f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Renungan HKBP 2024 Jamita HKBP Minggu, 27 Oktober 2023 - TUHAN SANGGUP MELAKUKAN SESUATU (Marhuaso do Debata Patupahon Saluhutna) - Ayub 42:1-6 Pengakuan Ayub yang Rendah Hati Ayub 42:1-6 Ayub mencabut perkataannya dan menyesalkan diri 42:1 Maka jawab Ayub kepada TUHAN: 42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. 42:3 Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. 42:4 Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. 42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. 42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." Penjelasan: * Pengakuan Ayub yang Rendah Hati (42:1-6) Kata-kata Ayub untuk membenarkan diri sendiri berakhir di sini (31:40). Setelah itu ia tidak lagi berkata-kata dengan maksud membenarkan diri. Perkataan penghakiman dan kutukan atas diri Ayub sendiri dimulai (39:37-38). Sekarang dalam ayat-ayat di atas Ayub melanjutkan perkataannya dengan maksud yang sama. Meskipun kesabaran Ayub tidak sempurna, namun pertobatan akan ketidaksabarannya sempurna. Sekarang ia sungguh-sungguh direndahkan karena kebodohan dan perkataannya yang tidak pantas, dan ia pun diampuni. Orang-orang baik pada akhirnya akan melihat dan mengakui kesalahan-kesalahan mereka, meskipun mungkin sulit untuk membuat mereka melakukannya. Maka, setelah Allah berkata-kata tentang kebesaran dan kuasa-Nya yang tampak jelas dalam segala ciptaan, maka jawab Ayub kepada TUHAN (ay. 1), bukan dengan menantang (ia telah berjanji untuk tidak akan menjawab lagi [39:38]), melainkan dengan ketundukan. Dan begitulah kita semua seharusnya menjawab panggilan Allah. I. Ia mengakui kebenaran akan kekuatan, pengetahuan dan kekuasaan Allah yang tidak terbatas, tunduk pada apa yang Allah katakan dari dalam badai (ay. 2). Keinginan dan perbuatan yang jahat muncul dari dasar-dasar pemikiran yang jahat atau karena mengabaikan dan tidak percaya akan dasar-dasar pemikiran yang benar. Oleh sebab itu, pertobatan yang sejati dimulai dengan pengakuan, pengenalan akan kebenaran (2Tim. 2:25). Di sini Ayub mengakui bahwa pikirannya telah diyakinkan akan kebesaran, kemuliaan, dan kesempurnaan Allah, yang kemudian diikuti dengan kesadaran dalam hati nuraninya akan kebodohan dirinya sendiri dalam berbicara tidak pantas kepada-Nya. 1. Ia mengakui bahwa Allah sanggup melakukan segala sesuatu. Adakah yang terlalu sulit bagi Dia yang menciptakan behemot dan lewiatan, dan mengatur keduanya dengan sesuka hati-Nya? Ayub sudah mengetahui hal ini sebelumnya, dan telah menjelaskan dengan sangat baik mengenai hal itu, namun kini ia mengetahuinya melalui pengalaman. Satu kali Allah berfirman, dan ia telah mendengarnya dua kali, bahwa kuasa dari Allah asalnya. Karena itu, sungguh gila dan lancang untuk melawan Allah. “Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan karena itu juga Engkau sanggup untuk mengangkatku keluar dari keadaan yang rendah ini, yang sering kali dengan bodohnya aku anggap tidak mungkin. Sekarang aku percaya, bahwa Engkau sanggup melakukannya.” 2. Bahwa tidak ada rencana-Mu yang gagal (: tidak ada pikiran yang tersembunyi dari pada-Nya), yaitu, (1) Tidak ada pikiran yang dapat kita sembunyikan dari pada-Nya. Tidak ada keluhan, ketidakpuasan, maupun ketidakpercayaan dalam pikiran kita yang tidak Allah saksikan setiap waktu. Adalah sia-sia untuk melawan Allah, sebab tidak ada rencana dan rancangan kita yang dapat kita sembunyikan daripada Allah, dan apabila Ia mengetahuinya, maka Ia dapat mengalahkannya. (2) Tidak ada rencana-Nya yang tidak dapat terlaksana. TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ayub telah berkata-kata dengan marah tentang hal ini, mengeluhkannya (23:13). Apa yang dikehendaki-Nya dilaksanakan-Nya juga. Sekarang ia berkata-kata dengan senang dan yakin, bahwa tidak ada rencana-Mu yang gagal. Apabila rancangan-rancangan Allah atas kita adalah rancangan-rancangan yang baik, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan, maka Ia tidak bisa digagalkan dari mencapai tujuan-tujuan-Nya yang baik, betapa pun besar kesulitan yang kelihatannya merintangi. II. Ayub mengakui bahwa dirinya bersalah atas tuduhan-tuduhan yang diberikan Allah kepadanya pada awal perkataannya (ay. 3). “Tuhan, kata pertama yang Engkau katakan adalah, Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Tidak diperlukan lagi. Perkataan itu telah menginsafkanku. Aku mengakui akulah dia yang telah demikian bodoh. Kata itu telah sampai ke hati nuraniku, dan menyatakan dosaku di hadapanku. Hal itu terlalu jelas untuk disangkal, terlalu buruk untuk diampuni. Aku telah menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan. Aku telah dengan bodohnya mengabaikan keputusan-keputusan dan rancangan-rancangan Allah yang membuatku menderita, sehingga aku berbantah dengan Allah, dan terlalu bersikeras untuk membenarkan diri sendiri: Itulah sebabnya, tanpa pengertian,” yaitu, “Aku telah menjatuhkan penghakiman atas dispensasi Penyelenggaraan Allah, tanpa pengetahuan yang benar akan alasan-alasanya.” Di sini, 1. Ia mengakui bahwa dirinya tidak tahu apa-apa akan putusan hikmat ilahi, dan kita semua pun demikian. Penilaian Allah sangat dalam, sehingga kita tidak dapat menyelaminya, apalagi untuk memahami asalnya. Kita melihat perbuatan-perbuatan Allah, namun kita tidak mengetahui mengapa Ia melakukannya, apa yang menjadi tujuan-Nya, atau apa yang akan terjadi kemudian. Hal-hal ini terlalu besar bagi kita, melampaui apa yang dapat kita lihat, melampaui jangkauan kita untuk dapat kita ubah, dan melampaui wilayah kekuasaan kita untuk dapat kita hakimi. Hal-hal itu tidak kita mengerti, melampaui kemampuan kita untuk menghakiminya. Alasan mengapa kita berbantah dengan Penyelenggaraan Allah adalah karena kita tidak memahaminya. Karena itu, kita harus puas saja di dalam ketidakmengertian akan hal itu, sampai misteri Allah usai. 2. Ayub mengakui bahwa dirinya tidak bijak dan gegabah dalam memperkatakan apa yang tidak ia mengerti dan mendakwa hal yang tidak dapat ia adili. Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya. Kita menyatakan kesalahan diri sendiri, dan perkara yang kita putuskan, karena kita bukanlah hakim yang cakap untuk mengadilinya. III. Ayub tidak akan menjawab, namun ia akan memohon belas kasihan kepada yang mendakwa dirinya, sebagaimana yang telah ia katakan (9:15). “Firmanmu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman (ay. 4, : bahwa Ayub yang berbicara, bukan Allah seperti dalam terjemahan ). Aku tidak berbicara sebagai penggugat maupun pembela (13:22), namun sebagai pemohon yang rendah hati, bukan sebagai seorang yang akan mengajar dan mengatur-atur, tetapi sebagai seorang yang ingin belajar dan ingin diatur. Tuhan, jangan lagi berikan aku pertanyaan-pertanyaan yang sulit, sebab aku tidak mampu menjawab satu pun dari ribuan pertanyaan yang Engkau berikan. Sebaliknya, izinkan aku untuk meminta pengajaran dari pada-Mu, dan jangan menolak aku, jangan mencela aku dengan kebodohan dan kesombonganku,” (Yak. 1:5). Ia kini dibawa kepada doa yang diajarkan Elihu kepadanya, apa yang tidak kumengerti, ajarkanlah kepadaku. IV. Ia menempatkan dirinya sebagai seorang petobat, dan di sini ia ada di jalan yang benar. Dalam pertobatan sejati tidak hanya ada keinsafan akan dosa, tetapi juga ada penyesalan dan dukacita kudus terhadap dosa, dukacita menurut kehendak Allah (2Kor. 7:9). Seperti itulah Ayub berdukacita atas dosa-dosanya. 1. Pandangan Ayub tertuju kepada Allah di dalam pertobatannya, dengan pemikiran yang luhur akan Dia, dan menyadari (ay. 5): “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, sering kali dari guru-guruku ketika aku masih muda, dari teman-temanku pada masa lanjutku. Aku telah mengetahui beberapa hal tentang kebesaran-Mu, kuasa-Mu, dan kekuasaan-Mu yang berdaulat. Namun apa yang telah aku dengar tidak membawaku untuk menundukkan diriku kepada-Mu sebagaimana mestinya. Semua pengetahuan yang aku miliki hanya sebatas di bibir saja, tidak ada pengaruhnya terhadap akal budiku. Tetapi sekarang dengan pewahyuan langsung Engkau telah menyatakan dirimu kepadaku di dalam kemegahan-Mu yang mulia. Sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Sekarang aku merasakan kuasa dari kebenaran-kebenaran yang sebelumnya hanya sebatas pengetahuan saja, dan karena itu kini aku bertobat, dan mencabut kembali apa yang telah aku katakan di dalam kebodohanku.” Perhatikan, (1) Adalah suatu belas kasihan yang besar untuk mendapatkan pengajaran yang baik, dan mengetahui tentang Allah melalui segala petunjuk dari firman dan para hamba-Nya. Iman timbul dari pendengaran, dan paling mungkin timbul ketika kita mendengar dengan penuh perhatian dan dengan telinga yang mendengar. (2) Ketika pengertian kita dicerahkan oleh Roh anugerah, maka pengetahuan kita akan hal-hal ilahi akan jauh melampaui apa yang semula kita miliki, sebagaimana penglihatan mata melampaui kabar dan cerita dari mulut ke mulut. Allah menyatakan Anak-Nya kepada kita melalui pengajaran-pengajaran manusia, namun melalui pengajaran-pengajaran Roh-Nya Ia menyatakan Anak-Nya di dalam kita (Gal. 1:16), dan dengan demikian mengubah kita menjadi serupa dengan gambar-Nya (2Kor. 3:18). (3) Allah berkenan untuk terkadang menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya kepada umat-Nya melalui teguran firman-Nya dan tindakan penyelenggaraan-Nya. “Sekarang setelah aku menderita, setelah aku diberitahukan akan kesalahan-kesalahanku, sekarang mataku sendiri memandang Engkau”. Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat. Berbahagialah orang yang Kauhajar, dan yang Kauajari. 2. Ayub memandang dirinya di dalam penyesalannya, menyalahkan dirinya, dan dengan demikian menyatakan dukacitanya atas dosa-dosanya (ay. 6): Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku, dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu. Perhatikan, (1) Adalah penting bagi kita untuk merendahkan diri dalam-dalam atas dosa-dosa yang kita sadari, dan tidak sekadar berhenti pada sikap ketidaksenangan yang dangkal terhadap diri kita atas dosa-dosa tersebut. Bahkan orang baik sekalipun, yang tidak melakukan kejahatan-kejahatan yang menjijikkan untuk disesali, harus berduka sedalam-dalamnya di dalam jiwanya ketika hatinya hancur akibat kesombongan, hawa nafsu, kesesatan, dan ketidakpuasan, dan perkataan-perkataan mereka yang gegabah. Hal-hal ini seharusnya menusuk hati kita dan membuat hati kita pahit. Sampai musuh sungguh-sungguh ditaklukkan, kedamaian tidaklah datang. (2) Ungkapan lahiriah dari dukacita yang saleh patut diperlihatkan para petobat. Ayub menyesal dalam debu dan abu. Hal ini apabila dilakukan tanpa perubahan di dalam batin yang sungguh-sungguh adalah penghinaan kepada Allah. Namun ketika hal ini keluar dari penyesalan jiwa yang tulus, dengan ungkapan ini orang berdosa memberikan kemuliaan kepada Allah, mengambil cela bagi dirinya sendiri, dan dapat menjadi alat untuk membawa orang-orang lain kepada pertobatan. Penderitaan Ayub telah membawanya kepada debu (2:8, ia duduk di tengah-tengah abu), namun sekarang dosa-dosanya membawanya ke sana. Orang-orang yang sungguh-sungguh menyesal berkabung atas dosa-dosa mereka dengan sepenuh hati sebagaimana mereka meratapi penderitaan-penderitaan jasmani. Mereka merasa pahit, sebab mereka dibuat melihat kejahatan yang ada dalam dosa-dosa mereka melebihi yang ada dalam kesusahan-kesusahan mereka. (3) Kebencian terhadap diri sendiri merupakan kawan dari pertobatan sejati (Yeh. 6:9), mereka sendiri akan mual melihat kejahatan yang mereka lakukan. Kita harus tidak hanya marah kepada diri kita atas kesalahan dan kerusakan yang diakibatkan dosa pada jiwa kita sendiri, melainkan juga harus membenci diri kita sendiri, sebab dengan dosa kita membuat diri kita menjijikkan bagi Allah yang murni dan kudus, yang tidak tahan melihat dosa. Apabila dosa sungguh-sungguh merupakan kekejian bagi kita, maka demikianlah seharusnya dengan dosa dalam diri kita sendiri. Semakin dekat dosa dengan diri kita, semakin menjijikkan dosa itu. (4) Semakin kita melihat kemuliaan dan keagungan Allah, dan semakin kita melihat kotor dan jijiknya dosa dan diri kita akibat dosa, maka semakin kita akan merendahkan diri dan membenci diri kita karenanya, “Sekarang mataku sendiri melihat betapa agungnya Allah yang telah aku hina, kecemerlangan keagungan yang telah aku ludahi oleh dosa yang dengan sengaja aku perbuat, kelembutan dari belas kasihan yang telah aku tolak dengan hina. Sekarang aku telah melihat betapa benar dan kudusnya Allah yang telah aku bangkitkan amarah-Nya. Oleh sebab itu aku membenci diriku sendiri. Celakalah aku! aku binasa,” (Yes. 6:5). Allah menantang Ayub untuk mengamat-amati setiap orang yang congkak dan menundukkan mereka. “Aku tidak bisa,” kata Ayub, “mengaku-ngaku mampu melakukannya. Aku jera, kesombongan hatiku kena batunya, direndahkan dan kena hina.” Mari kita menyerahkan kepada Allah untuk mengatur isi dunia, sedangkan kewajiban kita adalah dengan kekuatan anugerah-Nya mengatur diri dan hati kita.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
NEXT: Jamita Minggu, 3 November 2024 - Mangkaholongi Debata dohot Jolma - 5 Musa 6:1-9 (Ulangan 6:1-9) PREV: Khotbah HKBP Minggu, 13 Oktober 2024 - Orang benar akan hidup oleh percayanya - Habakuk 2:1-4 Minggu, 26 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 26 April 2026 - HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAK-SORAI - Kisah Rasul 2:22-28 Minggu, 19 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 19 April 2026 - Marlas Roha di Bagasan Tuhan (Bersukacita dalam Tuhan) - Habakuk 3:10-19
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |