f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Renungan HKBP 2024 Jamita Minggu, 3 November 2024 - Mangkaholongi Debata dohot Jolma - 5 Musa 6:1-9 (Ulangan 6:1-9) Hendaklah firman Tuhan tertulis di gerbang kita, dan biarlah setiap orang yang lewat di depan pintu kita membacanya, bahwa kita meyakini Yahweh sajalah Allah Ulangan 6:1-9 Kasih kepada Allah adalah perintah yang utama 6:1 "Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, 6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. 6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. 6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. 6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. Penjelasan: * Intisari Agama (6:1-3) Amatilah di sini, 1. Bahwa Musa mengajar umat Israel segala hal, dan hanya hal-hal, yang diperintahkan Allah kepadanya untuk diajarkan kepada mereka (ay. 1). Demikian pula hamba-hamba Kristus harus mengajar jemaat-jemaat-Nya segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya, tidak lebih dan tidak kurang (Mat. 28:20). 2. Bahwa tujuan mereka diajar adalah supaya mereka dapat melakukan seperti yang diajarkan kepada mereka (ay. 1), dapat berpegang pada segala ketetapan Allah (ay. 2), dan melakukannya dengan setia (ay. 3). Ajaran-ajaran yang baik dari orangtua dan hamba-hamba Tuhan hanya akan memperberat hukuman kita, jika kita tidak hidup sesuai dengan yang diajarkan. 3. Bahwa Musa berusaha dengan sepenuh hati untuk membuat mereka melekat kepada Allah dan hidup yang saleh, mengingat sekarang mereka akan memasuki tanah Kanaan, supaya mereka siap menikmati penghiburan-penghiburan dari negeri itu, dan dibentengi dari jerat-jeratnya. Dan supaya, karena sekarang mereka mulai menapaki kehidupan di dunia, mereka dapat berjalan dengan baik. 4. Bahwa takut akan Allah di dalam hati akan menjadi dasar pegangan yang paling kuat untuk berlaku taat: Supaya engkau takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan-Nya (ay. 2). 5. Pewarisan agama dalam keluarga, atau negeri, adalah pewarisan yang terbaik. Sudah menjadi keinginan kita yang besar bahwa bukan hanya kita, melainkan juga anak-anak kita, dan cucu-cicit kita, takut akan Tuhan. 6. Agama dan kebajikan mengangkat dan menjamin kesejahteraan bangsa mana saja. Takutlah akan Allah, maka akan baik keadaanmu. Orang-orang yang diajar dengan baik, jika mereka melakukan apa yang diajarkan kepada mereka, akan terpenuhi kebutuhan makanannya dengan baik pula, seperti orang Israel di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (ay. 3). * Peringatan dan Perintah (6:4-9) Dalam perikop ini kita mendapati, I. Intisari agama secara singkat, yang berisi dasar-dasar pegangan pertama tentang iman dan ketaatan (ay. 4-5). Kedua ayat ini dianggap orang Yahudi sebagai salah satu bagian yang paling berharga dari Kitab Suci. Mereka menulisnya pada tali-tali sembahyang mereka, dan berpikir bahwa mereka tidak hanya wajib mengucapkannya setidak-tidaknya dua kali sehari, tetapi juga mereka sangat bahagia karena diwajibkan untuk melakukannya. Hal ini terlihat dari ucapan yang ada di antara mereka: Diberkatilah kita, yang setiap pagi dan setiap petang berkata, dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Akan tetapi, lebih diberkatilah kita jika kita merenungkan dan memanfaatkan sebagaimana mestinya, 1. Apa yang diajarkan kepada kita di sini untuk kita percayai mengenai Allah: Yahweh Allah kita adalah Yahweh yang esa. (1) Bahwa Allah yang kita sembah adalah Yahweh, Wujud yang sempurna secara tak terhingga dan secara kekal, yang ada dari diri-Nya sendiri, dan maha mencukupi oleh diri-Nya sendiri. (2) Bahwa Dia adalah satu-satunya Allah yang hidup dan yang benar. Dia sajalah Allah, dan Dia hanyalah satu. Keyakinan yang teguh akan kebenaran yang terbukti dengan sendirinya ini, akan mampu mempersenjatai mereka melawan segala bentuk penyembahan berhala, yang muncul karena kesalahan