f Khotbah HKBP Minggu, 13 Oktober 2024 - Orang benar akan hidup oleh percayanya - Habakuk 2:1-4 - hkbp.lagu-gereja.com | Lagu gereja HKBP | BUKU ENDE NOT ANGKA
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
hkbp.lagu-gereja.com
 
View : 1286 kali
Renungan HKBP 2024
Khotbah HKBP Minggu, 13 Oktober 2024 - Orang benar akan hidup oleh percayanya - Habakuk 2:1-4

Sebagai Kaum Muda, Hiduplah dalam kesabaran, iman, dan keberanian, serta percaya bahwa Tuhan akan menggenapi janji-Nya pada waktu yang tepat.

KHOTBAH:
Habakuk 2:1-4
Batak:
2:1 Di atas panatapanku do ahu jongjong, jala tindang ahu tu partanobatoan, jala manatapnatap ahu marnida manang aha sidohononna tu ahu, jala manang aha alusna taringot tu alualungku.
2:2 Jadi ninna Jahowa mangalusi ahu: Surathon ma pangungkapon i, jala uhirhon tu angka batu panuratan, asa tangkas tarjaha nang pamolus.
2:3 Ai taringot tu tingki sogot dope pangungkapon i, jala hapogan mareahi ujung, jala ndang margabus. Tung sura pe lumemba, sai paimaima ma i, ai sai na ro do sogot ndang tagamon tartading.
2:4 Ida ma na teal do ibana, ndang tigor rohana di bagasan; alai anggo halak partigor i mangolu do binahen ni parsihohotna marhaporseaon.

Indonesia:
Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya
2:1 Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. 2:2 Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. 2:3 Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. 2:4 Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.

Baca Juga:


Penjelasan:
Habakuk 2:1-4 adalah bagian dari Alkitab yang memberikan pelajaran penting tentang iman dan kesetiaan kepada Tuhan, terutama di masa-masa sulit. Ayat ini berisi janji Tuhan bahwa keadilan akan datang pada waktunya, meskipun mungkin tampaknya terlambat menurut pandangan manusia. Berikut adalah beberapa makna yang relevan bagi kita:

1) Kesabaran dan Penantian dalam Iman (Ayat 3):
Tuhan mengingatkan Habakuk bahwa penglihatan atau janji-Nya pasti akan digenapi, meskipun mungkin terasa lama. Bagi remaja atau mahasiswa, pesan ini penting karena banyak yang sering merasa cemas atau tidak sabar ketika hasil dari usaha mereka tidak langsung terlihat. Ini bisa berkaitan dengan studi, hubungan, atau cita-cita. Ayat ini mengajarkan bahwa dalam segala hal, butuh kesabaran, dan Tuhan bekerja sesuai dengan waktu-Nya, bukan waktu kita.

2) Tetap Beriman dalam Tantangan (Ayat 4):
"Orang benar akan hidup oleh iman." Ini adalah inti dari pesan Tuhan kepada Habakuk. Bagi remaja atau mahasiswa yang sering menghadapi tantangan, seperti tekanan akademis, sosial, atau pencarian identitas diri, ayat ini menegaskan pentingnya memiliki iman yang teguh. Meski keadaan sekitar terlihat sulit, Tuhan meminta untuk tetap berpegang pada iman dan kesetiaan, karena iman adalah fondasi kehidupan yang benar di hadapan Tuhan.

3) Keberanian Berdiri di Tengah Kebingungan:
Dalam ayat pertama, Habakuk menyatakan akan berdiri di tempat penjagaan dan menantikan jawaban dari Tuhan. Ini mengajarkan sikap tegas dan penuh keyakinan dalam menghadapi ketidakpastian. Bagi remaja atau mahasiswa yang sering mengalami kebingungan tentang masa depan atau jalan hidup mereka, ini adalah panggilan untuk berani mengambil sikap dan mempercayakan perjalanan hidup mereka kepada Tuhan.

4) Visi Jangka Panjang:
Ayat ini juga mengajarkan pentingnya memiliki visi jangka panjang. Remaja dan mahasiswa sering kali terburu-buru untuk melihat hasil yang cepat, tetapi Habakuk diajarkan untuk menantikan waktu yang tepat. Ini menekankan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dengan cepat, namun melalui proses dan ketekunan.

Dengan demikian, Habakuk 2:1-4 mengajarkan kepada kita untuk hidup dalam kesabaran, iman, dan keberanian, serta percaya bahwa Tuhan akan menggenapi janji-Nya pada waktu yang tepat.


Penjelasan Lanjutan:
* Menantikan Allah; Umat Mendapatkan Arahan (2:1-4)

    Dalam perikop ini,

I. Nabi Habakuk dengan rendah hati menantikan Allah (ay. 1):
“Aku mau berdiri di tempat pengintaianku, seperti pengawal di tembok kota yang dikepung, atau di perbatasan negeri yang diserang, yang berharap cemas untuk mendapatkan berita. Aku mau melihat ke atas, mau melihat ke sekeliling, mau melihat ke dalam, mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku. Aku mau mendengar dengan penuh perhatian kata-kata dari mulut-Nya dan mencermati dengan saksama langkah-langkah penyelenggaraan-Nya, supaya aku tidak kehilangan sedikit pun petunjuk atau arahan-Nya. Aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya di dalam diriku,” (demikian ayat itu dapat dibaca) “apa yang akan digubahkan kepadaku oleh roh nubuat di dalam diriku, melalui jawaban atas keluhan-keluhanku.” Bahkan dalam keadaan biasa pun, Allah tidak hanya berbicara kepada kita melalui firman-Nya, tetapi juga berbicara di dalam diri kita melalui hati nurani kita sendiri, dengan berbisik kepada kita, inilah jalan, berjalanlah mengikutinya. Dan kita harus memperhatikan suara Allah baik dalam firman-Nya maupun dalam hati nurani kita. Berdirinya sang nabi di atas menara, atau di tempat yang tinggi, menyiratkan kebijaksanaannya, dalam memanfaatkan pertolongan dan sarana yang dapat dijangkaunya untuk mengetahui kehendak Allah, dan mendapat arahan menyangkut hal itu. Orang yang ingin mendengar dari Allah harus menarik diri dari dunia, dan berdiri mengatasinya. Ia harus memusatkan perhatiannya, menetapkan pikirannya, mempelajari Kitab Suci, belajar dari pengalaman dan orang-orang yang berpengalaman, terus bertekun dalam doa, dan dengan demikian membuat dirinya berdiri tegak di menara. Berdirinya sang nabi di tempat pengintaiannya menyiratkan kesabaran, kesetiaan, dan ketetapan hatinya. Dia mau menantikan waktunya, dan bertahan menghadapi terpaan cuaca, seperti yang dilakukan pengintai, asalkan ia mendapatkan jawaban. Dia ingin mengetahui apa yang akan difirmankan Allah kepadanya, bukan hanya untuk kepuasannya sendiri, tetapi juga agar ia, sebagai nabi, dapat memberikan kepuasan kepada orang lain, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, apabila dia dikecam dan dibantah. Dalam hal ini Nabi Habakuk menjadi teladan bagi kita.

1. Apabila kita diombang-ambingkan oleh keraguan akan cara-cara yang dipakai Sang Penyelenggara, tergoda untuk berpikir bahwa takdirlah, atau peruntunganlah, dan bukan Allah yang bijaksana, yang memerintah dunia, atau bahwa jemaat sudah ditinggalkan, dan kovenan Allah dengan umat-Nya sudah dibatalkan dan dikesampingkan, maka pada saat itulah kita harus berupaya sekuat tenaga untuk memperlengkapi diri kita dengan pertimbangan-pertimbangan yang benar untuk menjernihkan masalah ini. Kita harus berdiri di tempat pengintaian untuk berjaga-jaga terhadap segala godaan, agar godaan itu tidak menguasai kita. Kita harus berdiri tegak di atas menara, untuk melihat kalau-kalau kita bisa menemukan sesuatu yang dapat membungkam godaan itu dan mengatasi kesulitan yang kita keluhkan. Kita harus berbuat seperti yang diperbuat sang pemazmur, memikir-mikir hari-hari zaman purbakala dan mencari-cari dengan tekun (Mzm. 77:7). Kita harus masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan di sana berusaha untuk memahami kesudahan semuanya ini (Mzm. 73:17). Kita tidak boleh membuka pintu bagi keraguan kita, tetapi harus berupaya sebaik-baiknya untuk keluar dari keraguan itu.

2. Apabila kita sudah berdoa, dengan mencurahkan segala keluhan dan permohonan kita di hadapan Allah, kita harus memperhatikan dengan saksama jawaban apa yang diberikan Allah melalui firman-Nya, Roh-Nya, dan penyelenggaraan-Nya, terhadap permohonan kita yang penuh kerendahan hati ini. Saat Daud berkata, aku akan mengarahkan doaku kepada-Mu, seperti anak panah diarahkan ke sasaran, ia menambahkan, aku akan memantau, akan memperhatikan doaku, seperti orang memperhatikan panah yang telah ditembakkannya (Mzm. 5:4, KJV). Kita harus mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN (Mzm. 85:9).

3. Apabila kita hendak membaca dan mendengar firman Allah, dan dengan demikian mencari petunjuk dari sabda Allah yang hidup, kita harus menetapkan hati untuk memperhatikan apa yang akan difirmankan Allah kepada kita, sesuai dengan keadaan kita. Firman apa yang akan disampaikan-Nya kepada jiwa kita, entah itu firman yang meyakinkan kita akan kebersalahan kita, atau yang memberi kita peringatan, nasihat, dan penghiburan, supaya kita dapat menerimanya, dan tunduk pada kuasanya. Dan supaya kita dapat mempertimbangkan jawaban apa yang akan kita berikan, serta tanggapan apa yang akan kita buat terhadap firman Allah, saat kita ditegur olehnya.

4. Apabila kita diserang melalui perbantahan dengan Allah dan penyelenggaraan-Nya, seperti yang tampaknya dihadapi oleh Nabi Habakuk di sini -” dikelilingi, dikepung, seperti di dalam menara, oleh sekumpulan penentang -” kita harus mempertimbangkan cara menjawab mereka. Kita harus mendapatkan petunjuk dari Allah, dan mendengarkan apa yang difirmankan-Nya kepada kita untuk meyakinkan kita. Kita juga harus siap menyampaikannya kepada orang lain, saat kita dimintai pertanggungan jawab, untuk meyakinkan mereka, tentang pengharapan yang ada pada kita (1Ptr. 3:15), dan memohon kata-kata hikmat dari Allah, agar pada saat itu juga kita diajar apa yang harus kita katakan.

II. Allah dengan penuh rahmat menjumpai Habakuk. Sebab Ia tidak akan mengecewakan pengharapan umat-Nya yang dilandasi iman, yang menanti untuk mendengar apa yang akan difirmankan-Nya kepada mereka. Sebaliknya, Dia akan berbicara tentang damai, akan menjawab dengan kata-kata yang ramah dan yang menghiburkan (Za. 1:13). Nabi Habakuk telah mengeluh akan merajalelanya orang Kasdim, yang penglihatan tentangnya sudah diberikan Allah kepadanya. Sekarang, untuk menenangkan Habakuk mengenai hal itu, Allah di sini memberinya penglihatan lebih jauh tentang kejatuhan dan kehancuran orang Kasdim, seperti Yesaya, sebelum ini, setelah menubuatkan penawanan di Babel, juga menubuatkan kehancuran Babel. Nah, karena peristiwa yang besar dan penting ini telah diberitahukan kepada Habakuk lewat penglihatan, maka diupayakan agar penglihatan itu diberitahukan kepada semua orang, dan diteruskan kepada angkatan yang akan datang, yang akan melihat penggenapan nubuatan itu.

1. Nabi Habakuk harus menuliskan penglihatan itu (ay. 2).
Begitu pula halnya, waktu Rasul Yohanes mendapat penglihatan tentang Yerusalem Baru, dia diperintahkan untuk menuliskannya (Why. 21:5). Habakuk harus menuliskannya, agar dia dapat menanamkannya di dalam pikirannya, dan membuatnya makin jelas bagi dirinya sendiri, tetapi terutama supaya penglihatan itu dapat diberitahukan kepadasorang-orang di tempat yang jauh dan diteruskan kepada angkatan-angkatan yang akan datang. Apa yang diturunkan melalui tradisi mudah disalahpahami dan dapat mengalami penyimpangan, tetapi apa yang tertulis dibuat menjadi pasti, dan terpelihara keamanan dan kemurniannya. Beralasan bagi kita untuk bersyukur kepada Allah atasspenglihatan-penglihatan yang tertulis, bahwa Allah menuliskan bagi kitasperkara-perkara besar yang dialami nabi-nabi-Nya, seperti juga perkara-perkara besar dari hukum-Nya. Habakuk harus menuliskan penglihatan itu, dan mengukirkannya pada loh-loh, harus menuliskannya dengan jelas, dalam huruf yang besar-besar, supaya orang sambil lalu dapat membacanya, supaya orang yang tidak mau mengambil waktu untuk membacanya dengan teliti tidak dapat menghindar dari melihatnya secara sepintas lalu. Mungkin, para nabi terbiasa menuliskan sebagian darisnubuatan-nubuatan mereka yang paling penting pada loh-loh batu, dan menggantungkannya di Bait Suci (Yes. 8:1). Dan sekarang Nabi Habakuk diperintahkan untuk menuliskan nubuatan ini dengan sangat jelas. Perhatikanlah, orang-orang yang dipakai untuk memberitakan firman Allah harus belajar berbicara dengan sejelas mungkin, sehingga mereka dapat dimengerti oleh orang-orang yang berkemampuan paling rendah. Hal-hal yang berkaitan dengan damai sejahtera kita yang kekal, yang telah dituliskan Allah bagi kita, dibuat menjadi jelas, semuanya itu jelas bagi yang cerdas (Ams. 8:9), dan diberitahukan kepada semua orang dengan kuasa. Allah sendiri telah menaruh tanda persetujuan-Nya padanya. Dia telah berkata, buatlah hal itu menjadi jelas.

2. Umat harus menantikan penggenapan penglihatan itu (ay. 3):
“Penglihatan itu masih menanti saatnya untuk digenapi. Engkau sekarang akan diberi tahu tentang kelepasanmu dengan dipatahkannya kuasa orang Kasdim, dan bahwa waktu penggenapannya sudah ditetapkan dalam rancangan dan maklumat Allah. Ada saat yang ditetapkan, tetapi tidak dalam waktu dekat. Saatnya masih ditangguhkan untuk waktu yang lama.” Dan hal itu disampaikan di sini sebagai alasan mengapa penglihatan itu harus dituliskan, yaitu agar penglihatan itu dapat ditinjau kembali setelahnya, dan peristiwa penggenapannya dapat dibandingkan dengan tulisan itu. Perhatikanlah, Allah mempunyai waktu yang ditetapkan untuk pekerjaan yang ditetapkan-Nya, dan Ia pasti akan melakukan perkerjaan itu saat waktunya tiba. Bukan bagian kita untuk mendahului apa yang sudah ditetapkan-Nya, tetapi kita harus menantikan waktu-Nya. Dan kita boleh berbesar hati untuk menunggu dengan sabar, sebab sekalipun perkenanan yang dijanjikan itu ditunda untuk waktu yang lama, namun perkenanan itu akan datang juga pada akhirnya, dan akan menjadi imbalan yang berlimpah untuk penantian kita: Ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu. Kita tidak akan dikecewakan olehnya, sebab penggenapannya akan datang pada waktu yang ditetapkan. Tidak pula kita akan dikecewakan dalam menantikannya, sebab penggenapan itu akan menjawab penuh segala penantian kita yang dilandasi iman. Janji itu mungkin tampak bungkam sekian lama, tetapi pada akhirnya ia akan berbicara. Oleh karena itu, sekalipun berlambat-lambat melebihi waktu yang kita harapkan, namun kita tetap harus menantikan itu, karena yakin bahwa penggenapannya pasti akan datang, dan kita harus bersedia untuk tetap menanti sampai janji itu digenapi. Hari yang telah ditetapkan Allah untuk melepaskan umat-Nya, dan menghancurkan musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh mereka, adalah hari,

(1) Yang pasti akan datang pada akhirnya. Hari itu tidak pernah ditunda sine die -” tanpa menetapkan hari lain. Sebaliknya, hari itu pasti akan tiba pada waktu yang ditentukan dan pada saat yang paling tepat.

(2) Hari itu tidak akan bertangguh, sebab Allah tidak lalai, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian (2Ptr. 3:9). Walaupun berlambat-lambat melampaui waktu yang kita harapkan, namun penggenapannya tidak akan bertangguh melampaui waktu Allah, yang selalu merupakan waktu yang terbaik.

3. Penglihatan ini, yang penggenapannya dinantikan dengan begitu lama, akan menjadi latihan iman dan kesabaran yang luar biasa, hingga akan menguji banyak orang dan menyingkapkan siapa mereka sebenarnya (ay. 4).

(1) Ada sebagian orang yang dengan sombong akan memandang rendah penglihatan ini, yang begitu tinggi hati sehingga mereka tidak sudi memperhatikannya. Jika Allah memang mau bekerja bagi mereka dengan segera, mereka akan berterima kasih kepada-Nya, tetapi mereka tidak akan memberi-Nya pujian untuk itu. Hati mereka meninggi pada kesia-siaan, dan, karena Allah menunda janji-Nya kepada mereka, maka mereka akan mengandalkan diri sendiri dan tidak mau berutang budi kepada-Nya. Mereka berpikir bahwa tangan mereka sendiri cukup untuk berjuang bagi mereka, dan janji Allah bukanlah hal yang penting bagi mereka. Orang yang membusungkan dada seperti itu, tidak lurus hatinya. Jiwanya tidak benar di hadapan Allah, tidak seperti yang seharusnya. Orang yang entah tidak percaya atau memandang rendah sifat Allah yang Maha mencukupi tidak akan berjalan tanpa cela di hadapan-Nya (Kej. 17:1). Akan tetapi,

(2) Orang yang sungguh-sungguh baik, yang hatinya lurus di hadapan Allah, akan menghargai janji itu, dan mempertaruhkan segala yang mereka miliki untuk janji itu. Dan, karena yakin akan kebenaran janji itu, mereka akan tetap dekat dengan Allah dan melakukan kewajibann mereka dalam masa-masa pencobaan yang paling sulit sekalipun. Dengan demikian, mereka akan hidup dengan nyaman dalam persekutuan dengan Allah, kebergantungan pada-Nya, dan pengharapan akan Dia. Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. Selama masa pembuangan, orang-orang benar akan menopang diri mereka sendiri, dan hidup dengan penuh penghiburan, oleh iman akan janji-janji yang berharga ini, sewaktu penggenapannya masih ditangguhkan. Orang benar akan hidup oleh percayanya, oleh percayanya pada firman Allah yang mendasari perbuatannya. Pernyataan ini dikutip dalam Perjanjian Baru (Rm. 1:17; Gal. 3:11; Ibr. 10:38), sebagai bukti dari ajaran agung tentang pembenaran oleh iman semata-mata, dan sebagai bukti dari kuasa yang dimiliki oleh anugerah iman atas hidup orang Kristen. Orangorang yang dibenarkan karena iman akan hidup, akan berbahagia di dunia ini dan untuk selama-lamanya. Selama mereka ada di sini, mereka hidup oleh iman. Saat mereka tiba di sorga, iman akan lenyap ditelan penglihatan.














NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 27 Oktober 2023 - TUHAN SANGGUP MELAKUKAN SESUATU (Marhuaso do Debata Patupahon Saluhutna) - Ayub 42:1-6


PREV:
Khotbah HKBP Minggu, 6 Oktober 2024 - YANG MUDA YANG MEMBERI TELADAN - 2 Timotius 4:1-5


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de