BE | BN | Suplemen BE | Lagu KOOR HKBP | Katekhimus Kecil | Ende Sekolah Minggu
hkbp.lagu-gereja.com      
 
View : 1472 kali
Renungan HKBP 2026
Jamita HKBP Minggu 20 September 2026 - SALUHUT DO TARPATUPA AHU MARHITE IBANA (Segala Perkara Dapat Kutanggung di Dalam Tuhan) - Filipi 4:10-19

1. Pendahuluan: Siapa yang Sanggup Menanggung Segala Perkara?, 2. Latar Belakang Surat Filipi, 3. Bersyukur Bukan Hanya Ketika Hidup Berkelimpahan, 4. Segala Perkara Dapat Kutanggung di Dalam Tuhan, 5. Tuhan Hadir di Tengah Penderitaan Sesama, 6. Pesta Gotilon: Bersyukur dan Berbagi


,

Filipi 4:10-19
Terima kasih atas pemberian jemaat
4:10-20
10Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 11Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 14Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 16 Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 17Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 19Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. 

Penjelasan:

1. Pendahuluan: Siapa yang Sanggup Menanggung Segala Perkara?


Horas, selamat hari Minggu, Bapak/Ibu, Amang, Inang, dan seluruh jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus!

Ada satu ayat Alkitab yang sangat terkenal, bahkan sering ditempel di rumah, kantor, mobil, dan media sosial:

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Filipi 4:13.

Ayat ini sering dipakai untuk memberi semangat.

Mau ujian, ayat ini dipasang. Mau menikah, ayat ini dipasang. Mau membuka usaha, ayat ini dipasang. Mau menghadapi masalah keluarga, ayat ini juga dipasang.

Bahkan ada yang mau pergi ke pasar, ayatnya dipasang juga!

Tapi, Bapak/Ibu, apakah ayat ini berarti orang Kristen tidak boleh lemah? Apakah orang yang percaya kepada Tuhan tidak boleh menangis? Apakah orang yang mempunyai iman pasti tidak pernah mengalami kesulitan?

Tidak demikian.

Kalau demikian, Rasul Paulus sendiri seharusnya tidak pernah mengalami penderitaan. Padahal Paulus pernah dipenjara, dianiaya, kelaparan, dan mengalami berbagai kesulitan.

Jadi, apa maksud Paulus ketika berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Tuhan”?

Hari ini kita akan belajar bahwa kekuatan orang percaya bukan karena hidupnya selalu mudah, melainkan karena Tuhan tetap menyertai kita dalam segala keadaan.

2. Latar Belakang Surat Filipi

Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia sedang berada dalam penjara.

Paulus bukan sedang menikmati liburan. Ia bukan sedang duduk di hotel sambil minum kopi dan melihat pemandangan indah.

Ia sedang menghadapi penderitaan karena memberitakan Injil.

Namun, jemaat Filipi tetap mengingat Paulus. Mereka mengirim bantuan dan menunjukkan kasih kepada rasul yang mereka kasihi.

Paulus sangat bersukacita menerima perhatian itu.

Dalam Filipi 4:10, Paulus berkata:

“Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku.”

Paulus bersyukur karena jemaat Filipi tidak melupakannya.

Tetapi Paulus juga menjelaskan sesuatu yang penting: ia sudah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Ia pernah kekurangan. Ia pernah berkelimpahan. Ia pernah kenyang. Ia pernah lapar. Ia pernah hidup dalam kelimpahan dan pernah mengalami kekurangan.

Namun, ia tetap belajar bersyukur kepada Tuhan.

Inilah inti nas kita hari ini.

3. Bersyukur Bukan Hanya Ketika Hidup Berkelimpahan

Bapak/Ibu yang dikasihi Tuhan,

Paulus berkata dalam Filipi 4:11-12:

“Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”

Perhatikan kata belajar.

Paulus tidak mengatakan bahwa ia sejak lahir sudah pandai bersyukur.

Ia belajar.

Artinya, bersyukur bukan sesuatu yang otomatis muncul ketika hidup kita berjalan lancar. Bersyukur adalah sikap yang perlu dilatih.

Ketika uang banyak, kita belajar bersyukur.

Ketika uang sedikit, kita juga belajar bersyukur.

Ketika usaha maju, kita bersyukur.

Ketika usaha sedang sepi, kita tetap datang kepada Tuhan.

Ketika tubuh sehat, kita bersyukur.

Ketika tubuh lemah, kita tetap percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita.

Namun, bersyukur bukan berarti kita tidak boleh berusaha memperbaiki keadaan.

Kalau sedang kekurangan, kita tetap bekerja. Kalau sedang sakit, kita tetap berobat. Kalau sedang mempunyai masalah, kita tetap mencari jalan keluar.

Bersyukur berarti kita tidak membiarkan masalah mengambil alih iman kita.

Ada humor sedikit, Bapak/Ibu.

Ada seorang bapak berdoa:

“Tuhan, terima kasih karena hari ini saya masih bisa makan.”

Istrinya menjawab:

“Syukur, Amang. Tapi beras di rumah sudah habis.”

Bapaknya berkata:

“Tidak apa-apa, Inang. Tuhan pasti mencukupkan.”

Istrinya menjawab:

“Betul, Amang. Tapi Tuhan juga sudah memberikan Amang dua tangan. Besok tolong bekerja, ya!”

Jemaat tertawa.

Memang benar, Tuhan mencukupkan kebutuhan kita, tetapi kita juga dipanggil untuk bekerja, berusaha, dan bertanggung jawab.

Iman tidak membuat kita malas.

Iman membuat kita kuat untuk terus menjalani kehidupan.

4. Segala Perkara Dapat Kutanggung di Dalam Tuhan

Sekarang kita masuk kepada ayat 13:

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Ayat ini tidak berarti bahwa orang percaya dapat melakukan apa saja sesuka hati.

Ayat ini juga tidak berarti bahwa orang Kristen pasti menjadi kaya, pasti sukses, dan tidak pernah mengalami kegagalan.

Paulus sedang berbicara tentang kemampuannya menghadapi berbagai keadaan hidup karena Kristus memberikan kekuatan kepadanya.

Ia mampu menghadapi kekurangan.

Ia mampu menghadapi kelimpahan.

Ia mampu menghadapi penderitaan.

Ia mampu menghadapi pelayanan yang berat.

Ia mampu menghadapi penolakan.

Mengapa?

Karena kekuatannya bukan berasal dari keadaan, melainkan dari Tuhan.

Bapak/Ibu, kita sering mengukur kekuatan dari apa yang kita miliki.

Kalau uang banyak, kita merasa kuat.

Kalau jabatan tinggi, kita merasa kuat.

Kalau mempunyai banyak teman, kita merasa kuat.

Kalau anak-anak berhasil, kita merasa kuat.

Tetapi semua itu dapat berubah.

Uang dapat berkurang. Jabatan dapat berakhir. Teman dapat pergi. Anak-anak dapat menghadapi masalah.

Karena itu, Paulus mengajarkan bahwa sumber kekuatan yang sejati adalah Kristus.

Bukan berarti kita tidak membutuhkan keluarga, sahabat, atau pertolongan manusia.

Kita tetap membutuhkan semuanya.

Tetapi jangan sampai kita mengandalkan manusia sedemikian rupa sehingga ketika manusia mengecewakan kita, iman kita ikut runtuh.

Orang percaya boleh lemah, tetapi tidak boleh kehilangan Tuhan.

Kita boleh menangis, tetapi jangan berhenti berdoa.

Kita boleh kecewa, tetapi jangan berhenti berharap.

Kita boleh mengalami kekurangan, tetapi jangan berhenti percaya bahwa Tuhan tetap memelihara kita.

5. Tuhan Hadir di Tengah Penderitaan Sesama

Bapak/Ibu yang dikasihi Tuhan,

Ada berita yang menyentuh hati kita dari Tapanuli Tengah.

Berdasarkan berita BNPB yang dibagikan, banjir di wilayah Tukka menyebabkan puluhan warga terdampak dan harus mengungsi di Gereja HKBP Sipange.

Bayangkan, Bapak/Ibu.

Ada saudara-saudara kita yang mungkin rumahnya terendam. Barang-barangnya rusak. Mereka harus meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman.

Di tengah keadaan seperti itu, gereja menjadi tempat perlindungan.

Gereja bukan hanya tempat orang datang beribadah pada hari Minggu.

Gereja juga menjadi tempat di mana kasih Kristus dinyatakan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan.

Ketika warga mengungsi di gereja, kita melihat bahwa gereja bukan sekadar bangunan. Gereja adalah persekutuan orang percaya yang dipanggil untuk saling menopang.

Inilah makna Filipi 4:14:

“Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.”

Jemaat Filipi mengambil bagian dalam penderitaan Paulus.

Mereka tidak hanya berkata, “Kami mendoakanmu.”

Mereka juga memberikan bantuan nyata.

Demikian pula kita sebagai jemaat HKBP.

Ketika saudara kita mengalami musibah, kita dipanggil untuk hadir.

Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perhatian, doa, tenaga, dan bantuan sesuai kemampuan.

Ada yang bisa memberikan uang.

Ada yang bisa memberikan makanan.

Ada yang bisa memberikan pakaian.

Ada yang bisa membantu membersihkan tempat pengungsian.

Ada yang bisa menguatkan dengan doa.

Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama, tetapi semua orang dapat menjadi saluran kasih Tuhan.

Jangan pernah berpikir bahwa pertolongan kecil tidak berarti.

Bagi orang yang sedang lapar, sebungkus nasi sangat berarti.

Bagi orang yang sedang kedinginan, selimut sangat berarti.

Bagi orang yang sedang takut, kehadiran seorang saudara sangat berarti.

Kadang-kadang kita berpikir harus memberikan sesuatu yang besar supaya disebut menolong.

Padahal, Tuhan melihat hati yang mau berbagi.

6. Pesta Gotilon: Bersyukur dan Berbagi

Bapak/Ibu, ada juga berita tentang Pesta Gotilon yang dilaksanakan jemaat HKBP Rajawali.

Pesta Gotilon adalah tradisi ucapan syukur atas berkat Tuhan, khususnya berkat panen.

Dalam kehidupan masyarakat Batak, pesta panen bukan hanya tentang hasil pertanian.

Di dalamnya ada kebersamaan, ucapan syukur, penghormatan kepada orang tua, dan semangat berbagi.

Tradisi ini sangat indah.

Sebab kita diingatkan bahwa hasil yang kita peroleh bukan semata-mata karena kekuatan kita sendiri.

Ada pertolongan Tuhan.

Ada kerja keras.

Ada dukungan keluarga.

Ada masyarakat.

Ada orang-orang yang membantu kita sepanjang perjalanan hidup.

Karena itu, ketika menerima berkat, kita tidak boleh lupa kepada Tuhan dan sesama.

Filipi 4:17-18 memperlihatkan bahwa Paulus menghargai pemberian jemaat Filipi.

Ia tidak melihat bantuan itu hanya sebagai pemberian materi, tetapi sebagai buah yang memperbesar keuntungan rohani mereka.

Artinya, ketika kita berbagi, kita bukan hanya membantu orang lain. Kita juga sedang belajar menjadi pribadi yang bersyukur dan murah hati.

Bapak/Ibu, kadang-kadang kita berdoa:

“Tuhan, berkatilah saya.”

Itu doa yang baik.

Tetapi kita juga perlu berdoa:

“Tuhan, jadikanlah saya berkat bagi orang lain.”

Sebab berkat Tuhan tidak berhenti pada diri kita.

Berkat Tuhan mengalir melalui kita.

Kalau Tuhan memberikan kita makanan, kita dapat berbagi makanan.

Kalau Tuhan memberikan kita kemampuan, kita dapat membantu orang lain.

Kalau Tuhan memberikan kita kesempatan, kita dapat membuka jalan bagi sesama.

Kalau Tuhan memberikan kita rezeki, kita dapat menolong orang yang membutuhkan.

Pesta Gotilon mengingatkan kita bahwa sukacita yang sejati bukan hanya ketika kita menerima, tetapi juga ketika kita dapat berbagi.

7. Jangan Menjadi Orang Kristen yang Hanya Pandai Meminta

Bapak/Ibu yang dikasihi Tuhan,

Ada orang Kristen yang doanya selalu panjang ketika meminta sesuatu.

“Tuhan, berikan saya kesehatan. Berikan saya rezeki. Berikan saya pekerjaan. Berikan saya usaha yang maju. Berikan saya anak-anak yang berhasil.”

Semua itu baik.

Tetapi setelah menerima berkat, doanya menjadi pendek sekali.

“Terima kasih, Tuhan.”

Selesai.

Lebih parah lagi, ada yang setelah menerima berkat malah lupa berdoa.

Ketika susah, Tuhan dicari.

Ketika senang, Tuhan dilupakan.

Ketika sakit, rajin berdoa.

Ketika sehat, sibuk sendiri.

Ketika membutuhkan bantuan, datang ke gereja.

Ketika sudah berhasil, gereja dilupakan.

Jemaat tertawa.

Paulus mengajarkan bahwa kita harus belajar bersyukur dalam segala keadaan.

Bukan hanya ketika menerima sesuatu, tetapi juga ketika menjalani proses kehidupan.

Kita perlu menjadi jemaat yang bukan hanya pandai meminta, tetapi juga pandai mengucap syukur dan berbagi.

Gereja tidak boleh menjadi tempat di mana kita hanya datang untuk menerima berkat.

Gereja harus menjadi tempat di mana kita belajar menjadi berkat.

8. Tuhan Akan Memenuhi Segala Keperluanmu

Filipi 4:19 berkata:

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.”

Ini adalah janji yang sangat menguatkan.

Namun, kita harus memahaminya dengan benar.

Tuhan memenuhi segala keperluan kita, bukan berarti Tuhan memberikan semua keinginan kita.

Keperluan dan keinginan itu berbeda.

Kita mungkin ingin memiliki rumah yang lebih besar.

Tetapi Tuhan memberikan kita rumah yang cukup untuk melindungi keluarga.

Kita mungkin ingin mempunyai mobil baru.

Tetapi Tuhan memberikan kita kendaraan yang masih dapat dipakai untuk bekerja dan melayani.

Kita mungkin ingin memiliki usaha yang sangat besar.

Tetapi Tuhan memberikan kita usaha kecil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Tuhan mengetahui apa yang kita perlukan.

Dan Tuhan bekerja menurut hikmat-Nya.

Kadang-kadang jawaban Tuhan datang dengan cepat.

Kadang-kadang melalui proses yang panjang.

Kadang-kadang melalui orang lain.

Kadang-kadang melalui kesempatan yang tidak pernah kita bayangkan.

Tetapi kita percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan anak-anak-Nya.

Bapak/Ibu, kalau hari ini ada yang sedang mengalami masalah ekonomi, jangan menyerah.

Kalau ada yang sedang menghadapi masalah keluarga, jangan berhenti berdoa.

Kalau ada yang sedang menghadapi penyakit, tetaplah berharap kepada Tuhan.

Kalau ada yang sedang mengalami kegagalan, jangan menganggap hidup sudah berakhir.

Tuhan masih bekerja.

Tuhan masih membuka jalan.

Tuhan masih memberikan kekuatan.

Dan Tuhan dapat memakai gereja serta saudara seiman untuk menjadi saluran pertolongan-Nya.

9. Tiga Pelajaran Penting bagi Jemaat

Dari Filipi 4:10-19, ada tiga hal yang perlu kita bawa pulang hari ini.

Pertama: Belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Jangan biarkan keinginan menguasai hidup kita.

Belajar bersyukur atas apa yang Tuhan berikan.

Bukan berarti kita berhenti berusaha, tetapi kita tidak membiarkan kekurangan membuat kita kehilangan sukacita.

Kedua: Jadikan Kristus sumber kekuatan.

Ketika menghadapi masalah, jangan hanya mengandalkan kemampuan sendiri.

Berdoalah.

Bacalah firman Tuhan.

Datanglah kepada persekutuan.

Mintalah dukungan saudara seiman.

Dan tetaplah percaya bahwa Kristus memberikan kekuatan untuk menjalani setiap keadaan.

Ketiga: Jadilah berkat bagi sesama.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya terima dari gereja?”

Tanyakan juga, “Apa yang dapat saya lakukan untuk gereja?”

Jangan hanya bertanya, “Siapa yang dapat menolong saya?”

Tanyakan juga, “Siapa yang dapat saya tolong?”

Jangan hanya melihat kebutuhan diri sendiri.

Lihatlah juga saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan.

Di situlah iman menjadi nyata.

10. Penutup: Tuhan Tidak Pernah Meninggalkan Kita

Bapak/Ibu, Amang, Inang, dan seluruh jemaat yang dikasihi Tuhan,

Hidup ini tidak selalu mudah.

Ada masa kita tertawa.

Ada masa kita menangis.

Ada masa kita memiliki banyak hal.

Ada masa kita mengalami kekurangan.

Ada masa usaha berkembang.

Ada masa usaha mengalami kesulitan.

Ada masa keluarga berkumpul dengan sukacita.

Ada masa kita harus menghadapi perpisahan.

Tetapi dalam segala keadaan itu, Kristus tetap menyertai kita.

Paulus tidak berkata, “Aku dapat menanggung segala perkara karena aku kuat.”

Paulus berkata, “Aku dapat menanggung segala perkara di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Kekuatan itu berasal dari Kristus.

Karena itu, jangan pernah merasa bahwa kita harus menghadapi semua masalah seorang diri.

Datanglah kepada Tuhan.

Datanglah kepada gereja.

Datanglah kepada saudara-saudara seiman.

Dan jadilah orang yang juga bersedia menolong.

Ketika kita melihat saudara kita mengungsi karena banjir, marilah kita mengingat bahwa gereja dipanggil untuk menjadi tempat perlindungan dan kasih.

Ketika kita merayakan Pesta Gotilon, marilah kita mengingat bahwa berkat Tuhan harus disyukuri dan dibagikan.

Ketika kita menghadapi kekurangan, marilah kita belajar mencukupkan diri.

Ketika kita mengalami kelimpahan, marilah kita belajar menjadi berkat.

Dan ketika kita menghadapi segala perkara, marilah kita berkata dengan iman:

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Tuhan.”

Bukan karena kita tidak pernah lemah.

Bukan karena kita tidak pernah menangis.

Bukan karena hidup kita selalu mudah.

Tetapi karena Kristus adalah kekuatan kita.

Kiranya Tuhan memberkati keluarga kita.

Kiranya Tuhan memberkati pekerjaan kita.

Kiranya Tuhan memberkati gereja kita.

Kiranya Tuhan menguatkan saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah.

Dan kiranya hidup kita menjadi kesaksian bahwa kasih Kristus tetap nyata di tengah dunia.


Doa Penutup

Ya Tuhan Allah Bapa kami yang penuh kasih,

Kami mengucap syukur karena Engkau telah mempertemukan kami dalam ibadah Minggu ini.

Terima kasih karena melalui firman-Mu, kami diingatkan bahwa segala perkara dapat kami tanggung di dalam Kristus yang memberikan kekuatan.

Tuhan, kami mengakui bahwa sering kali kami merasa kuat ketika keadaan baik, tetapi mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Ampunilah kami jika kami lebih banyak mengeluh daripada bersyukur.

Ajarlah kami mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Ketika kami mengalami kekurangan, berikanlah kami kekuatan dan hikmat.

Ketika kami mengalami kelimpahan, ajarlah kami untuk tidak melupakan-Mu.

Ketika kami menerima berkat, jadikanlah kami saluran berkat bagi orang lain.

Tuhan, kami berdoa bagi saudara-saudara kami yang mengalami musibah banjir di Tapanuli Tengah dan di tempat-tempat lainnya.

Kiranya Engkau memberikan kekuatan, perlindungan, kesehatan, dan penghiburan bagi mereka.

Berkatilah gereja-gereja yang menjadi tempat pengungsian.

Gerakkanlah hati banyak orang untuk membantu dan berbagi.

Tuhan, berkati juga seluruh jemaat HKBP.

Berkatilah keluarga kami, pekerjaan kami, usaha kami, dan pelayanan kami.

Jadikanlah kami jemaat yang hidup dalam kasih, kebersamaan, dan semangat gotong royong.

Tolong kami agar tidak hanya menerima berkat, tetapi juga menjadi berkat.

Semua doa ini kami sampaikan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami.

Amin.















NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 27 September 2026 - SAI TONG DO MANGARANAP MATANGKU TU JAHOWA (Mataku Tetap Terarah Kepada TUHAN) - Mazmur 25:15-22


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 13 September 2026 - Debata Patupa Halongangan Tu BangsoNa (TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMAT-NYA) - Keluaran 14:19-31

All Renungan HKBP 2026
(41)




NEXT:
Jamita HKBP Minggu, 27 September 2026 - SAI TONG DO MANGARANAP MATANGKU TU JAHOWA (Mataku Tetap Terarah Kepada TUHAN) - Mazmur 25:15-22


PREV:
Jamita HKBP Minggu, 13 September 2026 - Debata Patupa Halongangan Tu BangsoNa (TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMAT-NYA) - Keluaran 14:19-31

   popular pages    |    login    | e-mail: admin@lagu-gereja.com    Lagu-Gereja - FB    © 2012 . All Rights Reserved.

Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de