yang mendasar itu, bahwa ada banyak allah. Tidak dapat dibantah lagi bahwa Allah itu esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia (Mrk. 12:32). Oleh sebab itu, janganlah kita memiliki allah lain, atau berkeinginan untuk memiliki allah lain. Sebagian penafsir berpendapat bahwa di sini ada isyarat yang jelas akan tiga pribadi dalam kesatuan Keilahian. Sebab di sini nama Allah disebut tiga kali, namun semuanya dinyatakan sebagai satu. Berbahagialah mereka yang memiliki Tuhan yang esa ini sebagai Allah mereka, sebab mereka hanya memiliki satu Tuan untuk disenangkan, hanya satu Pemberi untuk diminta. Lebih baik memiliki satu mata air daripada seribu kolam, satu Allah yang maha mencukupi oleh diri-Nya sendiri daripada seribu allah yang tidak mencukupi oleh dirinya sendiri. 2. Apa yang diajarkan kepada kita di sini mengenai kewajiban yang dituntut Allah dari manusia. Semuanya itu terangkum dalam kalimat ini sebagai dasar pegangannya, kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu. Musa telah berusaha (ay. 2) untuk mengajar mereka takut akan Allah. Dan, dalam menjalankan upayanya itu, Musa di sini mengajar mereka untuk mengasihi Allah, sebab makin hangat perasaan kasih kita kepada Allah, makin besar pula penghormatan kita kepada-Nya. Seorang anak yang menghormati orangtuanya, tidak diragukan lagi pasti mengasihi mereka. Pernahkah seorang raja membuat hukum bahwa rakyatnya harus mengasihi dia? Namun demikian, seperti itulah kesediaan anugerah ilahi untuk merendah, hingga perintah ini dijadikan sebagai perintah yang terutama dan yang pertama dari hukum Allah, bahwa kita harus mengasihi Dia, dan harus melakukan semua bagian lain dari kewajiban kita kepada-Nya berdasarkan ajaran kasih. Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku. Kita harus menjunjung-Nya tinggi-tinggi, bersuka bahwa ada Wujud yang seperti Dia, bersuka dalam semua sifat-Nya, dan semua hubungan-Nya dengan kita. Kerinduan kita haruslah terarah kepada-Nya, kesukaan kita ada di dalam Dia, kebergantungan kita hanya kepada-Nya, dan kepada Dialah kita harus sepenuhnya mengabdi. Harus menjadi kesenangan kita senantiasa untuk memikirkan Dia, mendengar dari-Nya, berbicara kepada-Nya, dan melayani-Nya. Kita harus mengasihi Dia, (1) Sebagai Tuhan, yang terbaik dari segala makhluk, paling unggul dan baik hati dalam diri-Nya sendiri. (2) Sebagai Allah kita, Allah yang mengikat kovenan dengan kita, Bapa kita, Teman yang paling baik hati dan Pemberi yang paling murah hati. Kita juga diperintahkan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati kita, segenap jiwa kita, dan segenap kekuatan kita. Artinya, kita harus mengasihi Allah, [1] Dengan kasih yang tulus. Bukan dalam perkataan atau di bibir saja, dengan mengatakan bahwa kita mengasihi Dia padahal hati kita tidak bersama-Nya, melainkan dari dalam hati, dan dengan sebenar-benarnya, sehingga kita menjadikan-Nya sebagai pelipur lara kita. [2] Dengan kasih yang membara. Hati kita harus dibawa kepada-Nya dengan hasrat yang menggebu-gebu dan perasaan kasih yang berkobar-kobar. Dari sini sebagian penafsir berpendapat bahwa janganlah kita berkata (seperti yang biasa kita lakukan dalam mengungkapkan isi hati kita), bahwa kita akan melakukan ini atau itu dengan segenap hati kita, sebab kita tidak boleh melakukan apa pun dengan segenap hati kita, kecuali mengasihi Allah. Dan bahwa ungkapan ini, karena di sini digunakan berkenaan dengan api yang kudus itu, tidak boleh dipakai untuk perkara yang tidak kudus. Dia yang adalah segala-galanya bagi kita, harus mendapatkan segala-galanya dari kita, dan tidak ada yang lain selain Dia. [3] Dengan kasih yang sebesar-besarnya. Kita harus mengasihi Allah lebih dari makhluk ciptaan mana pun, dan tidak mengasihi apa-apa selain Dia, kecuali kita mengasihinya karena Allah, dan dalam sikap yang tunduk kepada-Nya. [4] Dengan kasih yang diterangi pengertian, sebab demikianlah hal itu dijelaskan (Mrk. 12:33). Untuk mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian, kita harus mengenal Dia, dan karena itu harus mengasihi Dia sebagai orang-orang yang melihat alasan baik untuk mengasihi-Nya. [5] Dengan kasih yang seutuhnya. Allah itu satu, dan karena itu hati kita harus menyatu bulat dalam kasih ini, dan seluruh sungai kasih sayang kita harus mengalir kepada-Nya. Oh, kiranya kasih terhadap Allah ini terpancar luas dalam hati kita! II. Berbagai sarana ditetapkan di sini untuk memelihara dan merawat agama dalam hati dan rumah kita, sehingga tidak layu dan membusuk. Sarana-sarana itu adalah: 1. Merenungkan firman Tuhan: Apa yang kuperintahkan kepadamu haruslah engkau perhatikan (ay. 6). Meskipun kata-kata saja tanpa pesan-pesan yang terkandung di dalamnya tidak akan bermanfaat bagi kita, namun ada bahaya kita akan kehilangan pesan-pesan itu jika kita mengabaikan kata-katanya. Melalui kata-katalah biasanya terang dan kuasa ilahi disampaikan ke dalam hati. Firman Allah haruslah tersimpan di dalam hati kita, supaya pikiran kita setiap hari terbiasa dengannya dan dipenuhi olehnya. Dan dengan begitu, seluruh jiwa kita dapat dibuat berdiam dan bertindak di bawah kuasa dan kesan firman Allah. Perintah ini langsung mengikuti perintah untuk mengasihi Allah dengan segenap hati. Sebab orang-orang yang mengasihi Allah dengan segenap hati akan menyimpan firman-Nya di dalam hati mereka, baik sebagai bukti maupun dampak dari kasih itu, dan sebagai sarana untuk memelihara dan menumbuhkan kasih itu. Siapa mengasihi Allah pasti mengasihi Alkitab-Nya. 2. Memberikan pendidikan agama kepada anak-anak (ay. 7): “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu. Dan dengan menyampaikan pengetahuanmu, engkau akan meningkatkan pengetahuanmu itu.” Orang-orang yang dengan sendirinya mengasihi Tuhan Allah, harus melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk menggugah perasaan kasih anak-anak mereka kepada-Nya, dan dengan demikian melestarikan warisan agama dalam keluarga mereka, hingga warisan itu tidak terputus. Haruslah engkau mengasahnya berulang-ulang kepada anak-anakmu, demikian sebagian penafsir membacanya. Sering-seringlah mengulangi perkataan-perkataan ini kepada mereka, cobalah segala cara untuk menanamkannya ke dalam pikiran mereka, dan membuatnya menembus ke dalam hati mereka. Sama seperti, ketika mengasah pisau, pisau itu pertama diasah pada satu sisi, dan kemudian pada sisi lain. “Berhati-hati dan telitilah dalam mengajar anak-anakmu. Jadikanlah sebagai tujuanmu, seperti orang yang sedang mengasah pisau, untuk menajamkan mereka, dan meruncingkan mereka. Ajarkanlah firman itu kepada anak-anakmu, bukan hanya anak-anak kandungmu sendiri” menurut orang Yahudi, “melainkan juga semua orang yang berada di bawah asuhan dan bimbinganmu.” Uskup Patrick mencermati dengan baik di sini bahwa Musa menganggap perintahnya begitu sangat sederhana dan mudah, sehingga setiap ayah mampu mengajarkannya kepada anak-anak lelakinya, dan setiap ibu kepada anak-anak perempuannya. Demikianlah, hal yang baik yang dipercayakan kepada kita itu harus kita teruskan dengan hati-hati kepada orang-orang yang datang sesudah kita, agar bisa tetap lestari. 3. Membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kesalehan. “Haruslah engkau membicarakan perintah-perintah ini, dengan rasa hormat dan kesungguhan seperti yang seharusnya, untuk memberikan manfaat bukan hanya bagi anak-anakmu, melainkan juga bagi orang-orang lain dalam rumah tanggamu, bagi para sahabat dan kawanmu. Bicarakanlah itu apabila engkau duduk di rumahmu ketika bekerja, atau ketika makan, atau ketika beristirahat, atau ketika menerima tamu, dan apabila engkau sedang dalam perjalanan untuk mencari hiburan, atau untuk memperluas pergaulan, atau untuk suatu keperluan. Bicarakanlah itu pada waktu malam ketika engkau minta diri dari keluargamu untuk berbaring dan tidur, dan pada pagi hari ketika engkau sudah bangun dan kembali bertemu dengan keluargamu. Manfaatkanlah segala kesempatan untuk berbicara dengan orang-orang di sekitarmu mengenai perkara-perkara ilahi. Bukan tentang rahasia-rahasia yang tidak disingkapkan, atau perkara-perkara yang dapat diperbantahkan, melainkan tentang kebenaran-kebenaran yang mudah dimengerti dan hukum-hukum Allah, dan apa yang perlu untuk damai sejahtera kita.” Menjadikan perkara-perkara suci sebagai pokok pembicaraan kita sehari-hari sama sekali tidak dianggap mengurangi kehormatannya, tetapi justru perkara-perkara suci itu dianjurkan kepada kita untuk diperbincangkan. Sebab, semakin kita mengenal perkara-perkara suci itu, semakin kita akan mengaguminya dan tergerak olehnya, dan dengan begitu kita dapat berperan dalam menyebarkan terang dan sinar ilahi. 4. Sering membaca firman Tuhan: Haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu (ay. 8-9). Ada kemungkinan bahwa pada waktu itu hanya ada sedikit salinan dari seluruh hukum Taurat, dan hanya pada hari raya Pondok Daun hukum Taurat dibacakan kepada umat. Itulah sebabnya Allah memerintahkan mereka, setidak-tidaknya untuk saat itu, untuk menuliskan beberapa kalimat terpilih dari hukum Taurat, yang paling berbobot dan mencakup keseluruhan, pada dinding-dinding mereka, atau dalam gulungan-gulungan perkamen untuk dipakai di pergelangan tangan mereka. Dan sebagian penafsir berpendapat bahwa mulai saat itulah muncul tali-tali sembahyang yang begitu banyak digunakan di antara orang Yahudi. Kristus menegur orang-orang Farisi, bukan karena mereka memakai tali sembahyang, melainkan karena mereka suka memakai tali sembahyang yang lebih lebar daripada tali sembahyang orang lain (Mat. 23:5). Akan tetapi, begitu Alkitab mulai banyak tersedia di tengah-tengah orang Yahudi, kebutuhan akan sarana ini semakin berkurang. Ditetapkan secara bijak dan saleh oleh para pembaharu pertama dari gereja Inggris bahwa pada waktu itu, ketika Alkitab masih jarang tersedia, beberapa bagian terpilih dari Kitab Suci harus dituliskan pada dinding-dinding dan tiang-tiang gereja, sehingga para jemaat dapat mengenal firman Tuhan. Hal itu sesuai dengan perintah ini, yang tampak mengikat bagi orang Yahudi menurut arti harfiahnya, sama seperti perintah itu mengikat bagi kita menurut maksud dan tujuannya. Yaitu bahwa kita harus berupaya dengan segala cara untuk mengakrabkan diri dengan firman Allah, sehingga kita siap menggunakannya dalam segala kesempatan, untuk menahan kita dari dosa dan membimbing serta menggugah kita untuk melakukan kewajiban kita. Firman Tuhan haruslah menjadi seperti sesuatu yang dilukiskan di telapak tangan kita, yang selalu ada di hadapan kita. Lihat 1-3. Tersirat juga dalam perintah ini bahwa kita tidak boleh malu untuk mengakui agama kita, atau untuk mengakui diri kita berada di bawah kekangan dan pemerintahannya. Hendaklah firman Tuhan tertulis di gerbang kita, dan biarlah setiap orang yang lewat di depan pintu kita membacanya, bahwa kita meyakini Yahweh sajalah Allah, dan meyakini diri kita terikat kewajiban untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati kita.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
NEXT: Jamita HKBP Minggu, 10 November 2024 - MANGALEHON NANG PE HURANGAN (MEMBERI DARI KEKURANGAN) - 1 Raja-raja 17:7-16 - MINGGU XXIV DUNG TRINITATIS PREV: Jamita HKBP Minggu, 27 Oktober 2023 - TUHAN SANGGUP MELAKUKAN SESUATU (Marhuaso do Debata Patupahon Saluhutna) - Ayub 42:1-6 Minggu, 26 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 26 April 2026 - HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAK-SORAI - Kisah Rasul 2:22-28 Minggu, 19 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 19 April 2026 - Marlas Roha di Bagasan Tuhan (Bersukacita dalam Tuhan) - Habakuk 3:10-19
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |