f
Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP, Suplemen Buku Ende, Lagu KOOR HKBP, Katekhimus Kecil
|
Renungan HKBP 2024 Jamita HKBP Selasa, 31 Desember 2024 - PASAHAT MA DALANMU TU DEBATA - Mazmur 37:1-11 Sai marhaposan tu Jahowa ma ho jala ulahon na denggan; inganhon ma tano i jala radoti haburjuon. Baca Juga: Tata Ibadah HKBP Tahun Baru 2025 - Rabu, 1 Januari 2025 Tata Ibadah Parpunguan Bodari Ujung Taon, Selasa 31 Desember 2024 Mazmur 37:1-11 Bahasa Batak : ------------- 37:1 Sai unang ma mohop ateatem mida angka parjahat i, jala unang mangiburu Ho mida angka siulahon hajungkingon. 37:2 Ai doras do nasida sabion songon duhutduhut, jala marmalosan nasida songon tumbur ni duhutduhut. 37:3 Sai marhaposan tu Jahowa ma ho jala ulahon na denggan; inganhon ma tano i jala radoti haburjuon. 37:4 Jala halomohon Jahowa, jadi lehononna ma tu ho pinangido ni roham. 37:5 Pasahat ma dalanmu tu Jahowa jala haposi Ibana, asa Ibana paturehon. 37:6 Jadi paulloponna ma hatigoranmu, songon hatiuron dohot hapintoronmi songon tingkos ni ari. 37:7 Pasombu ma Jahowa, jala Ibana paimaima; sai unang mohop roham mida jolma na mardohar dalanna, mida baoa siulahon getegete. 37:8 Otapi rimas jala tadingkon mohopmohop; unang sai hamohophon tu roham, ai laho tu najat do i. 37:9 Ai sai na siap do sogot angka parjahat i, alai sai na teanon ni angka na mangkaposi Jahowa do tano i sogot. 37:10 Tongkinnari ndang disi be parjahat i, jala ia ditingkir ho ingananna, ndang be jumpang. 37:11 Alai sai na teanon ni angka parlambohi do sogot tano i, jala hahilashononna hinadeak ni hadameon. Bahasa Indonesia: ------------------- Kebahagiaan orang fasik semu 37:1 Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; 37:2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. 37:3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, 37:4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. 37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; 37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. 37:7 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. 37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. 37:9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri. 37:10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi. 37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Penjelasan: * Mazmur ini merupakan sebuah khotbah, sungguh sebuah khotbah yang luar biasa bermanfaat, yang tidak dimaksudkan untuk dipakai sebagai bahan saat teduh kita (sebagaimana kebanyakan mazmur lainnya), melainkan untuk perilaku kita. Di dalam mazmur ini tidak ada doa atau pujian, yang ada hanya pengarahan. Mazmur ini adalah sebuah Maschil-” mazmur pengajaran. Mazmur ini menguraikan dan menjelaskan beberapa pokok bahasan tersulit yang ada dalam Buku Sang Pemelihara, yaitu tentang keberhasilan orang jahat dan aib orang benar, pemecahan masalah atas kesukaran-kesukaran yang ditimbulkan karena semua itu, serta himbauan bagaimana kita harus bersikap di dalam keadaan yang suram tersebut. Pekerjaan para nabi (dan Daud adalah salah satu dari mereka) adalah untuk menjelaskan hukum Taurat. Hukum Taurat Musa telah menjanjikan berkat-berkat fana bagi orang-orang yang menaatinya, dan mengumumkan kesengsaraan fana yang akan menimpa orang-orang yang tidak taat. Kedua hal ini pada dasarnya ditujukan kepada kumpulan manusia secara keseluruhan, kepada seluruh bangsa sebagai suatu bangsa, dan bukan kepada orang per orang. Sebab, ketika diterapkan secara orang per orang, maka yang terlihat justru adanya banyak contoh di mana para pendosa sejahtera dan orang-orang kudus sengsara. Nah, tujuan sang nabi dalam menuliskan mazmur ini adalah untuk menjembatani kesenjangan di antara contoh-contoh tersebut dengan firman yang telah diucapkan Allah. Di dalam mazmur ini, I. Dia melarang kita untuk merasa iri terhadap kemakmuran orang-orang jahat di dalam jalan mereka yang jahat (ay. 1, 7-8). II. Dia mengemukakan alasan yang sangat baik mengapa kita tidak boleh merasa iri karenanya. 1. Oleh sebab perangai buruk orang-orang jahat (ay. 12, 14, 21, 32), sekalipun mereka itu makmur, dan juga oleh karena perangai mulia orang-orang benar (ay. 21, 26, 30-31). 2. Oleh karena kebinasaan yang akan segera menimpa orang jahat (ay. 2, 9-10, 20, 35-36, 38) dan keselamatan serta perlindungan yang pasti akan menaungi orang benar dari segala rencana busuk orang-orang jahat (ay. 13, 15, 17, 28, 33, 39-40). 3. Oleh karena belas kasihan yang disediakan Allah secara khusus bagi semua orang benar dan kebaikan yang ditunjukkan-Nya bagi mereka (ay. 11, 16, 18-19, 22-25, 28-29, 37). III. Dia menuliskan resep obat yang manjur untuk melawan dosa iri hati terhadap keberhasilan orang jahat, dan memberi dorongan kuat untuk memanfaatkan obat penawar tersebut (ay. 3-6, 27, 34). Saat menyanyikan mazmur ini, kita harus mengajar dan memperingatkan satu sama lain dengan cara yang benar bagaimana kita memahami pemeliharaan Allah dan menyesuaikan diri kita dengan pemeliharaan-Nya itu. Selain itu pula, kita perlu melaksanakan kewajiban kita di setiap waktu dan dengan sabar menyerahkan segala keadaan kepada Allah. Kita juga harus percaya bahwa betapa pun runyamnya keadaan saat ini, semuanya pasti “akan menjadi baik bagi orang-orang yang takut akan Allah, yang takut di hadapan-Nya.” Pesan dan Janji (37:1-6) Pengarahan yang diberikan di sini amatlah jelas. Tidak perlu lagi banyak penjelasan untuk menerangkannya, tetapi lebih baik diterapkan dengan lebih bersungguh-sungguh di dalam perbuatan, dan di situlah semua pengarahan tersebut tampak dalam wujudnya yang terbaik. I. Di sini kita diperingatkan supaya tidak merasa galau melihat kemakmuran dan keberhasilan orang-orang yang melakukan kejahatan (ay. 1-2): Jangan marah dan jangan iri hati. Kita bisa saja menebak bahwa Daud mengatakan hal ini kepada dirinya sendiri terlebih dahulu, dan mengajarkannya kepada hatinya sendiri (pada saat dia merenungkan hal itu di atas tempat tidurnya), untuk menekan nafsu-nafsu jahat yang sedang bekerja dalam hatinya. Dan sesudah itu, dia pun menuliskannya untuk menjadi pengarahan bagi orang lain yang mungkin berada di dalam pencobaan yang sama. Apa yang diajarkan kepada orang lain akan lebih berhasil jika diajarkan terlebih dahulu kepada diri sendiri. Nah, 1. Saat kita memandang ke luar, kita dapat melihat dunia yang penuh dengan orang yang berbuat jahat dan yang melakukan kecurangan, yang maju dan berjaya, yang memiliki segala yang mereka inginkan dan berlaku semau mereka, yang bergelimang kesenangan dan kemegahan, yang menggenggam kuasa dalam tangan mereka untuk menindas orang-orang di sekeliling mereka. Begitu pula pada zaman Daud dulu. Jadi, jika keadaan masih demikian, biarlah kita tidak terkejut dibuatnya, sebab hal itu bukanlah sesuatu yang aneh ataupun baru. 2. Saat kita menyelami di dalam diri kita sendiri, kita mendapati bahwa kita tergoda untuk merasa marah karenanya, dan menaruh dengki terhadap perkara kotor yang menggelisahkan itu, terhadap segala kecemaran dan gangguan yang ada di dunia ini. Kita cenderung menjadi marah kepada Allah, seolah-olah Dia tidak berlaku baik terhadap dunia dan gereja-Nya karena membiarkan orang-orang jahat hidup makmur dan berhasil seperti itu. Kita juga cenderung merasa marah karena kesal dengan keberhasilan mereka dalam melakukan rancangan jahat mereka. Kita cenderung merasa iri terhadap kebebasan yang mereka miliki dalam mengeruk kekayaan, mungkin dengan sarana-sarana yang melanggar hukum. Kita iri dengan kebebasan mereka dalam memanjakan nafsu-nafsu mereka, dan berharap kita juga mengenyahkan semua kekangan hati nurani kita supaya kita pun dapat berbuat sama seperti mereka. Kita tergoda untuk berpikir bahwa yang berbahagia di dunia ini hanyalah mereka, dan cenderung ingin meniru dan bergabung bersama mereka, supaya kita bisa mendapatkan bagian di dalam keuntungan mereka dan ikut menikmati kesenangan mereka. Tetapi, inilah yang diperingatkan terhadap kita di sini: Jangan marah dan jangan iri hati. Kemarahan dan iri hati itu saja sebenarnya sudah merupakan dosa yang ada hukumannya. Kedua dosa itu membebani roh dan membusukkan tulang. Jadi, peringatan untuk menjauhi kedua dosa tersebut sebenarnya merupakan kebaikan bagi diri kita sendiri. Akan tetapi bukan hanya itu saja, sebab, 3. Saat kita memandang ke depan dengan mata iman, kita tidak akan melihat bahwa tidak ada alasan untuk merasa iri terhadap keberhasilan orang jahat, sebab kebinasaan mereka telah di ambang pintu dan mereka semakin dekat ke sana (ay. 2). Mereka memang tumbuh dan berkembang, tetapi hanya seperti rumput dan tumbuh-tumbuhan hijau yang tidak layak dicemburui. Keberhasilan orang saleh seperti pohon yang berbuah lebat ( 1:3), tetapi keberhasilan orang jahat seperti rumput dan tumbuhan hijau yang umurnya sangatlah singkat. (1) Mereka segera menjadi layu sendiri. Kemakmuran lahiriah akan cepat hilang, begitu juga hidup yang dilekatkan kepadanya. (2) Mereka segera akan menjadi lisut oleh penghakiman Allah. Kemenangan mereka berumur pendek, tetapi ratapan dan tangisan mereka akan berlangsung selama-lamanya. II. Di sini kita dinasihati supaya menjalani hidup dengan keyakinan dan kepuasan di dalam Allah, dan hal itu akan menjauhkan kita dari amarah terhadap keberhasilan orang yang berlaku jahat. Jika jiwa kita terjaga, tidak ada alasan bagi kita untuk mendengki terhadap mereka yang jiwanya akan binasa. Berikut ini adalah tiga rumus unggul yang harus menguasai kita, dan tiga janji berharga yang menyertainya yang boleh kita andalkan. 1. Kita harus menjadikan Allah sebagai harapan kita di dalam melaksanakan kewajiban kita, dan kita akan memperoleh penghidupan yang penuh penghiburan di dunia ini (ay. 3). (1) Kita harus percaya kepada Tuhan dan melakukan yang baik, supaya kita melekat dan menjadi serupa dengan-Nya. Kehidupan agama terletak di dalam kebergantungan yang penuh percaya kepada Allah, kepada kebaikan-Nya, pemeliharaan-Nya, janji-Nya, anugerah-Nya dan ketekunan untuk melayani-Nya dan angkatan kita, sesuai dengan kehendak-Nya. Kita tidak boleh berpikir bahwa kita bisa percaya kepada Allah dan pada saat bersamaan bisa hidup seenak kita. Tidak. Jika kita tidak menjalankan kewajiban kita terhadap-Nya dengan penuh kesadaran, maka kelakuan seperti itu bukanlah mempercayai, melainkan mencobai-Nya. Kita juga tidak boleh merasa telah berlaku baik jika kita masih saja mengandalkan diri, kebenaran, dan kekuatan kita sendiri. Tidak begitu. Kita harus melakukan keduanya sekaligus, yaitu percaya kepada Tuhan dan melakukan yang baik. Lalu kemudian, (2) Kita dijanjikan untuk dipelihara dengan baik di dunia ini: maka engkau akan diam di atas bumi dan memelihara dirimu dengan setia. Dia tidak berkata, “Maka engkau akan mendapat kenaikan jabatan, menempati istana, dan terus berpesta pora.” Hal seperti itu tidaklah perlu, sebab hidup manusia tidak terdiri dari kelimpahan akan hal-hal seperti itu. Sebaliknya, “Engkau akan memiliki tempat untuk ditinggali, yaitu di tanah Kanaan, lembah penglihatan, dan engkau akan memiliki makanan yang cukup.” Itu pun sudah lebih dari yang layak kita terima, karena hal itu sudah merupakan segala sesuatu yang dapat diinginkan oleh seorang yang benar (Kej. 28:20), dan semua itu sudah cukup bagi seseorang yang hendak pergi ke sorga. “Engkau akan memiliki sebuah tempat tinggal, yang tenang, dan pemeliharaan, yang nyaman: Dirimu akan dipeliharakan dengan setia.” Beberapa orang mengartikannya begini, Engkau akan dipelihara dengan iman, sebagaimana orang-orang yang adil disebutkan hidup dengan iman, dan kehidupan mereka itu baik, berkecukupan sesuai dengan janji-janji itu. “Dirimu akan dipeliharakan dengan setia, sebagaimana Elia yang dipelihara pada masa kelaparan, dengan apa yang engkau perlukan.” Allah sendiri adalah gembala, pemelihara, bagi semua yang percaya kepada-Nya ( 23:1). 2. Kita harus menjadikan Allah sebagai kesukaan hati kita dan kita pun akan memperoleh apa yang diinginkan hati kita (ay. 4). Kita bukan saja harus menggantungkan hidup kita kepada Allah, melainkan juga mencari penghiburan di dalam Dia. Kita harus merasa senang bahwa Allah itu ada, dan bahwa Dia adalah Allah yang sesuai dengan penyataan diri-Nya terhadap kita, dan bahwa Dia adalah Allah kita menurut kovenan. Kita harus bergirang di dalam keindahan, kelimpahan dan kebaikan-Nya. Jiwa kita harus kembali kepada-Nya dan beristirahat di dalam Dia sebagai tempat perhentian dan bagian jiwa kita untuk selamanya. Karena telah dipuaskan oleh kasih setia-Nya, kita pun harus merasakan kasih setia-Nya itu dan menjadikannya sebagai sukacita dan kegembiraan kita( 43:4). Kita diperintahkan (ay. 3) untuk melakukan yang baik, dan kemudian mengikuti perintah ini untuk bersuka di dalam Allah, yang merupakan hak istimewa sekaligus kewajiban. Jika kita selalu mawas diri untuk taat kepada Allah, maka kita pun dapat memperoleh penghiburan berupa kepuasan di dalam diri-Nya. Dan bahkan kewajiban menyenangkan untuk bersuka di dalam Allah pun memiliki sebuah janji yang melekat kepadanya, janji yang berlimpah dan berharga, cukup untuk mengganjar pelayanan yang terberat sekalipun: Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Allah tidaklah berjanji untuk memuaskan segala keinginan tubuh dan angan-angannya, melainkan untuk memberikan semua keinginan hati, semua kerinduan dari jiwa yang telah disucikan. Apakah gerangan yang menjadi keinginan hati seorang yang saleh? Jawabannya ialah mengenal, mengasihi dan hidup untuk Allah, untuk menyenangkan-Nya dan disenangkan oleh-Nya. 3. Kita harus menjadikan Allah sebagai pembimbing kita dan menyerahkan segalanya ke dalam pimpinan dan kehendak-Nya. Maka segala perkara kita, bahkan yang kelihatannya paling rumit dan meresahkan pun akan dibereskan dan menjadi kepuasan kita (ay. 5-6). (1) Kewajiban itu sangat mudah, dan jika kita melakukannya dengan benar, maka kita pun akan merasa tenang: Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN; pasrahkanlah jalanmu kepada Tuhan(demikianlah terjemahan lainnya) (Ams. 16:3; Mzm. 55:23). Serahkanlah khawatirmu kepada TUHAN, beban kekhawatiranmu (1 Ptr. 5:7). Kita harus mengibaskannya dari diri kita sedemikian rupa sehingga tidak meresahkan dan mengganggu pikiran kita mengenai apa yang akan terjadi nanti (Mat. 6:25). Kita tidak perlu merintangi dan menyusahkan diri sendiri dengan bagaimana melakukan atau apa yang diharapkan nanti, melainkan menyerahkan semuanya ke tangan Allah, menaruh semuanya di dalam hikmat dan pemeliharaan-Nya untuk mengatur dan membereskan segala kekhawatiran kita seperti yang Ia kehendaki. Pasrahkan jalanmu kepada Tuhan(demikianlah yang tercantum dalam Septuaginta), yaitu, “Melalui doa beberkan perkaramu dan segala kekhawatiranmu mengenai perkara itu di hadapan Tuhan” (sebagaimana Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa, Hak. 11:11), “lalu kemudian percayalah bahwa Dia akan membereskan semuanya, dan semua yang diperbuat-Nya selalu akan mendatangkan kepuasan penuh.” Kita harus melaksanakan kewajiban kita (kita harus peduli untuk melakukannya) dan kemudian menyerahkan masalahnya kepada Tuhan. Duduk sajalah dan lihat bagaimana kesudahan perkara itu(Rut. 3:18). Kita harus mengikuti Sang Pemelihara dan tidak memaksakan kehendak kita, tidak bersikeras, melainkan berserah kepada Hikmat yang tidak terbatas itu. (2) Janji itu sangat manis. [1] Secara umum, “Ia akan bertindakmengenai apa pun yang telah kauserahkan kepada-Nya. Meskipun tidak selalu dengan cara seperti yang kauinginkan, cara-Nya tetap akan menyenangkanmu. Dia akan menemukan cara untuk melepaskan beban yang menghimpitmu, melenyapkan rasa takutmu, dan membuat tujuanmu tercapai dengan cara yang memuaskan.” [2] Secara khusus, “Dia akan menjaga nama baikmu dan mengeluarkanmu dari segala kesulitan, bukan saja dengan diiringi penghiburan, tetapi juga dengan penuh kehormatan: Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang” (ay. 6), artinya, “Dia akan membuat keadaannya tampak jelas bahwa engkau adalah seorang yang jujur, dan hal itu sudah merupakan sebuah kehormatan.” Pertama, di sana tersirat bahwa kebenaran dan hak orang benar bisa saja diselubungi awan kelam untuk sementara waktu, entah itu oleh teguran keras dari Sang Pemelihara (penderitaan Ayub pun menutupi kebenarannya) atau oleh cela dan hinaan keji yang dilontarkan manusia, yang mencemari nama mereka, yang sebetulnya tidak layak mereka terima, dan menuduh mereka dengan hal-hal yang bahkan tidak mereka ketahui. Kedua, di sini dijanjikan bahwa pada waktu yang tepat nanti, Allah akan mengenyahkan penghinaan yang menimpa mereka, menjernihkan ketidakbersalahan mereka dan memunculkan kebenaran mereka, sebagai kehormatan bagi mereka, mungkin di dunia ini, atau selambat-lambatnya pada masa penghakiman nanti (Mat. 13:43). Perhatikanlah, jika kita selalu mawas diri untuk menjaga hati nurani kita, kita juga dapat berserah kepada Allah untuk menjaga nama baik kita. * Pesan dan Janji (37:7-11) Dalam ayat-ayat di atas kita mendapati, I. Penekanan kembali arahan-arahan yang telah dituliskan sebelumnya. Oleh karena kita mudah sekali menggelisahkan diri kita sendiri dengan ketidakpuasan dan ketidakpercayaan yang tidak berguna, maka diperlukan pengulangan arahan demi arahan, baris demi baris, untuk menghalau ketidakpuasan dan ketidakpercayaan kita itu dan memperlengkapi diri kita untuk melawannya. 1. Biarlah kita terus percaya kepada Allah: “Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia(ay. 7), artinya, terimalah segala yang Ia perbuat dan berserahlah di dalam semua itu, sebab itulah yang terbaik, yakni karena semua itu telah ditentukan oleh-Nya. Juga, berpuaslah oleh karena Dia akan tetap membuat segalanya mendatangkan kebaikan bagi kita, meskipun kita tidak tahu bagaimana atau dengan cara apa.” Berdiamlah di hadapan Tuhan (begitulah arti perkataan itu), bukan diam yang penuh kemurungan, tetapi diam dalam penyerahan diri. Sabar dalam menanggung apa yang ditaruh di atas pundak kita, dengan pengharapan menantikan sesuatu yang dijanjikan kepada kita, bukan saja merupakan kewajiban, melainkan juga merupakan keuntungan bagi kita sendiri. Bersikap sabar seperti itu justru akan membuat kita selalu tenang. Juga ada alasan kuat untuk bersikap sabar demikian, sebab hal itu berarti mendapatkan keuntungan pada saat melaksanakan keharusan kita. 2. Biarlah kita tidak menjadi resah dengan segala yang kita lihat di dunia ini: “Jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, yang terus berkembang dan kian kaya serta jaya di dunia ini, padahal ia jahat. Jangan, dan jangan merasa begitu pula terhadap orang yang melakukan kejahatan dengan kuasa dan kekayaannya, atau terhadap orang yang melakukan tipu daya melawan orang benar dan saleh, sekalipun mereka tampaknya berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan dan membuat orang benar tertindas. Jika hatimu mulai panas karena semua itu, enyahkan kebodohanmu itu dan berhentilah marah (ay. 8). Kuasailah bibit-bibit ketidakpuasan dan kedengkianmu, dan janganlah memendam pikiran-pikiran keras terhadap Allah dan pemeliharaan-Nya karena hal itu. Janganlah marah dengan apa pun yang dilakukan Allah, sebaliknya, tinggalkan panas hati itu, sebab hal itu adalah angkara murka yang terburuk. Jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Jangan iri dengan keberhasilan mereka, supaya kamu tidak tergoda untuk terjerumus juga bersama-sama dengan mereka dan melakukan kejahatan yang sama untuk memperkaya dan memajukan diri sendiri. Juga janganlah terseret dalam perbuatan dan sikap yang berlebih-lebihan dalam usahamu untuk menghindar dari mereka dan kekuasaan mereka.” Perhatikanlah, jiwa yang tidak puas dan panas hati sangat rawan terhadap godaan-godaan, dan orang yang terbenam di dalamnya ada dalam bahaya untuk berbuat kejahatan juga. II. Berbagai alasan selanjutnya dijelaskan panjang lebar dan diulang-ulang dalam macam-macam ungkapan yang menyenangkan hati. Alasan-alasan ini didasarkan atas kebinasaan yang menghampiri orang jahat, sekalipun mereka kini makmur, dan juga dari kebahagiaan sejati orang benar, meskipun mereka kini tertindas. Kita diperingatkan (ay. 7) supaya tidak mendengki orang jahat karena kemakmuran lahiriah atau karena keberhasilan rancangan mereka melawan orang benar. Di sini dikemukakan beberapa alasan yang berkaitan dengan kedua godaan tersebut: 1. Orang benar tidak memiliki alasan untuk merasa iri terhadap keberhasilan duniawi orang jahat, ataupun untuk merasa sedih dan gelisah karenanya, (1) Sebab keberhasilan orang jahat akan segera berakhir (ay. 9): Orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan oleh hantaman keadilan ilahi yang tiba-tiba menyerang di tengah-tengah kemakmuran mereka. Apa yang mereka peroleh dengan dosa tidak saja akan melayang habis (Ayb. 20:28), tetapi mereka sendiri pun akan ikut melayang bersama-sama semua itu. Lihatlah kesudahan manusia-manusia seperti itu ( 73:17), betapa mahalnya harga yang harus mereka bayar atas kekayaan mereka yang tidak halal itu, maka engkau tidak akan lagi merasa iri kepada mereka dan tidak akan bersedia ambil bagian bersama-sama dengan mereka, apa pun yang terjadi. Kebinasaan mereka sudah pasti dan sangat dekat waktunya (ay. 10): Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik dari keadaannya saat ini. Mereka binasa dalam sekejap mata, lenyap( 73:19). Bersabarlah sedikit, sebab Hakim telah berdiri di ambang pintu (Yak. 5:8-9). Redamlah amarahmu, sebab Tuhan sudah dekat(Flp. 4:5). Betapa dahsyatnya kebinasaan yang akan menimpa mereka. Orang fasik dan harta miliknya akan dicabut dan dilenyapkan sampai ke akar-akarnya. Hari yang akan datang itu akan menghabiskan mereka sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka (Mal. 4:1): Jika engkau memperhatikan tempatnya, di mana kemarin dulu dia terlihat begitu hebat, kini ia sudah tidak ada lagi, engkau tidak akan mendapatinya lagi. Dia tidak akan meninggalkan apa pun yang berharga atau terhormat di belakangnya. Demikianlah (ay. 20) orang-orang fasik akan binasa. Kematian merupakan kebinasaan mereka, sebab kematian merupakan akhir dari segala sukacita mereka dan jalan masuk menuju kesengsaraan mereka yang tidak akan pernah berujung. Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, tetapi celakalah, selamanya celaka, orang-orang mati yang mati dalam dosa-dosa mereka. Orang-orang jahat merupakan musuh Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang tidak sudi membiarkan-Nya berkuasa atas mereka, dan karena itu, Dia pun akan membuat perhitungan dengan mereka: seperti lemak anak domba, demikian mereka itupun akan lesap lenyap dalam asap. Kemakmuran yang memuaskan kedagingan mereka itu bagaikan lemak anak domba yang tidak padat atau ada isinya, melainkan lembek dan berair. Dan, saat kebinasaan menimpa, mereka akan jatuh menjadi korban pengadilan Allah dan dilalap api seperti korban persembahan di atas mezbah, menjadi asap dan mengepul. Hari pembalasan Allah atas orang-orang jahat digambarkan sebagai korban lemak buah pinggang domba-domba jantan(Yes. 34:6), sebab Dia akan dimuliakan oleh kebinasaan para seteru-Nya, sebagaimana Ia dimuliakan oleh korban-korban bakaran. Para pendosa yang terkutuk merupakan korban bakaran (Mrk. 9:49). Inilah alasan yang kuat mengapa kita tidak seharusnya merasa iri terhadap kemakmuran mereka. Pada saat mereka diberi makan banyak, mereka sebenarnya sedang digemukkan untuk disembelih pada hari persembahan korban, seperti domba di tanah lapang (Hos. 4:16). Semakin mereka makmur, semakin dimuliakanlah Allah melalui kebinasaan mereka. (2) Sebab keadaan orang benar, bahkan pada kehidupan yang sekarang, lebih baik dan lebih menyenangkan dalam segala hal daripada keadaan orang jahat (ay. 16). Secara umum, yang sedikit pada orang benar, dari kehormatan, kekayaan dan kesenangan di dunia ini, lebih baik dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik. Perhatikanlah: [1] Kekayaan di dunia diatur sedemikian rupa oleh Pemeliharaan ilahi sehingga sering kali banyak orang benar justru memiliki sedikit saja, sementara orang jahat memilikinya dengan berlimpah-limpah. Dengan begitu, Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa hal-hal duniawi bukanlah yang terbaik. Sebab, jika tidak, pastilah orang yang paling dekat dengan-Nya dan yang paling dikasihi-Nya akan mendapatkan yang terbanyak. [2] Bahwa sedikit harta yang dimiliki orang saleh benar-benar lebih baik daripada kekayaan orang fasik, sekalipun berlimpah-limpah jumlahnya. Sebab, kepunyaan orang saleh itu bersumber dari tangan yang lebih baik, dari tangan yang mengulurkan kasih istimewa dan bukan hanya sekedar tangan yang menyediakan hal-hal biasa saja. Dan milik orang saleh itu dinikmati dengan lebih berhak (Allah memberikannya kepada mereka melalui janji, Gal. 3:18). Milik itu menjadi kepunyaan mereka oleh karena hubungan mereka dengan Kristus yang merupakan pewaris dari segala sesuatu, dan diberikan untuk kegunaan yang lebih baik. Harta itu dikuduskan bagi mereka melalui pemberkatan dari Allah. Bagi orang suci semuanya suci(Tit. 1:15). Sedikit harta yang dipakai untuk melayani dan menghormati Allah lebih baik daripada harta berlimpah yang disediakan bagi Baal atau untuk memuaskan hawa nafsu. Janji-janji yang di sini diberikan bagi orang benar ini meneguhkan kebahagiaan mereka sehingga mereka tidak perlu lagi merasa iri terhadap kemakmuran orang yang melakukan kejahatan. Biarlah ini menjadi penghiburan mereka, Pertama, bahwa mereka akan mewarisi negeri, sebanyak yang dipandang baik oleh Sang Hikmat Tak Terbatas. Mereka memiliki janji untuk hidup ini (1Tim. 4:8). Jika seluruh bumi diperlukan untuk membuat mereka bahagia, mereka akan dapat memilikinya. Semuanya menjadi warisan mereka, bahkan dunia, dan segala sesuatu waktu sekarang maupun waktu yang akan datang(1 Kor. 3:21, 22). Mereka memperolehnya melalui warisan, hak yang teguh dan terhormat, bukan hanya melalui izin ataupun persekongkolan. Saat para pelaku kejahatan dilenyapkan, kadang kala orang-orang benar justru mewarisi apa yang telah mereka kumpulkan. Kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar(Ayb. 27:17; Ams. 13:22). Janji ini dibuat di sini, 1. Bagi orang-orang yang hidup di dalam iman (ay. 9): Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN, bergantung dan berharap kepada-Nya, serta tekun mencari-Nya, akan mewarisi negeri, sebagai tanda kesukaan-Nya saat ini atas mereka dan sebagai jaminan akan hal-hal lebih baik yang dipersiapkan bagi mereka di dunia yang akan datang. Allah adalah Tuan yang baik, yang menyediakan dengan berlimpah dan baik, bukan saja bagi para hamba-Nya yang bekerja, tetapi juga bagi para hamba-Nya yang menanti-nantikan-Nya. 2. Bagi mereka yang hidup dengan tenteram dan damai (ay. 11): Orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri. Orang-orang seperti ini sangat jauh dari bahaya disakiti dan diganggu harta miliknya. Mereka sangat puas dengan diri mereka sendiri dan karena itu sangat menikmati segala penghiburan yang mereka terima sebagai makhluk ciptaan. Sang Juruselamat kita telah mengikat hal ini sebagai janji Injil, dan meneguhkannya sebagai berkat-Nya bagi orang-orang yang lemah lembut (Mat. 5:5). Kedua, bahwa mereka akan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah (ay. 11). Mungkin mereka tidak memiliki harta berlimpah-ruah untuk dinikmati, tetapi mereka memiliki sesuatu yang lebih baik lagi, yaitu kelimpahan damai sejahtera, damai di hati dan ketenangan pikiran, damai dengan Allah, dan kemudian damai di dalam Allah. Itulah ketenteraman besar yang ada pada orang-orang yang mencintai Taurat Allah, tidak ada sandungan bagi mereka ( 119:165). Itulah damai sejahtera berlimpah yang terdapat di dalam kerajaan Kristus ( 72:7), damai sejahtera yang tidak bisa diberikan dunia ini (Yoh. 14:27), dan yang tidak bisa dimiliki orang-orang fasik (Yes. 57:21). Orang-orang yang rendah hati akan bersuka di dalamnya dan terus-menerus digirangkan olehnya. Sementara itu, orang-orang yang memiliki kelimpahan harta terus-menerus terhalang dan dikacaukan oleh harta mereka dan hanya dapat sedikit menikmatinya saja. Ketiga, bahwa Allah mengetahui hari-hari mereka(ay. 18). Dia memperhatikan mereka dengan saksama, memperhatikan perbuatan dan segala peristiwa yang terjadi pada mereka. Dia menghitung hari-hari pelayanan mereka dan tidak sehari pun akan terlewat tanpa imbalan. Dia juga menghitung hari-hari penderitaan mereka, supaya nanti mereka mendapatkan ganti rugi dari apa yang mereka alami itu. Dia mengenal hari-hari baik mereka dan ikut bersuka atas keberhasilan mereka. Dia mengenal hari-hari suram mereka, hari-hari yang penuh dengan kesusahan, dan kekuatan dari-Nya selalu mengiringi mereka di sepanjang hari-hari itu. Keempat, bahwa milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya. Bukan milik pusaka mereka di bumi ini, melainkan milik pusaka yang tidak akan menjadi rusak, yang disediakan bagi mereka di sorga. Orang-orang yang merasa yakin akan milik pusaka mereka di dunia yang lain, tidak memiliki alasan untuk merasa iri kepada orang-orang fasik karena harta dan kesenangan semu yang mereka nikmati di dunia fana ini. Kelima, bahwa pada saat-saat terburuk pun segala sesuatu akan baik-baik saja buat mereka (ay. 19): Mereka tidak akan mendapat malu karena pengharapan dan keyakinan mereka di dalam Allah, juga dalam pengakuan agamawi mereka. Sebab, penghiburan di dalam hal-hal tersebut akan membela dan menyokong mereka dengan kuat pada masa-masa jahat. Saat orang-orang lain terkulai, mereka akan mengangkat kepala mereka dengan sukacita dan keyakinan: Bahkan pada hari-hari kelaparan, saat orang-orang di sekitar mereka menderita karena kekurangan makanan, mereka akan menjadi kenyang, seperti Elia dulu. Dengan berbagai cara Allah akan menyediakan makanan bagi mereka atau menguatkan hati mereka untuk tetap puas, sekalipun tidak ada makanan, sehingga jika mereka melarat dan lapar, mereka tidak akan seperti orang fasik yang akan gusar dan akan mengutuk rajanya dan Allahnya(Yes. 8:21), melainkan akan bersorak-sorak di dalam Tuhan sebagai Allah yang menyelamatkan mereka, bahkan ketika pohon ara tidak berbunga sekalipun (Hab. 3:17-18).
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
PREV: Jamita hkbp Minggu, 29 Desember 2024 - Mandok Mauliate disaluhut Denggan basa ni Jahowa - 1 Timotius 1:12-17 Minggu, 26 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 26 April 2026 - HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAK-SORAI - Kisah Rasul 2:22-28 Minggu, 19 April 2026 Jamita HKBP Minggu, 19 April 2026 - Marlas Roha di Bagasan Tuhan (Bersukacita dalam Tuhan) - Habakuk 3:10-19
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com Lagu-Gereja - Twitter | FB © 2012 . All Rights Reserved. |