekuninya sampai senja hari. Akan ada cukup banyak waktu untuk beristirahat ketika malam tiba, ketika tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.














NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 29 September 2024 - Pertolongan Kita Adalah Dalam Nama Tuhan - Mazmur 124:1-8 Mazmur 124:1-8


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 1 September 2024 - Ev. Ulangan 4:1-2, 6-9 - Ep. Matius 15:1-9 - MINGGU XIV DUNG TRINITATIS


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de